bagus panuntun

berubah!

Jam 9 pagi, Tim Baraobira sudah berada di satu tempat. Kami berdiri di atas tanah pemakaman desa Anggai untuk mengadakan bersih kubur. Cuaca pagi ini sangat cerah dengan langit warna biru terang. Namun tanah kuburan masih tetap basah. Dari sela daun-daun kamboja cahaya matahari yang mulai panas menembus rerantingnya yang berjarak. Bunga-bunga putih bersih ini nampaknya sangat menikmati saat bermandi matahari. Pagi adalah waktu menghirup kehidupan setelah kesetiaan akan malam yang berbau kematian.

Barangkali tak ada melankoli yang biasanya kami rasakan ketika berdiri di atas tanah kubur. Kalaupun ada, ini lebih tentang rindunya kami pada kampung halaman. Bersih kubur mengingatkan bahwa dua hari ke depan kami akan merayakan lebaran di kampung orang.

Saya pikir mereka berbeda. Pemuda-pemuda Anggai yang saat ini sedang bersama kami, yang beberapa di antaranya saya kenal – Bang Al, Bang Yamin, Bang Komar, Idhar Halqi, Ale. Mereka sedang berdiri di tanah tempat para saudara mereka diistirahatkan sampai masanya. Kalau bukan kesedihan awan kelabu, setidaknya pasti tersirat rindu pada mereka yang sudah dulu menuju pada-Nya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Rerumputan di area pemakaman sudah tinggi-tinggi sekali. Tim Baraobira dan pemuda Anggai segera mencabuti rumput-rumput liar itu. Para lelaki membawa parang dan pisau, sedang para perempuan membawa sapu dan pengki. Namun tak sedikit juga yang mencabut rumput dengan tangan kosong.

“Wah, padahal akeh suket lateng ki (Padahal banyak rumput lateng disini)”, pikir saya melihat sekeliling pemakaman yang dipenuhi rumput gatal ini. Tapi tak sampai sedetik kemudian saya berpikir lagi, “Halah, menthel. KKN kok wedi suket (Halah, genit. KKN kok takut rumput)”.

Kami mulai mencabuti rerumputan liar, tak lupa kami bersihkan pula nisan-nisan lembab yang ditumbuhi lumut-lumut gempal. Sembari melakukannya, saya mulai mengamati siapa saja mereka yang ada di sekeliling kami. Kebanyakan adalah wajah-wajah yang baru pertama kali saya lihat. Mereka ternyata anak-anak IPMA (Ikatan Pelajar Mahasiswa Anggai) yang baru saja pulang kampung dari tanah rantaunya. Menjelang lebaran, mereka sengaja pulang untuk bertemu handai taulannya.

Mereka bekerja bergerombol. Satu sama lain saling mengeluarkan candanya. Tak jarang terdengar tawa keras karena salah satunya menggoda yang lain dengan guyon internal. Barangkali candaan tentang mantan atau bribikan yang baru saja menikah. Entahlah. Sampai tiba-tiba Bang Komar memanggil kami untuk berkumpul,

“Hei, Ngoni semua bakumpul dulu kesini. Semua. Mahasiswa UGM deng mahasiswa Anggai”.

Tak perlu waktu lama, titah dari Ketua Pemuda yang gemar pakai kaos polos merah hati ini segera kami laksanakan. Kami segera merapat mencari tempat duduk yang nyaman, ada yang duduk di nisan, ada yang bersandar di pohon kamboja, ada yang pasrah lesehan saja di atas tanah.

“Hei. Ini bagaimana ini, yang anak UGM duduk deng mahasiswa UGM. Yang anak Anggai duduk deng mahasiswa Anggai”, buka Bang Komar sembari mengamati posisi duduk kami.

“Ah, enggak juga”, batin saya yang duduk tepat di samping Bang Komar. Meskipun memang, posisi duduk kami cenderung mengelompok. Terlihat jelas mana grup UGM mana grup Anggai. Sembari bersiap mendengar instruksi Bang Komar, saya pun mengamati wajah-wajah baru dari pemuda-pemuda Anggai. Kira-kira ada lebih dari 15 wajah yang baru kali ini saya tatap.

“Selamat pagi !", sapa Bang Komar, tegas. "Alhamdulillah kegiatan pagi ini yaitu agenda bersih kubur sudah selesai terlaksana. Namun, ada satu hal yang masih sangat saya sayangkan. Sebagai kepala pemuda, saya harus mengatakan hal ini”.

Bang Komar berhenti sejenak sambil menatap kami dalam-dalam,kemudian melanjutkan, “Kenapa ini ngoni (kalian) belum bisa bergaul satu sama lain. Yang mahasiswa Anggai, bakumpul saja deng mahasiswa Anggai. Padahal tong sedang kedatangan mahasiswa dari UGM, Universitas Gadjah Mada, Universitas terbaik di Indonesia. Harusnya ngoni ini dekati dorang (mereka), supaya ngoni bisa belajar banyak hal dari dorang. Ingat, dorang sudah jauh-jauh dari Jawa datang kesini untuk Anggai. Jangan sampai niat dorang sudah baik, tapi ngoni tara bisa mendukung niat baik tersebut”.

Mendengar prolog tersebut, terbersit rasa kagol dalam hati saya. Saya membatin “Waduh, padahal kita mahasiswa biasa-biasa aja ya”, sampai kemudian Bang Komar melanjutkan pembicaraannya,

“Kalian yang mahasiswa UGM juga jangan bakumpul deng mahasiswa UGM saja. Kalau baronda (jalan-jalan) kemana-mana masih deng mahasiswa UGM saja, itu kalian lakukan di Jogja saja. Kalau kalian sedang ada di Anggai, maka bergaullah dengan orang Anggai, jadilah orang Anggai”.

Semua terdiam. Masing-masing menyadari bahwa kami memang belum akrab satu sama lain. Namun dari dalam hati yang paling egois, sebenarnya saya tidak sepenuhnya sepakat dengan perkataan Bang Komar.

“Hee Abang ! Kan baru 10 hari torang disini. Bagaimana bisa langsung akrab semua? Su bagus torang su bisa bikin kegiatan bersama pagi ini”, ucap saya. Dalam batin.

