bagus panuntun

berubah!

Saya benci semua hal yang tidak sportif.

5 menit lalu saya baru menemukannya. Adalah tentang berita lowongan pekerjaan.

Saya mengamati kalau 90 persen lowongan pekerjaan yg saya temukan di internet atau koran, tidak mencantumkan berapa gaji yang akan didapat oleh pekerja jika ia diterima di tempat tsb.

Menurut saya ini tidak sportif.

Perusahaan hanya menuliskan apa yang mau mereka terima, namun tidak menulis apa yang hendak mereka beri. Ini sudah tidak sportif sejak awal. Padahal hakikat relasi kerja/relasi sosial adalah adanya simbiosis mutualisme antar pihak yang bersangkutan. Hal ini akan sulit tercapai kalau sejak awal perusahaan hanya siap menerima yang terbaik, namun tidak siap memberi yang terbaik - yang ditandai dengan mlipir menyembunyikan apa yang hendak mereka beri pada pekerja.

Mungkin ya mungkin, ini karena perusahaan sadar bahwa tanpa menuliskan apa yg akan didapat pekerja pun, mereka pasti bakal mendapat banyak pendaftar kok. Lah iya, nah lowongan pekerjaan kan langka? Ya manfaatkan situasi saja. Pasti banyak lah orang kepepet yg akhirnya ndaftar dengan paradigma yang penting dapet kerja dulu, soal susah di depan ya nanti dipikir lagi.

Dalam hal bisnis ala teori maslow, ini sah. Lha bisnis kan tujuannya mencari keuntungan sebanyak2nya, dgn pengorbanan serendah2nya. Tujuannya satu: akumulasi modal.

Tapi kalau semua bab kehidupan hanya dibicarakan dari paradigma bisnis, ya makin ajur dunyane.

Perihal urusan di dunia kalau nggak soal bisnis ya soal kemanusiaan. Soal gaji yg nggak dicantumin ini memang oke dalam hal bisnis, tapi dalam hal kemanusiaan? Ini jelas menyinggung perasaan kemanusiaan kita.

Nah, sayangnya hal ini juga terjadi di ugm. Saya selalu mencoba kritis terhadap apa yang terjadi di ugm, karena saya yakin bahwa kampus adalah lembaga penjaga/pembentuk nilai kebenaran. Apa yang dianggap benar di lingkungan kampus/lingkungan intelektual, besar kemungkinan akan dianggap benar pula di luar, begitupun sebaliknya apa yang dianggap keliru disini, kemungkinan besar juga akan dianggap keliru diluar. Mungkin ini erat hubungannya dengan fakta bahwa mereka yg memegang tampuk kekuasaan, yg punya kuasa membentuk narasi kebenaran di masyarakat, sebagian besar berasal dari dunia kampus.

Nah, ugm sebagai lembaga intelektual seharusnya mulai mengubah paradigma bahwa kerja adalah hubungan vertikal antara pemilik modal dengan pekerja. Gampanganne, yang punya perusahaan pokoke bebas menentukan syarat ini itu sejak awal. Ya ini harus diubah, hubungan kerja adalah hubungan horisontal yang sejajar, yg sportif sejak awal, yang mana antara pemilik dengan pekerja sama-sama tahu apa yang bisa mereka dapat dan mereka beri. UGM harus berani memulai ini, jangan malah niru logika perusahaan2 swasta yg fokusnya akumulasi modal dan menyerap nilai lebih para pekerja saja.

Eh sek, ini kampus apa perusahaan sich?

http://cpps.ugm.ac.id/content/lowongan-front-office-pskk-ugm
 “Dialog ibarat pisau bermata dua. Ia adalah kekuatan bagi penguasa (yang baik). Namun juga kelemahan bagi penguasa (yang lalim). Semoga kau termasuk yang baik, amin”.

Assalamualaikum Wr. Wb

Perkenalkan kawan-kawan, kami Ari Bagus Panuntun (Sastra Prancis) dan Patwa Alhuda (Sastra Nusantara), mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, salah dua dari sekian ratus atau bahkan ribu orang yang simpati pada kasus relokasi pedagang Bonbin UGM.

Tulisan kami ini akan menjadi klarifikasi atas kegaduhan yang hari ini timbul. Munculnya beragam pertanyaan terkait Kantin Bonbin, Surat Panggilan Orang Tua, hingga persoalan Ancaman Pidana, membuat kami sepakat untuk sejenak berhenti ngetik skripsi, lalu memilih menulis klarifikasi ini.

Mungkin kami akan memulainya dari panggilan Dekan FIB kepada masing-masing dari kami. Semua ini berhubungan dengan gerakan SBM (Save Bonbin Movement), yang akan sangat panjang jika kami ceritakan disini. Silahkan add OA Line Save Bonbin Movement: @loy0644y dan scroll puluhan tulisan dan kajian dari kami.

Bahan bacaan:

https://drive.google.com/file/d/0B6Llhzsli3VBeDFPOWlPbVMtdE0/view?usp=sharing

http://koranyogya.com/jurang-generasi-itu-bernama-kantin-bonbin-ugm/

https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/rilis-di-balik-tutupnya-kantin-bonbin-sebuah-pengantar-jilid-1/854971894612236

https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/rilis-jilid-2-forum-hearing-bonbin/856088807833878

https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/rilis-jilid-3-ringkasan-pertemuan-dengan-dppa/856650071111085

http://kask.us/iecHD

(((Selanjutnya, silahkan ceritakan kronologinya dari versi anda, Mas Bagus)))

PANGGILAN DEKAN DAN CERITA TENTANG MENGINAP DI DEPAN RUMAH REKTOR

Perkenalkan kawan. Saya Bagus. Saya dipanggil Pak Pujo, Dekan FIB, pada tanggal 25 April 2016 melalui whatsapp dari Mas Zam, Sekretaris Dekan.

Saya bertemu Pak Pujo sekitar pukul 11.00 siang dan kami berdialog di area bangku item FIB. Pertanyaan yang pertama beliau tanyakan adalah, ceritakan kronologi tentang “Nginep di Rumah Rektor”.

