bagus panuntun

berubah!

“Teman-teman, di awal-awal KKN ini jangan dulu pikirkan soal program. Tugas awal kita adalah bersosialisasi dengan masyarakat. Jangan segan untuk menyapa orang di jalan. Kalau berjalan jangan bergerombol, orang sini tidak suka lihat kita bergerombol”, ujar Kormasit Danan yang memulai pagi pertama di Anggai dengan rapat singkat di muka balai desa.

“Danan, saya sarankan kita harus jalan-jalan dulu ke Sambiki supaya kita juga tahu rumah teman-teman kita yang ada disana. Siapa tahu kita butuh kordinasi mendadak kan mudah carinya”, saran saya kepada Kormasit Danan, teman-teman yang lain ikut mengangguk.

“Oke, sepakat. Mumpung masih selo, setelah ini kita jalan-jalan ke Sambiki, nanti dilanjutkan dengan keliling Anggai. Sekali lagi, jangan bergerombol”, kormasit mengulangi instruksi ini untuk kedua kalinya.

Sesuai titah kormasit, kami pun mulai berjalan tanpa bergerombol menuju Desa Sambiki, desa yang tepat berada di sebelah barat Desa Anggai. Belum sampai 100 meter berjalan, Bang Rusdi tiba-tiba menyapa kami, “Hei, mau pergi kemana kalian?”,

“Ke Sangkibi bang, alias Sambiki. Mau jalan-jalan dan kordinasi dengan anak-anak yang ada disana”.

“Oke, saya ikut baronda. Disini kalau jalan-jalan, orang bilangnya baronda”, ujar Bang Rusdi yang langsung ikut bergabung. Karena sudah ada bang Rusdi, kami pun akhirnya bergerombol mengikuti Bang Rusdi, menempatkan diri sebagai sekelompok baru yang ditemani seorang guide.

“Permisi bapak...”,

“Mari mama...”,

Kami tak henti-henti menyapa orang-orang yang bertatap di tepi jalan. Sekali-kali mereka bertanya siapa kami dan dalam hajatan apa kami sampai di Obi. Kami pun menjawab satu persatu pertanyaan dengan santai dan tenang.

“Kami mahasiswa dari UGM Jogja mama... Mau KKN atau Kuliah Kerja Nyata disini”,

“2 tahun lalu disini juga ada yang KKN dari Unkhair (Universitas Khairun) Ternate. Tapi kalian, jauh sekali e dari Jawa kesini...Semoga betah di Pulau Obi e”, ujar seorang mama yang kami temui di jalan.

“Nanti malam, akan ada perkenalan mahasiswa dengan warga. Datang saja ngoni (kalian) ke Balai Desa”, Bang Rusdi tiba-tiba memotong pembicaraan kami.

“Haa, serius nanti malam bang?”, kami justru kaget dengan perkataan Bang Rusdi. Kami memang sudah berencana akan mengadakan malam perkenalan dan presentasi program, tapi bukan malam ini.

“Iya nanti malam. Tara usah terlalu lama, warga juga sudah ingin kenal dengan kalian”.

 “Eee.. ini tokoh pendidikan satu ini, sukanya semaunya sendiri e. Iii..abang ini”, ujar Gilang sembari menepuk pundak Bang Rusdi. Gilang, kormanit berambut kribo ini memang paling mudah akrab dengan orang-orang Anggai. Gaya bahasanya yang ceplas-ceplos cenderung kasar ternyata sangat cocok dengan budaya bergaul di Indonesia Timur. Tak ayal, Gilang pun berani memanggil bang Rusdi dengan sebutan “Tokoh Pendidikan”, bentuk panggilan yang menandakan keakraban. Penting dicatat, Bang Rusdi ini memang tokoh pendidikan Desa Anggai yang menggagas berdirinya SMK pertama di desa Anggai-Sambiki, yaitu SMK Peduli Bangsa. (Akan ada catatan khusus membahas Sekolah Peduli Bangsa)

“Eee...sudah, persiapkan saja buat nanti malam. Jangan lambat. Orang timur tara suka lambat-lambat. Saya sudah kordinasi dengan Desa”, jawab Bang Rusdi sambil tertawa, sepertinya ia puas mengerjai kami.

“Oke, boleh dah. Siappp...”, sambut kormasit Danan mengamini perkataan Bang Rusdi.

Dalam baronda hari ini, saya lebih sibuk mengabadikan puluh momentum yang ada di Anggai-Sambiki. Memotret rumah-rumah, anak-anak yang sedang bermain, hingga pepohonan yang saya temui di tepi jalan. Saya yakin, jika esok saya telah kembali ke Jawa, pasti akan ada banyak tanya tentang hal-hal tersebut,

”Rumah-rumahnya masih adat ya?”,

 “Orangnya hitam-hitam dan keriting ya?”,

“Tinggal di pedalaman ya?”,

Pertanyaan-pertanyaan yang bermuara dari asumsi-asumsi banal tentang timur ini sebaiknya tak sekedar dijawab dengan cerita, tetapi juga dengan tangkapan mata kamera.






Pohon kelapa disini punya tinggi dua kali pohon kelapa di Jogja


 -----------------------------------------------------------------------------

Speaker TOA Masjid Anggai berbunyi, “Pengumuman kepada seluruh masyarakat Desa Anggai. Sebentar malam sehabis tarawih, akan ada perkenalan dengan mahasiswa KKN dari UGM, Jogja. Kepada seluruh masyarakat Desa Anggai untuk bisa datang ke Kantor Desa”.

 “Wih, wangun tenan... Diumumke lewat masjid nan (Wih keren sekali, diumumkan lewat masjid nan) !”, ujar saya kepada Danan yang sedang menikmati menu buka puasanya, ada nasi ikang plus es cukur.

“Bajigur, berarti akeh sing teka iki. Mantap dah, kudu sangar ! (Berarti ada banyak orang datang nih. Mantap dah, presentasi kita harus keren !) ”. Kormasit Danan terlihat bersemangat menyambut malam perkenalan dan presentasi yang akan berlangsung 2 jam lagi.

“Mengko alur presentasine meh piye nan? (Nanti alur presentasinya mau bagaimana nan?)”

“Mengko aku sing bukak sik. Terus perkenalan masing-masing anggota. Njuk mengko aku presentasi sing bidang pertanian dan teknik, Gita sing bidang kesehatan, njuk kowe sing pendidikan mas (Nanti saya yang akan memberikan sambutan pembuka, dilanjutkan perkenalan masing-masing anggota. Lalu saya akan presentasi bidang pertanian, perikanan dan teknik, Gita di bidang kesehatan, dan kamu bidang pendidikan mas)”.

“Siap bos !”...

-----------------------------------------------------------------------------

Kursi-kursi plastik berwarna hijau telah disusun rapi melingkar, pelataran balai desa yang luasnya tak lebih dari satu lapangan badminton ini pun mulai didatangi oleh warga Anggai satu persatu.

12 anggota tim telah datang berkumpul dan siap untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. Malam ini, hampir seluruh anggota Baraobira memilih memakai kaos oblong dengan celana atau panjang, plus beralas kaki swallow. Tak ada yang memakai almamater. Sejak awal, kami seia sekata untuk tampil seegaliter-egaliternya. Hal ini pun didukung Bang Rusdi, abang yang sedari kemarin paling banyak membantu kami.

