bagus panuntun

berubah!

“Percayalah nan, daripada ke Singapore, perjalanan ke Obi ini jauh lebih menakjubkan. Ke Singapore mah tidak beda dengan pergi ke Jakarta”, kalimat ini saya katakan kepada Danan, kormasit tim KKN Desa Anggai, ketika kami sedang berada di kapal menuju Pulau Bacan. Bukan berlebihan, saya sungguh takjub akan suasana malam ini. Saya berada di bagian buritan kapal. Hembusan angin malam dari atas sini terasa cukup kencang, tetapi masih terasa lembut. Angin laut timur memang tidak dingin menusuk, malah ia terasa menyegarkan. Barangkali karena cuaca malam ini memang sedang cerah.

Ah ya, di malam hari, pulau Ternate terlihat sangat terang berkat ribuan kerlap-kerlip lelampu tepi kota. Berbeda dengan Ternate yang gemerlap, pulau Tidore yang ada di sebelahnya justru terlihat misterius. Tak banyak lampu yang terangi malam harinya. Terlihat pulau ini hanya diisi oleh beberapa kampung yang jarak antar kampungnya mungkin berpuluh-puluh kilometer. Dimana letak kilau Tidore? Mungkin ada dibaliknya. Entahlah...

Kapal terasa semakin cepat, kekuatannya memecah ombak menjadi buih-buih air yang beriak. Saat saya mulai tercenung, tiba-tiba bunyi intro sebuah lagu terdengar dari sound system dek yang disetel dengan volume amat keras. Aih,  speaker superbass ini memunculkan irama musik pop 80-an, dengan slow beat yang menggantung, yang kemudian diikuti oleh suara vokal dengan echo yang sedikit terlampau tebal:

Dingin di malam ini
Sandiri beta di dalam kamar ini...
Harusnya malam ini
Ale ada disini
Batamang beta
Gantikan bantal polo ini

Asyik... ternyata para crew kapal sedang berkaraoke lagu Ambon, saudara ! Kemudian, tak ada lain yang bisa saya lakukan selain tertawa melihat banyak penumpang ternyata hafal lagu ini. Mereka ikut bernyanyi bersama abang crew bertopi hitam yang dengan khidmatnya – sambil memejamkan mata- melantunkan lagu ini dengan fals.

Harusnya malam ini
Ale ada disini
Batamang beta
Gantikan bantal polo ini

Tak terasa saya telah ikut hafal  reff lagu ini...

-----------------------------------------------------------------------------

Kami sampai di pelabuhan Babang, Bacan, pukul 5 kurang seperempat pagi. Seluruh tim Baraobira tidak ada yang bangun untuk sahur karena tertidur kelelahan. Konon, imsyak disini baru dimulai pukul 5 pagi. Kekononan ini tak saya sia-siakan, saya segera meneguk air mineral yang saya minta entah dari siapa.

Sepertinya saya telah cukup istirahat. Ketika tersadar dari tidur, tubuh ini terasa cukup segar. Kami pun mencari tas dan barang bawaan kami masing-masing untuk dibawa turun dari kapal.

Pintu kapal pun dibuka, puluhan porter masuk ke dalam kapal siap  menawarkan jasa angkut untuk barang-barang penumpang. Sahut menyahut dengan volume suara yang lantang langsung membuat kami tersadar, kami sedang berada di Indonesia Timur !

Porter di pelabuhan Babang ternyata banyak yang masih muda. Para juvenil timur ini banyak yang berbadan besar dan tegap. Salah satu dari mereka kemudian mendekat ke arah rombongan kami:

“Asli mana abang? Mau kemana? Butuh bantuan?”,

“Dari Jogja abang. Ada tugas kuliah, KKN di Obi. Tidak usah, mau bawa sendiri saja”, saya menjawab abang porter ini sambil tersenyum, berharap abang porter tidak memaksa untuk mengangkut barang-barang kami (seperti banyak saya temui di Jawa).

Ternyata porter muda justru balik tersenyum dan menanggapi kalimat saya dengan ramah,
“Ih, jauh sekali e dari Jawa. Tahun lalu juga ada anak UGM yang KKN di Bacan”. Ketika ia mengatakan hal tersebut, beberapa porter muda lain menoleh ke arah kami. Mereka ikut mengarahkan senyumnya. Tak lama kemudian semua porter itu telah pergi untuk mencari penumpang lain yang butuh jasanya.

“Ih, keren ya ! Mereka nggak maksa, nggak kayak di Jawa. Kalau kita bilang nggak, mereka ya langsung cari penumpang lain. Padahal orangnya keras, tapi baik-baik ya..”, ujar Apoy mencoba menarik kesimpulan dari kejadian yang singkat tadi.

Kami turun mengangkut barang-barang kami. Anggota laki-laki banyak membantu mengangkat barang-barang milik perempuan - yang beban-bebannya jauh lebih berat. Setelah semua barang terkumpul di area luar kapal, ternyata kami sudah dijemput oleh sebuah bus yang disediakan oleh Dinas Pariwisata Halmahera Selatan.

“Kita mau kemana gil?” tanya saya pada Gilang, kormanit Baraobira.

“Mau ke pesanggrahan dulu”, jawab Gilang dan ia kemudian menyampaikan instruksi ke semua teman-teman,

“Selamat pagi teman-teman. Setelah ini, kita akan menuju ke Pesanggrahan yang disediakan pemda Halsel. Nanti, kita akan singgah dulu di Bacan 2 hari. Jadi, kita baru akan naik kapal ke Obi 2 hari setelah ini. Sekarang periksa barang masing-masing dan segera naik bus ya”.

-----------------------------------------------------------------------------

Perjalanan di bus diwarnai dengan candaan bahasa Ambon – yang semalam baru kita dengar di kapal.

“Beta... ingin berdua dengan ale... diantara daun... gugur......”

“Ale ale ale ale lagi, rindu rindu rindu lagi, ah bete beta, aiya iya iya...”

“Krincing-krincing”, gemerincing receh bersahutan dengan tawa kami yang begitu lepas. Sepertinya suasana syahdu nan gembira di kapal berhasil memberi energi positif pada tim kami.