Saya pun bercerita tentang “perbuatan” sekitar 15 kawan-kawan SBM yang terpaksa harus mendatangi rumah Rektor. Tujuan dari kedatangan kami ini sebenarnya hanya ada satu hal: Membuka ruang dialog - terkait munculnya SP 2 kepada pedagang Bonbin.

Kedatangan ini pun bukan serta merta tanpa sebab. Semua ini berawal dari ucapan janji seorang Rektor itu sendiri.

Pada tanggal 11 April 2016, Bu Rektor pernah berkata di depan 12 pedagang Bonbin plus lebih dari 300 mahasiswa bahwa untuk persoalan Bonbin “Renovasi atau relokasi masih ‘open’ “. Pernyataan tersebut beliau keluarkan setelah mendengar paparan kajian ilmiah dari kawan-kawan SBM yang meliputi kajian Sejarah, Gizi, Ekonomi, Hukum, Psikologi, dan penataan ruang. Di kesempatan tersebut, Rektor juga sempat mendengarkan penolakan pedagang Bonbin untuk direlokasi ke Pujale. Implikasi dari apa yang disampaikan Rektor, berarti bahwa persoalan relokasi Bonbin masih akan dibicarakan lebih lanjut, atau secara singkat: relokasi belum pasti.

Namun, apa yang terjadi pada tanggal 19 April sungguh sangat mengejutkan dan mengecewakan kami. UGM tiba-tiba mengirimkan Surat Peringatan Dua kepada pedagang Bonbin. Dalam surat yang ditandatangani oleh Prof. Henricus selaku Direktur DPPA UGM tersebut, tertulis bahwa jika sampai tanggal 22 April 2016 pedagang tidak menandatangani SP 2 untuk setuju direlokasi ke Pujale, maka pedagang akan dianggap mengundurkan diri dari UGM.

Pedagang pun panik dan merasa tertekan. Kendati tidak setuju dengan relokasi, mereka takut jika mereka tidak membubuhkan tanda tangan, maka hilang sudah lapak mereka, hilang sudah penghidupan mereka. Hal ini membuat pedagang meminta mahasiswa untuk mempertemukan pedagang dengan Bu Rektor.

Tanggal 20 April 2016 kami beberapa kali mengirimkan pesan WA kepada Rektor, namun tiada pesan itu dibalas. Merasa makin tertekan, akhirnya pada H-1 tenggat waktu, yaitu pada tanggal 21 April 2016, kami sepakat untuk menemui Bu Rektor di PKKH UGM. Kebetulan, waktu itu Bu Rektor baru saja mengadakan hearing terbuka mengenai masalah UKT. Pukul 18.00 kami berusaha untuk meminta dialog barang lima menit untuk mempertanyakan mengenai SP 2, namun Bu Rektor mengatakan bahwa beliau sedang sibuk dan lalu pergi begitu saja dengan Mobilnya.

Pedagang pun tak patah semangat. Pada pukul 19.30, mahasiswa dan pedagang yang diwakili Pak Tumino dan Mas Wisnu bersama-sama menuju gedung Rektorat untuk mencoba menemui Rektor. Namun ternyata Bu Rektor tidak ada di tempat. Dengan waktu yang semakin mepet dan menekan, akhirnya dengan terpaksa kami pun sepakat untuk berkunjung langsung ke rumah Bu Rektor. Sayangnya Pak Tumino jatuh sakit, “pusing sekali” ujarnya, sehingga beliau hanya menitipkan pesan pada Bu Rektor yang pesan tersebut saya rekam di handphone saya.

Sekitar 15 mahasiswa pun datang ke rumah Bu Rektor, dan ternyata di tengah perjalanan kami “slisipan” dengan Bu Rektor yang baru saja keluar dari rumahnya. Akhirnya kami mencoba menemui warga masyarakat yang sedang ronda untuk meminta izin mungkin sampai malam kami akan menunggu Bu Rektor untuk sejenak bertemu.

Apa yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pukul 22.30 Bu Rektor pulang dengan mobil hitamnya. Kami pun segera minggir dan memberi jalan pada mobil Bu Rektor, namun tanpa disangka-sangka, lho lho lho lho lho... Kok mobilnya mbablas???

Aih, ternyata Bu Rektor pergi ke rumah anaknya yang jaraknya hanya sekitar 15 meter dari rumah pribadinya. Salah seorang kawan saya, Hikari, lalu mengejar mobil Bu Rektor sampai kedepan rumah anak Bu Rektor, Hikari jelas melihat bahwa Bu Rektor telah turun dari mobil, namun beliau justru masuk rumah dan menutup rumah beliau.

Kami pun mencoba mengucapkan salam dari luar gerbang, namun hasilnya nihil.

Kami lalu mencoba melihat WA Bu Rektor yang saat itu masih online, dan mencoba kembali mengucapkan salam berharap bahwa pintu akan segera terbuka.

Mungkin kami memang terlalu naif, saya sendiri berpikir “Ah Bu Rektor kan baik, pasti nanti beliau mau lah untuk bertemu. Mosok sudah papasan tetap nggak mau ketemu sih?”.

Pintu tak kunjung terbuka, salam tak jua dijawab. Sampai akhirnya kami sepakat pokoknya kita tunggu sampai Bu Rektor bangun dan segar bugar esok pagi, lalu besok pagi kita temui langsung sebelum beliau berangkat ke UGM – kalau kami pulang dulu, kami khawatir besok pun di UGM Bu Rektor tak bisa ditemui.

Semuanya sepakat. Dengan prinsip tidak akan membuat kegaduhan dan juga telah mendapat izin dari masyarakat, kami pun menunggu sampai akhirnya sekitar pukul 01.00 dini hari, suami Bu Rektor datang menemui kami. Percapakapan dengan suami Bu Rektor terjadi sekitar dua puluh menit, mengenai apa isinya saya kira tidak penting untuk saya jabarkan disini. Yang jelas suami Bu Rektor meminta kami untuk segera pulang karena Bu Rektor hendak istirahat, sedang kami meminta agar disampaikan pada Bu Rektor bahwa mahasiswa ingin bertemu barang sepuluh atau lima menit saja untuk bicara tentang SP 2.

Menghormati kemauan suami Bu Rektor, kami akhirnya pulang sekitar pukul 02.00 dan menginap di kontrakan Agung, kawan kami dari hukum, yang kontrakannya tak jauh dari rumah Bu Rektor.

