bagus panuntun

berubah!

Dekan Pujo Semedi memanggil saya pagi ini. Melalui sekretarisnya, Mas Zam, beliau mengirim chat whatsapp meminta saya agar menemui di ruangnya.

Ajakan secara kultural - alih-alih mengirim surat panggilan dengan kop yang weladalah resminya – ini tentu saya terima dengan baik. Saya bahkan jauh lebih menyukai ajakan dialog yang bersifat kultural dibanding yang terlalu formal.

Berbeda misalnya dengan Bu Rektor yang tidak pernah membalas whatsapp ajakan berdialog, menolak bertemu dengan mahasiswa di rumahnya karena informal, lalu menolak berdialog di kampus karena sibuk - tentu saja, tanpa memberikan sedikitpun konfirmasi kapan beliau bisa bertemu.

Saya pun sebenarnya hari ini sibuk. Jika rektor sibuk karena harus membalas whatsapp dari para menteri dan sponsor, menerima undangan dari berbagai panggung, mulai dari panggung televisi hingga ratusan seminar motivasi, belum lagi jadwal padatnya rapat tiada henti. Maka saya juga sibuk.

Saya sibuk mengerjakan skripsi, melunasi 13 episode sisa Descendant of the Sun, belum lagi menghabiskan semua filmnya Anushka Sharma, walaaah... kadang karena kesibukan saya ini, saya merasa bahwa 24 jam adalah waktu yang terlalu singkat untuk satu hari.

Tapi hari ini saya berusaha untuk hadir. Setiap ajakan dialog kalau kita tidak bisa hadir pun, setidaknya paling tidak kita bisa memberikan konfirmasi. Disinilah terjalin sebuah komunikasi, dan alhasil segala konflik pun bisa lebih mudah teratasi.

Masalahnya, tidak semua orang paham (atau sepakat?) hal sesederhana ini. “You-Know-Who” salah satunya.

Catatan tambahan:

Saya pernah menyampaikan pendapat ini ke seorang Profesor sahabat Rektor yang namanya tak penting untuk disebut, Bahwa kita seyogyanya membudayakan budaya konfirmasi di zaman yang serba sibuk dan cepat ini. Lalu saya mendapat teguran "Anda jangan menggurui Rektor, mas".


Weladalahhh... toh kalau memang saya benar menggurui, kan ucapan guru masih bisa dibalas dengan argumentasi? Bukan dengan jangan itu jangan ini?


Bagus Panuntun,

Yogyakarta, 25 April 2015 pukul 09.00


Dua minggu sudah saya benar-benar lepas dari kerja skripsi. Seminggu pertama adalah ketika saya demam berdarah, seminggu selanjutnya adalah waktu yang dianjurkan dokter untuk istirahat total tanpa boleh terlalu ‘mikir’.


Sayangnya saya setengah gagal melakukannya. Saya bilang ‘setengah’, karena saya memang berhasil tidak menyentuh skripsi selama dua minggu ini, namun alih-alih istirahat, otak saya justru ndableg mencari subjek-subjek lain untuk dipikirkan. Otak ini berpikir keras tentang apa yang harus dipikir kalau bukan skripsi. Sebuah usaha yang saya kira cukup sadomasokis.


Perkawinan antara  waktu yang senggang dan hasrat untuk berpikir akhirnya membuahkan janin juga. Janin itu memang masih berupa ide yang belum matang. Ya, ide ini seperti janin, ia sudah mulai berbentuk tapi siapa yang tahu kelak akan jadi seperti apa?


Dalam kesenggangan ini, saya membuka hampir setiap folder yang ada di laptop saya. Satu persatu folder, mulai dari music, film, document, sampai picture, lalu menuju sub-folder. Hingga ketika saya membuka folder kuliah, akhirnya saya menyadari bahwa banyak sekali dokumen yang kalau tak layak dikatakan mirip sampah, mungkin bisa disebut terbengkalai. Puluhan dokumen tersebut adalah semua tugas-tugas saya selama kuliah di Sastra Prancis.


Ada banyak sekali file yang kemudian saya amati. Ada tugas mata kuliah sejarah Prancis, film Prancis, pariwisata Prancis, dan tentu saja kesastraan Prancis. Tugas-tugas yang kebanyakan berbentuk artikel dan esai ini mengendap saja tanpa pernah tersentuh lagi setelah tentu saja dikumpulkan ke dosen.


Saya kemudian berpikir, mengapa artikel-artikel ini tidak saya bagikan saja melalui blog pribadi saya? Toh, di awal-awal ngeblog, saya juga mengunggah tulisan apapun yang bisa saya tulis. Misalnya dulu saya mengunggah terjemahan saya sendiri dari buku Echo yang saya beri judul Tentang Prancis 1, Tentang Prancis 2, Tentang Prancis 3, dan seterusnya, saya juga mengunggah esai yang harus dikumpulkan ketika saya mendaftar di LEM FIB, bahkan saya mengunggah sebuah artikel tentang Mitos Tlampik Suwiwi di Masyarakat Jawa. Tulisan-tulisan yang kebanyakan berbentuk artikel ini tentu beda dengan isi blog saya sekarang yang kebanyakan berisi kisah hidup sehari-hari, esai, hingga opini.


Saya kemudian mengingat materi Sekolah Media yang pernah diadakan LEM FIB periode Mbak Pipit (2011-2012). Kala itu saya masih semester 2 di Sastra Prancis, dan kebetulan sekali saya bertemu dengan seorang blogger asal Jogja bernama Pak Yusuf Maulana. Saya sudah tak begitu ingat apa saja materi yang beliau sampaikan kala itu, tapi setidaknya ada satu hal dari beliau yang membuat saya terkesan. Beliau mengatakan “Menulislah demi berbagi pada sesama, bukan demi mengesankan”. Menurut beliau, tulislah apapun yang didasarkan pada kegelisahan. Ujar beliau lagi, tak ada kegelisahan yang sendirian, yang artinya bahwa setiap kegelisahanmu sebenarnya juga dirasakan oleh orang lain. Dari situlah awal suatu komunitas terbentuk, dari situlah kemudian tercipta satu tali silaturahmi yang baru.


Atas dasar ingatan itu, saya pun mantap untuk mengunggah saja lah tugas-tugas yang pernah saya kerjakan di Sastra Prancis, siapa tahu bermanfaat? Ah, tapi daripada saya unggah di blog saya yang lebih banyak berisi cerita-cerita pribadi, kenapa saya tidak membuat blog baru saja? Disitulah tercetus ide Akuprancis.


