bagus panuntun

berubah!

kau sore ini biar kutuntun,
dengan jari-jari kecil
kita bergandeng kelingking.

papamu bilang
jaga may ya !
jangan pernah beri dia layangan.

bilah bambu
tak sebatas menggores kulit.
kristal-kristal piring
gelas kaca atau mangkuk cap ayam,
tak boleh dicampur darah.

tapi aku tetap ke gudang,
mencari benang jahitan
setelah tante membuangnya
bersama rok hangus sebelah
dan kaos kaki bolong-bolong

siapa mau dengar orang tua!

may,
nanti malam, jika paman
melemparku dengan sepatu
atau mengirim anjing yang garang
maka rumahmu akan kusiram
dengan seribu kunang-kunang

Apa yang paling kita harapkan dari sebuah pameran buku? Barangkali buku-buku murah adalah jawabannya. Satu minggu lalu, tepatnya di awal bulan Oktober, saya baru saja menyambangi Bazar Buku Murah di Mungkid, Magelang. 2 jam berada di sana menjadi waktu yang kelewat mengasyikkan. Saya berada di tengah ribuan buku yang dijual mulai harga 5.000-an. Beruntungnya, saya bisa mendapat buku The Boy in the Striped Pijamas karya John Boyne terbitan Vintage Classics, Skandal karya Shusaku Endo, dan satu novel berjudul Neraka Kamboja yang ditulis oleh Haing Ngor dan Roger Warner untuk menceritakan masa tergelap negeri Kamboja di bawah kekuasaan Khmer Merah. Dua buku yang disebut terakhir sama-sama diterbitkan Gramedia pada awal 2000-an. Berapa harga untuk tiga buku tersebut? Jawabannya adalah: 30.000 rupiah. Yak 30.000 rupiah ! Setara dengan harga celana kolor berbahan saringan tahu.
Lantas ketika satu minggu berikutnya saya mendengar kabar tentang Kampung Buku Jogja, saya pun begitu bersemangat untuk datang ke pameran tersebut. Angan-angan untuk mendapat buku-buku lawas nan langka dengan harga terjangkau seketika membuncah begitu kabar tersebut datang. Kampung Buku Jogja sendiri adalah event sastra tahunan yang sebelumnya telah dilaksanakan dua kali. Untuk perhelatan yang ketiga ini, Kampung Buku Jogja atau biasa disebut KBJ dihelat di area Foodpark Lembah UGM mulai tanggal 4 sampai 8 Oktober 2017.
Saya datang ke KBJ pada hari ketiga. Begitu tiba di lokasi, para pengunjung disambut oleh lima mahaguru yang secara mengejutkan berkostum à la rakjat Indonesia. Para kakung memakai kaos oblong dan sarungan, sementara yang putri memakai kemben dan kebaya. Para mahaguru tersebut adalah Albert Camus, Haruki Murakami, Jean Paul Sartre, Simone de Beauvoir, dan Karl Marx. Mereka berjajar berlima bagaikan Power Ranger yang hendak membasmi segala kejumudan dan kebodohan di Indonesia. Tentu saja mereka tidak hadir langsung dalam bentuk fisik. Murakami kita tahu tengah sibuk bersimpuh pasrah menunggu penghargaan nobel sastra jatuh ke tangannya. Murakami adalah Leonardo Di Caprio-nya dunia sastra. Sementara itu, empat mahaguru yang lain telah mati sejak berpuluh bahkan beratus tahun lalu. Akan tetapi, di KBJ mereka datang sebagai ikon di photobooth yang barangkali menjadi simbol ing ngarsa sung tuladha bagi murid-muridnya yang datang seperti saya.
Setelah berswafoto di  photobooth yang yahud tadi, pengunjung selanjutnya bisa melihat tiga suguhan utama dalam acara ini: area buku lawas, area buku indie, dan panggung utama. Tepat ketika saya memilih melihat-lihat ribuan koleksi di area buku lawas, harapan awal saya datang ke KBJ langsung sirna. “Bajigur, bukune larang-larang tenan”, batin saya. Bayangkan saja, satu buku Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer terbitan Hasta Mitra dijual seharga 250.000. Sementara, buku Keluarga Gerilya bahkan dijual seharga 800.000. Sementara rata-rata buku lawas lainnya dijual di atas 60.000 rupiah. Harga yang kurang ramah bagi saya. Harga tersebut sebenarnya masih bisa kita maklumi mengingat sebagian besar buku yang dijual di situ memang merupakan koleksi langka. Sayangnya, saya menemukan beberapa buku yang hingga hari ini masih dicetak ulang seperti 1984-nya George Orwell dan Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer yang dijual di atas harga normal, bahkan 50 persen lebih mahal dalam harga normal. Asem. Di titik inilah seorang kawan bahkan berseloroh “Ini mah bukan Kampung buku Jogja, tapi Mall buku Jogja”.
Kekecewaan saya di area buku lawas sedikit terobati ketika saya berkunjung ke area buku Indie. KBJ 2017 benar-benar menjadi surga bagi para pecinta buku Indie. Panitia KBJ tahun ini tak hanya mengundang penerbit-penerbit kondang asal Jogja namun juga mengundang penerbit-penerbit Indie dari berbagai daerah lain. Di area ini, kita bisa membeli buku-buku Indie yang bahkan sulit ditemukan di Toga Mas Affandi, seperti buku-buku Penerbit Banana, Trubadur, Ultimus, atau Daun Malam. Harga buku-buku yang dijual di area ini menurut saya juga cukup bersahabat. Rata-rata harga buku di sini dijual dengan diskon 10 persen dari harga normal. Saya mengira buku-buku indie terbaru seperti Muslihat Musang Emas karya Yusi Avianto, Dongeng dari Negeri Bola karya Yusuf Dalipin Arif, dan Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia karya Max Lane adalah tiga buku yang paling banyak diincar oleh para pembaca sastra di Jogja. Tak terkecuali saya.