Pukul 05.00 pagi tanggal 22 April 2016 kami datang lagi ke rumah Bu Rektor. Namun kami hanya duduk diam di depan gerbang, beberapa tiduran, dan beberapa pesan sate ayam untuk sarapan. Kami sepakat bahwa pukul setengah 7 kami hendak mengetuk pintu rumah Bu Rektor. Pukul setengah 7 pun kami mengetuk pintu gerbang, memencet bel rumah, hingga menyampaikan salam “Assalamualaikum”. Namun lagi-lagi tiada yang terjawab.

Ya Allah.. ngelus dada ya Allah.. SKK pun berdatangan ke rumah Rektor. Saya kira ada sekitar 8 SKK yang kala itu hadir. Menyusul kemudian Pak Sulaiman dan Pak Gagak dari Dirmawa yang juga datang.

Sampai disini, kami mulai gagal paham. Mengapa SKK harus dikerahkan? Bukankah kami sudah menyampaikan melalui WA, melalui suami Bu Rektor, bahwa kami hanya ingin berdialog dengan Bu Rektor mengenai SP 2? Mengapa ajakan dialog, ucapan salam, justru dijawab dengan kedatangan pasukan keamanan?

Hanya Bu Rektor yang bisa menjawab.

Namun akhirnya pukul setengah 8 kami sepakat untuk langsung mengetuk pintu rumah.

Alhuda dipercaya untuk berdiri paling depan menemui suami Bu Rektor, saya ada di belakangnya. Sebagai putra jurusan Sastra Nusantara, kemampuannya berbahasa Jawa krama inggil tak perlu dipertanyakan, pengalaman hidup 21 tahun di daerah pedesaan Gunung Kidul membuat kami percaya bahwa kesantunannya mampu meluluhkan siapapun sang lawan bicara.

“nyuwun sewu pak, menika kula lan kanca-kanca nyuwun wekdal badhe pinanggih Bu Rektor”.

“Nyuwun wekdal sedasa menapa gangsal menit kemawon mboten menapa pak?”.

“Pak, dinten menika jatuh tempo kagem pedagang bonbin ngempalaken tapak
asma pak".

“menika kanca-kanca namung badhe silaturahmi pak, nyuwun pitedah bu rektor, pak”.

Namun semua itu tetap percuma. Nihil. Dialog sekali lagi adalah barang yang sangat langka.
Kami pun berpamitan karena tak ingin ada warga yang penasaran lalu mulai berdatangan.
Dan ketika kami hendak pulang, Bu Rektor pun akhirnya keluar rumah, masuk ke dalam mobil sambil berkata pada para SKK “Matur nuwun nggih pak”...

(((Al... jatahmu nulis Al, kesel wisan aku)))

TENTANG SURAT PANGGILAN ORANG TUA DAN PERINGATAN PIDANA

Apa yang saya (Alhuda) dan Bagus lakukan ternyata masuk ke rekaman CCTV rumah Bu Rektor. Mas Pujo lalu memperingatkan bahwa perbuatan kami sudah kebablasan, bahkan mungkin kami bisa dipidanakan dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan.

“Kamu bisa memilih tindakan, tapi tidak dengan konsekwensi”, ujar Mas Pujo.

Apa resikonya jika kami benar dipidanakan? Ya otomatis saya dan Bagus akan di DO. Ini turut diamini oleh Mas Pujo.

Apa kami siap? Ya jelas siap. Siap protes !

Toh, saya yakin bahwa di rekaman CCTV tersebut, kami pun tidak berbuat tindakan-tindakan yang kebablasan, misalnya berteriak, memukul, atau salto.

Kami hanya mengajak dialog secara kekeluargaan. Namun yang kami terima adalah peringatan (semoga bukan ancaman)

Mas Pujo kemudian juga mengirimkan surat panggilan untuk orang tua kami. Menurut Mas Pujo, memanggil orang tua dilakukan karena anak-anak seperti kami sudah tidak bisa lagi diatur. Surat panggilan tersebut sudah diterima oleh kami pada hari ini, 27 April 2016.

Kami sangat menyayangkan pemanggilan orang tua kami ini. Pertama, kami merasa ini lucu. Tindakan ini memaksa kami untuk bernostalgia dengan masa SMA lagi. Kok aneh ya ketika hal ini terjadi di Universitas? Apakah pemanggilan orang tua adalah hal yang “seyogyanya”?

Kedua, tentang alasan bahwa kami tidak bisa diatur. Kami bukan tidak bisa diatur pak, kami tentu saja bisa dan mau diatur, namun jika aturan tersebut kami rasa kurang baik, kami ya akan berusaha protes. Mengenai tindakan protes akan sebuah aturan, kami ingin mengutip sebuah tulisan dari Mas Pujo Semedi dalam tulisannya berjudul McDonaldisasi atau McMeongisasi (2002) “....Gedung-gedung kantor dan ruang kuliah megah disegala penjuru dan mobil mewah berparkiran disetiap halamanya. Namun sosok-sosok maharesi dan begawan yang berwibawa dan mendunia satu persatu telah pergi dan nyaris tidak muncul penerus-penerus perjalanannya. ....Mohon tulisan saya ini diterima sebagai ekspresi cinta seorang warga kepada kampusnya, seorang anak kepada ibu kandung pendidikanya. Bukan sebagai aksi subversif, jangan nanti gara-gara tulisan ini saya dipanggil, didudukan dan dimarahi dimuka para petinggi.” (diterbitkan dalam Kedaulatan Rakyat Rabu 6 Februari 2002). Saya pun ingin menekankan bahwa segala yang saya lakukan dengan menulis opini hingga ikut aksi, pun merupakan ekspresi cinta seorang warga kepada kampusnya, seorang anak kepada ibu kandung pendidikanya. Mengapa karena protes justru didudukkan dan bahkan hingga orang tua dilibatkan?
Mungkin inilah sedikit klarifikasi dari kami. Semoga perbuatan kami mengunjungi rumah Bu Rektor bukan dipahami sebagai sekedar perbuatan kurang ajar, namun lebih dari itu, tindakan ini adalah pilihan terakhir kami atas ruang dialog yang tak kunjung terbuka, di tengah makin kepepetnya nasib pedagang Bonbin karena SP Dua. Kami tentu saja bersedia meminta maaf kepada Rektor jika perbuatan kami dianggap telah mengganggu kenyamanannya. Namun, kami tetap menuntut Rektor untuk segera mengadakan dialog terbuka dan menyelesaikan persoalan Bonbin dengan menggunakan prinsip partisipatif.

