bagus panuntun

berubah!

Waktu selalu memberi jeda demi pergantian euforia. Ada tempo yang harus turun setelah perjamuan. Ada masa reses yang tak boleh dilewatkan.

Hari ini tak ada agenda resmi. Setelah penyambutan panjang yang penuh kesan, kami punya waktu tiga hari menuju program pertama: Kelas Membaca.

Untuk 3 hari yang senggang, masing-masing dari kami menerjemahkan kesenggangan ini dengan caranya sendiri. Kalau saya, saya ingin lebih dekat dengan mama papa piara.

Apa itu mama papa piara?

Mama papa piara adalah keluarga yang akan mengasuh, mengurus, hingga menjaga kami selama kami berada di lokasi KKN. Mereka orang yang sudi menerima dua anak muda baru (asing) tinggal dalam rumahnya: menyediakan kamar lengkap dengan segala instrumen menuju mimpi, memasakkan nasi lengkap dengan lauk penuh nutrisi.

Kita tak bisa menilai kadar keikhlasan seseorang, tapi yang jelas keluarga mama papa piara tidak pernah diberitahu apa yang akan mereka dapatkan setelah merawat kami selama hampir dua bulan. Apa yang didapat kalau bukan hari-hari yang merepotkan?

Saya tinggal di rumah Papa Haji Sami. Di awal perjumpaan, saya masih memanggilnya bapak, namun hanya butuh 1 hari sampai akhirnya saya dan Danan telah memanggil Haji Sami dengan panggilan “Papa”.

Papa Haji adalah seorang keturunan asli suku Tobelo-Galela, suku asal Maluku Utara yang menjadi suku mayoritas di Desa Anggai. Dulu papa biasa bekerja di tambang emas Anggai, namun setelah pulang haji di tahun 2015 bisnis emasnya kurang lancar. Papa pun kini lebih sibuk berkebun, menunggu cengkih yang sebentar lagi panen. Papa juga punya kebun kelapa dan kebun pala yang sudah banyak berbuah.

“Tambang emasnya sudah kosong bapak ?”

“Masih, tapi mesin tromol sedang service. Semoga setelah lebaran papa bisa mulai lagi”.

Papa di usianya yang kepala lima telah dikaruniai tujuh orang anak, dua laki-laki, dan lima perempuan. Hanya saja kedua anak laki-lakinya telah meninggal.

“Sekarang sudah ada Bagus dan Danan, jadi papa su ada dua anak laki-laki lagi”, ujar papa kemarin sambil tertawa kecil.

Sekarang papa Haji tinggal bersama Mama Haji dan dua anak perempuannya: Kak Atik dan Onco. Kak Atik adalah perempuan yang satu tahun lebih tua dari saya. Di usianya yang menginjak 23, ia baru saja selesai semester empat kebidanan di sebuah kampus swasta di Jogja. Kak Atik adalah cerminan perempuan timur yang tidak bisa pelan kalau bicara. Kak Atik mudah akrab dengan saya dan Danan.

Sedang Onco, dia adalah anak bungsu papa mama haji yang kini baru kelas 2 SMA. Onco sangat  pemalu. Danan berkali-kali memperingatkan Onco supaya tidak malu pada kami.

“Eee.. Onco, sini makan bareng kakak. Tara usah malu-malu. Sini duduk !”

“Iyo Onco, bagaimana, harusnya kan kakak yang malu bukan kamu yang malu. Bagaimana kamu malu di rumah sendiri?”, tambah saya. Onco lalu tertawa dan ikut makan dengan saya dan Danan.

Bagaimana dengan mama haji? Mama Haji sangat baik pada anak piaranya. Mama selalu membangunkan saya dan Danan yang sudah 2 pagi tidak mempan oleh alarm HP. Selain itu, mama suka menawarkan teh atau kopi kepada kami. Sependek ini, hal yang paling saya tahu dari Mama Haji adalah: Masakannya sangat enak.

Mengapa kata “haji” selalu tersemat di belakang panggilan mereka?

"Abang haji !"

"Bapak haji !", "Ibu haji !"

"Tua haji (Paman) !" 

"Tete haji (Kakek) !", "Nene haji (Nenek)"

Ini adalah persoalan kultur budaya. Semua orang yang pernah ke tanah suci akan mendapat kehormatan yang tinggi di mata masyarakat Anggai. Nama “haji” kemudian tak hanya tersemat pada nama yang tertulis, tapi juga nama yang terucap.

Nama “haji” memang sangat istimewa. Papa Haji Sami bahkan memiliki panggilan sayang pada Mama Haji dengan sebutan “haji”.

Ya. Begitu memang. “Haji”.

“Hajiii... mana Bagus? Su waktu batal puasa. Dia kosong?”, teriak papa pada mama, menanyakan saya yang tak nampak di meja makan.

Ini terjadi saat buka puasa pertama di Desa Anggai 2 hari lalu. Saat itu saya terlalu asyik baronda bersama Bang Rusdi, Destya, Devina, Apoy, Jovi, dan Ongri sampai tak sadar matahari telah terbenam dan adzan maghrib telah berkumandang.

“Ih abang, saya pulang dulu e. Tara enak kalau tara buka puasa di rumah”, pamit saya pada Bang Rusdi.

“Ini minum gopoa dulu”, jawab Bang Rusdi sambil menunjuk kelapa muda yang baru saja dipetiknya.

Adakah yang kuasa menahan godaan kelapa muda di waktu berbuka? Gopoa ! Air paling menyegarkan kedua di dunia ! (Setelah zam-zam).