Beberapa orang Anggai yang sudah saya kenal pun datang satu persatu dan menyalami kami. Selain Bang Rusdi, ada bang Komar, kepala pemuda desa Anggai. Bang Yamin, seorang guru muda SMA. Dan Bang Arman, pemuda Marxist desa Anggai yang tadi malam berkenalan dengan saya.

Arman  : “Mas Bagus ikut organisasi eksternal?”

Saya       : “Tarada abang, Gilang yang ikut GMNI. Saya bergaul saja dengan semua anak pergerakan”

Arman  :  “Saya ikut organisasi Pembebasan di Ternate”

Saya       :“Wih, kiri abang?”

Arman  :“Kalau kata Marx itu, kapitalisme kan bekerja melalui tiga cara: ekspoitasi, penyerapan nilai lebih, dan ............bla..bla..bla...............”,

Begitulah petikan percakapan singkat saya tadi malam dengan Bang, eh Bung Arman, seorang mahasiswa Anggai yang paham nglothok teori-teori revolusioner Marxist. All hail Bung Arman !!!

Wih, ternyata Desa Anggai memiliki pemuda-pemuda dengan pemikiran-pemikiran kiri revolusioner, sungguh saya makin penasaran akan desa ini !

-----------------------------------------------------------------------------

Kembali ke acara perkenalan...

Mendekati pukul setengah 10, balai desa telah dipenuhi oleh masyarakat Anggai. Para warga berdatangan mulai dari anak-anak, kakak-kakak, mama papa, hingga nene tete.

Kami mulai duduk membaur bersama warga. Saya duduk di antara Bang Yamin, dan seorang abang muda bernama Al-Khadrin. Selagi acara belum resmi dibuka, kami sempat berbincang sejenak dan akhirnya saya tahu bahwa Bang Al adalah pemuda Anggai yang baru saja lulus sarjana bidang Ilmu Pertanahan.

“Ih, disini banyak sarjana ya abang ya?”, tanya saya pada Bang Al.

“Banyak, kebanyakan anak sini kuliah di Ternate”, sambungnya singkat.

“Abang kenapa ambil ilmu tanah? Ada permasalahan tanah di Anggai kah?”

“Iyo ada. Pencemaran tanah karena limbah tambang emas. Pergerakan air dari tambang di dataran tinggi kan sampai ke pemukiman yang ada di dataran rendah. Dampaknya mungkin akan terasa 20-30 tahun lagi. Tapi saya ambil ilmu tanah karena saya memang hobi kimia”.

Penjelasan dari Bang Al kemudian memberikan pengetahuan baru pada saya mengenai desa Anggai. Desa ini ternyata memiliki tambang emas yang sedikit banyak berdampak pada kehidupan masyarakat Anggai -  baik dampak lingkungan maupun dampak sosial. (Akan saya tulis di catatan depan)

Acara pun dimulai dengan prolog dari Kepala Pemuda. Bang Komar yang malam ini memakai setelan  jaket dan jeans biru, tampak tampil gagah dan belia. Kepala pemuda ini memulai prolognya dengan mengucapkan permintaan maaf karena Ompala Anggai tidak bisa hadir di malam perkenalan ini. Dari prolog yang Bang Komar sampaikan, keluarlah sepatah kalimat – semacam adagium – yang menjejak kesan di benak saya:

“Inti KKN itu ada 2: Bermasyarakatlah, baru bermanfaatlah”,

Luar biasa ! Sepatah kalimat itu sebaiknya ditulis dengan tinta tebal, dipasang di tepi atas kaca kamar, lalu dibaca sambil bersuara di tiap awal pergantian hari, supaya kita terus sadar: KKN bukan kegiatan formalitas untuk mengejar jam program semata, namun wahana bagi kita untuk berlatih membaur menjadi sederajat dengan masyarakat.

Kini tiba  giliran kormasit Danan untuk memberi sambutan. Di sambutan malam ini, Danan mencoba menekankan bahwa kami tim Baraobira datang tidak berbekal uang, tidak pula berbekal harta, hanya ilmu seadanya yang semoga bisa memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat Anggai.

Kami pun memperkenalkan diri kami satu-persatu. Ini bagian yang cukup saya suka. Gelak tawa mulai mengalir sejak warga Anggai suka memotong sesi perkenalan kami dengan celetukannya yang jenaka,

“Perkenalkan, nama saya Bagus....”,

“Kaka Bagus !!! Kaka cantik !!!” teriak seorang mama berusia 40-an pada saya yang malam ini rambutnya terurai lurus panjang.

Tawa pun menyeruak..

Tawa lain juga tumpah saat Nila memperkenalkan dirinya dengan volume gaya timur,

“Perkenalkan nama saya Nila !!! Sudah mirip orang timur kah???”, tanyanya sambil berteriak.

Warga pun langsung geli melihat usaha kami untuk meng-Anggai-kan diri. Jenaka..


Sosok Bang Komar
-----------------------------------------------------------------------------

PRESENTASI PROGRAM

Lepas memperkenalkan diri satu persatu, tibalah saatnya untuk mempresentasikan program-program kerja tim Baraobira.

Kormasit Danan memulai presentasinya,

“Pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan program-program kami khususnya di bidang pertanian, perikanan dan teknik. Pertama, ada pengolahan daun cengkih menjadi minyak gosok atsiri. Kedua, pengolahan batok kelapa menjadi briket. Ketiga, pengolahan buah pala menjadi selai. Keempat, pengolahan ikan menjadi nugget dan abon. Kelima pengadaan panel surya untuk desa. Keenam, penyuluhan manfaat pupuk kompos. Dan yang ketujuh ini adalah program baru kami yaitu pembuatan tempat sampah umum. Mengapa? Karena kami cukup prihatin dengan sampah di desa Anggai yang masih dibuang di rawa dan di laut. Kalau ada tempat pembuangan umum, sampah bisa dibuang di tempat lalu dibakar. Dampak lingkungannya ada, tapi cenderung lebih kecil dibanding jika dibuang di rawa dan di laut. Ada pertanyaan?”.

“Mas Danang, bisa bikin gapura desa kah? Kan kita belum punya gapura untuk batas desa. Sama tambah satu lagi, denah desa e?” tanya Bang Komar.

“Kalau denah desa bisa, karena kami punya Umar yang anak jurusan geografi. Tapi sejujurnya, kami tara mempersiapkan program pembuatan benda fisik. Namun seandainya desa memiliki program pembuatan gapura, kami siap membantu”.

“Iya... soal dana, nanti kan desa yang pikirkan. Yang penting mahasiswa siap”, tambah Bang Komar,
“Boleh abang”, tutup Danan.

Kini giliran saya untuk mempresentasikan program-program yang berhubungan dengan pendidikan.

“Bapak ibu, adik dan kakak, saya mendapat amanah untuk bertanggung jawab di program-program pendidikan. Apa saja programnya? Pertama, akan ada pembuatan taman baca atau perpustakaan. Kami telah menghimpun buku selama kurang lebih 4 bulan dan terkumpul sekitar 500 buku, buku tersebut kini sedang dalam proses pengiriman ke Pulau Obi. Kedua ada program pemberantasan buta huruf, karena berdasarkan hasil survey atau penelitian kami, masih banyak anak kelas 5 SD yang belum bisa membaca dan menulis. Ketiga, program belajar bahasa Inggris untuk anak SMP dan SMA karena kabarnya di desa Anggai tarada guru pengajar bahasa Inggris. Keempat, sosialisasi pentingnya kuliah, dan kelima adalah pemutaran film atau layar tancap. Ada kritik dan saran?”

