Punya mimpi ke Paris. Atau Jepang. Tapi jalan dari Panti Rapih-Bulak Sumur dibilang jauh.
Semalam, saya baru saja berdiskusi bahasa Inggris dengan teman-teman FIBER UGM.
Untuk yang belum tahu apa itu FIBER(FIB English Ranger), silahkan follow
twitter @FIBERUGM. Tema diskusi malam ini adalah LGBT(Lesbian, Gay, Bisexsual,
and Transgender). Pasti kalian punya pendapat masing-masing kan mengenai
eksistensi mereka? Kali ini dengan tema LGBT.
Di diskusi tersebut banyak yang bilang begini:
Di diskusi tersebut banyak yang bilang begini:
LGBT itu bukan
mereka yang menginginkan, bahkan mereka sudah tidak bisa menolong mereka
sendiri
Nah
pernyataan diatas ini yang bikin saya nggak setuju. Itulah kenapa dalam sesi
Tweet Ranger, saya berkicau “"LGBT? If they said that LGBT isn't their choice, I'm not sure. Between B(birth) and D(death), there's always C(choice)”. Buat saya, hidup itu pilihan. Jadi
apapun, termasuk jadi Gay, Lesbian, itu adalah pilihan. Pilihan selalu diikuti
2 hal, baik dan buruk. Manusia perlu bertanggung jawab agar siap menerima
segala akibat dari pilihannya.
Memilih
jadi LGBT. Jelas ini bukan pilihan yang mudah. Tidak main-main. Entah bagaimana
akhirnya manusia ada yang memilih jalan ini. Akan tetapi, saya rasa mereka sudah tahu,
kalau menjadi LGBT di Indonesia itu berat. Sebagian besar orang Indonesia akan
menganggapnya aneh, bodoh, bahkan menyeramkan. Ya memang pasti begini. Karena hal
ini masih dianggap tabu dan tidak sesuai dengan norma yang ada di masyarakat.
Jangan
protes dan mengeluh kalau itu terjadi.Tidak semua masyarakat itu mau terbuka. Pandangan
masyarakat tidak bisa diubah begitu saja, kalau tidak mau setuju dengan mereka,
ya paling tidak harus mau menyesuaikan. Kalau terus protes dan mengeluh. Ini
sama saja mereka tidak siap dengan resiko memilih jadi LGBT.
Kemudian
ada yang bilang begini :
Kapan negara kita
akan maju kalau masyarakatnya tidak mau terbuka?
Oke,
kita lihat negara yang maju. Prancis, mereka melegalkan pernikahan sesama
jenis. Apa berarti mereka berpikiran jauh lebih terbuka daripada negara kita? Mungkin
iya kalau soal LGBT, sex, atau sastra. Saya balik bertanya, apakah orang
Prancis lebih terbuka pada agama Islam dibanding orang Indonesia? Tidak kan?
Banyak juga orang Prancis yang bilang islam itu teroris. Sedangkan di negara
kita, islam adalah negara yang dianut lebih dari 200juta orang. Diterima dengan
mudahnya.
Bukan
berarti Prancis lebih baik. Bukan berarti juga Indonesia yang lebih baik. Akan
tetapi, beda tempat beda cara pandangnya. Individu lah yang harus menyesuikan diri,
bukan masyarakatnya.
Kemudian
ada pertanyaan begini :
Kalau pernikahan
sesama jenis dilegalkan di Indonesia setuju nggak?
Kalau
saya jelas nggak setuju. Pondasi negara kita kan pancasila. Sila pertama kita
“Ketuhanan yang maha esa”. Dan setahu saya, tiap agama mengatakan kalau manusia
diciptakan untuk saling berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan. Melegalkan
kawin sesama jenis sama saja menodai sila pertama. Saya jelas nggak terima
kalau pancasila dinodai begitu saja. Dulu Soekarno dan Hatta sering begadang lo
demi mikirin pancasila. Belum lagi, berapa puluh ribu pahlawan yang gugur waktu
memperjuangkannya.
Kalau
butuh keadilan? Adil juga harus beradab dong. Kemanusiaan yang adil dan
beradab. Kalau adab menerima tamu, saya tahu. Adab menjenguk teman yang sakit,
saya tahu. Tapi adab menikahi sesama jenis, saya nggak pernah tahu.hehe, Jadi
kalau maksa mau nikah sesama jenis, silahkan pergi ke Prancis yang pondasinya
Liberty, Egality, Fraternity. Atau ke Belanda. Tapi jangan di negeri yang punya
5 sila ini.
Kesimpulannya?
LGBT.
Mungkin alasannya karena cinta, ada yang bilang itu nafsu, atau entahlah. Yang
jelas sih, sebagian besar yang dilakukan orang-orang LGBT bukanlah hal-hal yang
bermanfaat. Bahkan banyak yang malah merugikan mereka sendiri. Tapi selama
mereka merasa nyaman, ya mau gimana lagi. Nggak ada gunanya kan
menyalah-nyalahkan mereka. Wong mereka Enjoy their life kok.
