bagus panuntun

berubah!

Sampai juga di catatan hari-13.

13 ! Angka yang dikenal umat sejagad sebagai sinonim kata sial. Kita mempertimbangkan untuk tidak membuat pesta makan malam di tanggal 13. Beribu bangunan sengaja melewatkan lantai 13, sehingga akan ada angka 14 setelah 12. Kebanyakan orang menghindari membeli rumah di jalan nomor 13. Apakah ada rumus ilmiah yang bisa membuat angka ini logis disebut angka sial? Tidak juga. Namun apa mau dikata, catatan hari-13 ini ternyata juga akan berbicara tentang kesialan yang terjadi hari ini. Sial !

Di Jum'at yang terik ini, sedianya Tim Baraobira akan mengadakan dua sosialisasi. Sosialisasi yang  pertama adalah sosialisasi bahaya malaria dan penyakit menular seksual. Sedangkan sosialisasi yang kedua adalah sosialisasi tentang pupuk kompos.

Sialnya, tak ada satu warga pun yang datang. Kosong !

Untuk itu, dalam catatan ini, saya mewawancarai 2 orang anggota tim Baraobira. Gita dan Tabah. Gita adalah penanggung jawab program sosialisasi bahaya malaria dan penyakit menular seksual. Sedang Tabah adalah penanggung jawab sosialisasi yang satunya. Saya kira wawancara ini cukup layak untuk dibaca – terutama bagi kalian yang belum pernah KKN. Setidaknya, akan ada beberapa pelajaran yang bisa kalian ambil dari kesialan kami.

Bagus:   Halo Gita, Halo Tabah..

Gita dan Tabah: Hai.

Bagus: Settt dah.. Gimane nih neng, sosialisasi kagak ade nyang nyamperin?

Gita: Maaf kaka, tong sedang di Timur. Tong pakai bahasa Timur saja, jangan pakai bahase betawi dah !

Bagus: Ah, saya kaka ! Saya ulang pertanyaannya e ! Chiiiii... Bagaimana ini sosialisasi tarada yang datang? Kosong.....

Gita: Iyoo.. Tara tau kaka, mungking karena tong pe warga sedang sibuk semua. Padahal su tong umumkan lewat dua masjid...

Tabah: Mbuh iki mas, kurang publikasi kayaknya.

Bagus: Chii.. kak Tabah ini, pakai bahasa medhok terus e... Lanjut sudah ke pertanyaan dua. Begini kaka, kenapa tong adakan acara sosialisasi ini di bulan puasa? Kenapa tara selesai lebaran saja?

Gita: Kan tong.... Kantong bolong...hihihi...

Bagus: Wis git... receh dah !!!

Gita: Hihihi... Kan tong su tanya sama warga. Dong (mereka) bilang waktu malam perkenalan itu, kalau program non fisik sebaiknya diselesaikan sebelum lebaran.

Tabah: Hooh yoo... Tur kan, katanya kalau pas bulan puasa warga Anggai juga belom sibuk kerja. Kegiatan di tromol/tambang juga libur. Nah katanya kalau habis lebaran, warganya habis. Pada ke kebung sama tambang semua. Piye to??

Bagus: Iii.. Pusing e.. Siapa yang salah ini? Tong anak KKN atau warga Anggai?

Gita: Bagaimana e... tong juga asal bikin program saja tapi kurang publikasi. Jadi tara banyak warga yang tau mungking..

Tabah: Yo kalau kesalahan utama ya jelasss.. ada pada kita no.. Kita kan masih kurang publikasi dan kurang tau cara paling ampuh buat undang warga.

Bagus: Memangnya, kaka-kaka ini mau sosialisasi tentang apa saja kah?

Gita: Kalau kita (saya) mau sosialisasi tentang bahaya Penyakit Menular Seksssss....sual, sama satu lagi, bahaya penyakit malaria...

Tabah: Kalau aku sih tentang pembuatan pupuk kompos, mas...

Bagus: Penting kah buat warga?

Gita: Kan ini juga warga yang dulu minta waktu tong presentasi di malam perkenalan. Dong bilang disini su ada satu orang yang positiv HIV, dan kalau tong tara kasih solusi kan bisa bahaya. Nanti banyak yang nyusul. Lalu, disini juga banyak kasus “Ku hamil duluan, sudah 3 bulan... Gara-gara pacaran sering dua-duaan”, aseek. Hihihi... Kalau yang malaria itu, karena disini kan malaria itu penyakit endemik.

Tabah: Kalau aku kan sosialisasi tentang pembuatan pupuk kompos. Yo jelas penting. Pertama, warga sini masih buang sampah di lao (laut)... Kalau warga bilang sih gini, sampah dibuang di laut kan biar kebawa arus. Kata siapa? Wong nanti sampah juga bisa balik lagi ke dara (darat) kok... Kan eman-eman lautnya rusak.. Nah jadi mau disosialisasikan: Bagaimana caranya mengelola sampah. Sampah organik kan bisa dibikin pupuk, wong disini juga belum ada budaya menanam pakai pupuk. Nah kalau yang anorganik, ya bisa dibikin kerajinan. Tapi kan tahun ini kita belum nyiapin materi ini. Ya udah, sampah anorganik lebih baik dibakar saja. Ada sih efek lingkungannya, tapi tidak separah kalau di buang di laut. Oh ya satu lagi, ini juga jadi pengantar sebelum nanti habis lebaran kita mau bikin tempat sampah masyarakat.

Bagus: Tempat sampah opo??

Tabah: Tempat Sampah Milik Masyarakat.....

Bagus: Chii... cerita klasik e.. Anak KKN bikin sosialisasi, tarada warga yang datang. Lalu, bagaimana ini solusinya kaka? Sosialisasi ini mau ditunda atau tong batalkan sudah?

Gita: Tong tunda, jangan tong batalkan ! Nah, nanti tong bisa ngakali. "Ngakalii...." Ya, maksudnya nanti tetap tong adakan selesai lebaran, tapi sosialisasinya tong adakan bersama  kegiatan Posyandu. Kalau posyandu kan banyak warga yang datang jadi nanti banyak yang ikut sosialisasi juga. Itu juga saran dari Bu Bidang Lia dan Bu Bidang Irma.