Setelah kurang lebih 40 menit perjalanan, tibalah kami di pesanggrahan yang kami tuju. Pesanggrahan ini adalah rumah yang akan kami gunakan untuk menginap selama 2 malam. Tempat ini sudah dipesan oleh kormanit Gilang jauh-jauh hari sebelum keberangkatan kami ke Obi. Gilang yang berkordinasi dengan pemda Halsel meminta disediakan satu rumah saja supaya tim kami bisa mengambil jeda sejenak setelah perjalanan yang melelahkan selama lebih dari 36 jam. Selain alasan kelelahan, praktis ada satu alasan lain mengapa kormanit Gilang meminta kepada pemerintah daerah untuk menyediakan satu pesanggrahan ini: sampai detik ini kami belum mendapatkan kepastian 100% mengenai siapa mama papa piara kami. Untuk itu, Gilang bersama 2 kormasit yaitu Danan dan Gatot akan berangkat dulu ke Pulau Obi untuk memastikan siapa saja para mama papa piara. Sembari menunggu kepastian tersebut, anggota tim Baraobira lain yang berjumlah 26 diharap untuk singgah dulu di Bacan untuk rehat mengisi energi sejenak.

Turun dari bus, ternyata kami belum bisa langsung masuk ke pesanggrahan. Pesanggrahan yang modelnya mirip model rumah perumahan satu lantai ini masih terkunci. Selain itu belum tampak perwakilan pemda Halsel yang menyambut kami. Saya mencoba berpikir positif, santai saja lah, barangkali setengah jam lagi akan ada perwakilan Pemda yang datang.

Bak gaung bersambut, tak lama kemudian datanglah Pak Nur Kamarullah. Pak Nur adalah anggota dinas Pariwisata Kabupaten Halsel yang pagi ini mendapat tugas untuk menengok kami. Begitu turun dari mobil, beliau langsung memperkenalkan dirinya dengan ramah. Beliau bercerita bahwa beliau pun pernah merasakan kuliah di Jogja bahkan merasakan KKN disana. Menyadari bahwa kami terlihat cukup kelelahan, beliau akhirnya segera menyelesaikan ceritanya dan memberikan kunci pintu pesanggrahan.

Pintu pesanggrahan pun dibuka, saya sudah tidak sabar untuk segera menuju ke kamar dan segera menata barang lalu merebahkan badan. Namun tanpa disangka, kami justru disambut oleh banyak sekali sampah-sampah berceceran di ruang tamu depan. Puluhan plastik makanan ringan, kulit kacang, hingga kotoran tikus terlihat berdesakan dan berlomba ingin menjadi yang paling kontras. Begitu kami masuk ke dalamnya, debu-debu coklat terlihat menempel di atas meja kaca. Debu-debu ini saya rasa kaget melihat ada manusia lagi yang masuk ke ruang nyamannya. Ih, saya pikir rumah ini sudah berbulan-bulan, barangkali satu tahun tidak dibersihkan !

Kami masih mencoba berpikir positif dengan pemandangan yang kacau ini.

“Mungkin KKN memang harus prihatin sejak dari awal”, pikir saya.

Tak mau terlarut dalam suasana yang pengap ini, kami segera membuka pintu lebar-lebar dan memasukkan semua barang bawaan ke dalam pesanggrahan. Beberapa anak lelaki, termasuk saya membuka pintu belakang dan melihat seperti apa bentuk pesanggrahan ini dari dalam. Pesanggrahan ini ternyata cukup luas. Tepat didepan pintu yang baru saja kami buka, terbentang koridor sepanjang 10 meter, di sepanjang koridor itu terdapat 6 pintu kamar yang semuanya masih tertutup rapat. Di sebelah barat koridor, terdapat pendopo berukuran 3x3 meter yang dikelilingi oleh rumput-rumput liar yang cukup tinggi.

“Mbeeeek”, ternyata ada dua ekor kambing sedang menyantap rumput-rumput di sekeliling pendopo. Seketika saat melihat kedatangan kami, kambing itu langsung kaget dan gelisah. Mereka berlari mencari jalan keluar supaya tidak berpapasan lagi dengan manusia yang asing ini.

“Oh shit !!!”,

“Taekkk !!!”,

“Mbelek !!!”

Kali ini dengan kesadaran yang paling terang, saya katakan bahwa tiga kata diatas bukanlah suatu umpatan, namun ungkapan kesaksian atas realita yang ada di depan mata kami: Pesanggrahan ini penuh tahi kambing !

Sepanjang koridor, tahi-tahi kambing yang binal itu berjajar dari yang lembek basah sampai yang kering renyah. Di sela-sela rerumputan, tahi-tahi kambing lainnya saling berjejalan berusaha menampakkan warnanya yang gelap (mengkilap). Yang paling menyedihkan adalah keadaan pendopo : di atas lantainya terdapat banyak gelas dan piring kotor yang di dalamnya tak luput dari penjajahan tahi-tahi kambing.

Semua berubah sejak tahi-tahi kambing menyerang...

Kenangan sendu melagu di atas kapal, candaan bahasa Ambon yang menggairahkan dalam sekejap berubah menjadi kisah murung tentang bebauan feses yang menyebalkan.

Kisah belum selesai sampai disini. Melihat pesanggrahan yang sangat kotor, kami segera berinisiatif – daripada malah mengeluh - untuk segera menyucikan tempat singgah ini. Saya, Febri, dan Ongri mencoba mencari sapu di sepanjang koridor, tapi tidak menemukan.

Kami kemudian menuju pintu yang ada di ujung utara koridor. Pintu ini ternyata menghubungkan koridor tempat kami berdiri dengan rumah bagian belakang yang jauh lebih luas dan berlantai dua.

