bagus panuntun

berubah!


Pertemuan pertama saya dengan kappa bukanlah kappa yang ada dalam buku ini. Kappa yang pertama kali saya temui adalah monster hijau berbentuk mirip katak dan kura-kura namun memiliki paruh kuning besar, dengan perawakan gemuk pendek, dan kepala botak yang dikelilingi rambut berbentuk teratai. Ia adalah monster air yang tinggal di danau dekat gua penuh berlian dan akan muncul jika kita memberinya tiga ketimun, untuk kemudian menukarnya dengan Power Berry. Pertemuan pertama saya dengan kappa tersebut ada dalam game Sony Playstation idola segala umat, Harvest Moon: Back to Nature.

Lantas ketika lebih dari sepuluh tahun kemudian saya menemukan sebuah buku tipis bersampul merah muda berjudul “Kappa”, maka ingatan saya segera terpelanting pada game tersebut. Berbalut rindu nostalgis dan rasa penasaran, saya pun segera  mengambil buku itu bahkan sebelum mengenal sang penulis, Ryunosuke Akutagawa, sastrawan yang ternyata dijuluki maestro cerpen Jepang dan namanya diabadikan sebagai nama sebuah penghargaan sastra bergengsi.

Kappa adalah nama salah satu makhluk mitologi Jepang. J.K. Rowling dalam bukunya “Fantastic Beast and Where to Find Them” mendiskripsikan Kappa dengan tidak begitu jauh dari apa yang saya lihat di Harvest Moon:
“Monster air dari Jepang yang tinggal di kolam atau sungai dangkal. Seringkali nampak seperti monyet bersisik ikan dan bukan berbulu. Kappa mempunyai lubang di atas kepalanya untuk membawa air. Kappa minum darah manusia tapi bisa dibujuk untuk tidak melukai seseorang bila dilempari ketimun dengan nama orang itu di kulit buahnya. Saat berhadapan dengan Kappa, penyihir harus melancarakan tipu muslihat agar Kappa membungkukkan badan— dengan begitu air yang ada di kepalanya akan tumpah dan kekuatannya akan hilang”.
Mengingat betapa uniknya penggambaran Kappa baik dalam Harvest Moon maupun Fantastic Beast, saya pun berekspektasi bahwa kappa dalam novelet ini akan dihadirkan dengan paling tidak sama uniknya. Selain itu, mengingat kappa yang pertama saya temui adalah kappa yang lucu, maka saya juga berharap bahwa kappa dalam karya Akutagawa akan ditampilkan sebagai kappa yang menyenangkan alih-alih sebagai peminum darah manusia.

Maka, benar pula apa yang saya harapkan. Meski dibuka dengan kisah yang gelap, Kappa selanjutnya menyajikan sekuen demi sekuen yang membuat saya terpingkal-pingkal melihat tingkah makhluk satu ini.

Novel ini dibuka dengan pengantar dari narator tentang kisah penghuni rumah sakit jiwa nomor 23 yang tak henti menceritakan kisahnya tinggal di dunia kappa. Meskipun banyak orang menganggap kisahnya sekadar bualan, namun narator yang adalah dokter perawatnya, mau tidak mau menjadi percaya sebab konsistensi dalam ceritanya. Maka, berlanjutlah novelet ini dengan kisah dari pasien nomor 23 yang terjungkal ke dalam sumur, lalu sampai dan hidup di dunia kappa.

Kisah seorang manusia yang terjun di dunia fantasi dan hidup bersama monster, peri, atau makhluk eksentrik lainnya sebenarnya bukanlah cerita baru. Jauh sebelum Kappa, kita telah mengenal Gulliver’s Travel, Alice in Wonderland, Avatar karya James Cameron, atau –yang paling akrab dengan saya— Digimon. Akan tetapi, kisah-kisah tersebut kebanyakan menampilkan heroisme manusia yang tiba-tiba menjadi imam mahdi di universe barunya. Kappa, alih-alih menampilkan hal tersebut, justru sepanjang novelnya hanya menampilkan rutinitas sehari-hari tokoh bersama para kappa, mulai dari bertamu ke rumah kappa, menonton konser, membaca buku, hingga minum-minum bir di kafe. Namun justru disinilah letak mengasyikkannya Kappa. Kappa melalui sekuen-sekuen kecilnya seolah mengajak kita ikut merasakan keterkejutan demi keterkejutan yang dialami tokoh ketika melihat polah tingkah para kappa. Kappa benar-benar mengejutkan –juga menggelikan. Bayangkan, kappa adalah makhluk yang sedari belum keluar dari lubang peranakan, ia telah dapat berbicara dengan lancar. Kappa bahkan dapat memilih sendiri apakah ia mau dilahirkan atau minta digugurkan:
“Ketika sang jabang bayi hampir keluar, sang ayah mendekatkan mulutnya ke depan rahim istrinya, lalu bertanya dengan suara nyaring mirip orang menelepon, “Apakah kau mau dilahirkan ke dunia ini?”. Bayi yang masih di dalam rahim istrinya nampak agak sungkan lalu menjawab dengan suara perlahan, “Aku tak mau dilahirkan. Pertama, karena akan sangat mengerikan  mewarisi keturunan sakit jiwa darimu. Dan kedua karena aku yakin kehidupan kappa tidak baik”.

Membaca narasi di atas dan membayangkan sebiji orok yang mengumpat saja sudah membuat saya tergelak, toh nyatanya Akutagawa belum sampai pada punchline-nya:
“Ada kappa yang masih bocah tapi sudah lancar memberi ceramah tentang ada tidaknya Tuhan, padahal usianya baru 26 hari. Kappa itu kemudian meninggal pada usia dua bulan”

Sekuen lain dalam Kappa yang cukup mengocok perut adalah sekuen yang memuat berbagai quote dalam buku paling masyhur di dunia kappa. Buku tersebut ditulis oleh seorang filsuf kappa terkenal bernama Mag dan diberi judul “Kata-kata si Bodoh”.
“Mengurangi hasrat duniawi tidak selalu membuat hati tentram. Agar dapat merasa tentram, hasrat batiniah juga harus dikurangi” – Mag dalam Kata-kata si Bodoh

Karya sastra yang paling menyenangkan, bagi saya pribadi, adalah karya yang mampu membuat kita terbahak-bahak untuk kemudian membuat kita tak bisa tidur mempertanyakan “Apa sih maksud semua ini?”. Dan Kappa adalah salah satunya. Ia pertama-tama –dengan kurang ajar— membuat saya tidak sadar bahwa saya sedang menertawakan perihal aborsi, ceramah ketuhanan, juga omongan seorang filsuf. Dalam sekuen lain, saya bahkan sempat tertawa –sebelum akhirnya istighfar—melihat tokoh utama yang mual-mual saat mengetahui bahwa menu makan malamnya adalah daging para buruh Kappa yang rela dibunuh daripada hidup sebagai pengangguran.