Idhar Halqi Sedang Membabat Rumput di Pekuburan yang Berawa
Diskusi pasca Bersih Kubur w/ Bang Komar
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Para perantau yang kembali di kampungnya sedang melepas rindu. Karena jarak lah manusia bisa merasakan kasmaran untuk yang kedua kalinya. Bahkan kali-kali berikutnya.

Selesai bersih kubur, para pemuda Anggai meminta kami untuk tidak langsung pulang. Salah seorang pemuda bernama Wawan menghampiri kami, ia anak Anggai yang sedang kuliah Pertambangan di salah satu universitas swasta di Jogja.

“Eh cuk”, sapanya mencoba mengakrabkan diri dengan menggunakan diksi “cuk”, sapaan akrab dari pisuhan khas Jawa Timur yang kini sudah jamak digunakan anak-anak Jogja. 

“Ayo mandi dulu. Baronda kita ke Tanjung Air Mangga”, ajaknya.

“Ee.. mantap, boleh itu”, sambung Danan penuh gelora.

“Siapa saja bang yang ikut?”, tanya Haviz.

“Kita semua yang laki-laki berangkat. Tunggu sebentar e, teman-teman sedang ambil motor”, jawab Wawan.

Baronda kali ini memang hanya melibatkan para lelaki. Sementara itu, para perempuang sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Sepertinya mereka tak tahan mengabaikan kobakan keringat di ketiak pasca bersih kubur.

Saya bersama Umar, Haviz, Danan, dan Baba jadi anak Baraobira yang ikut ke Airmangga. Sementara Kormanit Gilang sedang berada di Kecamatan Laiwui untuk mengurus kiriman buku dari Jawa di Kantor Pos. Buku-buku yang kami himpun sedari 6 bulan lalu ini rencananya akan jadi koleksi awal taman baca Anggai-Sambiki.

Manakala mereka yang punya motor sudah datang. Kami pun segera melaju menuju Tanjung Air Mangga. Tanjung yang menyimpan kenangan aduhai manis bagi saya dan Danan.

Kami naik motor secara “pacal”, atau dalam terminologi Jawa: “cenglu”, bonceng telu (berbonceng tiga). Saya berangkat membonceng Bang Fahrul Pelesir, pemuda Anggai yang baru saja pulang kampung pasca kelar skripsi. Ia adalah mahasiswa jurusan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Universitas Negeri Manado. Sementara itu, partner pacal saya satu lagi adalah Bang Hendra, kakak kandung dari Wawan yang saat ini jadi guru muda, pengajar sosiologi, di SMP Peduli Bangsa.

Tak sampai 15 menit kami sudah tiba di parkiran Tanjung Airmangga. Untuk sampai di Tanjung Airmangga yang sesungguhnya - yaitu bagian tanjung dengan pasir putih yang halus, kami musti menelusuri dulu sebuah tepian tebing batu yang besar.

Kami menceburkan diri ke air laut yang berombak, mlipir-mlipir, berjalan pelan sambil berpegangan batu tebing yang lancip. Para pemuda lokal tentu saja berjalan dengan yakin, berjalan cepat berima dengan gerakan kakinya yang berotot. Sedang kami menyeberang dengan susah payah, juga terus saja was-was kalau tiba-tiba diterjang ombak tinggi. Atau, ternyata di cekungan batuan tebing itu, terlihat buaya air asin sedang berjemur. Aih, sejak kapan ini kemana-mana saya jadi paranoid pada buaya.

Beberapa menit kemudian kami sampai juga di Tanjung Airmangga.

Sepi.

Debur ombak terdengar lantang, hembusan angin siang yang asin bahkan terdengar jelas.

Dari dekat, pantai ini tampak seperti pantai tempat para pelaut terdampar. Dengan pasir putih yang tak lebar, namun memanjang sampai berpuluh meter sampai dibatasi pepohonan bakau yang rimbun. Warna bakau yang hijau kehitaman entah mengapa selalu memunculkan hawa yang ngeri. Barangkali di sela-sela garis lengkung akarnya, terdapat tulang-tulang tengkorak yang belum lapuk. Atau setidaknya: buaya air asin.

Karena keringnya siang ini, kami memilih berteduh di bawah pepohonan yang jadi pembatas antara Tanjung Air Mangga dengan hutan di belakangnya. Ngadem. Disinilah kami baru sempat berkenalan satu sama lain. Hingga akhirnya saya mengenal mereka satu persatu.

Atok, anak muda berbadan tinggi kekar, wajahnya tegas dengan tulang wajah khas Timur yang disempurnakan dengan hidungnya yang mbangir. Rambut pendeknya yang rapi tipis samping membuatnya tampak makin gagah. Mahasiswa pertambangan Universitas Muhammadiyah Ternate ini adalah sosok yang tidak banyak bicara.

Anjas, satu-satunya “bocah” SMK yang ikut kami. Meskipun paling muda, juga paling kecil, namun mulutnya lah yang paling besar. Ia tak bisa diam, terus menertawakan satu persatu temannya, salah satunya pemuda berkaos merah bernama Awi yang ia panggil “Siluman Kuso !”.

Awi tentu saja jengkel pada Anjas, juga pada kawan-kawan lainnya yang ikut terbahak. Namun ia ikut tertawa ketika saya bertanya dengan lugu, “Apa itu kuso?”,

Bang Al-Khadrin yang duduk di dekat saya lantas langsung menyambung, “Kuso itu kus-kus. Si Awi itu dia siluman Kuso”.

“Adakah siluman Kuso?”, tanya saya lagi, melugu. Saya tahu sebenarnya mereka sedang mengada-ada.

“Ada. Kalau siluman babi kan suka bunuh orang. Kalau siluman kuso kerjanya tidur saja”, ujar Anjas sambil nyengir, dan kami pun terbahak. Saya baru tahu kemudian, kalau Awi dipanggil Kuso karena dia punya kakek yang bernama Kuso.

Mendengar Anjas bicara tentang siluman babi, saya segera memanfaatkan tema ini sebagai bahan obrolan. Kisah tentang siluman babi sungguh hal yang mencengangkan. Bagaimana tidak, seratus persen masyarakat Anggai percaya bahwa mereka hidup bersama salah satu warganya yang konon adalah, siluman babi ! Siluman ini konon tidak pernah ngepet. Ia bukan pencuri. Namun konon siluman ini tidak segan untuk membunuh.