Kamu boleh kecewa dengan mahalnya harga-harga buku lawas. Kekereanmu yang akut barangkali juga membuatmu makin muram dan menangis tatkala melihat harga buku-buku Indie yang lebih “mayor” daripada mayor itu sendiri. Namun kekecewaanmu akan segera terobati tatkala kamu berkunjung ke panggung utama Kampung Buku Jogja. Selama empat hari berturut-turut, panggung KBJ diisi oleh para pegiat literasi pilih tanding di bidangnya, mulai dari sosok sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma, Puthut EA, dan Saut Situmorang, penulis esai-esai bola seperti Romo Sindhunata, Dalipin, dan Eddward Kennedy, para penerjemah seperti Max Lane, AN Ismanto dan Lutfi Mardiansyah, hingga para pegiat buku Indie Jogja seperti Adhe Maruf, Arif Doelz, Irwan Bajang dan Eka Pocer.
Jika saja waktu saya teramat senggang, barangkali saya akan hadir di setiap talkshow yang dihadirkan di panggung utama. Tapi saya bukan pengangguran full-time. Alhasil, saya hanya bisa hadir di talkshow kepenulisan esai bola dan diskusi buku Tak Ada Indonesia di Bumi Manusia karya Max Lane.
Sedikit bercerita, talkshow kepenulisan esai bola lebih banyak bercerita tentang perkembangan kepenulisan esai bola di Indonesia. Esai-esai bola di Indonesia sebenarnya dipelopori oleh Romo Sindhunata yang pada awal 90-an rutin menulis untuk harian Kompas. Romo Sindhunata sendiri tidak membahas bola dari segi analisa taktik atau strategi. Ia lebih sering membahas sepakbola dari apa yang terjadi di luar lapangan, menghubungkannya dengan teori-teori sosial-filsafat, hingga mencari benang merah antara sepak bola dengan pelbagai peristiwa politik di Indonesia. Salah satu hal menarik dari apa yang diceritakan Romo Sindhunata adalah ketika ia mengkritik gaya kepemimpinan Gus Dur dalam menghadapi “musuh-musuhnya” yang menurutnya terlalu catenaccio. Menurut Romo Sindhunata, sekali-kali Gus Dur perlu melakukan permainan menyerang à la Inggris atau Belanda. Tak disangka, Gus Dur justru membalas kritik Romo Sindhunata dengan menjelaskan filosofi catenaccio à la Gus Dur yang punya cara dan filosofi lain dibanding catenaccio Italia. Melihat kritiknya dibalas oleh Gus Dur, Romo Sindhunata hanya memberi satu tanggapan “Sampeyan sudah jadi presiden kok bisa masih sempat nulis bola, Gus?”.
Dalipin barangkali bisa disebut sebagai “Man of the match” di talkshow tersebut. Sebagai seorang penulis yang pernah tinggal 11 tahun di Inggris, Dalipin tak henti-hentinya menceritakan pelbagai “dongeng” dari negeri sepak bola tersebut. Ia menceritakan pengalamannya melihat berbagai fenomena sepakbola di Inggris yang barangkali jarang diliput media. Ia bercerita tentang sejarah kebencian fans Arsenal-Tottenham, tawuran fans Everton dengan jemaat gereja yang berebut tempat parkir, hingga kebiasaan para pemain bola Inggris yang literasinya rendah. Sementara itu, sebagai pembicara yang paling muda, Eddward S Kennedy lebih banyak bercerita tentang pengalamannya membaca karya-karya Sindhunata dan Dalipin yang menginspirasinya menulis esai-esai bola. Ia juga berpendapat bahwa dalam menulis esai sepak bola, seorang penulis tidak harus bersifat netral. Ia misalnya, tak jarang bersikap sebagai seorang “Milanista” ketika menulis suatu esai.
Di hari terakhir perhelatan Kampung Buku Jogja, saya kembali datang dan mengikuti diskusi buku Tak Ada Indonesia di Bumi Manusia yang dipimpin langsung oleh penulisnya, Max Lane. Max Lane sendiri adalah penerjemah 6 karya Pramoedya Ananta Toer ke bahasa Inggris. Hasil-hasil terjemahannya telah diterbitkan oleh penerbit Penguin. Dalam diskusi tersebut, Max mengatakan bahwa tak ada satu pun kata Indonesia dalam tetralogi Bumi Manusia. Meskipun demikian, Bumi Manusia merupakan upaya Pram untuk menjelaskan proses terbentuknya identitas Indonesia. Indonesia bagi Pram adalah “makhluk baru” di Bumi Manusia yang dibentuk rakyatnya sendiri namun dipengaruhi oleh andil dari dunia internasional. Ide tersebut ia tuangkan melalui karakter Minke, seorang pribumi asal Jawa, yang mengalami perkembangan pemikiran berkat karakter-karakter lain yang berasal dari luar Hindia. Sebut saja Jean Marais dan keluarga De la Croix yang memperkenalkannya dengan revolusi Prancis dan prinsip liberté, égalité, fraternité (kebebasan, kesetaraan, persaudaraan) atau Khouw Ah Soe dan Ang San Mey yang mengajarkannya prinsip revolusi Dr. Sun Yat Sen dan pentingnya pergerakan angkatan muda.
2 hari mengunjungi Kampung Buku Jogja adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Terlepas dari kekecewaan saya tentang harga buku lawasan yang keterlaluan mahal, namun KBJ telah menggratiskan “buku” yang seharusnya jauh lebih mahal, yaitu buku-buku yang mewujud dalam sosok-sosok pegiat literasi yang hadir secara langsung di Kampung Buku Jogja. KBJ saya kira juga menunjukkan bahwa dunia perbukuan indie di Indonesia semakin menggeliat, buku-buku bermutu semakin banyak lahir, dan penulis-penulis muda semakin bermunculan.

Sebagai penutup, saya ingin menutup artikel ini sebagaimana sebuah artikel event pada umumnya. Ya, artikel ini akan ditutup dengan sebuah harapan: semoga Kampung Buku Jogja bisa digelar kembali di 2018 dengan Haruki Murakami asli sebagai bintang tamunya.

