bagus panuntun

berubah!



Semua barang dan perlengkapan sudah dipersiapkan. Dari mulai yang terpenting: kaos, celana pendek, sarung, laptop, dan gawai, hingga barang-barang pelengkap: alat mandi, almamater, baju koko sampai kemeja. Tak lupa, tiga buku bacaan juga didekatkan: Kumpulan Puisi Chairil Anwar, penelitian Perubahan Kondisi Politik di Afrika Bagian Selatan dan Pengaruhnya terhadap Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia, dan Qu’Allah bénisse la France karya Abd Al Malik. Semoga ada waktu untuk bisa bercengkerama dengan kalian.

Pukul 12 siang sudah ! Dan saya sudah siap dengan semua perlengkapan untuk menuju Obi. Tiba-tiba saya teringat dengan hardisk yang penuh dengan film yang sudah saya tonton. Ah, saya harus ke Prima Net. Warnet yang punya koleksi ribuan film nan update ini adalah alasan kuat mengapa Jogja masih tetap Istimewa. Primanet pun saya sambangi, dan saya penuhi hardisk ini dengan puluhan film yang belum saya tonton. Cast Away, To Kill a Mockingbird, dan Mon Oncle. Saya juga teringat akan program nonton film bareng di Obi sana, memutarkan film untuk anak-anak kecil Obi. Tercatat film: Turtles can fly, The Kite Runner, dan Tendangan dari Langit.

Persiapan pun selesai, dan pukul 5 sore saya sudah sampai di Fakultas Biologi, tempat berkumpul kelompok KKN Baraobira.

Pemberangkatan ini ditandai dengan cerita persahabatan yang sederhana tapi begitu hangat.

Dari kos menuju ke Fakultas Biologi, saya diantar oleh Kania, Andre, dan Mas Riza. Kemudian sesampainya di Fakultas Biologi, saya sudah ditunggu oleh Patwa Alhuda dan Ajik, 2 jomblo STMJ. Perihal STMJ, sebelumnya pernah saya tuliskan di sebuah caption photo Instagram @aribagusp.
Sebaiknya saya tuliskan lagi sebuah caption terlebih dahulu untuk STMJ…

STMJ, Semester Tua Masih J…………

Silahkan isi sendiri J………. – nya. Jomblo? Jos? Jlalatan? Jempalikan? Terserah.

Kami adalah sebuah komunitas tanpa visi dan misi, kecuali bagaimana bisa berbasa-basi di burjo atau angkringan sampai benar puas dan kehabisan bahan obrolan. Kami yang terdiri dari mahasiswa lintas jurusan dari pariwisata, sejarah, antro, arkeo sampai sastra, terbentuk tanpa sebuah peresmian. Kami dipertemukan sejak semester satu sampai enam melalui event-event kolektif FIB: Sekoteng, PPSMB, Inaugurasi, hingga Etnika Fest. Banyaknya event yang sudah kami ikuti membuat kami sudah saling mengenal bidang dan keahlian kami masing-masing, misalnya Al di perkap, Khusnul di konseptor, Anas di bidang design, Aldi di bidang artistik, dan Ajik di bidang miring. Meskipun jika disimpulkan, ini kesimpulannya: kami siap dan mampu ditempatkan dimana saja.

Pertemuan dari event ke event tak pelak membuat kami makin dan semakin saling mengenal, sampai akhirnya kami bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya bukan event yang awalnya menyatukan kami, namun kekerean. Hehehe… Implikasi dari mahasiswa kere adalah ketidakmampuannya untuk rutin mingguan ngisis di mall atau nonton di XXI. Alhasil, kami pun banyak menghabiskan waktu di sudut-sudut gelap kampus: selasar-selasar yang jadi saksi ratusan rapat, sekre lama yang dipenuhi barang tak terawat (Pak Pujo menyebutnya kandang celeng, saya menyebutnya kantong ajaib doraemon karena disini apa saja ada asal mau cari), hingga Bonbin yang berbau keringat namun bersahabat. Dari pertemuan-pertemuan ini, kami jadi sering berceloteh segala bab pembicaraan hingga sering tak sengaja kami menceritakan “aib” masing-masing. Dan dari cerita-cerita “aib” inilah kami jutru jadi semakin dekat. Aneh ya, aib manusia sering bikin hubungan pertemanan jadi semakin dekat? Apalagi aib soal rasa patah hati.

STMJ adalah kumpulan mahasiswa-mahasiswa FIB lintas jurusan angkatan 2012, yang disatukan oleh kekerean, patah hati, dan event.

Hari ini di Fakultas Biologi, beberapa kawan STMJ sengaja datang untuk melepas keberangkatan saya. Terlihat ada Alhuda, Ajik, Saprin, Dape’, Rais, Zaki, dan Ucup. Disaat kebanyakan teman-teman KKN  dihantar oleh orang tua dan keluarganya, saya ditemani kawan-kawan terdekat saya. Namun tetap, ada perasaan bahagia yang tak bisa disembunyikan, yang daripada kebahagiaan itu dikatakan lebih baik kami lepaskan saja lewat tawa dan “hinaan”.

“Gil, gilang, kamu sebagai kormanit tolong jaga temenku yang miskin ini ya”,

“Gil, tolong Bagus jangan sampai kelaparan ya disana”,

Dan penghinaan yang sudah seperti biasanya itu sama sekali tak mengundang sakit hati  diantara kami. Justru saya bisa dengan leluasa membalas hinaan itu,

“Kowe yo miskin Al ! Wong hanya mampu bayar 400 ribu, sisane ditutup kancamu. Tapi yo jelas lah, sing paling miskin sing durung bayar KKN tahun lalu dan nilaine durung metu”,

Dan semua sudah paham bahwa guyonan ini ditujukan pada Zakky, kormanit KKN Entikong Kalimantan yang nilainya belum keluar karena belum mampu bayar iuran akomodasi sebesar Rp 1.050.000 (Jika ada orang LPPM yang membaca tulisan ini, tolong beri keringanan kawan saya yang anak Bidikmisi ini).

