bagus panuntun

berubah!

Pagi tadi saya berkunjung ke rumah Tuan Karsoma, ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Desa Tanjungwangi.


Tuan Karsoma adalah petani desa pertama yang langsung mempraktikkan jurus-jurus membuat pupuk setelah bulan lalu mengikuti pelatihan membuat pupuk cair dari sampah organik yang diadakan lembaga tempat saya bekerja.

Ia sosok panutan sejati. Tuan Karsoma pertama memilah sampah non-organik untuk ia kilokan sehingga malih jadi pundi-pundi rupiah yang bisa buat beli rokok Dji Sam Soe. Kedua, Tuan Karsoma memilah sampah organik dan masih juga punya waktu untuk memisahkan yang kering dan yang basah.

Sampah organik yang kering ia diamkan dalam bak semen selama beberapa minggu dan setelah kering ia ayak untuk menjadi abu yang konon penuh nutrisi dan disukai ubi-ubi.

Sampah Organik Kering
Pupuk Organik Kering

Sementara itu, sampah organik basah ia tumpuk di atas jaring yang dimasukkan ke dalam tong, supaya tumpukan buah dan sayur membusuk, dikerubuti lalat, dihinggapi belatung, semakin meleleh, lalu jadi berkah setelah menetes-netes ke dasar tong, dan siap dialirkan melalui kran.

Berikut saya tuliskan cara singkat membuat pupuk cair seperti yang dipraktikkan Tuan Karsoma,

Bahan: Tong/Ember, tutup tong/tutup ember, jaring, kran.

1. Pasang jaring di dalam tong, kasih jarak kira-kira 20 cm dari dasar tong.


2. Lubangi bagian bawah tong untuk pasang kran.


3. Lubangi bagian atas tong, kira-kira 3 lubang seukuran lubang hidung orang kaukasian (lubang ini digunakan untuk keluar masuk lalat yg membantu proses pembusukan)

.
4. Taruh sampah organik basah di atas jaring. Sebaiknya berupa sayur atau buah saja - jangan taruh mayat meski mayat banyak mengandung zat cair, kau harus khawatir jika arwahnya makin sulit diterima surga.


5. Tutup rapat tong dan diamkan selama beberapa minggu sampai sampah membusuk dan mencair.
6. Alirkan pupuk cair melalui kran, masukkan ke dalam botol.
7. Sebaiknya jangan diminum.

Sekian.


Sejak menjadi mahasiswa sastra dan penjual buku sastra lalu sering bertemu dengan orang-orang yang mengaku menyukai sastra, ada satu anekdot menggelikan yang kerap saya dengar dari mereka: bercita-cita menjadi petani di wilayah yang jauh dari hingar bingar kota untuk menjalani hidup yang damai.
Pernah dengar mimpi semacam itu? Atau barangkali kamu sendiri yang mendambakannya?
Imajinasi macam itu barangkali hadir dari banyak penggambaran kehidupan pedesaan yang identik dengan suasana tentram, adem ayem, dan gemah ripah loh jinawi. Sejak masih SD, misalnya, kita seringkali membaca puisi-puisi tentang indahnya alam, kisah liburan di rumah nenek di desa, hingga lukisan mooi indie yang terpampang di dinding-dinding kelas, yang menggambarkan hijaunya sawah dengan latar belakang gunung, sungai jernih, pohon-pohon kelapa, dan para petani yang tengah menyemai padi dengan sumringah.

Tetapi, saya terus bertanya-tanya apa yang membuat banyak pecinta sastra—termasuk sebenarnya  banyak pecinta musik indie, aktivis kiri, dan seniman artsy— begitu mendambakan hidup menjadi petani desa. Persoalannya, kita tahu ada banyak sekali karya sastra yang justru menghadirkan desa sebagai ruang yang pelik dan penuh masalah. Karya-karya Ahmad Tohari,  Kuntowijoyo, atau Mahfud Ikhwan, misalnya, seringkali menggambarkan desa dengan penduduknya yang penuh prasangka, norma-norma yang terlalu mengikat, praktik-praktik korupsi pejabatnya, hingga orang-orang kecil macam petani, tukang batu, atau pedagang gorengan, yang kerap menjadi korban dari sistem kehidupan di sana.

