bagus panuntun

berubah!


“Kau akan dijemput pukul lima kurang sepuluh menit, dan tepat pukul lima proses kematianmu segera berlangsung. Katakan apa permintaan terakhirmu,” kata Sang Shodanco akhirnya.
“Inilah permintaan terakhirku: kaum buruh dunia, bersatulah !”, jawab Kamerad Kliwon. (Cantik itu Luka, halaman 319)

Dalam novel Cantik itu Luka (2004) karya Eka Kurniawan, terdapat satu tokoh yang cukup menyita perhatian. Ia adalah Kamerad Kliwon, pimpinan Partai Komunis cabang Halimunda yang suatu hari memimpin pemberontakan nelayan-nelayan kere di daerah tersebut terhadap Shodanco, pimpinan militer yang dengan kapal-kapal tankernya memonopoli area penangkapan ikan di pesisir Halimunda. Kamerad Kliwon adalah pemimpin yang begitu disegani. Selain itu ia juga dikenal sabar dan penuh strategi. Di tengah kemurkaan para nelayan yang  ingin segera membakar kapal-kapal tanker Shodanco, Kamerad Kliwon justru meminta kesempatan kepada para nelayan untuk mencari jalan tengah dan bermufakat dengan Shodanco. Ia bahkan melakukannya hingga dua kali. Barulah setelah mufakat tak kunjung tercapai, Kamerad Kliwon menyuruh para nelayan menunggu waktu yang tepat untuk membakar kapal  tanker tersebut. Dan mereka musti menunggu waktu hingga 6 bulan sampai para kroni Shodanco lengah dan mereka bisa leluasa menyulap kapal-kapal Shodanco menjadi butiran abu. Kamerad Kliwon bagaimanapun adalah pemimpin yang layak dikenang. Ia adalah pejuang yang gigih, pembaca buku yang rakus, orator yang ulung, dan – yang paling penting— keberpihakannya tidak tumpul ke atas dan lancip ke bawah.

Sampai tibalah hari di mana kita bisa menemui percakapan yang menjadi pembuka tulisan ini. Percakapan tersebut terjadi di markas militer Halimunda, kira-kira sebulan setelah peristiwa G30S terjadi dan satu per satu simpatisan PKI didudut nyawanya oleh bala tentara Indonesia. Namun tak seperti kebanyakan orang yang gemetar menghadap kematian, Kamerad Kliwon dengan senyum yang menyimpul justru menyambut kematiannya dengan begitu bangga dan penuh wibawa, seolah tak sedetik pun dalam hidupnya perlu disesalkan. Sebagaimana seorang syuhada yang mengucap takbir sebelum ajal, Kamerad Kliwon memilih mengucap sebaris kalimat yang terpahat di nisan Karl Marx, tokoh yang paling dikaguminya: “Kaum buruh dunia, bersatulah !”. Dan adakah kematian yang lebih agung daripada mempertahankan dengan teguh apa yang diyakininya sebagai kebenaran?

Andaikata Kamerad Kliwon benar-benar tewas hari itu, barangkali Kamerad Kliwon akan selamanya  dikenang sebagai sosok yang gagah berani. Namun takdir berkata lain. Kamerad Kliwon urung dibunuh berkat bantuan adik iparnya yang merupakan istri sang Shodanco. Sialnya, ia musti menjalani sisa hidupnya sebagai pemuda yang amat menyedihkan. Di tengah pengawasan yang ketat dari militer, ia memilih menjadi penjual kolor dan bertransformasi menjadi borjuis kecil di wilayah tersebut. Suatu hari, kios-kios yang menjajakan kolornya digusur pemerintah demi program pembangunan. Kejadian tersebut membangunkan jiwa kirinya dan ia berencana kembali melakukan pemberontakan. Malangnya, ia justru kembali digebuk dan ditangkap sebagai sisa-sisa hantu komunis. Ia pun musti diasingkan ke Pulau Buru. Beberapa tahun setelah penyiksaan yang panjang, ia dikembalikan ke Halimunda sebagai lelaki yang hidup segan mati tak mau. Hanya dalam hitungan hari, ia memilih meregang nyawanya dengan gantung diri setelah sehari sebelumnya tertangkap sang istri habis berselingkuh  dengan adik iparnya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerapkali menemui sosok-sosok seperti Kamerad Kliwon. Sosok yang dalam satu fragmen hidupnya layak diceritakan sebagai teladan sampai tujuh turunan namun di kemudian hari menjadi sesuatu yang lebih layak dilempar ke keranjang sampah. Pada titik inilah kita seringkali menghakimi mereka dengan salah satu fragmen terekstrim saja.

Perenungan ini muncul ketika pada suatu hari seorang kawan saya menjadi penghujat Iwan Fals sementara sebelumnya ia adalah Oi garis depan. Ingin tahu kenapa? Apalagi kalau bukan karena kekecewaannya melihat kenyataan bahwa idolanya yang dulu kini hanya bisa berujar “Mantap !” terhadap kopi sachet murahan yang bikin diabetes itu, sementara pada tahun 1984 – di tengah kuatnya kekuasaan orde baru— ia berani menghujat negeri ini dengan metafor “Bisul tumbuh subur diujung hidung yang memang tak mancung”.

Pada cerita yang lain, seorang kawan saya memilih membenci Budiman Sudjatmiko setelah sebelumnya mengaku sebagai pengagum mantan ketua PRD (Partai Rakyat Demokratik) tersebut. Baginya, Budiman yang sekarang bukan lagi Budiman yang dulu dijuluki si Pembangkang oleh Orde Baru. Ia bukan lagi Budiman yang begitu tahan banting menyerukan keadilan dan kebebasan meskipun saban detik polonya diincar senapan. Budiman yang kini baginya tak lebih daripada selebritas politik atau tentu saja kacung si Mamak Banteng.

Kecewa barangkali merupakan hal lumrah, namun ada satu kesamaan yang patut disayangkan dari kawan-kawan saya tersebut: bahwa mereka menjadi begitu pesimis melihat orang yang ingin berlaku berani dan kritis. Setidaknya kita akan mendengar satu hal dari mereka, “Percuma sok kritis bung, paling ujung-ujungnya kayak Iwan Fals atau Budiman Sudjatmiko”— Dan jika ia mengenal Kamerad Kliwon, saya kira ia akan menambahi “atau Kamerad Kliwon”. Dan begitu kalimat tersebut terucap, mereka telah memblokir pikirannya dari segala hal tentang ketiga tokoh tersebut: termasuk fragmen-fragmen yang layak diteladani darinya.