Kedatangan anak-anak STMJ membuat semangat berangkat KKN menjadi lebih besar. Mereka selalu membuat saya percaya bahwa persahabatan memang ada. Persahabatan katanya hanya omong kosong karena sahabat hanya datang saat sedang membutuhkan – lalu lupa ketika sudah berkecukupan. Bodo amat dah. Bertemanlah dengan ikhlas saja, kalau dilupakan berarti sampeyan memang kurang berkesan. Ha..ha..

Terimakasih STMJ yang telah melepas keberangkatan untuk pengabdian ini.



Fakultas Biologi akan menjadi titik awal pemberangkatan kami. Kami akan menggunakan bus menuju bandara Juanda Surabaya, dilanjutkan dengan menggunakan pesawat menuju Bandara Sultan Babullah Ternate, dan dilanjutkan lagi dengan kapal menuju Bacan dan Obi. Ya, perjalanan kami akan melewati tiga jalur sekaligus: darat, udara, dan laut.

19 Juni 2016





Wahai guru...
Di kelas kau ajarkanku tentang ideologi, wacana, hingga relasi kuasa.
Disana kau jua berkisah tentang para satria yang keluar dari kastilnya menerabas batas demi tetangga, kawan, atau saudaranya.
Tapi apa yang kini kau bicarakan diluar kelas?
Sopan santun, selalu sebatas itu saja.

"Masalah moral masalah akhlak biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu urus saja akhlakhmu,peraturan yang sehat yang kami mau",
Kau tentu salah besar kalau mengajarkan sopan santun di masa penuh kebohongan dan juga pembodohan - bukan sekedar kebodohan - ini.
Masalah moral jangan kau tanyakan lagi, segala cara yang bersebut intelek, formal, atau resmi sudah berpuluh kali kami lakoni, namun apa yang terjadi?
Mereka para raja yang kau bela itu, selalu berujar kepalsuan, selalu memanfaatkan ketidaktahuan, selalu mengumbar MORALITAS persis sama sepertimu !

Berhenti ajari kami sopan santun karena kami sudah tak kurang memaksa diri untuk tersenyum.
Berhenti ajari kami sopan santun karena proses memberitahu bahwa sopan santun hanyalah topeng dan tameng para pencuri apel dan limun.
Ajari saja mereka para raja, tentang komitmen memperjuangkan nasib rakyatnya, tentang sistem yang memberi pengharapan cerah untuk adik dan anak cucu kita.
Atau ajari mereka untuk sekedar jujur saja !
Itupun sudah cukup kurasa...

Guru, diammu adalah marabahaya.
Dan kalau kau tak paham apa yang aku bicarakan,
mungkin otak dan hatimu telah membeku karena terlalu lama duduk di bawah pendingin ruangan.


Dewan dosen memutuskan nama baik fakultas kita utamakan, persoalan saudara kita tunda sampai riset selesai. Dengan catatan pengusutan akan dilanjutkan terus sampai persoalan menjadi jelas, sejelas-jelasnya ! – Dekan

Keputusan sudah diambil. Ah bukan, ditunda tepatnya. Nasib Anton, sang aktivis tukang protes masih digantungkan oleh pak Dekan. Apakah Anton akan di DO atas tindakannya menggerakan ratusan mahasiswa untuk mendemo Bu Dosen Yusnita? Atau Anton akan tetap diizinkan merampungkan kuliahnya? Karena kendati suka protes, ia tetap mahasiswa cerdas dan berprestasi di bidang akademik.

Pak Dekan bingung. Jika Anton dipertahankan, makin susah saja ini kampus dapat suasana kondusif. Tapi kalau Anton di DO? Sudah kehilangan satu mahasiswa cerdas, kampus juga bakal kelabakan mengurus proyek penelitian. Lha iya, wong Anton ini ketua proyeknya. Misal Anton di DO, bisa-bisa ambyar lah ini proyek. Nama UGM bisa-bisa jadi buruk di depan sponsor, bisa-bisa kehormatan kita di mata universitas lain juga menurun.

Nama baik UGM lah yang akhirnya diutamakan ! Perkara Anton ini si tukang provokasi atau si cerdas, tundalah untuk dipikirkan.

Bagaimana dengan dosen-dosen lain? Kendati masing-masing punya jalan pikirnya, akhirnya semua dosen ikut saja dengan keputusan Pak Dekan. Pak Gunawan misalnya, kendati sempat memuji Anton sebagai mahasiswa cerdas dan gentleman yang sepatutnya perlu dipertahankan, pada akhirnya toh ia sepakat bahwa masalah proyek kemahasiswaan lah yang harus diutamakan. Apalagi dosen-dosen yang lain. Alih-alih mencoba berpihak berdasarkan subjektivitasnya, malah hanya menjawab “Bu Yusnita benar, tapi Pak Gunawan juga benar......”.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Penggalan cerita di atas adalah salah satu scene yang bisa kita tonton di film Cintaku di Kampus Biru, sutradara Ami Priyono. Film yang setting utamanya di kampus Gadjah Mada ini diputar di tahun 1976. Artinya 40 tahun sudah berlalu sejak film itu rilis di bioskop.