Tabah: Iya.. Tadi sih sudah bahas solusinya. Pertama, diadakan bareng posyandu. Kedua, nanti kita bikin surat buat disebar di masing-masing rumah. Biasanya kan kalau sudah ada surat, warga merasa lebih dihormati. Tur kan ini bisa jadi ajang pendekatan kita juga ke warga to. Solusi ketiga, lek perlu mubang-mubeng kampung nggowo TOA...

Bagus: Luar biasa kaka... Jadi tetap optimis sukses e??

Gita: Jelas dong...

Tabah: Yo kudu...

Ini foto Balai Desa Anggai, tempat yang sedianya hendak kami pakai untuk sosialisai.

Gita. Calon Bidan yang siap mengabdi di Somalia. Hobi Ngreceh tapi Pagopan.
Tabah. Mahasiswi Pertanian. Idola Masyarakat Anggai. Kabarnya siap jadi Mama Timur: Nganggo Masker Adem Tradisional sinambi Budidaya Bonsai Cengkih.

--------------------------------------------------------------------

Seusai wawancara singkat dengan Gita dan Tabah, saya segera berangkat Jumatan. Sorenya Tim Baraobira mengadakan program satu lagi, yaitu Taman Pengajian Al-Qur’an. Muncul sedikit kekhawatiran, jangan-jangan tak ada lagi yang datang? Apakah mitologi angka 13 masih mengintai?

Beruntunglah..mitologi tetap mitologi. Acara TPA jadi semacam hiburan, karena pada akhirnya banyak anak-anak Anggai menampakkan batang hidungnya.

Mengaji Sore telah memelantingkan ingatan saya pada masa 15 tahun lalu. Saat tubuh yang masih kecil selalu pergi ke Mushola tiap sore. Berlari cepat saat toa masjid sudah mengumumkan pengajian siap dimulai. Tiba-tiba saya mengenang Mas Syakirun, guru ngaji yang jadi idola semua bocah kampung saya. Ia yang tak pernah memegang githik (bilah bambu tipis untuk menyabet murid mbeling) saat mengajar, ia yang sabar menerangkan bedanya idgham bighunnah dan idgham billaghunah, dan ia yang tak pernah kehabisan lagu ngaji untuk ditembangkan. Salah satu lagu yang masih teringat ngelothok di kepala adalah lagu 5 rukun Islam, yang ia gubah dari lagu balonku ada lima, yang kemudian ia ubah liriknya. Lagu ini pun hari ini kembali saya nyanyikan, saya ajarkan kepada anak-anak di Anggai:

Rukun Islam yang lima,
Shahadat, sholat, puasa,
Zakat untuk si Papa,
Haji bagi yang kuasa..

Siapa tidak sholat (Hey !!)
Celaka di akhirat,
Siapa tak bayar zakat,
oleh Allah dilaknat.

Banyak dari mereka yang menyukai cara ini. Mengaji sambil menyanyi. Menyanyi sambil mengaji. Sebelum mereka bertanya, saya mencoba untuk menjelaskan apa yang sekiranya belum mereka paham,

"Adik-adik, perhatikan di lirik: Zakat untuk si papa... Si papa itu artinya orang yang miskin, orang yang hidupnya susah. Bukan papa, suaminya mama ya???".

"Adik-adik tau artinya dilaknat, tarada? Dilaknat itu artinya dihukum. Jadi dilaknat Allah itu artinya dihukum Allah, e?"

Saya cukup kaget saat sedang mengajar Al-Qur'an. Ternyata banyak dari anak-anak ini yang sudah mampu membaca Al-Qur'an dengan nada murotal, lengkap dengan cengkok-cengkoknya. Padahal sebagian besar dari mereka masih SD.

"Ih, ini lebih hebat daripada anak-anak di kampung saya", ujar saya pada teman-teman yang juga ikut mengaji.

Kalau menurut Haviz dan Umar, dua anggota Baraobira yang paling fasih dalam membaca ayat-ayat Al-Qur'an, kebanyakan anak Anggai memang sudah lancar dan indah dalam membaca Al-Qur'an, hanya saja mereka masih lemah dalam tajwidnya.

Seketika itu Baba, salah satu anggota Baraobira, ikut nyeletuk,

"Santai lah... Wong aku wae Iqra' (jilid) 3 durung lancar".

1 Juli 2016


Sosok Syaikh Umar, Mengajar Ngaji dengan Aplikasi Modern

Alhamdulillah, Jama'ah Al-Anggaiyah Ramai






Ada seteru yang tidak akan hilang. Setidaknya itu yang kita pelajari dari dunia sepakbola. Kita mengenal seteru Madrid-Barcelona, Rangers-Celtic, dan tentu saja Boca Junior-Riverplate. Satu sama lain saling mengutuk, juga memohon: "Beri penderitaan pada seteruku, Tuhan !". Kebencian itu bahkan seolah jadi bagian dari identitas mereka. Identitas yang melekat, identitas yang diakui. Ini yang membuat seorang pemain karismatik macam Juan Roman Riquelme pun tak malu berkata di depan media "Aku tidak akan pernah bangun tidur dan melihat diriku mengenakan baju warna merah dan putih", ujarnya menyinggung River Plate dan warna kebanggaannya.

Di negeri ini misalnya. Yang nasib sepakbolanya sama menyedihkan dengan nasib nenek pencuri sandal. Perseteruan abadi juga tumbuh dimana-mana. Apalagi dalam jagat dunia supporter. The Jack versus Bobotoh, Bonek versus Aremania, Supersonik versus Kapak Rimba. Mereka sama bangganya ketika mengatakan "aku benci mereka". Sedang saat kita coba mengusik gesekan itu, barangkali mereka akan berkata "Bukan urusan kalian !"

Perseteruan yang hebat dan keras ini ternyata tumbuh subur juga di tanah Obi. Sayangnya, perihal perseteruan dan fanatisme - yang bahkan menjurus pada chauvinisme ini – tak hanya kita temukan dalam jagat sepakbola saja. Dua desa tempat Tim Baraobira mengabdi: Anggai dan Sambiki, adalah seteru abadi yang selalu menunjukkan egoisme kejayaannya masing-masing. Di segala bidang. Di segala sisi.