Apa itu Akuprancis?


Akuprancis adalah sebuah portal berbahasa Indonesia untuk berbagi segala pengetahuan tentang Prancis. Masyarakat Indonesia kebanyakan mengetahui Prancis hanya dari fashion atau pari(s)wisatanya, padahal Prancis bukan hanya sekedar itu ! Akuprancis lalu hadir dengan berbagai artikel bertema, mulai dari buku, film, pariwisata, hingga esai dan opini – yang semuanya berhubungan dengan Prancis.


Bagaimana Akuprancis hari ini?


Saat ini, Akuprancis memiliki tiga media sosial yang bisa diikuti oleh siapa saja. Pertama, blog akuprancis.wordpress.com, kedua instagram akuprancis, ketiga fanpage facebook Akuprancis. Akuprancis sendiri sudah mulai aktif dan menghadirkan beberapa artikel yang kebanyakan berasal dari tugas-tugas kuliah yang terbengkalai, haha.. Hingga saat ini, sudah ada tiga kontributor yang menulis untuk Akuprancis, adalah saya, Kania, dan Diah. Kania dan Diah saya hubungi secara personal untuk saya mintai tugas-tugasnya, dan mereka menyambut secara positif.


Bagaimana untuk berkontribusi di Akuprancis?
Kirim tulisanmu mengenai Prancis ke akuprancis2016@gmail.com, karya dapat berupa:
-Esai
-Opini
-Resensi film Prancis
-Resensi buku Prancis
-Info wisata Prancis
-Cerita pengalaman hidup di Prancis
Syarat Tulisan?
Jumlah kata dalam satu tulisan berkisar 400-2000 kata.
Dikirim dalam format doc., font Times New Roman, ukuran 12.


Bagaimana Akuprancis kedepannya?
Akuprancis.wordpress.com rencananya akan diganti menjadi akuprancis.com, supaya terlihat lebih serius dan valid. Saya dan kawan saya dari jurusan Pendidikan Bahasa Prancis UNY, Dery Wahyu Nugroho, sedang bekerjasama untuk mewujudkannya. Kendala saat ini hanya satu, yaitu kendala finansial. Hehehe... Tetapi santai saja lah, waktu masih panjang. Yang terpenting adalah Akuprancis mulai jalan dulu.


Saya berharap, kedepannya ada tim Akuprancis supaya Akuprancis bisa berkembang atas dasar kerja kolektif. Tim ini berisi siapa saja yang punya hobi menulis dan ingin belajar menulis secara konsisten. Di awal ini, kita akan mulai dari lima hari sekali membuat artikel. Jangan berat-berat lah, wong sekedar untuk menjalankan hobi dan belajar. Kalau ada yang mau bergabung dengan Akuprancis, langsung saja PM saya di Line: Baguspanuntun28, nanti akan saya invite ke grup Line Akuprancis, dan nanti kita bahas bersama bagaimana Akuprancis kedepannya.


Oh ya, satu lagi alasan mengapa saya butuh tim. Saya ingin Akuprancis punya rubrik bertamu seperti halnya mojok.co. Dua minggu sekali, kita akan jalan-jalan mewawancarai orang-orang tertentu yang kehidupannya bak tak terpisahkan dari hal-hal berbau Prancis. Misalnya saja, dosen sastra Prancis, penerjemah bahasa Prancis, mahasiswa berprestasi Sastra Prancis, alumni jurusan Prancis yang telah bekerja sebagai guru, tour guide, manager, dan lain sebagainya. Pasti akan menarik !


Tentang masa depan yang saya harapkan dari Akuprancis, kelak Akuprancis bisa menjadi portal bagi masyarakat Indonesia untuk menyerap berbagai ilmu dan pengetahuan dari negara Prancis. Saya yakin, banyak sekali hal bermanfaat dari negeri yang punya tradisi sastra dan filsafat yang kuat itu.


Lebih jauh kedepan lagi, tentu saja saya berharap Akuprancis bisa melebarkan sayapnya hingga bisa memberikan sangu tambahan bagi para kontributornya. Masih amat jauh memang, tapi kita coba dulu lah, siapa tahu penemuan.


Ada pesan dan kesan mas selaku admin Akuprancis?
Tok kira talkshow tivi po ono pesan kesan mbarang???


Bagus Panuntun


Akhir-akhir ini gelombang pesimisme terhadap gerakan ‪#‎savebonbin entah mengapa makin menjalar dimana-mana. Di sudut-sudut kelas, di pojokan sekber, bahkan mungkin di antara meja-meja Bonbin sendiri. Tak cukup sampai disitu, beberapa bahkan menganggap kawan-kawan gerakan #savebonbin terlalu wasting time dan keras kepala.

Mungkin kita memang telah kehilangan sebuah kesanggupan yang sederhana, namun begitu bersahaja. Adalah kesanggupan untuk berkata TIDAK. Padahal sudah jelas bahwa ada banyak kecurangan dan ketidakadilan dalam upaya relokasi ini. Misalnya kejanggalan perjanjian kontrak seperti yang dibahas oleh kawan-kawan Dema Hukum. Belum lagi dengan keengganan rektorat untuk sekedar memperlihatkan masterplan pembangunan taman soshum. Dan juga narasi-narasi lain dari rektorat yang didalamnya mengandung racun-racun kebohongan. Apa saja? Misalnya pernyataan bahwa Bonbin adalah sarang hepatitis, pernyataan bahwa pedagang sudah setuju direlokasi namun dicuci otak oleh mahasiswa, pernyataan bahwa pedagang Bonbin tidak pernah membayar tagihan listrik dan air, dan sebagainya.

Save Bonbin Movement bukan tidak mau berunding. Kami hanya TIDAK mau berunding dengan kebohongan. Kami hanya ingin segala rencana yang dilakukan oleh pihak rektorat dikomunikasikan secara baik dan jujur dengan semua pihak. Pihak pedagang juga pihak mahasiswa. 