Dokumentasi:







Jika kamu pernah membaca cerpen “Kang Sarpin Minta Dikebiri” karya Ahmad Tohari, maka kamu tak akan asing lagi dengan istilah yang jadi judul dalam Ngibul ini. Cucuk Senthe adalah istilah dalam bahasa Jawa yang merujuk pada lelaki dengan dorongan birahi yang meledak-ledak hingga ia tak bisa mengendalikan gairahnya sendiri.
Dalam cerpen “Kang Sarpin Minta Dikebiri”, Sang Cucuk Senthe tersebut adalah seorang lelaki paruh baya bernama Sarpin yang dikenal telah meniduri puluhan atau mungkin ratusan perempuan dan tak pernah menutup-nutupi hobinya tersebut kepada para tetangganya di desa. Alkisah, suatu hari Kang Sarpin berkeluh kesah pada tokoh yang menjadi narator dalam cerpen ini. Dalam curahan hatinya, ia mengaku amat kesal pada burungnya sendiri.
“Dia amat bandel. Bila sedang punya mau, burung saya sama sekali tak bisa dicegah. Pokoknya dia harus dituruti, tak kapan, tak dimana. Sungguh burung saya sangat keras kepala sehingga saya selalu dibuatnya jengkel. Dan bila sudah demikian, saya tak bisa berbuat lain kecuali menuruti apa maunya (Tohari, 82:2015)”.
Akan tetapi, Kang Sarpin sungguh-sungguh menyesal dan ingin meraih pertaubatannya. Maka, demi mencapai hal tersebut, ia ingin agar burungnya segera dikebiri. Sadar bahwa tak akan ada mantri sunat yang mau melakukannya, ia kemudian dengan penuh kesadaran datang ke tukang sabung dan potong ayam, membayarnya, lalu memintanya untuk memotong burungnya: burung Kang Sarpin.
Dalam karya sastra Indonesia, sebenarnya ada juga kisah lain yang menceritakan hubungan manusia dengan burungnya sendiri. Tahu kisah si Ajo Kawir? Ia adalah tokoh utama dalam novel “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (SDRHDT)” karya Eka Kurniawan. Meski tak separah sosok Kang Sarpin, Ajo Kawir saya kira punya potensi besar untuk menjadi Cucuk Senthe. Jauh sebelum dikenal sebagai pria paruh baya yang ngga bisa ngaceng, ia dulunya adalah seorang bocah yang setiap malam tak bisa menahan birahinya untuk tidak mengintip persenggamaan dua orang polisi dengan seorang perempuan gila. Namun berbeda dengan Kang Sarpin yang memilih menghilangkan sifat Cucuk Senthe-nya dengan memotong burung sendiri, Cucuk Senthe Ajo Kawir justru hilang dengan sendirinya. Hal tersebut terjadi setelah ia dipaksa memasukkan burungnya ke saluran peranakan si Perempuan Gila oleh dua polisi yang menangkap basah aksi voyeurisme-nya. Malangnya, tiba-tiba kadar Cucuk Senthe Ajo Kawir benar-benar lenyap sampai ke titik nol. Burungnya tidur panjang dan tak pernah mau bangun lagi meskipun ia usahakan dengan berbagai cara.
Membaca cerpen “Kang Sarpin Minta Dikebiri” dan novel “SDRHDT”  sebenarnya menimbulkan perasaan agak miris bagi saya. Saya percaya, sebagaimana Kang Sarpin atau setidaknya Ajo Kawir, setiap orang memiliki potensi ke-Cucuk-Senthe-an masing-masing. Jauh-jauh hari, Sigmund Freud pernah bilang bahwa tidak ada motif yang lebih valid yang menggerakkan tindakan manusia selain insting libido. Eka Kurniawan juga nampaknya menyetujui hal ini dengan menulis pada novel “SDRHDT”:
Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala” (Kurniawan, 126: 2014).
Kutipan di atas sebenarnya mengingatkan kita bahwa manusia tak pernah bisa lepas dari kemaluannya: penggerak utama segala insting libido. Namun saya kira, insting libido sebenarnya bukan hanya suatu insting yang berhubungan dengan gairah seksual atau nafsu birahi semata. Lebih jauh dari itu, insting libido bisa merujuk pada segala nafsu kebinatangan yang melampaui soal makan, minum, dan seks: keserakahan, keinginan membunuh, hasrat pamer kekuatan atau segala sifat lain yang tidak lagi mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Coba ingat dengan baik apa yang terjadi di sekitar kita akhir-akhir ini. Para wakil rakyat mengorupsi uang KTP sampai 2,8 Trilyun. Uang segitu kalau dihitung bisa untuk membiayai kuliah satu orang di UGM selama 450.000 semester. Atau kalau bingung, uang segitu paling tidak bisa untuk membiayai kuliah 50.000 mahasiswa dari masuk sampai lulus. Gendeng? Tentu tidak segendeng fakta bahwa beberapa hari lalu, justru banyak wakil rakyat lain yang berusaha melindungi pimpinannya supaya tidak berangkat sidang kasus tersebut.
Tidak usah jauh-jauh ke Rohingya, saat ini banyak orang sekitar kita yang mentang-mentang mayoritas, lalu dengan entengnya berikrar siap menghunus pedang untuk para minoritas “berdarah halal” yang mereka anggap menyimpang karena berbeda.
Atau marilah kita menengok yang paling dekat pada diri kita sendiri, misalnya seberapa sering kita ingin segera memperlihatkan gawai terbaru, foto makan Escargot pas Euro Trip atau bahkan, haha, pamer buku-buku bacaan? Sadar tidak sadar, diakui atau tidak diakui, tindakan kita tersebut seringkali hanya –meminjam istilah Bordieu—strategi kekuasaan melalui praktik pembedaan diri (la distinction) untuk meraih power di masyarakat. Untuk persoalan ini saya punya saran –terutama untuk diri saya sendiri—, alih-alih sekadar pamer, tulislah pengalaman kita bersama hal-hal tersebut (gawai, makanan, perjalanan, buku) dengan rapi dan menarik, syukur-syukur memberikan pandangan-pandangan hidup yang humanis – selanjutnya kirim ke redaksikibul@gmail.com. Hal tersebut saya kira penting. Kita perlu belajar untuk membiasakan diri memberi sesuatu yang informatif dan reflektif di tengah derasnya informasi yang kebanyakan lebih layak dilempar ke keranjang sampah: ya, seperti foto-fotomu yang sebenarnya blas nggak berfaedah itu. Kurang-kurangin lah…
Baiklah, melihat berbagai realita akhir-akhir ini, juga apa yang sering kita lakukan setiap hari, saya jadi berpikir bahwa jangan-jangan kita semua adalah seorang Cucuk Senthe? Jangan-jangan kita selalu punya dorongan birahi yang meledak-ledak untuk menunjukkan hasrat kebinatangan kita: keserakahan, keinginan membunuh, hasrat pamer kekuatan? Jangan-jangan, mayoritas masyarakat kita adalah masyarakat Cucuk Senthe? Lalu jika kita tak mungkin menjadi Ajo Kawir yang dorongan birahinya hilang sendiri, haruskah kita memotong paksa burung kita seperti Kang Sarpin? Masalahnya, jika semua orang adalah Kang Sarpin, bukankah hanya kita yang bisa memotong “burung” kita sendiri?
twit sampah
modal enter
enter
enter
yah, jadi puisi
1.
Cinta segitiga memang sudah merepotkan, tapi percayalah, ia tak ada apa-apanya dibanding cinta segi-46. Dan di bumi manusia tempat segala cerita terhampar ini, pernah hidup seorang tokoh yang kisah cintanya mirip nomor motor pembalap Valentino Rossi itu. Sebagaimana Valentino Rossi pula, kisah tokoh kita ini juga penuh dengan persoalan tiqung-meniqunge.
Siapakah dia sang tokoh kita?
Dia cantik, dia ayu! Bodinya seksi, suaranya aduhai. Seorang sinden wayang dan ratu cengkok asal Pleret, Bantul, Yogyakarta. Kita perkenalkan dia, siapa lagi kalau bukan: Ratu Mas Malang….
*masuk irama musik dangdut dengan lagu Syi’ir Tanpo Waton Gus Dur, dengan lirik yang diganti:
Ratu Mas Malang,
Sinden idaman,
Istri seorang Ki Dalang Panjang,
Dalang terkondang Bumi Mataram,
Cinta berdua, sungguh indahnya…