Bagi saya yang lahir dan tumbuh besar di desa, dan kini juga bekerja di desa, impian jadi petani nampak lebih garib lagi. Hari ini, saya melihat bahwa kehidupan petani di desa tidak sesyahdu yang sering kita bayangkan. Kebetulan, saat ini saya sedang meneliti permasalahan pertanian di Desa Tanjungwangi, Subang. Dari penelitian ini, saya bertemu dan berbincang dengan puluhan petani. Dari berbagai perbincangan itulah, ada satu masalah yang kini sangat mereka risaukan: mereka tak lagi punya penerus yang bisa mengolah sawah atau ladang mereka. Bahkan dari cerita-cerita mereka, mereka tak punya lagi anak kandung yang bisa memegang cangkul. Alhasil, mereka memperkirakan bahwa dalam 30-40 tahun ke depan, sawah dan ladang yang saat ini mereka garap akan dijual kepada para pebisnis tanah. (Wow, bisa kita bayangkan kan betapa menggiurkannya bisnis menjadi mafia tanah dalam beberapa dasawarsa ke depan?)
Kembali ke pembahasan utama tulisan ini, ngibul kali ini tentu tidak hadir untuk menyinyiri semata mimpi aduhai para pecinta sastra. Saya malah sangat mendukung siapapun yang punya cita-cita tersebut, wong saya juga masih haqqul yaqin bahwa kelak saya akan punya kebun sayur di Wonosobo. Masalahnya, sudahkah kita punya modal atau persiapan untuk menuju ke mimpi yang namaste itu? Saya sih menduganya, belum. Bahkan, saya was-was kalau impian tersebut pada akhirnya hanya angan-angan yang tidak pernah ditindaklanjuti.

Lalu, hal kecil apa yang misalnya bisa kita lakukan?

MEMAHAMI HUBUNGAN MENANAM DENGAN MEMBACA
Begini, pertama kita harus memahami bahwa sedikit banyak, ada kaitan antara menanam dengan membaca. Terbuat dari apa buku yang kita baca? Yak benar, buku terbuat dari kertas, dan bahan baku kertas terbuat dari pohon, bukan dari secangkir kopi dan senja. Bicara soal kertas, sejarah dunia sebenarnya sudah membuktikan bahwa kertas memang sangat penting bagi kehidupan manusia. Kertas, misalnya, menjadi bagian dari dimensi kultural manusia untuk mengekspresikan dirinya. Lewat kertas, manusia mulai membuat puisi, cerita, surat, hingga kemudian makalah, esai, sampai berbagai penelitian. Penyebaran kitab-kitab suci di muka bumi bahkan menjadi efektif sejak ditemukannya kertas sebagai media penulisan. Singkat kata, kertas sangat berpengaruh dalam memajukan peradaban umat manusia.

Yang barangkali tidak kita tahu, ada peran ekologis dari kertas yang berpengaruh negatif dalam kehidupan manusia. Saat ini dalam kurun waktu satu tahun, ada lebih dari 400 juta ton kertas yang diproduksi di seluruh dunia. Angka tersebut membuat industri kertas menjadi industri ketiga di dunia yang menghasilkan polusi tertinggi di udara, air, dan minyak. Selain itu, kertas juga dianggap berpengaruh terhadap masalah deforestasi di muka bumi sebab, 14 persen dari hasil produksi kayu dunia digunakan untuk bahan baku kertas.
Selain itu, untuk memproduksi 1 ton kertas maka dibutuhkan setidaknya 17 pohon. Dari angka tersebut, jika dihitung-hitung, maka 1 pohon sebenarnya bisa digunakan untuk memproduksi 58 kg kertas. Berapa buku yang bisa diproduksi dari 58 kg kertas? Jika kita ambil rata-rata berat buku adalah 400 gram, maka ada 145 buku yang bisa diproduksi dari 1 buah pohon.
Maka, kini kita tahu, bahwa jika kita punya 145 buku di rak perpustakaan pribadi kita, maka setidaknya ada satu batang pohon yang sudah ditebang. Sementara itu, satu pohon setidaknya berfungsi menghasilkan oksigen untuk 3 manusia.
Melihat angka tersebut, sebenarnya kita bisa memberikan kontribusi kecil pada bumi dengan setidaknya menanam 1 pohon jika sudah punya 145 koleksi buku. Tidak berat-berat amat kan? Angka menanam satu pohon itu minimal lo. Minimal banget.
Tapi, sudahkah kita melakukannya? Ehm, jangankan menanam pohon, menanam cabai pun barangkali kita tidak pernah. Lah minat menanam kita saja masih nol?