Akhirnya saya pun memilih berbuka dengan gopoa, menunda kemesraan berbuka bersama keluarga.

“Setelah ini saya segera pulang dan minta maaf lah”, pikir saya.

Bodohnya, saya tak memikirkan nasib Ongri, Apoy, dan Jovi yang rumahnya di Sambiki. Mau tak mau, harus ada yang mengantar mereka pulang. Tidak mungkin saya biarkan mereka berjalan menempuh 4 km di bawah langit yang gelap? Belum lagi cerita dunia malam Anggai-Sambiki yang dihuni para penikmat cap tikus, atau sial-sial bisa saja malah bersua dengan suwanggi (semacam kuntilanak).

“Danan, dimana Bagus?”, tanya papa haji pada Danan yang sudah siap menyeruput es cukur yang segar.

“Tara tau papa. Tadi sama Bang Rusdi”, jawab Danan.

“Danan jangan makan dulu. Cari Bagus ke rumah Usdi”.

Akibat kekurangajaran saya, akhirnya Danan harus menunda saat berbuka dan mencari saya kesana-kemari. Hingga hampir pukul 7, Danan tak kunjung juga menemukan saya dan akhirnya kembali pulang.

“Assalamualaikum...”, akhirnya saya pulang dari Sambiki pukul 7 dan segera masuk rumah, menuju ke dapur mencari mama papa. Saya harus segera meminta maaf karena tidak buka di rumah !

Sayangnya, rumah sedang kosong dan hanya ada Danan yang tengah duduk menikmati es cukur.

“Gus, ndek mau digolek papa haji (Gus, tadi dicari papa haji)”,

“Wah ngapura nan, aku bar nganter Ongri Apoy Jovi ning Sambiki (Maaf nan, saya baru mengantar Ongri Apoy Jovi pulang Sambiki)”,

“Mangan sik, luwe. Aku mau kon nggolek kowe sik. Lek dhurung ketemu, ra entuk mangan ning papa (Makan dulu, lapar nih. saya tadi harus cari kamu dulu. Kalau belum ketemu, papa belum kasih izin makan)”,

“Lha saiki papa haji nangdi nan? Bajigur.. ra kepenak iki aku karo Papa. Lek karo kowe sih biasa wae (Sekarang papa dimana nan? Sial, saya tidak enak hati sama papa. Kalau sama kamu sih biasa saja)”.

“Mangkat tarawih kayane (Sepertinya berangkat tarawih)”.

Melewatkan buka pertama bersama mama papa adalah penyesalan pertama yang saya rasakan setelah tiba di Obi. Buka puasa pertama di Anggai menjadi pembelajaran yang mahal: Kita perlu menghargai waktu keluarga yang mungkin tidak akan sebanyak waktu program kerja.


Rumah Papa Haji
Papa Haji

-----------------------------------------------------------------------------

Waktu selalu memberi jeda demi pergantian euforia. Ada tempo yang harus turun setelah perjamuan. Ada masa reses yang tak boleh dilewatkan.

Kami punya waktu tiga hari menuju program pertama: Kelas Membaca.

Di hari pertama kesenggangan ini, saya menghabiskan hari dengan pergi ke kebun papa haji. Bersama Gilang, Danan, Baba, Devina, Bang Rusdi dan tentu saja Papa Haji, kami berjalan menuju kebun yang berjarak sekitar 2 km dari rumah.

Kebun yang hari ini kami jelajah adalah kebun kelapa: kebun Igo, kebun gopoa. Igo itu kelapa tua, kalau gopoa: kelapa muda.

2 hari lalu sebelum kami pergi kesini, saya berpapasan dengan papa haji di depan rumah samping timur masjid. Papa Haji tengah berbalut busana muslim: peci putih bersih, baju koko coklat bermotif hitam dan emas, sarung warna coklat yang rapi, dan berkalung sajadah hijau.

“Bagus, darimana tadi tidak buka di rumah?”

“Maaf papa, baru antar teman ke Sambiki. Maaf papa ya, tadi tara izin dulu”. Saya menjawab dengan penuh perasaan bersalah.

“Kalau mau pergi tara apa-apa, yang penting odo (makan) dulu di rumah, nanti pergi lagi boleh. Kata Danang, tadi Bagus di rumah Usdi?”

“Saya, papa. Tadi dari kebun petik kelapa”.

“Suka kelapa?”.

“Suka sekali papa. Maaf tadi lupa waktu saat di kebun”.

“Kalau suka kelapa, besok ke papa punya kebun saja. Hantam, makan semuanya boleh, asalkan kuat”.

Alih-alih mendapat murka, papa haji justru mengajak saya ke kebunnya. Dan hasilnya: hari ini kami membawa 12 gopoa segar dari kebun papa.

24 Juni 2016


Menuju Papa Pe Kebun

Papa Haji

Baba: Kok enak dev, ra puasa?



“Teman-teman, di awal-awal KKN ini jangan dulu pikirkan soal program. Tugas awal kita adalah bersosialisasi dengan masyarakat. Jangan segan untuk menyapa orang di jalan. Kalau berjalan jangan bergerombol, orang sini tidak suka lihat kita bergerombol”, ujar Kormasit Danan yang memulai pagi pertama di Anggai dengan rapat singkat di muka balai desa.

“Danan, saya sarankan kita harus jalan-jalan dulu ke Sambiki supaya kita juga tahu rumah teman-teman kita yang ada disana. Siapa tahu kita butuh kordinasi mendadak kan mudah carinya”, saran saya kepada Kormasit Danan, teman-teman yang lain ikut mengangguk.