Seorang pemuda berkaos putih langsung mengacungkan jarinya ke udara. Dengan suara yang lantang dan tegas dia pun mulai menyampaikan pertanyaannya pada saya, dia adalah pemuda kiri Marxist dari desa Anggai:

“Perkenalkan nama saya Arman Sambari. Pertama, terima kasih untuk mahasiswa UGM yang telah memberikan kesempatan untuk saya. Kedua, saya mengkritik karena mahasiswa tidak punya program resolusi kongflik Anggai-Sambiki. Perlu saudara tahu, program ini adalah program yang sebenarnya paling dibutuhkan oleh masyarakat. Torang perlu mengubah paradigma berpikir mengenai kongflik Anggai-Sambiki. Kedua,  untuk perpustakaan, jangan diisi dengan buku ilmu-ilmu yang positivistik saja ! Jangan hanya matematika, fisika, biologi. Kita juga butuh buku sosial seperti buku Tan Malaka, Soekarno, Haji Misbach, atau Engels. Ketiga, saya tidak setuju dengan program layar tancap. Itu sangat tidak efektif dan kalian sudah terlalu banyak program. Sekian dari saya, terima kasih”.

Saya mencoba menjawab saran Bung Arman sambil tersenyum kecil, “Terima kasih untuk sarannya abang. Nanti akan kami pertimbangkan. Tapi khusus soal buku, tenang saja karena kami juga membawa buku-buku sosial macam bukunya Tan, buku tentang orde baru, dan buku-buku lain. Hehe... Tapi maaf kalau tidak lengkap, karena buku ini merupakan buku sumbangan dari banyak orang. Jadi tidak semuanya: positivistik”.

Selepas saran dari Bung Arman selesai saya tanggapi, Gilang pun mendekat pada saya dan berbisik,

“Bajilak gus, kata-katane abot (berat) tenan”.

“Hihihi.. gokil yo lang !”.

Adalah Gita, mbak calon bidan yang mendapat kesempatan terakhir untuk memperkenalkan program-program bertema kesehatan. Dengan suaranya yang cempreng medhok, Gita pun memulai presentasinya:

“Selamat malam. Semoga belum bosan. Program kesehatan ini akan ada cek kesehatan gratis, posyandu, dan penyuluhan bahaya narkoba. Apakah ada tambahan bapak ibu?”

Tak berlangsung lama, seorang pemudi berhijab merah muda langsung menanggapi presentasi Gita. Suara kakak ini ternyata lebih cempreng dan melengking dibanding Gita. Plus: Volumenya lebih keras.

“Perkenalkan nama saya Ima. Saya punya saran, bagaimana kalau diadakan juga penyuluhan tentang PMS”.

“PMS itu apa kakak?” tanya Danan.

“Yo Pra-Menstruation Syndrom nan”, potong saya.

“Bukan, maksudnya Penyakit Menular Seksual. Kenapa? Karena di Anggai ini sudah ada satu orang yang terkena HIV. Disini banyak yang seks bebas. Jadi pemuda pemudi perlu tahu apa bahayanya dan cara pencegahannya”.

“Interupsi bidan Irma..”, Bang Komar tiba-tiba ikut ke dalam lingkaran lagi.

“Daripada repot sosialisasi, lebih baik sebutkan saja siapa nama orang yang kena AIDS. Nanti langsung saja kita lap-lap, kita usir dari sini”.

“Weeeee...” mendadak anak-anak KKN langsung siap menyanggah saran Bang Komar.

“Eeee... tara bisa ! Ada perlindungan undang-undangnya, kalau pengidap AIDS juga tidak boleh dijahati dan harus dirahasiakan”, ujar Kak Ima dengan tegas.

“Hehe... Tapi kan bahaya untuk generasi yang mendatang?”, sambung Bang Komar lagi.

“Cheee.. Bang Komar, kalau abang tidak “pokkk” sembarangan kan tidak bakal tertular”, celetuk Gilang, dan “Hahahaa...” semua pengunjung langsung tertawa mendengar nasihat Gilang pada Bang Komar. Bang Komar bukannya marah, malah ikut tertawa geli atas jawaban dari Gilang itu.

Jam sudah hampir menunjuk angka dua belas, tapi tawa belum juga usai karena seorang bapak paruh baya  ikut masuk berkomentar:

“Kita suntik saja supaya tidak homoseksual lagi !!!”

xD xD xD ...

 “Eeee...bapak...AIDS bukan cuma pada homoseksual saja...”, 

Malam ini saya lelah lejar karena tawa. Akan tetapi perasaan saya bungah melihat semangat masyarakat Anggai dalam menanggapi rencana program KKN yang kami sampaikan. Banyaknya kritik dan saran adalah pemantik harapan akan partisipasi masyarakat pada program yang sebentar lagi akan kami konkritkan.

Semua niat baik pasti akan dilancarkan. Saatnya menyulut Bara Obira !

23 Juni 2016

Danan, Bang Komar, Bung Arman

Gilang, Bang Al, Captain Tsubasa, Bang Yamin




“Besok pagi, adik-adik harus sudah berada di pelabuhan Kupal sebelum jam 8 pagi. Tiket kapal sudah saya pesankan. Saya tidak mau adik-adik tinggal lama di pesanggrahan ini, saya malu sekali rasanya kalau kalian lebih lama tinggal disini” – Pak Nur Kamarullah, 21 Juni 2016

Manusia boleh merencanakan, tapi akhirnya Tuhan lah yang menentukan. Agenda dua hari di Pulau Bacan akhirnya terpaksa batal akibat tragedi kandhang kambing yang terjadi kemarin. Secara mendadak, Pak Nur mengabarkan bahwa ia telah memesan tiket untuk Tim Baraobira supaya bisa berangkat hari ini, 22 Juni 2016, menyeberang menuju Pulau Obi. Bukan hanya memesankan tiket, beliau bahkan membayarkan tiket untuk kami ber-22. Terima kasih Pak Nur...

Ya, 22 anggota tim akan menyusul Gilang, Danan, dan Gatot yang sudah terlebih dahulu tiba di Pulau Obi. Sedangkan 4 anggota lainnya masih singgah di Pulau Bacan untuk menunggu kedatangan Dosen Pembimbing Lapangan yang akan menyusul 2 hari lagi. Tenang saja, mereka tidak menginap di pesanggrahan bau nan angker itu, mereka kabarnya akan mencari penginapan untuk mereka tinggal disana. Sampai jumpa Umar, Haviz, Ismi, dan Hasta !

---------------------------------------------------------

“Wih, hujannya kok air ya”, kata Gita, mahasiswi D4 Kebidanan yang “masyhur” akan tutur katanya yang receh dan nirmakna. Candaan aneh ini ia katakan sambil menengadahkan tangannya keluar dari jendela kapal yang baru kami tumpangi.

Kami su sampai di Pulau Obi !

Cuaca sedang mendung dan gerimis ketika kami tiba di Pelabuhan Jikotamo. Dari atas kapal, kami bisa melihat Gilang, Danan, dan Gatot sedang bergerimis ria sambil menunggu kami turun.