MENUMBUHKAN MINAT MENANAM BAGI PECINTA SASTRA

Beberapa hari lalu, teman saya, Henry Satria Hutabarat, mengirimkan dua video tentang dampak pembabatan hutan di Indonesia. Video pertama memperlihatkan seekor orang utan yang muncul di tengah lokasi penebangan hutan di Kalimantan. Orang utan itu nampak berusaha menghentikan traktor dan melawan para pekerja yang ada di hadapannya. Sementara video kedua memperlihatkan puluhan orang dari suku pedalaman di Maluku Utara yang terpaksa keluar hutan dan masuk ke pemukiman warga untuk mengiba-iba dan menangis meminta makan. Dua video tersebut mau tak mau membuat saya berpikir keras mengapa seiring kita bertumbuh dewasa, alam rasanya semakin diperlakukan tidak adil oleh manusia. Atas nama pembangunan dan kemajuan, alam liar berangsur-angsur dibabat untuk digantikan beton dan gedung-gedung. Dan hasilnya, hutan kita jadi kopong.
Sementara hutan semakin ditebangi, minat menanam justru makin menyusut. Di sisi lain, publik sastra masih sering menempatkan alam dalam imajinasi yang terlalu romantis. Sekadar bermimpi menjadi petani di pinggir pedesaan tanpa ada kemauan sama sekali untuk belajar menanam, saya kira adalah satu dari tindakan snob yang perlu kita ubah.

Dari permenungan ini, saya kemudian mendapat ide inovatif untuk lapak jualan saya, Warung Sastra. Yak, bagian ini mungkin agak mengandung promosi ya, hehe. Tapi bagaimanapun, sebagai penjual buku sastra, saya menyadari bahwa saya adalah subjek yang juga berperan dalam isu yang sedang kita bahas. Maka, saya membuat satu terobosan baru dari penjualan buku di lapak kami. Insyaallah, mulai bulan Juli, kami akan berupaya menyebarkan semangat kecil untuk menyadarkan bahwa “Minat menanam sama pentingnya dengan minat membaca”. Wujud kongkritnya, kami akan memberikan beberapa benih bunga atau sayuran bagi siapapun yang membeli buku di Warung Sastra. Bonus benih ini akan mulai diberikan setelah launching website kami yang saat ini masih dalam proses penggarapan. Harapannya, berawal dari tumbuhnya minat menanam, maka tumbuh pula kesadaran untuk lebih terlibat dalam upaya pelestarian alam. Berawal dari menanam bunga matahari, bunga telang, atau sawi dan tomat, barangkali kerja melestarikan alam jadi lebih semangat.

Ada pelbagai jalan untuk mencintai dan menjaga alam. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah menumbuhkan minat menanam pada orang-orang terdekat. Masing-masing dari kita bisa memberikan kontribusi kecil sesuai bidang yang kita tekuni. Toh saya kira, keterkaitan antara sastra dengan menanam juga sebenarnya sudah ada sejak jaman dahulu, sebagaimana dikatakan Voltaire dalam penutup novel klasik Candide yang terkenal itu “cela est bien dit, mais il faut cultiver notre jardin” yang mungkin bisa kita maknai lagi sebagai “sastra adalah pepesan-pepesan yang bagus, tapi bagaimanapun, kita juga harus merawat kebun kita”.


hidup segan
mati tak mau

perbanyak tidur saja

“Pantas Thanos ingin menghabisi setengah makhluk hidup ya!”