Sebagai penutup, saya akan mengutip quote dari Soe Hok Gus, “Guru bukan Tong Sam Cong yang setiap perkataannya harus dituruti, dan murid bukan Cut Pat Kay yang harus diam saat dilully diceramahi”.

Namun, dalam hal ini, saya merasa bahwa kami bukanlah Cut Pat Kay, kami seperti Sun Go Kong yang kalau berani protes dan nakal dikit langsung dibacakan mantra “Awas DO, Awas DO, Awas DO, Awas DO, Awas DO”, “Awas Pidana, Awas Pidana, Awas Pidana, Awas Pidana...”

Pantas, kepala terasa pening.

NB: MARI TERUS PERJUANGKAN DIALOG TERBUKA ANTARA MAHASISWA, PEDAGANG BONBIN DENGAN REKTORAT, DAN DPPA ! SBM SUDAH MENGIRIMKAN SURAT PERMOHONAN DIALOG TERBUKA, NAMUN BELUM JUGA DIJAWAB. MOHON DOA DAN PARTISIPASINYA.

Salam,

Bagus Panuntun dan Patwa Alhuda, mahasiswa yang mencoba peduli pada kampusnya.



Dekan Pujo Semedi memanggil saya pagi ini. Melalui sekretarisnya, Mas Zam, beliau mengirim chat whatsapp meminta saya agar menemui di ruangnya.

Ajakan secara kultural - alih-alih mengirim surat panggilan dengan kop yang weladalah resminya – ini tentu saya terima dengan baik. Saya bahkan jauh lebih menyukai ajakan dialog yang bersifat kultural dibanding yang terlalu formal.

Berbeda misalnya dengan Bu Rektor yang tidak pernah membalas whatsapp ajakan berdialog, menolak bertemu dengan mahasiswa di rumahnya karena informal, lalu menolak berdialog di kampus karena sibuk - tentu saja, tanpa memberikan sedikitpun konfirmasi kapan beliau bisa bertemu.

Saya pun sebenarnya hari ini sibuk. Jika rektor sibuk karena harus membalas whatsapp dari para menteri dan sponsor, menerima undangan dari berbagai panggung, mulai dari panggung televisi hingga ratusan seminar motivasi, belum lagi jadwal padatnya rapat tiada henti. Maka saya juga sibuk.

Saya sibuk mengerjakan skripsi, melunasi 13 episode sisa Descendant of the Sun, belum lagi menghabiskan semua filmnya Anushka Sharma, walaaah... kadang karena kesibukan saya ini, saya merasa bahwa 24 jam adalah waktu yang terlalu singkat untuk satu hari.

Tapi hari ini saya berusaha untuk hadir. Setiap ajakan dialog kalau kita tidak bisa hadir pun, setidaknya paling tidak kita bisa memberikan konfirmasi. Disinilah terjalin sebuah komunikasi, dan alhasil segala konflik pun bisa lebih mudah teratasi.

Masalahnya, tidak semua orang paham (atau sepakat?) hal sesederhana ini. “You-Know-Who” salah satunya.

Catatan tambahan:

Saya pernah menyampaikan pendapat ini ke seorang Profesor sahabat Rektor yang namanya tak penting untuk disebut, Bahwa kita seyogyanya membudayakan budaya konfirmasi di zaman yang serba sibuk dan cepat ini. Lalu saya mendapat teguran "Anda jangan menggurui Rektor, mas".


Weladalahhh... toh kalau memang saya benar menggurui, kan ucapan guru masih bisa dibalas dengan argumentasi? Bukan dengan jangan itu jangan ini?


Bagus Panuntun,

Yogyakarta, 25 April 2015 pukul 09.00


Dua minggu sudah saya benar-benar lepas dari kerja skripsi. Seminggu pertama adalah ketika saya demam berdarah, seminggu selanjutnya adalah waktu yang dianjurkan dokter untuk istirahat total tanpa boleh terlalu ‘mikir’.


Sayangnya saya setengah gagal melakukannya. Saya bilang ‘setengah’, karena saya memang berhasil tidak menyentuh skripsi selama dua minggu ini, namun alih-alih istirahat, otak saya justru ndableg mencari subjek-subjek lain untuk dipikirkan. Otak ini berpikir keras tentang apa yang harus dipikir kalau bukan skripsi. Sebuah usaha yang saya kira cukup sadomasokis.


Perkawinan antara  waktu yang senggang dan hasrat untuk berpikir akhirnya membuahkan janin juga. Janin itu memang masih berupa ide yang belum matang. Ya, ide ini seperti janin, ia sudah mulai berbentuk tapi siapa yang tahu kelak akan jadi seperti apa?


Dalam kesenggangan ini, saya membuka hampir setiap folder yang ada di laptop saya. Satu persatu folder, mulai dari music, film, document, sampai picture, lalu menuju sub-folder. Hingga ketika saya membuka folder kuliah, akhirnya saya menyadari bahwa banyak sekali dokumen yang kalau tak layak dikatakan mirip sampah, mungkin bisa disebut terbengkalai. Puluhan dokumen tersebut adalah semua tugas-tugas saya selama kuliah di Sastra Prancis.


Ada banyak sekali file yang kemudian saya amati. Ada tugas mata kuliah sejarah Prancis, film Prancis, pariwisata Prancis, dan tentu saja kesastraan Prancis. Tugas-tugas yang kebanyakan berbentuk artikel dan esai ini mengendap saja tanpa pernah tersentuh lagi setelah tentu saja dikumpulkan ke dosen.