Kisah hidup seseorang bagaimanapun merupakan sebuah spektrum yang jamak dan rumit. Maka menghakimi seseorang dari satu fragmen hidupnya saja—entah yang terbaik atau terburuk—adalah sebuah tindakan yang konyol. Toh mengidolai secara berlebihan bisa berujung pada pengkultusan, sementara membenci secara berlebihan bisa berujung pada kebebalan. Dan di dua kutub tersebut, kita lebih menyedihkan daripada Kamerad Kliwon.

tulisan ini pertama dimuat di www.kibul.in


Lerok
Namanya Lerok, sebuah desa di ujung utara Provinsi Jawa Timur, yang pada awal era 1980-an menjadi desa penghasil gamping dan bengkuang dengan kualitas jempolan bin jempolan. Rakyat desa itu hidup sak madya alias sederhana. Mereka bangun sebelum subuh, menjalankan ibadah berjamaah di satu-satunya mushola yang ada di desa, bersiap-siap menuju ladang, lalu seharian akan sibuk membuat gamping dalam jubungan dan merawat bijih-bijih bengkuang, lalu pulang sebelum petang.

Rakyat Lerok tak pernah mengimpikan hidup yang berlebih-lebih. Mereka merasa cukup dengan uang hasil panen yang tak  kurang untuk beli beras. Juga membayar upah guru dan kyai yang mendidik anak-anaknya. Barang paling mewah yang dimiliki mereka adalah radio yang rutin menyiarkan kisah-kisah Tutur Tinular. Sisanya, dengan 3 televisi yang ada di desa berpenduduk 300 orang itu, rakyat Lerok sudah merasa lebih dari cukup untuk menganggap hidup ini berlimpah anugrah.

Tapi sesuatu terjadi di sebuah hari pada akhir 1980-an.

Ekspansi kapital ke pasar-pasar buah di wilayah Pantura membuat bengkuang Lerok yang manis dan besar-besar tak lagi laku. Pasar tiba-tiba menawarkan bengkuang-bengkuang yang meskipun kecil dan tidak terlalu manis, namun harganya jauh lebih murah. Maka jatuhlah harga bengkuang Lerok.

Nasib gamping pun setali tiga uang. Ia dilindas oleh hadirnya semen putih yang harganya jauh lebih enteng di kocek.

Ketika ratusan rakyat Lerok mendadak kere, hadirlah satu hal yang tiba-tiba menjadi oase. Adalah Malaysia, sebuah negeri nun jauh di seberang, yang konon akan memberikan pengharapan lebih bagi siapapun yang kesana. Maka di tengah kepasrahan yang mendekati menyerah, beradu cepatlah orang Lerok membobol celengan dan mendedah dompetnya untuk mendaftar jadi buruh disana.

Tak butuh 3 tahun sampai akhirnya para perantau yang jumlahnya puluhan itu kembali ke Lerok dengan membawa pundi-pundi uang yang tak sekadar cukup untuk membayar hutang. Mereka bahkan mampu memboyong sepeda, televisi warna, hingga motor GL Pro dalam pondoknya.

Turut bersuka cita lah Lerok. Kecuali Ulid, bocah kelas 5 SD yang menjadi tokoh utama sekaligus judul dari novel karangan Mahfud Ikhwan ini. Malaysia bagi Ulid adalah tentang perginya kawan-kawan, tetangga-tetangga, juga saudara-saudara terdekatnya. Dan seiring dengan kepergian itu, maka pergi pulalah identitas Lerok yang dulu dikenalnya: gamping, bengkuang, juga ladang-ladang bermainnya.

Toh dengan kesedihan Ulid, Lerok justru makin maju dengan listrik yang mengalir di tiap rumahnya. Pada tahun 1998 ketika Indonesia mengalami krisis moneter dan harga rupiah anjlok, Lerok justru berposta pora dengan ringgit yang nilai tukarnya jadi berkali lipat. Singkat kata, Lerok jadi kaya raya.

Seking
Kita musti mundur ke tahun 1963 dan menyeberang melalui selat Melaka. Kita sedang menuju tempat yang jaraknya hanya sekepalan tangan dari negeri yang menjadi pengharapan tetangga-tetangga Ulid. Kini kita berada di Pulau Seking. Di sebuah desa para nelayan. Rumah-rumah panggung berdinding daun rumbia, beratap seng, berlantai papan kayu bakau, dan memiliki tiang-tiang penopang yang menancap ke dasar laut nampak berjajar dimana-mana. Di bawah rumah panggung tersebut, di antara tiang-tiang penopang, mengapung perahu-perahu yang biasa dipakai penduduk untuk mencari ikan, sumber penghidupan utama mereka.

Puluhan bocah yang telanjang bulat tengah berenang dan menyelam mencari sotong. Namun ketika bocah-bocah tengah tertawa, puluhan Pak Cik-Mak Cik justru nampak bermuram durja. Beberapa bahkan menitik air mata.

Bocah-bocah itu tentu saja tak paham tentang apa yang sedang ditangisi orang tuanya. Para Pak Cik-Mak Cik itu tengah mengumpulkan kenangan-kenangan akan perahu kayu tua, terumbu karang, dan nama-nama ikan, yang dalam waktu dekat akan mereka tinggalkan

Negeri tempat mereka tinggal tengah mempersiapkan persemakmurannya. Oleh karena itu, negerinya melakukan industrialisasi besar-besaran dengan membangun kilang-kilang minyak atau pabrik-pabrik besar di segala arah. Demi ambisi itu, para pemegang kuasa mengiming-imingi para penduduk pulau kecil seperti Seking untuk menyerahkan tanah dengan jaminan kompensasi uang yang nilainya tak kecil.

Para Pak Cik-Mak Cik yang menangis adalah bagian kecil dari warga yang menolak. Sementara itu, dengan iming-iming tempat tinggal dan pekerjaan baru, juga bocah-bocah yang tak musti bangun subuh dan menyeberang laut untuk sekolah, mayoritas warga Seking menyatakan OK untuk pindah dari tanah lahirnya.

Bocah-bocah Seking yang dulu telanjang berenang, hari ini tengah menjalani masa tuanya di salah satu negeri paling kaya dan modern di dunia. Sebuah negeri yang membuat kita kerap mengutuk ibukota sendiri sebab tak bisa mengimbangi walau seujung kukunya: Singapura.