Buat
saya, kalau ini memang pilihan hati mereka, ya sudahlah. Pol-polnya saya cuma mengingatkan
saja. Saya nggak mau menyalah-nyalahkan mereka. Toh kalau rugi, yang rugi juga
mereka. Bilang mereka benar? Nggak juga. Hal yang benar adalah hal-hal yang
suatu saat akan saya katakan pada anak-anak saya. Dan saya nggak akan
mengatakan tentang LGBT adalah pilihan yang tepat untuk masa depan anak
saya,hehe.
Sesama
manusia kita harus saling menghormati. Siapapun, selama tidak merugikan
masyarakat banyak ya jangan pernah dimusuhi. Hati-hati juga sih dalam
pergaulan, jangan sampai kita terjerembab ke dunia yang nggak mendatangkan
banyak manfaat untuk orang banyak. Apalagi yang merugikan diri sendiri.
Seperti
kata saya tadi. Kesimpulannya, pol-polnya saya hanya bisa memperingatkan. Hubungan
sex bebas itu bahaya banget lo. Resiko terkena HIV, penyakit kelamin, resiko
suramnya masa depan, dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Besar sekali resikonya,
berbahaya. Kalau masih mendukung mereka, berarti kalian mendukung agar mereka semakin
dekat dengan resiko-resiko tadi. Orang lesbian, gay, bisex, transgender, saya
pikir orientasi mereka lebih ke hubugan sex. Ini mungkin sih, tapi seandainya
ada wawancara ke orang gay “Selama pacaran, kalian pernah ngapain aja?”. Saya
rasa nggak akan ada yang jawabannya “emm, nggak pernah ngapa-ngapain, kita cuma
pernah pegangan tangan aja”. :D
@aribagoez
"We're going to the beach today... We're going to laugh and sing our cares away...
The sun is shining on our face. We can take it in and let it out and say
La la lala la lalaa~ La la lala la lalaa~"
Pantai destinasi kita kali ini adalah Pantai Ngetun, sebuah pantai yang jarang diketahui keberadaannya. Menurut beberapa blog, rute menuju pantai ini sangat sulit karena yang pertama, orang Gunung Kidul sendiri ragu dimana tepatnya pantai itu berada dan kedua, pantai itu bisa dicapai setelah perjalanan panjang diantara lahan perkebunan warga dengan jalan super offroad. Saya tekankan sekali lagi.. SUPER OFFROAD. hahaha
Bayangkan saja, itu adalah jalan yang hanya bisa dilalui manusia, bukan untuk kendaraan bermotor. Dan jangan berharap lagi kau bisa membawa mobil ke sana.
Keindahan pantai ini juga diragukan kredibilitasnya (oleh saya). Masalahnya, awalnya kita hanya berpedoman pada foto-foto di blog orang. Sungguh tidak reliable Saudara-Saudara sekalian!
Tapi setelah sampai di sana, segala lelah dan keraguan saya sirna diserap sebuah pemandangan pantai yang anggun namun penuh kesederhanaan. Hanya sebuah pantai kecil, tapi penuh keramahan! Pasirnya yang berwarna krem dan lembut.. Pohon rindang di pinggirnya.. Ombak yang bergulung tinggi dan pecah dikejauhan sehingga lembut menyentuh bibir pantai.. Karang-karang yang letaknya artistik dan tidak mengganggu..
Tidak ada turis lain selain kami, hanya ada beberapa penduduk sekitar yang bekerja menyiangi lahan mereka, dan suara mengembik kambing-kambing yang kandangnya tepat di rerimbunan pinggir pantai.. sehingga kami menyetel musik, makan bekal buatan sendiri, berfoto bersama Squirrel kami, dan berfilosofi tentang awan...
"I do enjoy my time with you.. making the best of everything we do..
We're going to enjoy something new and we'll make it ours before the day is through"
I wonder if it wasn't you, when will I struggle through the shaking-offroad route or prepare the lunch in the early morning? I do really wonder..
The way I can do that thing with you, the way I enjoy the life with you, the way I see things in this world with you.. I wonder if I can do that all with anybody else.
And though the sun has said goodnight, just want to say I had a real good time..
I think I really feel alright.. I don't ever ever wanna say goodbye."
@Ririshwari
Kapan lagi cher
Di suatu pantai dengan pasir putih
dan suara ombak yang keras
Tak ada tempat parkir, penjual air mineral atau tiket masuk
Hanya ada jejak kaki kita disana
batu karang yang kuat, lalu kita duduk di
baliknya, bersebelahan
Pohon-pohon hijau di tepi pantai, lalu kita merebahkan diri
dibawahnya
Mengambil puluhan foto, makan masakan bikinanmu sendiri
C’est la vie
Pantai yang selama 2 jam jadi pantai kita
Pantai pribadi
Lari-larian, tanpa ada 1 pun tatap mata melihat
mau teriak-teriak, tak ada yang menyaingi nyanyian kita
emm..Mungkin debur ombak, atau angin laut atau angin darat
Entahlah..
