bagus panuntun

berubah!

Hari ini hari Selasa. Tak terasa kami sudah seminggu berada di Anggai. Waktu terasa cepat juga disini, rasanya baru kemarin saya sampai di Anggai dan mengenal keluarga Papa Haji. Sekarang, setelah merepotkan mereka selama 7 hari, saya dan Danan pun menjadi semakin dekat dengan mama papa. Waktu berbuka puasa adalah anugrah karena di waktu inilah kami bisa berceloteh dengan puluh senda gurau yang multitopik. Papa dan Mama Haji adalah tipe orang yang suka sekali bercerita. Mereka akan bercerita perihal apa saja yang sedang terlintas di kepalanya. Mama Haji misalnya, Mama bercerita bahwa 3 bulan lalu mama hampir saja meregang nyawa saat terjadi musibah longsor di dalam lobang tambang. Mama yang kala itu sedang bekerja mencari batu rep – perempuan di Anggai biasa melakukan ini – bersama 2 perempuan lain harus tertimpa longsor di dalam lobang dan terjebak selama hampir setengah jam. 1 orang meninggal dalam musibah ini, sedang mama haji terluka parah. Ia koma dan dirawat seminggu di rumah sakit Laiwui.

Papa Haji juga suka bercerita. Seringkali ia menceritakan pengalamannya kala berada di tanah suci Mekkah.

“Di mekkah sana, papa sudah ketemu orang dari seluruh dunia. Orang Afrika, Cina, Inggris, Bangladesh. Mana saja ada. Kalau sudah bertemu dengan orang dari seluruh dunia disana, kita sudah tara bisa sombong. Semuanya mau yang badan besar, mau yang badan kecil, mau yang kulit hitam, mau yang kulit putih, semuanya sama-sama terlihat lemah dan mau mati. Ya tinggal Allah yang menentukan kita selamat atau tidak”, kata Papa menceritakan pengalaman spiritualnya saat tawaf. (Bahwa Haji akan menghilangkan arogansi manusia, ini persis seperti apa yang disampaikan Malcolm dalam film biografi Malcolm X yang diperankan Danzel Washington).

Selain betah bercerita, mama papa juga suka mengajari kami bahasa Galela. Tentu saya yang paling antusias dalam hal ini.

“Papa, kalau mandi bahasa Galela-nya apa papa?”

“Mahosi. Ngohito mahosi, saya mau mandi”.

“Kalau makan?”

“Odo. Kalau minum, udo. Ngohito odo, saya mau makan. Ngohito udo, saya mau minum”,

“Ngohito udo gopoa, papa (saya mau minum kelapa muda, papa)”,

“Lang, pete di kebung (besok petik di kebun)”,

“Saya, papa !”,

Setiap kosa kata baru yang saya dapat, ia tak boleh lalai untuk dicatat. Setidaknya, kita perlu menghafal kosa kata yang seringkali muncul dalam perbincangan sehari-hari.

Maidu = Tidur

Mahosi = Mandi

Madagi = Jalan

Liho = Pulang

Nao = Ikan

Bole = Pisang

Fofoki = Terong

Bahasa menurut Doktor Sudaryanto memiliki fungsi utama untuk memelihara kerja sama. Sepertinya teori dari mantan ketua jurusan Sastra Prancis UGM ini banyak benarnya juga. Kalau kita berada di Indonesia Timur - di Anggai, coba jangan ragu untuk mengatakan, satu saja bahasa Galela di depan para mama. Misalnya ketika seorang mama memanggil kita untuk makan.

“Bagus, mari makang dulu di rumah mama?”

“Boloka mama (Sudah mama)”

“Boloka (Beneran sudah) ???”

“Saya mama, boloka, punuka (Iya mama. Sudah, kenyang)”.

“Haa...haa... Su jadi orang Galela eeeee....”, teriak mama sambil terbahak lantang. Kalau para mama Maluku sedang tertawa, jangan harap keanggunan laksmi jelita terpancar dari wajahnya. Saat tertawa, kepala mereka akan maju 10 cm kedepan, mulut mereka akan terbuka lebar-lebar lalu langit-langit mulut mereka yang merah karena pinang akan terlihat dengan jelas, “Haaa..haaaa......”.

Tapi jangan salah, kalau mama sudah terbahak melihat kita berbahasa Galela, sudah pasti kedekatan emosional akan terjalin cepat. Tarada lagi Maluku yang keras, sekonyong-konyong mereka akan jadi Maluku yang ramah lagi jenaka.

Bahasa lokal... Tak perlu jauh-jauh menguasainya. Dengan menunjukkan kemauan belajar saja, maka keberadaan kita akan diakui oleh warga. Ini persis seperti kredo legendaris: Ngohito Ergo Sum, Aku Mau maka Aku Ada.

Dalam tempo seminggu ini, saya belajar bahasa Galela dengan siapa saja yang bisa saya ajak. Tentu, mama papa haji adalah duo mentor utama. Selain mereka, saya juga belajar pada Bang Rusdi, atau Abang-abang IPMA. Sesekali saya juga belajar bahasa dengan anak-anak SD, misalnya dengan As - anak Mama Nas - dan dengan Wilda - Anak Papa Sukri

“Ngohito majobo ko dahu (Saya mau pergi ke bawah)”,

“Ngohito tagi ka dara (Saya mau pergi ke darat)”,

“Ngohito tagi ko lao (Saya mau pergi ke laut)”.

"Ayo, tirukan kita kak Bagus......", seru mereka.

As, Wilda, dan Matsuyama
Sayangnya belajar bahasa Galela dengan anak-anak SD bukanlah cara yang ampuh dan efektif. Mereka tidak menguasai banyak kosa kata, bahkan untuk sekedar menjelaskan kata ganti kepemilikan (my, your, his, her, etc). Misalnya mereka tidak tahu kalau bahasa Galela 'kelapa milik saya' adalah 'ai igo' (my coconut).

Bahasa Galela seperti banyak bahasa daerah lainnya, punya akar permasalahan kontemporer yang sama: Ia semakin ditinggalkan generasi mudanya. Di Anggai, kita bisa dengan mudah mendengar percakapan bahasa Galela dari obrolan orang tua. Tapi anak SD bercakap Galela? Kosong....

Saya pikir ada bertimbun faktor yang jadi alasan mengapa bahasa Galela semakin ditinggalkan. Pertama, faktor dominasi budaya mayoritas, yaitu dominasi bahasa Indonesia. Hari ini, bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling sering mereka dengar, entah dari jagat nyata entah dari layar kaca. Bahkan, di lingkungan keluarga pun para orang tua lebih memilih untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa percapakan utama. Kedua faktor politik. Kebijakan pendidikan era kini semakin abai terhadap konten muatan lokal (Mulok). 2 faktor ini saja sudah menyiratkan bahwa generasi muda yang sekarang hampir tak mendapat kesempatan untuk belajar bahasa daerahnya baik di lingkungan formal maupun informal. Dan jika ada faktor ketiga, bahasa Galela bahkan bisa saja mengalami kepunahan: Galela tidak punya karya sastra, kamus, dan sistem aksara yang sudah dipustakakan. (Mari esok kita selidiki dulu!)