Kendeng
Apa yang pernah terjadi di Lerok dan Seking saya kira hampir sama dengan apa yang tengah terjadi di Kendeng. Sebagaimana yang dialami warga Lerok maupun Seking, warga Kendeng tengah berhadapan dengan modernisasi yang kian ganas menggilas lokalitas. Lerok dipaksa kehilangan gamping dan bengkuangnya, Seking dipaksa menjauh dari air asin dan ikan-ikannya, sementara rakyat Kendeng tengah dipaksa meninggalkan sawah-sawahnya.

Iming-iming modernisasi yang selalu menjanjikan hidup yang lebih baik, kini hampir membenam di tiap kepala masyarakat Kendeng. Hal ini saya ketahui ketika 28 Oktober tahun lalu saya pergi ke Sukolilo, Pati, untuk merayakan Sumpah Pemuda bersama para Kartini Kendeng.

Hari itu lebih dari 50 warga Kendeng menunggang truk menuju Sukolilo untuk merayakan Sumpah Pemuda plus selamatan atas kemenangan tuntutan mereka di Mahkamah Agung (MA) untuk diadakannya peninjauan kembali (PK) atas pembangunan pabrik semen di wilayah Kendeng.

Tuntutan tersebut memang dipenuhi berkat hasil kajian lingkungan oleh Semarang Caver Association (SCA) dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Rembang yang menemukan 49 goa di sekitar wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih dan 4 diantaranya merupakan goa yang memiliki sungai bawah tanah aktif. Selain itu,  kajian tersebut juga menemukan bahwa produksi semen di Indonesia masih mengalami surplus sebanyak 30 juta ton dari kebutuhan domestik.

Akan tetapi, persoalan yang dialami para Kartini Kendeng bukan persoalan lingkungan semata. Ada permasalahan lain yang hampir sama dengan apa yang dialami Ulid juga Pak Cik-Mak Cik yang menangis di tepi pulau Seking: mereka musti berhadapan dengan tetangga-tetangganya yang memilih realistis mengikuti tuntutan zaman dibanding bertahan dengan cara hidup “terasing” à lamereka. Hal tersebut saya ketahui ketika pada hari tersebut, saya berkesempatan untuk bercengkrama dengan para Kartini Kendeng, termasuk Yu Kinah dan Almarhum Yu Patmi.

Kurang lebih begini ceritanya.

Hari itu Sukolilo mendadak diguyur hujan setelah Mas Gun Retno dan Yu Kinah menyampaikan hasil kajian ilmiah dari SCA dan JMPPK kepada seluruh hadirin. Ketika Momo Parabiru dan Marjinal Predator siap menghentak panggung selamatan, butir-butir air kian membesar menjatuhi venue acara yang terletak di tepian hutan. Sementara sebagian besar penonton memilih tetap moshing dan pogo di atas tanah yang becek, saya tetap memilih berteduh mengingat nanti malam saya masih harus menempuh perjalanan pulang 180 km Pati-Jogja. Secara tak terduga, ternyata saya duduk di dekat Yu Kinah. Setelah menghangatkan badan dengan menyesap sebatang rokok pemberian salah satu anak punk, saya sengaja duduk mendekati para Kartini Kendeng, menyalami mereka, dan memperkenalkan diri. Disitulah saya sempat bertanya tentang keadaan sebenarnya yang terjadi di tanah mereka.

“Yu, apakah benar bahwa ibu-ibu ini sudah dua tahun tinggal di bawah tenda perjuangan?

“Nggih, benar. Leres mas.”

“Lha rumah siapa yang mengurus bu?”.

“Ya seminggu kan masih pulang satu-dua kali untuk membersihkan rumah, ambil persediaan makanan, dan lain sebagainya.”

“Oh ya, Yu, kalau warga Kendeng sendiri seratus persen menolak pabrik semen ya yu?”.

“Ya ndak to mas. Banyak warga Kendeng yang pro dengan pabrik semen. Tapi kita kan ndak bisa menyalahkan mereka mas, nah semen juga berani kasih kompensasi. Hasilnya kan sudah kelihatan kalau dikasih langsung. Lah kalau membela ibu bumi?”

Apa yang perlu kita garisbawahi dari percakapan di atas adalah pilihan sikap Yu Kinah untuk tidak menyalahkan tetangga-tetangganya yang berseberangan paham. Sebab bagi Yu Kinah, warga Kendeng yang berbeda haluan darinya adalah bagian dari korban: mereka yang hampir tak punya pilihan di tengah narasi tunggal tentang kekayaan. Narasi tentang kekayaan yang barangkali hadir dalam wujud cerita-cerita tentang Lerok dan Seking. Narasi tentang kekayaan yang diukur dan ditakar dengan uang. Sementara itu, Yu Kinah punya narasi kekayaan versinya sendiri: bahwa pepohonan, tanah, air bening, dan ikatan spiritual manusia dengan buminya yang tak akan habis sampai tujuh turunan adalah harta milik mereka. Dan atas itu lah mereka sudah merasa menjadi orang kaya.

Yang kini jadi masalah justru diri kita sendiri. Kita yang selama ini hidup di tengah peradaban modern dan barangkali tak pernah menyentuh gagang pacul sedikitpun. Apakah kita bisa menerima—atau bahkan membela—narasi tentang kekayaan dari perspektif yang lain? 

Tempo hari, ketika para Kartini Kendeng berhari-hari mengecor kakinya di depan istana, kita berjumpa dengan puluhan barangkali ratusan orang yang menganggap tindakan tersebut sebagai tindakan membabi buta. Barangkali kita salah satunya. Dengan enteng kita berkata bahwa persoalan Kendeng semata persoalan UUD, ujung-ujungnya duit. Anggapan bahwa ada korporat di baliknya, anggapan bahwa mereka adalah tuan-tuan tanah, atau anggapan bahwa mereka adalah orang yang tak mau menyesuaikan zaman, dengan entengnya kita arahkan pada mereka yang tengah mempertahankan keyakinannya:  bahwa—sekali lagi—mereka telah merasa kaya.

Sementara para Kartini Kendeng mau memahami cara berpikir kita, apakah kita juga bisa memahami cara berpikir mereka? Dan jika kita tetap menganggap mereka sebagai pecundang konyol yang menyerah pada zaman, maka sebaiknya kita mengingat satu adagium yang pernah diucap cerpenis Puthut EA: “Banyak masyarakat “modern” menertawakan dan mengejek kepercayaan suku-suku “terasing” yang dianggap menyembah gunung, pohon, atau laut, sambil diam-diam mereka menyembah uang, jabatan, dan kekuasaan”.

pertama kali dimuat di situs www.kibul.in

Pertemuan pertama saya dengan kappa bukanlah kappa yang ada dalam buku ini. Kappa yang pertama kali saya temui adalah monster hijau berbentuk mirip katak dan kura-kura namun memiliki paruh kuning besar, dengan perawakan gemuk pendek, dan kepala botak yang dikelilingi rambut berbentuk teratai. Ia adalah monster air yang tinggal di danau dekat gua penuh berlian dan akan muncul jika kita memberinya tiga ketimun, untuk kemudian menukarnya dengan Power Berry. Pertemuan pertama saya dengan kappa tersebut ada dalam game Sony Playstation idola segala umat, Harvest Moon: Back to Nature.