2.
Pleret, Ibukota Mataram, tahun 1650-an, hidup seorang perempuan ayu bernama Nyai Truntum. Ia adalah seorang sinden, pelantun langgam Jawa, yang senantiasa mengiringi pentas wayang Raden Panjang Mas, suaminya sendiri yang juga merupakan dalang paling kondang di bumi Mataram.
Alkisah perpaduan Nyai Truntum dan Raden Panjang Mas adalah kombinasi yang begitu rancak, apik dan cemerlang baik di dalam maupun di luar panggung. Di atas panggung mereka selalu menyajikan pertunjukkan yang pantang membuat ngantuk; suara cengkok nan merdu dari Nyai Truntum membuat siapapun segera bersyukur memiliki kuping yang masih waras, sementara eksplorasi Raden Panjang Mas terhadap suatu lakon bisa membuat semua penonton enggan untuk meninggalkan panggung barang untuk buang air. Di luar panggung? Jangan ditanya, mereka berdua adalah sejoli paling lengket lagi mesra. Orang-orang bahkan menyamakan mereka dengan Kamajaya-Kamaratih, pasangan dewa dan dewi cinta jagad pewayangan paling bahagia yang pernah ada.
Akan tetapi semua berubah sejak Amangkurat I (1611-1677) “menyerang”.
Amangkurat sendiri adalah Raja Mataram yang dikenal sebagai seorang Machiavellian yang kejam dan penuh nafsu. Selain itu, ia juga dikenal sebagai diktator sekaligus psikopat berdarah dingin. Sebagai seorang raja, tak terhitung berapa kebijakannya yang penuh kontroversi. Salah satunya adalah memindahkan secara sepihak Ibukota Mataram dari Kota Gede ke Pleret. Ingin tahu alasannya? Alasannya ya karena pingin saja. Barangkali ia adalah seorang raja yang menganut sebuah paham “sugih, bebas!” Tapi hal itu tak seberapa dibanding kekejamannya yang benar-benar minta ampun. Amangkurat pernah mengeksekusi mati 5.000 ulama di Alun-alun Pleret karena dianggap berusaha memberontak pada kekuasaannya. Ia bahkan tega membunuh adik kandungnya sendiri, Raden Mas Alit, yang ia anggap berkhianat padanya. Namun dari segala kekejaman yang pernah ia lakukan, barangkali kekejamannya yang paling biadab adalah kekejaman yang kelak akan ia lakukan pada 43 selirnya. Dan semua itu terjadi tak bisa lain karena seorang Nyai Mas Truntum yang kelak akan dijuluki Ratu Mas Malang.
Suatu hari, Amangkurat memerintah para prajuritnya untuk mencari seorang perempuan untuk menjadi selirnya yang ke-44. Entah bagaimana caranya, Amangkurat kemudian mengenal Nyai Truntum dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Maka, dengan segala kelicikannya ia pun mencoba membawa Nyai Truntum ke Istana Mataram tanpa peduli bahwa saat itu Nyai Truntum tengah mengandung usia dua bulan.
Siasat pun segera disusun. Mataram mengadakan pesta besar-besaran dengan pertunjukkan wayang sebagai suguhan puncaknya. Ia mengundang Raden Panjang Mas untuk menjadi dalang di malam meriah tersebut. Suatu ketika saat pertunjukkan wayang tengah begitu asyiknya dan penonton begitu tegang menanti kelanjutan cerita, tiba-tiba seorang prajurit memanah blencong atau lampu minyak yang digunakan untuk menerangi panggung. Seketika panggung pun mendadak jadi gulita. Ketika itulah para prajurit Amangkurat langsung menikam Raden Panjang Mas dan seluruh penabuh gamelan hingga hanya tersisa satu yang selamat, yaitu Nyai Truntum yang kemudian dibawa ke Istana untuk menjadi selir Amangkurat yang ke-44.
Dalam setiap pembahasan mengenai cinta segitiga, kita mengenal salah satu quote yang paling sering dikutip untuk membahas fenomena rumit tersebut. Quote ini diucapkan oleh seorang Johnny Depp dan berbunyi kurang lebih “Jika kamu jatuh cinta pada dua orang dalam waktu bersamaan. Pilih lah yang kedua. Sebab jika kamu benar mencintai yang pertama, kamu tidak akan jatuh pada yang kedua”.
Saya kira Amangkurat adalah seorang yang percaya betul pada kutipan tersebut. Sayangnya, Amangkurat tak berhenti pada cintanya yang kedua. Namun ia terus melanjutkan cintanya hingga orang yang ketiga, keempat, hingga tiba pada Nyai Truntum yang ke-44. Nyai Truntum pun mendapat tempat istimewa di Istana Mataram. Amangkurat begitu menyayangi Nyai Trantum hingga memberinya gelar Ratu Wetan atau Ratu Mas Malang.
Semenjak itu, ke-43 selir Amangkurat pun merasa cemburu dan mereka bersekongkol untuk membunuh Ratu Mas Malang. Pada zaman tersebut, salah satu cara membunuh yang paling efektif sekaligus susah diselidiki adalah memberi racun pada calon korban. Entah dengan sianida atau semacam bodrex yang dicampur dengan soda, ke-43 selir tersebut ternyata berhasil membuat Ratu Mas Malang meregang nyawa dengan racun buatannya.
Bumi Mataram pun gempar dengan kematian Ratu Mas Malang. Sementara itu, para Selir diam-diam justru bahagia sambil berharap bahwa Amangkurat akan peduli lagi pada mereka. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Amangkurat justru begitu terpukul dan malah menjadi agak gila. Ia bahkan memilih tetap tidur bersama mayat Ratu Mas Malang hingga konon sampai sebulan lamanya. Namun bentuk kegilaannya yang paling puncak adalah kegilaan yang ia tunjukkan pada ke-43 selirnya yang ia percaya telah membunuh Ratu Mas Malang. Maka, dengan gelap mata Amangkurat memberi “hadiah” terakhir untuk ke-43 selirnya: ia memberi satu ruangan untuk 43 selir tersebut. Di dalam ruangan itulah, Amangkurat mengurung mereka tanpa sedikitpun memberi mereka makan hingga akhirnya mereka saling memakan daging teman sendiri.