“Eh abang-abang semua, benar kah itu cerita tentang siluman babi?”, tanya saya. Salah seorang pemuda berkulit sawo matang berambut ikal pendek, wajahnya mirip orang Jawa, dengan bibirnya yang tebal seperti perawakannya yang cukup gempal, lantas menjawab:

“Iyo, benar itu. Dua bulan lalu saja ada yang dibunuh sama itu siluman babi !”, ujarnya. Pemuda yang kemudian saya kenal bernama Obing ini lalu melanjutkan kisahnya, “Bahaya sekali itu. Su ada tiga orang yang dibunuh".

Kemudian Bang Al-Khadrin melanjutkan, "Makanya hati-hati kalian. Terutama Haviz dan Umar itu yang sering bertemu deng dia".

Pernyataan Bang Al tak pelak mengundang beragam tanda tanya dari kami, sampai seorang Haviz pun tidak tahan menahan diamnya, “E.. kenapa kah hanya saya dan Umar yang sering bertemu?”.

Bang Al Kadrin menjawab, “Iyo. Kan cuma Haviz dan Umar yang sering ke Masjid. Kalau yang lain kan tidak. Hati-hati itu siluman babi itu ke masjid setiap hari !”.

Bagi saya, jawaban Bang Al sungguh tidak masuk akal, dan tentu saja sebagai pribadi yang ngeyelan, saya tidak bisa tidak untuk terus bertanya, “E... mana mungkin ada siluman suka pergi ke masjid? Bagaimana pula abang-abang bisa tahu kalau dia silumannya?”,

Kali ini Obing yang menanggapi, “Ya bisa saja. Kan supaya dia kelihatan orang baik kalau ke mushola terus”.

“Tapi bagaimana semua orang bisa tahu kalau dia silumannya?”, tanya Haviz lagi.

“2 bulan lalu kan ada yang dikejar-kejar siluman babi itu waktu dia lagi di kebung (kebun). Dirobek-robek itu tubuhnya sampai sekarat. Nah waktu dia sedang sekarat, de pe (dia punya) istri temukan itu de pe tubuh. Sebelum mati dia bilang kalau siluman babi  adalah si “tua” itu”, jawab Bang Al mantap sekali.

“Tapi bagaimana dia tahu kalau itu babi adalah si "tua” ?", tanya saya lagi.

“Dia bilang begini: waktu dia sedang diserang siluman babi, dia sempat pukul itu siluman babi pakai kayu dan tanah. Dan itu babi langsung berubah jadi orang dan lari. Tahu apa yang terjadi besoknya? Torang lihat kalau si “tua” itu pe wajah sedang bengkak seperti habis kena pukul kayu".

“Ah, benar kah???”,

“Iyo... benar...”, jawab Bang Al menggelegar.

“E tapi kenapa harus dia yang dibunuh sama itu siluman babi?”,

“Karena waktu itu dorang sedang baku (saling) marah. Makanya itu Haviz dan Umar yang sering ketemu, jangan sampai bikin dia marah”, sambung Bang Al.

“Wah berarti lebih baik saya, Danan dan Baba e. Kan hari Jum’at saja torang pergi ke Masjid”, sambung saya. Dan yang lain tertawa.

“Eh abang”, sapa Danan, “Kalau siluman buaya ada tarada?”,

“Hahahaha...”, tiba-tiba semua terbahak dan berbarengan menunjuk sesosok pemuda berkaos hitam.

“Tanya saja itu sama Ollo !”, ujar Obing sambil menahan tawanya.

“Ah, cukimanggar ngoni !”, jawab Ollo, mukanya ketawa kecut, seperti ekspresi saat kita jengkel karena ditertawakan, namun tidak bisa marah. Kenapa? Karena  sudah saking seringnya ditertawakan sebab “hal” tersebut. Hal apa itu?

Selidik punya selidik, sosok setinggi kurang lebih 165 cm (sama dengan saya), dengan perawakan tubuh yang kurang lebih sama kurus juga dengan saya (tapi dia lebih berotot), berambut keriting jambul, berkulit hitam gelap dengan wajah penuh bopeng bekas jerawat, berdagu cukup lancip, dan berhidung  mancung turun ini, ternyata adalah sosok pemuda yang sering sekali diceritakan masyarakat Anggai.

“Dua tahun lalu itu ada anak pacaran di pinggir sungai, lalu dorang digigit sama Buaya !”, kata orang-orang menceritakannya dengan semangat. Seringkali mereka nampak begitu besar hati menunjukkan pada kami bahwa buaya air asin memang punya habitat di Anggai. Ia bukan sekedar mitos.

“Eh, benarkah Abang Ollo ini yang pernah digigit buaya air asin itu?”, tanya saya dengan sedikit ragu. Saya sebenarnya agak takut kalau-kalau Ollo tersinggung. Aih, saya pikir Ollo sudah muak diceritakan dimana-mana, direpetisi pengalamannya selama beribu kali. Mulai dari bocah SD, sampai tua-tua disana, hampir semuanya menceritakan kisah itu.

Tapi Indonesia Timur tetap Indonesia Timur. Maluku tetap Maluku. Disini tarada “baper-baper”-an macam kami orang Jawa. Prinsipnya "Ngoni tanya, kita jawab !". Atas pertanyaan tadi, Si Ollo justru menjawabnya dengan sungguh percaya diri:

“Iyo... Lihat saja ini bekasnya”, katanya sambil menunjukkan lengan tangan kirinya.

“Buajingan !!!”, batin saya. Saya kecep, speechless melihat codet bekas gigitan taring buaya yang terlihat jelas di lengan kirinya. Lukanya dalam, dari lengan tangan bagian muka, sampai tembus ke lengan bagian bawah. Benar... Benar... Si Ollo ini memang "dia" yang pernah diterkam buaya !

“Aih, gila Bang Ollo ini ! Terus bagaimana dengan abang pe pacar?”,

“Aman, saya kasih selamat dia”, mulutnya agam menyeringai nampak sangat bangga.

“Lalu bagaimana itu abang bisa selamat?”,

“Saya hantam, lalu saya sobek mulutnya”, jawab Ollo sambil membusungkan dada.

“Wiiih, abang ini ternyata titisan Jaka Tingkir ee !!!”, sanjung saya.

Tapi, di dalam batin, saya ngomong:

"Nggedebus.....".