“Oke, sepakat. Mumpung masih selo, setelah ini kita jalan-jalan ke Sambiki, nanti dilanjutkan dengan keliling Anggai. Sekali lagi, jangan bergerombol”, kormasit mengulangi instruksi ini untuk kedua kalinya.

Sesuai titah kormasit, kami pun mulai berjalan tanpa bergerombol menuju Desa Sambiki, desa yang tepat berada di sebelah barat Desa Anggai. Belum sampai 100 meter berjalan, Bang Rusdi tiba-tiba menyapa kami, “Hei, mau pergi kemana kalian?”,

“Ke Sangkibi bang, alias Sambiki. Mau jalan-jalan dan kordinasi dengan anak-anak yang ada disana”.

“Oke, saya ikut baronda. Disini kalau jalan-jalan, orang bilangnya baronda”, ujar Bang Rusdi yang langsung ikut bergabung. Karena sudah ada bang Rusdi, kami pun akhirnya bergerombol mengikuti Bang Rusdi, menempatkan diri sebagai sekelompok baru yang ditemani seorang guide.

“Permisi bapak...”,

“Mari mama...”,

Kami tak henti-henti menyapa orang-orang yang bertatap di tepi jalan. Sekali-kali mereka bertanya siapa kami dan dalam hajatan apa kami sampai di Obi. Kami pun menjawab satu persatu pertanyaan dengan santai dan tenang.

“Kami mahasiswa dari UGM Jogja mama... Mau KKN atau Kuliah Kerja Nyata disini”,

“2 tahun lalu disini juga ada yang KKN dari Unkhair (Universitas Khairun) Ternate. Tapi kalian, jauh sekali e dari Jawa kesini...Semoga betah di Pulau Obi e”, ujar seorang mama yang kami temui di jalan.

“Nanti malam, akan ada perkenalan mahasiswa dengan warga. Datang saja ngoni (kalian) ke Balai Desa”, Bang Rusdi tiba-tiba memotong pembicaraan kami.

“Haa, serius nanti malam bang?”, kami justru kaget dengan perkataan Bang Rusdi. Kami memang sudah berencana akan mengadakan malam perkenalan dan presentasi program, tapi bukan malam ini.

“Iya nanti malam. Tara usah terlalu lama, warga juga sudah ingin kenal dengan kalian”.

 “Eee.. ini tokoh pendidikan satu ini, sukanya semaunya sendiri e. Iii..abang ini”, ujar Gilang sembari menepuk pundak Bang Rusdi. Gilang, kormanit berambut kribo ini memang paling mudah akrab dengan orang-orang Anggai. Gaya bahasanya yang ceplas-ceplos cenderung kasar ternyata sangat cocok dengan budaya bergaul di Indonesia Timur. Tak ayal, Gilang pun berani memanggil bang Rusdi dengan sebutan “Tokoh Pendidikan”, bentuk panggilan yang menandakan keakraban. Penting dicatat, Bang Rusdi ini memang tokoh pendidikan Desa Anggai yang menggagas berdirinya SMK pertama di desa Anggai-Sambiki, yaitu SMK Peduli Bangsa. (Akan ada catatan khusus membahas Sekolah Peduli Bangsa)

“Eee...sudah, persiapkan saja buat nanti malam. Jangan lambat. Orang timur tara suka lambat-lambat. Saya sudah kordinasi dengan Desa”, jawab Bang Rusdi sambil tertawa, sepertinya ia puas mengerjai kami.

“Oke, boleh dah. Siappp...”, sambut kormasit Danan mengamini perkataan Bang Rusdi.

Dalam baronda hari ini, saya lebih sibuk mengabadikan puluh momentum yang ada di Anggai-Sambiki. Memotret rumah-rumah, anak-anak yang sedang bermain, hingga pepohonan yang saya temui di tepi jalan. Saya yakin, jika esok saya telah kembali ke Jawa, pasti akan ada banyak tanya tentang hal-hal tersebut,

”Rumah-rumahnya masih adat ya?”,

 “Orangnya hitam-hitam dan keriting ya?”,

“Tinggal di pedalaman ya?”,

Pertanyaan-pertanyaan yang bermuara dari asumsi-asumsi banal tentang timur ini sebaiknya tak sekedar dijawab dengan cerita, tetapi juga dengan tangkapan mata kamera.






Pohon kelapa disini punya tinggi dua kali pohon kelapa di Jogja


 -----------------------------------------------------------------------------

Speaker TOA Masjid Anggai berbunyi, “Pengumuman kepada seluruh masyarakat Desa Anggai. Sebentar malam sehabis tarawih, akan ada perkenalan dengan mahasiswa KKN dari UGM, Jogja. Kepada seluruh masyarakat Desa Anggai untuk bisa datang ke Kantor Desa”.

 “Wih, wangun tenan... Diumumke lewat masjid nan (Wih keren sekali, diumumkan lewat masjid nan) !”, ujar saya kepada Danan yang sedang menikmati menu buka puasanya, ada nasi ikang plus es cukur.

“Bajigur, berarti akeh sing teka iki. Mantap dah, kudu sangar ! (Berarti ada banyak orang datang nih. Mantap dah, presentasi kita harus keren !) ”. Kormasit Danan terlihat bersemangat menyambut malam perkenalan dan presentasi yang akan berlangsung 2 jam lagi.

“Mengko alur presentasine meh piye nan? (Nanti alur presentasinya mau bagaimana nan?)”