Kami segera turun dan menjejakkan kaki di Pulau Obi. Apa yang terlihat menarik dari Pulau ini? Ih, banyak sekali orang Tiongkok disini ! Siapa mereka? Sedang apa disini? Pertanyaan ini harus segera mendapat jawaban besok.

“Bagaimana perjalanannya?”, tanya salah seorang abang yang ikut bersama Gilang, Danan, dan Gatot.

“Hujan deras, ombak besar bang. Pusing di kapal, jadi tadi semuanya tidur...”, jawab saya. Berbeda dengan perjalanan laut Ternate-Bacan yang syahdu, perjalanan Bacan-Obi justru harus dilalui dengan ombak laut yang besar. Saya sempat mual dan hampir mabuk, tapi beruntung saya segera tertidur dan tidak sampai muntah.

Abang yang baru saja bertanya pada saya ini bernama Abang Rusdi. Ia mengaku selalu berkordinasi dengan Gilang perihal keberangkatan kami ke Pulau Obi. Selain Bang Rusdi, kami juga disambut oleh Abang Man alias Paman. Paman kabarnya adalah orang yang tahun lalu banyak membantu tim KKN Pulau Obi ketika bertugas di Laiwui dan Jikotamo.

“Ya, selamat sore adik-adik. Selamat datang di Pulau Obi. Sebentar, kita akan berangkat menuju Desa Sambiki dan Anggai, tempat adik-adik semua akan mengabdi. Nanti kita akan berangkat menggunakan Otto. Tahu apa itu Otto? Otto itu mobil. Setelah ini, kita akan berkunjung ke rumah Ompala Sambiki dulu, baru kemudian kita akan menuju Anggai. Apa itu Ompala? Ompala itu artinya Kepala Desa. Jadi adik-adik boleh segera mengemas barangnya dan menaruhnya di atas mobil pick-up, lalu segera masuk ke Otto yang sudah dipersiapkan”, terang Paman, mengajak kami untuk segera berangkat.



Pelabuhan Jikotamo/Laiwui
----------------------------------------------------------------------------

Saya suka Indonesia Timur karena para sopir Otto menyetel sound system mobil mereka dengan amat keras. Dengan sound superbassnya, mereka menerabas jalan off-road Laiwui-Sambiki dengan sungguh nikmatnya.

Dari jarak 100 meter lebih pun, saya yakin alunan lagu Oplosan dari Otto ini bisa terdengar dengan amat jelas. 

“Kalau di Jawa nyetel musik sekeras ini, kita bisa dihajar massa”, ujar Danan kepada Abang Sopir berbadan besar yang bernama Bang Iron.

“Kalau disini, tarada yang marah. Tara usah punya sound kalau mau setel musik kecil-kecil”, tanggapnya sambil tertawa.

Perjalanan Laiwui-Sambiki berlalu dengan suka cita. Bukan hanya karena musik sound yang menghibur, tapi juga karena pemandangan di kanan kiri jalan yang amat elok. Di kanan jalan, terhampar bukit-bukit hijau yang dipenuhi pepohonan cengkih dan pala. Di kiri jalan, terbentang pemandangan bahari yang persis berada di sebelah sabana tempat sapi-sapi mengunyah rumput.








-----------------------------------------------------------------------------


Rumah pertama yang kami kunjungi di Pulau Obi adalah rumah Ompala desa Sambiki. Ompala Sambiki bernama Bapak Haerudin, beliau sudah menjabat sebagai Kepala Desa Sambiki selama dua periode. Ompala memiliki perawakan yang tidak terlalu besar, namun rahang keras khas orang Timur plus warna kulit yang hitam kecoklatan tampak memberi kesan gahar padanya. Ompala Khairrudin sepertinya tidak terlalu ekspresif, raut mukanya terlihat datar - cenderung kaku - ketika menyambut kedatangan kami. Sore ini Ompala memakai kemeja warna abu-abu dan memakai sarung biru sebagai setelannya. Beliau duduk di atas kursi sofa, sedang kami duduk lesehan menghadap Ompala.

Saya merasa kurang suka dengan cara Ompala menyambut tamu,

“Ih, seperti menghadap raja”, bisik saya kepada Danan yang duduk di samping saya. Ishh.. Tak sampai satu detik, saya sedikit menyesal mengatakan itu. Barangkali memang begini budaya di Indonesia Timur, seorang Ompala mungkin memang sangat dihormati, sehingga tidak sepatutnya saya mempermasalahkan hal sekecil ini untuk menuruti ego anti-feodalisme saya. Saya pikir, saya harus lebih bersabar dalam menilai apa yang saya temui di depan mata.

Setelah semua duduk dengan rapi, Kormanit Gilang kemudian membuka pertemuan sore ini dengan prolog yang lebih berbau formalitas.

“Terima kasih telah menyambut kami. Disini kami hendak mengabdi, semoga ilmu yang telah kami peroleh di kampus bisa bermanfaat untuk warga Sambiki.”

Kormanit Gilang selanjutnya sedikit menjelaskan tentang rencana program kerja yang akan kami lakukan di Pulau Obi,

“Program utama kami adalah sosialisasi pengolahan sumber daya alam yang terdapat di Sambiki dan Anggai, terutama pengolahan daun cengkih menjadi minyak atsiri dan pengolahan batok kelapa menjadi briket. Selain itu, akan ada program pendidikan, pengolahan hasil laut, dan lain-lain”.

Selepas Kormanit Gilang selesai menyampaikan kalimat pembukanya, tibalah giliran Ompala Sambiki yang kini memberi sambutan. Diawali dengan prolog berupa ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih, Ompala selanjutnya justru sedikit menyinggung tentang keadaan sosial di Desa Sambiki dan Anggai.

“Desa Sambiki dan Anggai ini bertetangga, tetapi warganya tara akur. Sering terjadi perkelahian antar anak muda. Sebenarnya kalau saya sendiri tara punya masalah apa-apa. Saya menganggap semua adalah saudara. Tapi kalian tara usah terlalu memikirkan soal ini....”, cerita Ompala Sambiki, masih dengan wajah yang minim ekspresi.




Ompala Sambiki


-----------------------------------------------------------------------------

Tim Baraobira telah terbagi menjadi dua, yang separuh akan mengecap 40 hari di Desa Sambiki, sedang sisanya akan tinggal di Desa Anggai. Saya termasuk anggota Sub-Unit Desa Anggai.

Adzan maghrib telah berkumandang ketika kami (Tim Baraobira Sub-Unit Desa Anggai) bersama Bang Rusdi dan Paman tiba di rumah Ompala Anggai, Bapak Salamat Gorap. Ompala Anggai tinggal di rumah yang sangat sederhana. Rumah ompala berdinding kayu yang dicat dengan warna putih, lantainya tidak terbuat dari keramik melainkan semen yang diplester halus. Pintu rumah Ompala saat ini masih terbuka. Ketika pintu rumah orang Obi terbuka, artinya tamu boleh langsung masuk ke dalam rumah bahkan masuk hingga ke dapur – Hanya kamar yang tidak boleh disambangi.

“Assalammualaikum...”, kami tetap mengucapkan salam kendati pintu sudah terbuka.

“Waalaikumsalam... Sudah buka puasa kah? Mari kita buka puasa dulu”, sambut Ompala sambil tersenyum. Ompala Anggai yang berbadan cukup gempal ini, malam ini memakai kemeja panjang warna coklat, bersarung merah, dan memakai songkok warna hitam motif putih. Berbeda dengan Ompala Sambiki yang tadi terlihat gahar, ompala Anggai terlihat lebih ramah dan proaktif.