Lantas ketika lebih dari sepuluh tahun kemudian saya menemukan sebuah buku tipis bersampul merah muda berjudul “Kappa”, maka ingatan saya segera terpelanting pada game tersebut. Berbalut rindu nostalgis dan rasa penasaran, saya pun segera  mengambil buku itu bahkan sebelum mengenal sang penulis, Ryunosuke Akutagawa, sastrawan yang ternyata dijuluki maestro cerpen Jepang dan namanya diabadikan sebagai nama sebuah penghargaan sastra bergengsi.

Kappa adalah nama salah satu makhluk mitologi Jepang. J.K. Rowling dalam bukunya “Fantastic Beast and Where to Find Them” mendiskripsikan Kappa dengan tidak begitu jauh dari apa yang saya lihat di Harvest Moon:
“Monster air dari Jepang yang tinggal di kolam atau sungai dangkal. Seringkali nampak seperti monyet bersisik ikan dan bukan berbulu. Kappa mempunyai lubang di atas kepalanya untuk membawa air. Kappa minum darah manusia tapi bisa dibujuk untuk tidak melukai seseorang bila dilempari ketimun dengan nama orang itu di kulit buahnya. Saat berhadapan dengan Kappa, penyihir harus melancarakan tipu muslihat agar Kappa membungkukkan badan— dengan begitu air yang ada di kepalanya akan tumpah dan kekuatannya akan hilang”.
Mengingat betapa uniknya penggambaran Kappa baik dalam Harvest Moon maupun Fantastic Beast, saya pun berekspektasi bahwa kappa dalam novelet ini akan dihadirkan dengan paling tidak sama uniknya. Selain itu, mengingat kappa yang pertama saya temui adalah kappa yang lucu, maka saya juga berharap bahwa kappa dalam karya Akutagawa akan ditampilkan sebagai kappa yang menyenangkan alih-alih sebagai peminum darah manusia.

Maka, benar pula apa yang saya harapkan. Meski dibuka dengan kisah yang gelap, Kappa selanjutnya menyajikan sekuen demi sekuen yang membuat saya terpingkal-pingkal melihat tingkah makhluk satu ini.

Novel ini dibuka dengan pengantar dari narator tentang kisah penghuni rumah sakit jiwa nomor 23 yang tak henti menceritakan kisahnya tinggal di dunia kappa. Meskipun banyak orang menganggap kisahnya sekadar bualan, namun narator yang adalah dokter perawatnya, mau tidak mau menjadi percaya sebab konsistensi dalam ceritanya. Maka, berlanjutlah novelet ini dengan kisah dari pasien nomor 23 yang terjungkal ke dalam sumur, lalu sampai dan hidup di dunia kappa.

Kisah seorang manusia yang terjun di dunia fantasi dan hidup bersama monster, peri, atau makhluk eksentrik lainnya sebenarnya bukanlah cerita baru. Jauh sebelum Kappa, kita telah mengenal Gulliver’s Travel, Alice in Wonderland, Avatar karya James Cameron, atau –yang paling akrab dengan saya— Digimon. Akan tetapi, kisah-kisah tersebut kebanyakan menampilkan heroisme manusia yang tiba-tiba menjadi imam mahdi di universe barunya. Kappa, alih-alih menampilkan hal tersebut, justru sepanjang novelnya hanya menampilkan rutinitas sehari-hari tokoh bersama para kappa, mulai dari bertamu ke rumah kappa, menonton konser, membaca buku, hingga minum-minum bir di kafe. Namun justru disinilah letak mengasyikkannya Kappa. Kappa melalui sekuen-sekuen kecilnya seolah mengajak kita ikut merasakan keterkejutan demi keterkejutan yang dialami tokoh ketika melihat polah tingkah para kappa. Kappa benar-benar mengejutkan –juga menggelikan. Bayangkan, kappa adalah makhluk yang sedari belum keluar dari lubang peranakan, ia telah dapat berbicara dengan lancar. Kappa bahkan dapat memilih sendiri apakah ia mau dilahirkan atau minta digugurkan:
“Ketika sang jabang bayi hampir keluar, sang ayah mendekatkan mulutnya ke depan rahim istrinya, lalu bertanya dengan suara nyaring mirip orang menelepon, “Apakah kau mau dilahirkan ke dunia ini?”. Bayi yang masih di dalam rahim istrinya nampak agak sungkan lalu menjawab dengan suara perlahan, “Aku tak mau dilahirkan. Pertama, karena akan sangat mengerikan  mewarisi keturunan sakit jiwa darimu. Dan kedua karena aku yakin kehidupan kappa tidak baik”.

Membaca narasi di atas dan membayangkan sebiji orok yang mengumpat saja sudah membuat saya tergelak, toh nyatanya Akutagawa belum sampai pada punchline-nya:
“Ada kappa yang masih bocah tapi sudah lancar memberi ceramah tentang ada tidaknya Tuhan, padahal usianya baru 26 hari. Kappa itu kemudian meninggal pada usia dua bulan”

Sekuen lain dalam Kappa yang cukup mengocok perut adalah sekuen yang memuat berbagai quote dalam buku paling masyhur di dunia kappa. Buku tersebut ditulis oleh seorang filsuf kappa terkenal bernama Mag dan diberi judul “Kata-kata si Bodoh”.
“Mengurangi hasrat duniawi tidak selalu membuat hati tentram. Agar dapat merasa tentram, hasrat batiniah juga harus dikurangi” – Mag dalam Kata-kata si Bodoh

Karya sastra yang paling menyenangkan, bagi saya pribadi, adalah karya yang mampu membuat kita terbahak-bahak untuk kemudian membuat kita tak bisa tidur mempertanyakan “Apa sih maksud semua ini?”. Dan Kappa adalah salah satunya. Ia pertama-tama –dengan kurang ajar— membuat saya tidak sadar bahwa saya sedang menertawakan perihal aborsi, ceramah ketuhanan, juga omongan seorang filsuf. Dalam sekuen lain, saya bahkan sempat tertawa –sebelum akhirnya istighfar—melihat tokoh utama yang mual-mual saat mengetahui bahwa menu makan malamnya adalah daging para buruh Kappa yang rela dibunuh daripada hidup sebagai pengangguran.