Saya kemudian berpikir, mengapa artikel-artikel ini tidak saya bagikan saja melalui blog pribadi saya? Toh, di awal-awal ngeblog, saya juga mengunggah tulisan apapun yang bisa saya tulis. Misalnya dulu saya mengunggah terjemahan saya sendiri dari buku Echo yang saya beri judul Tentang Prancis 1, Tentang Prancis 2, Tentang Prancis 3, dan seterusnya, saya juga mengunggah esai yang harus dikumpulkan ketika saya mendaftar di LEM FIB, bahkan saya mengunggah sebuah artikel tentang Mitos Tlampik Suwiwi di Masyarakat Jawa. Tulisan-tulisan yang kebanyakan berbentuk artikel ini tentu beda dengan isi blog saya sekarang yang kebanyakan berisi kisah hidup sehari-hari, esai, hingga opini.


Saya kemudian mengingat materi Sekolah Media yang pernah diadakan LEM FIB periode Mbak Pipit (2011-2012). Kala itu saya masih semester 2 di Sastra Prancis, dan kebetulan sekali saya bertemu dengan seorang blogger asal Jogja bernama Pak Yusuf Maulana. Saya sudah tak begitu ingat apa saja materi yang beliau sampaikan kala itu, tapi setidaknya ada satu hal dari beliau yang membuat saya terkesan. Beliau mengatakan “Menulislah demi berbagi pada sesama, bukan demi mengesankan”. Menurut beliau, tulislah apapun yang didasarkan pada kegelisahan. Ujar beliau lagi, tak ada kegelisahan yang sendirian, yang artinya bahwa setiap kegelisahanmu sebenarnya juga dirasakan oleh orang lain. Dari situlah awal suatu komunitas terbentuk, dari situlah kemudian tercipta satu tali silaturahmi yang baru.


Atas dasar ingatan itu, saya pun mantap untuk mengunggah saja lah tugas-tugas yang pernah saya kerjakan di Sastra Prancis, siapa tahu bermanfaat? Ah, tapi daripada saya unggah di blog saya yang lebih banyak berisi cerita-cerita pribadi, kenapa saya tidak membuat blog baru saja? Disitulah tercetus ide Akuprancis.


Apa itu Akuprancis?


Akuprancis adalah sebuah portal berbahasa Indonesia untuk berbagi segala pengetahuan tentang Prancis. Masyarakat Indonesia kebanyakan mengetahui Prancis hanya dari fashion atau pari(s)wisatanya, padahal Prancis bukan hanya sekedar itu ! Akuprancis lalu hadir dengan berbagai artikel bertema, mulai dari buku, film, pariwisata, hingga esai dan opini – yang semuanya berhubungan dengan Prancis.


Bagaimana Akuprancis hari ini?


Saat ini, Akuprancis memiliki tiga media sosial yang bisa diikuti oleh siapa saja. Pertama, blog akuprancis.wordpress.com, kedua instagram akuprancis, ketiga fanpage facebook Akuprancis. Akuprancis sendiri sudah mulai aktif dan menghadirkan beberapa artikel yang kebanyakan berasal dari tugas-tugas kuliah yang terbengkalai, haha.. Hingga saat ini, sudah ada tiga kontributor yang menulis untuk Akuprancis, adalah saya, Kania, dan Diah. Kania dan Diah saya hubungi secara personal untuk saya mintai tugas-tugasnya, dan mereka menyambut secara positif.


Bagaimana untuk berkontribusi di Akuprancis?
Kirim tulisanmu mengenai Prancis ke akuprancis2016@gmail.com, karya dapat berupa:
-Esai
-Opini
-Resensi film Prancis
-Resensi buku Prancis
-Info wisata Prancis
-Cerita pengalaman hidup di Prancis
Syarat Tulisan?
Jumlah kata dalam satu tulisan berkisar 400-2000 kata.
Dikirim dalam format doc., font Times New Roman, ukuran 12.


Bagaimana Akuprancis kedepannya?
Akuprancis.wordpress.com rencananya akan diganti menjadi akuprancis.com, supaya terlihat lebih serius dan valid. Saya dan kawan saya dari jurusan Pendidikan Bahasa Prancis UNY, Dery Wahyu Nugroho, sedang bekerjasama untuk mewujudkannya. Kendala saat ini hanya satu, yaitu kendala finansial. Hehehe... Tetapi santai saja lah, waktu masih panjang. Yang terpenting adalah Akuprancis mulai jalan dulu.


Saya berharap, kedepannya ada tim Akuprancis supaya Akuprancis bisa berkembang atas dasar kerja kolektif. Tim ini berisi siapa saja yang punya hobi menulis dan ingin belajar menulis secara konsisten. Di awal ini, kita akan mulai dari lima hari sekali membuat artikel. Jangan berat-berat lah, wong sekedar untuk menjalankan hobi dan belajar. Kalau ada yang mau bergabung dengan Akuprancis, langsung saja PM saya di Line: Baguspanuntun28, nanti akan saya invite ke grup Line Akuprancis, dan nanti kita bahas bersama bagaimana Akuprancis kedepannya.


Oh ya, satu lagi alasan mengapa saya butuh tim. Saya ingin Akuprancis punya rubrik bertamu seperti halnya mojok.co. Dua minggu sekali, kita akan jalan-jalan mewawancarai orang-orang tertentu yang kehidupannya bak tak terpisahkan dari hal-hal berbau Prancis. Misalnya saja, dosen sastra Prancis, penerjemah bahasa Prancis, mahasiswa berprestasi Sastra Prancis, alumni jurusan Prancis yang telah bekerja sebagai guru, tour guide, manager, dan lain sebagainya. Pasti akan menarik !


Tentang masa depan yang saya harapkan dari Akuprancis, kelak Akuprancis bisa menjadi portal bagi masyarakat Indonesia untuk menyerap berbagai ilmu dan pengetahuan dari negara Prancis. Saya yakin, banyak sekali hal bermanfaat dari negeri yang punya tradisi sastra dan filsafat yang kuat itu.


Lebih jauh kedepan lagi, tentu saja saya berharap Akuprancis bisa melebarkan sayapnya hingga bisa memberikan sangu tambahan bagi para kontributornya. Masih amat jauh memang, tapi kita coba dulu lah, siapa tahu penemuan.


Ada pesan dan kesan mas selaku admin Akuprancis?
Tok kira talkshow tivi po ono pesan kesan mbarang???