Ih, selalu timbul rasa sedih ketika menyadari bahasa daerah semakin ditinggalkan generasi mudanya. Saya pernah menulis ini di blog: Mereka yang belajar bahasa asing cenderung jadi tertarik pada budaya kontemporer , sedang mereka yang belajar bahasa daerah cenderung jadi tertarik pada budaya masa lampau (dari tempat asal bahasa tersebut). Ini memang sekadar asumsi berdasarkan pengamatan pribadi pada kebanyakan mahasiswa baru di kampus ilmu budaya: Maba (Mahasiswa baru) sastra Prancis sering mendadak jadi modis – bukan filosofis, maba Sastra Jepang sering mendadak jadi otaku – bukan zen, maba sastra inggris sering mendadak jadi Top 40 (Haha) – bukan sastrawi. Ya, kebanyakan dari mereka yang belajar bahasa asing akan lebih tertarik pada budaya kontemporer yang sedang hits di negara asal bahasa. Berbeda dengan maba sastra nusantara, alih-alih jadi metroseksual ala muda-mudi Jogja masa kini, kebanyakan dari mereka malah tiba-tiba jadi tertarik pada hal mistis, wayangis, kratonis. Mereka yang belajar bahasa daerah, cenderung jadi tertarik pada budaya lampau – dan budaya lampau lebih sering ditampilkan pada budata yang luhur. Itulah mengapa pada akhirnya generasi yang belajar bahasa daerah lah yang akan lebih paham - dan peduli - akan identitas bangsanya sendiri (mereka lebih berbudaya).

-----------------------------------------------------------------------

Suatu sore saat acara buka bersama tim Baraobira dengan masyarakat Anggai, seorang mama yang akrab dipanggil Mama Chuck Norris – karena tidak bisa diam -, mengajak saya belajar bahasa Galela,

“Bagus, kaka cantik, kalau orang Anggai bilang perempuang cantik itu: mi daloha. Coba tirukan ‘mi daloha...’ ”

“Mi Daloha mama !!!”

“Mantappp... Kalau laki-laki ganteng, itu wi daloha. Coba tirukan, ‘wi daloha....’ ”

“Wi dalo....ha..”,

“Haa..haa.. mantap bagus !. Kalau bagus mi daloha atau wi daloha?”

“Wi daloha mama...”,

“Bukang, Bagus mi daloha... haa..haa...”

“Ehe..ehe.. tarada mama, saya wi daloha”.

“Tapi ya Bagus, kalau disini orang ganteng sama cantik juga bisa dibilang birahi”

“Birahi mama? Iii.. itu tara baik kalau diucapkan di Jawa”

“Iyo...birahi, artinya cantik, atau ganteng. Sekarang mama tanya, kalau wi daloha artinya?”

“Laki-laki ganteng mama”,

“Mantappp.. Kalau mi daloha?”

“Perempuang cantik mama”,

“Mantappp.. Kalau mi birahi?”

“Perempuang birahi mama...”


NB: Jangan lupa belajar misuh.



28 Juni 2016
6 hari sudah kami menjalani masa KKN di Anggai. Setelah 5 hari pertama yang penuh dengan agenda baronda – srawung, jalan-jalan, observasi, tibalah juga hari Senin, hari dimana program kerja pertama kami akan dimulai. Satu-satunya program yang akan kami laksanakan hari ini adalah: program pemberantasan buta huruf atau kelas membaca.

Selidik demi selidik, cerita demi cerita, masih cukup banyak anak-anak Anggai yang belum bisa membaca sampai mereka duduk di kelas 5 atau 6 SD. Tentu hal ini jadi sebuah keprihatinan besar yang menguatkan sebuah asumsi: kualitas pendidikan di Indonesia Timur memang tidak sebaik kualitas pendidikan di Indonesia Barat.

Muncul sedikit rasa penasaran akan kebenaran informasi ini,

“Bang Rusdi, kalau anak kelas 5 SD belum bisa membaca, bagaimana mungkin dia bisa naik kelas?”, tanya saya pada Abang yang juga tokoh pendidikan dari Anggai ini.

“Ya bagaimana lagi, kalau dia tidak dinaikkan nanti dia malah tara mau sekolah” jawab Bang Rusdi.

“Iya juga ya”, tanggap saya singkat. Sebenarnya jika dipikir baik-baik, kebijakan untuk menghapuskan sistem ‘tinggal kelas’ di SD adalah sebuah kebijakan yang bagus. Di Finlandia juga tidak ada siswa sekolah dasar yang tidak naik kelas. Selama 6 tahun bersekolah, siswa-siswa Finlandia bahkan tidak dinilai dengan angka sedikitpun. Raport siswa disana berisi dengan narasi perkembangan siswa didik yang ditulis gurunya. Dengan kata lain, kedekatan emosional antara siswa dan guru adalah hal yang lebih diperhatikan dibanding kapasitas intelektual masing-masing individu.

Maka, pertanyaan yang penting dalam hal pendidikan sebenarnya bukan sekedar pertanyaan "Apakah guru sudah  bisa membuat anak jadi pintar?" tetapi juga “Apakah guru memiliki kedekatan emosional dengan muridnya?".

Terkait pertanyaan kedua jika diaktualisasikan dengan konteks pendidikan di Anggai, saya meragukan adanya kedekatan emosional tersebut setelah seorang guru pernah bercerita, “Kalau mengajar di Timur harus keras. Kalau tidak keras, siswa akan kurang ajar. Pukul kalau perlu pukul”.

Saya adalah orang yang tidak menyukai kekerasan fisik sekecil apapun. Waktu kecil, saya pernah sekali dipukul ayah karena nakal. Rasa takut saat melihatnya, rasa sakit saat menerimanya, dan rasa marah setelahnya masih terekam dengan sangat jelas sampai sekarang. Dipukul hanya perlu waktu 2 detik, melupakannya perlu mati dulu, atau amnesia. Apalagi jika dipukul orang tua - saya rasa guru juga.

-------------------------------------------------------------------

Pukul satu siang tim Baraobira telah berkumpul di rumah Mama Nas - mama piara Tabah dan Devina - untuk mengadakan rapat sub-unit. Kami memang telah sepakat untuk mengadakan rapat rutin 2 hari sekali dengan sistem rolling tempat, artinya lokasi rapat akan berpindah dari satu rumah keluarga piara ke rumah keluarga piara lain. Hal ini kami lakukan supaya kami bisa dekat dengan semua mama papa piara yang ada. Selain itu, kami sengaja memilih melakukan rapat di siang hari, kenapa? Karena malam hari adalah waktunya untuk mayeng atau bersosialisasi dengan pemuda-pemudi seumuran.