“Mengko aku sing bukak sik. Terus perkenalan masing-masing anggota. Njuk mengko aku presentasi sing bidang pertanian dan teknik, Gita sing bidang kesehatan, njuk kowe sing pendidikan mas (Nanti saya yang akan memberikan sambutan pembuka, dilanjutkan perkenalan masing-masing anggota. Lalu saya akan presentasi bidang pertanian, perikanan dan teknik, Gita di bidang kesehatan, dan kamu bidang pendidikan mas)”.

“Siap bos !”...

-----------------------------------------------------------------------------

Kursi-kursi plastik berwarna hijau telah disusun rapi melingkar, pelataran balai desa yang luasnya tak lebih dari satu lapangan badminton ini pun mulai didatangi oleh warga Anggai satu persatu.

12 anggota tim telah datang berkumpul dan siap untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. Malam ini, hampir seluruh anggota Baraobira memilih memakai kaos oblong dengan celana atau panjang, plus beralas kaki swallow. Tak ada yang memakai almamater. Sejak awal, kami seia sekata untuk tampil seegaliter-egaliternya. Hal ini pun didukung Bang Rusdi, abang yang sedari kemarin paling banyak membantu kami.

Beberapa orang Anggai yang sudah saya kenal pun datang satu persatu dan menyalami kami. Selain Bang Rusdi, ada bang Komar, kepala pemuda desa Anggai. Bang Yamin, seorang guru muda SMA. Dan Bang Arman, pemuda Marxist desa Anggai yang tadi malam berkenalan dengan saya.

Arman  : “Mas Bagus ikut organisasi eksternal?”

Saya       : “Tarada abang, Gilang yang ikut GMNI. Saya bergaul saja dengan semua anak pergerakan”

Arman  :  “Saya ikut organisasi Pembebasan di Ternate”

Saya       :“Wih, kiri abang?”

Arman  :“Kalau kata Marx itu, kapitalisme kan bekerja melalui tiga cara: ekspoitasi, penyerapan nilai lebih, dan ............bla..bla..bla...............”,

Begitulah petikan percakapan singkat saya tadi malam dengan Bang, eh Bung Arman, seorang mahasiswa Anggai yang paham nglothok teori-teori revolusioner Marxist. All hail Bung Arman !!!

Wih, ternyata Desa Anggai memiliki pemuda-pemuda dengan pemikiran-pemikiran kiri revolusioner, sungguh saya makin penasaran akan desa ini !

-----------------------------------------------------------------------------

Kembali ke acara perkenalan...

Mendekati pukul setengah 10, balai desa telah dipenuhi oleh masyarakat Anggai. Para warga berdatangan mulai dari anak-anak, kakak-kakak, mama papa, hingga nene tete.

Kami mulai duduk membaur bersama warga. Saya duduk di antara Bang Yamin, dan seorang abang muda bernama Al-Khadrin. Selagi acara belum resmi dibuka, kami sempat berbincang sejenak dan akhirnya saya tahu bahwa Bang Al adalah pemuda Anggai yang baru saja lulus sarjana bidang Ilmu Pertanahan.

“Ih, disini banyak sarjana ya abang ya?”, tanya saya pada Bang Al.

“Banyak, kebanyakan anak sini kuliah di Ternate”, sambungnya singkat.

“Abang kenapa ambil ilmu tanah? Ada permasalahan tanah di Anggai kah?”

“Iyo ada. Pencemaran tanah karena limbah tambang emas. Pergerakan air dari tambang di dataran tinggi kan sampai ke pemukiman yang ada di dataran rendah. Dampaknya mungkin akan terasa 20-30 tahun lagi. Tapi saya ambil ilmu tanah karena saya memang hobi kimia”.

Penjelasan dari Bang Al kemudian memberikan pengetahuan baru pada saya mengenai desa Anggai. Desa ini ternyata memiliki tambang emas yang sedikit banyak berdampak pada kehidupan masyarakat Anggai -  baik dampak lingkungan maupun dampak sosial. (Akan saya tulis di catatan depan)

Acara pun dimulai dengan prolog dari Kepala Pemuda. Bang Komar yang malam ini memakai setelan  jaket dan jeans biru, tampak tampil gagah dan belia. Kepala pemuda ini memulai prolognya dengan mengucapkan permintaan maaf karena Ompala Anggai tidak bisa hadir di malam perkenalan ini. Dari prolog yang Bang Komar sampaikan, keluarlah sepatah kalimat – semacam adagium – yang menjejak kesan di benak saya:

“Inti KKN itu ada 2: Bermasyarakatlah, baru bermanfaatlah”,

Luar biasa ! Sepatah kalimat itu sebaiknya ditulis dengan tinta tebal, dipasang di tepi atas kaca kamar, lalu dibaca sambil bersuara di tiap awal pergantian hari, supaya kita terus sadar: KKN bukan kegiatan formalitas untuk mengejar jam program semata, namun wahana bagi kita untuk berlatih membaur menjadi sederajat dengan masyarakat.

Kini tiba  giliran kormasit Danan untuk memberi sambutan. Di sambutan malam ini, Danan mencoba menekankan bahwa kami tim Baraobira datang tidak berbekal uang, tidak pula berbekal harta, hanya ilmu seadanya yang semoga bisa memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat Anggai.