Bagus Panuntun


Akhir-akhir ini gelombang pesimisme terhadap gerakan ‪#‎savebonbin entah mengapa makin menjalar dimana-mana. Di sudut-sudut kelas, di pojokan sekber, bahkan mungkin di antara meja-meja Bonbin sendiri. Tak cukup sampai disitu, beberapa bahkan menganggap kawan-kawan gerakan #savebonbin terlalu wasting time dan keras kepala.

Mungkin kita memang telah kehilangan sebuah kesanggupan yang sederhana, namun begitu bersahaja. Adalah kesanggupan untuk berkata TIDAK. Padahal sudah jelas bahwa ada banyak kecurangan dan ketidakadilan dalam upaya relokasi ini. Misalnya kejanggalan perjanjian kontrak seperti yang dibahas oleh kawan-kawan Dema Hukum. Belum lagi dengan keengganan rektorat untuk sekedar memperlihatkan masterplan pembangunan taman soshum. Dan juga narasi-narasi lain dari rektorat yang didalamnya mengandung racun-racun kebohongan. Apa saja? Misalnya pernyataan bahwa Bonbin adalah sarang hepatitis, pernyataan bahwa pedagang sudah setuju direlokasi namun dicuci otak oleh mahasiswa, pernyataan bahwa pedagang Bonbin tidak pernah membayar tagihan listrik dan air, dan sebagainya.

Save Bonbin Movement bukan tidak mau berunding. Kami hanya TIDAK mau berunding dengan kebohongan. Kami hanya ingin segala rencana yang dilakukan oleh pihak rektorat dikomunikasikan secara baik dan jujur dengan semua pihak. Pihak pedagang juga pihak mahasiswa. 

Henry Levebre, seorang sosiolog Prancis, pernah berujar bahwa produksi ruang dalam masyarakat kapitalis modern cenderung mewujudkan hasrat para kapitalis untuk memamerkan diri. Secara langsung atau tidak langsung, maka segala pembangunan akan didasarkan pada kepentingan para bos-bos besar. Mungkin inilah yang sedang terjadi di kampus kita. Di eranya yang kemungkinan sudah tak lama lagi - antara satu sampai dua tahun - para penguasa ini sangat berhasrat untuk meninggalkan sebuah berhala baru supaya eranya tetap diingat. Hasrat untuk pamer rezim ini pun alhasil mengharuskan adanya korban, yang tak lain korban tersebut adalah pedagang Bonbin.

Pernyataan rektorat bahwa "Yang mau direlokasi tetap di UGM, yang menolak boleh keluar" sesungguhnya merupakan indikasi bahwa mereka sudah tak lagi peduli terhadap nasib-nasib pedagang saat ini. Bagi mereka, hasrat adalah tuhan.

Henry Levebre sebenarnya pernah menawarkan sebuah konsep yang bernama 'droit à la ville', hak atas kota. Konsep ini menghendaki bahwa masyarakat seharusnya berdaulat untuk mengubah warganya dengan mengubah kota itu sendiri. Tentu saja hal ini karena masyarakat lah yang paling merasakan dampak dari suatu perubahan kota. Hak atas kota ini bukanlah hak yang bersifat individual, tetapi merupakan hak komunal yang seharusnya dimiliki oleh setiap masyarakat Kota. Dalam kasus Bonbin, 'droit au Bonbin' atau hak atas Bonbin inilah yang sedang diperjuangkan oleh siapapun yang sepakat pada gerakan #savebonbin. Itulah mengapa sampai detik ini kita menolak relokasi dan mengajukan konsep renovasi, yang mana sebenarnya lebih dibutuhkan oleh masyarakat Soshum - Lihat kajian LEM FIB, BEM FEB, dan LM Psikologi di Line Save Bonbin Movement.

Lagian, meminggirkan pedagang Bonbin dari jalan Soshum (pusat) ke Lembah (pinggiran) adalah sebuah bencana. Ruang adalah suatu hal yang tidak sepele. Peminggiran pedagang Bonbin yang dibarengi dengan pembukaan dua kantin baru FIB, (mungkin rektorat juga akan bikin kantin lain?) - dengan harga kontrak yang konon mahal dan tenderan - menyiratkan bahwa kepentingan rakyat semakin dipinggirkan sedang kepentingan mereka yang punya modal besar makin dipusatkan. Bukankah ini jadi kode bahwa yang namanya kerakyatan juga makin dipinggirkan?

Dulu Bonbin itu adalah relokasi. Relokasi kok mau direlokasi lagi. Pemakluman terhadap relokasi suatu saat akan membuat mereka yang di Lembah juga akan direlokasi lagi. Dari Bonbin direlokasi ke Lembah UGM. Dari Lembah UGM mungkin akan direlokasi lagi. Ke Lembah Baliem.

Bagus Panuntun,
1 Maret 2016




Sejak didera sakit demam berdarah kurang lebih dua minggu lalu, saya diharuskan banyak minum air putih. Paling tidak sehari 3 sampai  4 liter lah, begitu kata dokter waktu saya mondok 2 malam di RS.UGM.

Hla, sejak itu saya jadi banyak sekali minum air putih. Luar biasa memang dampaknya.  Berkat minum 3 botol besar aqua perhari, akhirnya bintik-bintik merah demam berdarah tidak sampai keluar dari kulit saya. Ya, paling tidak kulit saya masih mulus meskipun waktu itu saya harus pipis sampai 15 kali per hari.

Ternyata kebiasaan minum banyak ini masih berlanjut sampai sekarang. Termasuk kemarin, ketika saya harus kontrol kesehatan di RSU Wonosobo.

Saya sangu wedang  aqua satu setengah liter plus masih beli wedang degan. Alhasil, saya pun kebelet pipis dan harus rela ngantri di kamar mandi umum RSU, yang antrinya ngalaihim.

Kira-kira ada 6 orang yang ngantri ke kamar mandi saat itu. Saya di urutan ketiga. Dari 3 kamar mandi, ternyata dua pintu kamar mandi lain tak kunjung jua membuka. Sayapun harus menahan pipis dalam waktu yang lebih lama.

Ketika pipis saya sudah sampai diujung pakulitan titit, tiba-tiba seseorang yang ikut ngantri didepan saya ngajak ngobrol.