Setelah pintu berhasil dibuka, kami pun segera masuk ke sebuah aula yang luasnya sekitar 8x10 meter. Anehnya, begitu kami masuk, hawa dingin dan lembab langsung menyeruak dari sekeliling aula yang gelap ini. Aula ini saya yakin sudah lama tidak dibuka. Debu-debu tebal menempel di keramiknya yang putih, di bagian tengah terdapat sebuah meja makan yang dikelilingi oleh kursi-kursi kayu yang tidak tertata rapi, lalu di sebelah timur terdapat seonggok kursi tua yang memojok sendirian tepat di depan sebuah pintu.

“Ih, siapa sih yang taruh kursi itu di depan pintu?”, tanya Febri.

“Aku langsung merinding cuk liat kursi itu”, bisik Ongri.

Dalam imajinasi saya, di kursi itu sedang terduduk seorang kakek tua berambut putih, berwajah pucat dan matanya sayu, memakai sarung tapi tidak berbaju. Ia termangu menatap kami dalam diam yang datar dan dingin...

Sepertinya ini efek nonton Conjuring 2, hehehe...

Tanpa mau berlama-lama, kami pun segera mengalihkan fokus dari pemandangan creepy seonggok kursi di pojokan itu. Kami segera mencari air bersih demi membilas kumpulan tahi-tahi. Tapi malang... Baik kamar mandi yang ada di lantai satu maupun lantai 2, tidak ada satupun yang memiliki air mengalir. Di dalamnya hanya ada airkeruh yang tergenang di dalam bak, dipenuhi dengan kotoran cicak, tikus, dan ribuan uget-uget alias jentik nyamuk.

Melihat hal ini, selanjutnya tidak banyak hal lagi yang bisa kami lakukan. Kami tetap mencoba membersihkan ruangan depan sebisanya, menyiram tahi-tahi di koridor dengan air seadanya, lalu membersihkan debu yang ada dalam kamar dengan gebugan tangan semampunya.

Pada akhirnya, karena kelelahan para laki-laki tetap tidur di kamar-kamar berdebu di dalam pesanggrahan. Terhitung hanya ada dua kamar di lantai satu yang kami gunakan, sisanya begadang di ruang depan. Selain itu, tidak ada yang mau tidur di kamar atas – setelah Febri mengaku melihat kursi di lantai dua yang bergeser dan bergerak sendiri. Disisi lain, para perempuan Baraobira tidak ada yang kuat menghirup dedebuan yang ada di dalam pesanggrahan, mereka ber-16 akhirnya memutuskan beristirahat di Masjid dekat pesanggrahan (Di malam hari, mereka juga memutuskan untuk menginap di masjid ini).

Pada akhirnya Bacan yang kami kenang pun bukan tentang indah pulaunya, bukan pula tentang kilau batunya, namun tentang bebauannya. :)

Di tengah kekecewaan akan apa yang terjadi hari ini, saya masih bisa bersyukur akan tiga hal yang terjadi di Pulau Bacan:

1.    Pak Nur Kamarullah - selaku bagian dari pemda - dengan sangat ksatria meminta maaf dan mengaku menyesal atas apa yang terjadi hari ini. Beliau mengakui bahwa semua ini disebabkan kurang baiknya kordinasi di internal pemerintah sendiri (Semoga bisa jadi evaluasi untuk Pemda Halsel supaya tim KKN lain tidak bernasib sama seperti kami).

2.   Saya masih bisa menjelajah Pulau Bacan, mengunjungi Pantai Dermaga Biru dan Air Terjun Bibinoi. Semua ini berkat Joshua, kawan kami yang paling hobi berkeliaran. Dari hobinya berkeliaran, ia mendapat kenalan seorang pendeta yang sangat baik. Pendeta itu kemudian mengajak Joshua untuk mengexplore Bacan dengan mobil APV-nya. Joshua lalu mengajak saya, Febri, Destya, dan Devina.



3.  Suasana pesanggrahan yang kurang nyaman membuat saya dan Jovi semangat berangkat masjid untuk jama’ahan.

21 Juni 2016



Setelah selesai bersih-bersih pesanggrahan, kami ikut keluarga pendeta untuk baronda/jalan-jalan.
Dermaga Biru, Bacan

Air Terjun Bibinoi

Ukuran bus ini terlalu kecil. Sesaknya bus yang saya naiki membuat saya tertidur juga karena lelahnya duduk dengan ruang yang amat terbatas . Tak terasa waktu telah menunjuk angka tiga pagi. Ketika mata terbuka, kami telah tiba di pintu tol bandara Juanda. Timbul sedikit penyesalan, mengapa saya tidak terjaga dan melihat kota Surabaya? Sampai usia 21 ini saya belum pernah melihat secara langsung kota Surabaya. Surabaya justru lebih saya kenal lewat lagu-lagu Silam Pukau. Ah, Silam Pukau ! Lirik-liriknya selalu mampu menyendukan rasa dalam sekejap. Kesenduan yang menyayat dalam lagu Silam Pukau persis dengan kisah-kisah di Wonokromo dalam tetralogi Buru Pram (Wonokromo juga bagian Surabaya ya? Kesenduan Surabaya sungguh melegenda ya).

Jika mendengar kata pesawat, saya tiba-tiba teringat celetukan Al di Burjo Samiasih beberapa waktu lalu.

“Cuk, doakan aku selamat lah. Aku takut beneran naik pesawat”, ujarnya. Dalam ucapannya yang dibuat lugu itu, masing-masing dari kami membalasnya dengan tawa. Tak jarang kami malah semakin menakut-nakutinya, seperti halnya apa yang dilakukan Dape’

“Kamu naik Garuda to cuk? Segera tobat wae, garuda itu paling sering kecelakaan”,

Ucapan Dape’ disahut dengan tawa lepas, sedangkan Al kendati ikut tertawa tetap terlihat raut ketakutan di wajahnya.

Mengingat hal itu, saya sejujurnya ingin mengakui bahwa saya pun selalu ketakutan dalam setiap perjalanan berkendara. Bagi saya, perjalanan dengan moda transportasi apapun adalah waktu ketika diri dalam keadaan setengah mati. Ketika mengendarai motor dengan kecepatan diatas 70, kita mudah saja tergelincir dan jatuh. Ketika naik perahu, begitu mudah ombak liar menjungkir baliknya,lalu kita akan tenggelam. Ketika naik pesawat, siapa yang menjamin bahwa kita akan selamat dalam perjalanan 5 menit pertama? Kita begitu dekat dengan kematian ketika dalam perjalanan. Itulah mengapa setiap perjalanan tak bisa tidak harus diiringi dengan doa dan perasaan pasrah ikhlas.