3.
Pleret, 8 Agustus 2017, 352 tahun setelah peristiwa berdarah tersebut terjadi. Saya datang ke sana bersama tiga kawan saya untuk sekadar mengisi waktu libur kerja yang kepalang senggang. Salah satu kawan saya, Iqbal Rahardian, adalah pemuda setempat yang hari itu kami minta untuk menceritakan segala hal yang kemudian saya tuliskan di atas.
Hari ini Makam Ratu Mas Malang masih dapat kita kunjungi di situs pemakaman Gunung Kelir, Pleret, Bantul. Area makam yang luasnya setengah lapangan bola ini dikelilingi oleh tembok bata yang tebalnya hampir mencapai satu meter. Tebal sekali. Beberapa pohon kamboja tumbuh subur berbunga di area makam tersebut. Saya menaksir bahwa usia pohon itu telah mencapai ratusan tahun sebab ia mempunyai ukuran yang jauh lebih besar dibanding kebanyakan pohon kamboja pada umumnya. Barangkali tingginya sekitar setengah tinggi pohon kelapa. Sementara itu, di pojok barat area pemakaman, kita bisa melihat satu makam yang berada di depan sebuah pohon beringin besar dengan akar pohon yang saling tumpuk tunjang. Yang tak akan kita kira, makam yang terlihat paling angker dan keramat itu ternyata adalah makam Raden Panjang Mas.
Pemandangan tersebut tentu saja membuat saya bertanya-tanya, jika memang Amangkurat sungguh mencintai Ratu Mas Malang, mana mungkin ia rela memakamkan selir kesayangannya di dekat makam mantan suaminya?
Saya pun berusaha mencari jawaban tersebut. Konon, sebulan setelah kematian Ratu Mas Malang –ketika Amangkurat masih tidur di samping mayat selir kesayangannya—Amangkurat bermimpi melihat Ratu Mas Malang hidup berbahagia bersama Raden Panjang Mas. Sejak itulah Amangkurat akhirnya berkenan meninggalkan mayat tersebut dan menguburkannya di satu lokasi yang sama dengan mendiang suaminya–meskipun tak berdampingan. Amangkurat pun memutuskan untuk kembali ke istana dan melanjutkan kepemimpinannya yang ternyata masih kontroversial seperti sebelumnya.
Kisah tersebut saya kira tidak masuk akal. Selain menunjukkan adanya sifat Amangkurat yang kontradiktif, kisah tersebut juga cenderung menyajikan ending terlampau indah yang tidak masuk akal seperti pada banyak film Hollywood. Maka, saya pun memilih tidak percaya kisah tersebut sambil semakin mengamini ungkapan yang pernah dikatakan Amin Maalouf bahwa “sejarah selalu memberikan lebih banyak pertanyaan dibanding jawaban”.
Terlepas dari akhir kisah tersebut, yang jelas kisah cinta Ratu Mas Malang memberitahu kita bahwa jika cinta segitiga adalah cinta yang merepotkan, maka cinta segi-46 adalah cinta yang mematikan. Lalu, mengapa kita berharap pada cinta segi-72 yang ada di surga?
Dokumentasi Jalan-jalan


Kendati telah mengenal Ninja RR sebagai tujuan utama pencapaian hidup, warga kampung saya di Wonosobo tetap tak bisa lepas dari segala hil dan hal yang berbau gaib. Hampir saban saya pulang kampung, saya selalu mendengar cerita-cerita yang khayalnya benar-benar ngalaihim. Misalnya cerita bahwa ada portal di Waduk dekat rumah saya yang tersambung langsung dengan Istana Ratu Kidul. Seorang “pintar” yang mengaku pernah menembus portal tersebut pernah bercerita bahwa kabarnya Nyi Roro Kidul kini telah menikah dengan Sunan Kalijaga. Ya Allah …. Gosip cap opoo .…

Namun, mari sejenak kita lupakan narasi-narasi besar dunia mistik. Tinggalkan cantiknya Nyi Roro Kidul, jahatnya Nyi Blorong, atau hitamnya gigi Mak Lampir, dan mari meluncur ke sebuah kisah dari sebuah kampung di pinggiran Wonosobo. Kisah tentang hantu pocong.