Kami pun memperkenalkan diri kami satu-persatu. Ini bagian yang cukup saya suka. Gelak tawa mulai mengalir sejak warga Anggai suka memotong sesi perkenalan kami dengan celetukannya yang jenaka,

“Perkenalkan, nama saya Bagus....”,

“Kaka Bagus !!! Kaka cantik !!!” teriak seorang mama berusia 40-an pada saya yang malam ini rambutnya terurai lurus panjang.

Tawa pun menyeruak..

Tawa lain juga tumpah saat Nila memperkenalkan dirinya dengan volume gaya timur,

“Perkenalkan nama saya Nila !!! Sudah mirip orang timur kah???”, tanyanya sambil berteriak.

Warga pun langsung geli melihat usaha kami untuk meng-Anggai-kan diri. Jenaka..


Sosok Bang Komar
-----------------------------------------------------------------------------

PRESENTASI PROGRAM

Lepas memperkenalkan diri satu persatu, tibalah saatnya untuk mempresentasikan program-program kerja tim Baraobira.

Kormasit Danan memulai presentasinya,

“Pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan program-program kami khususnya di bidang pertanian, perikanan dan teknik. Pertama, ada pengolahan daun cengkih menjadi minyak gosok atsiri. Kedua, pengolahan batok kelapa menjadi briket. Ketiga, pengolahan buah pala menjadi selai. Keempat, pengolahan ikan menjadi nugget dan abon. Kelima pengadaan panel surya untuk desa. Keenam, penyuluhan manfaat pupuk kompos. Dan yang ketujuh ini adalah program baru kami yaitu pembuatan tempat sampah umum. Mengapa? Karena kami cukup prihatin dengan sampah di desa Anggai yang masih dibuang di rawa dan di laut. Kalau ada tempat pembuangan umum, sampah bisa dibuang di tempat lalu dibakar. Dampak lingkungannya ada, tapi cenderung lebih kecil dibanding jika dibuang di rawa dan di laut. Ada pertanyaan?”.

“Mas Danang, bisa bikin gapura desa kah? Kan kita belum punya gapura untuk batas desa. Sama tambah satu lagi, denah desa e?” tanya Bang Komar.

“Kalau denah desa bisa, karena kami punya Umar yang anak jurusan geografi. Tapi sejujurnya, kami tara mempersiapkan program pembuatan benda fisik. Namun seandainya desa memiliki program pembuatan gapura, kami siap membantu”.

“Iya... soal dana, nanti kan desa yang pikirkan. Yang penting mahasiswa siap”, tambah Bang Komar,
“Boleh abang”, tutup Danan.

Kini giliran saya untuk mempresentasikan program-program yang berhubungan dengan pendidikan.

“Bapak ibu, adik dan kakak, saya mendapat amanah untuk bertanggung jawab di program-program pendidikan. Apa saja programnya? Pertama, akan ada pembuatan taman baca atau perpustakaan. Kami telah menghimpun buku selama kurang lebih 4 bulan dan terkumpul sekitar 500 buku, buku tersebut kini sedang dalam proses pengiriman ke Pulau Obi. Kedua ada program pemberantasan buta huruf, karena berdasarkan hasil survey atau penelitian kami, masih banyak anak kelas 5 SD yang belum bisa membaca dan menulis. Ketiga, program belajar bahasa Inggris untuk anak SMP dan SMA karena kabarnya di desa Anggai tarada guru pengajar bahasa Inggris. Keempat, sosialisasi pentingnya kuliah, dan kelima adalah pemutaran film atau layar tancap. Ada kritik dan saran?”

Seorang pemuda berkaos putih langsung mengacungkan jarinya ke udara. Dengan suara yang lantang dan tegas dia pun mulai menyampaikan pertanyaannya pada saya, dia adalah pemuda kiri Marxist dari desa Anggai:

“Perkenalkan nama saya Arman Sambari. Pertama, terima kasih untuk mahasiswa UGM yang telah memberikan kesempatan untuk saya. Kedua, saya mengkritik karena mahasiswa tidak punya program resolusi kongflik Anggai-Sambiki. Perlu saudara tahu, program ini adalah program yang sebenarnya paling dibutuhkan oleh masyarakat. Torang perlu mengubah paradigma berpikir mengenai kongflik Anggai-Sambiki. Kedua,  untuk perpustakaan, jangan diisi dengan buku ilmu-ilmu yang positivistik saja ! Jangan hanya matematika, fisika, biologi. Kita juga butuh buku sosial seperti buku Tan Malaka, Soekarno, Haji Misbach, atau Engels. Ketiga, saya tidak setuju dengan program layar tancap. Itu sangat tidak efektif dan kalian sudah terlalu banyak program. Sekian dari saya, terima kasih”.

Saya mencoba menjawab saran Bung Arman sambil tersenyum kecil, “Terima kasih untuk sarannya abang. Nanti akan kami pertimbangkan. Tapi khusus soal buku, tenang saja karena kami juga membawa buku-buku sosial macam bukunya Tan, buku tentang orde baru, dan buku-buku lain. Hehe... Tapi maaf kalau tidak lengkap, karena buku ini merupakan buku sumbangan dari banyak orang. Jadi tidak semuanya: positivistik”.

Selepas saran dari Bung Arman selesai saya tanggapi, Gilang pun mendekat pada saya dan berbisik,

“Bajilak gus, kata-katane abot (berat) tenan”.

“Hihihi.. gokil yo lang !”.

Adalah Gita, mbak calon bidan yang mendapat kesempatan terakhir untuk memperkenalkan program-program bertema kesehatan. Dengan suaranya yang cempreng medhok, Gita pun memulai presentasinya:

“Selamat malam. Semoga belum bosan. Program kesehatan ini akan ada cek kesehatan gratis, posyandu, dan penyuluhan bahaya narkoba. Apakah ada tambahan bapak ibu?”