Sekuen-sekuen tersebut bisa kita tebak sebagai sarkasme yang dilancarkan Akutagawa terhadap berbagai hal —sebagian besar hal tersebut masih kontekstual hingga saat ini. Sekuen tentang anak yang memilih digugurkan misalnya, bisa jadi menyinggung sistem sosial kita yang menganggap keluarga tanpa anak adalah hina.  Sementara itu, kita tak pernah peduli banyak anak terlantar sebab orang tua yang tak mampu beli puyer untuk kepalanya sendiri. Sekuen tentang ceramah ketuhanan yang disampaikan bocah usia 26 hari, misalnya, saya kira adalah sarkasme pada kita yang seringkali berbusa-busa khotbah soal Tuhan sementara membaca satu biografi Nabi saja belum pernah –atau nihil mengkhatamkan kitab terjemahan. Sementara itu, Kata-kata si Bodoh yang dijadikan judul buku filsuf tersohor saya kira juga menyinggung kita yang kerapkali mendabik dada sembari menyebut satu dua terma ndakik supaya nampak paling pintar –padahal kita tak lebih cerdas dari papan triplek.

Akutagawa adalah cerpenis ulung asal Jepang yang hidup di era Taisho (1912-1926). Pada era tersebut, Jepang sedang mengalami “panen besar” berkat kebijakan pendidikan pasca restorasi Meiji di mana Jepang bergelora betul mengirim anak mudanya kuliah di Barat. Hasil panen tersebut tak lain adalah ribuan kepala yang isinya melimpah rumus dan rancangan mesin-mesin industri. Jepang pun mengalami puncak industrialisasinya: produksi tembaga, batu bara, dan nikel meningkat berpuluh-puluh ribu ton, pembangunan pabrik menjamur dimana-mana, penemuan mesin-mesin industri tak habis-habisnya. Kamekichi Takahashi dalam artikelnya The Rise of Capitalisme in Japan bahkan menulis “Sementara di Eropa peradaban kapitalistik butuh dua atau tiga ratus tahun untuk berkembang, Jepang hanya butuh separo abad saja”.  Akan tetapi, segala sesuatu tentu ada harganya, jer basuki mawa bea, ujar orang Jawa. Maka Jepang –atau rakyat Jepang?– pun musti membayar hasil perkembangan industrialisasinya  dengan PHK besar-besaran bagi para buruh yang tenaganya digantikan oleh mesin-mesin industri. Jepang pun jadi ladang pengangguran.

Dalam Kappa, perihal di atas disinggung berkali-kali oleh Akutagawa. Sekuen di mana tokoh utama mual-mual saat mengetahui makanannya adalah daging para buruh Kappa sepertinya menyinggung keadaan sosial era tersebut. Sekuen itu terjadi ketika si Tokoh bersama dua kawannya diundang oleh Gael, kapitalis terkaya di dunia Kappa, untuk makan malam di rumahnya. Tokoh yang telah habis melahap hidangan malam itu kemudian muntah-muntah saat Gael mengatakan bahwa ia baru saja menyantap daging para buruh. Keterkejutan tokoh akan kanibalisme tersebut kemudian dijawab Gael dengan santai dan tenang “Kau tanya bagaimana aku bisa makan daging sesamaku? Bukankah di negerimu juga banyak yang memakai anak gadis proletar sebagai pelacur? Kalau kau muak makan daging para buruh, itu hanya sentimentalitasmu saja”.

Awalnya, saya berpikir bahwa Kappa adalah inversi dari dunia manusia. Aborsi yang dalam dunia manusia dianggap biadab, dalam dunia Kappa justru dianggap wajar. Ceramah ketuhanan yang alih-alih disampaikan seorang tua dan saleh, dalam Kappa justru diucapkan bayi usia sebulan – dan ia kemudian mati. Filsuf yang kerapkali dianggap manusia tercerdas, justru dilabeli Si Bodoh. Pun dengan seorang kapitalis yang alih-alih bersolek sebagai juru selamat “penyedia lapangan kerja”, justru secara terang-terangan mengaku tak ambil pusing melihat buruh-buruh dihanguskan. Akan tetapi, kata inversi nampaknya kurang pas untuk disematkan pada Kappa. Sebab sekuen-sekuen dalam Kappa nampaknya bukan sebuah inversi, namun lebih sebagai pelebih-lebihan (exaggeration) terhadap apa yang memang sudah ada di dunia nyata. Bukankah si pandir yang berkhotbah, amatir yang berfalsafah, atau kapitalis yang minum darah sebenarnya sudah lumrah? Lantas apa bedanya mereka-yang-ada-di-dunia dengan mereka-yang-ada-di-Kappa? Mungkin jawabannya adalah bahwa para Kappa mengamalkan betul apa yang dikatakan filsuf Mag,“Akuilah dosamu sendiri, maka semuanya akan lenyap”. Atau jika disederhanakan dalam kata-kata Awkarin “Fvck Pencitraan !”.