Alkisah, hiduplah seorang perempuan bernama Risa Ummayah yang lebih kerap dipanggil Risa U. Risa U adalah tetangga saya yang sejak dua bulan lalu menderita sakit yang aneh. Ibu beranak tiga ini, sejak ditinggal suaminya berselingkuh dengan suami orang lain, mendadak jadi sering merasakan sakit yang luar biasa di kepala dan perutnya. Lama kelamaan kelakuan Risa U jadi semakin nyeleneh: ia mulai suka ngomong sendiri, tertawa cekikikan tiap kali menatap atap rumah, dan yang paling tidak masuk akal ia kerap terlihat sedang minum air peceren (selokan) di samping rumahnya.

Gemesnya, Risa senantiasa sembuh total tiap kali dibawa berobat ke dokter atau bahkan psikiater. Dan sebab pengobatan modern tak dapat melacak jenis penyakitnya, maka disimpulkanlah bahwa Risa U kena guna-guna.

Beruntunglah keluarga Risa U, sebulan yang lalu ada “orang pinter” baru di kampung saya, yang mendapat lmu-ilmunya setelah kuliah S1 di UGM, eh maaf, maksudnya setelah rajin puasa nyenin-kemis.

Ia tetangga saya juga, namanya Mbak Wulan.

Kebetulan, Mbak Wulan adalah teman ngaji Ibu saya, dan kebetulan pula bahwa malam itu Mbak Wulan meminta bantuan Ibu saya untuk mendampingi ritual pengusiran jin yang nempel di tubuh Risa U. Ndilalahnya, saya waktu itu juga sedang pulang kampung. Alhasil, saya pun menonton secara live prosesi yang saya harap mirip prosesi “aing jawara di die” itu.

Dan dimulailah prosesi pengusiran tersebut.

Semua gorden rumah ditutup untuk menghindari ritual ini jadi tontonan warga. Mbak Wulan duduk tepat di depan Risa U. Tak ada kembang tujuh rupa, tak ada wangi-wangian minyak wangi Fanbo, apalagi kemenyan. Mbak Wulan hanya menggenggam secarik kertas bertulisan Arab di tangan kanannya. Dan mulai berkomat-kamitlah mulutnya merapalkan mantra.

“Aaarrgghh…,” Risa U tiba-tiba mengeluarkan suara yang janggal. Matanya melotot dan menatap masing-masing mata kami. Saya merinding. “Siapa kamu berani macam-macam dengan saya?” Ternyata jin telah 100 persen menguasai tubuh Risa U.

“Keluar! Kamu telah mengganggu anak ini,” kata Mbak Wulan, ganti menatap tajam Risa U.

“NGA!”

“Keluar!”

“NGA~”

“Kalau tidak, aku akan memaksamu keluar.”

“Nga takut!

“Bis kobas kabis kobas kabis ko.” Mbak Wulan merapalkan mantranya, semakin cepat, tubuhnya bergetar dan peluh mengucur deras dari dahinya.

“Aku tahu siapa kamu,” kata Mbak Wulan. “Wujudmu seperti pocong. Harusnya kamu sudah tenang di alammu. Keluarlah!”

“NGA!”

“Jangan ‘Nga-Nga’ saja.” Mbak Wulan semakin cepat merapal mantranya.

“Aaarrghhh …. Ampun, Bu, ampun. Aaarrgggh.” Risa U meraung-raung, tubuhnya menggeliat seperti cacing kepanasan. “Ampun, Bu. Aku nga akan mengganggunya lagi, ampun ….”. Kini Risa U tampaknya benar-benar kesakitan dan menderita, tubuhnya menggelinjang dan kakinya menendang kemana-mana.

Melihat reaksi tersebut, Mbak Wulan pun makin bergelora. Namun, ketika si Jin sudah tampak hampir menyerah, tiba tiba Mbak Wulan menghentikan rapalan mantranya. Strategi ini mengingatkan saya pada cara biksu Tong menghukum Sun Go Kong atau Kagome membuat jera Inuyasha. Cerdyas!

“Sudah to, sekarang sudah mau keluar to?”

“Nga, nga, nga.”

“Lho, mau saya paksa lagi?”

“Ampun, Bu, aku nga akan keluar. Tapi aku janji nga akan mengganggu Risa U lagi. Aku malah akan menjaganya.”

“Halah, dusta. Saya paksa beneran, lo?”

“Ampun, Bu, nga bohong. Demi Allah. Aku nga akan jahat, saksinya Allah. Lha wong saya ini Islam.”

Dan di titik itulah Mbak Wulan habis kesabarannya. Dengan refleks yang luar biasa cepat, ia menyiram tubuh Risa U dengan segelas air doa sambil berteriak:

“SAYA SUDAH TAHU, MEMANGNYA ADA POCONG YANG NGGAK ISLAM?”

Malam pun berakhir dengan kekalahan telak si Pocong dan kemlongoan kami yang baru sadar bahwa “Tak ada pocong yang tak Islam”.