Bismillahirahmanirrahim,

Perjalanan dengan pesawat pun dimulai pukul 6 pagi dari Juanda…

TIBA DI PULAU TERNATE

Saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini ! Ternate ternyata adalah sebuah gunung yang terletak di tengah laut biru. Layaknya kebanyakan gunung, ia berbentuk seperti topi caping, mengerucut dari kaki ke puncaknya. Dari jendela si burung besi, saya bisa menyaksikan sebuah gunung besar yang hijau, yang di kakinya lah terlihat adanya peradaban. Peradaban itu adalah kota Ternate yang sebentar lagi akan saya jajaki !

Sriwijaya air yang kami tumpangi akhirnya selesai juga mengepakkan sayapnya di Bandara Sultan Babullah. Begitu sampai di Ternate, kami disambut oleh terik matahari timur yang begitu menyengat. Aih, ini lebih panas daripada matahari Jogja… Kulit tubuh yang masih lembab oleh dinginnya AC pesawat pun tak pelak kaget ketika harus menyesuaikan dengan udara yang kering dan panas ini.

Namun fokus pada panas Ternate bisa segera teralihkan oleh pemandangan bandara Sultan Babullah yang terletak tepat di tepi laut dan tepat pula di lereng gunung. Ya, bandara ini diapit oleh laut dan gunung sekaligus. Ia diapit oleh warna biru dan hijau ! Ternyata begini keindahan Pulau/Gunung Ternate.





Pulau/Gunung Ternate?

Di depan bandara, kami sudah dijemput oleh enam mobil. Saya tak tahu mobil-mobil ini akan membawa kami kemana, kabarnya ia akan membawa kami ke rumah saudara dari Umar, salah satu anggota tim KKN kami yang merupakan putra asli Ternate. Yang jelas, saya hanya ingin segera naik mobil: bukan sekedar untuk menghindari terik matahari yang menyengat, namun juga untuk melihat dari balik kaca seperti apa kota Ternate itu.

Ternate ternyata adalah sebuah kota yang modern dan sudah sangat tersentuh oleh arus pembangunan. Sepanjang jalan, kita bisa melihat pertokoan, kantor-kantor jasa, bahkan mall. Ia tidak begitu berbeda dengan Sleman, hanya saja kota Ternate terlihat lebih rapi dan bersih. Arus lalu lintas disini masih belum padat. Ia tidak seperti Jogja apalagi Jakarta, yang begitu macat. Yang indah dari Ternate adalah, Kota Ternate benar-benar terletak di tepi laut. Jadi, kita bisa melihat sebuah kota yang rapi dan modern di samping kanan, dan hamparan laut biru di sisi lainnya.

CELETUKAN WATON AZRI

Ternate adalah perpaduan kota yang modern, gunung yang menjulang, dan laut yang menghampar. Pemandangan tipe ini baru sekali saya lihat, pun dengan teman-teman yang satu mobil dengan saya: Gatot, Azri, dan Febri. Hal ini membuat kami enggan tertidur meskipun badan sebenarnya sangat lelah.

Perjalanan ini pun diisi dengan candaan dan puluh komentar atas apapun yang kami temukan di depan mata,

“Wih..ada mall juga”

“Wih..banyak masjid gede ya”

“Ih, tukang cukurnya tetap orang Madura ya”, kata Azri.

Abang supir pun menyahut candaan kami dengan logat timurnya,

“Torang tidak percaya kalau cukur bukan sama orang Madura”,

Suasana pun menjadi cair berkat sikap kami yang seperti anak SD sedang berwisata.

Sampai akhirnya ketika kami mulai memasuki perkampungan, mobil kami harus terhenti karena seorang bocah perempuan yang bersepeda di tengah jalan.

“Piiip..Piip”, Abang Sopir memberi klaxon pada bocah tersebut.

 “Asik benar ya, sepedaan di tengah jalan”, sahut saya.

Semua masih berjalan normal, hingga tiba-tiba si Azri, kawan kami dari fakultas Biologi menyampaikan sebuah candaan tentang si bocah yang sungguh tidak intelek, alias telek...

Sambil tertawa dan nyengir si Azri berkata “Kayaknya ini standar pendidikan disini coy”,

Zingggg..... komentar Azri atas si bocah pesepeda itu sungguh diluar dugaan kami. Sebelum saya sempat memikirkan dimana letak cacatnya candaan ini, entah bagaimana suasana tiba-tiba sudah menjadi asing dan dingin. Dalam batin, saya berdoa semoga si abang sopir tidak tersinggung atas candaan yang mirip candaan Billy Saputra itu.

“Cuk, lek dihajar abang sopir yo modyar iki !”, batin saya.

Si Gatot langsung menginjak kaki Azri. Si Febri mungkin hendak sedikit menanggapi dan mencairkan suasana. Saya juga ingin mencoba tertawa.

Namun gagal... Semua terdiam dan suasana menjadi begitu awkward. Untuk pertama kalinya kami merasakan dingin yang menusuk di kota Ternate.

Zingggg... sisa perjalanan 10 menit terasa seperti 10 tahun. Beruntung si abang sopir tidak menanggapi candaan tadi, entah tidak dengar atau pura-pura tidak dengar.

------------------------------------------------------------------------------------------

“Bajilak, pekok tenan kowe jri...”, seru Gatot,

“Ati-ati lek guyon jri, ojo kemaki”, sahut saya sedikit jengkel. Saya pikir, secara nirsadar terselip  rasa superioritas barat atas timur dalam candaan ini. Hal yang sangat haram dilakukan oleh mahasiswa yang hendak terjun KKN.

“Wah..sori tenan mas, aku keceplosan”, balas Azri terlihat menyesali perbuatannya yang sporadis tadi.