Tak berlangsung lama, seorang pemudi berhijab merah muda langsung menanggapi presentasi Gita. Suara kakak ini ternyata lebih cempreng dan melengking dibanding Gita. Plus: Volumenya lebih keras.

“Perkenalkan nama saya Ima. Saya punya saran, bagaimana kalau diadakan juga penyuluhan tentang PMS”.

“PMS itu apa kakak?” tanya Danan.

“Yo Pra-Menstruation Syndrom nan”, potong saya.

“Bukan, maksudnya Penyakit Menular Seksual. Kenapa? Karena di Anggai ini sudah ada satu orang yang terkena HIV. Disini banyak yang seks bebas. Jadi pemuda pemudi perlu tahu apa bahayanya dan cara pencegahannya”.

“Interupsi bidan Irma..”, Bang Komar tiba-tiba ikut ke dalam lingkaran lagi.

“Daripada repot sosialisasi, lebih baik sebutkan saja siapa nama orang yang kena AIDS. Nanti langsung saja kita lap-lap, kita usir dari sini”.

“Weeeee...” mendadak anak-anak KKN langsung siap menyanggah saran Bang Komar.

“Eeee... tara bisa ! Ada perlindungan undang-undangnya, kalau pengidap AIDS juga tidak boleh dijahati dan harus dirahasiakan”, ujar Kak Ima dengan tegas.

“Hehe... Tapi kan bahaya untuk generasi yang mendatang?”, sambung Bang Komar lagi.

“Cheee.. Bang Komar, kalau abang tidak “pokkk” sembarangan kan tidak bakal tertular”, celetuk Gilang, dan “Hahahaa...” semua pengunjung langsung tertawa mendengar nasihat Gilang pada Bang Komar. Bang Komar bukannya marah, malah ikut tertawa geli atas jawaban dari Gilang itu.

Jam sudah hampir menunjuk angka dua belas, tapi tawa belum juga usai karena seorang bapak paruh baya  ikut masuk berkomentar:

“Kita suntik saja supaya tidak homoseksual lagi !!!”

xD xD xD ...

 “Eeee...bapak...AIDS bukan cuma pada homoseksual saja...”, 

Malam ini saya lelah lejar karena tawa. Akan tetapi perasaan saya bungah melihat semangat masyarakat Anggai dalam menanggapi rencana program KKN yang kami sampaikan. Banyaknya kritik dan saran adalah pemantik harapan akan partisipasi masyarakat pada program yang sebentar lagi akan kami konkritkan.

Semua niat baik pasti akan dilancarkan. Saatnya menyulut Bara Obira !

23 Juni 2016

Danan, Bang Komar, Bung Arman

Gilang, Bang Al, Captain Tsubasa, Bang Yamin




“Besok pagi, adik-adik harus sudah berada di pelabuhan Kupal sebelum jam 8 pagi. Tiket kapal sudah saya pesankan. Saya tidak mau adik-adik tinggal lama di pesanggrahan ini, saya malu sekali rasanya kalau kalian lebih lama tinggal disini” – Pak Nur Kamarullah, 21 Juni 2016

Manusia boleh merencanakan, tapi akhirnya Tuhan lah yang menentukan. Agenda dua hari di Pulau Bacan akhirnya terpaksa batal akibat tragedi kandhang kambing yang terjadi kemarin. Secara mendadak, Pak Nur mengabarkan bahwa ia telah memesan tiket untuk Tim Baraobira supaya bisa berangkat hari ini, 22 Juni 2016, menyeberang menuju Pulau Obi. Bukan hanya memesankan tiket, beliau bahkan membayarkan tiket untuk kami ber-22. Terima kasih Pak Nur...

Ya, 22 anggota tim akan menyusul Gilang, Danan, dan Gatot yang sudah terlebih dahulu tiba di Pulau Obi. Sedangkan 4 anggota lainnya masih singgah di Pulau Bacan untuk menunggu kedatangan Dosen Pembimbing Lapangan yang akan menyusul 2 hari lagi. Tenang saja, mereka tidak menginap di pesanggrahan bau nan angker itu, mereka kabarnya akan mencari penginapan untuk mereka tinggal disana. Sampai jumpa Umar, Haviz, Ismi, dan Hasta !

---------------------------------------------------------

“Wih, hujannya kok air ya”, kata Gita, mahasiswi D4 Kebidanan yang “masyhur” akan tutur katanya yang receh dan nirmakna. Candaan aneh ini ia katakan sambil menengadahkan tangannya keluar dari jendela kapal yang baru kami tumpangi.

Kami su sampai di Pulau Obi !

Cuaca sedang mendung dan gerimis ketika kami tiba di Pelabuhan Jikotamo. Dari atas kapal, kami bisa melihat Gilang, Danan, dan Gatot sedang bergerimis ria sambil menunggu kami turun.

Kami segera turun dan menjejakkan kaki di Pulau Obi. Apa yang terlihat menarik dari Pulau ini? Ih, banyak sekali orang Tiongkok disini ! Siapa mereka? Sedang apa disini? Pertanyaan ini harus segera mendapat jawaban besok.

“Bagaimana perjalanannya?”, tanya salah seorang abang yang ikut bersama Gilang, Danan, dan Gatot.