Henry Levebre, seorang sosiolog Prancis, pernah berujar bahwa produksi ruang dalam masyarakat kapitalis modern cenderung mewujudkan hasrat para kapitalis untuk memamerkan diri. Secara langsung atau tidak langsung, maka segala pembangunan akan didasarkan pada kepentingan para bos-bos besar. Mungkin inilah yang sedang terjadi di kampus kita. Di eranya yang kemungkinan sudah tak lama lagi - antara satu sampai dua tahun - para penguasa ini sangat berhasrat untuk meninggalkan sebuah berhala baru supaya eranya tetap diingat. Hasrat untuk pamer rezim ini pun alhasil mengharuskan adanya korban, yang tak lain korban tersebut adalah pedagang Bonbin.

Pernyataan rektorat bahwa "Yang mau direlokasi tetap di UGM, yang menolak boleh keluar" sesungguhnya merupakan indikasi bahwa mereka sudah tak lagi peduli terhadap nasib-nasib pedagang saat ini. Bagi mereka, hasrat adalah tuhan.

Henry Levebre sebenarnya pernah menawarkan sebuah konsep yang bernama 'droit à la ville', hak atas kota. Konsep ini menghendaki bahwa masyarakat seharusnya berdaulat untuk mengubah warganya dengan mengubah kota itu sendiri. Tentu saja hal ini karena masyarakat lah yang paling merasakan dampak dari suatu perubahan kota. Hak atas kota ini bukanlah hak yang bersifat individual, tetapi merupakan hak komunal yang seharusnya dimiliki oleh setiap masyarakat Kota. Dalam kasus Bonbin, 'droit au Bonbin' atau hak atas Bonbin inilah yang sedang diperjuangkan oleh siapapun yang sepakat pada gerakan #savebonbin. Itulah mengapa sampai detik ini kita menolak relokasi dan mengajukan konsep renovasi, yang mana sebenarnya lebih dibutuhkan oleh masyarakat Soshum - Lihat kajian LEM FIB, BEM FEB, dan LM Psikologi di Line Save Bonbin Movement.

Lagian, meminggirkan pedagang Bonbin dari jalan Soshum (pusat) ke Lembah (pinggiran) adalah sebuah bencana. Ruang adalah suatu hal yang tidak sepele. Peminggiran pedagang Bonbin yang dibarengi dengan pembukaan dua kantin baru FIB, (mungkin rektorat juga akan bikin kantin lain?) - dengan harga kontrak yang konon mahal dan tenderan - menyiratkan bahwa kepentingan rakyat semakin dipinggirkan sedang kepentingan mereka yang punya modal besar makin dipusatkan. Bukankah ini jadi kode bahwa yang namanya kerakyatan juga makin dipinggirkan?

Dulu Bonbin itu adalah relokasi. Relokasi kok mau direlokasi lagi. Pemakluman terhadap relokasi suatu saat akan membuat mereka yang di Lembah juga akan direlokasi lagi. Dari Bonbin direlokasi ke Lembah UGM. Dari Lembah UGM mungkin akan direlokasi lagi. Ke Lembah Baliem.

Bagus Panuntun,
1 Maret 2016




Sejak didera sakit demam berdarah kurang lebih dua minggu lalu, saya diharuskan banyak minum air putih. Paling tidak sehari 3 sampai  4 liter lah, begitu kata dokter waktu saya mondok 2 malam di RS.UGM.

Hla, sejak itu saya jadi banyak sekali minum air putih. Luar biasa memang dampaknya.  Berkat minum 3 botol besar aqua perhari, akhirnya bintik-bintik merah demam berdarah tidak sampai keluar dari kulit saya. Ya, paling tidak kulit saya masih mulus meskipun waktu itu saya harus pipis sampai 15 kali per hari.

Ternyata kebiasaan minum banyak ini masih berlanjut sampai sekarang. Termasuk kemarin, ketika saya harus kontrol kesehatan di RSU Wonosobo.

Saya sangu wedang  aqua satu setengah liter plus masih beli wedang degan. Alhasil, saya pun kebelet pipis dan harus rela ngantri di kamar mandi umum RSU, yang antrinya ngalaihim.

Kira-kira ada 6 orang yang ngantri ke kamar mandi saat itu. Saya di urutan ketiga. Dari 3 kamar mandi, ternyata dua pintu kamar mandi lain tak kunjung jua membuka. Sayapun harus menahan pipis dalam waktu yang lebih lama.

Ketika pipis saya sudah sampai diujung pakulitan titit, tiba-tiba seseorang yang ikut ngantri didepan saya ngajak ngobrol.

Beliau adalah seorang mbah-mbah usia 70-an, memakai baju polo pendek biru muda, celana kain abu-abu, dan memakai sandal jepit swallow kuning. Tak lupa,beliau juga memakai peci hitam untuk menutupi helai-helai rambutnya yang mulai memutih, alias uwanen. Beliau mengajak ngobrol saya.

“Suwe nggih dek. (Lama ya dek)”

“Nggih mbak, suwe tenan. Saweg e’ek mbah kadose. (Iya mbah, lama. Masih BAB kayaknya”.

“Asline pundi dek? Tesih kuliah? (Asli mana dek? Masih kuliah ya?).

“Asli Wadaslintang mbah. Nggih niki, tesih kuliah tapi sampun meh lulus Insyaallah. (Asli Wadaslintang mbah. Iya, masih kuliah tapi Insyaallah sudah hampir lulus)”. Amiiiin...

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Bau senggg.... khas kamar mandi umum pun mulai tercium. Bersamaan dengan itu tiba giliran simbah depan saya untuk masuk kamar mandi.

Allahuakbar, ternyata sebelum masuk, simbah masih mengajak saya ngobrol.

“Walaaahh.. ndang mbah, wis mucuk iki...”, batin saya.

Tiba-tiba perkataan simbah itu sungguh mengejutkan saya bagai petir di tengah lapangan bal-balan.

“Monggo pipis bareng mawon dek? (Ayo dek pipis bareng aja)”, tawar simbah...

Hahaha... Sikaaak... mbatin saya, apa temenan kiye mbahe ngajak nguyuh bareng.

“Mboten nopo-nopo, wong pada-pada lanang be (Nggap apa-apa, sama-sama cowok kok)”, tambah simbah itu.

Dalam suasana yang cukup absurd itu, sayapun menjawab dengan sopan, “Hehe, monggo simbah riyen mawon. Kulo ngentosi mawon mbah. (Hehe, simbah dulu saja. Saya nunggu nggak apa-apa mbah).