Turun dari mobil, kami pun disambut oleh keluarga dari Umar. Mereka tinggal di sebuah perkampungan dekat pantai Falajava. Kami yang berjumlah 29 akhirnya dibagi dalam 3 rumah. Beruntung, khusus para laki-laki, kami diberikan penginapan supaya bisa istirahat dan mandi dengan nyaman. Ah ya, kami memang tak punya waktu banyak di Ternate. Ini sudah pukul 2 siang, dan nanti jam 9 malam kami harus sudah tiba di Pelabuhan Bastiong untuk melanjutkan perjalanan menuju Pulau Bacan.

Saya beristirahat sejenak di kamar penginapan yang sebelumnya telah dipesankan oleh Bibinya Umar. Rencananya, saya hendak tidur puas sampai waktu menjelang buka puasa.

Buka puasa???

Wih..wih.. saya baru ingat, saya kan sudah makan nasi ayam, teh hangat, dan puding strawberry di Sriwijaya Air tadi pagi.

“Duo sipit, menelan di udara”, tulis Ongri di status Linenya, menyairkan kisah Bagus dan Apoy, 2 sahabat musafirnya...

Ternate, 20 Juni 2016


Saya tidak jadi tidur. Akhirnya ngabuburit di Pantai Falajava, Ternate.



Azri yang pakai topi Baraobira. Hai cah waton ! Huehehe..




Semua barang dan perlengkapan sudah dipersiapkan. Dari mulai yang terpenting: kaos, celana pendek, sarung, laptop, dan gawai, hingga barang-barang pelengkap: alat mandi, almamater, baju koko sampai kemeja. Tak lupa, tiga buku bacaan juga didekatkan: Kumpulan Puisi Chairil Anwar, penelitian Perubahan Kondisi Politik di Afrika Bagian Selatan dan Pengaruhnya terhadap Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia, dan Qu’Allah bénisse la France karya Abd Al Malik. Semoga ada waktu untuk bisa bercengkerama dengan kalian.

Pukul 12 siang sudah ! Dan saya sudah siap dengan semua perlengkapan untuk menuju Obi. Tiba-tiba saya teringat dengan hardisk yang penuh dengan film yang sudah saya tonton. Ah, saya harus ke Prima Net. Warnet yang punya koleksi ribuan film nan update ini adalah alasan kuat mengapa Jogja masih tetap Istimewa. Primanet pun saya sambangi, dan saya penuhi hardisk ini dengan puluhan film yang belum saya tonton. Cast Away, To Kill a Mockingbird, dan Mon Oncle. Saya juga teringat akan program nonton film bareng di Obi sana, memutarkan film untuk anak-anak kecil Obi. Tercatat film: Turtles can fly, The Kite Runner, dan Tendangan dari Langit.

Persiapan pun selesai, dan pukul 5 sore saya sudah sampai di Fakultas Biologi, tempat berkumpul kelompok KKN Baraobira.

Pemberangkatan ini ditandai dengan cerita persahabatan yang sederhana tapi begitu hangat.

Dari kos menuju ke Fakultas Biologi, saya diantar oleh Kania, Andre, dan Mas Riza. Kemudian sesampainya di Fakultas Biologi, saya sudah ditunggu oleh Patwa Alhuda dan Ajik, 2 jomblo STMJ. Perihal STMJ, sebelumnya pernah saya tuliskan di sebuah caption photo Instagram @aribagusp.
Sebaiknya saya tuliskan lagi sebuah caption terlebih dahulu untuk STMJ…

STMJ, Semester Tua Masih J…………

Silahkan isi sendiri J………. – nya. Jomblo? Jos? Jlalatan? Jempalikan? Terserah.

Kami adalah sebuah komunitas tanpa visi dan misi, kecuali bagaimana bisa berbasa-basi di burjo atau angkringan sampai benar puas dan kehabisan bahan obrolan. Kami yang terdiri dari mahasiswa lintas jurusan dari pariwisata, sejarah, antro, arkeo sampai sastra, terbentuk tanpa sebuah peresmian. Kami dipertemukan sejak semester satu sampai enam melalui event-event kolektif FIB: Sekoteng, PPSMB, Inaugurasi, hingga Etnika Fest. Banyaknya event yang sudah kami ikuti membuat kami sudah saling mengenal bidang dan keahlian kami masing-masing, misalnya Al di perkap, Khusnul di konseptor, Anas di bidang design, Aldi di bidang artistik, dan Ajik di bidang miring. Meskipun jika disimpulkan, ini kesimpulannya: kami siap dan mampu ditempatkan dimana saja.

Pertemuan dari event ke event tak pelak membuat kami makin dan semakin saling mengenal, sampai akhirnya kami bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya bukan event yang awalnya menyatukan kami, namun kekerean. Hehehe… Implikasi dari mahasiswa kere adalah ketidakmampuannya untuk rutin mingguan ngisis di mall atau nonton di XXI. Alhasil, kami pun banyak menghabiskan waktu di sudut-sudut gelap kampus: selasar-selasar yang jadi saksi ratusan rapat, sekre lama yang dipenuhi barang tak terawat (Pak Pujo menyebutnya kandang celeng, saya menyebutnya kantong ajaib doraemon karena disini apa saja ada asal mau cari), hingga Bonbin yang berbau keringat namun bersahabat. Dari pertemuan-pertemuan ini, kami jadi sering berceloteh segala bab pembicaraan hingga sering tak sengaja kami menceritakan “aib” masing-masing. Dan dari cerita-cerita “aib” inilah kami jutru jadi semakin dekat. Aneh ya, aib manusia sering bikin hubungan pertemanan jadi semakin dekat? Apalagi aib soal rasa patah hati.

STMJ adalah kumpulan mahasiswa-mahasiswa FIB lintas jurusan angkatan 2012, yang disatukan oleh kekerean, patah hati, dan event.