40 tahun memang sudah berlalu. Akan tetapi, sepertinya apa yang tergambarkan dari film tersebut masih mudah kita temui dalam kehidupan kita di kampus UGM hari ini. Yang saya maksud adalah bagaimana pada akhirnya para pemangku kebijakan lebih mengutamakan nama UGM dibanding nasib-nasib mahasiswanya yang sering lebih urgent. Satu hal yang masih sulit dilupakan bagi saya, dan bahkan membuat saya paitan sengit dengan rektorat yang sekarang adalah ketika UGM mengeluarkan surat izin untuk Dek Sudarmono tampil di acara Hitam Putih Trans 7. Kenapa saya sengit sama Rektorat? Hla iya, nah gara-gara masuk Hitam Putih ini, Dek Sudarmono jadi bisa duduk sebelahan sama Dek Rachel Amanda, aktris cantik umur 20 tahun yang kini jadi anak UI itu. Ya jelas, saya cemburu ! Kenapa bukan saya???

Eh, tapi intinya bukan itu ding.

Jadi gini, ketika itu surat izin dari rektorat itu tersebar di media sosial whatsupp. Isinya kurang lebih rektorat mengizinkan Sudarmono tampil di acara Hitam Putih dengan alasan akan mengangkat citra UGM sebagai kampus kerakyatan. Ya, Sudarmono pun akhirnya tampil tanggal 27 Agustus 2015 di Hitam Putih dengan judul seperti ini “SUDARMONO, ANAK TUKANG BECAK MASUK UGM”.

Saya masih ingat, Dek Sudarmono masuk di sesi 3 Talk Shownya Deddy Corbuzier ini. Setelah dibacakan sedikit profil singkatnya, Dek Sudarmono tampil di layar kaca dengan diiringi backsound lagu “Saya mau tamasya berkeliling-keliling kota, hendak melihat-lihat keramaian yang ada. Becak-becak, coba bawa saya !”. Dek Sudarmono pun mulai menjawab satu persatu pertanyaan dari Om Deddy. Dek Sudarmono yang mahasiswa baru jurusan peternakan ini lalu menarasikan dirinya bahwa ia adalah mahasiswa miskin yang berhasil masuk UGM berkat beasiswa bidik misi. Ayahnya, Pak Wagiman, juga turut hadir dalam talk show ini dengan kemeja batiknya. Beliau dengan kesederhanaan dan keluguannya bercerita tentang perjuangannya menjadi tukang becak selama 42 tahun – ya sejak tahun 1973 sampai 2015. Tak lupa di tengah sesi, Om Deddy meminta Dek Sudarmono ini untuk menghampiri Pak Wagiman dan mengucapkan terima kasih atas perjuangan beliau. Iringan tangis penonton pun merebak. Chika Jessica yang saat itu hadir juga tak kuasa menahan rasa harunya. Sedang Pak Wagiman terus memperlihatkan senyumnya yang sederhana.

Selesai menonton acara ini saya ikut menangis. Ya, saya sungguh ikut menangis. Tapi saya menangis bukan karena terharu. Saya menangis marah lihat bagaimana para Rektor - Atas obsesinya mendapatkan citra kerakyatan - mengizinkan anak didik barunya dijadikan objek untuk menaikkan rating televisi kapitalis ni. Apalagi dengan à la à la acara tali kasih, yang memanfaatkan keeksotisan Kaum Kromo sebagai suguhan utama. Sebagai sesama penerima bidik misi, saya jelas tersinggung dengan kebijakan rektorat satu ini. Mereka melakukan pencitraan tentang kerakyatan, sedang disisi lain, Rektor enggan memikirkan bagaimana nasib mahasiswa bidik misi yang beasiswanya sering telat turun sampai dua bulan. Rektorat jelas acuh terhadap nasib ribuan mahasiswa bidik misi yang sering bingung mau hutang kemana lagi waktu beasiswanya telat turun.

Mahasiswa bidik misi lapar pak │ Ya bersabar saja...

Beasiswa bidik misi sering telat pak │ Ya ini sistemnya dari Dikti Pusat mas, kami ndak bisa berbuat apa-apa.

Uang saku bidik misi tidak cukup pak untuk biaya hidup di Jogja, mbok bantu lah menyampaikan ini ke negara │Yang penting disyukuri mas, jangan lupa irit.

Eh, kok aku tetiba dadi monolog kayak Ustadz Felix Kwetiauw ki..

Ya beginilah para pemangku kebijakan di UGM. Teryata mau di dalam film mau di dunia nyata, mereka memang lebih mengutamakan citra dibanding kenyataannya. Lalu bagaimana dengan dosen-dosen selain para pimpinan yang terhormat itu?

Saya rasa hari ini pun masih cukup banyak dosen-dosen seperti yang ada di film Cintaku di Kampus Biru itu. Dosen-dosen ini, alih-alih berpihak untuk kepentingan mahasiswa atau rakyat, mereka cenderung memilih jalan aman dengan menjawab “Ya itu kan keputusan pimpinan”, “Nah sistemnya gitu e mas” atau “Itu bukan ranah saya mas”.

Pengalaman saya saat menjabat (ciyee...) setahun sebagai Presiden LEM FIB UGM setidaknya memperkenalkan saya pada permasalahan ini. Hampir setiap awal semester, menteri Advokasi LEM si Andi Chaerul Umam, selalu sambat sama saya soal susahnya memperjuangkan masalah UKT. “Fakultas udah nggak mau tahu sama yang telat bayar mas, padahal beberapa ada yang bener-bener ndak ada dana”, curhatnya. Ketika saya mencoba menanyakan hal ini langsung ke Fakultas, pun jawabannya sepele “Nah sekarang sistemnya online, kalau udah telat ya udah cuti”. Yang lebih saya heran, kenapa setiap ada permasalahan susah bayar kuliah ini, dosen-dosen di jurusan tidak pernah hadir sebagai solusi. Memberikan pinjaman pada mahasiswanya misalnya, atau malah nggratisi 100%? Haha..