Jarak yang jauh, jalan gradakan, mendorong motor di jalan tanjakan
Tak ada apa-apanya
Mereka pelengkap cerita indah saja sebelum sampai di Ngetun
Dan lihat, ini foto-fotonya di post bawah.. :D
@aribagoez
Saya muak dengan cerita anak SMA yang harus masuk jurusan
IPA karena pilihan orang tuanya, apalagi dengan cerita wanita yang dipilihkan
pasangannya. Bagaimana bisa seseorang hidup dalam pilihan orang lain?
Sampai badan kita benar-benar terpisah dengan nyawanya, kita
akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Karena itulah hidup.
Selalu akan ada banyak pilihan dalam kehidupan, mulai yang
hanya AB sampai pilihan yang AZ. Siapa yang bisa menentukan mana yang terbaik?
HANYA KITA SENDIRI. Bahkan orang tua pun tidak.
Betapa malangnya ketika kita menuruti begitu saja apa
pilihan orang tua.
Jangan sampai anak dijadikan media mewujudkan mimpi orang
tuanya. Setiap anak selalu mempunyai mimpinya sendiri. Anak selalu dipenuhi impian-impian segar karena anak hidup
seperti bunga yang ingin mengenal alam, sedangkan orang tua hidup dalam pikiran
untuk meninggalkan alam. (Shindunata).
Orang tua berhak membimbing, tapi tak berhak mengarahkan
hidup anaknya. Kita tahu, setiap orang tua ingin anaknya bahagia, tapi
mengarahkan masa depan anak sama dengan mempersempit cita-cita hidup. Rasanya
seperti dipojokkan ke mulut jurang yang dalam.
Sekali lagi, setiap orang tua ingin anaknya bahagia. Akan
tetapi alam terus menyegarkan dirinya, sehingga anak dan orang tua pasti
mengalami jaman yang berbeda. Mungkin banyak orang akhirnya menuruti kata orang
tuanya, dengan alasan takut dianggap anak yang durhaka. Namun ingat, mendurhakai diri sendiri lebih celaka dibanding mendurhakai
siapapun.
Kita memang perlu menjadi seseorang yang selalu membuka
mata, telinga, hati. Sebaiknya pula kita mendengarkan semua saran yang ada,
namun bukan berarti kita harus memasrahkan hidup kita pada pilihan orang lain.
Menuruti
pilihan orang lain berarti meninggalkan tanggung jawab akan dirinya sendiri.
Sehingga jika ada kegagalan dalam pilihan itu, kita akan berusaha menyalahkan
orang lain. Orang akan berusaha berkata, “ini bukan pilihanku. Andai dulu
pilihanku diperbolehkan, pasti semuanya akan jauh lebih baik”. Seterusnya ia
akan seperti ini, menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Sudah menderita
kegagalan, masih pula mengecam dunia. Menyedihkan.
Lalu, bagaimana jika kita nekat menentukan pilihan hidup
sendiri dan kita gagal? Orang yang gagal karena pilihannya sendiri akan menjadi
lebih siap menanggung resiko. Ketika gagalpun ia akan berusaha memeras otaknya
untuk mencari solusi lain agar semuanya berjalan menjadi lebih baik. Bagi orang yang berani menentukan pilihannya, tak ada waktu
untuk mengecam dunia, karena semuanya hanya tentang evaluasi
diri dan tanggung jawab akan pilihan.
Hmm..Ya siaplah saja.
Mungkin kan ada beberapa oknum yang berkata “Rasakan kegagalanmu, salah siapa
dulu tak menuruti kataku”. Apakah kita harus menyesal setelah itu terjadi? Tak
perlu. Kita masih bisa tersenyum manis lalu menjawab dengan gagah “IKI URIPKU PAK”
.
Entahlah..
but me,
each time I wanna get angry, or confuse, or disappointed to you.. I simply cannot.
if I'm so egoist and following those bad-feelings, it'll just end up hurting US.
You get hurt, and I get hurt even more because of that.
Moreover, I do ever promise you to protect you from my evil-side and won't let you down.
I think we already knew about that conception of toleration.
We've been facing so much differences, uncommon relationship and society's straight-common-senses. We've been here with faithful braveness.
Then that kind of egoism didn't worth our attention.. just take it aside.
WOLO ! (We Only Live Once) so why do we should make it complicated? Be happy ya :)
@Ririshwari
but me,
each time I wanna get angry, or confuse, or disappointed to you.. I simply cannot.
if I'm so egoist and following those bad-feelings, it'll just end up hurting US.
You get hurt, and I get hurt even more because of that.
Moreover, I do ever promise you to protect you from my evil-side and won't let you down.
I think we already knew about that conception of toleration.
We've been facing so much differences, uncommon relationship and society's straight-common-senses. We've been here with faithful braveness.
Then that kind of egoism didn't worth our attention.. just take it aside.
WOLO ! (We Only Live Once) so why do we should make it complicated? Be happy ya :)