Sekuen-sekuen tersebut bisa kita tebak sebagai sarkasme yang dilancarkan Akutagawa terhadap berbagai hal —sebagian besar hal tersebut masih kontekstual hingga saat ini. Sekuen tentang anak yang memilih digugurkan misalnya, bisa jadi menyinggung sistem sosial kita yang menganggap keluarga tanpa anak adalah hina.  Sementara itu, kita tak pernah peduli banyak anak terlantar sebab orang tua yang tak mampu beli puyer untuk kepalanya sendiri. Sekuen tentang ceramah ketuhanan yang disampaikan bocah usia 26 hari, misalnya, saya kira adalah sarkasme pada kita yang seringkali berbusa-busa khotbah soal Tuhan sementara membaca satu biografi Nabi saja belum pernah –atau nihil mengkhatamkan kitab terjemahan. Sementara itu, Kata-kata si Bodoh yang dijadikan judul buku filsuf tersohor saya kira juga menyinggung kita yang kerapkali mendabik dada sembari menyebut satu dua terma ndakik supaya nampak paling pintar –padahal kita tak lebih cerdas dari papan triplek.

Akutagawa adalah cerpenis ulung asal Jepang yang hidup di era Taisho (1912-1926). Pada era tersebut, Jepang sedang mengalami “panen besar” berkat kebijakan pendidikan pasca restorasi Meiji di mana Jepang bergelora betul mengirim anak mudanya kuliah di Barat. Hasil panen tersebut tak lain adalah ribuan kepala yang isinya melimpah rumus dan rancangan mesin-mesin industri. Jepang pun mengalami puncak industrialisasinya: produksi tembaga, batu bara, dan nikel meningkat berpuluh-puluh ribu ton, pembangunan pabrik menjamur dimana-mana, penemuan mesin-mesin industri tak habis-habisnya. Kamekichi Takahashi dalam artikelnya The Rise of Capitalisme in Japan bahkan menulis “Sementara di Eropa peradaban kapitalistik butuh dua atau tiga ratus tahun untuk berkembang, Jepang hanya butuh separo abad saja”.  Akan tetapi, segala sesuatu tentu ada harganya, jer basuki mawa bea, ujar orang Jawa. Maka Jepang –atau rakyat Jepang?– pun musti membayar hasil perkembangan industrialisasinya  dengan PHK besar-besaran bagi para buruh yang tenaganya digantikan oleh mesin-mesin industri. Jepang pun jadi ladang pengangguran.

Dalam Kappa, perihal di atas disinggung berkali-kali oleh Akutagawa. Sekuen di mana tokoh utama mual-mual saat mengetahui makanannya adalah daging para buruh Kappa sepertinya menyinggung keadaan sosial era tersebut. Sekuen itu terjadi ketika si Tokoh bersama dua kawannya diundang oleh Gael, kapitalis terkaya di dunia Kappa, untuk makan malam di rumahnya. Tokoh yang telah habis melahap hidangan malam itu kemudian muntah-muntah saat Gael mengatakan bahwa ia baru saja menyantap daging para buruh. Keterkejutan tokoh akan kanibalisme tersebut kemudian dijawab Gael dengan santai dan tenang “Kau tanya bagaimana aku bisa makan daging sesamaku? Bukankah di negerimu juga banyak yang memakai anak gadis proletar sebagai pelacur? Kalau kau muak makan daging para buruh, itu hanya sentimentalitasmu saja”.

Awalnya, saya berpikir bahwa Kappa adalah inversi dari dunia manusia. Aborsi yang dalam dunia manusia dianggap biadab, dalam dunia Kappa justru dianggap wajar. Ceramah ketuhanan yang alih-alih disampaikan seorang tua dan saleh, dalam Kappa justru diucapkan bayi usia sebulan – dan ia kemudian mati. Filsuf yang kerapkali dianggap manusia tercerdas, justru dilabeli Si Bodoh. Pun dengan seorang kapitalis yang alih-alih bersolek sebagai juru selamat “penyedia lapangan kerja”, justru secara terang-terangan mengaku tak ambil pusing melihat buruh-buruh dihanguskan. Akan tetapi, kata inversi nampaknya kurang pas untuk disematkan pada Kappa. Sebab sekuen-sekuen dalam Kappa nampaknya bukan sebuah inversi, namun lebih sebagai pelebih-lebihan (exaggeration) terhadap apa yang memang sudah ada di dunia nyata. Bukankah si pandir yang berkhotbah, amatir yang berfalsafah, atau kapitalis yang minum darah sebenarnya sudah lumrah? Lantas apa bedanya mereka-yang-ada-di-dunia dengan mereka-yang-ada-di-Kappa? Mungkin jawabannya adalah bahwa para Kappa mengamalkan betul apa yang dikatakan filsuf Mag,“Akuilah dosamu sendiri, maka semuanya akan lenyap”. Atau jika disederhanakan dalam kata-kata Awkarin “Fvck Pencitraan !”.