Kami duduk lesehan diatas kelasa anyam yang di beberapa bagian ditumpuk dengan matras hijau bermotif gambar warna-warni. Sembari menunggu datangnya hidangan buka puasa, Kormanit Gilang kembali membuka acara penyambutan ini.

Setelah memberi sambutan singkat dan memperkenalkan masing-masing anggota yang ada di tempat, kami kemudian menunggu giliran Ompala untuk memberikan sambutannya. Sebelum memulai sambutannya, Ompala menyuruh kami untuk minum teh terlebih dahulu supaya puasa kami batal.

“Selamat datang di Desa Anggai. Karena sudah berada di Anggai, maka adik-adik harus belajar juga menjadi orang Anggai. Belajar bahasa orang Obi. Kalau tidak, bilang tara. Tarada, itu artinya tidak ada. Orang timur ini kalau bicara keras-keras, tapi bukan berarti hati kami juga keras. Torang punya hati lembut”, ujar Ompala disambut dengan tawa kami.

Saya pikir Ompala Anggai telah menyambut kami dengan ramah dan baik. Setelah hidangan sampai di depan kami, Ompala bahkan memperkenalkan nama-nama makanan yang akan kami lahap:

“Kalau disini setiap hari torang makan dengan Ikang (Ikan). Semoga cocok dengan masakan timur. Ini disini ada panada, sayuran dari jantung pisang. Ini rica pedas (sambal), jangan makan banyak-banyak dulu”.

Bak politik meja makan à la Jokowi, kami dari pihak mahasiswa maupun desa sama-sama memanfaatkan moment buka bersama ini sebagai ajang untuk mendekatkan diri. Sembari menyantap hidangan nasi ikang yang gurih pedas, kami menyempatkan diri untuk menjelaskan rencana program-program kami: Sosialisasi briket, minyak atsiri, pengadaan taman baca, hingga kelas bahasa Inggris. Paman selanjutnya menambahkan kalau masyarakat juga perlu diajari cara pembuatan selai pala. Bang Rusdi jarang bicara serius, dia lebih sering menasihati supaya kami tidak boleh malu-malu ketika berada di Indonesia Timur. Sedangkan Ompala menutup perbincangan akrab malam ini dengan menceritakan suasana yang tidak akur antara Desa Anggai dengan Desa Sambiki (Sepertinya persoalan ini benar-benar serius !)

Tak terasa sudah pukul setengah 8 malam, kami mengakhiri buka bersama yang mesra ini dengan berpamitan pada Ompala. Bang Rusdi selanjutnya mengantarkan kami pada mama papa pihara masing-masing.

Gita dan Destya tinggal di rumah seorang bidan. Cocok sekali saya pikir. Gita yang notabene adalah mahasiswa D4 kebidanan akan mendapat teman berbincang yang sebidang.

Resti dan Istin tinggal di rumah Bapak Sukri, Tabah dan Devina tinggal di rumah sebelahnya yaitu rumah Ibu Nas. Sedangkan Nila dan Rosa tinggal di rumah Ibu Arfah.

Gilang bersama Baba tinggal di rumah Bapak Menko. Saya suka sekali nama papanya Gilang dan Baba, Bapak Menko pasti orangnya sangar ! Saya sendiri tinggal bersama Kormasit Danan di rumah Bapak Sami.

“Assalammualaikum, kami Bagus dan Danan, mahasiswa UGM yang akan tinggal disini selama satu setengah bulan, bapak”,

“Haji Sami !”, balas papa pihara saya sambil menjabat tangan dengan erat dan mantap.

“Wih, bapak’e dewe haji nan... Kudu sregep tarawih iki (Wih, ayah kita seorang haji nan. Kita harus rajin tarawih nih)”.

“Wadaw....”, balas Danan.

22 Juni 2016


Ompala yang berkemeja coklat, di sebelah kanannya ada Bang Rusdi



“Percayalah nan, daripada ke Singapore, perjalanan ke Obi ini jauh lebih menakjubkan. Ke Singapore mah tidak beda dengan pergi ke Jakarta”, kalimat ini saya katakan kepada Danan, kormasit tim KKN Desa Anggai, ketika kami sedang berada di kapal menuju Pulau Bacan. Bukan berlebihan, saya sungguh takjub akan suasana malam ini. Saya berada di bagian buritan kapal. Hembusan angin malam dari atas sini terasa cukup kencang, tetapi masih terasa lembut. Angin laut timur memang tidak dingin menusuk, malah ia terasa menyegarkan. Barangkali karena cuaca malam ini memang sedang cerah.

Ah ya, di malam hari, pulau Ternate terlihat sangat terang berkat ribuan kerlap-kerlip lelampu tepi kota. Berbeda dengan Ternate yang gemerlap, pulau Tidore yang ada di sebelahnya justru terlihat misterius. Tak banyak lampu yang terangi malam harinya. Terlihat pulau ini hanya diisi oleh beberapa kampung yang jarak antar kampungnya mungkin berpuluh-puluh kilometer. Dimana letak kilau Tidore? Mungkin ada dibaliknya. Entahlah...

Kapal terasa semakin cepat, kekuatannya memecah ombak menjadi buih-buih air yang beriak. Saat saya mulai tercenung, tiba-tiba bunyi intro sebuah lagu terdengar dari sound system dek yang disetel dengan volume amat keras. Aih,  speaker superbass ini memunculkan irama musik pop 80-an, dengan slow beat yang menggantung, yang kemudian diikuti oleh suara vokal dengan echo yang sedikit terlampau tebal:

Dingin di malam ini
Sandiri beta di dalam kamar ini...
Harusnya malam ini
Ale ada disini
Batamang beta
Gantikan bantal polo ini

Asyik... ternyata para crew kapal sedang berkaraoke lagu Ambon, saudara ! Kemudian, tak ada lain yang bisa saya lakukan selain tertawa melihat banyak penumpang ternyata hafal lagu ini. Mereka ikut bernyanyi bersama abang crew bertopi hitam yang dengan khidmatnya – sambil memejamkan mata- melantunkan lagu ini dengan fals.

Harusnya malam ini
Ale ada disini
Batamang beta
Gantikan bantal polo ini

Tak terasa saya telah ikut hafal  reff lagu ini...

-----------------------------------------------------------------------------

Kami sampai di pelabuhan Babang, Bacan, pukul 5 kurang seperempat pagi. Seluruh tim Baraobira tidak ada yang bangun untuk sahur karena tertidur kelelahan. Konon, imsyak disini baru dimulai pukul 5 pagi. Kekononan ini tak saya sia-siakan, saya segera meneguk air mineral yang saya minta entah dari siapa.

Sepertinya saya telah cukup istirahat. Ketika tersadar dari tidur, tubuh ini terasa cukup segar. Kami pun mencari tas dan barang bawaan kami masing-masing untuk dibawa turun dari kapal.

Pintu kapal pun dibuka, puluhan porter masuk ke dalam kapal siap  menawarkan jasa angkut untuk barang-barang penumpang. Sahut menyahut dengan volume suara yang lantang langsung membuat kami tersadar, kami sedang berada di Indonesia Timur !

