bagus panuntun

berubah!

Tahun 1998, di akhir masa kepemimpinan Soeharto yang penuh kontroversi, terjadi sebuah tragedi pembantaian etnis tionghoa di Jakarta. Kasus pembunuhan, pemerkosaan wanita keturunan Tionghoa, dan penjarahan menjadi goresan kelam dalam sejarah negara ini. Kasus ini adalah pengalihan perhatian terencana agar masyarakat melupakan sejenak masalah kepemimpinan rezim Soeharto. Masyarakat yang saat itu sedang marah dan kesetanan tidak tahu harus menumpahkan kemarahan mereka kepada siapa. Akibatnya, diciptakanlah sebuah statement bahwa penyebab kemiskinan di Indonesia adalah para keturunan Tionghoa. Mereka berdagang dengan sebebas-bebasnya di negara ini, mereka menjadi kaya raya dan makmur, sedangkan warga Indonesia justru mengalami masalah dengan banyaknya jumlah pengangguran. Pada saat itu ribuan etnis Tionghoa menjadi korban, dan banyak diantaranya adalah mereka yang tidak mengetahui apa-apa.

Kasus 1998 sebenarnya bukanlah kasus pertama pembantaian etnis tionghoa di Indonesia. Rasisme ini telah lama diciptakan oleh kolonial Belanda pada abad 18, tepatnya di Batavia(sekarang Jakarta). Sejarah Indonesia mencatat bahwa kerusuhan anti Cina yang dibangkitkan oleh kolonial Belanda pada waktu itu adalah dengan politik “devide et empera” yang mengadu domba pribumi dengan imigran dari Cina. 

Saat itu, banyak sekali imigran dari Cina yang datang ke Indonesia. Awalnya, mereka hidup harmonis dan disukai oleh masyarakat Indonesia, karena mereka banyak mengajarkan ilmu berdagang ke masyarakat pribumi. Sayangnya, semakin hari jumlah imigran ini semakin banyak dan membuat Belanda khawatir kalau masyarakat pribumi justru akan lebih memiliki ketergantungan tinggi terhadap para imigran Cina. Maka, dijalankanlah politik “divide et impera”. Mereka mengatakan kepada masyarakat pribumi bahwa tingkat ekonomi masyarakat pribumi tak akan meningkat selama imigran Cina terus berdagang di Batavia. Akibatnya, pribumi tak lagi bisa menangkap sisi positiv tentang bagaimana cara imigran Cina dalam mengembangkan usahanya. Maka, timbul kecurigaan dimana-mana.

Disisi lain, kolonial Belanda justru memberlakukan pajak yang sangat tinggi kepada para imigran.Para imigran ini diperas habis-habisan. Akibatnya, banyak dari mereka yang menderita kelaparan dan menjadi pengangguran. Para pengangguran yang dianggap hanya memenuh-menuhi Batavia ini, lantas dideportasi ke Afrika oleh kolonial Belanda. Namun, terdengar kabar bahwa para imigran ini sebenarnya tidak pernah sampai di Afrika. Mereka yang telah dinaikkan ke kapal hanya dilemparkan ke laut ! Kabar itu menambah kecurigaan dari para imigran Cina terhadap kolonial Belanda, mereka sangat takut bahwa mereka akan menjadi korban yang selanjutnya. Kecurigaan dan ketakutan inilah yang membuat para imigran nekat merencanakan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Maka timbullah beberapa pemberontakan dari para imigran Cina.