Hari ini di Fakultas Biologi, beberapa kawan STMJ sengaja datang untuk melepas keberangkatan saya. Terlihat ada Alhuda, Ajik, Saprin, Dape’, Rais, Zaki, dan Ucup. Disaat kebanyakan teman-teman KKN  dihantar oleh orang tua dan keluarganya, saya ditemani kawan-kawan terdekat saya. Namun tetap, ada perasaan bahagia yang tak bisa disembunyikan, yang daripada kebahagiaan itu dikatakan lebih baik kami lepaskan saja lewat tawa dan “hinaan”.

“Gil, gilang, kamu sebagai kormanit tolong jaga temenku yang miskin ini ya”,

“Gil, tolong Bagus jangan sampai kelaparan ya disana”,

Dan penghinaan yang sudah seperti biasanya itu sama sekali tak mengundang sakit hati  diantara kami. Justru saya bisa dengan leluasa membalas hinaan itu,

“Kowe yo miskin Al ! Wong hanya mampu bayar 400 ribu, sisane ditutup kancamu. Tapi yo jelas lah, sing paling miskin sing durung bayar KKN tahun lalu dan nilaine durung metu”,

Dan semua sudah paham bahwa guyonan ini ditujukan pada Zakky, kormanit KKN Entikong Kalimantan yang nilainya belum keluar karena belum mampu bayar iuran akomodasi sebesar Rp 1.050.000 (Jika ada orang LPPM yang membaca tulisan ini, tolong beri keringanan kawan saya yang anak Bidikmisi ini).

Kedatangan anak-anak STMJ membuat semangat berangkat KKN menjadi lebih besar. Mereka selalu membuat saya percaya bahwa persahabatan memang ada. Persahabatan katanya hanya omong kosong karena sahabat hanya datang saat sedang membutuhkan – lalu lupa ketika sudah berkecukupan. Bodo amat dah. Bertemanlah dengan ikhlas saja, kalau dilupakan berarti sampeyan memang kurang berkesan. Ha..ha..

Terimakasih STMJ yang telah melepas keberangkatan untuk pengabdian ini.



Fakultas Biologi akan menjadi titik awal pemberangkatan kami. Kami akan menggunakan bus menuju bandara Juanda Surabaya, dilanjutkan dengan menggunakan pesawat menuju Bandara Sultan Babullah Ternate, dan dilanjutkan lagi dengan kapal menuju Bacan dan Obi. Ya, perjalanan kami akan melewati tiga jalur sekaligus: darat, udara, dan laut.

19 Juni 2016





Wahai guru...
Di kelas kau ajarkanku tentang ideologi, wacana, hingga relasi kuasa.
Disana kau jua berkisah tentang para satria yang keluar dari kastilnya menerabas batas demi tetangga, kawan, atau saudaranya.
Tapi apa yang kini kau bicarakan diluar kelas?
Sopan santun, selalu sebatas itu saja.

"Masalah moral masalah akhlak biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu urus saja akhlakhmu,peraturan yang sehat yang kami mau",
Kau tentu salah besar kalau mengajarkan sopan santun di masa penuh kebohongan dan juga pembodohan - bukan sekedar kebodohan - ini.
Masalah moral jangan kau tanyakan lagi, segala cara yang bersebut intelek, formal, atau resmi sudah berpuluh kali kami lakoni, namun apa yang terjadi?
Mereka para raja yang kau bela itu, selalu berujar kepalsuan, selalu memanfaatkan ketidaktahuan, selalu mengumbar MORALITAS persis sama sepertimu !

Berhenti ajari kami sopan santun karena kami sudah tak kurang memaksa diri untuk tersenyum.
Berhenti ajari kami sopan santun karena proses memberitahu bahwa sopan santun hanyalah topeng dan tameng para pencuri apel dan limun.
Ajari saja mereka para raja, tentang komitmen memperjuangkan nasib rakyatnya, tentang sistem yang memberi pengharapan cerah untuk adik dan anak cucu kita.
Atau ajari mereka untuk sekedar jujur saja !
Itupun sudah cukup kurasa...

Guru, diammu adalah marabahaya.
Dan kalau kau tak paham apa yang aku bicarakan,
mungkin otak dan hatimu telah membeku karena terlalu lama duduk di bawah pendingin ruangan.


Dewan dosen memutuskan nama baik fakultas kita utamakan, persoalan saudara kita tunda sampai riset selesai. Dengan catatan pengusutan akan dilanjutkan terus sampai persoalan menjadi jelas, sejelas-jelasnya ! – Dekan

Keputusan sudah diambil. Ah bukan, ditunda tepatnya. Nasib Anton, sang aktivis tukang protes masih digantungkan oleh pak Dekan. Apakah Anton akan di DO atas tindakannya menggerakan ratusan mahasiswa untuk mendemo Bu Dosen Yusnita? Atau Anton akan tetap diizinkan merampungkan kuliahnya? Karena kendati suka protes, ia tetap mahasiswa cerdas dan berprestasi di bidang akademik.

Pak Dekan bingung. Jika Anton dipertahankan, makin susah saja ini kampus dapat suasana kondusif. Tapi kalau Anton di DO? Sudah kehilangan satu mahasiswa cerdas, kampus juga bakal kelabakan mengurus proyek penelitian. Lha iya, wong Anton ini ketua proyeknya. Misal Anton di DO, bisa-bisa ambyar lah ini proyek. Nama UGM bisa-bisa jadi buruk di depan sponsor, bisa-bisa kehormatan kita di mata universitas lain juga menurun.

Nama baik UGM lah yang akhirnya diutamakan ! Perkara Anton ini si tukang provokasi atau si cerdas, tundalah untuk dipikirkan.

Bagaimana dengan dosen-dosen lain? Kendati masing-masing punya jalan pikirnya, akhirnya semua dosen ikut saja dengan keputusan Pak Dekan. Pak Gunawan misalnya, kendati sempat memuji Anton sebagai mahasiswa cerdas dan gentleman yang sepatutnya perlu dipertahankan, pada akhirnya toh ia sepakat bahwa masalah proyek kemahasiswaan lah yang harus diutamakan. Apalagi dosen-dosen yang lain. Alih-alih mencoba berpihak berdasarkan subjektivitasnya, malah hanya menjawab “Bu Yusnita benar, tapi Pak Gunawan juga benar......”.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Penggalan cerita di atas adalah salah satu scene yang bisa kita tonton di film Cintaku di Kampus Biru, sutradara Ami Priyono. Film yang setting utamanya di kampus Gadjah Mada ini diputar di tahun 1976. Artinya 40 tahun sudah berlalu sejak film itu rilis di bioskop.