Tulisan ini pertama kali dimuat di blog ini dengan judul Kesurupan Pocong, kemudian dimuat kembali dengan cukup banyak perubahan di situs humor satir mojok.co

Prolog
Meski diberkati Tuhan dengan tubuh yang segar dan jarang terkena mala, namun enam tahun sudah hidup saya tak bisa terpisahkan dengan rumah sakit. Adalah orang-orang terdekat saya yang dalam waktu berbulan, bahkan bertahun, mesti berkali-kali mengunjungi tempat yang paling tak ingin dikunjunginya.
Dan saya, sebagai salah satu orang terdekat mereka, mesti sedia berkali-kali menemani, hingga satu fase di mana saya hafal betul hiruk pikuk di setiap lantai rumah sakit. Lantai satu dengan pasien-pasien siap mati yang butuh pertolongan pertama; Lantai dua, bilik panjang yang sunyi sebab terisi pasien-pasien yang mampu bayar obat secara mandiri—mereka mendapat fasilitas AC, TV, dan Kulkas (tak sekalian lapangan golf?); Lantai tiga, berisi ruang-ruang isolasi untuk penyakit-penyakit yang mudah menular; dan Lantai empat, koridor paling panas yang berisi pasien-pasien Jamkesmas.
Rumah sakit tersebut adalah rumah sakit Pemerintah di kota kelahiran saya. Tempat para pesakitan se-kabupaten berkumpul dan sebagian besar dari mereka adalah orang miskin yang lagi-lagi harus mengadu diri dengan nasib. Dan kau tahu, Rumah Sakit manapun di jagad raya selalu menempatkan orang miskin di ruang yang paling sumpek—satu ruang dipakai enam pasien dengan satu kamar mandi yang dipakai bergantian— keadaan akan makin sumpek jika rombongan penjenguk mulai datang naik hijet dari desa ke kota.
Adakah orang yang bersuka cita menghadapi keadaan tersebut? Tapi bagaimana lagi, saya adalah orang terdekat Rahayu, Abidin, dan Budiono, yang pada akhirnya harus berkali-kali menemani mereka berada di sana. Entah di ruang isolasi, atau di ruang-ruang pasien kelas tiga.

Rahayu
Menjelang Ujian Nasional, seorang siswa kelas 3 SMA selayaknya sering-sering pergi ke tempat les. Tapi tidak dengan saya, yang setelah diganyang soal try out dari 7 pagi hingga 3 sore, harus segera menuju rumah sakit menemani Rahayu.
Rahayu bolak-balik mondok sepanjang tahun 2012. Ia sebenarnya memulai mondok pertamanya dengan sebuah kabar gembira: mual-mual yang sering dideritanya ternyata pertanda bahwa ia tengah hamil anak kedua. Namun setelah tak kunjung sembuh sesudah mondoknya yang pertama, Rahayu pun harus kembali ke rumah sakit lagi dengan keluhan yang sama. Sampai pemeriksaan yang kedua selesai, Rahayu memang masih hamil, tapi kali ini ia divonis tengah “hamil anggur”, sebuah keadaan di mana janin gagal tumbuh normal dan justru menjadi sel-sel kanker dalam rahim.
Maka sejak itulah mimpi buruk itu terjadi. Rahayu mesti segera dikuret untuk membersihkan sel-sel kanker di rahimnya. Sayangnya, kuretnya yang pertama ternyata tak berhasil membersihkan sel kankernya secara sempurna. Dan akibatnya, sisa-sisa sel kanker tersebut telah berubah menjadi kanker sungguhan yang mesti diangkat.
Operasi pengangkatan kanker pun dilakukan berbarengan dengan operasi pengangkatan janin. Malang, saat itu kanker telah merambat hingga organ tubuh lainnya: dokter memvonis Rahayu juga memiliki kanker di jantung, paru-paru, dan otaknya. Saya melihat hasil rontgen tersebut dengan ngeri: melihat organ-organ tubuh yang dipenuhi benjolan-benjolan seperti monster.
Di masa itulah selama berbulan-bulan saya menemani perempuan lemah ini menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi tahap pertama, Rahayu mesti menenggak beberapa pil yang dalam beberapa jam setelahnya, maka satu per satu rambutnya akan mulai rontok berjatuhan. Yang lebih buruk dari itu, ia mengalami sari awan akut dari ujung bibir, lidah, sampai tenggorokan, bahkan usus, lambung, hingga duburnya. Pada fase yang konon rasanya seperti tubuh sedang dibakar itulah Rahayu akan mulai meracau hal-hal yang tak jelas maksudnya: Ia minta dibelikan sepatu baru, minta lipstik untuk menutup bibirnya yang penuh luka dan hitam legam, atau tiba-tiba mengucap salam ke arah pintu yang lengang. Rahayu mulai melakukan hal-hal yang aneh, sampai menjelang kemoterapi tahap kedua, dokter memvonis bahwa umurnya tak lagi sampai dua minggu.
Untuk memperpanjang umurnya barang satu atau dua bulan, dokter pun menyarankan Rahayu untuk tetap melaksanakan kemoterapi keduanya. Tetapi melihat harga kemoterapi yang sampai berpuluh juta, keluarga pun harus menyerah untuk kemudian memilih membawa Rahayu pulang dan berminggu melakukan mujahadah. Dan entah bagaimana nalarnya, dalam kurun waktu satu bulan kemudian, semua kanker dalam tubuh Rahayu menghilang, Rahayu kembali sehat dan masih hidup sampai detik ini dengan rambut terurai panjang.

Abidin
Di usianya yang menjelang 80, Abidin mengidap komplikasi penyakit akut: Asam urat, darah tinggi, diabetes, dan lemah jantung. Repotnya, ketika satu penyakitnya mulai sembuh, maka penyakit yang satunya justru akan kambuh. Repotnya lagi, Abidin bukanlah sosok generasi tua pada umumnya yang sebisa mungkin menjauhkan diri dari benda-benda medis yang asing. Abidin tidak anti pada infus, jarum suntik, atau tabung oksgen. Abidin punya semangat hidup yang luar biasa. Ia ingin suatu hari nanti bisa melihat salah satu anak atau cucunya sukses menjadi orang paling disegani di kampungnya.
Maka berbekal semangat tersebut, Abidin selalu meminta anak-anaknya membawanya ke rumah sakit tiap kali merasa penyakitnya mulai kambuh. Entah sekadar kontrol atau rawat inap. Abidin tak pernah malas menempuh perjalanan hingga 30 kilometer menuju sana. Maka dapat dipastikan sepanjang 2013-2015 (beliau akhirnya meninggal di tahun tersebut), setidaknya tiap satu semester sekali, Abidin mesti menjalani rawat inap di rumah sakit. Dan lagi-lagi, sebagai orang terdekatnya, saya pun harus menungguinya.
Dari masa menjaga yang berkali-kali itulah ada satu pengalaman unik yang terus saya ingat.
Suatu hari, saya tengah menderita galau akut akibat hubungan pacaran yang kian merenggang dan sepertinya bakal kandas. Abidin tentu saja melihat gelagat tak normal pada diri saya yang selain nampak begitu murung, juga terang-terangan tak doyan makan. Pada titik itulah Abidin tiba-tiba berseloroh, “Kalau ditinggal mati saya sesedih itu nggak?”