Tulisan ini pertama dimuat di www.kibul.in

Ah matahari !
Cahaya matahari silau betul saat aku keluar dari lab. Hari yang cerah pada musim panas di New York dengan pohon-pohon, dedaunan hijau, cuaca lembab, juga asap yang membumbung tinggi dari gedung-gedung pencakar langit dan membuat langit nampak abu-abu. Aku sebenarnya punya hasrat konyol untuk berjingkrak-jingkrak sampai Stasiun Central Park, tapi aku tak punya banyak waktu. Kerja, kereta. Persimpangan jalan. Lampu masih hijau dan aku belum bisa menyeberang. Baris demi baris mobil perlahan-lahan melewatiku. Darah kehidupan mengalir sepanjang jalan. Sinar matahari memantul di kaca depan sebuah mobil dan membuatku silau. Ah, kalau saja aku punya kacamata hitam seperti para penjaga bioskop. O.K kids, hands up! Para polisi nampak begitu menggelikan dengan tongkat lalinnya. Seorang pria kekar dari Irlandia terus mengunyah permen karet. Lampu merah. Dan aku mulai menyeberang. Loket stasiun. Antrian mengular seperti yang biasa terjadi pada jam-jam sibuk. Seorang perempuan tua di depanku mengeluarkan beberapa keping receh dari sakunya dan salah satunya jatuh. Ia nampak sedih melihatnya menggelinding dan lenyap di antara kaki-kaki calon penumpang. Aku tersenyum. Kini giliranku. Petugas loket langsung meminta 2 keping uang 10 sen tanpa senyum sedikitpun. Aku membalas tindakannya dengan lewat begitu saja tanpa berterima kasih. Aku turun tangga dan mengikuti petunjuk arah menuju pusat stasiun. Semakin turun, keadaan jadi semakin gelap. Aku sempat berhenti beberapa kali supaya mataku terbiasa dengan gelap. Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh kereta yang entah sedang menuju kemana. Akhirnya aku tiba juga di peron. Ada tiga bangku dan dua gadis sedang duduk di salah satunya. Dengan sengaja aku duduk di bangku tersebut tepat di sebelah gadis pirang yang paling cantik; dia cuek. Aku pun pindah ke bangku sebelahnya, mengambil jarak dan menatapnya sejenak lalu berusaha melempar senyumku yang paling manis. Sia-sia! Demi apapun aku tak suka orang blonde, aku suka orang brunette! Sudahlah.  Stasiun nampak dekil: puntung rokok, kertas-kertas koran, tutup dan botol bir, semua bertebaran. Aku melihat sekeliling dan membaca sebuah peringatan di dinding “Dilarang Meludah”. Mendadak aku langsung ingin meludahinya. Sebuah mesin minuman kaleng memajang tulisan “Mau gaul? Minum coke !” Hmm. Tak terasa stasiun menjadi penuh sesak. Seorang perempuan usia 80 atau 90-an berdiri tepat di depanku. Tubuh bungkuknya yang disangga tongkat nampak lelah dan ringkih. Ia menyeringai padaku dengan gigi yang mulus ompong, betul-betul mengerikan! Aku bangkit dari tempat duduk dan menawarkan tempatku pada seorang gadis pirang nan cantik yang berdiri persis di sebelah nenek tua tadi. Aku sungguh suka perempuan, terutama perempuan blonde. Awalnya ia menolak namun akhirnya mau juga. Oh perempuan, tak pernah “iya” saat pertama. La donna è mobile! (Perempuan sungguh membingungkan!) Aku kembali memandang sekeliling dan memperhatikan dinding-dinding sepanjang stasiun. Dimana-mana ada reklame dan tulisan-tulisan grafiti. Aku rabun jauh sehingga tak bisa membaca tulisan-tulisan itu dengan jelas; aku mendekat dan membaca salah satunya “Mending jadi komunis daripada nikah!” Ha ha ha, apaan sih. Aku mulai lelah, bosan, dan jengkel. Aku kembali mendekat ke arah bangku namun secara tak sengaja sepatuku menginjak permen karet dan aku hampir terjatuh. Kugosok-gosokkan sepatuku ke lantai namun permen karet ini tak mau lepas. Menjijikkan. Aku kembali ke dekat bangku. Gadis pirang yang tadi menoleh ke arahku; aku tersenyum padanya. Ia diam saja. Dia sudah lupa aku?!? Sungguh, aku benci perempuan, terutama perempuan blonde! Tepat di saat itu, seseorang bertanya padaku, “Eh bung, kereta ini ke arah mana ya?” “Ke Neraka bos,” jawabku. Ia marah dan mengumpat. Bajingan. Bodo amat, pikirku.
Stasiun benar-benar penuh sekarang. Panas sekali. Ternyata segerah ini musim panas di New York. Aku kembali berjalan dengan kedua tangan kumasukkan ke dalam saku. Sebuah kaleng coke kosong tergeletak di depanku. Aku menyepaknya sekencang-kencangnya. Kaleng itu berkelontang dengan suara yang amat berisik. Saat itulah orang-orang menoleh ke arahku, memperhatikanku: akhirnya aku ada! Orang-orang aneh, entah yang berkacamata, entah yang tidak. Tak ada yang kukenal, dan aku tak peduli juga. Biarkan aku menyukai orang-orang, kebebasan, demokrasi, sosialisme, keadilan, dan sebagainya, dan  sebagainya. Oke, aku akan pergi menuju mesin coke dan aku siap menjadi gaul. Mereka kembali melihatku. Aku benar-benar suka orang New York, mereka memang jempolan, aku bahkan bersedia mampus demi mereka. Aku mengambil sekeping koin 10 sen dan memasukannya ke lubang mesin kemudian memencet tombolnya. Sebuah paper cup terlepas dan mulai terisi dengan coke. Sialan, kereta! Aku langsung tergesa dan meninggalkan coke-ku begitu saja. Orang gaul berikutnya akan dapat minuman gratis! Ada barang gratis di Amerika! Sebentar lagi seseorang akan menganggap dunia ini menakjubkan! Pintu kereta terbuka. Kereta yang lengang mendadak penuh sesak. Kami berdesakan dengan kacau, saling tendang, saling sikat, saling sikut. Voilà, beginilah orang New York dan aku sungguh benci ! Mereka selalu berebut tempat untuk kepentingannya sendiri. Pintu kereta tertutup. Berangkat. Kereta tiba-tiba menghentak dan membuatku terlempar ke belakang dan orang-orang di depanku ikut jatuh menindihku. Sembari berusaha menemukan lagi keseimbangan aku berpapas muka dengan seorang perempuan (lagi-lagi) blonde. Aku mengernyitkan dahi tanpa tersenyum padanya. Aku mendekat, mencuri kesempatan sebisa mungkin untuk menyenggol tetek mudanya yang menyembul. Goncangan kereta lagi-lagi membuatku terlempar mundur dan saat aku kembali ke posisi tadi, tiba-tiba sudah ada seseorang di antara kami. Ah, selalu saja ada seseorang –atau sesuatu— di antara kita dan hal yang paling kita sukai di dunia. “C’est la vie”, “beginilah hidup”, kata orang Prancis. Seseorang menghujamkan sikunya ke kepalaku, sedang yang lain menjotos lambungku. Seorang tentara meremukkan jempol kakiku dengan pantofelnya. Aku menatapnya tajam dengan murka: ia berbisik minta maaf namun dengan setengah hati. Jagoan di depanku mencoba membaca koran. Maha akrobat! Orang-orang mendorong, memepet, menyikutnya, namun ia tak peduli dan tetap membaca. Seorang perempuan paruh baya gendut ngorok di tempat duduknya dengan mulut melompong; tubuhnya berpeluh keringat. Aku benar-benar benci perempuan gendut, terutama yang tidur di métro dengan mulut melompong. Aku merasa gerah juga. Lelaki di depanku berbau busuk dan seluruh dunia mendadak ikut busuk. Aku berbalik, mengamankan hidungku ke arah lain. Kini aku bertatap muka dengan seorang lelaki berwajah mengesankan. Seorang badut. Ia pasti seorang aktor atau pelawak, atau apalah. Keringat mengalir di dahi, pipi, dan mulutnya dan melelehkan make up, mascara, cat merah, cat hijau, dan cat putihnya. Wajahnya yang warna-warni terasa benar-benar aneh. Seperti apa wajah aslinya? Aku hanya melihat bulu matanya; Kedua sayap hidungnya kembang kempis butuh udara. Apa dia akan mati lemas? Ia menatapku, aku bergidik melihat topengnya. Topeng kematian. Ia menginginkanku. Tapi aku masih mau hidup. Keringatku mengalir deras dan semakin deras. Bunyi rel menderit, lampu kereta mati, hidup lagi, mati lagi. Topeng itu kembali menatapku tajam seolah ingin menyeret, menyerapku dalam ketiadaan. Aku mencoba memejamkan mata, tidak, aku tidak bisa  melihat lagi. Kereta ini berputar, aku ketakutan, kereta ini cepat sekali, ini kereta hantu, ia tak berhenti, tak mau berhenti, terus turun dalam lingkaran, berputar, berputar, berputar...
.
.
.
Judul karya asli: Mon Métro Phantôme
Penulis: Emmanuel Boundzeki Dongala
Bahasa sumber: Prancis
Emmanuel Boundzéki Dongala, lahir 14 Juli 1941, adalah seorang Profesor kimia cum sastrawan Kongo. Cerpen Mon Métro Phantôme menggambarkan alienasi yang dialami imigran kulit hitam di Amerika, di tengah arus modernisasi dan stereotype yang melekat padanya. Cerpen yang diceritakan dengan gaya orang mengoceh ini terdapat dalam kumpulan cerpen Jazz et Vin de Palme (1982) yang terbit ketika Kongo masih menganut Marxist-Leninist otoritarian dan sempat dilarang di negaranya karena isinya yang satir dan penuh olok-olok.
Sumber:
Dongala, Emmanuel Boundzeki. 1982. Jazz et Vin de Palme. Paris: Hatier
Thomas, Dominic. 2002. Nation-Building, Propaganda, and Litterature in Francophone Africa. Indiana University Press