Iya sih, mungkin mahasiswanya sendiri yang kurang proaktif. Tetapi, bukankah sudah semestinya dosen juga menjadi orang tua yang paling khawatir kalau-kalau anaknya sampai menderita dan tidak bisa kuliah? Bagaimana bisa ketika ada mahasiswanya yang miskin dan kesusahan, si dosen justru diam saja?

Lalu yang paling hangat ini adalah soal relokasi Bonbin. Ketika kami pernah mencoba menanyakan isu relokasi pada dekan FIB sekaligus dosen Antropologi, Mas Pudjo, beliau dengan santainya menjawab bahwa soal Bonbin ini adalah urusan Universitas, bukan urusan FIB. Pun sama persis dengan pernyataan Mas Heru, wakil dekan bidang keuangan sekaligus dosen Sastra Indonesia ini. Alih-alih menyatakan sedikit pendapatnya tentang isu Bonbin, Mas Heru cuma menegaskan kalau fakultas sih ngikut saja dengan Universitas, wong ini bukan ranahnya fakultas kok.

Ya iya sih, ini memang bukan ranah anda-anda kalau soal kebijakan mas. Tapi mosok gitu sih? Berapa puluh tahun sih njenengan ini ngampus di FIB? Puluhan tahun to? Yang artinya sudah puluhan tahun pula njenengan hidup bareng dengan pedagang-pedagang kecil itu. Hampir tiap hari melihat mereka sudah standby di Bonbin pukul 7 pagi, jam dimana njenengan (eh maksudnya saya) lagi malez-maleznya di kelas. Puluhan tahun lho njenengan melihat kaum kromo ini jualan di lapak yang seadanya, kecil, sempit, sering diprotes nggak bersih pula. Dan kini ketika rakyat kecil yang setiap hari njenengan temui itu mau digusur, njenengan cuma bilang itu bukan ranah njenengan? Kalau soal kerakyatan ini bukan ranah njenengan, njuk ranah-ranah penjenengan ini apa??? Hak mendapat parkiran yang nyaman bagi dosen? Atau hak dosen untuk jadi entrepreneur di luar perkuliahan?

Saya sungguh takut kalau para resi yang ilmunya setinggi langit ini tak lagi menjadikan nilai “kerakyatan” sebagai pondasi berpikirnya. Dosen – apalagi dosen kampus kerakyatan – sudah sepatutnya meninggalkan mindset PNS ala zaman kolonial. Para ambtenaar zaman penjajahan Belanda yang maunya hidup nyaman, dapat kehormatan, dan kerjanya hanya menuruti perintah atasan. Bukan, dosen bukanlah pegawai rektorat macam ambtenaar yang mengabdi pada gubermen. Dosen sepatutnya menganggap bahwa ia adalah pelayan rakyat, bukan pelayan rektorat. Seperti kata seorang Sarjana Sejarah, Bung Ody Dwi Cahyo, dosen pastilah magister  (guru) yang pasti punya gelar bacalaureat (ksatria). Ketika kekuasaan menjadi lalim dan Kaum Kromo tertindas, para magister dan bacaulerat harus keluar kastil dan memimpin pasukan.

Begitulah seharusnya dunia perkuliahan ini berjalan. Para resi dengan ilmu-ilmu tingkat dewa harusnya juga mau keluar kastil bersama murid-muridnya, bicara soal kerakyatan dan menyatakan keberpihakan. Bukankah kondisi sosial ekonomi dan pendidikan saat ini memang mengharuskan kita bertindak dan berpihak? Pertanyaan yang selanjutnya menjadi, berpihak untuk siapa? Yang mapan atau yang tertindas?
Jikalau sekarang masih ada pemimpin-pemimpin gila citra dan proyek macam gubermen, atau dosen-dosen yang tak ada bedanya dengan para ambtenar itu, maka jangan berharap kita menemukan artikel-artikel resi kita di website-website islam bergerak, indoprogress, atau mojok (?), apalagi berharap bisa mengukir sejarah seperti Chili. Dimana di akhir 2015 ini ribuan mahasiswa dan dosen turun bersama ke jalan memprotes sistem pendidikan yang diskriminatif dan pro-neolib. Tidak, tidak. Mana bisa.

Melihat bagaimana para bapak ibu terhormat yang demikian saya narasikan di atas – dan tentu kembali mengingat filmnya, maka justru timbullah satu pertanyaan “Masih Adakah Cinta dari dan di Kampus Biru?”

Susah menjawabnya. Toh mereka juga beragam. Ada yang piciknya macam Dokter Ehm, tapi ada juga yang kepedulian sosialnya begitu mengagumkan macam Mas Sus dosen Arkeologi, atau Mas Al Fayyadl, dosen tamu Sastra Prancis. Pun jelas, bahwa tidak semuanya begini, dan tidak semuanya begitu. Namun jika mencintai – seperti kata Cak Nun – berarti meletakkan sesuatu pada hakikatnya, maka setulus hati (asline) saya mencintai njenengan. Saya hanya ingin supaya semua bapak Ibu terhormat juga berada pada hakikatnya. Hakikat menjadi guru yang kritis, bukan jadi pebisnis. Hakikat memperjuangkan nilai kerakyatan, bukan pencitraan. Hakikat menjadi pelayan rakyat, bukan pelayan proyek korporat.

Bagus Panuntun

Yogyakarta, 8 Januari 2016


"Kita larang segala atribut PKI karena PKI mengingatkan Indonesia akan luka lamanya !"