“Hujan deras, ombak besar bang. Pusing di kapal, jadi tadi semuanya tidur...”, jawab saya. Berbeda dengan perjalanan laut Ternate-Bacan yang syahdu, perjalanan Bacan-Obi justru harus dilalui dengan ombak laut yang besar. Saya sempat mual dan hampir mabuk, tapi beruntung saya segera tertidur dan tidak sampai muntah.

Abang yang baru saja bertanya pada saya ini bernama Abang Rusdi. Ia mengaku selalu berkordinasi dengan Gilang perihal keberangkatan kami ke Pulau Obi. Selain Bang Rusdi, kami juga disambut oleh Abang Man alias Paman. Paman kabarnya adalah orang yang tahun lalu banyak membantu tim KKN Pulau Obi ketika bertugas di Laiwui dan Jikotamo.

“Ya, selamat sore adik-adik. Selamat datang di Pulau Obi. Sebentar, kita akan berangkat menuju Desa Sambiki dan Anggai, tempat adik-adik semua akan mengabdi. Nanti kita akan berangkat menggunakan Otto. Tahu apa itu Otto? Otto itu mobil. Setelah ini, kita akan berkunjung ke rumah Ompala Sambiki dulu, baru kemudian kita akan menuju Anggai. Apa itu Ompala? Ompala itu artinya Kepala Desa. Jadi adik-adik boleh segera mengemas barangnya dan menaruhnya di atas mobil pick-up, lalu segera masuk ke Otto yang sudah dipersiapkan”, terang Paman, mengajak kami untuk segera berangkat.



Pelabuhan Jikotamo/Laiwui
----------------------------------------------------------------------------

Saya suka Indonesia Timur karena para sopir Otto menyetel sound system mobil mereka dengan amat keras. Dengan sound superbassnya, mereka menerabas jalan off-road Laiwui-Sambiki dengan sungguh nikmatnya.

Dari jarak 100 meter lebih pun, saya yakin alunan lagu Oplosan dari Otto ini bisa terdengar dengan amat jelas. 

“Kalau di Jawa nyetel musik sekeras ini, kita bisa dihajar massa”, ujar Danan kepada Abang Sopir berbadan besar yang bernama Bang Iron.

“Kalau disini, tarada yang marah. Tara usah punya sound kalau mau setel musik kecil-kecil”, tanggapnya sambil tertawa.

Perjalanan Laiwui-Sambiki berlalu dengan suka cita. Bukan hanya karena musik sound yang menghibur, tapi juga karena pemandangan di kanan kiri jalan yang amat elok. Di kanan jalan, terhampar bukit-bukit hijau yang dipenuhi pepohonan cengkih dan pala. Di kiri jalan, terbentang pemandangan bahari yang persis berada di sebelah sabana tempat sapi-sapi mengunyah rumput.








-----------------------------------------------------------------------------


Rumah pertama yang kami kunjungi di Pulau Obi adalah rumah Ompala desa Sambiki. Ompala Sambiki bernama Bapak Haerudin, beliau sudah menjabat sebagai Kepala Desa Sambiki selama dua periode. Ompala memiliki perawakan yang tidak terlalu besar, namun rahang keras khas orang Timur plus warna kulit yang hitam kecoklatan tampak memberi kesan gahar padanya. Ompala Khairrudin sepertinya tidak terlalu ekspresif, raut mukanya terlihat datar - cenderung kaku - ketika menyambut kedatangan kami. Sore ini Ompala memakai kemeja warna abu-abu dan memakai sarung biru sebagai setelannya. Beliau duduk di atas kursi sofa, sedang kami duduk lesehan menghadap Ompala.

Saya merasa kurang suka dengan cara Ompala menyambut tamu,

“Ih, seperti menghadap raja”, bisik saya kepada Danan yang duduk di samping saya. Ishh.. Tak sampai satu detik, saya sedikit menyesal mengatakan itu. Barangkali memang begini budaya di Indonesia Timur, seorang Ompala mungkin memang sangat dihormati, sehingga tidak sepatutnya saya mempermasalahkan hal sekecil ini untuk menuruti ego anti-feodalisme saya. Saya pikir, saya harus lebih bersabar dalam menilai apa yang saya temui di depan mata.

Setelah semua duduk dengan rapi, Kormanit Gilang kemudian membuka pertemuan sore ini dengan prolog yang lebih berbau formalitas.

“Terima kasih telah menyambut kami. Disini kami hendak mengabdi, semoga ilmu yang telah kami peroleh di kampus bisa bermanfaat untuk warga Sambiki.”

Kormanit Gilang selanjutnya sedikit menjelaskan tentang rencana program kerja yang akan kami lakukan di Pulau Obi,

“Program utama kami adalah sosialisasi pengolahan sumber daya alam yang terdapat di Sambiki dan Anggai, terutama pengolahan daun cengkih menjadi minyak atsiri dan pengolahan batok kelapa menjadi briket. Selain itu, akan ada program pendidikan, pengolahan hasil laut, dan lain-lain”.

Selepas Kormanit Gilang selesai menyampaikan kalimat pembukanya, tibalah giliran Ompala Sambiki yang kini memberi sambutan. Diawali dengan prolog berupa ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih, Ompala selanjutnya justru sedikit menyinggung tentang keadaan sosial di Desa Sambiki dan Anggai.

“Desa Sambiki dan Anggai ini bertetangga, tetapi warganya tara akur. Sering terjadi perkelahian antar anak muda. Sebenarnya kalau saya sendiri tara punya masalah apa-apa. Saya menganggap semua adalah saudara. Tapi kalian tara usah terlalu memikirkan soal ini....”, cerita Ompala Sambiki, masih dengan wajah yang minim ekspresi.