“Lha nek wengi dewe malah rapat, njuk kapan dolanne? Anggai ki lek awan sepi tur puanass jee (Nah kalau malam hari kita malah rapat, kapan mainnya? Kalau siang Anggai itu sepi dan panas lho)”.

Semua hadir di rapat sub-unit yang agendanya membahas program of the week dan menguliti persiapan kelas belajar membaca sore ini.

Seperti biasa, sebelum salam pembuka keluar dari mulut Kormasit maka perkumpulan 8 perempuan dan 5 lelaki ini akan menunaikan sebuah ritual rutinan: Pergunjingan Ramadhan.

“Hee, Umar piye e kabare? (Eh,Umar bagaimana kabarnya?)” tanya Baba mencoba membuka topik dengan menanyakan satu anggota tim yang belum sampai juga di Anggai.

“Masih sakit dia di Bacan. Kemarin waktu sakit tiba-tiba minta dicarikan kelapa muda... Waduh... susah...”, jawab Haviz sambil menyeringaikan tawa khasnya – tertawa tapi mingkem.

“Haahaa.... Astaghfirullah, ana kancane lara kok malah ngguyu (Astaghfirullah, teman sedang sakit malah kita tertawakan)”, balas Tabah lepas tertawa.

“Heh.. Sudah, ayo ndang mulai, kok malah menggunjing? Tapi kok enak yo?, hehehe..”, kata Kormasit Danan dan ia pun segera memulai rapatnya.

“Oke, kita mulai membahas kelas belajar membaca dulu karena program ini akan mulai dua jam lagi. Silahkan kepada penanggung jawab, Mas Bagus, untuk segera melaporkan persiapannya”, perintah Danan pada saya.

“Jadi untuk persiapannya, tadi saya dan Baba telah pergi ke dua masjid Anggai untuk mengumumkan jika sore ini akan ada kelas membaca untuk anak SD. Kami juga telah meminta izin kepada guru SD Inpres Anggai untuk meminjamkan satu kelasnya untuk kegiatan belajar nanti sore. Akan tetapi, sejujurnya saya belum memiliki gambaran mengenai berapa anak yang nanti sore akan ikut. Pun saya belum tahu apakah benar sebagian besar anak belum bisa membaca. Maka...sepertinya sore ini kita perlu banyak improve dan harus mampu membaca keadaan”.

Saya menghela nafas sejenak. Andaikan ada kopi di depan saya, pasti saya akan segera menyeruputnya. Tapi ini masih puasa.

“Jadi intinya begini, pertama acara untuk sore hari ini adalah perkenalan kakak mahasiswa dengan anak-anak. Kedua, kalau ada materi, maka materi yang akan diajarkan adalah tes kemampuan membaca dasar, jadi kita akan mengajari anak-anak untuk bernyanyi lagu ABCD dulu. Ketiga, baru itu yang saya siapkan. Seperti apa berjalannya kelas nanti tergantung pada kemampuan adaptasi kita. Untuk itu, mohon bantuan kepada teman-teman untuk bisa datang di kelas pertama sore hari ini”.

“Dresscode nanti sore apa mas? Perlu pakai almamater nggak?” tanya Tabah melanjutkan pembahasan.

“Hasyah, ra usah almamater-almamateran. Sak penak’e dewe-dewe wae. Yo nggowo kartu identitas wae rapopo (Tidak usah pakai almamater segala. Bebas pakai pakaian senyaman kalian saja. Bawa kartu identitas sudah cukup)”, jawab saya.

Tanpa berlarut-larut, rapat pun dilanjutkan dengan membahas program-program lain khususnya yang akan dilaksanakan minggu ini. “Ya, selain program pendidikan, minggu ini sepertinya kita akan disibukkan dengan persiapan perayaan lebaran....bla...bla..bla” terang kormasit Danan, dan rapat pun segera dikhatamkan.

-------------------------------------------------------------------

Sore ini saya memakai kaos oblong Baraobira dan seperti biasanya memilih pakai celana pendek. Saya berangkat ke tempat mengajar sambil membawa gitar. Pokok’e lek kelase garing, arek-arek dijak nyanyi wae, hha.

Muncul sedikit rasa was-was. Bagaimana kalau kelasnya sepi? Bagaimana kalau tidak ada yang datang? Bagaimana kalau anak-anaknya nakal dan tambeng? Bagaimana kalau kami membosankan?

Cih, rasa takut memang lebih sering muncul dari imaji yang tak berdasar. Sudah lah, laksanakan saja apa yang sudah direncanakan ! Kata Tan, "Seorang revolusioner bukanlah seorang pendiam dan penakut. Ia harus keluar dari ketakutan atas ketidakpercayaan kemampuan dirinya". 

Kami pun mulai masuk dan membersihkan kelas yang sebentar lagi akan dipakai. Satu dua tiga anak mulai berdatangan. Mereka datang dengan ragam modelnya masing-masing, ada yang memakai setelan Boy-Reva, ada yang memakai jersey sepakbola, ada juga yang datang dengan seragam merah hati lengkap. Perlahan-lahan jumlah mereka semakin banyak. Lagak-lagu mereka masih terlihat malu-malu, beberapa penasaran memandang kami dengan tajam lalu segera mlengos ketika kami balik memandang, beberapa ada yang melihat kami sambil cengar-cengir tidak jelas, beberapa ada yang hanya nginjen dari luar kelas.

“Wah, banyak mas yang datang”, bisik Haviz pada saya yang sedang duduk bersandar di tembok kelas.

“Iya viz, Alhamdulillah banyak. Kita suruh duduk melingkar dulu aja ya?”, jawab saya. Sepertinya telah terkumpul sekitar 50 anak di kelas ini. Ada anak yang masih kecil. Kecil sekali. Mungkin dia masih TK, atau barangkali malah belum sekolah. Raut wajahnya masih terlalu lugu, belum terpengaruh virus sinetron anak jalanan yang membuat seorang bocah mengalami fase peng-alay-an dini dan kehilangan keluguannya. Banyak juga anak yang terlihat sudah duduk di kelas 5 atau 6 SD. Mereka tampak lebih dewasa dan suka bergerombol.

“Selamat sore adik-adik... Adik-adik bisa duduk melingkar dulu ya...”, perintah saya dengan nada guru TK memberi instruksi. Anak-anak ini pun segera menuruti perintah. Ada yang aneh, pikir saya. Sepertinya anak-anak ini tidak terlampau liar seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Mereka justru terlihat malu-malu dan cenderung diam.