Boleh mz, besok kita larang juga ya kaos Van Persie, Arjen Robben, Nani, Pepe, Cristiano Ronaldo, Nakata, Captain Tsubasa, Naruto, Sakura, Sora Aoi, Ameri Ichinose, Maria Ozawa, karena mereka mengingatkan kita pada luka kolonialisme imperialisme. Ya kan mz?
Saya benci semua hal yang tidak sportif.

5 menit lalu saya baru menemukannya. Adalah tentang berita lowongan pekerjaan.

Saya mengamati kalau 90 persen lowongan pekerjaan yg saya temukan di internet atau koran, tidak mencantumkan berapa gaji yang akan didapat oleh pekerja jika ia diterima di tempat tsb.

Menurut saya ini tidak sportif.

Perusahaan hanya menuliskan apa yang mau mereka terima, namun tidak menulis apa yang hendak mereka beri. Ini sudah tidak sportif sejak awal. Padahal hakikat relasi kerja/relasi sosial adalah adanya simbiosis mutualisme antar pihak yang bersangkutan. Hal ini akan sulit tercapai kalau sejak awal perusahaan hanya siap menerima yang terbaik, namun tidak siap memberi yang terbaik - yang ditandai dengan mlipir menyembunyikan apa yang hendak mereka beri pada pekerja.

Mungkin ya mungkin, ini karena perusahaan sadar bahwa tanpa menuliskan apa yg akan didapat pekerja pun, mereka pasti bakal mendapat banyak pendaftar kok. Lah iya, nah lowongan pekerjaan kan langka? Ya manfaatkan situasi saja. Pasti banyak lah orang kepepet yg akhirnya ndaftar dengan paradigma yang penting dapet kerja dulu, soal susah di depan ya nanti dipikir lagi.

Dalam hal bisnis ala teori maslow, ini sah. Lha bisnis kan tujuannya mencari keuntungan sebanyak2nya, dgn pengorbanan serendah2nya. Tujuannya satu: akumulasi modal.

Tapi kalau semua bab kehidupan hanya dibicarakan dari paradigma bisnis, ya makin ajur dunyane.

Perihal urusan di dunia kalau nggak soal bisnis ya soal kemanusiaan. Soal gaji yg nggak dicantumin ini memang oke dalam hal bisnis, tapi dalam hal kemanusiaan? Ini jelas menyinggung perasaan kemanusiaan kita.

Nah, sayangnya hal ini juga terjadi di ugm. Saya selalu mencoba kritis terhadap apa yang terjadi di ugm, karena saya yakin bahwa kampus adalah lembaga penjaga/pembentuk nilai kebenaran. Apa yang dianggap benar di lingkungan kampus/lingkungan intelektual, besar kemungkinan akan dianggap benar pula di luar, begitupun sebaliknya apa yang dianggap keliru disini, kemungkinan besar juga akan dianggap keliru diluar. Mungkin ini erat hubungannya dengan fakta bahwa mereka yg memegang tampuk kekuasaan, yg punya kuasa membentuk narasi kebenaran di masyarakat, sebagian besar berasal dari dunia kampus.

Nah, ugm sebagai lembaga intelektual seharusnya mulai mengubah paradigma bahwa kerja adalah hubungan vertikal antara pemilik modal dengan pekerja. Gampanganne, yang punya perusahaan pokoke bebas menentukan syarat ini itu sejak awal. Ya ini harus diubah, hubungan kerja adalah hubungan horisontal yang sejajar, yg sportif sejak awal, yang mana antara pemilik dengan pekerja sama-sama tahu apa yang bisa mereka dapat dan mereka beri. UGM harus berani memulai ini, jangan malah niru logika perusahaan2 swasta yg fokusnya akumulasi modal dan menyerap nilai lebih para pekerja saja.

Eh sek, ini kampus apa perusahaan sich?

http://cpps.ugm.ac.id/content/lowongan-front-office-pskk-ugm
 “Dialog ibarat pisau bermata dua. Ia adalah kekuatan bagi penguasa (yang baik). Namun juga kelemahan bagi penguasa (yang lalim). Semoga kau termasuk yang baik, amin”.

Assalamualaikum Wr. Wb

Perkenalkan kawan-kawan, kami Ari Bagus Panuntun (Sastra Prancis) dan Patwa Alhuda (Sastra Nusantara), mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, salah dua dari sekian ratus atau bahkan ribu orang yang simpati pada kasus relokasi pedagang Bonbin UGM.

Tulisan kami ini akan menjadi klarifikasi atas kegaduhan yang hari ini timbul. Munculnya beragam pertanyaan terkait Kantin Bonbin, Surat Panggilan Orang Tua, hingga persoalan Ancaman Pidana, membuat kami sepakat untuk sejenak berhenti ngetik skripsi, lalu memilih menulis klarifikasi ini.

Mungkin kami akan memulainya dari panggilan Dekan FIB kepada masing-masing dari kami. Semua ini berhubungan dengan gerakan SBM (Save Bonbin Movement), yang akan sangat panjang jika kami ceritakan disini. Silahkan add OA Line Save Bonbin Movement: @loy0644y dan scroll puluhan tulisan dan kajian dari kami.

Bahan bacaan:

https://drive.google.com/file/d/0B6Llhzsli3VBeDFPOWlPbVMtdE0/view?usp=sharing

http://koranyogya.com/jurang-generasi-itu-bernama-kantin-bonbin-ugm/

https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/rilis-di-balik-tutupnya-kantin-bonbin-sebuah-pengantar-jilid-1/854971894612236

https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/rilis-jilid-2-forum-hearing-bonbin/856088807833878

https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/rilis-jilid-3-ringkasan-pertemuan-dengan-dppa/856650071111085

http://kask.us/iecHD

(((Selanjutnya, silahkan ceritakan kronologinya dari versi anda, Mas Bagus)))

PANGGILAN DEKAN DAN CERITA TENTANG MENGINAP DI DEPAN RUMAH REKTOR

Perkenalkan kawan. Saya Bagus. Saya dipanggil Pak Pujo, Dekan FIB, pada tanggal 25 April 2016 melalui whatsapp dari Mas Zam, Sekretaris Dekan.