Saya mendengar terlalu banyak cerita tentang konflik ini. Salah satunya dari Idhar Halqi, pemuda Anggai yang sedang belajar ilmu politik di Ternate. Saya bertemu Idhar Halqi di suatu malam saat saya tak berangkat sholat tarawih. Kami makan bakso bersama di Warung Bakso milik Lek Ti, perempuan usia 40-an asal Solo, yang kini jadi satu-satunya penjual bakso sapi di Airmangga-Anggai-Sambiki. Idhar Halki punya 'passion' terhadap segala jenis bir dan alkohol. Ini terlihat sejak awal pertemuan kami. Ia langsung menyinggung tentang bir lokal yang menurutnya harus kami minum di hari pertama lebaran.

“Besok kita minum bareng cap tikus e !”, katanya tepat setelah ia memperkenalkan namanya.

Saya memercayainya sebagai pemabuk berat sejak pertama bertemu. Saya melihat matanya yang cekung dan merah, bibirnya yang hitam kering, dan tubuhnya yang tinggi sekali tapi kurus kerontang. Dan ternyata benar pula, 2 tahun lalu ia mengalami overdosis wedang oplosan saat masih kuliah di Tangerang. Akibatnya, ia harus dipulangkan lagi ke Obi setelah dirawat 1 minggu di rumah sakit terbesar kedua disana.

Idhar Halqi punya kemampuan bercerita yang baik. Ia bicara terus menerus sambil sesekali menyeruput teh dan menghabiskan bakso di mangkoknya. Ia bicara tentang satu topik konflik Anggai-Sambiki. Dari satu peristiwa satu ke peristiwa lainnya. Ia memulai ceritanya dengan cerita tentang tawuran di malam lebaran, satu tahun lalu. Ujarnya, seorang anak Sambiki dihajar dan dicongkel matanya. Ia buta, tapi masih beruntung selamat setelah operasi di Surabaya.

“Sekarang matanya diganti dengan mata kucing”, ujar Idhar Halqi dengan mantap, sampai terlihat sedikit busa di kanan kiri mulutnya.

Saya tak percaya kebenaran cerita ini. Sampai akhirnya tadi pagi saya bertemu dengan ia yang dimaksud. Di pos kamling dekat Balai Desa Sambiki. Anak muda itu seumuran saya. Rambutnya jabrik seperti kebanyakan anak-anak masa kini. Ia terlihat normal jika dilihat dari sisi sebelah kiri. Namun perhatian kita akan terpaksa tertuju ke bola matanya ketika melihatnya dari sisi kanan. Mata pemuda itu memang mirip mata kucing. Pupilnya yang palsu berwarna putih kehijauan, melebar seperti meluber ke kornea matanya.

Cerita Idhar Halqi lalu lompat ke cerita tawuran malam lebaran 4 tahun sebelumnya. Kali ini giliran orang Anggai yang jadi korban. Tak tanggung-tanggung, sang korban terbunuh dengan parang di perutnya.

Setelah tragedi yang berawal dari hal sepele itu – 2 anak SMA yang mabuk dan berkelahi -, konflik antara Sambiki Anggai jadi makin memanas. Dalam lima tahun ini, sifat saling benci seringkali bukan hanya ada di lingkaran anak-anak muda. Mereka yang sudah mulai uzur pun tak jarang ikut-ikutan menyulut kebencian. Misalnya beberapa kali terdengar para mama papa membicarakan kelakuan  anak-anak muda Sambiki yang terlampau bejad.

“Disana ada genk anak muda namanya ANKER. Itu kasihan anak-anak yang KKN di Sambiki kalau keluar rumah malam-malam. Mereka suka mabuk, suka baku pukul, suka kebut-kebutan”, ujar seorang mama.

Bagi sebagian orang Anggai – mungkin khususon yang keluarganya pernah jadi korban -, pemuda Sambiki layak masuk kantung sampah. Mereka menyebut pemuda Sambiki adalah keparat yang petentang-petenteng, suka menenggak bir kemana-mana, dan sikapnya tak tau batas.

Idhar punya pandangan lain. Menurutnya pemuda Anggai dan Sambiki sama-sama busuknya. Hanya saja Anggai lebih menangan. Hahaa...

Beberapa kali saya membicarakan soal ini dengan teman KKN yang tinggal di Sambiki. Salah satunya dengan Ongri. Ongri bercerita lebih dulu,

“Cuk... Di Sambiki ternyata nggak cuma ada 1 genk. Tapi ada 3 genk. Ada ANKER Sambiki: Anak Keren Sambiki...”,

“Kok cupu namanya?” potong saya sambil terkekeh.

“Namanya cupu. Tapi yang paling disegani di Sambiki. Anak-anak ANKER malah yang paling deket sama kita”,

“Terus yang lain?”, tanya saya penasaran.

“Ada lagi yang kedua namanya BLAMID. Berani Lewat Mandi Darah. Hahaa.. Ini genk namanya paling serem tapi aslinya yang paling cupu. Terus ada lagi yang terakhir, BAMBU: Biarkan Aku Mabuk Bukan Urusanmu. Hahaa...”, dan saya langsung ikut tergelak.

Menurut Ongri, masyarakat Sambiki pun setali tiga uang. Banyak diantara mereka melihat Anggai, khususnya pemudanya, seperti  tikus-tikus berkudis: suka bergerombol, liar, dan sebaiknya tidak didekati kalau tak mau ketularan (biadabnya).

Masing-masing mengutarakan kebencian dengan narasi versinya. Ada yang benar, ada yang ditambah-tambahi. Tapi jelas, ini tidak baik-baik saja.

-------------------------------------------------------------------

Petang ini cerah sekali. Telah lama saya memimpikan malam yang dipenuhi deretan rasi bintang seperti ini. Sangat disayangkan saya sudah ada janji. Kalau tidak, barangkali saya akan mengajak Baba pergi ke Konter, melepas status fakir signal lalu saya akan menelfon Ririshwari. Bercerita padanya kalau saya sedang menatap hamparan milky way.