Dasar cah Jawa...

4 Juni 2016


Tanjung Air Mangga
Saat ngadem di Bawah Pohon
Penampakan Tanjung Air Mangga

Yoman...
Menuju Batas Bebakauan
Obing, Sherizawa, Awi
"Abang apa ini pe nama?", tanya saya. "Oso pao !!!", jawab Awi.
Hendra, Baba, Sherizawa, Ollo, Danan, Obing, Awi, Fahrul, Ato, Wawan, Umar Bakrie, dan Al-Khadrin
Akhirnya renang juga. Sikilku bondas kabeh kena karang.
Karang yang Garang
Karang Meneh






Selfie w/ Nanda dan PJR NDX AKA setelah nonton live di Jogjajanan UGM


Saya mengenal NDX AKA sejak pertengahan tahun ini. Melalui koleksi mp3 adik saya, Abi Kresna, saya mendengar untuk pertama kalinya dua nomor yang konon jadi pemicu meledaknya grup Javanese Hiphop Dangdut asal Imogiri ini. Dua nomor tersebut adalah lagu Sayang – yang sebenarnya sudah lama dipopulerkan oleh Via Vallen – dan Bojoku Ketikung – yang ini karya asli NDX AKA.

Sejak mendengar dua lagu tersebut, saya pun mulai berpetualang mencari lagu-lagu lain dari NDX AKA, hingga akhirnya saya mulai menyetel lagu-lagu mereka secara repetitif. Mulai lagu Kimcil Kepolen, Bojoku Disebeh, Tewas Tertimbun Masa Lalu hingga lagu-lagu cover seperti Kau Tercipta Bukan Untukku (Ratih Purwasih), Cinta Tak Terbatas Waktu (Deddy Dores), sampai Tentang Aku, Kau, dan Dia (Kangen Band).

Sajian utama dari NDX AKA adalah lirik-liriknya yang membawa kita mengingat masa-masa awal mengenal facebook. Coba sejenak merem dan ingat bagaimana beranda facebook kita 6-7 tahun lalu. Bayangkan narasi-narasi apa yang saban harinya muncul ketika nama facebook kita masih semacam SuLis AjHa, Andre Zapoettra Cinta Kulqas, Reyy Va MeRem MeleQ, atau Syarief Muahmwah.

Status-status penuh kejujuran tentang kegalauan mengingat mantan, rasa kecewa pada kekasih yang ketahuan selingkuh, sampai sumpah serapah karena perasaan disia-siakan, adalah hal ikhwal yang kerap kali mak bedungul muncul di beranda facebook kita kala itu. Curahan hati sejujur inilah yang kemudian akan kita temukan di hampir semua lirik-lirik NDX AKA. Perhatikan saja kutipan lagu Kelingan Mantan ini:

Dek koe mbiyen janji karo aku
Nglakoni tresno suci kanthi ikhlas tekan mati
Neng nyatane ngapusi, cidro ati iki
Netes elohku mili deres neng pipi

Curahan hati yang jujur, cenderung emosional, namun disampaikan dengan diksi yang sederhana,  kalimat yang tak panjang-panjang amat, dan langsung menjelaskan inti permasalahan.

Piye? Status facebook banget to?

Namun, kalau mau jeli sedikit, kita akan segera menyadari kalau lirik-lirik NDX AKA bukan sekedar curhatan murah tentang gagalnya kisah cinta dua sejoli. Lebih dari itu, lirik-lirik NDX AKA jelas terfokus pada problema-problema yang jamak dihadapi orang-orang pinggiran. Lihat saja lirik lagu Kimcil Kepolen ini misalnya:

Pancene koe pabu nuruti ibumu
Jare nek ra ninja ra oleh dicinta
Opo koyo ngene susahe wong kere
Ameh nyandeng tresno kalah karo bondo

Coba lihat lirik di atas. Sekilas mungkin kita akan menganggap permasalahan dalam lagu tersebut sangat banal. Kandasnya hubungan asmara antara si kaya dan si miskin karena orang tua yang mata duitan, tentu tak kurang kita temui dalam berbagai kisah amor.

Mulai dari Tao Ming Tse dengan San Cai yang tidak direstui Tao Ming The Big Family (Meteor Garden), Rahul dan Anjali yang tidak direstui Babuji Amitabh Bachan karena beda kasta (Kabhi Kushi Kabhie Gham), sampai yang fenomenal baru-baru ini tentu saja  kisah pembantu Naura yang terjerembab di lembah asmara bersama Arka, anak majikannya sendiri (Anugrah Cinta RCTI).

Namun, pernahkah kita melihat kisah cinta dalam karya-karya kanon yang kandas karena sepeda motor?

Jare nek ra ninja ra oleh dicinta

Lebih berima lagi, perhatikan lirik berikut:

Jare nek ra FU kowe ora I Love You
Jare nek ra Ninja, ra bakal dicinta

Bagi orang-orang yang sejak kecil tinggal di kota-kota besar, bisa jadi permasalahan ini adalah permasalahan yang asing, khayal, irasional. Mana mungkin orang bisa putus hanya karena soal motor? Barang sepele yang bagi sebagian besar orang-orang kota sudah bukan lagi barang mewah.

Namun bagi kita yang sudah pernah merasakan hidup di tanah-tanah pinggiran (pedesaan), tentu hal ini sudah bola-bali kita temui. Motor FU dan Ninja bagi kami adalah bentuk modernisasi dari azimat semar mesem dan bulu perindu. Tak perlu berparas tampan, tak perlu rajin ibadah, tak perlu jadi kutu buku, apalagi gombal fafifu, dengan bermodal FU dan Ninja saja, kau sudah bisa memikat banyak gadis dari yang tampak amat alim sampai yang suka naik motor bonceng tiga. Tinggal pilih, tinggal nikung bosque..

Permasalahan masyarakat pinggiran begitu lah yang hadir dalam lirik-lirik NDX AKA. Saya pikir NDX AKA adalah juru bicara kaum-kaum pinggiran. Mereka adalah pembawa suara kaum marhaen, kaum kromo, kaum proletar yang dipecundangi zaman dan tinggal menggantungkan hidupnya pada cinta, sampai akhirnya mereka sadar kalau cinta (bahkan Tuhan) juga sudah (di)mati(kan) oleh modernitas.