Saya bertemu Pak Pujo sekitar pukul 11.00 siang dan kami berdialog di area bangku item FIB. Pertanyaan yang pertama beliau tanyakan adalah, ceritakan kronologi tentang “Nginep di Rumah Rektor”.

Saya pun bercerita tentang “perbuatan” sekitar 15 kawan-kawan SBM yang terpaksa harus mendatangi rumah Rektor. Tujuan dari kedatangan kami ini sebenarnya hanya ada satu hal: Membuka ruang dialog - terkait munculnya SP 2 kepada pedagang Bonbin.

Kedatangan ini pun bukan serta merta tanpa sebab. Semua ini berawal dari ucapan janji seorang Rektor itu sendiri.

Pada tanggal 11 April 2016, Bu Rektor pernah berkata di depan 12 pedagang Bonbin plus lebih dari 300 mahasiswa bahwa untuk persoalan Bonbin “Renovasi atau relokasi masih ‘open’ “. Pernyataan tersebut beliau keluarkan setelah mendengar paparan kajian ilmiah dari kawan-kawan SBM yang meliputi kajian Sejarah, Gizi, Ekonomi, Hukum, Psikologi, dan penataan ruang. Di kesempatan tersebut, Rektor juga sempat mendengarkan penolakan pedagang Bonbin untuk direlokasi ke Pujale. Implikasi dari apa yang disampaikan Rektor, berarti bahwa persoalan relokasi Bonbin masih akan dibicarakan lebih lanjut, atau secara singkat: relokasi belum pasti.

Namun, apa yang terjadi pada tanggal 19 April sungguh sangat mengejutkan dan mengecewakan kami. UGM tiba-tiba mengirimkan Surat Peringatan Dua kepada pedagang Bonbin. Dalam surat yang ditandatangani oleh Prof. Henricus selaku Direktur DPPA UGM tersebut, tertulis bahwa jika sampai tanggal 22 April 2016 pedagang tidak menandatangani SP 2 untuk setuju direlokasi ke Pujale, maka pedagang akan dianggap mengundurkan diri dari UGM.

Pedagang pun panik dan merasa tertekan. Kendati tidak setuju dengan relokasi, mereka takut jika mereka tidak membubuhkan tanda tangan, maka hilang sudah lapak mereka, hilang sudah penghidupan mereka. Hal ini membuat pedagang meminta mahasiswa untuk mempertemukan pedagang dengan Bu Rektor.

Tanggal 20 April 2016 kami beberapa kali mengirimkan pesan WA kepada Rektor, namun tiada pesan itu dibalas. Merasa makin tertekan, akhirnya pada H-1 tenggat waktu, yaitu pada tanggal 21 April 2016, kami sepakat untuk menemui Bu Rektor di PKKH UGM. Kebetulan, waktu itu Bu Rektor baru saja mengadakan hearing terbuka mengenai masalah UKT. Pukul 18.00 kami berusaha untuk meminta dialog barang lima menit untuk mempertanyakan mengenai SP 2, namun Bu Rektor mengatakan bahwa beliau sedang sibuk dan lalu pergi begitu saja dengan Mobilnya.

Pedagang pun tak patah semangat. Pada pukul 19.30, mahasiswa dan pedagang yang diwakili Pak Tumino dan Mas Wisnu bersama-sama menuju gedung Rektorat untuk mencoba menemui Rektor. Namun ternyata Bu Rektor tidak ada di tempat. Dengan waktu yang semakin mepet dan menekan, akhirnya dengan terpaksa kami pun sepakat untuk berkunjung langsung ke rumah Bu Rektor. Sayangnya Pak Tumino jatuh sakit, “pusing sekali” ujarnya, sehingga beliau hanya menitipkan pesan pada Bu Rektor yang pesan tersebut saya rekam di handphone saya.

Sekitar 15 mahasiswa pun datang ke rumah Bu Rektor, dan ternyata di tengah perjalanan kami “slisipan” dengan Bu Rektor yang baru saja keluar dari rumahnya. Akhirnya kami mencoba menemui warga masyarakat yang sedang ronda untuk meminta izin mungkin sampai malam kami akan menunggu Bu Rektor untuk sejenak bertemu.

Apa yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pukul 22.30 Bu Rektor pulang dengan mobil hitamnya. Kami pun segera minggir dan memberi jalan pada mobil Bu Rektor, namun tanpa disangka-sangka, lho lho lho lho lho... Kok mobilnya mbablas???

Aih, ternyata Bu Rektor pergi ke rumah anaknya yang jaraknya hanya sekitar 15 meter dari rumah pribadinya. Salah seorang kawan saya, Hikari, lalu mengejar mobil Bu Rektor sampai kedepan rumah anak Bu Rektor, Hikari jelas melihat bahwa Bu Rektor telah turun dari mobil, namun beliau justru masuk rumah dan menutup rumah beliau.

Kami pun mencoba mengucapkan salam dari luar gerbang, namun hasilnya nihil.

Kami lalu mencoba melihat WA Bu Rektor yang saat itu masih online, dan mencoba kembali mengucapkan salam berharap bahwa pintu akan segera terbuka.

Mungkin kami memang terlalu naif, saya sendiri berpikir “Ah Bu Rektor kan baik, pasti nanti beliau mau lah untuk bertemu. Mosok sudah papasan tetap nggak mau ketemu sih?”.