Malam ini kami mengadakan rapat besar bersama IPMA – Ikatan Pelajar Mahasiswa Anggai. Rapat ini terlaksana juga, setelah sehari sebelumnya - saat kami mengecat masjid - kami membicarakan perihal upaya membangun kebersamaan antar mahasiswa UGM dan pemuda Anggai.

"Kebetulan IPMA juga su ada rencana mau bakumpul bahas pesta rakyat buat lebaran. Mahasiswa UGM ikut saja, supaya kita baku kenal dan makin akrab", ujar Bang Al-Khadrin sehari sebelumnya.

Agenda rapat malam ini sebenarnya sederhana: membahas acara di malam dan hari lebaran – yang tinggal seminggu lagi ! Namun, malam yang sepertinya tak akan panjang ini, ternyata harus jadi berlarut-larut. Ini sejak ada Bung Arman. Pemuda Marxist Anggai, yang bicara terus menerus tentang konflik Anggai-Sambiki.

“Tong pe acara ini harus mampu meresolusi kongflik yang sudah terjadi antara Anggai dan Sambiki. Tong pe generasi kan harus mengubah paradigma berpikir, supaya kita pe paradigma bisa berpikir secara nasional untuk persatuan. Supaya tong bisa membangun relasi. Ini kan supaya sesuai dengan konstitusi 1950 Bung Karno, to?”. Ujarnya keras. Setiap kali ia bicara, saya sedikit jengkel juga. Bagaimana mungkin ia selalu menekankan diksi-diksi 'pergerakan' yang sebagian besar anak UGM pun saya yakin kurang paham. 

Bung Arman tak bisa tidak keras setiap kali mengutarakan opini. Baik tangan kanan, maupun tangan kiri, akan bergerak kesana kemari untuk ikut memberikan penekanan. Sayang, gerakan tangannya sering kelewat tempo. Tangan kirinya sudah terangkat ke atas padahal ia masih bicara prolog. Diksinya sering membuat orang jadi antipati. Salah satunya adalah Bang Yamin yang menimpal tegas pendapat Bung Arman.

“Pertama, terimakasih kepada moderator yang telah memberi kesempatan pada saya....”. Rapat di Anggai selalu berlangsung lama. Ini karena masing-masing orang yang hendak berpendapat musti mengucapkan terima kasih pada moderator. “Kedua. Terima kasih kepada mahasiswa Anggai dan Mahasiswa UGM yang bersedia hadir malam ini”. Kadang-kadang mereka masih menambahkan ucapan terima kasih kepada pihak diluar moderator. “Menurut saya begini. Kita musti fokus saja untuk membicarakan acara apa yang ada di hari lebaran. Terutama di hari pertama yang hampir setiap tahun ada baku hantam. Kita fokus solusi ! Bagaimana supaya anak-anak Anggai tidak pergi ke Tanjung Sambiki. Saran saya adalah kita adakan acara budaya, seperti Tari Toga, Cakalele, Basisi. Ini supaya selain menghindari kongflik, tong juga mengingat budaya leluhur adat Tobelo Galela”, ujar Bang Yamin mencoba mengarahkan pada hal teknis.

Bung Arman sesegera mungkin mengacungkan tangannya lagi, memberi tanggapan pada pendapat Bang Yamin.

“Terima kasih untuk yang kesekian kalinya kepada moderator atas kesempatan yang diberikan. Iya, saya pribadi sepakat kalau besok ada lomba Cakalele dan Basisi. Tapi yang lebih penting adalah supaya paradigma berpikir generasi muda, bisa tidak lagi ada kongflik antara Anggai dengan Sambiki. Salah satu saran saya adalah adakan meja debat ! Tong adakan diskusi supaya semua bisa kasih pendapat. Ini supaya ada pertukaran paradigma. Kalau kata Hegel: ada thesis, ada antithesis.”.

Lagi-lagi sejurus kemudian Bang Yamin langsung mendebat Bung Arman. Bisa ditebak arah sanggahannya. Ia tidak sepakat pada acara debat terbuka. Hal ini turut diamini anak IPMA yang lain,

"Ada debat, malah baku hantam sekalian !",

Saya pikir acara ini memang hampir mustahil. Tak bisa dibayangkan, bagaimana membuat acara semacam Indonesia Lawyers Club di tengah situasi rawan konflik Anggai-Sambiki.

Di tengah perdebatan anak IPMA yang terus diperulang balikkan, "Woo.. bianglala", kalau kata Gita. Saya pun tak kuasa untuk ikut bersuara,

“Pertama, terima kasih kepada moderator yang telah memberi kesempatan pada saya untuk bicara. Kedua, saya hendak langsung berpendapat bahwa kita masih belum punya tujuan acara yang jelas. Bagaimana tujuan acara yang sebenarnya: Kita ingin meresolusi kongflik Anggai-Sambiki, atau ingin sekadar menghindari kongflik Anggai-Sambiki? Karena sejujurnya saya bingung. Bung Arman ingin resolusi kongflik. Tetapi yang lain ingin menghindari kongflik dengan membuat lomba supaya anak-anak tara pergi ke Tanjung Sambiki. Ini jelas dua hal berbeda yang akan berpengaruh ke teknis dan konsep acara”.

Saya sebenarnya mencoba mengarahkan peserta lain supaya sepakat akan saran Bung Arman: Resolusi Konflik Anggai Sambiki. Entah bagaimana caranya. Kendati saya agak risih dengan cara bicara dan diksinya, namun secara pribadi saya menganggap ide Bung Arman adalah ide yang revolusioner. Ide yang hadir karena adanya kesadaran kelas, "tong sama-sama miskin kenapa baku hantam", ujarnya.

“Misalnya kalau memang tujuan kita adalah resolusi kongflik, berarti kita perlu bekerjasama. Membuat acara bersama dengan pemuda Sambiki. Artinya, perdamaian dimulai dari lingkaran kita dulu, yang sudah punya kesadaran kalau konflik tidak ada gunanya. Nanti kita bisa berkordinasi dengan pemuda Sambiki dan juga teman-teman KKN UGM yang ada disana”, pancing saya. Berharap yang lain ikut mengiyakan saran ini.