Lalu simbah menjawab lagi ”Owalah.. Isin nopo? (Owalah, malu ya?)”, agak kecewa sepertinya.

Dalam pikiran saya kala itu, saya sih mikir, simbah ini begitu ikhlas menawarkan satu ruang untuk kami pipis bareng. Saya yakin, di dalam pikiran dan imaji simbahnya, tidak ada pikiran ngeres. Ia hanya ingin memudahkan saya supaya tidak lagi berlama-lama menahan pipis. Tawarannya ikhlas, mungkin beliau melihat saya bagai cucunya sendiri yang segala sesuatunya ingin ia permudah.

Tapi gimana lagi. Kendati hati saya tersentuh dengan keikhlasan tawaran simbah, namun otak saya tetap berprinsip untuk menjaga kesucian pusaka ini dari pandangan kaum lelaki, terlepas berapapun usianya.

Terlebih, saya sudah sangat lama nggak pipis bareng cowok di satu kamar mandi. Terakhir pipis bareng cowok ya pas kelas 5 SD. Waktu saya baru sunat dan ingin membuktikannya pada teman-teman supaya afdlol – yang kemudian dilanjutkan dengan lomba dawa-dawanan uyuh (Panjang-panjangan pipis).

Nah, tetapi sebagai anak muda yang menjaga hormat pada orangtua, saya pun mencoba untuk tidak mengecewakan beliau . Jika saya menjawab saya isin (malu), saya yakin simbah pasti akan kecewa berat. Akhirnya saya pun mencoba menjawab dengan cara lain.

“Mboten usah mbah, mengke mburine kulo malah meri (Nggak usah mbah, nanti yang ngantri belakang saya malah iri”.

Simbahpun dapat pipis dengan tenang.


TAMAT.


Bienvenue le mars ! Selamat datang bulan Maret !

Apa yang paling anda tunggu-tunggu di bulan Maret ini? Tentu masing-masing dari kita punya jawaban berbeda. Bisa jadi ada yang tak sabar menunggu tanggal 9. Tanggal 9 Maret yang menjadi peringatan Hari Musik Nasional ini ternyata bertepatan dengan fenomena gerhana matahari yang sudah sangat ditunggu-tunggu. Maka saya sarankan bagi semua pecinta musik tanah air untuk memutar OST film Gerhana saja di tanggal tersebut, 'Arjuna Mencari Cinta'. *Lawas....

Atau anda tak sabar menunggu tanggal 11 Maret? Hari peringatan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang menjadi titik awal kedigdayaan rezim bangsat korup Soeharto. Jika anda memang menunggu angka 11, maka mari bersama kita peringati Hari Supersemar ini dengan membuka supersemarvid (ternyata ini yang membuat Soekarno turun).

Astaghfirullah...

Terserah anda mau menunggu apa. Karena saya hanya menunggu beasiswa Bidik Misi turun (Wis ra nduwe sangu).

FYI gaes, bagi yang belum tahu, beasiswa Bidik Misi adalah beasiswa yang dikelola oleh DIKTI (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi) untuk diberikan kepada mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang miskin atau kurang mampu. Beasiswa ini turun setiap enam bulan sekali dengan nominal 600.000 rupiah perbulannya, jadi totalnya 3.600.000 rupiah per enam bulan. Beasiswa inipun jadi tumpuan utama ribuan mahasiswa untuk menyokong hidupnya di bangku perkuliahan.

Tetapi apa boleh bikin, ternyata penyaluran beasiswa Bidik Misi ini tak semulus Cita Citata yang diharapkan. Dalam praktiknya, penyaluran beasiswa Bidik Misi selalu molor. Bahkan semester lalu, penyaluran beasiswa ini di UGM molor hingga hampir dua bulan.

Lantas apa yang terjadi? Ada fenomena menarik yang bisa kita saksikan di grup facebook KAMADIKSI (Keluarga Mahasiswa Bidik Misi) setiap masuk bulan September dan Maret - bulan turunnya beasiswa Bidik Misi. Grup facebook yang biasanya sangat sepi seperti Mushola Kuburan ini, mendadak akan diramaikan oleh ratusan mahasiswa yang berdebat mengenai telat turunnya beasiswa.

Kalau kita amati, ada dua kubu besar yang rajin berdebat hore di grup berpenghuni 4500-an mahasiswa ini. Kubu pertama adalah mahasiswa yang protes karena beasiswa telat turun. Kubu ini biasanya kalau  nggak menyampaikan opini secara mayan kritis ya paling sekedar curhat kalau duitnya sudah abis, belum dapat utangan, atau terpaksa puasa nyenin kemis biar irit. Sedangkan kubu satunya adalah kubu para Kyaiwan-Kyaiwati yang alih-alih mengkritisi telat turunnya Bidikmisi, justru mendadak menjadi Mario Teguh Syar'i yang dengan cocot lamis motivasinya menasihati kaum-kaum kelaparan supaya mau bersabar.

"Protes mulu. Sabar aja, berdoa semoga beasiswanya cepat turun".

Tak hanya sampai disitu, kubu yang kedua ini juga seringkali menganggap mereka yang protes adalah manusia-manusia tak mau bersyukur.

"Protes mulu. Bersyukurlah kita sudah dibiayai pemerintah dengan gratis. Daripada protes, mending kalian belajar yang rajin biar beasiswanya ndak percuma".

Sesekali ada nasihat untuk segera menjadi entrepreneur.

"Saya mahasiswa Bidik Misi. Saya nggak protes, karena saya masih mampu untuk jualan sendiri demi menambah sangu. Kan kalian juga bisa to jualan? Ndaftar jadi operator warnet? Atau kerja di Kafe? Mahasiswa kok bisanya protes ndak kasih solusi."

MATAMU !

Begitu saya ingin berteriak pada mereka yang malah ceramah dengan mahasiswa yang protes. Ungkapan MATAMU ini tentu saya tunjukkan untuk dua macam orang. Pertama untuk Ukhti-ukhti yang kendati ceramah tapi berparas cantik. MATAMU INDAH mbak. Yang kedua, untuk semua mahasiswa yang nggak masuk kriteria tadi, tapi malah memprotes kawannya yang protes.  MATAMU CUKKKKKK.....

Sek-sek, mari kita nyruput Kopi dulu.... Slllrrrupp..

Wis yo... Lanjutkan ben woles...