 

Pemilihan judul pada lagu Kimcil Kepolen saya kira semakin memperjelas posisi NDX AKA sebagai juru bicara kaum-kaum pinggiran. Diksi Kimcil yang berarti Kimpetan Cilik atau Pelacur Cilik jelas bukan diksinya kelas menengah kota yang mepet-mepet borjuis. Mereka yang biasa ngomong perihal fashion dan film hollywood terbaru sambil mengelilingi meja McD jelas kupingnya akan gatal-gatal dan otot perutnya langsung kaku begitu mendengar diksi ini.

Diksi kimcil terlampau "kasar". Seandainya kata-kata bisa terlihat, dan diksi Kimcil masuk di tivi, saya yakin diksi ini akan di blur seblawur-blawurnya oleh para pengurus KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang ngacengan, eh maksudnya, religius itu.

Namun, NDX AKA justru memilih diksi Kimcil sebagai judul dari lagunya. Bukan *imcil ,Kimci* atau Ki*cil. Bukan pula diksi lacur, PSK, atau bitch misalnya. Saya pikir ini menandakan bahwa NDX AKA sudah sangat paham posisi mereka sebagai juru bicara orang-orang pinggiran. Mereka tak perlu lagi tedeng aling-aling untuk mengakui bahwa identitas mereka memang "ndeso" dan "gondes".

Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi, NDX AKA juga tak pernah luput menunjukkan lokalitas Jogja sebagai bagian dari totalitas diri mereka. Jogja dalam lagu NDX AKA dihadirkan melalui diksi-diksi macam kimcil, kecu, sego kucing,ciu, juga diksi pabu yang merupakan basa walikan dari asu, atau lewat hadirnya latar-latar yang Jogja banget, dari Terminal Giwangan sampai Parang Tritis.

Kebanggaan mereka akan identitasnya inilah yang saya kira menjadi pondasi kuat bagi mereka untuk menjadi hip-hopers wangun, sebagaimana para penggerak hip-hop di awal kemunculannya yang selain berani menentang sensor, juga pede dengan identitas "negro" mereka di tengah derasnya budaya white anglo saxon di Amerika. Ya, seperti NDX AKA yang pede dengan identitas "gondes" dan lokalitas Jogja-nya di tengah kondisi cah enom Jogja yang makin Njakartaaa.....

Bagus Panuntun
NDX AKA FAMILIA
Sahur ini saya makan banyak ganas babi. Dibuat keranjingan akan nikmat tak terkira ikan saus à la Mama Haji. Menu ikan saus ini adalah sajian kuliner paling enak yang sudah saya cicip selama di Anggai. Padahal menunya sederhana. Hanya ikan laut goreng yang dimasak dalam bumbu tradisional campuran minyak kelapa, jeruk nipis, cabai merah, tomat, dan bawang brambang. Lalu dimasak mirip balado, Tapi sungguh, masakan à la Mama Haji ini ajaib. Itu lho kilau campuran minyak, sambal, dan lemonnya yang begitu klenyis. Lalu begitu ia sampai di lidah, gurih-gurih pedasnya... Subhanallah...

Memang tidak salah pagi ini saya makan banyak. Meskipun ini Minggu, tapi sebentar lagi kami punya aktivitas yang padat. Pertama, sehabis sahur saya mau bertamu ke rumah Papa Sukri. Kalau bukan karena Papa Sukri, bisa jadi saya absen nonton Euro selama di Obi. Berkat papa satu ini, yang kalau sudah cerita dan diskusi bisa betah berjam-jam, mulai dari obrolan soal bola, sejarah Anggai, sampai info gadis-gadis Obi, akhirnya pagi ini saya bisa menonton partai Jerman-Itali. Sayangnya yang terjadi, partai ini jadi salah satu pertandingan paling membosankan yang pernah saya tonton. Jerman yang saya kira masih mempesona dengan permainan menyerangnya, pagi ini seperti tim yang baru latihan seminggu. Kalau bukan karena Boateng yang tampil ajaib bak Ishizaki, -berkali-berkali menyelamatkan bola yang sudah tiga senti di depan gawang - saya kira mereka lebih layak dipecundangi barisan juvenil Itali. Saya akan menyesal telah begadang, kalau saja tak ada fenomena menarik ini:

Alkisah, listrik di Obi hanya menyala selama 12 jam. Ia hidup mulai  6 malam lalu mati pukul 6 pagi. Nah, sayangnya pertandingan Jerman-Italia ini berakhir imbang dan musti diselesaikan dengan adu tos-tosan alias pinalti. Sedang waktu ternyata sudah menginjak setengah 6 lebih. Apa mau dikata, dari 10 penendang pertama, masing-masing tim hanya bisa memasukkan dua gol ke gawang lawan - dan kita mengingat pinalti paling konyol dari Zaza ! Maka, bisa kalian bayangkan, kami menyaksikan sisa babak adu tos-tosan dengan pikiran yang menegangkan "Cukimai ! Cepat selesai sebelum mati lampu !". Betapa tersiksanya pikiran ini kalau lampu sudah mati dalam keadaan belum tahu mana tim yang menang !

Ini sudah lebih dari pukul 6 !

Ah, syukurlah... Lampu baru mati setelah Matteo Darmian gagal menceploskan bola pada tendangan yang ke-sembilan. "Bet !", lampu langsung mati kurang dari 3 detik kemudian. Jerman pun menang.

Haa, dan saya pun tahu pegawai PLN juga nonton bola.

Lepas nonton bola, kegiatan kedua pun dimulai. Pagi ini jam 7, kami Baraobira Sub-Unit Anggai, akan bertandang ke Sambiki. Ikut lihat Sekolah Alam yang jadi programnya anak Biologi. Itu si Azri, pakar biologi muda yang serba tahu perihal hewan, tumbuhan, ganggang-ganggangan. Apa saja lah. Biarpun saya sering tidak yakin benar salahnya. Haha..

Waktu sudah di atas jam 7 ketika saya berangkat ke Sambiki. Pagi ini kami pinjam dua motor. Motor Papa Sudin, dan motornya Rimin, pemuda Anggai yang khas dengan bobotnya yang di atas satu kwintal itu. Dengan dua motor tersebut, kami harus nglangsir, bolak-balik jemput mereka yang belum dapat tebengan. Jarak Anggai sampai ke Tanjung Sambiki – lokasi Sekolah Alam – memang cukup jauh. 4 kilometer. Lumayan mempercepat dahaga andai harus jalan.