Setelah anak-anak mulai duduk melingkar, sekarang giliran kakak-kakak mahasiswa yang menyusul duduk di antara mereka. Saya duduk di samping Wahyu, anak kelas 6 SD putra sulung Papa Sukri, papa piara Resti dan Istin. Saya sudah mengenal bocah ini sejak beberapa hari lalu dengan percakapan singkat yang rasanya sulit dilupakan.

“Hey, Wahyu. Kata orang-orang kau pintar kah? Ranking berapa kau di kelas?”, tanya saya setelah mendengar dari Gilang bahwa katanya Wahyu adalah bocah yang cerdas.

“Ranking 2 saja” jawab bocah kelas 6 yang badannya kecil kurus dan pendek seperti anak kelas 2 SD ini.

“Eee, kenapa tara ranking satu?” tanya saya lagi menggoda.

Dan Wahyu menjawab “Tara tau itu guru, tara jelas memang dia”.

Haha.. Koplak arek iki !

Dan hari ini Wahyu kembali memperlihatkan kecerdasannya. Adalah saat moment perkenalan tiba dan satu persatu anak harus memperkenalkan dirinya kepada kakak-kakak mahasiswa. Anak-anak yang jumlahnya lebih dari 50 ini harus menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, hobi, dan cita-citanya masing-masing. Moment ini ternyata tidak berjalan dengan lancar seperti yang kami bayangkan. Beberapa anak malu saat mendapat giliran, beberapa tidak tau apa hobinya, beberapa enggan menyebutkan cita-citanya (padahal hanya berkisar pada guru, dokter, tentara, atau polisi).

Sejenak kemudian Wahyu mendadak mendekat dan berbisik di telinga kanan saya,

“Kak Bagus. Ini lama pasti. Tapi tarapa lah ya karena kelas pertama”, ujar Wahyu mengomentari moment perkenalan ini. Saya pun tidak bisa tidak kaget mendengar komentarnya ini. Dari pendapatnya yang singkat ini, saya melihat ia sudah bisa membaca konteks situasi yang ada di depan matanya. Ia paham bahwa perkenalan ini akan berlangsung lama karena ada lebih dari 50 anak yang harus memperkenalkan diri masing-masing, itupun dengan kondisi malu-malu. Tapi lebih dari itu, ia paham bahwa kita harus memaklumi momentum yang memakan waktu lama ini, kenapa? Karena ini masih pertemuan pertama ! Pasca komentarnya ini, saya langsung percaya kalau tingkat kecerdasan si Wahyu memang di atas rata-rata.

Sepakat? Atau saya saja yang berlebihan?

-------------------------------------------------------------------

Tak banyak yang ingin saya ceritakan dari kelas pertama ini. Kelas yang diikuti oleh 67 anak ini – yang tercatat di buku presensi – berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Setelah masing-masing anak dan mahasiswa berkenalan, mereka akhirnya dibagi menjadi 2 kelompok: kelompok anak kelas 1 sampai 3 SD dan kelompok anak kelas 4-6 SD.

Begitupun 13 mahasiswa dibagi menjadi 2 kelompok tutor, kelompok tutor pertama bertanggung jawab pada anak-anak kelas 1 sampai 3, kelompok tutor kedua bertanggung jawab pada anak-anak kelas 4 sampai 6. Kelas banyak diisi dengan bermain dan bernyanyi. Selain menyanyikan lagu alfabet ABCD, kami juga menggubah lirik lagu Madu dan Racun untuk dijadikan lagu belajar membaca:

MADU: M-A MA, D-U DU
KAKI: K-A KA, K-I KI
MATA: M-A MA, T-A TA
SAPI: S-A SA, P-I PI
Mari Belajar Membaca
Bersama Kak Baraobira

Sore ini saya mendapat jatah untuk menjadi tutor anak-anak kelas 1-3. Adalah Ariel, Melati, Ava, dan Aswita yang jadi murid pertama saya.

Ariel? Ariel ternyata adalah anak dari Papa Menko, papa piara Gilang dan Baba. Namanya sama dengan nama seorang vokalis, tapi Ariel yang ini sepertinya tidak punya bakat menjadi vokalis. Pertama, ia pendiam. Kedua, ia pemalu. Ketiga, suaranya tidak terdengar saat bernyanyi.  Ariel kelas 2 SD, dia sudah hafal membaca alfabet huruf A-O.

Melati, lebih pemalu dari Ariel. Baru masuk SD tahun ini, jadi belum bisa membaca huruf. Mau menyanyi lagu ABCD, tapi hanya sampai huruf C.

Ava, gadis berambut panjang dan hitam manis. Akan menjawab jika ditanya. Ia kelas 3 SD, sudah bisa membaca dengan baik.

Aswita, gadis cilik berkulit hitam, berambut keriting sebahu, sore ini memakai rok warna merah dan putih. Ia sangat interaktif. Suaranya serak-serak basah, lucu. Ia paling dominan di kelompok kecil ini, ia hafal huruf A-Z. Sudah paham ilmu mengeja dasar, N-A NA, N-U NU, NANU...

Karena ada Ariel dan Melati yang sangat pemalu, akhirnya saya tidak memfokuskan kelompok ini untuk belajar. Saya mencoba banyak bercerita saja dengan mereka, juga bertanya mana rumah mereka, siapa nama papa mamanya, atau suka warna apa. Sepertinya mereka butuh waktu untuk bisa nyaman belajar dengan kami.

Waktu pun tak terasa telah menunjukkan pukul setengah 6. Artinya, satu jam lagi kami akan berbuka puasa. Kelompok kecil kami bubarkan dan anak-anak kembali dikumpulkan untuk membaca doa penutup. Sebelum berdoa, kami meminta mereka untuk bernyanyi ABCD sekali lagi, suara mereka kali ini lebih lantang daripada saat pertama tadi. Semoga energi positif ini akan terus hidup sampai di hari akhir kami.

Selesai berdoa dan berfoto ria, kami melakukan evaluasi singkat selama 5 menit. Dari pertemuan pertama yang akhirnya kelar ini, setidaknya ada dua hal yang bisa kami simpulkan. Pertama, kemampuan membaca anak-anak di Anggai tidak separah yang awalnya kami bayangkan. Saya lihat sebagian besar kanak-kanak ini telah mengenal huruf dengan baik. Kalaupun mereka belum lancar membaca, toh sebenarnya bukan masalah besar kan seorang anak SD belum lancar membaca? Kedua, anak-anak tidak perlu diperintah dengan keras supaya menuruti perintah. Mungkin karena ini masih pertemuan pertama dan mereka masih malu-malu. Entah kalau besok.

Ah iya, satu hal lagi yang penting dicatat hari ini: Ada perasaan lega yang tak terkira saat program kerja pertama terlaksana. Kami yang dalam beberapa hari ini hanya klintang-klintung keliling kampung, akhirnya merasa berguna juga setelah terlaksananya program pertama.