Apa mau dikata, rapat malam ini berakhir dengan antiklimaks. Sebagian besar pemuda Anggai lebih sepakat kalau tujuan acara lebaran adalah jelas: menghindari konflik Anggai-Sambiki. Selain itu, kami tim Baraobira juga tidak banyak bersuara. Sebagai orang yang belum tahu banyak kondisi lapangan, kami sadar untuk tidak melangkahkan kaki di depan mereka yang sudah makan asam garam. Acara di hari lebaran kemudian difokuskan untuk 3 tujuan utama saja: menghindari konflik Anggai-Sambiki, memberikan hiburan pada masyarakat, dan melestarikan budaya adat Tobelo Galela.

Bung Arman terlihat kecewa, tapi ia hanya diam saja. Saya ikut getun, sebenarnya. Sampai Bang Al kemudian menjelaskan:

"Tidak mungkin kalau kita bikin acara bersama. Anggai-Sambiki, budayanya saja sudah beda. Anggai mayoritas Tobelo-Galela, kalau Sambiki kebanyakan Manado, Bugis, Makian. Bagaimana bisa dipertemukan? Sudah, yang penting tahun ini tidak ada yang tawuran saja sudah bagus", jelasnya. 

"Percuma mas. Dari kita belum lahir, sampai besok kiamat, Anggai-Sambiki susah untuk akur. Kita realistis saja: yang penting tahun ini tidak ada korban", ujar Idhar Halqi.

Angka sudah menunjuk pukul satu. Dini hari telah datang dengan anginnya yang kencang. Semua peserta rapat sudah berat menahan sadarnya. Devina bahkan sudah sejak tadi memejam mata. Tidur sambil duduk, lalu terkantuk-kantuk. Mulutnya mlompong seolah siap dimasuki kunang-kunang. Rapat pun dibubarkan, kami pulang dengan sempoyongan.

Poster oprec KKN selalu berisi tentang pemandangan. Menjadi wajar jika kemudian imajinasi muda-mudi KKN dipenuhi oleh gunung atau pantai. Ketika kami telah tiba di lokasi, tak pelak muncul segala upaya untuk mewujudkan daya khayal ini: Mencerap sebanyak-banyaknya pemandangan Obi.

Tak ada yang salah dengan orang yang suka plesir. Plesir - sebagai upaya manusia untuk berpaling sejenak dari rutinitasnya yang banal -, adalah bukan sekedar human act (tindakan manusiawi) tetapi juga humanis act (tindakan memanusiakan manusia). Plesir bukan pelarian, karena plesir selalu diiringi niatan untuk kembali dan melanjutkan dunianya yang penuh tanggung jawab. Maka, di tengah masa KKN yang mulai penuh dengan program inilah, muncul satu kehendak untuk mencuri-curi waktu supaya diri ini bisa plesir.

Danan adalah teman pertama yang saya ajak untuk menjalankan rencana ini. Sebagai teman serumah, teman sekamar, sekaligus teman seranjang (sayang kami tidak homo) tentu cukup ilmiah jika dia adalah orang yang paling sering saya ajak diskusi. Ya, perihal apapun yang bisa kami lakukan selama berada di bumi KKN. Dan beginilah pillowtalk singkat kami malam tadi:

“Nan, jarene Bang Al yo nan, ningkene ono tempat apik nan (Al, kata Bang Al disini ada tempat bagus lho)”,

“Obi ki wis apik kabeh (Obi sudah bagus semua)”,

“Yo ora. Iki anti mainstream, soale udu ning Anggai udu ning Sambiki. Tur iki pantai pasir putih. (Bukan begitu. Ini beda karena bukan di Anggai bukan juga di Sambiki. Terus ini pantai pasir putih lho).”,

“Bajigur, ning Laiwui? (Di Laiwui?)”,

“Hudu... Ning Airmangga, kampung sebelah kae lho sing jarene mbien wis tau konflik karo Anggai (Bukan. Di Airmangga, kampung sebelah yang kabarnya pernah konflik dengan Anggai”,

“Hooh po, adoh ora e? (Beneran? Jauh kah?)”,

“Jarene bang Al sih paling 20 menit nganggo motor. Piye? Nyilih motore papa Haji ayo?(Kata Bang Al sih sekitar 20 menit pakai motor. Gimana? Kita pinjam motor Papa Haji) ”,

“Yo ayo, meh kapan? (Ayo, mau kapan?)”

“Sesok isuk lah, bar saur langsung cus mangkat ben biso ndelok sunrise. Piye? (Besok pagi setelah sahur langsung berangkat. Supaya bisa lihat sunrise) ”

“Sip, meh ngajak sopo wae? (Sip, mau ajak siapa saja?)”

“Wis dewe sik wae. Anggap wae iki survey sik sadurunge bareng-bareng. Tur lek ngajak liyane: siji kesuwen, loro ribet, telu akhire ora sido (Kita dulu saja. Anggap saja ini survey sebelum ajak yang lain. Lagian kalau kita ajak yang lain, pertama: lama, kedua: ribet, ketiga: akhirnya batal”,

“Mantap dah”,

Dan akhirnya Danan pun meminjam motor beat putih biru milik Papa Haji. Motor yang hampir tidak ada remnya ini – rem belakang kosong, rem depan tidak makan - akan jadi tunggangan kami menuju Tanjung Airmangga, Desa Airmangga.

-------------------------------------------------------------------------

Kami terbangun pukul 5 kurang seperempat. Beruntung kami tidak sedang berada di Jawa. Kalau di Jawa, kami sudah harus menjalani puasa tanpa nasi sahur sesuappun. Masih ada 15 menit untuk menyantap nasi ikang lodi – sejenis ikan pindang tapi kecil – yang sudah disiapkan mama haji di atas meja makan.

Saya tak sempat membasuh muka. Sesegera mungkin saya meneguk air putih 2 gelas lalu menyantap nasi ikang yang sudah dingin ini. Sahur ini hanya ada saya dan Danan. Mama papa haji sepertinya sudah melakukannya jam 3 tadi - usai ibadah marathon menonton serial India-Turki.