Ompala Sambiki


-----------------------------------------------------------------------------

Tim Baraobira telah terbagi menjadi dua, yang separuh akan mengecap 40 hari di Desa Sambiki, sedang sisanya akan tinggal di Desa Anggai. Saya termasuk anggota Sub-Unit Desa Anggai.

Adzan maghrib telah berkumandang ketika kami (Tim Baraobira Sub-Unit Desa Anggai) bersama Bang Rusdi dan Paman tiba di rumah Ompala Anggai, Bapak Salamat Gorap. Ompala Anggai tinggal di rumah yang sangat sederhana. Rumah ompala berdinding kayu yang dicat dengan warna putih, lantainya tidak terbuat dari keramik melainkan semen yang diplester halus. Pintu rumah Ompala saat ini masih terbuka. Ketika pintu rumah orang Obi terbuka, artinya tamu boleh langsung masuk ke dalam rumah bahkan masuk hingga ke dapur – Hanya kamar yang tidak boleh disambangi.

“Assalammualaikum...”, kami tetap mengucapkan salam kendati pintu sudah terbuka.

“Waalaikumsalam... Sudah buka puasa kah? Mari kita buka puasa dulu”, sambut Ompala sambil tersenyum. Ompala Anggai yang berbadan cukup gempal ini, malam ini memakai kemeja panjang warna coklat, bersarung merah, dan memakai songkok warna hitam motif putih. Berbeda dengan Ompala Sambiki yang tadi terlihat gahar, ompala Anggai terlihat lebih ramah dan proaktif.

Kami duduk lesehan diatas kelasa anyam yang di beberapa bagian ditumpuk dengan matras hijau bermotif gambar warna-warni. Sembari menunggu datangnya hidangan buka puasa, Kormanit Gilang kembali membuka acara penyambutan ini.

Setelah memberi sambutan singkat dan memperkenalkan masing-masing anggota yang ada di tempat, kami kemudian menunggu giliran Ompala untuk memberikan sambutannya. Sebelum memulai sambutannya, Ompala menyuruh kami untuk minum teh terlebih dahulu supaya puasa kami batal.

“Selamat datang di Desa Anggai. Karena sudah berada di Anggai, maka adik-adik harus belajar juga menjadi orang Anggai. Belajar bahasa orang Obi. Kalau tidak, bilang tara. Tarada, itu artinya tidak ada. Orang timur ini kalau bicara keras-keras, tapi bukan berarti hati kami juga keras. Torang punya hati lembut”, ujar Ompala disambut dengan tawa kami.

Saya pikir Ompala Anggai telah menyambut kami dengan ramah dan baik. Setelah hidangan sampai di depan kami, Ompala bahkan memperkenalkan nama-nama makanan yang akan kami lahap:

“Kalau disini setiap hari torang makan dengan Ikang (Ikan). Semoga cocok dengan masakan timur. Ini disini ada panada, sayuran dari jantung pisang. Ini rica pedas (sambal), jangan makan banyak-banyak dulu”.

Bak politik meja makan à la Jokowi, kami dari pihak mahasiswa maupun desa sama-sama memanfaatkan moment buka bersama ini sebagai ajang untuk mendekatkan diri. Sembari menyantap hidangan nasi ikang yang gurih pedas, kami menyempatkan diri untuk menjelaskan rencana program-program kami: Sosialisasi briket, minyak atsiri, pengadaan taman baca, hingga kelas bahasa Inggris. Paman selanjutnya menambahkan kalau masyarakat juga perlu diajari cara pembuatan selai pala. Bang Rusdi jarang bicara serius, dia lebih sering menasihati supaya kami tidak boleh malu-malu ketika berada di Indonesia Timur. Sedangkan Ompala menutup perbincangan akrab malam ini dengan menceritakan suasana yang tidak akur antara Desa Anggai dengan Desa Sambiki (Sepertinya persoalan ini benar-benar serius !)

Tak terasa sudah pukul setengah 8 malam, kami mengakhiri buka bersama yang mesra ini dengan berpamitan pada Ompala. Bang Rusdi selanjutnya mengantarkan kami pada mama papa pihara masing-masing.

Gita dan Destya tinggal di rumah seorang bidan. Cocok sekali saya pikir. Gita yang notabene adalah mahasiswa D4 kebidanan akan mendapat teman berbincang yang sebidang.

Resti dan Istin tinggal di rumah Bapak Sukri, Tabah dan Devina tinggal di rumah sebelahnya yaitu rumah Ibu Nas. Sedangkan Nila dan Rosa tinggal di rumah Ibu Arfah.

Gilang bersama Baba tinggal di rumah Bapak Menko. Saya suka sekali nama papanya Gilang dan Baba, Bapak Menko pasti orangnya sangar ! Saya sendiri tinggal bersama Kormasit Danan di rumah Bapak Sami.

“Assalammualaikum, kami Bagus dan Danan, mahasiswa UGM yang akan tinggal disini selama satu setengah bulan, bapak”,

“Haji Sami !”, balas papa pihara saya sambil menjabat tangan dengan erat dan mantap.

“Wih, bapak’e dewe haji nan... Kudu sregep tarawih iki (Wih, ayah kita seorang haji nan. Kita harus rajin tarawih nih)”.

“Wadaw....”, balas Danan.

22 Juni 2016


Ompala yang berkemeja coklat, di sebelah kanannya ada Bang Rusdi



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018