Saya tengah terjebak macet Kota Bandung ketika keluhan itu keluar dari mulut saya. 30 menit sebelum berada di angkot ini, saya baru saja menonton Avengers: Infinity War dan masih hangover setelah melihat Thanos mengosak-ngasik para superhero hingga mereka keruntang-pungkang dan depresi.
Kali ini giliran saya yang depresi. Siapapun yang sering bepergian di kota ini tentu tak asing lagi dengan kemacetan kota yang sudah pilih tanding dengan kemacetan Jakarta. Perjalanan yang harusnya bisa kita tempuh dalam 10 menit, bisa-bisa belum tuntas setelah satu jam. Parahnya, macet ini membuat kita tak mungkin lagi percaya bahwa dunia akan jadi lebih baik. Jumlah penduduk kota makin bertambah, sementara pertumbuhan ruas jalan tak sebanding. Di sisi lain, ekspansi pasar mobil dan motor telah mencapai titik gila-gilaan yang membuat siapapun bisa punya kendaraan pribadi. Bagaimana menguraikan masalah ini? Dengan walikota gaul yang konon jenius itu pun masalah ini sama sekali tak nampak lebih baik. Tambah parah, iya. Lalu bagaimana mengatasinya?
Seperti kata Thanos: habisi setengah makhluk hidup! Cepat, singkat, adil pula. Tak pandang ras, tak pandang kaya-miskin, bahkan tak pandang kualitas iman. Semua sama di mata Thanos: layak lenyap.
Tapi seketika saya terkesiap ketika lewat di depan Pasar Gandok. Tiba-tiba saya teringat bapak-emak saya yang juga seorang pedagang pasar.  Lalu saya membayangkan seandainya mereka jadi salah dua korban Thanos. Sungguh tidak adil jika mereka harus lenyap dari muka bumi karena dianggap membuat dunia tidak seimbang. Apa dosa orang-orang desa macam bapak-emak saya? Mereka yang tiap hari tandhur, makan secukupnya, tidak pernah menyerap sumber daya alam berlebih, dan rajin sholat pula, bukankah sosok-sosok yang justru membuat dunia jadi lebih baik?
Baiklah, saya mulai meragukanmu meski belum sepenuhnya tak setuju dengan idemu, Thanos! Tapi saya mulai curiga, jangan-jangan selama perjalanan langlang buanamu mengelilingi planet-planet, kau hanya hanya turun di kota-kota besar saja? Jangan-jangan kau hanya tahu tempat-tempat macam Bandung atau New York? Jangan-jangan kau hanya seorang bocah metropolitan Titan yang sama sekali tak tahu ada tempat yang tentram macam Nglipar atau Kalipetung?
Di titik inilah saya mulai mempertanyakan ide besar Thanos. Darimana Thanos mendapat ide segila itu? Keheranan saya datang sebab pertama, Thanos bukan seorang psikopat. Tak seperti Joker dalam Batman atau Hidan dalam Naruto, Thanos tidak membunuh untuk bersenang-senang. Hal ini terlihat misalnya ketika Thanos tak segera meremukkan kepala Thor di fragmen pertama Infinity War. Kedua, Thanos nampaknya tak punya masa lalu yang kelam-kelam amat. Sebagian besar villain, kita tahu, adalah tokoh-tokoh dengan masa lalu sangat kelam yang akhirnya memilih menjalani sisa hidupnya dengan merusak dan membalas dendam. Bukankah kisah “pengkhianatan” Gamora terhadap Thanos juga bukan kisah cinta yang pedih-pedih amat? Kalau Thanos mau merenung sedikit, kepergian Gamora bahkan tak pantas disebut pengkhianatan. Kita tahu, Gamora pergi bukan untuk bergabung dengan pihak lain. Gamora pergi semata karena ia muak dengan orang tua asuh yang hanya mendidik anaknya untuk adu jotos dan bahkan menyiksanya sedari kecil.
Jikalau Thanos benar memiliki masa lalu kelam, satu-satunya hal yang menurut saya paling masuk akal adalah pengalaman Thanos ditertawakan orang-orang seplanet Titan karena idenya.
Masalahnya, apakah Thanos memang tidak layak ditertawakan untuk ide fantastisnya tersebut? Kita mungkin masih bisa memaklumi jika misalnya Thanos mendapat ide itu dari wahyu kitab kuno atau  kitab suci. Tapi kita tahu, Thanos tak berpijak pada hal tersebut, apalagi kajian ilmiah.