Waktu 15 menit sebelum Imsak berlalu dengan hening. Ruang makan sangat sunyi jika saja tak terdengar suara tang-ting dari tubrukan sendok-piring. Kami masih mengantuk sehingga sama-sama malas bicara. Baru setelah kami selesai makan dan menyentuh air kran untuk asah-asah, muncullah energi untuk mulai bersuara.

“Piye mas, sido ra? (Gimana mas, jadi nggak?)” tanya Danan,

“Pingin turu meneh sakjane. Mengko ono ngecat masjid barang karo cah IPMA (Aku pingin tidur lagi sebenarnya. Nanti juga masih ada agenda ngecat masjid sama mahasiswa Anggai)”,

“Njuk piye? (Jadi?)” tanyanya lagi,

“Yo tetep mangkat. Lek aku ngomong mending turu soale kowe yo mesti setuju,hehe... (Tetap berangkat. Kalau aku bilang mending tidur, kamu pasti setuju, hehe)”,

“Yo wis, tur mumpung ra udan (Ya sudahlah, mumpung tidak hujan juga)”,

Danan pun menuju ruang TV, mencari kunci motor yang biasanya papa taruh di atas almari kayu panjang. Sesuai dugaan, papa memang menaruhnya disitu.

Saya kembali masuk ke kamar, menyiapkan beberapa peralatan yang perlu dibawa. Sweeter biru saya pakai, kamera Nikon milik Gilang saya kalungkan, lalu handphone... Saya biarkan tergeletak di atas kasur. Buat apa hape wingki-wingki di tempat kosong signal.

Sesuai rencana yang telah disusun dengan matang, kami sudah keluar rumah sebelum pukul setengah 6. Saya cukup tercengang. Pukul setengah 6 disini ternyata mirip pukul 5 di Jawa. Langit masih gelap, binar bulan masih terang. Namun, gairah untuk tak melewatkan momentum matahari terbit membuat kami sepakat untuk tak menunda lagi pemberangkatan.

Motor beat biru putih pun saya starter. “Ngeeengg...” Ia masih bisa dihidupkan dengan starter tangan. Alhamdulillah...

Semenjak berada di Anggai, saya menemukan bahwa 90 persen motor disini sudah tidak lagi dalam kondisi normal – kalau tidak mau disebut bodol. Setidaknya, ada 2 spek yang mencirikan spesifikasi motor à la Anggai: pertama, ia harus diselah. Kedua: ia hanya punya satu rem. Beruntung motor papa haji hanya punya spesifikasi yang kedua.

Saya dan Danan pun memulai perjalanan menuju Airmangga. Saya berada di depan, sedang Danan membonceng. Anggai masih sangat sepi. Belum ada hiruk pikuk sama sekali. Tak ada orang berolahraga, tak ada orang menyapu teras, tak ada orang membawa parang - menuju kebun. Yang ada hanya puluhan ekor kambing yang masih tidur di teras-teras rumah. Ah, tidak. Sial. Ternyata kambing-kambing ini juga tidur di tengah jalan. “Tin...tin...” saya memencet klakson berkali-kali supaya kambing-kambing ini menepi. “Tin...tin...tin”, jadah ! mereka terbangun tapi diam saja. Haduh...haduh... “Tin...tin...tin.......”, dengan terpaksa saya menekan rem depan. Jancuuuk......

Motor kami ngepot dan akhirnya kami tergelincir. Kambing-kambing itu bengong melihat kami tertindih motor papa haji.

“Asuuu... turu do sepenake dewe, diklakson ra gelem minggir. Bejo ki alon nan. Piye kowe rapopo? (Ini anjing tidur semaunya sendiri. Diklakson diam saja. Untung kita pelan nan. Kamu baik-baik saja?)”, tanya saya pada Danan sambil mengangkat motor yang terkapar.

“Wedhus taek, aku rapopo mas. Lah kowe piye? (Kambing bodoh. Aku baik-baik saja mas. Nah situ?)”, jawab Danan sambil mengibaskan debu jalan yang menempel di kaos merah “Jogja Atletik”-nya.

“Rapopo nan. Jempole tok lecet sithik. Bejo ra ono wong weruh... Wedhus goblook..wedhus goblok !! (Aman nan, cuma jempolnya lecet sedikit. Untung nggak ada orang lihat. Kambing bodoh !!) ”, dan sejurus kemudian saya geli sendiri mengingat kambing-kambing tadi. Mereka dengan lugunya hanya diam menatap saat kami hampir terjungkal.

Apa yang sudah diniatkan, harus tetap dilanjutkan. Unstoppable ! Kami pun sepakat melanjutkan perjalanan. Motor kami masih baik-baik saja. Setelah 3 menit beristirahat dan tuntas menertawakan kesialan, kami lanjut naik motor menuju Desa Sebelah.

Belum 10 menit kami berjalan, tiba-tiba motor yang kami tunggangi mati sendiri. “Brrmmmm...rmmm...rmm..jedd..”.

Suasana sunyi senyap. Langit masih gelap. Kami terhenti di jembatan perbatasan Anggai-Airmangga yang jauh dari pemukiman. Sialnya, jembatan ini kondang dengan mitologi paling horor yang ada di Anggai: Hantu Nenek Cuci Usus.

Kami terdiam. Danan berbisik ke telinga saya, “Taek”.

Hantu Nenek Cuci Usus adalah hantu yang sering menampakkan dirinya di sungai yang tepat berada di bawah jembatan kayu perbatasan Anggai-Airmangga. Konon, nenek berambut putih ini sering terlihat sedang membasuh usus yang ia keluarkan dari perutnya sendiri. Nenek ini tak segan menolehkan wajahnya ke warga yang sedang lewat. Sesekali ia menundukkan kepalanya seperti orang jawa memberi hormat. Sesekali ia juga tertawa memperlihatkan giginya yang hitam. Konon, nenek ini masih sering menampakkan dirinya karena dendam pada orang-orang yang dulu meracuninya. 16 tahun lalu, saat konflik horisontal antara pemeluk Agama Islam dan Protestan terjadi di Anggai – yang membuat Desa Anggai pecah menjadi Anggai-Airmangga,  nenek ini diracun oleh puluhan warga karena terkenal dengan ilmu sihirnya. Sampai hari ini, warga Anggai masih percaya bahwa nenek ini masih hidup. Ia tinggal di Airmangga, berbaur bersama warga – dengan wujud manusia biasa. Ketika membicarakan nenek ini, kaki kita dilarang menyentuh tanah atau nenek itu bisa mendengar pembicaraan kita. (Saya juga menulis ini sambil duduk jegang).