Siapa yang tidak semangat untuk pergi ke Tanjung Sambiki. Selain untuk berkumpul lagi dengan teman beda sub-unit, tentu saja karena pemandangannya. Saya pikir, ini adalah spot paling surgawi sepanjang pemandangan yang sudah saya temui di Obi. Di sana, di sebuah tanjung dengan dek kayu yang menjorok ke laut yang tenang. Hamparan pasir putih dan puluh pohon kelapa di sebelah barat dek menjadikan bibir lautnya begitu menawan. Belum lagi, air lautnya yang bening biru tosca. Tenang dengan ombak yang pelan-pelan genit, genit-genit pelan. Namun diantara semuanya, tentu saja yang paling ajaib adalah Pulau kecil berpasir putih yang hanya jarak 200 meter di seberang utara. Pulau Sambiki ! Pulau kecil dikelilingi pasir putih dengan rimbun pepohonan di tengah-tengahnya. Wah, kecil, putih, imut, lucu. Persis seperti Nana !


Pulau Sambiki, 200 meter saja di utara Dek Kayu
Kalau kau lihat bawah air dari atas dek kayu, ribuan ikan lodi sedang berenang dengan formasinya yang rapat tapi acak, seperti formasi awan yang indah tapi susah ditebak. Ikan yang ribuan ini berenang bersamaan, tak khawatir dengan bocah-bocah yang melongok dari atasnya. Padahal bocah-bocah ini membawa kail. Mereka melemparkan kail itu tanpa umpan. Iya, kail kosongan. Lepas kail sampai di laut si bocah menarik kembali kail itu dengan cepat. Dan tersangkutlah satu-dua dari ribuan ikan itu. Ada yang kena kail di perut, sesekali juga ada yang kena di mulut. Ironi ya. Semoga tidak begitu cara Tuhan menentukan takdir. Dilempar asal, siapa kena ya sudah, dia memang sial !

Saat saya sampai di Tanjung Sambiki, anak-anak lain sudah bersenang-senang di air laut. Bareng-bareng mereka berenang. Sambil bawa Go Pro untuk selfie-selfie. Ih, saya baru ingat. 2 minggu singgah di Obi, saya belum sekalipun bercebur di laut. Di sungai sudah, tapi di laut belum. Syukurlah, tak sia-sia saya membawa kacamata renang dan fin yang saya pinjam dari Safrin. Akhirnya kanggo juga. Terima kasih, Safrin !





Pagi ini sekolah alam sudah dimulai. Teknisnya begini: Azri akan mencari biota-biota laut dari pantai Sambiki, ia ambil bawa ke darat, lalu ia perkenalkan nama-nama ilmiahnya ke anak-anak kecil. Ada cukup banyak bocah-bocah yang ikut sekolah saat itu. Saya pikir lebih dari 20-an. Bocah-bocah yang renangnya bajingan ini nampak amat antusias mendengar penjelasan dari Azri.


Materi Sekolah Alam
Ini hasil mancing tanpa umpan. Modal kail saja sudah
 “Yang ini namanya Linkia sp”, terang Azri sambil menunjuk sebuah bintang laut merah yang jumlah kakinya enam. Ujar Azri, salah satu kakinya pernah terpotong saat kecil, jadi satu kakinya terbelah jadi dua. Dan jadilah bintang laut berkaki enam.

“Kalau yang mirip jamur ini, namanya fungia sp, Nah kalau ini coral ini namanya Tubipora”, sekali-kali Azri juga menjelaskan fungsi dari biota-biota tersebut. “Kalau terumbu karang fungsinya untuk rumah ikan adik-adik, jadi nggak boleh kalau dibuat hancur”, terangnya dengan ekspresi yang gagah. Kalau sudah bicara perihal bab-bab biologi – biarpun sering kelihatan sok tahu – Azri memang bajingan !

Ah iya, saya belum cerita. Bicara soal bajingan, orang Sambiki biasa menggunakan kata bajingan untuk menyebut sesuatu yang luar biasa. Jadi, ‘bajingan’ di Sambiki punya makna yang setara dengan “Amazing !”, “Incredible !”, “Muy bien !”, “Magnifico !”. Jadi, jangan heran kalau kau bertemu anak SD, dan mereka berkata “Kakak pe otak memang bajingan e !”.

Ah iya. Melihat sekolah alam ini, sekali-kali saya dan Danan lebih memilih menggoda Azri. Menggeluti profesi baru kami: Demotivator !

“Halah, Linkia sp, ngomong wae bintang laot !”,

“Opo opo zri? Tubipora? Tubir...tubir...tubirpora yo?”,

“Fungia sp, aku taunya fungiderm. Dah jamur”,

Beruntung Azri tak sempat bersungut-sungut pada kami.

Sejenak kemudian, saya tak sabar untuk segera menceburkan diri ke laut. Saya segera melepas pakaian untuk pada akhirnya hanya memakai kolor dan kacamata renang. Saya sempat meminjam sepatu katak pada Azri. Ini pertama kalinya seumur hidup saya pakai sepatu katak. Waktu saya hendak menceburkan diri, saya langsung ketakutan karena ternyata ia sangat berat. Wah, kalau nekat saya pakai, barangkali saya akan nampak konyol dalam satu detik ceburan.

Yay, akhirnya saya berenang di laut !

Ada sesuatu yang ajaib saat pertama mendengar bunyi riak air yang terbelah tubuh kita sendiri. Semacam perasaan bahagia yang pokoknya sangat bahagia. Ledakan perasaan yang susah ditahan-tahan. Heboh, ramai, gempar. Suasana hati yang tak memberi sedikit ruang pun pada rasa melankolis. Tempat yang memberi kebahagiaan tak ternilai. Pagi itu, di desa tetangga yang terlampau menawan. Sambiki bajingan !

3 Juni 2016


Jito, Ishizaki, Najib Kashmir, Tsubasa


KKN adalah tentang siapnya kita menjawab pertanyaan yang diulang-ulang. Kami mungkin sudah lebih dari seminggu di Anggai, namun bukan berarti kami tidak lagi bersua dengan orang-orang baru. Mereka yang jarang muncul ke permukaan, enggan mementaskan namanya ke depan panggung bicara. Para tua yang lebih memilih duduk merenung sambil menyeduh kopi di bawah pohon mangga, sengaja menjauhi hingar bingar politik desa. Atau mereka yang masih muda, namun punya lingkaran sendiri yang jauh dari arus pergaulan utama.