Sebelumnya, perlu saya tekankan bahwa saya tidak mempermasalahkan pilihan sikap kalian untuk bersabar, bersyukur, apalagi bertawakal dengan mau jualan sendiri. Yo ngopo aku protes... Wong sikapmu kuwi jelas-jelas sesuai dengan akhlakul karimah seperti yang diajarkan oleh LKS PAI (Pendidikan Agama Islam) jaman SMA je...

Tetapi, yang saya permasalahkan adalah sikap pemakluman anda atas sebuah amanah yang tidak dikelola dengan baik oleh sebuah lembaga tingkat dewa sekelas DIKTI. Lebih-lebih jika pemakluman itu telah menjurus brutal sehingga anda dengan bangganya menganggap semua mahasiswa yang kritis dan protes adalah mahasiswa yang tidak mau bersyukur, bersabar, dan bertawakal. Tentu tidak demikian !

Perlu diketahui, Bidik Misi itu bukan duit negara lho. Bidik Misi itu duit rakyat yang asalnya juga dari petani, buruh, hingga nelayan kecil. Negara disini hanyalah badan yang menjalankan amanah supaya uang tersebut dikelola dengan baik supaya dunia pendidikan di Indonesia bisa makin baik pula. Maka, jelas anda telah salah logika jika mengatakan "Bersyukur dan berterimakasihlah pada negara, daripada memprotes". Sekali lagi cukkkk, kita ini dibiayai rakyat, bukan dibiayai negara. Kita berhak bahkan wajib memprotes dan mengkritisi negara jika mereka tidak menjalankan suatu amanah rakyat dengan baik. Ingat, yang membayar mereka itu kita lho, rakyat.

Uang Bidik Misi. Uang itu adalah uang rakyat. Kita bisa kuliah gratis karena rakyat. Yang berarti bahwa kelak kita juga harus mengabdi untuk balas budi pada rakyat - tentu rakyat yang saya maksud disini adalah para Kaum Kromo yang tertindas. Lha kok dengan entengnya cangkem anda ngomong "Bisanya protes aja...".

Saya sendiri sungguh khawatir terhadap mahasiswa-mahasiswa yang seperti ini. Ketika ada sistem yang salah, ketika ada penyalahgunaan amanah, mereka justru memilih maklum hanya karena saat ini mereka cenderung masih bisa bertahan hidup, masih oke-oke saja dan fine.

Saya khawatir sikap egois dan hanya memikirkan diri sendiri begini kelak akan berlanjut sampai kita lulus dan terjun di masyarakat. Saya khawatir jika suatu saat kita sadar ada sebuah sistem dan amanah yang dijalankan dengan salah, namun kita memilih diam karena masih mampu makan dan baik-baik saja. Alih-alih tergerak untuk membantu, kita justru menyuruh para korban salah sistem itu untuk bersyukur, bersabar, dan bertawakal - sembari menganggap mereka cuma bisa protes. Jika demikian, tentu sikap kita tak ada beda dengan para Pendeta Katholik di Eropa pada abad 17, tak ada beda dengan Kyai di TV yang senang berceramah tentang takdir dan kemiskinan, disatu sisi ia memasang tarif puluhan juta untuk sekali ceramahnya.

Sungguh, saya yakin bahwa nama Bidik Misi dibuat tidak dengan asal-asalan. Nama Bidik Misi dipilih karena memang ada sebuah misi yang perlu kita bidik. Misi itu bukan semata mengenai apakah kita bisa dapat IPK bagus atau tidak, misi itu adalah sebuah misi mulia yang tentu tak bisa dicapai dengan keegoisan.

Misi itu adalah tentang kita - penerima Bidik Misi - yang hari ini miskin, suatu saat bisa menjadi penolong orang-orang miskin. Misi mulia itu - sekali lagi - mana mungkin bisa tercapai dengan adanya keegoisan?

Wis lah. Semoga kita tidak menjadi Mahasiswa Bidikmisi yang enggan membidik misi.

Mari berdoa supaya beasiswa bulan Maret cepat turun. Sesok dinggo nonton Deadpool... *matamu, *tur lawas

Tak lengkap rasanya, sebagai putra daerah Desa Ngadisono (kampung halaman tercinta di perbatasan Kaliwiro-Wadaslintang, Wonosobo) jika saya tak menuliskan kisah-kisah setempat  yang kerap lebih heroik dibanding Seven Samurai, lebih jenaka dibanding The Hangover, dan tentu saja lebih mistis dibanding arwah hantu goyang Kerawang, eh maksudnya Trilogi Kuntilanak.

Ceritera kali ini tentu saja masuk dalam kategori yang terakhir. Adalah ceritera yang mistis, cukup mengingatkan saya pada tayangan awal 2000-an hari Kamis Jam 10 malam, Kismis... Kisah-kisah misteri.

Kampung halaman saya, kendati masyarakatnya sudah modern dan sudah mengenal Ninja RR sebagai tujuan utama hidup, ternyata masih belum bisa lepas dari yang namanya kisah-kisah ghoib. Walhasil saya pun sudah terbiasa mendengar narasi-narasi khayalassalah sampai tingkat yang amat ekstrim. Soal pesugihan babi ngepet, tuyul, dan santet tentu sudah bukan cerita asing. Soal orang pinter yang ngaku pernah sowan ke Istana Kanjeng Ratu Kidul juga sudah biasa. Dari blio saya mendengar gosip kalau katanya Sunan Kalijaga adalah suaminya Kanjeng Ratu Kidul yang sekarang. Kabarnya juga ada portal dari Waduk Wadaslintang yang bisa menghubungkan dunia semi-ngapak Wadaslintang dengan dunia serba krama inggil Pantai Selatan sana. Kalau cerita yang belum lama ini sih, katanya ada naga merah di dekat bekas rumah peninggalan Belanda. Tak tanggung-tanggung lho, kabar ini saya dengar langsung dari siaran Mister Tukul Jalan-jalan yang juga bisa kalian saksikan disini.

Maka jelas saya patut berbangga diri sebagai seorang putra Ngadisono perbatasan Kaliwiro-Wadaslintang. Disana mantra macam Avada Kedavra ada, portal macam bubuk floo ada, naga merah macam di kompetisi triwizard juga ada. Desa saya nggak kalah kan sama Hogwarts à la Harry Potter?