Beliau adalah seorang mbah-mbah usia 70-an, memakai baju polo pendek biru muda, celana kain abu-abu, dan memakai sandal jepit swallow kuning. Tak lupa,beliau juga memakai peci hitam untuk menutupi helai-helai rambutnya yang mulai memutih, alias uwanen. Beliau mengajak ngobrol saya.

“Suwe nggih dek. (Lama ya dek)”

“Nggih mbak, suwe tenan. Saweg e’ek mbah kadose. (Iya mbah, lama. Masih BAB kayaknya”.

“Asline pundi dek? Tesih kuliah? (Asli mana dek? Masih kuliah ya?).

“Asli Wadaslintang mbah. Nggih niki, tesih kuliah tapi sampun meh lulus Insyaallah. (Asli Wadaslintang mbah. Iya, masih kuliah tapi Insyaallah sudah hampir lulus)”. Amiiiin...

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Bau senggg.... khas kamar mandi umum pun mulai tercium. Bersamaan dengan itu tiba giliran simbah depan saya untuk masuk kamar mandi.

Allahuakbar, ternyata sebelum masuk, simbah masih mengajak saya ngobrol.

“Walaaahh.. ndang mbah, wis mucuk iki...”, batin saya.

Tiba-tiba perkataan simbah itu sungguh mengejutkan saya bagai petir di tengah lapangan bal-balan.

“Monggo pipis bareng mawon dek? (Ayo dek pipis bareng aja)”, tawar simbah...

Hahaha... Sikaaak... mbatin saya, apa temenan kiye mbahe ngajak nguyuh bareng.

“Mboten nopo-nopo, wong pada-pada lanang be (Nggap apa-apa, sama-sama cowok kok)”, tambah simbah itu.

Dalam suasana yang cukup absurd itu, sayapun menjawab dengan sopan, “Hehe, monggo simbah riyen mawon. Kulo ngentosi mawon mbah. (Hehe, simbah dulu saja. Saya nunggu nggak apa-apa mbah).

Lalu simbah menjawab lagi ”Owalah.. Isin nopo? (Owalah, malu ya?)”, agak kecewa sepertinya.

Dalam pikiran saya kala itu, saya sih mikir, simbah ini begitu ikhlas menawarkan satu ruang untuk kami pipis bareng. Saya yakin, di dalam pikiran dan imaji simbahnya, tidak ada pikiran ngeres. Ia hanya ingin memudahkan saya supaya tidak lagi berlama-lama menahan pipis. Tawarannya ikhlas, mungkin beliau melihat saya bagai cucunya sendiri yang segala sesuatunya ingin ia permudah.

Tapi gimana lagi. Kendati hati saya tersentuh dengan keikhlasan tawaran simbah, namun otak saya tetap berprinsip untuk menjaga kesucian pusaka ini dari pandangan kaum lelaki, terlepas berapapun usianya.

Terlebih, saya sudah sangat lama nggak pipis bareng cowok di satu kamar mandi. Terakhir pipis bareng cowok ya pas kelas 5 SD. Waktu saya baru sunat dan ingin membuktikannya pada teman-teman supaya afdlol – yang kemudian dilanjutkan dengan lomba dawa-dawanan uyuh (Panjang-panjangan pipis).

Nah, tetapi sebagai anak muda yang menjaga hormat pada orangtua, saya pun mencoba untuk tidak mengecewakan beliau . Jika saya menjawab saya isin (malu), saya yakin simbah pasti akan kecewa berat. Akhirnya saya pun mencoba menjawab dengan cara lain.

“Mboten usah mbah, mengke mburine kulo malah meri (Nggak usah mbah, nanti yang ngantri belakang saya malah iri”.

Simbahpun dapat pipis dengan tenang.


TAMAT.


Bienvenue le mars ! Selamat datang bulan Maret !

Apa yang paling anda tunggu-tunggu di bulan Maret ini? Tentu masing-masing dari kita punya jawaban berbeda. Bisa jadi ada yang tak sabar menunggu tanggal 9. Tanggal 9 Maret yang menjadi peringatan Hari Musik Nasional ini ternyata bertepatan dengan fenomena gerhana matahari yang sudah sangat ditunggu-tunggu. Maka saya sarankan bagi semua pecinta musik tanah air untuk memutar OST film Gerhana saja di tanggal tersebut, 'Arjuna Mencari Cinta'. *Lawas....

Atau anda tak sabar menunggu tanggal 11 Maret? Hari peringatan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang menjadi titik awal kedigdayaan rezim bangsat korup Soeharto. Jika anda memang menunggu angka 11, maka mari bersama kita peringati Hari Supersemar ini dengan membuka supersemarvid (ternyata ini yang membuat Soekarno turun).

Astaghfirullah...

Terserah anda mau menunggu apa. Karena saya hanya menunggu beasiswa Bidik Misi turun (Wis ra nduwe sangu).

FYI gaes, bagi yang belum tahu, beasiswa Bidik Misi adalah beasiswa yang dikelola oleh DIKTI (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi) untuk diberikan kepada mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang miskin atau kurang mampu. Beasiswa ini turun setiap enam bulan sekali dengan nominal 600.000 rupiah perbulannya, jadi totalnya 3.600.000 rupiah per enam bulan. Beasiswa inipun jadi tumpuan utama ribuan mahasiswa untuk menyokong hidupnya di bangku perkuliahan.

Tetapi apa boleh bikin, ternyata penyaluran beasiswa Bidik Misi ini tak semulus Cita Citata yang diharapkan. Dalam praktiknya, penyaluran beasiswa Bidik Misi selalu molor. Bahkan semester lalu, penyaluran beasiswa ini di UGM molor hingga hampir dua bulan.

Lantas apa yang terjadi? Ada fenomena menarik yang bisa kita saksikan di grup facebook KAMADIKSI (Keluarga Mahasiswa Bidik Misi) setiap masuk bulan September dan Maret - bulan turunnya beasiswa Bidik Misi. Grup facebook yang biasanya sangat sepi seperti Mushola Kuburan ini, mendadak akan diramaikan oleh ratusan mahasiswa yang berdebat mengenai telat turunnya beasiswa.