Maka saya mulai memikirkan hipotesis selanjutnya: alasan ideologi.
Sepanjang sejarah peradaban manusia, kita tak asing lagi dengan orang-orang yang melakukan banalitas kejahatan macam Thanos atas nama filsafat atau ideologi. Pol Pot misalnya, tokoh yang membantai dua juta rakyat Kamboja atas nama kesetaraan kelas ini adalah penganut komunisme agrarian. Ia percaya bahwa pada dasarnya manusia harus hidup tanpa sekat kelas dan setiap orang harus mengolah tanah dengan cara yang adil. Bagaimana cara mencapai tujuan itu? Paksa orang untuk jadi petani. Kalau tak mau, bunuh saja. Siksa mereka pelan-pelan sampai akhirnya mati. Daftar nama ini tentu masih bisa bertambah jika kita menyebut ideolog lain seperti Adolf Hitler dengan antisemitisnya atau Abu Bakr Al-Bahgdadi dengan kekhilafahan ISIS-nya.
Pertanyaan selanjutnya, apa ideologi Thanos sebenarnya?
Setelah merenung beberapa saat, saya menyimpulkan bahwa Thanos adalah seorang penganut ekosofi, yaitu sebuah aliran filsafat yang berusaha memahami sebab-musabab terjadinya ketidakseimbangan di alam semesta. Aliran ini dipelopori oleh filsuf sekaligus aktivis lingkungan asal Norwegia bernama Arne Naess (1912-2009). Naess sebagaimana para ekolog sebelumnya, meyakini bahwa perkembangan peradaban tidak berbanding lurus dengan bijaknya manusia dalam memahami alam.
Ia selanjutnya menganggap penyebab utama dari fenomena ini adalah pencerahan abad 18 yang menjadikan manusia sebagai pusat dari kehidupan. Filsafat cartesians yang menjadikan rasio sebagai pusat dari subjek juga dianggap sebagai bibit dari gagasan antroposentris, yaitu gagasan yang menyatakan alam hanya berharga dalam konteks kegunaannya terhadap kesejahteraan manusia. Akibat hal tersebut, bumi pun mengalami kerusakan. Rasio manusia modern yang selalu memiliki justifikasi untuk menyedot segala sumber daya alam telah membuat bumi jatuh dalam hiper-industrialisasi dan nampak makin tak punya harapan.
Naess kemudian merumuskan solusi atas permasalahan ini. Ia merumuskan ekosofi sebagai filsafat yang tak hanya berpijak pada rasio tetapi juga pada emosi sebagai cara kita memahami alam. Menurut Naess, selama ini dualisme rasio dan emosi merupakan sebab berbagai kesalahpahaman daya imajinasi dan daya pikir kita terhadap alam. Oleh karena itu, manusia harus mulai berubah: ia harus melibatkan emosinya dalam memandang alam. Dengan cara ini, Naess percaya bahwa selanjutnya manusia akan menemukan alam sebagai entitas yang magis dan sakral, yang pada akhirnya membuat kita menyadari bahwa kita adalah entitas yang satu dengan alam.
Thanos saya yakin adalah seorang ekosofis. Ia pertama-tama mewakili kekhawatiran paling mendasar para ekosofis yaitu bahwa “alam belantara merupakan sumber daya yang hanya bisa menyusut, tetapi tidak dapat bertumbuh”. Sebagaimana ide dari Arne Naess, Thanos juga contoh sempurna dari bagaimana seorang makhluk memiliki sentimentalitas yang luar biasa kuat dengan alam. Demi menyelamatkan semesta, ia bahkan ingin menumbalkan Gamora, satu-satunya makhluk di dunia yang konon ia cintai. Thanos dengan kesedihan yang tak dibuat-buat juga sangat mengkhawatirkan dunia sebagai tempat yang akan dilingkupi kemiskinan, kelaparan, perang, penyakit, dan kematian. Tak tanggung-tanggung, Thanos akhirnya punya misi yang terdengar sangat mulia: mengembalikan keseimbangan kosmis.
Sayangnya meski terdengar mulia, sebenarnya ada permasalahan besar pada sosok kita satu ini: ia terlalu berlebih dalam melibatkan sisi emosional sampai hampir menihilkan rasionya. Di titik ini, ia bukanlah ekosofis seperti apa yang diharapkan Arne Naess. Pada akhirnya, Thanos memang seorang ekosofis, tapi ekosofis yang cacat pikir: ekosofis imbesil.