“Nan..nan, asu nan. Motore ra iso distater (Nan, nan, motornya nggak bisa distarter nan)”, kata saya pada Danan sambil memencet starter tangan berkali-kali. Ih, siapa yang bisa tenang di tengah jalan sepi, gelap, dan jauh dari pemukiman ini? Saya mengamati situasi di kanan kiri. Beruntung yang terlihat hanya rimbun pepohonan yang melambai.

“Jal diselah jal mas ! (Coba diselah mas !)”,

“Hooh hooh sek ! (Iya, iya sebentar !)”,

Puji Tuhan Gusti Allah, setelah mencoba nyelah beberapa kali, akhirnya motor pun bisa hidup kembali. Danan segera naik ke boncengan. Saya segera tancap gas. Berupaya segera menjauh dari tempat dedemit ini. Beruntung...kami tidak berjumpa dengan nenek. Haha..

Apa yang ingin kami capai, sepertinya akan segera terwujud. Kami telah sampai di bibir pemukiman Desa Airmangga. Airmangga terlihat bersih dan rapi. Tak ada sampah di kanan kiri jalan. Tak ada sampah mengambang di selokan. Semua rumah terlihat asri dengan bunga-bungaan yang ditanam di pekarangan. Selain terlihat lebih bersih dari Anggai dan Sambiki, ada satu hal lagi yang menjadi pembeda dari desa ini: Anjing ! Ya, jika jalanan Anggai-Sambiki dipenuhi oleh kambing, maka jalanan Airmangga dipenuhi oleh anjing. Mafhum, sebab 100 persen masyarakat disini adalah pemeluk agama Protestan.

Desa Airmangga


Asu kabeh !

Kami pun berjalan lurus terus kedepan. Kurang 1 kilometer dari bibir pemukiman, sudah ada pertigaan yang salah satu cabangnya menuju Tanjung Airmangga. Karena ini kunjungan pertama kami, kami pun tak tau arah mana yang benar. Kami memutuskan untuk bertanya pada warga. Beruntung, kami bertemu dengan beberapa anak kecil yang entah kenapa sudah bangun sepagi ini. Mereka menunjukkan bahwa kami musti belok kiri menuju jalan setapak dan berlanjut lurus sekitar 500 meter. Yeah, akhirnya sebentar lagi kami sampai.

Tapi, belum 500 meter motor melaju, motor tiba-tiba mati kembali. Sial, motor ini mati dengan tersendat-sendat, yang artinya besar kemungkinan motor ini kehabisan bensin. Kami coba starter tangan, kami selah berkali-kali, tetap saja motor mati. Sampai kami memutuskan untuk mendorongnya saja sampai Tanjung Airmangga.

Tibalah kami di Tanjung Airmangga ! Tanjung yang masyhur akan kelembutan pasir putihnya dan biasa dikunjungi masyarakat Anggai untuk bersuka cita. Tanjung ini terletak di ujung timur desa Airmangga. Ujung, benar-benar ujung. Sehingga, tak ada lagi jalan yang terlihat di depan kami. Hanya tebing besar yang memisahkan daratan Airmangga dengan daratan di ujung lainnya.

Namun, setelah kami sampai dan sejenak mencoba mengatur kembali ritme nafas yang kelelahan, kami pun menyadari satu hal,

“Eh, nan... nan... Kok ora ono pasir putihe yo? Jarene Bang Al pasire putih ki? (Eh nan, kok nggak ada pasir putihnya ya? Kata Bang Al ada pasir putihnya tuh)”,

“Hooh yo. Opo pasire nangisor watu-watu iki yo? (Iya juga. Atau tertutup oleh batu-batu ini?)” jawab Danan sambil menunjuk batu-batu krikil yang sedang kami injak.

“Yo biso wae sih. Iki mah udu pantai pasir putih iki. Pantai berkrikil lek iki...(Bisa jadi. Ini sih bukan pantai pasir putih, ini pantai berkrikil)”, dan saya mencoba mengambil beberapa krikil berharap menemukan pasir putih di bawahnya.

“Heh, ra ono pasire i? (Lho, nggak ada pasirnya kok?)”, tanya saya lagi.

“Wis rapopo mas. Sing penting wis tekan. Apik kok pemandangane. Najan sunrise e ra orange, tapi suasane asik. Banyune tenang (Sudah nggak apa-apa mas. Yang penting bisa sampai. Bagus kok pemandangannya meskipun sunrise nya tidak kelihatan orange. Tapi suasana asyik, airnya tenang)”, ujar Danan.

Dan memang, meskipun kami tak mendapat pemandangan seperti yang kami harapkan, namun tetap saja perlu diakui bahwa Tanjung Airmangga punya pemandangan yang enak ditatap. Terlebih saat matahari mulai naik dan air laut mulai tampak warna birunya. Pemandangan di tanjung ini tampak menyegarkan.

Belum 10 menit kami berada disini dan mengambil beberapa foto sebagai bukti laporan kunjungan – pada teman, Danan sudah menyambung lagi pembicaraannya:


Pemandangan saat kami sampai. Ini sudah jam 6 lewat 10.



Begini Tanjung Airmangga saat sudah terang.

“Aku kok ra tenang yo najan pemandanganne apik. Iki lho motore (Aku kok nggak tenang ya meskipun pemandangannya bagus. Ini lho motornya)”, keluhnya.

