Cah Sinetron

Mungkin kita terlalu sering disuguhi tontonan yang terlalu hitam putih. Protagonis laksana dewa, antagonis laksana iblis. Rama, ia tampan, pemberani, bijaksana. Sedang Rahwana, kejam, rakus, biadab. Apalagi kalau lihat Orc di Lord of The Ring, sudah buruk rupa, tujuan hidupnya tidak jelas, dan terlahir untuk jahat.


Setidaknya untuk yang mau mikir sedikit, kita tahu tokoh protagonis masih bisa dilihat sisi negatifnya.  Rama itu juga kadang pah-poh, Frodo masih labil, apalagi tokoh utama dalam sinetron yang cengeng, pasrahan, tidak mau melawan.


Tapi bagaimana dengan tokoh antagonis? Kita sering tidak diberi kesempatan untuk melihat sisi lain darinya. Jahat ya sudah, jahat saja. Seperti contohnya Orc.


Padahal di dunia sebenarnya, sejahat-jahatnya orang pasti ada sisi baiknya juga. Nggak ada orang yang dari lahir jahat, dan semuanya serba jahat, seperti Orc(Lagi-lagi Orc, mesake tenan) atau balatentaranya Rahwana.


Beginilah tampang Orc sejak ia lahir



Jadi nggak ada di dunia ini yang perlu terlalu dibenci.


Saya nggak suka orang yang kesehariannya nyinyir terus-terusan apalagi yang isinya nyindir, semacam akun twitternya @Adelladellaide atau @Farhatabbaslaw. Saya nggak suka mereka, tapi saya nggak benci.


Siapa tahu dibalik nyinyirnya dia, @Adelladellaide itu ibu yang sayang anaknya, gadis yang tiap hari ke mushola, hobinya infaq, siapa tau? Atau mungkin juga @Farhatabbaslaw itu anak yang berbakti sama orang tua, memberangkatkan haji orangtuanya, siapa tau?


"Kalo udah nggak suka orang, mau berbuat sebaik apapun ya tetep aja salah" << Ini pemikiran dramatisir korban sinetron lo..
Ada banyak sisi lain dari seseorang yang nggak semua kita tahu. Se nggak seneng nggak senengnya sama seseorang, nggak ada yg perlu terlalu kita benci. Kecuali kita tokoh sinetron, cah sinetron..


Yang merasa sedang terlalu membenci seseorang, segeralah sadar. Pensiunlah menjadi cah sinetron ! :D

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan singkat ini terinspirasi setelah saya melihat Mata Najwa episode penjara istimewa. Dalam acara itu, tim Mata Najwa mencoba melakukan sidak terhadap sel seorang koruptor bernama Andrian, dia adalah tersangka kasus korupsi yang mendapat hukuman penjara hukuman seumur hidup.


Diperlihatkan bagaimana sel tersangka korupsi ini begitu mewah. Di dalamnya terdapat fasilitas seperti laptop, I-pad, kasur yang empuk, WC duduk, dsb. Saya kaget.


Tapi saya lebih kaget ketika melihat terdapat foto-foto bayi yang dipajang di lemari pakaian si koruptor. Ternyata bayi dalam gambar itu adalah anaknya sendiri. Banyak sekali foto-foto sang bayi yang ia pampang dalam kamarnya, termasuk foto saat ia dan istrinya sedang mesra dengan si bayi diantara mereka.


Perasaan saya campur aduk melihat hal ini. Saya memikirkan bagaimana nasib sang bayi. Ia masih belum tahu apa-apa, masih sangat kecil dan ringkih. Namun ia akan tumbuh besar tanpa pernah melihat rasa khawatir berlebih seorang ayah saat melihat anaknya jatuh tersandung.


Koruptor. Dasar tikus. Seandainya ia tak serakah, haus kekuasaan, tamak, saat ini ia sedang bersama istri dan anaknya dirumah. Anaknya bangga karena ayahnya adalah pejabat negara yang memegang amanah rakyat. Namun beginilah nasibnya sekarang. Ia berada di tempat yang sangat hina, sampai tak ada seorangpun yang ingin tinggal didalamnya barang 1 hari.


Saya marah. Saya marah melihat manusia serakah yang memakan uang rakyat ini. Manusia serakah yang masih saja licik, bahkan ketika ia telah berada dibalik jeruji besi.


Namun, pantaskah saya membencinya? Pantaskah saya membenci orang yang sangat saya yakini, ia adalah ayah yang sangat mencintai anaknya?


Foto-foto itu telah menyadarkan saya, bahwa di dunia ini benar-benar tak ada yang sempurna. Bahkan kejahatan.


Dan jika dipikirkan lagi, bahkan kejahatan memberikan kita pelajaran. Maka, adakah di dunia ini yang pantas sangat kita benci?



Link video Mata Najwa eps. Penjara Istimewa :


@aribagoez

Share:

0 komentar