Nah kisah singkat yang akan saya ceritakan berikut adalah kisah yang terjadi di awal Januari tahun ini. Tersebutlah seorang wanita bernama Bunga. Eh, jangan Bunga ding. Sebut saja ia Sumi, karena Sumi sendiri bermakna Bunga.

Sumi-sumi pancen ayu, kembang desa asli Wonosobo....

Alkisah, Sumi sudah menderita sakit parah selama 2 bulan terakhir. Penyakitnya ini tak bisa dideteksi oleh metode pengobatan modern. Secara mendadak Sumi sering jatuh pingsan. Ia kerap berteriak-teriak seperti orang gila, dengan racauan yang tak tentu arah. Sebut saja ia sering kesurupan.

2 bulan berlalu dan Sumi masih saja belum sembuh. Keadaannya makin memprihatinkan. Kulitnya yang dulu mulus sawo matang kini kurus kering, rambutnya acak-acakan, sinar wajahnya redup. Bayangkan, seorang gadis berusia 21 tahun hanya berbobot 39 kilogram. Sedih dan iba betul jika melihatnya.

Kebetulan ketika liburan kemarin, Sumi dibawa oleh keluarganya ke salah satu orang pinter yang kebetulan juga tetangga saya. Orang pinter itu adalah seorang ibu-ibu yang  hingga kini wajahnya masih amat cantik kendati memasuki usia 50an. Sebut saja ia Mbak Wulan – saya merasa kikuk memanggilnya Ibu Wulan, apalagi Madame.

Saya menjadi saksi atas percakapan Sumi dan Mbak Wulan malam itu. Ibu saya yang tak lain adalah sahabat arisan dari Mbak Wulan mengajak saya untuk ikut proses pengusiran jin yang sudah ngontrak dua bulan di tubuh Sumi.

Malam itu tak ada kemenyan, tak ada bau-bauan minyak wangi Fanbo, tak ada pula bunga tujuh rupa yang disebar. Mbak Wulan terlihat hanya memakai kaos panjang warna pink, ia juga memakai jilbab ungu muda yang entah halal atau tidak namun sepertinya syar’i. Di ruang tamu itu ada Mbak Wulan, Sumi, Suami Mbak Wulan, kakak lelaki Sumi, Ibu saya, dan tentu saja saya sendiri. Supaya tak timbul fitnah atau gosip yang bersebaran, semua jendela di tutup korden, pintu pun ditutup rapat dari dalam.

Proses pengusiran pun dimulai...

Mbak Wulan meminta Sumi untuk meminum air putih yang sebelumnya telah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Sumi yang malam itu berjaket hijau turkish menatap Mbak Wulan dengan tatapan yang dingin. Matanya melotot seolah menantang Mbak Wulan. Ia menolak untuk meminum air putih tersebut.

Tiba-tiba Sumi menangis....

“Mbak, aku itu tidak bisa jauh dari Sumik.. Aku sayang tenan yakin sama dia dan sama anaknya.. Aku kiye (ini) lho, cuma mau nemenin Sumi biar tidak kesepian, hwaa..hwaa..” ucap Jin yang ada dalam tubuh Sumi, ia mengucapkan kalimat itu sambil menangis dan makin lama tangisnya menjadi makin keras. Ingat, sebagai Jin Wadaslintang, logatnya ya logat semi ngapak.

“Kowe ra usah ngapusi ! (Kamu nggak usah bohong !) Sumi ini dipikir seneng po sama kamu? Kamu itu udah ngganggu Sumi ! Ini anak sekarang sungguh kuru (kurus) , stress, keweden (ketakutan) ya gara-gara kowe iku !”, balas Mbak Wulan sambil balik memelototi Sumi. Mbak Wulan kebetulan seorang wanita keturunan Jogja, maka logat ngapak pun hampir tak ada terdengar darinya.

Mbak Wulan sungguh terlihat amat berani, tak sedikitpun ketakutan terpancar dari matanya.

“Aku ini tidak punya rumah, kesepian, aku juga sudah dikirim buat jadi temannya Sumik.. Aku pokoknya emoh pergi dari Sumik, aku juga tidak akan jahat. Aku akan njaga Sumik, huu..huu”, Sang Jin kini mulai menunduk dan masih saja menangis, namun terlihat bahwa ia mulai ketakutan dengan energi yang dikeluarkan oleh Mbak Wulan.

Mbak Wulan sendiri tidak langsung menjawab sang Jin seperti tadi. Dari mulutnya yang komat-kamit kecil, sepertinya Mbak Wulan terus berdoa untuk melawan sang Jin.

“Siapa yang ngirim kowe kesini ? Ngaku ! Pokok’e kowe harus ngaku atau keluar dan jangan ngganggu Sumi !”, tiba-tiba Mbak Wulan menantang kembali Sang Jin.

“Tidak mbak... aku sudah janji tidak mau bilang soal itu...”, jawab Sang Jin lagi..

“Lha kowe ki sopo sakjane???”, tanya Mbak Wulan dengan nada yang mulai jengkel...

Kala itu semua orang yang ada di ruangan mulai tak tenang. Ruangan yang tertutup membuat keringat mulai bercucuran menandakan masing-masing dari kami mulai merasa gugup dan ketakutan. Suasana kemudian cenderung kikuk, kaku, dan tegang.

Namun....tiba-tiba Sang Jin menjawab pertanyaan Mbak Wulan dengan jawaban yang cukup mengejutkan.

“Lha iya, aku ini hanya pocong mbak... tapi aku tidak mau ngganggu Sumik.............”

Weladalah.. ternyata Sumi kesurupan pocong dan konon kesurupan pocong memang membuat sang korban sering terganggu dan kesurupan. Hal ini membuat mau tak mau sang pocong harus dikeluarkan dari tubuh korban. Mbak Wulan pun makin serius dengan upaya pengusirannya, air yang tadi ia bacakan doa ia cipratkan pada tubuh Sumi.

“Pokok’e kowe iki pengganggu. Kowe harus keluar dari tubuh Sumi biar dia bisa tenang !”, gertak mbak Wulan.

“Ampun mbak... aku tidak akan ngganggu... aku tuh apa, aku hanya pocong mbak.. Aku tidak akan ganggu lagi. Ampun... jangan usir aku mbak.. Tuh aku ini hanya pocong kok. Aku hanya pocong dan aku juga Islam mbak”, rintih sang Jin yang kali ini makin menangis takut akan Mbak Wulan.