Porter di pelabuhan Babang ternyata banyak yang masih muda. Para juvenil timur ini banyak yang berbadan besar dan tegap. Salah satu dari mereka kemudian mendekat ke arah rombongan kami:

“Asli mana abang? Mau kemana? Butuh bantuan?”,

“Dari Jogja abang. Ada tugas kuliah, KKN di Obi. Tidak usah, mau bawa sendiri saja”, saya menjawab abang porter ini sambil tersenyum, berharap abang porter tidak memaksa untuk mengangkut barang-barang kami (seperti banyak saya temui di Jawa).

Ternyata porter muda justru balik tersenyum dan menanggapi kalimat saya dengan ramah,
“Ih, jauh sekali e dari Jawa. Tahun lalu juga ada anak UGM yang KKN di Bacan”. Ketika ia mengatakan hal tersebut, beberapa porter muda lain menoleh ke arah kami. Mereka ikut mengarahkan senyumnya. Tak lama kemudian semua porter itu telah pergi untuk mencari penumpang lain yang butuh jasanya.

“Ih, keren ya ! Mereka nggak maksa, nggak kayak di Jawa. Kalau kita bilang nggak, mereka ya langsung cari penumpang lain. Padahal orangnya keras, tapi baik-baik ya..”, ujar Apoy mencoba menarik kesimpulan dari kejadian yang singkat tadi.

Kami turun mengangkut barang-barang kami. Anggota laki-laki banyak membantu mengangkat barang-barang milik perempuan - yang beban-bebannya jauh lebih berat. Setelah semua barang terkumpul di area luar kapal, ternyata kami sudah dijemput oleh sebuah bus yang disediakan oleh Dinas Pariwisata Halmahera Selatan.

“Kita mau kemana gil?” tanya saya pada Gilang, kormanit Baraobira.

“Mau ke pesanggrahan dulu”, jawab Gilang dan ia kemudian menyampaikan instruksi ke semua teman-teman,

“Selamat pagi teman-teman. Setelah ini, kita akan menuju ke Pesanggrahan yang disediakan pemda Halsel. Nanti, kita akan singgah dulu di Bacan 2 hari. Jadi, kita baru akan naik kapal ke Obi 2 hari setelah ini. Sekarang periksa barang masing-masing dan segera naik bus ya”.

-----------------------------------------------------------------------------

Perjalanan di bus diwarnai dengan candaan bahasa Ambon – yang semalam baru kita dengar di kapal.

“Beta... ingin berdua dengan ale... diantara daun... gugur......”

“Ale ale ale ale lagi, rindu rindu rindu lagi, ah bete beta, aiya iya iya...”

“Krincing-krincing”, gemerincing receh bersahutan dengan tawa kami yang begitu lepas. Sepertinya suasana syahdu nan gembira di kapal berhasil memberi energi positif pada tim kami.

Setelah kurang lebih 40 menit perjalanan, tibalah kami di pesanggrahan yang kami tuju. Pesanggrahan ini adalah rumah yang akan kami gunakan untuk menginap selama 2 malam. Tempat ini sudah dipesan oleh kormanit Gilang jauh-jauh hari sebelum keberangkatan kami ke Obi. Gilang yang berkordinasi dengan pemda Halsel meminta disediakan satu rumah saja supaya tim kami bisa mengambil jeda sejenak setelah perjalanan yang melelahkan selama lebih dari 36 jam. Selain alasan kelelahan, praktis ada satu alasan lain mengapa kormanit Gilang meminta kepada pemerintah daerah untuk menyediakan satu pesanggrahan ini: sampai detik ini kami belum mendapatkan kepastian 100% mengenai siapa mama papa piara kami. Untuk itu, Gilang bersama 2 kormasit yaitu Danan dan Gatot akan berangkat dulu ke Pulau Obi untuk memastikan siapa saja para mama papa piara. Sembari menunggu kepastian tersebut, anggota tim Baraobira lain yang berjumlah 26 diharap untuk singgah dulu di Bacan untuk rehat mengisi energi sejenak.

Turun dari bus, ternyata kami belum bisa langsung masuk ke pesanggrahan. Pesanggrahan yang modelnya mirip model rumah perumahan satu lantai ini masih terkunci. Selain itu belum tampak perwakilan pemda Halsel yang menyambut kami. Saya mencoba berpikir positif, santai saja lah, barangkali setengah jam lagi akan ada perwakilan Pemda yang datang.

Bak gaung bersambut, tak lama kemudian datanglah Pak Nur Kamarullah. Pak Nur adalah anggota dinas Pariwisata Kabupaten Halsel yang pagi ini mendapat tugas untuk menengok kami. Begitu turun dari mobil, beliau langsung memperkenalkan dirinya dengan ramah. Beliau bercerita bahwa beliau pun pernah merasakan kuliah di Jogja bahkan merasakan KKN disana. Menyadari bahwa kami terlihat cukup kelelahan, beliau akhirnya segera menyelesaikan ceritanya dan memberikan kunci pintu pesanggrahan.

Pintu pesanggrahan pun dibuka, saya sudah tidak sabar untuk segera menuju ke kamar dan segera menata barang lalu merebahkan badan. Namun tanpa disangka, kami justru disambut oleh banyak sekali sampah-sampah berceceran di ruang tamu depan. Puluhan plastik makanan ringan, kulit kacang, hingga kotoran tikus terlihat berdesakan dan berlomba ingin menjadi yang paling kontras. Begitu kami masuk ke dalamnya, debu-debu coklat terlihat menempel di atas meja kaca. Debu-debu ini saya rasa kaget melihat ada manusia lagi yang masuk ke ruang nyamannya. Ih, saya pikir rumah ini sudah berbulan-bulan, barangkali satu tahun tidak dibersihkan !

Kami masih mencoba berpikir positif dengan pemandangan yang kacau ini.

“Mungkin KKN memang harus prihatin sejak dari awal”, pikir saya.

Tak mau terlarut dalam suasana yang pengap ini, kami segera membuka pintu lebar-lebar dan memasukkan semua barang bawaan ke dalam pesanggrahan. Beberapa anak lelaki, termasuk saya membuka pintu belakang dan melihat seperti apa bentuk pesanggrahan ini dari dalam. Pesanggrahan ini ternyata cukup luas. Tepat didepan pintu yang baru saja kami buka, terbentang koridor sepanjang 10 meter, di sepanjang koridor itu terdapat 6 pintu kamar yang semuanya masih tertutup rapat. Di sebelah barat koridor, terdapat pendopo berukuran 3x3 meter yang dikelilingi oleh rumput-rumput liar yang cukup tinggi.

“Mbeeeek”, ternyata ada dua ekor kambing sedang menyantap rumput-rumput di sekeliling pendopo. Seketika saat melihat kedatangan kami, kambing itu langsung kaget dan gelisah. Mereka berlari mencari jalan keluar supaya tidak berpapasan lagi dengan manusia yang asing ini.

“Oh shit !!!”,

“Taekkk !!!”,

“Mbelek !!!”

Kali ini dengan kesadaran yang paling terang, saya katakan bahwa tiga kata diatas bukanlah suatu umpatan, namun ungkapan kesaksian atas realita yang ada di depan mata kami: Pesanggrahan ini penuh tahi kambing !