Kalau kita amati, ada dua kubu besar yang rajin berdebat hore di grup berpenghuni 4500-an mahasiswa ini. Kubu pertama adalah mahasiswa yang protes karena beasiswa telat turun. Kubu ini biasanya kalau  nggak menyampaikan opini secara mayan kritis ya paling sekedar curhat kalau duitnya sudah abis, belum dapat utangan, atau terpaksa puasa nyenin kemis biar irit. Sedangkan kubu satunya adalah kubu para Kyaiwan-Kyaiwati yang alih-alih mengkritisi telat turunnya Bidikmisi, justru mendadak menjadi Mario Teguh Syar'i yang dengan cocot lamis motivasinya menasihati kaum-kaum kelaparan supaya mau bersabar.

"Protes mulu. Sabar aja, berdoa semoga beasiswanya cepat turun".

Tak hanya sampai disitu, kubu yang kedua ini juga seringkali menganggap mereka yang protes adalah manusia-manusia tak mau bersyukur.

"Protes mulu. Bersyukurlah kita sudah dibiayai pemerintah dengan gratis. Daripada protes, mending kalian belajar yang rajin biar beasiswanya ndak percuma".

Sesekali ada nasihat untuk segera menjadi entrepreneur.

"Saya mahasiswa Bidik Misi. Saya nggak protes, karena saya masih mampu untuk jualan sendiri demi menambah sangu. Kan kalian juga bisa to jualan? Ndaftar jadi operator warnet? Atau kerja di Kafe? Mahasiswa kok bisanya protes ndak kasih solusi."

MATAMU !

Begitu saya ingin berteriak pada mereka yang malah ceramah dengan mahasiswa yang protes. Ungkapan MATAMU ini tentu saya tunjukkan untuk dua macam orang. Pertama untuk Ukhti-ukhti yang kendati ceramah tapi berparas cantik. MATAMU INDAH mbak. Yang kedua, untuk semua mahasiswa yang nggak masuk kriteria tadi, tapi malah memprotes kawannya yang protes.  MATAMU CUKKKKKK.....

Sek-sek, mari kita nyruput Kopi dulu.... Slllrrrupp..

Wis yo... Lanjutkan ben woles...

Sebelumnya, perlu saya tekankan bahwa saya tidak mempermasalahkan pilihan sikap kalian untuk bersabar, bersyukur, apalagi bertawakal dengan mau jualan sendiri. Yo ngopo aku protes... Wong sikapmu kuwi jelas-jelas sesuai dengan akhlakul karimah seperti yang diajarkan oleh LKS PAI (Pendidikan Agama Islam) jaman SMA je...

Tetapi, yang saya permasalahkan adalah sikap pemakluman anda atas sebuah amanah yang tidak dikelola dengan baik oleh sebuah lembaga tingkat dewa sekelas DIKTI. Lebih-lebih jika pemakluman itu telah menjurus brutal sehingga anda dengan bangganya menganggap semua mahasiswa yang kritis dan protes adalah mahasiswa yang tidak mau bersyukur, bersabar, dan bertawakal. Tentu tidak demikian !

Perlu diketahui, Bidik Misi itu bukan duit negara lho. Bidik Misi itu duit rakyat yang asalnya juga dari petani, buruh, hingga nelayan kecil. Negara disini hanyalah badan yang menjalankan amanah supaya uang tersebut dikelola dengan baik supaya dunia pendidikan di Indonesia bisa makin baik pula. Maka, jelas anda telah salah logika jika mengatakan "Bersyukur dan berterimakasihlah pada negara, daripada memprotes". Sekali lagi cukkkk, kita ini dibiayai rakyat, bukan dibiayai negara. Kita berhak bahkan wajib memprotes dan mengkritisi negara jika mereka tidak menjalankan suatu amanah rakyat dengan baik. Ingat, yang membayar mereka itu kita lho, rakyat.

Uang Bidik Misi. Uang itu adalah uang rakyat. Kita bisa kuliah gratis karena rakyat. Yang berarti bahwa kelak kita juga harus mengabdi untuk balas budi pada rakyat - tentu rakyat yang saya maksud disini adalah para Kaum Kromo yang tertindas. Lha kok dengan entengnya cangkem anda ngomong "Bisanya protes aja...".

Saya sendiri sungguh khawatir terhadap mahasiswa-mahasiswa yang seperti ini. Ketika ada sistem yang salah, ketika ada penyalahgunaan amanah, mereka justru memilih maklum hanya karena saat ini mereka cenderung masih bisa bertahan hidup, masih oke-oke saja dan fine.

Saya khawatir sikap egois dan hanya memikirkan diri sendiri begini kelak akan berlanjut sampai kita lulus dan terjun di masyarakat. Saya khawatir jika suatu saat kita sadar ada sebuah sistem dan amanah yang dijalankan dengan salah, namun kita memilih diam karena masih mampu makan dan baik-baik saja. Alih-alih tergerak untuk membantu, kita justru menyuruh para korban salah sistem itu untuk bersyukur, bersabar, dan bertawakal - sembari menganggap mereka cuma bisa protes. Jika demikian, tentu sikap kita tak ada beda dengan para Pendeta Katholik di Eropa pada abad 17, tak ada beda dengan Kyai di TV yang senang berceramah tentang takdir dan kemiskinan, disatu sisi ia memasang tarif puluhan juta untuk sekali ceramahnya.

Sungguh, saya yakin bahwa nama Bidik Misi dibuat tidak dengan asal-asalan. Nama Bidik Misi dipilih karena memang ada sebuah misi yang perlu kita bidik. Misi itu bukan semata mengenai apakah kita bisa dapat IPK bagus atau tidak, misi itu adalah sebuah misi mulia yang tentu tak bisa dicapai dengan keegoisan.

Misi itu adalah tentang kita - penerima Bidik Misi - yang hari ini miskin, suatu saat bisa menjadi penolong orang-orang miskin. Misi mulia itu - sekali lagi - mana mungkin bisa tercapai dengan adanya keegoisan?

Wis lah. Semoga kita tidak menjadi Mahasiswa Bidikmisi yang enggan membidik misi.

Mari berdoa supaya beasiswa bulan Maret cepat turun. Sesok dinggo nonton Deadpool... *matamu, *tur lawas

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018