Mengetahui keadaan ini, kolonial justru memanfaatkannya untuk semakin menebarkan kebencian pada para imigran Cina. Disebarkan berita kepada masyarakat pribumi bahwa para imigran ini hendak melakukan pemberontakan dan sedang berusaha menguasai tanah mereka. Hal ini tentu menyulut kemarahan dari warga pribumi. Rasa benci terhadap para imigran inilah yang semakin memudahkan kolonial Belanda untuk membantai para imigran Cina. Dan pada akhirnya, terjadilah tragedi Kaliangke. Tragedi pembantaian puluhan ribu imigran Cina. Terjadi pembantaian besar-besaran, para wanita diperkosa dan kemudian dibunuh, para lelaki disunat paksa kemudian disiksa hingga tewas. Penjarahan juga tak terelakkan. Para jenazah yang telah dibunuh ini kemudian dilempar ke Kali Angke. Maka darah para korban pembantaian ini telah merubah warna dari Kali ini menjadi benar-benar merah dalam arti sebenarnya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saat ini tahun 2013 hampir selesai. Namun, rasisme masih juga ada. Hal paling miris adalah saat Ahok hendak menjadi wakil gubernur di Jakarta. Saat itu muncul jargon-jargon dari berbagai pihak, seperti “Ahok itu Cina, kristen pula !”, atau “saatnya kita dipimpin oleh orang pribumi”, atau yang lebih frontal “Ahok itu Cina, bagaimana kita bisa percaya nasionalismenya”. Bahkan dalam suatu acara debat di salah satu stasiun TV, pasangan Foke-Nara menyapa Ahok dengan “Haiyya”... Ini jelas hal yang sangat bodoh! Calon pemimpin Jakarta membawa rasisme dalam kampanyenya. Bagaimana bisa orang semacam ini dijadikan pemimpin? Apakah seorang pemimpin pantas menggunakan isu rasisme untuk membuat masyarakat mempercayainya? Kalau begini, hal ini sama saja dengan yang dilakukan kolonial Belanda pada abad 18 di Batavia. Bodoh sekali, kita ini dibodohi oleh penjajah. Miris jika calon pemimpin masih terjajah oleh cara pandang rasisme yang diciptakan para kolonial.

Mungkin kita perlu menelisik kembali mengenai rasisme ini. Penggunaan kata “pribumi” dan “non-pribumi”, atau penggunaan kata “Orang Indonesia” dan “Orang Cina”.

Kembali ke tahun 1998, saat terjadi penjarahan di Jakarta. Kala itu, sasaran para penjarah adalah toko-toko milik warga keturunan Tionghoa. Maka, penjarahan ini menimbulkan ketakutan luar biasa bagi para pemilik toko-toko saat itu. Agar toko mereka tidak dijarah maka tulisan “MILIK PRIBUMI” atau “PRIBUMI MUSLIM” banyak terpasang didepan toko-toko . Saat itu penggunaan kata “pribumi” seolah menunjukkan bahwa siapapun yang tidak berkulit kuning langsat, tidak bermata sipit, mereka adalah “pribumi”. Maka, siapapun yang berkulit kuning langsat, bermata sipit, mereka adalah “Non-Pribumi”, tak peduli jika mereka telah tinggal di Indonesia sejak mereka lahir, tak peduli jika mereka belajar pendidikan kewarganegaraan di sekolahnya, dan tak peduli jika mereka bahkan tak pernah tahu seperti apa negara Cina. 

Penggunaan kata “pribumi” ini telah memiliki perbedaan makna dengan jaman penjajahan. Saat itu, istilah penyebutan “pribumi” ditujukan kepada siapapun yang membela negara Indonesia. Tak peduli apakah dia keturunan Jawa, Arab, atau Tionghoa, mereka tetap disebut pribumi selama mereka masih mau melawan “non-pribumi” yang tidak lain adalah kolonial Belanda. Maka dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa siapapun yang mau berdedikasi untuk negara Indonesia, mereka adalah pribumi. Sedangkan mereka yang tidak peduli bahkan merusak negara ini, mereka lah para non-pribumi. Pribumi bukan didasarkan atas keturunan, atau fisiknya, pribumi adalah siapapun mereka yang mau membela buminya, bumi Indonesia. Lalu, siapakah Ahok? Ya, Ahok adalah pribumi. Soe Hok Gie, Yap Tiam Hien, Raden Patah adalah pribumi ! Kalau kalian ingin tahu seperti apa non-pribumi saat ini, maka lihatlah Gayus Tambunan, Nazarudin, atau Habib Riziek. Merekalah non-pribumi di jaman modern ini.