“Kok rasane plong ya mbarang wis ana program (Rasanya lega ya setelah ada program)”, ujar Danan.

Kelas membaca ini akan diadakan tiap 2 hari sekali, hari Senin dan Rabu. Di hari Selasa dan Kamis, kami mengadakan kelas belajar bahasa Inggris untuk anak SMP dan SMA. Sedangkan di hari Jumat, anak-anak akan diajak ngaji di TPA.

Program pendidikan memang akan (dan perlu) mendapat porsi yang banyak.

27 Juni 2016





Su pada pulang, kaka baru ingat kalau tong belum ambil foto. Chii..




“Papa, saya penasaran mau lihat tambang emas papa. Kalau saya pergi kesana, boleh tarada (boleh atau tidak) ?” pancing saya pada papa Haji. Semenjak berada di Anggai dan sering berbincang dengan warlok (warga lokal), rasa ingin tahu saya tentang desa ini semakin meninggi. Terutama tentang tambang emas. Segala cakap angin entah bersama papa, bang Rusdi, bang Al, atau siapapun biasanya akan mengarah pada pembicaraan tentang tambang yang disebut “Tambang Rakyat” ini.

“Bagus mau pergi ke tambang? Boleh, kenapa tidak? Kapan?” jawab papa dengan lugas – seperti biasa orang Maluku berbicara. 

“Secepatnya papa. Kan sekarang kegiatan masih kosong. Kalau besok saja papa? Ini kebetulan dosen pembimbing juga ada di Anggai, nanti kita ajak Ibu Dosen juga. Boleh?”,

“Ajak sudah.. jadi besok kita berangkat pagi saja. Jam 9 boleh?”,

“Siap papa”, dan tanpa menunggu lama, saya segera mengabarkan kepada Bu Wawien dan teman-teman tentang rencana pergi ke tambang. Bu Wawien, dosen pembimbing kami dari fakultas biologi, saya pikir akan sangat tertarik atas ajakan ini.

--------------------------------------------------------------------------

Pagi ini cerah sekali, terlampau cerah malah. Cakrawala tampak biru bersih, hampir tak ada gumpalan awan-awan terlihat. Matahari bersinar dengan beringas dan amat menyengat.

“Baguslah, setidaknya rencana pergi ke tambang tidak batal karena hujan” pikir saya menghibur diri di hari yang baru berlalu sepertiganya ini.

Satu persatu anggota tim mulai datang ke rumah. Bu Wawien datang bersama dengan Ismi dan Hasta. Haviz juga datang pagi sebelum angka menunjuk jam 9. Sepertinya Haviz, Ismi, dan Hasta adalah yang paling bersemangat menyambut rencana ini. Maklum, mereka baru sampai di Obi kemarin setelah singgah di Bacan menunggu kedatangan Bu Wawien.

“Bagus, papa mau ke lokasi dulu ya? Nanti ngoni berangkat sama Usdi”, kata papa Haji. Sepertinya ia menyadari kalau kami tak akan tepat berangkat pukul 9. Papa juga ada urusan di tambangnya, ia tak bisa menunggu berlama-lama.

“Saya, papa ! Tarapa berangkat dulu saja” jawab saya dengan santai pada papa Haji.

Akhirnya Bang Rusdi juga tiba di rumah, menyusul Gilang, Baba, Destya, Gita, Istin, Resti, Tabah, dan Devina. Hampir semuanya membawa topi. Semua sadar akan panasnya pagi ini, belum lagi hari ini masih ramadhan.

“Bang Rusdi ! Sudah bakumpul semua ini. Berangkat sekarang, boleh?”,

“Boleh. Kuat jalan 2 kilo?” tantang Bang Rusdi sambil nyengir.

“Iii.. meremehkan tenaga Jawa ini. Siap abang, hino madagi (Mari jalan) !”,

Dan kami pun mulai melangkahkan kaki, setapak demi setapak menjauhi pemukiman Anggai dan mulai masuk ke area perkebunan yang becek. Beberapa hari kemarin Anggai memang sempat diguyur hujan. Kami mulai melewati jalan yang diapit kebun kelapa di kanan kirinya, pemandangan masih terlihat menyegarkan dengan nyiur dedaunan yang meneduhkan. Berulang kali kami berpapasan dengan orang-orang yang akan maupun baru pulang dari tambang. Usia mereka beragam, mulai dari anak-anak kecil hingga orang-orang dewasa.




Jalan Menuju Tambang


“Nah, kalian lihat. Itu di bawah tebing yang ada rumah-rumahannya itu. Itu sudah lokasi tambang” terang Bang Rusdi sambil menunjuk sebuah bukit hijau yang di tebingnya terdapat banyak rumah-rumahan kayu beratap terpal.

“Itu kan di dekat rumah-rumahan itu ada lobang tambang untuk ambil tanah rep (tanah yang mengandung emas). Itu lobang tambang depe (dia punya) dalam bisa lebih dari 30 meter”, tambah Bang Rusdi.

Tebing di samping tambang
Udara terasa semakin kering ketika kami akhirnya sampai di depan lokasi tambang. Kami segera disambut dengan deru mesin tromol yang bersahut-sahutan. Suara mesin pengolah emas ini tak pelak membuat cuaca jadi semakin sumpek dan panas.

Lahan di area pertambangan nampak amat  gersang. Di atas tanah yang kering inilah, berdiri rumah-rumah kayu milik para bos tambang. Di bawah atap-atap seng rumah kayu ini, segala aktivitas pengolahan emas berlangsung, mulai dari proses menghaluskan tanah rep dengan palu, proses pemisahan tanah dan emas di dalam mesin tromol, hingga proses pembakaran hasil gilingan mesin tromol untuk mendapat hasil emas murni.

Mesin Tromol
Rumah Tambang
Atmosfer kering nan tandus makin terasa dengan tak nampaknya pepohonan hijau besar di kanan kiri rumah-rumah tambang. Jumlah pohon disini tidak banyak, kecuali pohon-pohon kangkung yang tumbuh dengan liar dan subur. Kangkung-kangkung yang gemuk merambat ini ternyata berfungsi untuk menyerap limbah merkuri yang ada di di genangan-genangan air sekitar tambang. Kangkung-kangkung ini bukan cuma tumbuh gemuk subur, tapi dari pohonnya bermekaran bunga-bunga yang berwarna putih keunguan. Tak tahu mengapa, saya merasa bunga-bunga itu terlihat cantik. Tapi semakin bunga itu terlihat cantik, justru semakin besar perasaan nelangsa yang timbul. Betapa ironis,  makin suburnya bunga itu berarti makin banyak pula kandungan racun merkuri yang ada di dalam air -  yang nantinya akan mengalir ke sungai jua !

Bebunga Kangkung

“Kita naik ke atas dulu ya, sambil cari tempat buat istirahat” ajak Bang Rusdi yang melihat ekspresi kelelahan di muka kami. Kami pun berjalan dan singgah sejenak untuk duduk di salah satu rumah tambang.