Tulisan ini pertama dimuat di www.kibul.in

Ah matahari !
Cahaya matahari silau betul saat aku keluar dari lab. Hari yang cerah pada musim panas di New York dengan pohon-pohon, dedaunan hijau, cuaca lembab, juga asap yang membumbung tinggi dari gedung-gedung pencakar langit dan membuat langit nampak abu-abu. Aku sebenarnya punya hasrat konyol untuk berjingkrak-jingkrak sampai Stasiun Central Park, tapi aku tak punya banyak waktu. Kerja, kereta. Persimpangan jalan. Lampu masih hijau dan aku belum bisa menyeberang. Baris demi baris mobil perlahan-lahan melewatiku. Darah kehidupan mengalir sepanjang jalan. Sinar matahari memantul di kaca depan sebuah mobil dan membuatku silau. Ah, kalau saja aku punya kacamata hitam seperti para penjaga bioskop. O.K kids, hands up! Para polisi nampak begitu menggelikan dengan tongkat lalinnya. Seorang pria kekar dari Irlandia terus mengunyah permen karet. Lampu merah. Dan aku mulai menyeberang. Loket stasiun. Antrian mengular seperti yang biasa terjadi pada jam-jam sibuk. Seorang perempuan tua di depanku mengeluarkan beberapa keping receh dari sakunya dan salah satunya jatuh. Ia nampak sedih melihatnya menggelinding dan lenyap di antara kaki-kaki calon penumpang. Aku tersenyum. Kini giliranku. Petugas loket langsung meminta 2 keping uang 10 sen tanpa senyum sedikitpun. Aku membalas tindakannya dengan lewat begitu saja tanpa berterima kasih. Aku turun tangga dan mengikuti petunjuk arah menuju pusat stasiun. Semakin turun, keadaan jadi semakin gelap. Aku sempat berhenti beberapa kali supaya mataku terbiasa dengan gelap. Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh kereta yang entah sedang menuju kemana. Akhirnya aku tiba juga di peron. Ada tiga bangku dan dua gadis sedang duduk di salah satunya. Dengan sengaja aku duduk di bangku tersebut tepat di sebelah gadis pirang yang paling cantik; dia cuek. Aku pun pindah ke bangku sebelahnya, mengambil jarak dan menatapnya sejenak lalu berusaha melempar senyumku yang paling manis. Sia-sia! Demi apapun aku tak suka orang blonde, aku suka orang brunette! Sudahlah.  Stasiun nampak dekil: puntung rokok, kertas-kertas koran, tutup dan botol bir, semua bertebaran. Aku melihat sekeliling dan membaca sebuah peringatan di dinding “Dilarang Meludah”. Mendadak aku langsung ingin meludahinya. Sebuah mesin minuman kaleng memajang tulisan “Mau gaul? Minum coke !” Hmm. Tak terasa stasiun menjadi penuh sesak. Seorang perempuan usia 80 atau 90-an berdiri tepat di depanku. Tubuh bungkuknya yang disangga tongkat nampak lelah dan ringkih. Ia menyeringai padaku dengan gigi yang mulus ompong, betul-betul mengerikan! Aku bangkit dari tempat duduk dan menawarkan tempatku pada seorang gadis pirang nan cantik yang berdiri persis di sebelah nenek tua tadi. Aku sungguh suka perempuan, terutama perempuan blonde. Awalnya ia menolak namun akhirnya mau juga. Oh perempuan, tak pernah “iya” saat pertama. La donna è mobile! (Perempuan sungguh membingungkan!) Aku kembali memandang sekeliling dan memperhatikan dinding-dinding sepanjang stasiun. Dimana-mana ada reklame dan tulisan-tulisan grafiti. Aku rabun jauh sehingga tak bisa membaca tulisan-tulisan itu dengan jelas; aku mendekat dan membaca salah satunya “Mending jadi komunis daripada nikah!” Ha ha ha, apaan sih. Aku mulai lelah, bosan, dan jengkel. Aku kembali mendekat ke arah bangku namun secara tak sengaja sepatuku menginjak permen karet dan aku hampir terjatuh. Kugosok-gosokkan sepatuku ke lantai namun permen karet ini tak mau lepas. Menjijikkan. Aku kembali ke dekat bangku. Gadis pirang yang tadi menoleh ke arahku; aku tersenyum padanya. Ia diam saja. Dia sudah lupa aku?!? Sungguh, aku benci perempuan, terutama perempuan blonde! Tepat di saat itu, seseorang bertanya padaku, “Eh bung, kereta ini ke arah mana ya?” “Ke Neraka bos,” jawabku. Ia marah dan mengumpat. Bajingan. Bodo amat, pikirku.
Stasiun benar-benar penuh sekarang. Panas sekali. Ternyata segerah ini musim panas di New York. Aku kembali berjalan dengan kedua tangan kumasukkan ke dalam saku. Sebuah kaleng coke kosong tergeletak di depanku. Aku menyepaknya sekencang-kencangnya. Kaleng itu berkelontang dengan suara yang amat berisik. Saat itulah orang-orang menoleh ke arahku, memperhatikanku: akhirnya aku ada! Orang-orang aneh, entah yang berkacamata, entah yang tidak. Tak ada yang kukenal, dan aku tak peduli juga. Biarkan aku menyukai orang-orang, kebebasan, demokrasi, sosialisme, keadilan, dan sebagainya, dan  sebagainya. Oke, aku akan pergi menuju mesin coke dan aku siap menjadi gaul. Mereka kembali melihatku. Aku benar-benar suka orang New York, mereka memang jempolan, aku bahkan bersedia mampus demi mereka. Aku mengambil sekeping koin 10 sen dan memasukannya ke lubang mesin kemudian memencet tombolnya. Sebuah paper cup terlepas dan mulai terisi dengan coke. Sialan, kereta! Aku langsung tergesa dan meninggalkan coke-ku begitu saja. Orang gaul berikutnya akan dapat minuman gratis! Ada barang gratis di Amerika! Sebentar lagi seseorang akan menganggap dunia ini menakjubkan! Pintu kereta terbuka. Kereta yang lengang mendadak penuh sesak. Kami berdesakan dengan kacau, saling tendang, saling sikat, saling sikut. Voilà, beginilah orang New York dan aku sungguh benci ! Mereka selalu berebut tempat untuk kepentingannya sendiri. Pintu kereta tertutup. Berangkat. Kereta tiba-tiba menghentak dan membuatku terlempar ke belakang dan orang-orang di depanku ikut jatuh menindihku. Sembari berusaha menemukan lagi keseimbangan aku berpapas muka dengan seorang perempuan (lagi-lagi) blonde. Aku mengernyitkan dahi tanpa tersenyum padanya. Aku mendekat, mencuri kesempatan sebisa mungkin untuk menyenggol tetek mudanya yang menyembul. Goncangan kereta lagi-lagi membuatku terlempar mundur dan saat aku kembali ke posisi tadi, tiba-tiba sudah ada seseorang di antara kami. Ah, selalu saja ada seseorang –atau sesuatu— di antara kita dan hal yang paling kita sukai di dunia. “C’est la vie”, “beginilah hidup”, kata orang Prancis. Seseorang menghujamkan sikunya ke kepalaku, sedang yang lain menjotos lambungku. Seorang tentara meremukkan jempol kakiku dengan pantofelnya. Aku menatapnya tajam dengan murka: ia berbisik minta maaf namun dengan setengah hati. Jagoan di depanku mencoba membaca koran. Maha akrobat! Orang-orang mendorong, memepet, menyikutnya, namun ia tak peduli dan tetap membaca. Seorang perempuan paruh baya gendut ngorok di tempat duduknya dengan mulut melompong; tubuhnya berpeluh keringat. Aku benar-benar benci perempuan gendut, terutama yang tidur di métro dengan mulut melompong. Aku merasa gerah juga. Lelaki di depanku berbau busuk dan seluruh dunia mendadak ikut busuk. Aku berbalik, mengamankan hidungku ke arah lain. Kini aku bertatap muka dengan seorang lelaki berwajah mengesankan. Seorang badut. Ia pasti seorang aktor atau pelawak, atau apalah. Keringat mengalir di dahi, pipi, dan mulutnya dan melelehkan make up, mascara, cat merah, cat hijau, dan cat putihnya. Wajahnya yang warna-warni terasa benar-benar aneh. Seperti apa wajah aslinya? Aku hanya melihat bulu matanya; Kedua sayap hidungnya kembang kempis butuh udara. Apa dia akan mati lemas? Ia menatapku, aku bergidik melihat topengnya. Topeng kematian. Ia menginginkanku. Tapi aku masih mau hidup. Keringatku mengalir deras dan semakin deras. Bunyi rel menderit, lampu kereta mati, hidup lagi, mati lagi. Topeng itu kembali menatapku tajam seolah ingin menyeret, menyerapku dalam ketiadaan. Aku mencoba memejamkan mata, tidak, aku tidak bisa  melihat lagi. Kereta ini berputar, aku ketakutan, kereta ini cepat sekali, ini kereta hantu, ia tak berhenti, tak mau berhenti, terus turun dalam lingkaran, berputar, berputar, berputar...
.
.
.
Judul karya asli: Mon Métro Phantôme
Penulis: Emmanuel Boundzeki Dongala
Bahasa sumber: Prancis
Emmanuel Boundzéki Dongala, lahir 14 Juli 1941, adalah seorang Profesor kimia cum sastrawan Kongo. Cerpen Mon Métro Phantôme menggambarkan alienasi yang dialami imigran kulit hitam di Amerika, di tengah arus modernisasi dan stereotype yang melekat padanya. Cerpen yang diceritakan dengan gaya orang mengoceh ini terdapat dalam kumpulan cerpen Jazz et Vin de Palme (1982) yang terbit ketika Kongo masih menganut Marxist-Leninist otoritarian dan sempat dilarang di negaranya karena isinya yang satir dan penuh olok-olok.
Sumber:
Dongala, Emmanuel Boundzeki. 1982. Jazz et Vin de Palme. Paris: Hatier
Thomas, Dominic. 2002. Nation-Building, Propaganda, and Litterature in Francophone Africa. Indiana University Press