Sedangkan penyebutan siapa orang Indonesia, siapa orang Cina, mari kita telisik kembali. Kita perlu tahu peraturan yang telah diterapkan pemerintah sejak tahun 1946, bahwa siapapun yang lahir di Indonesia adalah warga negara Indonesia. Dari aturan ini sebenarnya sudah jelas, bahwa meskipun ada keturunan Tionghoa, mereka tetaplah warga negara Indonesia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Kita tidak bisa menyebut bahwa mereka yang nenek moyangnya berasal dari bangsa lain bukanlah orang Indonesia. Karena jika demikian, banyak sekali orang di negara ini yang bukan orang Indonesia. Perlu diingat, sejak ribuan tahun yang lalu, kita telah kedatangan orang-orang dari berbagai sudut di bumi, seperti orang dari Arab, Persia, India, atau Cina. Lantas, nenek moyang kita ini berasal dari bangsa lain juga. Melihat hal-hal ini, kita perlu merenungkan kembali tentang kebiasaan kita menanyakan identitas seseorang.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Masih ada hal-hal yang meresahkan bagi saya. Pemikiran stereotype atau memandang segala sesuatunya dengan hitam putih membuat saya tak habis pikir. Begitupun dengan cara pandang stereotype terhadap keturunan etnis Tionghoa. Kalimat “dasar cina!” sebagai bentuk umpatan adalah hal yang sangat absurd. Seperti pandangan bahwa semua orang Cina suka berdagang, apakah hanya orang Cina yang suka berdagang? Apa salahnya dengan berdagang? Bukankah sekarang orang-orang di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, mereka memimpikan dirinya menjadi pengusaha, yang berarti bahwa mereka juga ingin berdagang?

Lalu pemikiran bahwa keturunan Tionghoa ini pelit, suka menumpuk harta, dan kaya untuk diri mereka sendiri. Apakah pemikiran ini benar? Mungkin benar, karena saat ini sering kita jumpai orang-orang yang pelit dan suka menumpuk harta. Namun, apakah semuanya ini keturunan Cina? Bukankah banyak pula orang dari berbagai suku yang juga demikian?

Sebaiknya kita lebih dewasa dan sadar diri, bahwa bukan suku atau ras yang perlu kita maki, namun sikap buruk yang bisa muncul dari diri setiap manusia yang perlu kita hindari. Sekali lagi, rasisme adalah pembodohan yang diciptakan penjajah, maka jika masih ada rasisme di era sekarang, ini adalah duka. Duka tak hanya untuk keturunan Tionghoa, namun juga duka bagi Indonesia.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Masing-masing orang hidup di dunia ini dengan warna kehidupan yang beragam. Kata-kata adalah salah satu tinta yang memberi warna pada kehidupan mereka. Kata “tinju” mungkin adalah kata yang sangat mewarnai kehidupan Muhammad Ali, kata “arogan” mungkin adalah warna mencoloknya Farhat Abbas, :D ,atau kata “Blusukan” yang memberi arsiran warna pada seorang Jokowi. Warna-warna ini awalnya muncul dari dalam manusia itu sendiri, kemudian alam dan segala sesuatu yang ada di dunia ini bersatu padu untuk mempertegas warna itu.

Sejak masih kecil hingga sekarang saya berumur 19 tahun, kata “Cina” selalu mewarnai hidup saya. Mungkin alasan utamanya adalah mata saya yang sipit dan kulit yang kuning langsat. Dulu waktu masih kecil, saya marah setiap dipanggil Cina. Namun, semakin saya beranjak dewasa, saya semakin sadar bahwa tidak perlu mempermasalahkan hal ini. Bahkan ketika ada orang yang bertanya apakah saya ini keturunan Cina, saya akan menjawabnya dengan senang hati. “Mas ini keturunan Cina ya?”. Kemudian saya jawab, “Ayah saya punya marga Tan, dia dari keluarga Tionghoa. Sedang kakek dari ibu saya, beliau malah seorang perantau asli dari negara Cina yang mendapat istri seorang wanita Jawa(nenek buyut)".