Malam ini sudah hampir pukul 12. Saya dan Danan kedapatan jadwal rutin mengantar pulang Nila-Rosa. Hampir setiap malam, kami memang harus mengantar mereka. Sedang Baba, Gilang, atau Haviz punya jatah mengantar Gita-Destya yang rumahnya harus masuk kompleks Rawa Jaya, komplek yang jauh dari jalan, dekat dengan perkebunan.

Sebelum berkeluh pada mimpi, kami para pria harus memastikan bahwa semua anggota wanita telah sampai dengan selamat di rumahnya masing-masing. Apalagi, tim Baraobira seringkali berkegiatan sampai pukul 23 bahkan menjelang dini hari. Bulan puasa mengharuskan kami untuk baru bisa memulai kegiatan malam selepas tarawih jam 9. Ya, meskipun sebenarnya di hari ini kami tak punya kegiatan apa-apa, kecuali menggunjing di rumah Papa Haji.

Nila-Rosa sampai juga di depan gerbang rumah Papa Sudin. Lepas berpamitan, saya dan Danan pun balik melangkah pulang. Di tengah jalan, kami berpapas dengan 4 anak muda yang sedang gitaran dan mengisap rokok di depan warung makan Lek Ti yang sudah tutup itu.

“Permisi, abang...”, sapa saya.

“Saya abang. Abang, rokok dulu abang?”, tawar mereka. Salah seorang anak muda yang paling kecil, kurus, berkaos hitam nyetrit ukuran S, mengeluarkan sebungkus Marlboro Gold dari saku kiri jeansnya. Ditawarkan sebatang rokok pada saya.

“Terima kasih, abang. Gitarnya saja ya”, jawab saya. Setiap ada gitar, saya tak akan ragu untuk duduk sejenak memainkan satu dua lagu sembari bercakap dengan mereka. Rokok atau gitar adalah jembatan persahabatan yang paling ampuh di Anggai. 

Kami mulai berkenalan. Pemuda kurus yang menawarkan Marlboro Gold ini bernama Pangki. Suaranya cempreng, gayanya slengekan cengengas cengenges khas anak gaul baru masuk SMA. Lengan kanan kirinya terus berayun bergoyang, barangkali otaknya tak bisa mempause musik dessert yang berputar di kepalanya.

“Asli mana abang?”, tanya dia. Ini contoh pertanyaan yang akan terus diulang di setiap perjumpaan.

“Jogja, Pangki ! Kalau kuliah di UGM”, jawab saya.

“Jauh sekali e, bisa sampai sini. Acara apa kah?”,

“KKN, Kuliah Kerja Nyata. Pengabdian masyarakat, Pangki !”.

Sejenak kemudian, pemuda bertopi yang ada di sebelah kiri Pangki ikut bersuara. Aih, saya pikir dia tidak lagi muda. Barangkali usianya sudah kepala tiga atau bahkan mendekati empat. Wajahnya yang penuh bekas jerawat terlihat juga setelah tersorot lampu depan warung Lek Ti. Abang ini pe nama Shahid.

“Hei Bagus, anak UGM punya kegiatan apa saja disini?”, ini pertanyaan yang juga harus sering kita jawab. Jangan bosan. Terangkan dengan tenang dan senang.

“Yang sudah jalan ada 2 abang. Kelas membaca dan kelas bahasa Inggris. Dan sekarang sedang persiapan buat pesta hari lebaran”, tukas saya sembari memetik gitar pada kunci G, kunci dasar sejuta umat.

“Wah, ada kelas bahasa Inggris e. Siapa yang mengajar?”,

“Saya dan kawan-kawan, abang”,

“Wow, That’s great, Bagus. You must speak english very well”, ujarnya. Wih, dan saya langsung terkejut begitu mendengarnya. Ia berbahasa Inggris bukan dengan logat timur, apalagi logat Jawa. Entah logat mana, yang jelas bahasa Inggrisnya terdengar baik dan lancar.

“Hehe, no mister.. You speak english better than me, actually”, balas saya berlogat Jawa gugup karena masih tak menyangka. 

Kemudian saya bertanya lagi, menuntaskan rasa penasaran yang makin membuncah. “But, mister. Where did you learn english?”,

“Long time ago, I worked in Singapore for six months and in Melbourne for one year. That’s why I can speak english, I learnt english from the street, so It’s not good”, ujarnya dengan suara serak yang tenang, sembari tersenyum juga.

Kemudian ia menyambung lagi, “Aku yo iso ngomong Jawa sethitik !”.

Saya dan Danan langsung tergelak, lepas tertawa sambil saling melihat. Dua kali kami dibuat kaget oleh Abang Shahid. Keduanya disebabkan bahasa.

Ia lalu bercerita pengalamannya bekerja di Solo. Masa mudanya ujarnya dihabiskan menjadi buruh, karyawan, atau sopir disana-sini. Ia tak segan melanglang buana dari Jawa sampai Australia demi mengumpulkan pundi rupiah untuk keluarga.

Kejutan demi kejutan memang akan selalu hadir setiap kali ada pertemuan baru. Berbicara dengan mereka bahkan sering jadi bagian terbaik dari sebuah perjalanan. Ya, meskipun akan selalu ada pertanyaan yang diulang-ulang,

“Siapa pe nama?”,

“Asli mana kah?”,

“Disini tinggal deng siapa?”,

“Bikin kegiatan apa saja?”,

Namun percayalah akan selalu ada obrolan yang mengejutkan. Mengenai petualang-petualangan yang pernah mereka jalani, gosip politik yang terjadi di sekitar sini, mitologi-mitologi nan surealis, atau sesekali rekomendasi siapa gadis yang sebaiknya kita kenal. Selama KKN, jangan pernah ragu, apalagi takut, untuk bersapa...

-------------------------------------------------------------------

Setelah cerita conversation dengan Abang Shahid tadi, entah kenapa saya jadi ingin bercerita tentang kelas bahasa Inggris. Kelas yang sedianya dikhususkan untuk anak usia SMP dan SMA ini ternyata tak berjalan sesuai rencana.