Coba luangkan sejenak waktumu, ambil gawaimu, buka instagram-mu, menujulah ke kolom pencarian dan ketikkan tagar #ComeBex. Selanjutnya simak sejenak foto-foto yang muncul dari tagar tersebut. Maka kau akan melihat sosok lelaki berkacamata dengan jidat bersih nan lebar, kulit kuning langsat, bermata sipit, lalu berambut panjang gimbal.
Ia adalah Subex, mahasiswa Sejarah UGM, head crew band parodi Sastro Moeni, juga kawan saya yang sejak minggu lalu dipastikan mengalami gagal ginjal dan musti menjalani terapi cuci darah dua kali seminggu. Duka menyeruak ketika kabar tersebut datang begitu mendadak. Dua minggu sebelumnya, saya masih terbahak ketika kawan-kawan memberinya julukan baru “candi” sebab hobi barunya mendekam diam di kamar selama berbulan-bulan. Seminggu sebelumnya, saya mendengar kabar bahwa Subex sengaja menjadi “candi” untuk merenungkan skripsinya mengenai sejarah perdagangan kopra di kepulauan Talaud.
Tiga hari sebelumnya, saya dibuat kagum sekaligus terkejut mendengar kabar bahwa ia telah mengelarkan bab 2-nya. Siapapun yang mengenal Subex tentu paham bahwa menyelesaikan bab 2 adalah sebuah pencapaian luar biasa untuk seorang yang lebih kerap menggulung kabel dan datang ke gigs indie dibanding membaca buku dan masuk ke ruang kuliah. Akan tetapi tepat pada Kamis minggu lalu, tersebarlah kabar bahwa Subex positif gagal ginjal, dan lebih ironisnya kabar itu jatuh tepat pada tanggal 9 Maret yang merupakan peringatan Hari Ginjal Sedunia.
Kabar sakitnya Subex yang awalnya hanya diketahui beberapa gelintir orang lantas menyebar begitu cepat seiring bertambahnya foto dan hashtag #ComeBex yang merupakan modifikasi dari terma #ComeBack, sebuah ungkapan yang akhir-akhir ini dimaknai para pecinta sepak bola sebagai “bangkit kembali setelah jatuh”.
Berawal dari satu, menjadi sepuluh, menjadi seratus, lalu menjadi seribu, simpati pada Subex pun terus mengalir. Setelah hashtag #ComeBex, berikutnya hadir pula charity “Cuci Darah untuk Subex”, dan selang beberapa hari kemudian aksi solidaritas untuk Subex pun digelar di Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Budaya, dan Fakultas Filsafat UGM dengan campaign #minumairputih. Dan dari campaign #minumairputih inilah sebenarnya kita dapat belajar banyak hal.
Semua orang tentu tahu bahwa air memang sangat penting bagi tubuh. Akan tetapi, nyatanya masih banyak di antara kita, terlebih para mahasiswa dan kelas pekerja, yang kelewat abai pada hal tersebut.
Berapa gelas air yang biasa kita minum dalam sehari?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baiknya jika kita menjawab dahulu pertanyaan ini “Berapa gelas air yang sebaiknya kita minum dalam sehari?”. Sebagian besar orang mungkin akan dengan mantap menjawab “8 gelas air atau 2 liter !”. Padahal, saran umum tersebut adalah bentuk salah kaprah yang brutal. Nyatanya, penelitian terbaru yang dilakukan International Marathon Medical Directors Association (IMMDA) menyarankan agar kita mengkonsumsi air minum hanya pada saat kita merasa haus dan dahaga. Konsumsilah air minum secukupnya, yaitu tidak lebih dari 0.03 liter per kg berat badan. Jadi, misalnya kita memiliki berat badan 100 kg, maka konsumsilah air minum kurang lebih 3 liter per hari. Heinz Valtin, spesialis ginjal dari Dartmouth Medical School, juga mengatakan bahwa saran umum minum 8 gelas air per hari sebenarnya sama sekali tidak benar. Ia lebih jauh lagi mengingatkan bahwa minum air dalam jumlah terlalu banyak justru dapat menyebabkan hiponatremia yaitu kondisi di mana jumlah air dalam tubuh berlebihan sehingga ia akan masuk ke dalam sel-sel tubuh dan menyebabkan pembengkakan otak.
Kembali ke pertanyaan sebelumnya, “Berapa gelas air yang biasa kita minum dalam sehari?”. Kemudian mari kita tambahi dengan pertanyaan, “Sudah tepatkah?”. Jika sejak membaca tulisan ini kita sadar bahwa selama ini kita minum air dengan cara yang kurang tepat, maka mulailah meminum dengan takaran yang tepat. Saya sendiri selama ini meminum lebih dari 10 gelas air per hari. Bagaimana bisa? Ya bisa, wong saya baru mengetahui penelitian dari IMMDA dan Heinz Valtin ketika proses menulis artikel ini. Hehehehe…
Berapa kali kita menunda mengisi galon yang sudah habis?
Seringkali kita begitu berat kaki melangkah ke depo air minum isi ulang yang jaraknya paling hanya beberapa kilometer dari rumah. Malasnya orang mengisi ulang galon saya kira setara dengan malasnya orang ikut jamaah subuh. Padahal berdasarkan pengalaman pribadi, telat mengisi galon akan berdampak pada berkurangnya secara drastis jumlah air yang kita minum. Bukankah kencing kita biasanya kekuningan tepat pada momen ketika kita kehabisan air di galon? Parahnya lagi, kita terus menundanya sampai akhirnya kita merasa bak di gurun sahara: kerongkongan kerontang, kepala nyut-nyutan, penglihatan berkunang-kunang.