“Hooh i, aku yo njuk rabiso menikmati iki. Tur jam 8 motore meh dinggo Papa Haji lo nan.... (Iya ya, aku juga nggak bisa menikmati pemandangannya. Motornya mau dipakai papa haji lho jam 8)”,

“Wah hooh yo. Piye? Bali sek wae po? (Wah iya ya. Jadi, gimana? Kita pulang saja?)”,

“Yo ayo... (Mari...)”,        

“Ndorong? (Kita dorong?)”,

“Yo piye meneh? (Mau gimana lagi?)”,

“Haa...haa... asuuuu....”,

Akhirnya setelah bersama menyerapah pagi yang jahat, kami sepakat untuk langsung pulang. Kali ini giliran Danan yang berada di depan: Memegang setang bukan menarik gas. Sedang saya di belakang: Mendorong motor bukan membonceng.

Kemudian belum 10 menit kami mendorong, kami harus terhenti lagi-lagi dengan terpaksa. Kali ini bukan karena kambing, bukan pula karena bensin.

Anjing !!! Kami dihadang 5 anjing yang tiba-tiba saling menyalak. 300 meter sebelum pemukiman warga. Di tepi tebing-tebing kapur yang ada di jalan setapak.

“Asuuu...”,

Entah bagaimana, anjing-anjing pekebun yang coklat hitam itu menggonggong berkali-kali dan makin mendekat pada kami. Saya dan Danan yang mungkin sama-sama belum pernah menyentuh anjing seumur hidup pun langsung gelagapan, tersara bara oleh rasa panik yang tak terhindarkan.

“Nan..nan, santai ojo melayu nan...”, bujuk saya. Padahal saya juga ingin lari.

“Wwuk !!!”, dan mereka kembali menyalak. Bukan "Guk" tapi "Wwuk !!!",

Sejenak 3 anjing lagi menyusul di belakangnya. Kali ini sepertinya anjing rumahan. 2 di antaranya berbulu putih dan menggemaskan.

Ada 8 anjing saudara-saudara ! Dan kami masih harus berjalan sekitar 300 meter untuk sampai di pemukiman warga.

Mereka semakin mendekat. Pelan-pelan akhirnya mereka tinggal 5 meter di depan kami. Saya mencoba mengambil batu, sambil ndredeg. Saya membayangkan mereka akan berlari, meloncat menerjang. Mereka menggonggong, mencabik-cabik sambil mencakar, sedang saya hanya bisa pasrah berteriak minta tolong sambil melindungi diri dengan dua tangan.

“HAYO ! WA !”, Danan yang berada di depan tiba-tiba mencoba menggertak mereka dengan menghentakkan kakinya ke tanah dan membungkukkan sedikit kepalanya.

Anjing-anjing itu sejenak terlihat ragu. Danan mengulangi gertakannya. "WAA !!" Mereka mundur selangkah lagi setiap kali Danan mengulangi gertakannya. Melihat gelagat ini, saya mulai meniru apa yang Danan lakukan. Hanya saja sambil menggenggam batu.

“HAYO ! HA !” tiru saya menghentakkan kaki ke tanah sambil mengacungkan kepel yang berisi batu sebesar apel. Anjing-anjing itu mundur. Menjauh dari kami.

“Yes..yes..yes.. asune wedi...”, ujar Danan sambil nyengir.

“GRRRR !” gertak saya sambil memasang wajah seganas-ganasnya, segarang-garangnya. Seperti Legolas menggertak para Orc, seperti Bratasena  menghadapi Kurawa, seperti Wong Fei Hung di depan cecunguk genk laut utara. Anjing-anjing itu lalu mundur dan berlari. Dalam hati, mulut ini rasanya ingin berteriak: “WACHAAAAAA !!!”

------------------------------------------------------------------------------

Erix Soekamti dalam salah satu tayangan vlognya pernah berkata “Coba-coba saja, siapa tahu penemuan”. Hari ini sepertinya Danan berhasil membuktikan apa yang sudah Erix sampaikan. Dalam situasi terpojok, tanpa daya tanpa senjata, ia mencoba melawan dengan mengeluarkan gertakan. The Power of Kepepet. Tak disangka tak dinyana, ia justru berhasil menemukan fakta: Manusia lebih menyeramkan daripada anjing

Kami akhirnya mendorong motor Papa Haji sampai di Anggai. Sebelumnya, kami telah mencoba mencari penjual bensin di Desa Airmangga. Ada, memang. Ada dua. Tapi stok habis semua. Dengan terpaksa, kami pun mengerahkan segala tenaga. Memeras peluh keringat, untuk 1 jam mendorong yang penuh hina.

Tulisan ini panjang dan melelahkan. Tapi percayalah, perjalanan kami jauh lebih melelahkan. Sesampainya di rumah, kami langsung tertidur. Kami baru terjaga lagi pukul 10 dan segera bangkit menuju Masjid Anggai yang sedang dicat oleh anak-anak IPMA (Ikatan Pelajar Mahasiswa Anggai). Di Masjid, kami bertemu Bang Al Khadrin yang sudah mulai mengecat sejak jam 9 pagi tadi.

“Eh, telat Mas Bagus?”, tanya Bang Al.

“Iyo bang. Maaf, ketiduran gara-gara capek”,

“Capek baru apa kah?”,

“Tadi itu, saya dan Danang jadi pergi ke Airmangga. Tapi sampai disana bensin motor habis. Tarada yang jual bensin. Kosong ! Jadi torang harus dorong motor itu dari Airmangga sampai rumah lagi”,

“Astaga... jalang?”

“Iyo.. jalang sambil dorong satu jam”,

“Hahahaa.. mantap. Bagaimana, Tanjung Airmangga, bagus tarada?”

“Bagus e. Tapi mana, tarada pasir putih abang?”, tanya saya meyakinkan bahwa Bang Al bafoya (berbohong).

“Ada... tapi harus jalang ke balik tebing dulu”,

“Iyakah?? Iii.. tadi kami cuma sampai di depan tebing”,

“Berarti itu cuma sampai tempat parkir......”, tutup Bang Al.

29 Juni 2016


Di balik tebing ini lah ternyata Tanjung Air Mangga yang sesungguhnya. Ini cuma parkiran !
Sosok Danan

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018