Sampai disitu tiba-tiba Mbak Wulan bangkit dan mengerahkan semua kekuatannya.

“Lha iya...... Semua pocong ya mesti Islam !!!” teriak Mbak Wulan gemes. Byurrr.. air bacaan doa pun ia siramkan ke tubuh Sumi.

Kikikikik... Saya yang kala itu sudah tegang mendadak langsung menahan tawa, dan sungguh saya baru sadar kalau pocong adalah satu-satunya hantu yang agamanya dipastikan sama dengan saya, yaitu Islam.

“Hmm.. benar juga ya. Kok baru nyadar lho?” ucap saya lirih sambil menahan tawa supaya tidak terlalu lepas. Kikikik.. Ternyata sudah sedari dulu kita takut pada sesama Muslim.

Yang ajaib, entah karena kekuatan Mbak Wulan atau karena Sang Pocong yang kadung kalah logika sama Mbak Wulan, akhirnya Sang Pocong keluar juga dari tubuh Sumi. Hal itu ditandai dengan tatapan Sumi yang langsung berubah. Ia juga tiba-tiba mengenal saya yang tak lain adalah kakak kelasnya semasa SD, “Ealah... dene kowe Mas??” ucapnya. Hanya saja sepertinya efek dari kesurupan itu tak sepenuhnya hilang. Sumi kendati sudah lepas dari kerasukan sang pocong, masih terlihat cukup stress dan tak berani mengangkat kepala dengan tegak.

Saya sendiri cukup bersyukur atas kemajuan yang dialami oleh Sumi dan berharap ia bisa segera sembuh dari shocknya yang sudah cukup berkepanjangan.

Oh ya, saya juga bersyukur atas sikap yang diambil Mbak Wulan karena pada akhirnya ia tidak kepikiran bertanya pada Sang Pocong, “Kamu Sunni apa Syiah ?”...
Sore kemarin tiba-tiba blog ruangtempur.blogspot.com menghadirkan sebuah tulisan baru berjudul kampus meong-meong. Blog yang dikelola oleh Bung Topik, sejarawan muda UGM yang baru lulus Sarjana tahun lalu itu menyajikan sebuah tulisan yang tak seperti biasanya. Jika di beberapa postingan terakhir, Bung Topik lebih sering membicarakan soal dunya persepakbolaan dari tanah Spanyol atau Italia, maka kali ini ia berbicara tentang isu dunia perkampusan, alias isu seputar Universitas Gadjah Mada. Ada apa gerangan?

Pada tulisan itu, Bung Topik berbicara tentang diskusi IPT (Internasional People Tribunal) 65 yang mendadak dibatalkan. Diskusi yang diadakan oleh jurusan Sejarah FIB UGM ini sedari awalnya hendak membicarakan hasil pengadilan internasional di Den Haag yang menuntut pemerintah Indonesia untuk meminta maaf pada keluarga korban pembantaian pasca tragedi G30S. Namun, alih-alih sukses terlaksana, diskusi tersebut justru mendadak dibatalkan oleh panitia, dan kabarnya pembatalan tersebut didasarkan pada desas-desus tentang keresahan “pusat” terhadap tema diskusi tersebut.

Di tulisannya, Bung Topik juga memelantingkan ingatan kita pada batalnya pentas drama bertajuk Masih Adakah Cinta di Kampus Biru yang diadakan oleh Teater Gadjah Mada akhir tahun lalu. Kabarnya, pementasan tersebut juga dibubarkan karena adanya desas-desus bahwa “pusat” merasa resah dengan poster acara yang terkesan berbau pro-LGBT.

Dari kedua kejadian tersebut, sebenarnya kita bisa menyimpulkan bahwa pembubaran kedua acara bukan dilakukan oleh “pusat”, namun murni oleh panitia acara dengan berlandaskan desas-desus tentang keresahan dari “pusat” sana. Terlepas dari benar tidaknya apakah “pusat” melarang terlaksananya acara – kayaknya sih iya, namun yang jelas dalam kasus ini kita tidak bisa menyalahkan “pusat” karena kita tak punya bukti valid seperti surat edaran, SK, atau sekedar rekaman yang bisa membuktikan kebenaran desas-desus tersebut.

Atas kejadian tersebut, sebenarnya saya sangat menyayangkan sikap yang diambil oleh Teater Gadjah Mada dan Jurusan Sejarah FIB UGM. Pembubaran acara yang didasarkan atas desas-desus bagi saya justru menjadi cerminan bahwa kita masih kurang berani dalam memperjuangkan nilai-nilai kebebasan berpendapat yang seharusnya berdiri tegak di tengah lingkungan intelektual.

Saya jadi teringat kejadian di awal tahun 2015 lalu. Ketika itu saya berada di posisi yang sama seperti kawan-kawan dari Teater Gadjah Mada dan Jurusan Sejarah FIB UGM. Ketika itu saya menjadi panitia diskusi LEM FIB UGM yang membahas tentang skripsi salah satu alumni Sastra Jepang FIB berjudul “Japan Adult Video (Studi Kasus 4 Mahasiswa UGM)”. Diskusi yang direncanakan membahas pola persebaran video porno Jepang di kalangan anak muda Yogyakarta ini ternyata menuai banyak sekali kontroversi. Bahkan misinterpretasi tetap ada meskipun kami sudah menyebarkan abstrak dari diskusi ilmiah ini. Saat itu, bukan hanya desas-desus akan keresahan rektorat yang kami dengar, namun kami juga mendengar desas-desus akan kecaman puluhan lembaga dakwah kampus, dan juga ketidaksetujuan Presiden BEM KM akan terlaksananya diskusi tersebut. Puncaknya, kami menerima surat kaleng berjudul “LEM FIB UGM Merusak Moral Bangsa”.

Bayangkan bung ! Belum genap sebulan kami menjalankan amanah baru, kami sudah dicap sebagai perusak moral bangsa ! Astaghfirullah... Dosa apa anakmu ini bunda.. sungguh saya merasa lebih kotor dibanding jilbab tanpa sertifikat halal MUI...

Namun, kala itu kami bersikeras untuk tetap melanjutkan diskusi tersebut. Nah ngapain dibubarkan? Wong kami yakin seyakin-yakinnya kok kalau materi yang akan dibahas tidak akan mengandung konten porno. Pun kami yakin kalau materi ini berisi konten pendidikan dan berdasarkan data-data ilmiah, bukan asumsi semata. Atas dasar itulah kami pancal melanjutkan diskusi dan menentang segala badai “katanya” yang kala itu sungguh kencang.