Namun, cukup dengan perenungan=perenungan yang telah saya tuliskan di atas, sudah cukup jelas bagi saya untuk menjawab pertanyaan, "Apakah anda Cina?" , jawabannya "Saya INDONESIA. Ya sudah, INDONESIA saja" .


@aribagoez

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Inspired by :
Shindunata, Ernest Prakasa, Sammy Notaslimboy, Ahok, etc
http://kurniahartawinata.wordpress.com/2012/08/30/dari-dahulu-begitulah-cina-beritanya-tiada-henti/
http://politik.kompasiana.com/2012/08/07/katakan-saja-anti-cina-gitu-aja-koq-repot-484236.html

http://indoprogress.com/ahok-dan-cina/

Ini beberapa quotes dari novel Putri Cina karangan Sindhunata. Silahkan renungkan. Jika belum paham maksudnya, baca novel ini. J


Kita datang ke dunia sebagai saudara, tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah, yang ternyata hanya memisahkan kita?

Meski rezeki belum tiba, jika kita berbuat baik senantiasa, maka kita sudah terhindar dari segala bencana


Orang tua memang bisa bersalah. Dan jika kau mengabdi pada orang tua dan ingin memperingatkannya, peringatkan dia dengan lemah lembut dan halus. Jika kau lihat, dia tak mau menuruti kata-kata dan nasihatmu, kau justru harus makin menunjukkan hormatmu pada mereka. Sementara, jangan kau menyerah untuk terus menyampaikan apa yang ingin kau katakan pada mereka. Ambil bagimu sendiri pekerjaan yang tidak menyenangkan, dan jangan menggerutu.

Hendaknya manusia bisa bahagia dengan meninggalkan keduniawian. Manusia bisa meninggalkan keduniawian hanya jika ia tidak membenci dunia.


Janganlah kita mencari kebahagiaan, sebab dengan mencari kebahagiaan kita hanya akan menemui kemalangan, maka yang harus kita cari dan buat adalah cinta dan mencintai, karena hanya dengan cinta dan mencintai kita akan menjadi bahagia dan menemui kebahagiaan.
Silahkan menumpuk harta dan menumpuk harta, silahkan nilai dunia dan kehidupan dengan angka dan nominal, silahkan lakukan segala sesuatunya dengan melihat untung dan rugi. Lalu saat kematianmu, hanya lalat yang akan mengucapkan duka cita. (Inspired by Putri Cina and Codot di Pohon Kebebasan)
Putri Cina adalah novel yang baru saja selesai saya baca. Novel karangan Sindhunata ini saya temukan di Perpus FIB, dan langsung membuat saya tertarik. Kenapa saya tertarik? Jelas karena judulnya Putri Cina. Cina. Ya, melihat judulnya ini, lantas keingintahuan saya memuncak untuk tahu apa isinya. Terlebih kata “Cina” adalah 1 kata yang begitu mewarnai kehidupan saya.

Novel ini menceritakan tentang Putri Cina yang risau dengan keadaan dirinya. Dia hidup di tanah Jawa namun secara fisik dia berbeda. Dia memang keturunan Cina, namun di kalangan orang Cina sendiri, dia tidaklah termasuk Cina karena tidak besar dan lahir di Cina. Dia bahkan tidak bisa berbahasa Cina.


Kenyataan historis yang diceritakan secara fiktif dengan mitos dan filosofi yang begitu ditonjolkan. Setting dari novel ini ada di tanah Jawa. Dari novel ini, saya belajar berbagai sejarah tentang Cina di tanah Jawa. Mulai dari cerita lahirnya Raja kerajaan islam pertama di Pulau Jawa. Tahu kerajaan Demak? Rajanya, yaitu Raden Patah, beliau adalah keturunan Jawa-Cina. Nama Cina dari Raden Patah adalah Jin Bun. Ayahnya adalah Raden Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang salah satu istrinya adalah seorang wanita Cina. Dalam novel ini, tidak disebutkan siapa nama dari istri Raden Brawijaya, ia hanya disebut sebagai “Putri Cina”.