Dan pertanyaan terakhir, “Berapa kali kita enggan memesan air putih di rumah makan sebab merasa gengsi atau setidaknya nggakenak hati?”.
Perihal terakhir ini saya kira menjadi perihal yang paling membuat hati masygul. Tentu itu bukan semata kesalahan kita. Akhir-akhir ini saya mengamati semakin banyak kafe, kedai, rumah makan, atau restoran yang sengaja menghapus air putih dari daftar menu minumnya. Saya punya pengalaman yang buruk terkait hal ini. Suatu hari, saya pernah janjian dengan seorang teman di sebuah kafe dekat kampus. Malam itu saya hanya membawa uang dua belas ribu rupiah. Pas, tidak kurang tidak lebih. Sebab teman saya belum datang dan waitress kafe sudah menghampiri, saya pun memilih untuk memesan makanan terlebih dahulu dengan menu makanan yang harganya tak lebih dari dua belas ribu namun tetap dapat membuat perut kenyang. Alhasil, saya pun memesan Indomie goreng telur yang harganya tepat sejumlah uang yang saya bawa dan meminta tambahan air putih supaya makan saya tetap nikmat tanpa keseretan. Namun betapa kaget dan wirangnya saya ketika waitress tersebut tiba-tiba menagih uang sebesar tujuh belas ribu rupiah.
“Lho, kan Indomie telur cuma dua belas ribu mbak?”,
“Iya mas, tambahan air mineral botolnya 5.000 rupiah”,
“Saya nggak mau air botolan mbak. Saya minta air segelas kecil aja.”,
“Maaf mas, nggak ada, adanya air mineral botol”,
“Segelas aja nggak bisa mbak?”,
“Maaf mas, nggak ada..”,
“Beneran mbak?”
“Iya mas, nggak ada”
“Nggak ada mbahmu koprol, la njuk piye le mu ngecor kopi kalau air nggak ada?”, batin saya emosi. Namun apa daya, akhirnya saya mengalah dan jadilah malam itu saya mengubah menu jadi Indomie rebus telur. Kalau keseretan, paling tidak saya bisa minum kuahnya.
Fenomena penghapusan menu air putih sebenarnya pernah menimbulkan kontroversi di Amerika. Kontroversi tersebut dimulai dari sebuah campaign  Coca Cola bertajuk “Cap the Tap” atau “Matikan Keran”, yang merupakan ajakan bagi restoran-restoran di Amerika untuk mematikan keran restoran (di Amerika, air keran bisa langsung diminum) dan memberi pelatihan bagi para pegawai untuk memberikan tawaran alternatif seperti air mineral botol (Ingat, Coca-cola memiliki brand air mineral botol bernama Dasani), teh hijau, diet soda, atau smoothies. Campaign tersebut tentu saja dilakukan dengan demi motif profit semata. Akan tetapi, campaigntersebut segera ditentang banyak pihak.
Sebuah petisi bahkan muncul di forcechange.com untuk mengajak warga Amerika menolak campaign “Cap the Tap”. Alasan penolakan tersebut pun bukan hanya didasari alasan kesehatan saja, namun juga motif ekonomi di mana disebutkan bahwa air kran telah membantu warga Amerika menjaga dompetnya.
Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? Adakah tanda-tanda penolakan terhadap kebijakan semacam itu? Saya kira sulit. Kebijakan semacam itu bahkan kini nampak merambah ke warung-warung pinggiran yang dahulu nampak membumi dan sederhana.  Bukankah kita sering melihat aa’ warung burjo atau bapak warung soto bermuka masam kala kita memesan air putih?.
Ini mungkin agak merepotkan, namun daripada kita sering merasa kehausan atau kekurangan cairan di tengah aktivitas yang padat, alangkah baiknya jika kita mulai rajin membawa air minum dari rumah di manapun kita berada. Setidaknya jika kita sedang bokek dan tidak ingin memesan minuman berbayar, kita bisa mengurangi probabilitas meminum kuah Indomie atau mendapati muka masam bapak penjual soto.
Kembali pada campaign #minumairputih yang dilakukan teman-teman UGM, nampaknya lagi-lagi kita musti banyak belajar dalam memandang kehidupan. Mendengar kabar tentang seorang karib yang musti melewatkan 12 jam per minggu bersama mesin dialiser, selang panjang merah-biru bernama CDL, juga jarum suntik sebesar ekor capung ciwet tentu membuat duka, pilu, pahit, getir, juga prihatin segera mengendap. Namun larut dalam kesedihan saja toh pada akhirnya tak membantu apa-apa. Pramoedya Ananta Toer dalam novel Anak Semua Bangsa pernah menulis “Kehidupan ini seimbang tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” Dan begitulah campaign #minumairputih bisa hadir di tengah kita meski berawal dari sakitnya Subex.
Jika pada akhirnya campaign tersebut dapat menyebar begitu luas dan membuat kita banyak belajar, saya kira semua itu tidak berawal dari rasa peduli kawan-kawan Subex, namun bermuara dari sosok Subex sendiri, sosok yang senantiasa mau berteman dengan siapa saja.

Tulisan ini pertama kali dimuat di www.kibul.in
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018