“Ya Allah, panas tenan. Puasa meneh”, keluh Resti sambil menyeka keringat yang mengucur di keningnya.

“Ada yang bawa aqua nggak?” tanya Devina,

“Ini saya bawa, minum aja Devina” jawab Bu Wawien sambil memberikan sebotol aqua ukuran 600 ml pada Devina.

“Maaf aku minum dulu ya temen-temen, haus banget, sumpah ! Maaf ya buat yang puasa,” ujar Devina dan ia pun segera meneguk segelas air yang terlihat terlampau segar itu.

“Bagus nggak mau minum? Minum aja nggak papa kok”, tawar bu Wawien, kali ini pada saya.

“Wadoh... tidak usah Bu Wawien, saya masih kuat !”

“Lho, Bagus puasa to? Astaghfirullah maaf.. Bu Wawien kira kamu itu nggak puasa”, kata Bu Wawien sambil tertawa geli.

“Saya suku minoritas, tapi agama mayoritas bu, hehehe...” canda saya.

Tambang emas Anggai ditemukan pada tahun 1996. Sejak awal ditemukannya hingga sekarang, tambang ini tidak dikelola oleh negara maupun perusahaan tertentu. Hal ini membuat tambang Anggai berjalan dengan status ilegal atau PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin). Kabarnya, tahun ini pemerintah Halmahera Selatan berencana meresmikan tambang ini dengan status resmi “Tambang Rakyat” - sebagaimana masyarakat Anggai biasa menyebut tambang ini.

Dalam praktiknya, tambang seluas hampir 100 hA ini memang tidak dikelola oleh perusahaan besar, namun dikelola oleh para bos-bos tambang yang memiliki mesin tromol.  Di tambang ini, lebih dari 100 bos tambang beroperasi. Mereka mempekerjakan banyak penambang dari berbagai wilayah, seperti Obi, Bacan, Makian, dan Manado. Beberapa buruh tambang bahkan memiliki KTP Jawa.

“Kenapa disebut tambang rakyat abang? Apa karena tambang ini dikelola oleh Pemerintah Desa Anggai kah?” tanya saya pada Bang Rusdi, penasaran.

“Bukan oleh Pemerintah Desa Anggai, tapi sebagian besar bos tambang maupun yang jadi buruh disini kan rakyat Anggai sendiri. Jadi disebut dengan tambang rakyat” jawab Bang Rusdi.

“Oh, saya pikir disebut tambang rakyat karena seberapapun hasil tambang, nanti akan dibagi rata untuk rakyat Anggai”,

“Hee.. tarada begitu. Yang jelas sejak ada tambang ini, perekonomian rakyat memang jelas meningkat”, tambah Bang Rusdi dan ia terlihat semakin tahu banyak hal tentang tambang ini. 

Proses penambangan emas disini dimulai dengan menggali lobang vertikal hingga kedalaman 30 meter. Selanjutnya diambillah tanah rep yaitu tanah yang mengandung bijih emas. Proses selanjutnya disebut dengan amalgamasi. Batu yang telah dikumpulkan, kemudian ditumbuk menggunakan palu  sampai berukuran pasir atau krikil. Batuan halus yang sudah ditumbuk tersebut kemudian digiling lagi di dalam mesin tromol bersama dengan merkuri atau air perak. Proses penggilingan di dalam tromol memakan waktu 5 jam. Hasil olahan tromol ini selanjutnya akan diperas dengan kain parasut hingga hasilnya telah berupa emas mentah. Emas mentah masih memiliki kandungan air perak. Untuk memisahkan kandungan air perak tersebut, dilakukan proses terakhir yaitu pembakaran. Sisa pembakaran itulah yang nantinya akan berbentuk emas murni.

Melalui sistem pengolahan emas ini, tambang emas Anggai masih terus berproduksi sampai sekarang dan menjadikan tambang ini sebagai tempat utama mata pencaharian sebagian besar warga Anggai.

Pada kunjungannya hari ini, Bu Wawien ternyata sengaja membawa alat pengecek keasaman air atau pH meter. Tentu saja Bu Dosen tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melakukan sebuah riset kecil: memeriksa tingkat keasaman air di area tambang.

Sambil berjongkok, Bu Dosen pun mencelupkan pH meter digitalnya ke dalam air di salah satu kolam penampungan limbah merkuri. Air di dalam kolam ini berwarna coklat dan bertekstur pekat. Ketika terkena sorotan sinar matahari, air ini akan mengeluarkan kilau-kilau perak berkilatan. Kilauan itu ternyata berasal dari sisa-sisa merkuri yang masih berada di dalam kolam.

"pH di dalam kolam ini adalah 5,5 ya adik-adik. Ini sudah cukup berbahaya karena sudah di bawah angka 6 dan nantinya air ini juga akan mengalir ke sungai. Perlu ada penanganan khusus, misalnya memperketat proses penyaringan merkuri sebelum air benar-benar lepas ke aliran sungai. Selain itu, kita juga bisa menanam tumbuh-tumbuhan yang mampu menyerap logam berat merkuri. Tumbuhan itu misalnya kangkung air atau eceng gondok. Disini sebenarnya sudah ada kangkung air, tapi sebenarnya kalau eceng gondok relatif mampu menyerap merkuri lebih banyak", terang Bu Wawien, dalam wajahnya tersirat sedikit keprihatinan akan tambang ini.

Kami pun berjalan lagi menyusuri sudut demi sudut lokasi tambang. Kami sempat terhenti sejenak, terhenyak oleh sebuah pemandangan yang begitu mencolok mata mengiris hati. Di depan kami, seorang bocah laki-laki usia 6 tahunan, terlihat sedang asyik bermain di dalam kolam genangan air limbah. Bocah itu berendam dalam lumpur coklat pekat sambil mencari sisa-sisa air perak padat yang masih tergenang di dalamnya. Air perak itu kemudian ia ambil dengan jempol dan telunjuknya, ia pelintir sampai bulat dan ia pandang lekat dengan kedua bola matanya. Seorang bocah wanita seumuran yang hanya memakai singlet lusuh kemudian menyusul bocah lanang itu. Bocah berambut merah kering ini kemudian ikut bermain bersamanya, mengumpulkan butir-butir merkuri dan menaruhnya di atas telapak tangan. Ia kemudian asyik menggoyang-goyangkan tangannya supaya butir merkuri diatasnya ikut bergerak seperti air di atas daun talas.