Sepanjang koridor, tahi-tahi kambing yang binal itu berjajar dari yang lembek basah sampai yang kering renyah. Di sela-sela rerumputan, tahi-tahi kambing lainnya saling berjejalan berusaha menampakkan warnanya yang gelap (mengkilap). Yang paling menyedihkan adalah keadaan pendopo : di atas lantainya terdapat banyak gelas dan piring kotor yang di dalamnya tak luput dari penjajahan tahi-tahi kambing.

Semua berubah sejak tahi-tahi kambing menyerang...

Kenangan sendu melagu di atas kapal, candaan bahasa Ambon yang menggairahkan dalam sekejap berubah menjadi kisah murung tentang bebauan feses yang menyebalkan.

Kisah belum selesai sampai disini. Melihat pesanggrahan yang sangat kotor, kami segera berinisiatif – daripada malah mengeluh - untuk segera menyucikan tempat singgah ini. Saya, Febri, dan Ongri mencoba mencari sapu di sepanjang koridor, tapi tidak menemukan.

Kami kemudian menuju pintu yang ada di ujung utara koridor. Pintu ini ternyata menghubungkan koridor tempat kami berdiri dengan rumah bagian belakang yang jauh lebih luas dan berlantai dua.

Setelah pintu berhasil dibuka, kami pun segera masuk ke sebuah aula yang luasnya sekitar 8x10 meter. Anehnya, begitu kami masuk, hawa dingin dan lembab langsung menyeruak dari sekeliling aula yang gelap ini. Aula ini saya yakin sudah lama tidak dibuka. Debu-debu tebal menempel di keramiknya yang putih, di bagian tengah terdapat sebuah meja makan yang dikelilingi oleh kursi-kursi kayu yang tidak tertata rapi, lalu di sebelah timur terdapat seonggok kursi tua yang memojok sendirian tepat di depan sebuah pintu.

“Ih, siapa sih yang taruh kursi itu di depan pintu?”, tanya Febri.

“Aku langsung merinding cuk liat kursi itu”, bisik Ongri.

Dalam imajinasi saya, di kursi itu sedang terduduk seorang kakek tua berambut putih, berwajah pucat dan matanya sayu, memakai sarung tapi tidak berbaju. Ia termangu menatap kami dalam diam yang datar dan dingin...

Sepertinya ini efek nonton Conjuring 2, hehehe...

Tanpa mau berlama-lama, kami pun segera mengalihkan fokus dari pemandangan creepy seonggok kursi di pojokan itu. Kami segera mencari air bersih demi membilas kumpulan tahi-tahi. Tapi malang... Baik kamar mandi yang ada di lantai satu maupun lantai 2, tidak ada satupun yang memiliki air mengalir. Di dalamnya hanya ada airkeruh yang tergenang di dalam bak, dipenuhi dengan kotoran cicak, tikus, dan ribuan uget-uget alias jentik nyamuk.

Melihat hal ini, selanjutnya tidak banyak hal lagi yang bisa kami lakukan. Kami tetap mencoba membersihkan ruangan depan sebisanya, menyiram tahi-tahi di koridor dengan air seadanya, lalu membersihkan debu yang ada dalam kamar dengan gebugan tangan semampunya.

Pada akhirnya, karena kelelahan para laki-laki tetap tidur di kamar-kamar berdebu di dalam pesanggrahan. Terhitung hanya ada dua kamar di lantai satu yang kami gunakan, sisanya begadang di ruang depan. Selain itu, tidak ada yang mau tidur di kamar atas – setelah Febri mengaku melihat kursi di lantai dua yang bergeser dan bergerak sendiri. Disisi lain, para perempuan Baraobira tidak ada yang kuat menghirup dedebuan yang ada di dalam pesanggrahan, mereka ber-16 akhirnya memutuskan beristirahat di Masjid dekat pesanggrahan (Di malam hari, mereka juga memutuskan untuk menginap di masjid ini).

Pada akhirnya Bacan yang kami kenang pun bukan tentang indah pulaunya, bukan pula tentang kilau batunya, namun tentang bebauannya. :)

Di tengah kekecewaan akan apa yang terjadi hari ini, saya masih bisa bersyukur akan tiga hal yang terjadi di Pulau Bacan:

1.    Pak Nur Kamarullah - selaku bagian dari pemda - dengan sangat ksatria meminta maaf dan mengaku menyesal atas apa yang terjadi hari ini. Beliau mengakui bahwa semua ini disebabkan kurang baiknya kordinasi di internal pemerintah sendiri (Semoga bisa jadi evaluasi untuk Pemda Halsel supaya tim KKN lain tidak bernasib sama seperti kami).

2.   Saya masih bisa menjelajah Pulau Bacan, mengunjungi Pantai Dermaga Biru dan Air Terjun Bibinoi. Semua ini berkat Joshua, kawan kami yang paling hobi berkeliaran. Dari hobinya berkeliaran, ia mendapat kenalan seorang pendeta yang sangat baik. Pendeta itu kemudian mengajak Joshua untuk mengexplore Bacan dengan mobil APV-nya. Joshua lalu mengajak saya, Febri, Destya, dan Devina.



3.  Suasana pesanggrahan yang kurang nyaman membuat saya dan Jovi semangat berangkat masjid untuk jama’ahan.

21 Juni 2016



Setelah selesai bersih-bersih pesanggrahan, kami ikut keluarga pendeta untuk baronda/jalan-jalan.
Dermaga Biru, Bacan

Air Terjun Bibinoi

Ukuran bus ini terlalu kecil. Sesaknya bus yang saya naiki membuat saya tertidur juga karena lelahnya duduk dengan ruang yang amat terbatas . Tak terasa waktu telah menunjuk angka tiga pagi. Ketika mata terbuka, kami telah tiba di pintu tol bandara Juanda. Timbul sedikit penyesalan, mengapa saya tidak terjaga dan melihat kota Surabaya? Sampai usia 21 ini saya belum pernah melihat secara langsung kota Surabaya. Surabaya justru lebih saya kenal lewat lagu-lagu Silam Pukau. Ah, Silam Pukau ! Lirik-liriknya selalu mampu menyendukan rasa dalam sekejap. Kesenduan yang menyayat dalam lagu Silam Pukau persis dengan kisah-kisah di Wonokromo dalam tetralogi Buru Pram (Wonokromo juga bagian Surabaya ya? Kesenduan Surabaya sungguh melegenda ya).

Jika mendengar kata pesawat, saya tiba-tiba teringat celetukan Al di Burjo Samiasih beberapa waktu lalu.

“Cuk, doakan aku selamat lah. Aku takut beneran naik pesawat”, ujarnya. Dalam ucapannya yang dibuat lugu itu, masing-masing dari kami membalasnya dengan tawa. Tak jarang kami malah semakin menakut-nakutinya, seperti halnya apa yang dilakukan Dape’

“Kamu naik Garuda to cuk? Segera tobat wae, garuda itu paling sering kecelakaan”,

Ucapan Dape’ disahut dengan tawa lepas, sedangkan Al kendati ikut tertawa tetap terlihat raut ketakutan di wajahnya.

Mengingat hal itu, saya sejujurnya ingin mengakui bahwa saya pun selalu ketakutan dalam setiap perjalanan berkendara. Bagi saya, perjalanan dengan moda transportasi apapun adalah waktu ketika diri dalam keadaan setengah mati. Ketika mengendarai motor dengan kecepatan diatas 70, kita mudah saja tergelincir dan jatuh. Ketika naik perahu, begitu mudah ombak liar menjungkir baliknya,lalu kita akan tenggelam. Ketika naik pesawat, siapa yang menjamin bahwa kita akan selamat dalam perjalanan 5 menit pertama? Kita begitu dekat dengan kematian ketika dalam perjalanan. Itulah mengapa setiap perjalanan tak bisa tidak harus diiringi dengan doa dan perasaan pasrah ikhlas.