Kemudian Putri Cina melewati berbagai jaman, menjelajah waktu dari masa ke masa. Ia muncul sebagai istri Raden Brawijaya, kemudian sebagai Sam Pek, Roro Hoyi, hingga Giok Tien. Menjadi beberapa tokoh dalam 1 novel, ia tetap digambarkan sebagai wanita cina yang berusaha mencari jati dirinya.


Pada kisah Giok Tien, setting cerita berada di Negara Medang Kamulan Baru. Medang Kamulan Baru ini sebenarnya adalah sindiran untuk Jaman Orde Baru. Diceritakan sebuah negara bernama Medang Kamulan Baru yang rajanya gila kekuasaan. Ia memerintah dengan begitu serakah dan otoriter hingga suatu saat warga marah saat keadaan negara Medang Kamulan Baru menjadi carut marut. Akibat korupsi, kemiskinan terjadi dimana-mana. Akibatnya rakyat mulai melawan dengan melakukan demonstrasi besar-besaran. Raja yang masih ingin berkuasa saat itu, lantas mencari akal bagaimana agar masyarakat yang sedang kesetanan bisa teralihkan perhatiannya. Raja pun melalui bawahannya mengatakan bahwa penyebab ekonomi yang terjun bebas di negaranya adalah orang Cina. Orang cina berdagang sebebas-bebasnya di negara Medang Kamulan Baru, orang Cina sukses, namun justru rakyat asli Medang Kamulan Baru tak bisa meningkatkan kehidupan ekonomi mereka. Rakyat yang sedang kesetanan dan ingin melampiaskan kemarahannya pun menjadi sangat mudah terpengaruh oleh apa yang pemerintah katakan. Maka, kaum Cina yang jadi korbannya. Rumah-rumah orang Cina dibakar, terjadi pemerkosaan gadis cina dimana-mana, penjarahan juga tak terelakkan.


Giok Tien, yang hidup di jaman itu pun mengalami konflik batin yang hebat. Terlebih karena suaminya, Gurdo Paksi, adalah Senapati, orang kepercayaan raja. Giok Tien tak tahu harus menaruh kepercayaan kepada siapa, ia tak bisa percaya begitu saja pada suaminya karena suaminya adalah orang kepercayaan Raja Medang Kamulan Baru. Seorang senapati tertinggi yang mengatur ribuan bala tentara Medang Kamulan Baru. Ia berpikir, bahwa suaminya lah yang menjadi provokator pembantaian terhadap etnis-etnis cina disana. Namun, di sisi lain, ia mengenal suaminya sebagai seseorang yang sangat mencintainya, sehingga seolah mustahil jika ia tega menjadi dalang dari pembantaian massal etnisnya ini. Bagaimana mungkin Gurdo Paksi tega membunuh Cina, sedangkan istrinya sendiri adalah seorang putri Cina?


Putri Cina tak hanya sebuah dongeng yang melukiskan kisah pasangan beda etnis, Cina dan Jawa, yang berjuang sampai mati demi sebuah rasa saling percaya agar cinta mereka tak terpisahkan. Tragedi cinta yang penuh tetesan darah dan mengharukan hati. Novel ini juga sarat akan kritik sosial tentang kehidupan etnis Cina, khususnya di Pulau Jawa. Ini sedikit review dari novel Putri Cina. Tulisan ini adalah akan saya lanjutkan dengan beberapa quotes dari novel ini, kemudian pendapat pribadi saya tentang menjadi seorang ( yang katanya) Cina. Tunggu kelanjutannya.

@aribagoez
Waktu itu mata kuliahnya Madame Wulan. Kita sedang belajar kebiasaan-kebiasaannya orang Prancis. Kali ini kita belajar tentang cara-cara membayar di Prancis (maksute?).