Coba luangkan sejenak waktumu, ambil gawaimu, buka instagram-mu, menujulah ke kolom pencarian dan ketikkan tagar #ComeBex. Selanjutnya simak sejenak foto-foto yang muncul dari tagar tersebut. Maka kau akan melihat sosok lelaki berkacamata dengan jidat bersih nan lebar, kulit kuning langsat, bermata sipit, lalu berambut panjang gimbal.
Ia adalah Subex, mahasiswa Sejarah UGM, head crew band parodi Sastro Moeni, juga kawan saya yang sejak minggu lalu dipastikan mengalami gagal ginjal dan musti menjalani terapi cuci darah dua kali seminggu. Duka menyeruak ketika kabar tersebut datang begitu mendadak. Dua minggu sebelumnya, saya masih terbahak ketika kawan-kawan memberinya julukan baru “candi” sebab hobi barunya mendekam diam di kamar selama berbulan-bulan. Seminggu sebelumnya, saya mendengar kabar bahwa Subex sengaja menjadi “candi” untuk merenungkan skripsinya mengenai sejarah perdagangan kopra di kepulauan Talaud.
Tiga hari sebelumnya, saya dibuat kagum sekaligus terkejut mendengar kabar bahwa ia telah mengelarkan bab 2-nya. Siapapun yang mengenal Subex tentu paham bahwa menyelesaikan bab 2 adalah sebuah pencapaian luar biasa untuk seorang yang lebih kerap menggulung kabel dan datang ke gigs indie dibanding membaca buku dan masuk ke ruang kuliah. Akan tetapi tepat pada Kamis minggu lalu, tersebarlah kabar bahwa Subex positif gagal ginjal, dan lebih ironisnya kabar itu jatuh tepat pada tanggal 9 Maret yang merupakan peringatan Hari Ginjal Sedunia.
Kabar sakitnya Subex yang awalnya hanya diketahui beberapa gelintir orang lantas menyebar begitu cepat seiring bertambahnya foto dan hashtag #ComeBex yang merupakan modifikasi dari terma #ComeBack, sebuah ungkapan yang akhir-akhir ini dimaknai para pecinta sepak bola sebagai “bangkit kembali setelah jatuh”.
Berawal dari satu, menjadi sepuluh, menjadi seratus, lalu menjadi seribu, simpati pada Subex pun terus mengalir. Setelah hashtag #ComeBex, berikutnya hadir pula charity “Cuci Darah untuk Subex”, dan selang beberapa hari kemudian aksi solidaritas untuk Subex pun digelar di Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Budaya, dan Fakultas Filsafat UGM dengan campaign #minumairputih. Dan dari campaign #minumairputih inilah sebenarnya kita dapat belajar banyak hal.
Semua orang tentu tahu bahwa air memang sangat penting bagi tubuh. Akan tetapi, nyatanya masih banyak di antara kita, terlebih para mahasiswa dan kelas pekerja, yang kelewat abai pada hal tersebut.
Berapa gelas air yang biasa kita minum dalam sehari?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baiknya jika kita menjawab dahulu pertanyaan ini “Berapa gelas air yang sebaiknya kita minum dalam sehari?”. Sebagian besar orang mungkin akan dengan mantap menjawab “8 gelas air atau 2 liter !”. Padahal, saran umum tersebut adalah bentuk salah kaprah yang brutal. Nyatanya, penelitian terbaru yang dilakukan International Marathon Medical Directors Association (IMMDA) menyarankan agar kita mengkonsumsi air minum hanya pada saat kita merasa haus dan dahaga. Konsumsilah air minum secukupnya, yaitu tidak lebih dari 0.03 liter per kg berat badan. Jadi, misalnya kita memiliki berat badan 100 kg, maka konsumsilah air minum kurang lebih 3 liter per hari. Heinz Valtin, spesialis ginjal dari Dartmouth Medical School, juga mengatakan bahwa saran umum minum 8 gelas air per hari sebenarnya sama sekali tidak benar. Ia lebih jauh lagi mengingatkan bahwa minum air dalam jumlah terlalu banyak justru dapat menyebabkan hiponatremia yaitu kondisi di mana jumlah air dalam tubuh berlebihan sehingga ia akan masuk ke dalam sel-sel tubuh dan menyebabkan pembengkakan otak.
Kembali ke pertanyaan sebelumnya, “Berapa gelas air yang biasa kita minum dalam sehari?”. Kemudian mari kita tambahi dengan pertanyaan, “Sudah tepatkah?”. Jika sejak membaca tulisan ini kita sadar bahwa selama ini kita minum air dengan cara yang kurang tepat, maka mulailah meminum dengan takaran yang tepat. Saya sendiri selama ini meminum lebih dari 10 gelas air per hari. Bagaimana bisa? Ya bisa, wong saya baru mengetahui penelitian dari IMMDA dan Heinz Valtin ketika proses menulis artikel ini. Hehehehe…
Berapa kali kita menunda mengisi galon yang sudah habis?
Seringkali kita begitu berat kaki melangkah ke depo air minum isi ulang yang jaraknya paling hanya beberapa kilometer dari rumah. Malasnya orang mengisi ulang galon saya kira setara dengan malasnya orang ikut jamaah subuh. Padahal berdasarkan pengalaman pribadi, telat mengisi galon akan berdampak pada berkurangnya secara drastis jumlah air yang kita minum. Bukankah kencing kita biasanya kekuningan tepat pada momen ketika kita kehabisan air di galon? Parahnya lagi, kita terus menundanya sampai akhirnya kita merasa bak di gurun sahara: kerongkongan kerontang, kepala nyut-nyutan, penglihatan berkunang-kunang.
Dan pertanyaan terakhir, “Berapa kali kita enggan memesan air putih di rumah makan sebab merasa gengsi atau setidaknya nggakenak hati?”.
Perihal terakhir ini saya kira menjadi perihal yang paling membuat hati masygul. Tentu itu bukan semata kesalahan kita. Akhir-akhir ini saya mengamati semakin banyak kafe, kedai, rumah makan, atau restoran yang sengaja menghapus air putih dari daftar menu minumnya. Saya punya pengalaman yang buruk terkait hal ini. Suatu hari, saya pernah janjian dengan seorang teman di sebuah kafe dekat kampus. Malam itu saya hanya membawa uang dua belas ribu rupiah. Pas, tidak kurang tidak lebih. Sebab teman saya belum datang dan waitress kafe sudah menghampiri, saya pun memilih untuk memesan makanan terlebih dahulu dengan menu makanan yang harganya tak lebih dari dua belas ribu namun tetap dapat membuat perut kenyang. Alhasil, saya pun memesan Indomie goreng telur yang harganya tepat sejumlah uang yang saya bawa dan meminta tambahan air putih supaya makan saya tetap nikmat tanpa keseretan. Namun betapa kaget dan wirangnya saya ketika waitress tersebut tiba-tiba menagih uang sebesar tujuh belas ribu rupiah.
“Lho, kan Indomie telur cuma dua belas ribu mbak?”,
“Iya mas, tambahan air mineral botolnya 5.000 rupiah”,
“Saya nggak mau air botolan mbak. Saya minta air segelas kecil aja.”,
“Maaf mas, nggak ada, adanya air mineral botol”,
“Segelas aja nggak bisa mbak?”,
“Maaf mas, nggak ada..”,
“Beneran mbak?”
“Iya mas, nggak ada”
“Nggak ada mbahmu koprol, la njuk piye le mu ngecor kopi kalau air nggak ada?”, batin saya emosi. Namun apa daya, akhirnya saya mengalah dan jadilah malam itu saya mengubah menu jadi Indomie rebus telur. Kalau keseretan, paling tidak saya bisa minum kuahnya.
Fenomena penghapusan menu air putih sebenarnya pernah menimbulkan kontroversi di Amerika. Kontroversi tersebut dimulai dari sebuah campaign  Coca Cola bertajuk “Cap the Tap” atau “Matikan Keran”, yang merupakan ajakan bagi restoran-restoran di Amerika untuk mematikan keran restoran (di Amerika, air keran bisa langsung diminum) dan memberi pelatihan bagi para pegawai untuk memberikan tawaran alternatif seperti air mineral botol (Ingat, Coca-cola memiliki brand air mineral botol bernama Dasani), teh hijau, diet soda, atau smoothies. Campaign tersebut tentu saja dilakukan dengan demi motif profit semata. Akan tetapi, campaigntersebut segera ditentang banyak pihak.
Sebuah petisi bahkan muncul di forcechange.com untuk mengajak warga Amerika menolak campaign “Cap the Tap”. Alasan penolakan tersebut pun bukan hanya didasari alasan kesehatan saja, namun juga motif ekonomi di mana disebutkan bahwa air kran telah membantu warga Amerika menjaga dompetnya.
Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? Adakah tanda-tanda penolakan terhadap kebijakan semacam itu? Saya kira sulit. Kebijakan semacam itu bahkan kini nampak merambah ke warung-warung pinggiran yang dahulu nampak membumi dan sederhana.  Bukankah kita sering melihat aa’ warung burjo atau bapak warung soto bermuka masam kala kita memesan air putih?.
Ini mungkin agak merepotkan, namun daripada kita sering merasa kehausan atau kekurangan cairan di tengah aktivitas yang padat, alangkah baiknya jika kita mulai rajin membawa air minum dari rumah di manapun kita berada. Setidaknya jika kita sedang bokek dan tidak ingin memesan minuman berbayar, kita bisa mengurangi probabilitas meminum kuah Indomie atau mendapati muka masam bapak penjual soto.
Kembali pada campaign #minumairputih yang dilakukan teman-teman UGM, nampaknya lagi-lagi kita musti banyak belajar dalam memandang kehidupan. Mendengar kabar tentang seorang karib yang musti melewatkan 12 jam per minggu bersama mesin dialiser, selang panjang merah-biru bernama CDL, juga jarum suntik sebesar ekor capung ciwet tentu membuat duka, pilu, pahit, getir, juga prihatin segera mengendap. Namun larut dalam kesedihan saja toh pada akhirnya tak membantu apa-apa. Pramoedya Ananta Toer dalam novel Anak Semua Bangsa pernah menulis “Kehidupan ini seimbang tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” Dan begitulah campaign #minumairputih bisa hadir di tengah kita meski berawal dari sakitnya Subex.
Jika pada akhirnya campaign tersebut dapat menyebar begitu luas dan membuat kita banyak belajar, saya kira semua itu tidak berawal dari rasa peduli kawan-kawan Subex, namun bermuara dari sosok Subex sendiri, sosok yang senantiasa mau berteman dengan siapa saja.