40 tahun memang sudah berlalu. Akan tetapi, sepertinya apa yang tergambarkan dari film tersebut masih mudah kita temui dalam kehidupan kita di kampus UGM hari ini. Yang saya maksud adalah bagaimana pada akhirnya para pemangku kebijakan lebih mengutamakan nama UGM dibanding nasib-nasib mahasiswanya yang sering lebih urgent. Satu hal yang masih sulit dilupakan bagi saya, dan bahkan membuat saya paitan sengit dengan rektorat yang sekarang adalah ketika UGM mengeluarkan surat izin untuk Dek Sudarmono tampil di acara Hitam Putih Trans 7. Kenapa saya sengit sama Rektorat? Hla iya, nah gara-gara masuk Hitam Putih ini, Dek Sudarmono jadi bisa duduk sebelahan sama Dek Rachel Amanda, aktris cantik umur 20 tahun yang kini jadi anak UI itu. Ya jelas, saya cemburu ! Kenapa bukan saya???

Eh, tapi intinya bukan itu ding.

Jadi gini, ketika itu surat izin dari rektorat itu tersebar di media sosial whatsupp. Isinya kurang lebih rektorat mengizinkan Sudarmono tampil di acara Hitam Putih dengan alasan akan mengangkat citra UGM sebagai kampus kerakyatan. Ya, Sudarmono pun akhirnya tampil tanggal 27 Agustus 2015 di Hitam Putih dengan judul seperti ini “SUDARMONO, ANAK TUKANG BECAK MASUK UGM”.

Saya masih ingat, Dek Sudarmono masuk di sesi 3 Talk Shownya Deddy Corbuzier ini. Setelah dibacakan sedikit profil singkatnya, Dek Sudarmono tampil di layar kaca dengan diiringi backsound lagu “Saya mau tamasya berkeliling-keliling kota, hendak melihat-lihat keramaian yang ada. Becak-becak, coba bawa saya !”. Dek Sudarmono pun mulai menjawab satu persatu pertanyaan dari Om Deddy. Dek Sudarmono yang mahasiswa baru jurusan peternakan ini lalu menarasikan dirinya bahwa ia adalah mahasiswa miskin yang berhasil masuk UGM berkat beasiswa bidik misi. Ayahnya, Pak Wagiman, juga turut hadir dalam talk show ini dengan kemeja batiknya. Beliau dengan kesederhanaan dan keluguannya bercerita tentang perjuangannya menjadi tukang becak selama 42 tahun – ya sejak tahun 1973 sampai 2015. Tak lupa di tengah sesi, Om Deddy meminta Dek Sudarmono ini untuk menghampiri Pak Wagiman dan mengucapkan terima kasih atas perjuangan beliau. Iringan tangis penonton pun merebak. Chika Jessica yang saat itu hadir juga tak kuasa menahan rasa harunya. Sedang Pak Wagiman terus memperlihatkan senyumnya yang sederhana.

Selesai menonton acara ini saya ikut menangis. Ya, saya sungguh ikut menangis. Tapi saya menangis bukan karena terharu. Saya menangis marah lihat bagaimana para Rektor - Atas obsesinya mendapatkan citra kerakyatan - mengizinkan anak didik barunya dijadikan objek untuk menaikkan rating televisi kapitalis ni. Apalagi dengan à la à la acara tali kasih, yang memanfaatkan keeksotisan Kaum Kromo sebagai suguhan utama. Sebagai sesama penerima bidik misi, saya jelas tersinggung dengan kebijakan rektorat satu ini. Mereka melakukan pencitraan tentang kerakyatan, sedang disisi lain, Rektor enggan memikirkan bagaimana nasib mahasiswa bidik misi yang beasiswanya sering telat turun sampai dua bulan. Rektorat jelas acuh terhadap nasib ribuan mahasiswa bidik misi yang sering bingung mau hutang kemana lagi waktu beasiswanya telat turun.

Mahasiswa bidik misi lapar pak │ Ya bersabar saja...

Beasiswa bidik misi sering telat pak │ Ya ini sistemnya dari Dikti Pusat mas, kami ndak bisa berbuat apa-apa.

Uang saku bidik misi tidak cukup pak untuk biaya hidup di Jogja, mbok bantu lah menyampaikan ini ke negara │Yang penting disyukuri mas, jangan lupa irit.

Eh, kok aku tetiba dadi monolog kayak Ustadz Felix Kwetiauw ki..

Ya beginilah para pemangku kebijakan di UGM. Teryata mau di dalam film mau di dunia nyata, mereka memang lebih mengutamakan citra dibanding kenyataannya. Lalu bagaimana dengan dosen-dosen selain para pimpinan yang terhormat itu?

Saya rasa hari ini pun masih cukup banyak dosen-dosen seperti yang ada di film Cintaku di Kampus Biru itu. Dosen-dosen ini, alih-alih berpihak untuk kepentingan mahasiswa atau rakyat, mereka cenderung memilih jalan aman dengan menjawab “Ya itu kan keputusan pimpinan”, “Nah sistemnya gitu e mas” atau “Itu bukan ranah saya mas”.

Pengalaman saya saat menjabat (ciyee...) setahun sebagai Presiden LEM FIB UGM setidaknya memperkenalkan saya pada permasalahan ini. Hampir setiap awal semester, menteri Advokasi LEM si Andi Chaerul Umam, selalu sambat sama saya soal susahnya memperjuangkan masalah UKT. “Fakultas udah nggak mau tahu sama yang telat bayar mas, padahal beberapa ada yang bener-bener ndak ada dana”, curhatnya. Ketika saya mencoba menanyakan hal ini langsung ke Fakultas, pun jawabannya sepele “Nah sekarang sistemnya online, kalau udah telat ya udah cuti”. Yang lebih saya heran, kenapa setiap ada permasalahan susah bayar kuliah ini, dosen-dosen di jurusan tidak pernah hadir sebagai solusi. Memberikan pinjaman pada mahasiswanya misalnya, atau malah nggratisi 100%? Haha..