Semua dimulai dari kelas bahasa Inggris pertama yang kami laksanakan sehari setelah kelas membaca perdana. Tanpa disangka, kelas sore itu justru diserbu puluhan anak SD. Mereka minta untuk belajar lagi.

"Kaka... ajari kami bahasa Inggris, kaka.....".

Memang ada anak SMP-SMA yang datang, namun jumlahnya kurang dari 10 orang.

Oh ya, dari hasil survey yang kami dapat, kabarnya kemampuan bahasa Inggris sebagian besar anak-anak Anggai hampir nol. Penyebabnya begini: Di SD tidak ada guru bahasa Inggris. Di SMP, ada guru bahasa Inggris, tapi itu dulu sebelum dia sakit dan akhirnya tidak mengajar lagi sampai sekarang. Di SMA, lebih menyedihkan. Satu-satunya guru bahasa Inggris meninggal dunia saat belum selesai mengajarkan simple present tense. Otomatis, anak-anak ini tak punya ruang untuk mengaktualisasikan minat belajar bahasa asingnya.

Sebelum kelas dimulai, kami pun berdiskusi dulu mencari solusi permasalahan ini. Daripada mengusir anak-anak yang sudah datang, kami memutuskan untuk membuka kelas pertama untuk semua kalangan: dari SD sampai SMA. Minat mereka belajar harus kami wujudkan.

Sedang untuk kelas-kelas selanjutnya, sepertinya musti ada pemisahan. Saya pikir, akan tidak efektif seandainya satu materi disampaikan secara bersamaan di depan mereka yang tingkat usia dan nalarnya berbeda. Tentu akan membosankan terutama untuk mereka yang SMA. Disaat mereka sudah paham akan satu materi, mungkin yang SD masih proses mencerna satu kata.

Kalau bukan karena Umar, Destya dan Devina, mungkin saya akan stress sebagai penanggung jawab program pendidikan. Berkat mereka, akhirnya kelas bahasa Inggris dibagi jadi dua: Kelas untuk SD-SMP, dan kelas untuk SMA. Umar dan Destya jadi PJ untuk kelas SD-SMP. Kelas ini akan dilakanakan hari Selasa dan Kamis di waktu sore. Sedang saya dan Devina akan mengajar anak-anak SMA. Kelas anak SMA akan lebih intens. Hari Senin sampai Rabu, selepas sholat Isya.

Karena anak-anak hari itu sudah berkumpul, kelas pertama bahasa Inggris pun dimulai. Saya, Umar, Devina, dan Destya telah mempersiapkan segala materi untuk kelas ini. Materi untuk hari pertama sudah jelas: introduction alias perkenalan. Materi ini akan disampaikan dengan memperkenalkan banyak kosa kata dan percakapan.

Destya jadi yang pertama maju ke depan. Destya yang sore itu pakai kaos abu-abu, dengan rambut lurus panjangnya yang dikuncir kuda, berhasil membuat anak-anak Anggai terpesona sejak salam pertama darinya,

“Hello everyone, good afternoon...”,

“Good afternoon, miss....”, jawab anak-anak yang SMA, sedang yang SD-SMP malah ketawa cengar-cengir setiap melihat Destya berkata.

Destya kemudian mengajarkan cara memperkenalkan diri. Mulai dari mengucapkan salam, memperkenalkan nama, memberitahukan tempat tinggal, dan menyebut hobi kesukaannya. Tiap anak harus maju satu per satu, berdiri di depan kelas sambil praktik langsung di depan kawan-kawan mereka.

“Helo, god afternon....”, sapa seorang bocah perempuan berambut ikal panjang, berkaos hitam My Trip My Adventure, yang kala itu dapat giliran.

Selesai bicara god afternon, dia tak tahan menahan tawanya sendiri. Ia kaget mak jegagik mendengar kata bahasa Inggris pertama yang keluar dari mulutnya. Ia tak kuasa terpingkal, namun coba ia tahan sambil merunduk memegang perutnya.

“Hahahaa...”, anak-anak langsung tertawa melihat tingkah bocah itu di depan kelas. Saya yang berada di sebelah kanannya mencoba menenangkan dan memotivasinya supaya menyelesaikan perkenalannya.

“Ayo...lanjutkan... Gud afternun, bukan god afternon”, instruksi saya.

“Gud afternun... Mai..mai..”, dan dia sudah menahan kekehnya lagi.

“Mai...nem...is....”, tuntun saya dari sampingnya. Anak-anak di depan cengar-cengir geli.

“Mai..mai..mai nem is...........”,

"Iya..iya, hooh. Mai nem is siapa?? Ayo?",

" Mai..mai..mai...my name is Pinky !",

“Yeeeeey”, dan semua sudah memberikan tepuk tangannya sebelum Pinky selesai mengatakan alamat dan hobinya.

Kelas pertama bahasa Inggris berjalan menyenangkan. Saya, Umar, Devina, dan Destya bisa saling membantu dalam menyampaikan materi. Umar, sore itu mampu membuat anak-anak terbawa suasana oleh cara mengajarnya yang lembut. Devina secara mengejutkan mampu mengajarkan pronoun secara sempurna. Sedang Destya, sangat sabar dan tlaten dalam memperkenalkan macam kosa kata. Sisanya, saya jadi tim hore saja.

Ada sebuah kejadian yang membekas kesan buat saya. Kala itu, seperti biasanya, kami selalu mengadakan foto bersama setelah kelas usai. Pada satu sesi, seorang bocah laki-laki mengacungkan jari tengahnya menghadap kamera.

“Sopooo iki sing ngajari”, batin saya.

Namun sebelum saya sempat menasihatinya, seorang kawannya tiba-tiba menampol tangan si bocah, sambil berkata,

“Hey, dilarang Fvck You ! Pamali kalau di Inggris !”.

2 Juni 2016

Kelas Bahasa Inggris Pertama. Banyak yang Tara ikut bafoto, chii..

Caption awalnya: Khusus anak SMP-SMA, selepas kelas pertama, akhirnya diganti Terbuka untuk umum. Poster ini saya yang bikin lho. Piye-piye? Lah, memang ndilalahnya di subunit Anggai nggak ada yg bisa design. Akhirnya saya mandiri, bikin poster sendiri. Gak elek-elek banget to?



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018