Tulisan ini pertama kali dimuat di www.kibul.in


Pengantar
Minggu kedua bulan Ramadhan 2016, ketika sebagian besar mahasiswa UGM sedang bertemu mamak di kampung halamannya, ketika sebagiannya lagi sedang berada di tanah pengabdian dalam rangka KKN (Kuliah Kerja Nyata), Bonbin UGM direlokasi –dalam terminologi Ahok dan Ibu Dwikorita– ke Lembah UGM. Ini terjadi gara-gara UGM punya proyek menjadi kampus dengan platform yang kondusif untuk proses belajar mengajar. Kampus diproyeksikan untuk menjadi ruang dengan taman hijau dimana-mana, bebas polusi suara dari kendaraan bermotor, apalagi dari sebuah tempat seperti Bonbin yang dalam skripsi berjudul “Studi tentang Kehidupan Sosial pada Sebuah Warung di UGM, Bulaksumur, Yogyakarya” yang ditulis oleh Budi Hardjono dinarasikan sebagai berikut:
“Jika dilihat dari jauh, maka orang-orang yang duduk di ruang itu seperti binatang-binatang yang terkurung dalam sangkar yang kotor, bersikap urakan, dan semua terlihat mesum. Bonbin seperti antitesis dari struktur yang dianggap “benar” di fakultas”.
Ah, pembaca Kibul yang terhormat, barangkali kalian belum paham apa itu Bonbin, atau kalian kira Bonbin adalah tempat para tapir, celeng, dan iguana dikurung dalam kandang seluas kamar kos, maka sudah barang tentu itu keliru. Bonbin yang sedang kita bicarakan kali ini adalah nama sebuah kantin yang (dahulu) terletak di area Jalan Sosio-Humaniora, Universitas Gadjah Mada dan kerapkali disebut sebagai kantin legendaris UGM.
Saya kira julukan legendaris memang tidak berlebihan jika kita melihat pelbagai peristiwa yang merentang sejak Bonbin didirikan hingga terakhir kali ia diruntuhkan. Pertama, sejak didirikan pada tahun 1987 oleh Profesor Koesnadi Hardjosoemantri –kala itu menjadi Rektor UGM— kantin ini telah ditujukan sebagai manifestasi visi kerakyatan yang –sebagaimana kita tahu— selalu digaung-gaungkan oleh UGM. Kala itu, Prof. Koes membangun Bonbin dengan cara mengumpulkan puluhan pedagang kaki lima yang tersebar di 8 titik sekitar UGM untuk kemudian meminta mereka menjual dagangannya di area kampus. Di kala kebanyakan pemegang kuasa gemar melakukan peminggiran kepentingan rakyat kecil, Prof. Koes justru hadir sebagai anomali dengan membawa kaum-kaum kromo ke pusat arena. Kedua, dalam rentang hampir 30 tahun, Bonbin telah menjadi saksi lahirnya sosok-sosok cemerlang dalam berbagai bidang, sebut saja Rahung Nasution (koki terkenal yang dulunya hampir setiap hari nongkrong di Bonbin), Faruk HT (Profesor dan Kritikus Sastra), hingga Puthut EA (sastrawan). Puthut EA dalam memoarnya berjudul “Para Bajingan yang Menyenangkan” bahkan menceritakan Bonbin sebagai tempat para aktivis PRD (Partai Rakyat Demokratik) seperti Nezar Patria dan Budiman Sudjatimiko berkumpul menyusun strategi untuk menggulingkan Soeharto. Dan ketiga, setahun lalu ketika isu relokasi Bonbin mulai mencuat, Bonbin mampu membangunkan kembali gerakan mahasiswa yang awalnya adem ayem untuk kemudian berbondong-bondong dengan kaos hitam menuju Rektorat membawa spanduk merah bergambar tangan mengepal bertuliskan “#SAVEBONBIN, TOLAK RELOKASI !”.
Namun dengan segala hal yang membuat Bonbin layak disebut kantin legendaris, nyatanya Bonbin punya nasib yang tak mujur-mujur amat. Setelah tempo lalu dijuluki “kantin gelap yang menyebarkan bakteri salmonela” oleh para petinggi Universitas , ia kemudian –alih-alih direnovasi– direlokasi ke area Lembah yang letaknya jauh dari fakultas-fakultas di UGM. Belum cukup dengan kemalangan tersebut, omset penghasilan pedagang ternyata jauh menurun. Nama Bonbin pun kini tak dikenal lagi oleh mahasiswa-mahasiswa angkatan baru. Bangunan Bonbin pun kerap banjir. Tak cukup sampai disitu, Bonbin bahkan mulai ditinggalkan oleh sebagian besar aktivis kampus yang dulu mengadvokasi nasibnya. Para mahasiswa yang setahun sebelumnya garangnya minta ampun, kini pergi entah kemana untuk sibuk dengan “karir”-nya masing-masing.
Di tengah kondisi yang memaksa kita menasbihkan lema “prihatin” ini, hadirlah puluhan alumni Fakultas Sastra yang tergabung dalam Komunitas Sastra Lawas yang kemudian menginisiasi sebuah pagelaran bertajuk Bonbin Reborn.