Iya sih, mungkin mahasiswanya sendiri yang kurang proaktif. Tetapi, bukankah sudah semestinya dosen juga menjadi orang tua yang paling khawatir kalau-kalau anaknya sampai menderita dan tidak bisa kuliah? Bagaimana bisa ketika ada mahasiswanya yang miskin dan kesusahan, si dosen justru diam saja?

Lalu yang paling hangat ini adalah soal relokasi Bonbin. Ketika kami pernah mencoba menanyakan isu relokasi pada dekan FIB sekaligus dosen Antropologi, Mas Pudjo, beliau dengan santainya menjawab bahwa soal Bonbin ini adalah urusan Universitas, bukan urusan FIB. Pun sama persis dengan pernyataan Mas Heru, wakil dekan bidang keuangan sekaligus dosen Sastra Indonesia ini. Alih-alih menyatakan sedikit pendapatnya tentang isu Bonbin, Mas Heru cuma menegaskan kalau fakultas sih ngikut saja dengan Universitas, wong ini bukan ranahnya fakultas kok.

Ya iya sih, ini memang bukan ranah anda-anda kalau soal kebijakan mas. Tapi mosok gitu sih? Berapa puluh tahun sih njenengan ini ngampus di FIB? Puluhan tahun to? Yang artinya sudah puluhan tahun pula njenengan hidup bareng dengan pedagang-pedagang kecil itu. Hampir tiap hari melihat mereka sudah standby di Bonbin pukul 7 pagi, jam dimana njenengan (eh maksudnya saya) lagi malez-maleznya di kelas. Puluhan tahun lho njenengan melihat kaum kromo ini jualan di lapak yang seadanya, kecil, sempit, sering diprotes nggak bersih pula. Dan kini ketika rakyat kecil yang setiap hari njenengan temui itu mau digusur, njenengan cuma bilang itu bukan ranah njenengan? Kalau soal kerakyatan ini bukan ranah njenengan, njuk ranah-ranah penjenengan ini apa??? Hak mendapat parkiran yang nyaman bagi dosen? Atau hak dosen untuk jadi entrepreneur di luar perkuliahan?

Saya sungguh takut kalau para resi yang ilmunya setinggi langit ini tak lagi menjadikan nilai “kerakyatan” sebagai pondasi berpikirnya. Dosen – apalagi dosen kampus kerakyatan – sudah sepatutnya meninggalkan mindset PNS ala zaman kolonial. Para ambtenaar zaman penjajahan Belanda yang maunya hidup nyaman, dapat kehormatan, dan kerjanya hanya menuruti perintah atasan. Bukan, dosen bukanlah pegawai rektorat macam ambtenaar yang mengabdi pada gubermen. Dosen sepatutnya menganggap bahwa ia adalah pelayan rakyat, bukan pelayan rektorat. Seperti kata seorang Sarjana Sejarah, Bung Ody Dwi Cahyo, dosen pastilah magister  (guru) yang pasti punya gelar bacalaureat (ksatria). Ketika kekuasaan menjadi lalim dan Kaum Kromo tertindas, para magister dan bacaulerat harus keluar kastil dan memimpin pasukan.

Begitulah seharusnya dunia perkuliahan ini berjalan. Para resi dengan ilmu-ilmu tingkat dewa harusnya juga mau keluar kastil bersama murid-muridnya, bicara soal kerakyatan dan menyatakan keberpihakan. Bukankah kondisi sosial ekonomi dan pendidikan saat ini memang mengharuskan kita bertindak dan berpihak? Pertanyaan yang selanjutnya menjadi, berpihak untuk siapa? Yang mapan atau yang tertindas?
Jikalau sekarang masih ada pemimpin-pemimpin gila citra dan proyek macam gubermen, atau dosen-dosen yang tak ada bedanya dengan para ambtenar itu, maka jangan berharap kita menemukan artikel-artikel resi kita di website-website islam bergerak, indoprogress, atau mojok (?), apalagi berharap bisa mengukir sejarah seperti Chili. Dimana di akhir 2015 ini ribuan mahasiswa dan dosen turun bersama ke jalan memprotes sistem pendidikan yang diskriminatif dan pro-neolib. Tidak, tidak. Mana bisa.

Melihat bagaimana para bapak ibu terhormat yang demikian saya narasikan di atas – dan tentu kembali mengingat filmnya, maka justru timbullah satu pertanyaan “Masih Adakah Cinta dari dan di Kampus Biru?”

Susah menjawabnya. Toh mereka juga beragam. Ada yang piciknya macam Dokter Ehm, tapi ada juga yang kepedulian sosialnya begitu mengagumkan macam Mas Sus dosen Arkeologi, atau Mas Al Fayyadl, dosen tamu Sastra Prancis. Pun jelas, bahwa tidak semuanya begini, dan tidak semuanya begitu. Namun jika mencintai – seperti kata Cak Nun – berarti meletakkan sesuatu pada hakikatnya, maka setulus hati (asline) saya mencintai njenengan. Saya hanya ingin supaya semua bapak Ibu terhormat juga berada pada hakikatnya. Hakikat menjadi guru yang kritis, bukan jadi pebisnis. Hakikat memperjuangkan nilai kerakyatan, bukan pencitraan. Hakikat menjadi pelayan rakyat, bukan pelayan proyek korporat.

Bagus Panuntun

Yogyakarta, 8 Januari 2016


"Kita larang segala atribut PKI karena PKI mengingatkan Indonesia akan luka lamanya !"

Boleh mz, besok kita larang juga ya kaos Van Persie, Arjen Robben, Nani, Pepe, Cristiano Ronaldo, Nakata, Captain Tsubasa, Naruto, Sakura, Sora Aoi, Ameri Ichinose, Maria Ozawa, karena mereka mengingatkan kita pada luka kolonialisme imperialisme. Ya kan mz?
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018