Jadi gini contohnya yang kita bahas, kalau kita lagi di Prancis terus kita pingin beli oleh-oleh buat saudara di Indonesia, kita memilih oleh-oleh apa yang paling cocok. Contohnya kita memilih Indomie. Ya Indomie tapi yang belinya di Prancis. Sebut saja harganya 2,5 euro, sedangkan kita bawa uang 50 euro. Apa yang terjadi kalau kita membayarnya dengan uang kertas 50 euro tersebut? Yang jadi malah kita bakal dimarah-marahin orang Prancis. Lho? Iya. Soalnya di Prancis kebanyakan transaksi jual beli sudah memakai kartu kredit, terutama yang harganya diatas 20 euro. Masuk akal juga sih, bayangkan kalau kita bayar pakai 50 euro, sedangkan 1 euro itu kalau dirupiahkan kurang lebih 15ribu, jadi bayar Indomie pakai uang 50 euro sama saja kita bayar Indomie pakai uang 750.000 ribuan. Haha, yo kesel nyusukine to.

Selain hal diatas, kita juga bahas yang namanya TCC(Toutes Charges Comprises), pokoknya gini, kalau kita sewa appartement di Prancis, tiap bulannya kita juga harus bayar biaya air minum, kebersihan, dan lift. Lift??? Pertama kali saya heran kenapa lift harus bayar. Sedangkan di Indonesia , apalagi yang kuliah di UGM, lift bahkan sampai buat mainan, 1..2..3..4, pencet semua. 4..3..2..1 pencet semua.

Nah, kemudian dosen saya, Madame Wulan, beliau menjawab. “Kalian nggak tau po, sekali kita pakai lift itu FIB harus bayar 10 ribu”. “Haa, seriusan madamme?”, anak-anak kaget semua.

Okelah, jadi mulai sekarang jangan suka mainan lift ya. Boros. Kalau mau ke lantai 2, mending naik tangga sebentar, cukup.

Tapi ada juga yang menjawab “kita kuliah udah mbayar, yo dipakai aja semau kita” . Woo... mbahmu. Kowe kuliah ki mbayar piro? 2 jutaan per semester. Itu udah termasuk dapat ilmu banyak dari dosen, boleh pakai listrik, air, wifi, lift,mushola, kamar mandi, parkiran, perpus, dan sebagainya. Nggak mungkin 2 juta bisa seperti itu kecuali kalau kita juga dibiayai rakyat. Kuliah itu dibiayai rakyat. Duit rakyat. Pajak itu duit rakyat to?

Kurang bijak kalau kita memakai fasilitas kampus seenaknya saja. Kalau kita pernah bilang “orang bijak taat bayar pajak”, berarti kita juga harus lebih bijak memanfaatkan hasil dari kontribusinya rakyat yang bijak tersebut.

Jadi, mari kita lebih dewasa dalam memakai segala fasilitas yang ada di sekitar kita. Jangan mainan lift lagi, 10ribu yang dihambur-hamburkan itu mungkin sepertinya sepele bagi kita. Tapi diluar sana, masih banyak saudara-saudara kita yang jangankan punya uang 10ribu, mau minum saja sumber air tak dekat, jangankan untuk bekerja, mau makan sehari 2x saja masih susah. Ingat ya teman-teman, JANGAN MAINAN LIFT LAGI.

@aribagoez


43 anak dari 34 provinsi, 17 hari bertualang di  4 negara. Dulu kita masih bercerita tentang seperti apa tanah tempat kita mengeruk ilmu. Sekarang kita bertemu lagi, cerita kita sudah berbeda. Kita bercerita tentang tanah tempat kita mengeruk ilmu bersama-sama. “Bersama-sama”, aku suka kata ini. :)

Ada banyak kebalikan di dunia ini, ia yang merasa berkuasa atas hidupnya menikmati hidup atas kuasanya, sebenarnya adalah dia yang dicekam ketakutan dan kematian, Ia menderita kebahagiaan karena sesungguhnya ia tak berdaya apa-apa di kehidupan yang sesungguhnya. (Anak Bajang Menggiring Angin)





hatiku adalah Batara Guru, yang sedang berbicara padaku sendiri
mungkin sisi dari diriku yang berupa Rahwana

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018