Pintu tak kunjung terbuka, salam tak jua dijawab. Sampai akhirnya kami sepakat pokoknya kita tunggu sampai Bu Rektor bangun dan segar bugar esok pagi, lalu besok pagi kita temui langsung sebelum beliau berangkat ke UGM – kalau kami pulang dulu, kami khawatir besok pun di UGM Bu Rektor tak bisa ditemui.

Semuanya sepakat. Dengan prinsip tidak akan membuat kegaduhan dan juga telah mendapat izin dari masyarakat, kami pun menunggu sampai akhirnya sekitar pukul 01.00 dini hari, suami Bu Rektor datang menemui kami. Percapakapan dengan suami Bu Rektor terjadi sekitar dua puluh menit, mengenai apa isinya saya kira tidak penting untuk saya jabarkan disini. Yang jelas suami Bu Rektor meminta kami untuk segera pulang karena Bu Rektor hendak istirahat, sedang kami meminta agar disampaikan pada Bu Rektor bahwa mahasiswa ingin bertemu barang sepuluh atau lima menit saja untuk bicara tentang SP 2.

Menghormati kemauan suami Bu Rektor, kami akhirnya pulang sekitar pukul 02.00 dan menginap di kontrakan Agung, kawan kami dari hukum, yang kontrakannya tak jauh dari rumah Bu Rektor.

Pukul 05.00 pagi tanggal 22 April 2016 kami datang lagi ke rumah Bu Rektor. Namun kami hanya duduk diam di depan gerbang, beberapa tiduran, dan beberapa pesan sate ayam untuk sarapan. Kami sepakat bahwa pukul setengah 7 kami hendak mengetuk pintu rumah Bu Rektor. Pukul setengah 7 pun kami mengetuk pintu gerbang, memencet bel rumah, hingga menyampaikan salam “Assalamualaikum”. Namun lagi-lagi tiada yang terjawab.

Ya Allah.. ngelus dada ya Allah.. SKK pun berdatangan ke rumah Rektor. Saya kira ada sekitar 8 SKK yang kala itu hadir. Menyusul kemudian Pak Sulaiman dan Pak Gagak dari Dirmawa yang juga datang.

Sampai disini, kami mulai gagal paham. Mengapa SKK harus dikerahkan? Bukankah kami sudah menyampaikan melalui WA, melalui suami Bu Rektor, bahwa kami hanya ingin berdialog dengan Bu Rektor mengenai SP 2? Mengapa ajakan dialog, ucapan salam, justru dijawab dengan kedatangan pasukan keamanan?

Hanya Bu Rektor yang bisa menjawab.

Namun akhirnya pukul setengah 8 kami sepakat untuk langsung mengetuk pintu rumah.

Alhuda dipercaya untuk berdiri paling depan menemui suami Bu Rektor, saya ada di belakangnya. Sebagai putra jurusan Sastra Nusantara, kemampuannya berbahasa Jawa krama inggil tak perlu dipertanyakan, pengalaman hidup 21 tahun di daerah pedesaan Gunung Kidul membuat kami percaya bahwa kesantunannya mampu meluluhkan siapapun sang lawan bicara.

“nyuwun sewu pak, menika kula lan kanca-kanca nyuwun wekdal badhe pinanggih Bu Rektor”.

“Nyuwun wekdal sedasa menapa gangsal menit kemawon mboten menapa pak?”.

“Pak, dinten menika jatuh tempo kagem pedagang bonbin ngempalaken tapak
asma pak".

“menika kanca-kanca namung badhe silaturahmi pak, nyuwun pitedah bu rektor, pak”.

Namun semua itu tetap percuma. Nihil. Dialog sekali lagi adalah barang yang sangat langka.
Kami pun berpamitan karena tak ingin ada warga yang penasaran lalu mulai berdatangan.
Dan ketika kami hendak pulang, Bu Rektor pun akhirnya keluar rumah, masuk ke dalam mobil sambil berkata pada para SKK “Matur nuwun nggih pak”...

(((Al... jatahmu nulis Al, kesel wisan aku)))

TENTANG SURAT PANGGILAN ORANG TUA DAN PERINGATAN PIDANA

Apa yang saya (Alhuda) dan Bagus lakukan ternyata masuk ke rekaman CCTV rumah Bu Rektor. Mas Pujo lalu memperingatkan bahwa perbuatan kami sudah kebablasan, bahkan mungkin kami bisa dipidanakan dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan.

“Kamu bisa memilih tindakan, tapi tidak dengan konsekwensi”, ujar Mas Pujo.

Apa resikonya jika kami benar dipidanakan? Ya otomatis saya dan Bagus akan di DO. Ini turut diamini oleh Mas Pujo.

Apa kami siap? Ya jelas siap. Siap protes !

Toh, saya yakin bahwa di rekaman CCTV tersebut, kami pun tidak berbuat tindakan-tindakan yang kebablasan, misalnya berteriak, memukul, atau salto.

Kami hanya mengajak dialog secara kekeluargaan. Namun yang kami terima adalah peringatan (semoga bukan ancaman)

Mas Pujo kemudian juga mengirimkan surat panggilan untuk orang tua kami. Menurut Mas Pujo, memanggil orang tua dilakukan karena anak-anak seperti kami sudah tidak bisa lagi diatur. Surat panggilan tersebut sudah diterima oleh kami pada hari ini, 27 April 2016.

Kami sangat menyayangkan pemanggilan orang tua kami ini. Pertama, kami merasa ini lucu. Tindakan ini memaksa kami untuk bernostalgia dengan masa SMA lagi. Kok aneh ya ketika hal ini terjadi di Universitas? Apakah pemanggilan orang tua adalah hal yang “seyogyanya”?