Bonbin Reborn, Sekadar Nostalgia?

Bonbin Reborn digelar beberapa hari lalu, tepatnya pada tanggal 18 Februari 2017. Sehari sebelum acara digelar, saya sempat bertemu dengan Widhi Asmara, sosok ketua panitia, untuk berbincang selama kurang lebih 20 menit di Warung Ketoprak Mas Heru.
Sebagai bahan obrolan awal, saya pun menanyakan latar belakang diadakannya acara tersebut. Widhi Asmara setelah menyeruput kuah es campur yang baru saja ia pesan, kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan begitu santai,
“Ya, latar belakang awalnya lebih ke keinginan untuk bernostalgia”.
Bonbin Reborn sedari awalnya memang diciptakan sebagai “ruang untuk mengenang”. Itulah mengapa pada malam ketika acara dirayakan, kita bisa menemui Yu Par, Heru, Lilik, Cithut, hingga Mbak Ning menggelar lapak dagangan mereka di venue acara yang ada di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri. Yu Par malam itu menjual sego rames dengan oseng mie, kikil lombok ijo, tahu santan, pecel, hingga aneka gorengan ayam, telur, tempe. Heru yang sedari dulu menjadi legenda dengan ketopraknya malam itu sibuk mengulek bumbu kacang demi pesanan yang kian menit kian bertambah. Lilik tak mau kalah, sedari sore ia telah menyiapkan buah-buah yang paling segar untuk diblender pada malam harinya. Sementara Cithut dengan dibantu Mas Yat, tak henti-hentinya mengaduk puluhan gelas wedang sachet mulai dari Extrajoss, Good Day, sampai Kapal Api. Saya tidak sempat melihat apa saja yang dijual Mbak Ning sebab hari itu lapaknya kelewat penuh, namun yang jelas pada hari itu Mbak Ning mendapat jatah menjual teh dan wedang jeruk, dua menu minuman biasanya dijual Cithut namun hari itu dikhususkan buat Mbak Ning.
Sementara lapak pedagang sibuk melayani pesanan, para Bonbiners (julukan bagi para pelanggan Bonbin) telah duduk di kursi dan meja yang ada di samping timur lapak. Pada satu meja yang terletak di pojok paling barat, nampak tiga lelaki dan satu perempuan dengan rambutnya yang mulai beruban tengah takzim menekuni hidangan mereka. Yang laki-laki nampak bersemangat menyantap ayam kecap, sementara yang perempuan lebih santai menyendokkan kuah sup ke mulutnya. Saya menaksir mereka berasal dari angkatan 80-an, generasi awal yang “tumbuh” di Bonbin. Pada meja di samping kanannya, asap rokok mengepul. Enam gelas kopi hitam berjajar di meja tersebut. Di sekeliling meja, nampak enam laki-laki yang semuanya berkaos dan bercelana jeans bercakap dengan volume keras dan sesekali terbahak riang gembara. Sementara itu, pada dua meja samping kanannya lagi, nampak beberapa anak muda tengah bercakap dengan seorang lelaki beruban dengan rokok di tangan kanannya. Saya mengenal sosok lelaki beruban itu sebagai Faruk HT, Profesor Sastra yang namanya kerapkali disebut dalam skripsi-skripsi mahasiswa se-Indonesia. Sedangkan di sekeliling meja, orang-orang dengan berbagai usia nampak berlalu lalang mencari sahabatnya yang lama tak ia temui. Di antara orang-orang tersebut, saya sempat melihat sosok-sosok penulis kondang macam Lono Simatupang (Antropologi) hingga Kris Budiman (Sastra). Sosok-sosok senior ini tanpa canggung bercakap dengan orang-orang yang nampak jauh lebih muda darinya. Malam itu Bonbin Reborn benar-benar mampu menghidupkan kembali nuansa yang selalu hadir di tengah meja-meja Bonbin: keakraban dan kesederhanaan dalam wujud yang paling egaliter.
Setelah mengamati hiruk pikuk yang ada di area lapak makanan, saya pun mendekat ke venue bagian selatan. Di situlah panggung musik digelar dengan perlengkapan yang layak mendapat dua acungan jempol. Seperangkat sound system dengan kualitas tata suara yang benar jernih dan dua LED live viewing terpasang di kanan kiri panggung, lighting dengan berbagai macam bentuknya menyemburatkan cahaya penuh warna dan warni, dan yang paling menarik adalah  enam buah benda berbentuk kubus sebesar anak gajah yang entah namanya apa digantung dan menjadi semacam seni instalasi aerial setelah masing-masing kubus mendapat sorot bertuliskan B-O-N-B-I-N. Panggung musik malam itu diisi banyak sekali musisi yang menurut Widhi Asmara 90%-nya adalah alumni Bonbin. Kita bisa berjumpa dengan Sastromoeni generasi lawas yang ternyata memainkan lagu bergenre rock and roll, Sastromoeni generasi kini juga tampil dengan lagu-lagu humor medley-nya yang membuat tawa penonton menyeruak, sementara itu suasana halusinatif hadir tatkala Risky Summerbee and The Honeythief membawakan lagu-lagu folk psikedeliknya dengan struktur lagu yang kompleks namun eksotis – dan kita tak bisa mengalihkan diri dari solo insrumental efek gitar Risky yang unik. Malam itu adalah malamnya Frau saat penyanyi lulusan jurusan Antropologi ini menyanyikan tembang “Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa” suasana menjadi begitu magis namun sekaligus begitu hidup setelah semua penonton ikut melafalkan tembang tersebut dengan lancar. Sebenarnya masih banyak musisi yang tampil pada malam hari itu, namun saya tak sempat menikmati penampilan Gunawan Maryanto, Drs Him, hingga para DJ sebab musti nyambi melapak buku bersama @warungsastra.
Dalam hal melahirkan kembali nostalgia akan nuansa Bonbin, saya kira Bonbin Reborn bukan hanya berhasil, namun sukses berat. Akan tetapi, sejenak kemudian muncul sebuah pertanyaan, apakah “reborn” sekadar dimaknai sebagai kelahiran kembali akan sederet kenangan, yang mana sifatnya lebih sentimentil dibanding esensial?
Oleh karena apa yang terindera dari pagelaran malam itu, bagi saya nampaknya terlalu sederhana jika “reborn” sekadar dimaknai sebagai lahirnya kembali sederet kenangan. Satu hal yang perlu dicatat, keberhasilan Widhi Asmara dkk memadatkan area panggung dengan sorak, riuh, dan gempita sekaligus menghidupkan kembali meja-meja Bonbin dengan asap, kopi, dan dialog,  saya kira membuat acara ini layak dimaknai sebagai kelahiran kembali jiwa-jiwa Bonbin yang “kuat dalam berpesta, semangat dalam berdialektika”.