Hei, Thanos! Jika kau mau berpikir sedikit saja, maka kau akan sadar bahwa dunia mungkin tak se-nirharapan yang kau bayangkan. Kau misalnya bisa sedikit berimajinasi bahwa masih ada banyak sekali planet yang kosong. Dengan space stone, kau seharusnya bisa memindahkan makhluk hidup dengan mudah. Kau juga perlu mikir dikit bahwa permasalahan overpopulasi yang kau khawatirkan sebenarnya tak bisa disimplifikasi sebagai penyebab utama ketidakseimbangan kosmis.
Memang benar saat ini penduduk dunia semakin bertambah. Jika kita merujuk pada Planet Bumi, saat ini Bumi sudah ditinggali 7,6 milyar penduduk dan pada 2050 diproyeksikan mencapai 10 milyar. Tetapi data dari FAO (Food and Agriculture Organization) PBB—sebuah organisasi pangan internasional planet kami—menyatakan bahwa wabah kelaparan telah mengalami angka penurunan dari angka 18,6% pada 1991 menjadi 10,8% pada 2015. Angka kelahiran bayi juga mengalami penurunan yang signifikan. Jika dulu kakek-nenek kami bisa beranak-pinak untuk membentuk kesebelasan, orang tua kami rata-rata hanya punya 2 atau 3 anak saja.
Fred Pearce (1951-sekarang), seorang peneliti bidang lingkungan lulusan Cambridge University—salah satu universitas terbaik di planet kami—bahkan menyatakan jika permasalahan utama Bumi bukanlah overpopulasi, tetapi overkonsumsi. Menurut Pearce, permasalahan yang saat ini kami hadapi datang dari tingkat konsumsi masyarakat negara maju yang mengonsumsi makanan melebihi apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Ujung-ujungnya, permasalahan yang saat ini sedang kami hadapi sebenarnya adalah masalah pemerataan pembagian sumber daya alam, bukan kekurangan sumber daya alam. Dari sini kita tahu, bahwa Bumi mungkin sedang tidak baik-baik saja, tetapi menghabisi setengah makhluknya sama sekali bukan solusi yang tepat.
Hei, Thanos! Apa kau sempat berpikir sejauh itu? Saya yakin tidak. Sebab kita tahu, kau hanyalah monster ungu jelek yang kelewat baperan tapi tak pernah pakai otak.
Sudah jelek, baperan, malas mikir pula. Kau ini penguasa semesta apa netizen?
Ah, Thanos! Panas kota Bandung yang kering kemarau membuat saya tersadar bahwa saya masih berada di dalam angkot. Sulit dipercaya bahwa selama 30 menit, saya baru saja memikirkanmu dengan keras. Juga soal keselamatan dunia. Hei, nampaknya saya sudah jadi ekosofis juga. Tapi kalaupun iya, tentu saya harus jadi ekosofis yang berpikir. Tidak sepertimu.
Sial! Saya telah tersadar dan kembali berada di tengah kemacetan yang mengular. Tapi ada yang lebih menjengkelkan. Samar-samar terlihat baliho besar bertuliskan “Jabar Asyik!”. Di dalam baliho itu, nampak seorang politikus berpeci hitam tersenyum lebar sambil menyorongkan jempolnya: Sip. Sementara itu, di bagian bawah baliho terlihat logo-logo partai politik pendukung yang berjajar horizontal. Lalu seketika saya cekikikan. Saya teringat kembali Thanos dengan 6 akiknya yang warna-warni. Tapi kali ini saya tak membayangkan keampuhan akik yang luar biasa itu. Saya justru curiga, jangan-jangan akik ini adalah metafor dari kekuasaan. Jangan-jangan mind stone adalah Golkar, reality stoneadalah PDIP, space stone adalah NasDem, time stone adalah PKB, dan seterusnya.
Duh Gusti, monster ungu dengan janggut mirip gethuk lindri yang bertaut dengan kemacetan kota dan jempol politikus memang bisa bikin gila. Tapi tak apa lah. Setidaknya dari sini saya mendapat pesan tersirat Infinity War: makhluk imbesil yang diberi kekuasaan terlalu besar, hanya akan membuat dunia jadi remuk redam.