Bismillahirahmanirrahim,

Perjalanan dengan pesawat pun dimulai pukul 6 pagi dari Juanda…

TIBA DI PULAU TERNATE

Saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini ! Ternate ternyata adalah sebuah gunung yang terletak di tengah laut biru. Layaknya kebanyakan gunung, ia berbentuk seperti topi caping, mengerucut dari kaki ke puncaknya. Dari jendela si burung besi, saya bisa menyaksikan sebuah gunung besar yang hijau, yang di kakinya lah terlihat adanya peradaban. Peradaban itu adalah kota Ternate yang sebentar lagi akan saya jajaki !

Sriwijaya air yang kami tumpangi akhirnya selesai juga mengepakkan sayapnya di Bandara Sultan Babullah. Begitu sampai di Ternate, kami disambut oleh terik matahari timur yang begitu menyengat. Aih, ini lebih panas daripada matahari Jogja… Kulit tubuh yang masih lembab oleh dinginnya AC pesawat pun tak pelak kaget ketika harus menyesuaikan dengan udara yang kering dan panas ini.

Namun fokus pada panas Ternate bisa segera teralihkan oleh pemandangan bandara Sultan Babullah yang terletak tepat di tepi laut dan tepat pula di lereng gunung. Ya, bandara ini diapit oleh laut dan gunung sekaligus. Ia diapit oleh warna biru dan hijau ! Ternyata begini keindahan Pulau/Gunung Ternate.





Pulau/Gunung Ternate?

Di depan bandara, kami sudah dijemput oleh enam mobil. Saya tak tahu mobil-mobil ini akan membawa kami kemana, kabarnya ia akan membawa kami ke rumah saudara dari Umar, salah satu anggota tim KKN kami yang merupakan putra asli Ternate. Yang jelas, saya hanya ingin segera naik mobil: bukan sekedar untuk menghindari terik matahari yang menyengat, namun juga untuk melihat dari balik kaca seperti apa kota Ternate itu.

Ternate ternyata adalah sebuah kota yang modern dan sudah sangat tersentuh oleh arus pembangunan. Sepanjang jalan, kita bisa melihat pertokoan, kantor-kantor jasa, bahkan mall. Ia tidak begitu berbeda dengan Sleman, hanya saja kota Ternate terlihat lebih rapi dan bersih. Arus lalu lintas disini masih belum padat. Ia tidak seperti Jogja apalagi Jakarta, yang begitu macat. Yang indah dari Ternate adalah, Kota Ternate benar-benar terletak di tepi laut. Jadi, kita bisa melihat sebuah kota yang rapi dan modern di samping kanan, dan hamparan laut biru di sisi lainnya.

CELETUKAN WATON AZRI

Ternate adalah perpaduan kota yang modern, gunung yang menjulang, dan laut yang menghampar. Pemandangan tipe ini baru sekali saya lihat, pun dengan teman-teman yang satu mobil dengan saya: Gatot, Azri, dan Febri. Hal ini membuat kami enggan tertidur meskipun badan sebenarnya sangat lelah.

Perjalanan ini pun diisi dengan candaan dan puluh komentar atas apapun yang kami temukan di depan mata,

“Wih..ada mall juga”

“Wih..banyak masjid gede ya”

“Ih, tukang cukurnya tetap orang Madura ya”, kata Azri.

Abang supir pun menyahut candaan kami dengan logat timurnya,

“Torang tidak percaya kalau cukur bukan sama orang Madura”,

Suasana pun menjadi cair berkat sikap kami yang seperti anak SD sedang berwisata.

Sampai akhirnya ketika kami mulai memasuki perkampungan, mobil kami harus terhenti karena seorang bocah perempuan yang bersepeda di tengah jalan.

“Piiip..Piip”, Abang Sopir memberi klaxon pada bocah tersebut.

 “Asik benar ya, sepedaan di tengah jalan”, sahut saya.

Semua masih berjalan normal, hingga tiba-tiba si Azri, kawan kami dari fakultas Biologi menyampaikan sebuah candaan tentang si bocah yang sungguh tidak intelek, alias telek...

Sambil tertawa dan nyengir si Azri berkata “Kayaknya ini standar pendidikan disini coy”,

Zingggg..... komentar Azri atas si bocah pesepeda itu sungguh diluar dugaan kami. Sebelum saya sempat memikirkan dimana letak cacatnya candaan ini, entah bagaimana suasana tiba-tiba sudah menjadi asing dan dingin. Dalam batin, saya berdoa semoga si abang sopir tidak tersinggung atas candaan yang mirip candaan Billy Saputra itu.

“Cuk, lek dihajar abang sopir yo modyar iki !”, batin saya.

Si Gatot langsung menginjak kaki Azri. Si Febri mungkin hendak sedikit menanggapi dan mencairkan suasana. Saya juga ingin mencoba tertawa.

Namun gagal... Semua terdiam dan suasana menjadi begitu awkward. Untuk pertama kalinya kami merasakan dingin yang menusuk di kota Ternate.

Zingggg... sisa perjalanan 10 menit terasa seperti 10 tahun. Beruntung si abang sopir tidak menanggapi candaan tadi, entah tidak dengar atau pura-pura tidak dengar.

------------------------------------------------------------------------------------------

“Bajilak, pekok tenan kowe jri...”, seru Gatot,

“Ati-ati lek guyon jri, ojo kemaki”, sahut saya sedikit jengkel. Saya pikir, secara nirsadar terselip  rasa superioritas barat atas timur dalam candaan ini. Hal yang sangat haram dilakukan oleh mahasiswa yang hendak terjun KKN.

“Wah..sori tenan mas, aku keceplosan”, balas Azri terlihat menyesali perbuatannya yang sporadis tadi.

Turun dari mobil, kami pun disambut oleh keluarga dari Umar. Mereka tinggal di sebuah perkampungan dekat pantai Falajava. Kami yang berjumlah 29 akhirnya dibagi dalam 3 rumah. Beruntung, khusus para laki-laki, kami diberikan penginapan supaya bisa istirahat dan mandi dengan nyaman. Ah ya, kami memang tak punya waktu banyak di Ternate. Ini sudah pukul 2 siang, dan nanti jam 9 malam kami harus sudah tiba di Pelabuhan Bastiong untuk melanjutkan perjalanan menuju Pulau Bacan.

Saya beristirahat sejenak di kamar penginapan yang sebelumnya telah dipesankan oleh Bibinya Umar. Rencananya, saya hendak tidur puas sampai waktu menjelang buka puasa.

Buka puasa???

Wih..wih.. saya baru ingat, saya kan sudah makan nasi ayam, teh hangat, dan puding strawberry di Sriwijaya Air tadi pagi.

“Duo sipit, menelan di udara”, tulis Ongri di status Linenya, menyairkan kisah Bagus dan Apoy, 2 sahabat musafirnya...

Ternate, 20 Juni 2016


Saya tidak jadi tidur. Akhirnya ngabuburit di Pantai Falajava, Ternate.



Azri yang pakai topi Baraobira. Hai cah waton ! Huehehe..


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018