"Adik, tidak boleh bermain disitu. Berbahaya lho", bujuk Bu Wawien sambil mendekat pada dua bocah. Mereka tak acuh, hanya menatap kami sejenak lalu segera mengalihkan pandangannya lagi. Bocah ini saya kira adalah anak-anak pekerja tambang. Bagi mereka, tambang ini adalah sebuah taman bermain, dengan kilau-kilau merkurinya, dengan sumur yang airnya mereka minum dan dipakai mandi, dengan tong-tong mesin tromol yang biasa mereka pukul untuk tabuhan. Tak ada rasa khawatir akan bahaya zat merkuri yang konon jadi zat perusak epidermis kulit, perusak jaringan syaraf, hingga pemicu kanker.

Bocah yang bermain butir-butir merkuri
Kisah tak berakhir sampai disini. Di salah satu kolam penampung lain, pH meter justru tiba-tiba tidak berfungsi alias tidak bisa membaca tingkat keasaman air limbah.

“Lho, kok bisa alatnya mati bu?” tanya anak-anak melihat kejanggalan ini.

“Ini berarti pHnya sudah di bawah angka 1 sehingga pH meter digital ini tidak bisa membacanya. Berarti ini sudah sangat-sangat asam adik-adik. Ini mungkin karena air di dalam kolam ini tidak sekedar mengandung merkuri saja, tetapi juga sianida”, terang Bu Wawien. Di beberapa rumah tambang, emas memang tidak hanya diolah menggunakan mesin tromol. Ia juga diolah menggunakan tong-tong sianida supaya emas yang dihasilkan bisa berjumlah lebih banyak.

Saya sejujurnya tak banyak mengerti perihal bahaya limbah tambang. Yang saya tahu, limbah ini berbahaya dan dampaknya baru akan terasa setelah proses akumulasi yang mungkin akan berlangsung berpuluh tahun. Belum lagi berdasarkan cerita yang saya dengar, proses pembuangan limbah di tambang ini ternyata belum dilakukan dengan baik. Air di kolam penampungan limbah seringkali banjir saat terjadi hujan besar. Luapan dari kolam penampungan ini lalu akan mengalir ke sungai yang airnya mengarah langsung ke laut - habitat ikan-ikan yang mungkin sering dikonsumsi warga.

Saya sempat berpikir, bahwa tema utama KKN kami yaitu pengolahan hasil alam di Anggai, sebenarnya tidak lebih penting jika dibandingkan upaya mengurangi dampak limbah tambang terhadap kualitas air atau tanah di Desa Anggai. Sayangnya, permasalahan tambang ini memang benar-benar baru kami tahu setelah kami tiba disini. Dengan sedikitnya informasi yang kami peroleh, sepertinya program mengatasi dampak limbah ini baru bisa terealisasi dengan baik jika ada tim KKN lagi tahun depan. Itupun jika kami membawa cukup informasi untuk tim KKN yang selanjutnya. Semoga di sisa hari yang masih cukup lama ini, kami bisa mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi perihal tambang dan dampaknya terhadap masyarakat.

Kami bertemu papa Haji setelah puas mengamati segala sudut lokasi tambang. Sedikit cerita, di area ini ternyata juga banyak terdapat warung dan toko yang menjual berbagai kebutuhan. Bukan hanya sekedar warung makan, kami juga menemukan adanya toko kelontong, toko peralatan sekolah, atau toko gerabah. Lokasi tambang sepertinya sudah mirip sebuah desa yang memiliki corak aktivitas dan budayanya sendiri.

Papa Haji kemudian menyuruh kami beristirahat di rumah kayunya yang berada di ujung selatan lokasi tambang. Setelah cukup beristirahat selama setengah jam, kami pun segera pamit pulang dan berharap segera sampai di rumah untuk bisa tidur panjang. Malam ini kami masih punya agenda: berbuka bersama warga. Semoga saya masih kuat menahan dahaga sampai adzan maghrib tiba.

Apa yang membekas dari tambang ini? Status tambang ini seolah berayun antara kesejahteraan dan kerusakan, antara harapan dan malapetaka, antara rezeki juga musibah, Yang jelas, dengan segala resikonya, aktivitas di tambang ini tak akan mungkin berhenti.

"Beruntung masih rakyat yang kelola. Jadi alamnya rusak, tapi rakyat masih dapat. Coba kalau sudah dijual sama negara, rakyat cuma dapat ampasnya", ujar seorang guru SMK yang sebenarnya juga punya mimpi bisa memperbaiki kondisi tambang ini.

Kalau ada penyakit, ia harus segera diobati.

26 Juni 2016


Toko-toko di area tambang
Selesai observasi tambang, maghribnya kami ikut buka bersama Warga Anggai



Ketika Marx mengatakan bahwa agama adalah candu, Marx harus menanggung beban sejarah yang masih ia pikul sampai saat ini, 130 tahun lebih pasca kematiannya. Marx dituding sebagai penyebar paham atheist, Marx adalah iblis yang anti agama, pak brewok dekil yang tak percaya Tuhan. Parahnya, akibat dakwaan itu jutaan orang jadi enggan untuk mempelajari pemikirannya. Jangankan membaca teorinya tentang bagaimana cara kapitalis bekerja, berjuta-juta orang bahkan phobia akut mendengar namanya.

Apakah mengatakan agama adalah candu berarti seseorang pasti anti terhadap agama? Bagaimana seandainya saya mengatakan handphone adalah candu (dan smartphone adalah raja candu)? Apa saya akan dicap manusia primitif yang anti gawai dan kemajuan? Jika ngana mengatakan demikian, sebaiknya ngana segera mengambil 3 butir pil antimo dan tenggak dalam sekali waktu. Ngana sedang dalu alias mabuk berat.

Handphone adalah candu (dan smartphone adalah rajanya). Lalu kita mengenal istilah nomophobia, yaitu keadaan dimana seseorang merasa sangat gelisah ketika tidak ada handphone. Saya yakin bahwa 99% orang yang sedang membaca catatan ini adalah penderitanya. Pun perlu kau tahu, hal ini juga terjadi pada seluruh anggota tim Baraobira. Sayangnya, selama 40 hari kedepan kami akan tinggal di tempat yang jaringan signalnya setengah mati. Ini berarti bahwa kita akan kehilangan sebuah fungsi utama dari adanya handphone: komunikasi jarak jauh. Apalah arti handphone jika ia tak bisa untuk telfon? Sama saja kita hanya menggenggam gamebot polichrome kan?

Hari-hari awal di Anggai pun dilalui dengan perasaan yang gelisah dan kelusah-kelusuh. Ketika Kormanit Gilang survey di bulan April lalu, ia mengabarkan bahwa Anggai memiliki jaringan kartu telkomsel. Tapi faktanya berbeda ketika kami telah tiba di desa: tak ada satupun signal yang menyangkut. Kau bisa berusaha mengangkat tangan kirimu ke langit sambil menggenggam hp, kau bisa saja memberi grenjeng rokok supaya penangkap signal hp mu bisa terupgrade (oleh energi sugesti), tapi di Anggai? Semua hanya sia-sia, percuma....