Perlu tepuk tangan pada LEM FIB UGM?

Eitss..tentu saja tidak. Karena For Your Information gaes ada yang lebih keren lho. Ternyata Teater Gadjah Mada membatalkan acara yang pertama bukan karena takut terhadap desas-desus dari “pusat” sana. Pasca pembatalan pentas yang kemudian mereka ubah menjadi panggung bongkaran, Teater Gadjah Mada langsung berkonsolidasi untuk menyiapkan sesuatu yang lebih besar.

Masih tentang interpretasi terhadap novel dan film Cintaku di Kampus Biru, kali ini Teater Gadjah Mada tak hanya siap menyuguhkan sebuah pertunjukan teater. Lebih dari itu, mereka juga sedang mempersiapkan sebuah antologi buku berjudul Masih Adakah Cinta d(ar)i Kampus Biru?. Buku ini akan berisi interpretasi dari beberapa mahasiswa dan alumni UGM terhadap keadaan UGM hari ini yang coba dibandingkan, dibenturkan, atau direfleksikan dengan keadaan UGM di dalam novel dan film Cintaku di Kampus Biru. Kapan buku tersebut terbit? Rencana buku tersebut terbit di awal minggu bulan Maret 2016. Bagaimana saya tahu informasi tersebut? Lha iya, wong saya juga kebetulan menjadi kontributor salah satu tulisan di antologi tersebut, hahahaa... * promosi






Ya, kita tentu perlu mengapresiasi langkah yang diambil Teater Gadjah Mada. Kali ini mereka ibarat Aang yang mencoba bersembunyi dari kejaran negara api di season terakhir “fire”. Kala itu Aang dikabarkan sudah mati oleh sambaran petir Azula setelah pertempuran di Ba Sing Se. Namun alih-alih kesusu menepis kabar tersebut, Aang justru sibuk berlatih pengendalian elemen api bersama Zukko di kuil naga api. Ketika tiba waktunya, Aang pun muncul dengan sebuah kejutan yang menyambar bala tentara negara api. Ia bukan lagi Aang yang hanya bisa menggunakan elemen air, tanah, dan udara. Kali ini ia mampu mengendalikan elemen api tanpa harus bersumber pada energi kemarahannya. Pengendalian api Aang adalah pengendalian api sejati yang bersumber pada nafas keberanian dan kebijaksanaannya.

Melihat apa yang dilakukan kawan-kawan Teater Gadjah Mada, sejujurnya saya berharap bahwa jurusan Sejarah FIB UGM juga akan melakukan langkah yang sama. Diskusi tentang IPT Den Haag tersebut musti diadakan di lain waktu, tentunya dengan konten dan publikasi yang lebih baik daripada sebelumnya. Hal ini akan menjadi sangat penting. Keterlibatan UGM akan isu Hak Asasi Manusia pasca G30S setidaknya akan membawa angin segar bagi kasus yang saat ini masih sulit lepas dari kebenaran tunggal versi militer dan orde baru. UGM setidaknya perlu mengambil sikap untuk ikut membela siapapun yang dirugikan pasca pembantaian 1965. Dan saya rasa diskusi inilah yang akan menjadi pemantik bagi munculnya wacana-wacana baru di UGM tentang tragedi pelanggaran HAM berat ini.

Satu hal yang perlu digarisbawahi, sejarah telah membuktikan kalau UGM juga terlibat dalam salah satu genosida terkejam di abad 20 ini. Temuan dari Abdul Wahid,, dosen sejarah UGM, setidaknya menunjukkan bahwa pembunuhan pasca G30S tidak hanya membuat ribuan nyawa tak bersalah melayang, ribuan wanita dipekosa. Namun juga ribuan pemuda dengan ideologinya yang kritis disingkirkan dari lingkungan intelektual.  Hasil temuan dari Abdul Wahid menunjukkan bahwa sepanjang 1965-1966 ada lebih dari 3000 aktivis kampus UGM berhaluan kiri di screening untuk kemudian ditahan, diasingkan, bahkan dibunuh. Hal inilah yang bisa jadi membuat kampus UGM hari ini hampir tak ada bedanya dengan kampus-kampus orang berdasi. Pembunuhan di tahun 1965-1966 ternyata bukan hanya sebatas pembunuhan fisik saja, namun juga pembunuhan ideologi anti kapitalis. Maka dengan terlibatnya UGM secara langsung dalam genosida ini, bukankah UGM wajib mengobati borok masa lalunya dengan ikut terlibat dalam proses rekonsiliasi? Atau jangan-jangan UGM tak ada beda dengan para pembunuh di film Senyap yang dengan entengnya berkata “Tak ada gunanya mengungkit-ungkit masa lalu” ?

Ah sepertinya saya terlalu ngarep sama UGM nih. Tapi seandainya UGM tak mau mengambil sikap atas isu ini dan memilih diam, setidaknya kita semua mau belajar dari mantan wakil rektor Universitas Paramadina awal tahun 2000 an. Beliau adalah Utomo Dananjaya atau akrab disapa Pak Tom. Pak Tom, sahabat dari Cak Nur ini pernah berujar “Dalam pendekatan keilmuan, tak ada yang tabu. Yang tabu itu adalah sikap tertutup yang dianut oleh sebagian orang karena menganggap pendapatnya sendiri sebagai kebenaran tunggal “. Ya, sebagai kawah candradimukanya para manusia intelektual, jelas haram jadah bagi UGM untuk menabukan suatu isu sosial politik, termasuk kasus pembantaian pasca G30S.

Ah, satu lagi ! Karena saya anak Sastra Prancis, saya ingin mengenang kembali seorang filsuf Prancis berambut gondrong. Ia adalah Voltaire. Salah satu manifestonya yang paling terkenal adalah “Je ne suis pas d’accord avec ce que vous dites, mais je me battrai jusqu’à la mort pour que vous puissiez le dire”, “aku mungkin tidak setuju pada yang kau katakan, tapi aku akan memperjuangkannya sampai mati supaya kau bisa mengatakannya”.

Ingat, jusqu’à la mort, sampai mati... Begitulah seharusnya para intelektual bersikap!

Ayo lah, lanjutkan.....

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018