Isu Bonbin Terkini

Sebelum menutup tulisan ini, sekiranya izinkan saya mengabarkan sedikit hal terkait perkembangan isu relokasi Bonbin yang sebenarnya belum juga purna hingga detik ini. Singkatnya begini:
Kepindahan Bonbin ke area Lembah sebenarnya hanyalah perpindahan sementara, sebab tepat dua Minggu setelah jajaran Rektorat UGM didemo lebih dari tujuh ribu mahasiswa pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun lalu, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. (Rektor UGM), Dr. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M. (Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni), dan jajaran Rektorat lain bersedia memenuhi tuntutan mahasiswa untuk membangun kembali kantin baru bagi 12 pedagang Bonbin yang tepatnya berada di antara fakultas Filsafat dan Ekonomika dan Bisnis. Kantin baru tersebut direncanakan akan selesai dan berada satu komplek dengan Plaza Sosio-Humaniora yang pembangunannya akan disponsori Bank Indonesia dan direncanakan selesai pada akhir tahun 2017. Meski isunya tak lagi sehangat tahun lalu, namun nyatanya masih ada beberapa mahasiswa yang mencoba tetap konsisten mengawal tiap pertemuan antara pedagang dengan rektorat.
Widhi Asmara, dalam percakapannya tempo hari sempat menyatakan harapannya atas Bonbin Reborn dengan lebih serius. Setelah menyesap Gudang Garam di tangan kirinya, ia menyatakan harapan pribadinya pada Bonbin Reborn sebagai hari lahirnya kembali komunitas Bonbiners sebagai komunitas yang solid, komunitas yang datang tak sekadar untuk berpesta, namun mampu melampaui pemaknaan “bersenang-senang” sebagai praktik membantu sesama.
Berangkat dari antusiasme yang terbangun selama Bonbin Reborn, dan harapan Widhi Asmara akan terwujudnya “praktik membantu sesama”, saya kira sudah sepatutnya para Bonbiners mengawal kembali isu tersebut sampai tuntas. Dan barangkali jika sampai tahun depan “tanah yang dijanjikan” tak jua ada buktinya, para Bonbiners musti kembali melepas rindu dan mengikat semangat di depan Gedung Rektorat.

NB: Artikel ini pertama kali dimuat di www.kibul.in


1
Sore hujan bulan Desember, kala rental kamera tempat Aprentis B bekerja tak jua didatangi pelanggan, akun Instagram @lambe_turah tengah memberitakan hasil Tes DNA Ario Kiswinar sebagai anak kandung Mario Teguh. Aprentis B yang tengah dilanda kebosanan hidup – sebab skripsinya tak jua menemukan jalan terang— masyuk membaca paragraf pertama yang berisi luapan kepuasan admin pada hasil tes tersebut. Aprentis B tentu saja ikut puas bukan kepalang. Ia bahkan ingin terbahak selebar-lebarnya, tepat di depan batang hidung sang motivator, yang di bawah batang hidung itu terdapat satu objek yang tengah jadi bulan-bulanan para netizen di kolom komentar: cocot.
Kolom komentar akun tersebut sesungguhnya adalah kolom yang menyenangkan, karena pertama, 95% komentator di sini adalah para komentator terhormat yang datang sekadar ingin mengumpat. Mereka bahkan tak punya tendensi untuk dipuja-puji dengan memberikan argumen-argumen sok ilmiah yang dangkal. Kedua, pada kolom komentar tersebut, hampir tak akan ditemukan promosi jual sandal jepit atau tupper ware sebagaimana selalu kita temukan di akun @raisa6690.
Namun, ada yang benar-benar  memincut pada sore hari itu. Aprentis B tiba-tiba melihat satu komentar yang tak membahas “cocot” sama sekali. Alih-alih menulis satu  diksi saja secara benar dan lengkap, akun bernama sebut saja @risa_yahud, itu justru menulis komentar yang penuh istilah dari berbagai singkatan. Lihatlah apa yang ditulisnya:
“CS, PCS, VS, BO, dm ! Real acc !”.
Didasari oleh kejemuan hidup yang hakiki, Aprentis B mulai iseng membuka akun tersebut.
Sial !
Akun @risa_yahud terkunci !
Padahal Aprentis B penasaran bukan main mencari tahu seluk-beluk yang berhubungan dengan akun tersebut. Apakah akun tersebut asli? Apakah fotonya bukan comotan dari mesin pencari? Bagaimana modus operandinya?
Untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, akun @aprentis_B musti mengikuti dulu akun @risa_yahud. Ia musti melihat foto-perfoto Risa gadis bergingsul itu –gingsulnya terlihat pada foto profil instagram yang terpampang kecil —sekecil butir kacang— di sisi kiri atas layar gawainya. Rambut Risa berombak panjang sebahu, kulit rupanya sawo matang dengan tulang pipi bulat dan mata lebar, dan kita tak bisa lepas memandang hidungnya yang lurus panjang seperti hidung Kate Middleton. Aduhai sekali.
Namun, satu yang membuat kita barangkali masygul, @risa_yahud sekiranya baru berusia 14 atau 15, sama dengan adik perempuanmu yang baru lulus dari Madrasah.
Aprentis B cukup yakin bahwa akun tersebut adalah akun asli cukup dengan melihat foto profil @risa_yahud yang #nofilter.
Ia kini dihantui rasa penasaran yang makin membesar, benarkah  @risa_yahud menawarkan jasa sebagaimana yang ia tuliskan pada komentarnya?
Kau tau kan maksudnya?
Baiklah, kalau kau tak tahu, akan aku jelaskan makna komentarnya dalam satu kalimat yang akan menambah jumlah kosa katamu yang rudin itu.
CS: Chatting Sex, PCS: Phone Chatting Sex, VS:Video Sex, BO: Booking Order, DM: Direct Message, Real Acc: Real Account.
Sudah paham?
Jadi, mari kita bertanya lagi, apakah akun semacam @risa_yahud yang kerap muncul di kolom komentar akun-akun selebriti adalah akun asli? Atau ternyata sekadar akun palsu yang dibuat mahasiswa-mahasiswa fakir demi mendapat tambahan uang untuk membeli vapor?
Aprentis B penasaran bukan kepalang. Namun, penasarannya terhalang oleh rasa khawatir jika aktivitas terbarunya terlihat pacarnya pada fitur aktivitas teman. Ia juga semestinya khawatir  jika identitasnya ditaarufi @risa_yahud dan dikiranya ia lelaki tak bermartabat –padahal memang demikian adanya– namun entah mengapa ia tak begitu merisaukannya.
Kegamangan Aprentis B berlangsung selama beberapa hari saat kemudian ia mendapat  ilham, ide paling cemerlang yang pernah ia dapat sepanjang hidupnya.
Ia membuat sebuah akun instagram dengan nama: @dangdutuutselly.