---------------------------------------------------------------

Entah siapa yang pertama mendapat kabar ini, bahwa Anggai ternyata memiliki satu-satunya tempat yang menyediakan sinyal handphone stabil. Tempat itu masyhur disebut konter.

Mulanya, saya membayangkan konter adalah warung tempat jual pulsa – yang dicat warna merah, yang entah bagaimana di warung pulsa ini kita bisa mendapat sinyal handphone yang kuat. Saya membayangkan konter sebagai warung tempat pemuda Anggai berkumpul: ngopi, gitaran, main kartu. Lalu siapa yang sudah bosan akan mlipir untuk mulai menelfon nona kesayangan.

Konter yang saya bayangkan ternyata sangat berbeda dengan konter yang sebenarnya. Konter sejatinya adalah sepetak daratan yang menjorok ke laut – atau tanjung – yang terletak di ujung barat desa, tempat perbatasan Anggai-Sambiki. Bibir laut konter berhadapan langsung dengan Pulau Madopolo,  pulau berdirinya tower utama telkomsel di kepulauan Obi, itulah mengapa di tempat ini kita bisa mendapat sececah sinyal yang terpancar dari utara Obi.

Ada pemandangan unik setiap kali saya baronda kesini. Seringkali, terlihat banyak – lebih dari 10 - orang yang sedang sibuk dengan telfon genggamnya, menelpon di tempat pilihannya masing-masing: berdiri di atas jembatan kayu, duduk di bawah pohon, atau berjongkok di bawah rumah panggung.  Tepian laut ini jadi tempat orang-orang melepas rindu lewat suara, entah dengan sanak famili atau dengan kekasih di seberang sana.

Selain jadi tempat bersemayam para Cupid, konter sepertinya juga jadi tempat bermukimnya Mikail. Konter adalah padang rezeki. Ia jadi harapan masyarakat Anggai untuk tetap memperlancar roda bisnisnya. Banyak orang sengaja datang kesini untuk menelfon si mitra bisnis yang ada di Madopolo, Ternate, sampai Manado.

Hari ini, agenda saya adalah mengadakan rapat membahas program pendidikan bersama Devina, Destya dan Apoy. Selesai rapat, kami pun menyempatkan diri untuk pergi ke konter bersama-sama. Sesampainya disana, kami segera sibuk dengan gawai masing-masing. Apoy dan Devina menelfon mamanya, Destya berkabar dengan teman spesialnya, sedang saya segera mengirim pesan pada dua orang yang sangat saya rindukan: Riris dan Mama.

C’est si dur de ne pas vous raconter tous ces histoires pendant tout ce temps..

Saya ingin sekali berkabar dengan Riris, melepaskan curahan hati, uneg-uneg, dan saling nguda rasa. Terlalu banyak hal baru yang belum saya ceritakan. Dia suka sekali mendengarkan celoteh tentang perbedaan adat budaya. Dan kecanggungan saya menghadapinya.

Jangan tanyakan bagaimana rindu saya pada mama di Jawa. Saya ingin sekali sekedar mengabarkan padanya bahwa Obi membuat saya bahagia: mama papa piara yang baik, makanan yang lezat, masyarakat yang partisipatif dan jenaka. Saya selalu kepikiran kalau dia sedang memikirkan saya.

Saya baru menyadari kalau nomor telkomsel saya ternyata tak bisa digunakan untuk menelfon ataupun menerima. Saya pikir penyebabnya adalah saya tidak meregistrasikan nomor konter tempat dimana kartu ini dibeli. Aih, sial !

Mau tak mau, saya harus meminjam handphone milik teman. Apoy masih berkisah dengan ibunya, Destya tak bisa lagi diganggu gugat, tinggal Devina yang sepertinya sudah usai bertelfon. Oh ya, saya suka sekali mendengar Devina bertelfon dengan mamanya. Mereka akan menggunakan bahasa Cina Hokian ketika bercakap. Fasih, fasih sekali. Dalam waktu sekejap, kita akan merasakan sensasi berada di tengah scene film Once Upon a Time in China.

Devina sepertinya teman KKN yang paling baik. Dia akan meminjamkan apapun yang bisa dia pinjamkan dengan tersenyum memperlihatkan seluruh giginya, dan tentu saja saat ia tersenyum matanya tak terlihat sedikitpun. Saya sipit, tapi tak sesipit dia.

Berkat Devina, saya pun dapat bersapa lagi dengan mereka...


Apoy dan Devina
Pemandangan Konter




---------------------------------------------------------------

Di tengah romantisme tanjung signal yang langka, tetap saja terselip rasa miris dan duka. Bagaimana mungkin masyarakat Obi harus tertinggal sejauh ini dalam hal teknologi dan informasi?

Obi adalah pulau yang luar biasa kaya, ia bahkan dijuluki sebagai dapurnya Halmahera. Bukan hanya dapur saya rasa, namun juga ladangnya. Pulau yang luasnya hampir sama dengan pulau Bali ini  memilik potensi sumber daya alam yang luar biasa: hutan, mutiara, nikel, emas, batubara. Sumber daya ini kemudian dijual oleh pemerintah kepada para investor hingga terjadilah eksploitasi alam yang luar biasa besarnya.

Hasil dari persetubuhan antara pemerintah dengan investor ini adalah tercatatnya Obi sebagai kecamatan yang memberikan APBD terbanyak untuk Kabupaten Halmahera Selatan, bahkan Maluku Utara !  Namun, apa dikata? Pulau pemasok terbesar APBD ini harus menerima kenyataan bahwa listrik disini belum 24 jam (sebagian wilayah di Obi Selatan belum mendapat pasokan listrik sama sekali), sinyal handphone masih barang mahal, apalagi sinyal internet.

Obi serba ketinggalan dalam hal teknologi informasi, juga dalam hal pembangunan dan pendidikan. Coba kau berkendara motor dari Kecamatan Laiwui menuju Anggai maka akan kau lewati Jalan Gunung Sikunde, jalanan naik, terjal berbatu, yang seringkali membuat warga tergelincir dan kepalanya bocor. Atau setidaknya, lihatlah Desa Sambiki yang hingga detik ini belum memiliki jalan beraspal (Seorang warga Sambiki bercerita bahwa tahun lalu aspal ditarik kembali oleh pemda karena permasalahan pemilu). Dalam hal pendidikan juga setali tiga uang. Silahkan lihat Desa Anggai-Sambiki yang hingga hari ini sangat kekurangan tenaga pengajar. Atau kalau ingin tambah miris lagi, mari bersua ke SMK Peduli Bangsa, SMK dengan jurusan Teknologi Informasi di tengah desa yang belum mengenal signal 3G.

Konter...
Tanjung Signal, Tanjung Harapan...
Dibalik romantismenya, tersirat pesan bahwa Obi sedang tidak baik-baik saja...

25 Juni 2016

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018