Budiono
Entah mengapa lagi-lagi di akhir masa studi, saya harus kembali menginap di rumah sakit. Kali ini terjadi di akhir tahun 2016. Di lantai empat yang panas dan sesak, saya mesti mengerjakan skripsi yang tak kunjung kelar sambil menemani Budiono yang menderita flek paru-paru kronis.
Ia punya cerita tersendiri sebelum akhirnya mondok di akhir tahun lalu. Paru-paru Budiono sebenarnya sudah divonis berantakan sejak 18 tahun lalu ketika ia menghabiskan setidaknya empat bungkus rokok dalam waktu sehari. Tetapi sesak dan sakit napasnya baru benar-benar terasa di awal 2015, yang membuatnya berobat jalan dengan mendatangi dokter paru-paru tiap dua minggu.
Suatu hari dalam proses rawat jalannya, Budiono kembali datang ke rumah sakit untuk meminta obat pada dokter tersebut. Dengan nafas yang mulai tersengal efek kehabisan obat, ia naik bus sendirian ke Rumah Sakit Wonosobo. Akan tetapi, sang dokter ternyata tengah mengambil liburan panjang sekaligus berangkat ibadah umrah. Sialnya, dokter ini selalu merahasiakan resep obatnya pada semua pasien. Dan kau tahu, semua apoteker di sana bersikeras untuk merahasiakan resep obat tersebut. Tak peduli bahwa pada saat itu rumah sakit benar-benar dipenuhi pasien penyakit paru yang mulai sekarat/
Budiono yang sakitnya semakin parah pun memutuskan untuk mencari dokter dan obat pengganti. Ia pun harus mondok untuk kesekian kalinya. Dalam proses mondok di akhir tahun itulah saya benar-benar melihat seorang yang berjuang untuk hidup sekuat-kuatnya. Ia tak pernah mengeluh meski tubuhnya ditusuk jarum suntik berkali-kali. Ia rela mencoba pelbagai obat baru yang beberapa kali gagal. Dan entah bagaimana, obat yang tak cocok justru mengundang penyakit-penyakit lain untuk hinggap di tubuhnya. Selain flek paru-paru kronis, Budiono kini juga menderita radang lambung, pembengkakan jantung, dan asam urat yang parah. Namun ia selalu memaksakan dirinya memakan obat, sarapan dan makan malam yang tersedia. Tak peduli betapa ia mual hanya sekadar melihatnya, tak peduli bahwa ia akhirnya hanya akan muntah. Ia sosok seperti Abidin yang enggan mati tapi dengan motivasi hidup yang lebih sederhana: melihat anak-anaknya lulus sekolah dan mulai bekerja. Barulah setelah hampir sebulan di Rumah Sakit, ia dipastikan menemukan obat yang cocok dari seorang dokter spesialis penyakit dalam.
Hingga kini Budiono masih rutin berobat jalan. Hanya saja, ia harus datang ke Rumah Sakit sekali sebulan.Tidak lagi dua minggu. Meski jelas tak sebergas masa mudanya (ia bisa ambruk barang terkena hujan), ia masih saja gemar kesana-kemari. Dengan asam uratnya yang makin parah dan kakinya yang bengkak di mana-mana, Budiono seharusnya memilih lebih banyak istirahat di rumah. Akan tetapi apa mau di kata, puasa lalu ia malah nekat jadi penjual mercon. Ia membuka warungnya sejak bocah-bocah belum berangkat sekolah.
Tanggal 3 bulan ini, ia kembali datang ke rumah sakit. Dengan nyeri di kaki yang ditahan, ia pergi menemui sang dokter penyakit dalam langganannya, dokter yang ujarnya sangat ramah dan bersedia memberi tahu resep obatnya. Setelah hari itu hasil kontrol menyatakan bahwa kesehatannya makin stabil, ia tak bersegera pulang ke rumah. Diam-diam ia pergi ke kelurahan dan kecamatan, membantu anaknya mengurus berkas persyaratan kerja yang masih belum lengkap.

Epilog
Rumah sakit sampai kapanpun tak akan pernah menjadi sebuah pemandangan yang menyenangkan. Ia adalah ruang di mana ratus orang nampak menderita. Ruang di mana perbedaan kelas akan nampak makin jelas. Dan ruang di mana pengetahuan seringkali dijual tanpa memandang tujuan kemanusiaan.
Bagi saya sendiri, rumah sakit masih menjadi tempat yang paling tak ingin saya kunjungi. Tapi setiap kali saya mencoba merenungkannya, selalu muncul paradoks yang pada akhirnya membuat saya mau untuk mengunjunginya (biasanya untuk menjenguk): bahwa rumah sakit justru banyak memberikan pelajaran yang tak mungkin saya dapat dari perkumpulan orang-orang sehat. Dari Bu-lik saya, saya jadi percaya bahwa mukjizat, keajaiban, atau apapun namanya itu memang benar-benar ada. Dari seloroh Kakek saya tentang kesedihan, saya menyadari bahwa selama ini kita seringkali bersedih dengan cara yang tidak tepat. Seorang yang baru diputus pacarnya tak selayaknya bersedih seperti orang  yang baru ditinggal mati kakeknya; Seorang yang tak punya rezeki untuk bepergian ke luar negeri tak selayaknya meratapi nasib seperti orang yang sudah tak bisa bangkit dari kasurnya sendiri; dan seorang yang belum mampu membeli barang-barang idamannya (mobil, sepatu, i-Phone) tak sepatutnya bermuram durja seperti orang yang belum mampu melunasi tanggungan obatnya. Sementara dari Bapak saya, saya menyadari bahwa laku malas dan gampang menyerah adalah dosa terbesar umat manusia.

tulisan ini pertama dimuat di www.kibul.in
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018