2
Biduan itu memakai rok mini berbahan lateks warna kuning terang dengan motif dua garis hitam horisontal pada bagian perutnya. Ia juga mengenakan topi warna hitam-kuning dengan tulisan “OA OE” pada lidah topinya. Topi menjadi ciri khas pada setiap penampilannya. Topi itu selalu ia pakai dengan lidah topi menghadap ke depan, mungkin dengan harapan mampu menutupi jidat nonong-nya yang cemerlang. Ia keliru. Padahal, nonong adalah sumber pesonanya. Seandainya ia memakai susuk, susuk itu pun pasti ngendhon di antara dua pelipisnya.
Biduan dengan rambut panjang pirang disemir itu kemudian maju ke depan panggung. Sembari menunggu intro melodi Suket Teki kelar dan gendhang dangdut mulai ditabuhkan, biduan itu mulai menyapa penonton. Baru dua penggal lirik dinyanyikan, ia telah menyuguhkan bokong gemasnya yang digoyang naik-turun. Ia terus bergoyang sampai dipenggal lirik ke-5 sang biduan telah menghadapkan tubuhnya ke penonton dan makin cepat memutarkan pinggulnya sampai semua bulu kuduk penonton mengajak bulu-bulu lain ikut berdiri.
Admin B tanpa sadar terpana sendiri oleh video 60 detik yang baru diunggahnya. Video dengan judul asli “Uut Selly Goyang Hot Suket Teki XT Square” itu adalah video perdana yang ia unggah di akun instagramnya. Akun inilah yang nanti akan ia gunakan untuk berkirim pesan dengan @risa_yahud.
Admin B kemudian memberi sedikit caption untuk membuat video unggahan pertamanya menarik pemirsa. Cukup singkat saja:
“Uut Selly, biduan idola bangsa. Suara Aduhai, Goyangan Semlohai”. Ia selanjutnya menaburi dengan hestek yang panjangnya empat kali lebih panjang dibanding caption yang baru ia buat.
#uutselly #dangdutkoplo #dangdutkoplohot #dangduthot #xenaxenia #viavallen #liacapucino #dangdutvideohot #dangdutsawer #dangdutxtsquare #oaoe #dangdutoaoe #dewiperssik #ayutingting #citacitata #duosrigala
Pada hari pertamanya, Admin B mengunggah enam video dangdut yang empat di antaranya adalah video dangdut Uut Selly sedang sisanya adalah video biduan lain yang sekiranya memiliki basis di Indonesia. Tentu saja dari keenam video itu, ia memberi satu tempat kehormatan bagi Via Vallen, satu-satunya biduan yang menurutnya mampu merenggut hati para pecinta dangdut dari dua kutub berbeda: dangdut garis lembut dan dangdut garis mengeras. Lalu khusus pada video Via Vallen, ia memberi juga hestek yang tidak sekedar salin tempel dari hestek yang sudah ada sebelumnya. Via Vallen bagaimanapun adalah keistimewaan sehingga layak diberi karpet merah di manapun ia berada.
#viavallen #vianisti #vialovers #viasayang #dangdutisthemusicofmycountry
Pada hari pertama Admin B mengunggah enam videonya, akun @dangdutuutselly telah meraih lebih dari 50 pengikut pertamanya – yang semuanya laki-laki. Ia yakin para pengikut pertama ini adalah kelompok pesakitan pemburu hestek esek-esek.
Ia kini kian optimis meraih seribu followers yang nanti membuat akun @dangdutuutselly jadi nampak layak meminta pertemanan pada @risa_yahud.
Admin B pun mulai rutin mengunggah video-video lain untuk meraih lebih banyak pengikut. Galerinya kini telah berisi puluhan nama biduan yang paling kondang di jagad dunia maya: Uut Selly, Via Vallen, Mela Barbie, Dessy Olivia, Aura Paramitha, Lina Geboy, Lia Capucino, Xena Xenita. Sesekali, ia juga mengunggah video-video para biduan label mayor mulai dari Dewi Perssik sampai Cita Citata.
Terhitung dalam waktu kurang dari dua minggu, akun @dangdutuutselly telah mendapat pengikut sebanyak 752. Namun tak sabar menunggu angka 1.000, Admin B segera mencari jawab rasa penasarannya dengan mulai mengikuti akun @risa_yahud.
Permintaan pertemanan diterima.
Tepat. Kini ia yakin seratus persen bahwa akun @risa_yahud adalah asli. Pada satu fotonya, kita bisa melihat si bocah dengan lingerie merah berfoto menjulurkan lidahnya. Pada fotonya yang lain, si bocah mengunggah testimoni-testimoni dari pelanggan pemakai jasanya. Sedang pada fotonya yang lain lagi, si bocah sedang memejam mata dengan dagu mendongak sambil  mengemut jari tengahnya sendiri, foto ini berada pada sebuah kolom chatting yang di-screenshoot dengan sebuah teks pesan di bawahnya bertuliskan “terus say…”.

3

“Halo.. Risa…”
“Halo juga kak”,
“Mau tanya nih”,
“Silahkan kak”,
“Mau booking gimana?”,
“CS PS pulsa 50.000, VCS pulsa 100.000”,
“Kalau BO?”
“400.000”
“Perjam?”
“Permalam kak”.
“Caranya?”
“Kirim DP, janjian, ketemuan, game”,
Aprentis B lalu menutup chat itu, menghapus semua video di akun instagram @dangdutuutselly.
2 bulan kemudian ia mengubah akun tersebut menjadi @kibul.in.

NB: Tulisan ini pertama kali dimuat di www.kibul.in
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018