Kedua, tentang alasan bahwa kami tidak bisa diatur. Kami bukan tidak bisa diatur pak, kami tentu saja bisa dan mau diatur, namun jika aturan tersebut kami rasa kurang baik, kami ya akan berusaha protes. Mengenai tindakan protes akan sebuah aturan, kami ingin mengutip sebuah tulisan dari Mas Pujo Semedi dalam tulisannya berjudul McDonaldisasi atau McMeongisasi (2002) “....Gedung-gedung kantor dan ruang kuliah megah disegala penjuru dan mobil mewah berparkiran disetiap halamanya. Namun sosok-sosok maharesi dan begawan yang berwibawa dan mendunia satu persatu telah pergi dan nyaris tidak muncul penerus-penerus perjalanannya. ....Mohon tulisan saya ini diterima sebagai ekspresi cinta seorang warga kepada kampusnya, seorang anak kepada ibu kandung pendidikanya. Bukan sebagai aksi subversif, jangan nanti gara-gara tulisan ini saya dipanggil, didudukan dan dimarahi dimuka para petinggi.” (diterbitkan dalam Kedaulatan Rakyat Rabu 6 Februari 2002). Saya pun ingin menekankan bahwa segala yang saya lakukan dengan menulis opini hingga ikut aksi, pun merupakan ekspresi cinta seorang warga kepada kampusnya, seorang anak kepada ibu kandung pendidikanya. Mengapa karena protes justru didudukkan dan bahkan hingga orang tua dilibatkan?
Mungkin inilah sedikit klarifikasi dari kami. Semoga perbuatan kami mengunjungi rumah Bu Rektor bukan dipahami sebagai sekedar perbuatan kurang ajar, namun lebih dari itu, tindakan ini adalah pilihan terakhir kami atas ruang dialog yang tak kunjung terbuka, di tengah makin kepepetnya nasib pedagang Bonbin karena SP Dua. Kami tentu saja bersedia meminta maaf kepada Rektor jika perbuatan kami dianggap telah mengganggu kenyamanannya. Namun, kami tetap menuntut Rektor untuk segera mengadakan dialog terbuka dan menyelesaikan persoalan Bonbin dengan menggunakan prinsip partisipatif.

Sebagai penutup, saya akan mengutip quote dari Soe Hok Gus, “Guru bukan Tong Sam Cong yang setiap perkataannya harus dituruti, dan murid bukan Cut Pat Kay yang harus diam saat dilully diceramahi”.

Namun, dalam hal ini, saya merasa bahwa kami bukanlah Cut Pat Kay, kami seperti Sun Go Kong yang kalau berani protes dan nakal dikit langsung dibacakan mantra “Awas DO, Awas DO, Awas DO, Awas DO, Awas DO”, “Awas Pidana, Awas Pidana, Awas Pidana, Awas Pidana...”

Pantas, kepala terasa pening.

NB: MARI TERUS PERJUANGKAN DIALOG TERBUKA ANTARA MAHASISWA, PEDAGANG BONBIN DENGAN REKTORAT, DAN DPPA ! SBM SUDAH MENGIRIMKAN SURAT PERMOHONAN DIALOG TERBUKA, NAMUN BELUM JUGA DIJAWAB. MOHON DOA DAN PARTISIPASINYA.

Salam,

Bagus Panuntun dan Patwa Alhuda, mahasiswa yang mencoba peduli pada kampusnya.



Dekan Pujo Semedi memanggil saya pagi ini. Melalui sekretarisnya, Mas Zam, beliau mengirim chat whatsapp meminta saya agar menemui di ruangnya.

Ajakan secara kultural - alih-alih mengirim surat panggilan dengan kop yang weladalah resminya – ini tentu saya terima dengan baik. Saya bahkan jauh lebih menyukai ajakan dialog yang bersifat kultural dibanding yang terlalu formal.

Berbeda misalnya dengan Bu Rektor yang tidak pernah membalas whatsapp ajakan berdialog, menolak bertemu dengan mahasiswa di rumahnya karena informal, lalu menolak berdialog di kampus karena sibuk - tentu saja, tanpa memberikan sedikitpun konfirmasi kapan beliau bisa bertemu.

Saya pun sebenarnya hari ini sibuk. Jika rektor sibuk karena harus membalas whatsapp dari para menteri dan sponsor, menerima undangan dari berbagai panggung, mulai dari panggung televisi hingga ratusan seminar motivasi, belum lagi jadwal padatnya rapat tiada henti. Maka saya juga sibuk.

Saya sibuk mengerjakan skripsi, melunasi 13 episode sisa Descendant of the Sun, belum lagi menghabiskan semua filmnya Anushka Sharma, walaaah... kadang karena kesibukan saya ini, saya merasa bahwa 24 jam adalah waktu yang terlalu singkat untuk satu hari.

Tapi hari ini saya berusaha untuk hadir. Setiap ajakan dialog kalau kita tidak bisa hadir pun, setidaknya paling tidak kita bisa memberikan konfirmasi. Disinilah terjalin sebuah komunikasi, dan alhasil segala konflik pun bisa lebih mudah teratasi.

Masalahnya, tidak semua orang paham (atau sepakat?) hal sesederhana ini. “You-Know-Who” salah satunya.

Catatan tambahan:

Saya pernah menyampaikan pendapat ini ke seorang Profesor sahabat Rektor yang namanya tak penting untuk disebut, Bahwa kita seyogyanya membudayakan budaya konfirmasi di zaman yang serba sibuk dan cepat ini. Lalu saya mendapat teguran "Anda jangan menggurui Rektor, mas".


Weladalahhh... toh kalau memang saya benar menggurui, kan ucapan guru masih bisa dibalas dengan argumentasi? Bukan dengan jangan itu jangan ini?


Bagus Panuntun,

Yogyakarta, 25 April 2015 pukul 09.00
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018