Sumber Bacaan:

Chamary, JV. 2018. Is Thanos Right About Killing People In ‘Avengers: Infinity War’?, [online]
Dewi, Saras. 2018. Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam: Marjin Kiri
Pearce, Fred. 2010. The Overpopulation Myth: Overconsumption is the real proble, [online]




Ada satu-dua-tiga-dst hal yang sangat saya nikmati dari pekerjaan saya. Dan salah satunya adalah letak kantornya.

Kantor ini terletak di Desa Tanjungwangi, Subang. Kota kelahiran @kaniasard yang tadinya saya kira hanya diketahui pribumi Subang dan Gusti Allah. Seperti nampak di foto, kantor ini terletak tepat di sebelah sungai. Jadi selama bekerja, kau bisa mendengar suara alirannya yang gemericik, aduhai, dan menyegarkan. Kalau bosan bekerja, kamu bahkan bisa langsung mancing ke depan. Biasanya, di sela-sela jam kerja, saya izin sebentar untuk merokok sambil melihat arusnya.

Tapi sebagaimana kita tahu, tak ada yang tak kecu dalam hidup. Setelah menikmati 8 jam kerja yang banyak main dan diskusinya, saya harus kembali ke rumah yang membuat saya lebih suka kerja daripada istirahat, lebih suka ramai daripada sendiri, lebih suka Jogja daripada Subang.

Rumah saya di sini adalah rumah yang disewakan lembaga untuk tempat tinggal saya. Seperti halnya kantor, rumah ini juga terletak di sebelah sungai tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Letaknya dengan tetangga terdekat sekitar 10 meter. Lumayan jauh. Sehingga yang bisa saya dengar selama berada di dalam hanyalah deras arus.

Awalnya saya senang dengan rumah ini. Sudah gratis, jauh dari keramaian pula. Saya pikir ini tempat yang sempurna untuk melepas penat dan membaca buku.

Tapi semua bayangan itu keliru.

Dimulai dengan perasaan tidak enak sejak melihat almari tua yang mirip pintu ke Narnia, saya makin mikir aneh-aneh sejak tahu ada 3 kamar di rumah itu dengan dua kamar yg kosong - satu kamar di tengah adalah kamar saya.

Satu kamar yang membuat saya tak habis pikir adalah kamar paling pojok, tepat di sebelah almari. Kamar itu berukuran memanjang 1 x 3 meter. Mirip lorong. Anehnya, kamar itu tak punya jendela dan benar-benar mirip ruang isolasi penjara. Saya sempat memasukinya dan mendadak mual. Saya tak membayangkan jika saya mencoba duduk di dalamnya, 5 menit saja. Mungkin saya akan merasa seperti sedang tidak di dunia.


Ruang tengah rumah ini juga kelewat luas. Di pojok ruang dekat pintu ke dapur, ada satu meja makan bundar yang dikelilingi 4 kursi. Letak meja dan kursi itu terlalu mojok dan rasanya sangat tak nyaman seandainya saya harus makan malam di sudut itu. Belum lagi lampu kamar mandi dan dapur tak bisa dinyalakan meskipun sudah diganti. Listrik pun sempat anjlok sendiri, padahal saat itu saya hanya menyalakan lampu kamar. Tanpa laptop, tanpa cas HP.

Lucunya, tiap berada di kamar, saya bisa merasa tenang. Aura kamar yang saya tempati berbeda sekali dengan ruang-ruang di sekitarnya. Mungkin karena pencahayaan di kamar saya yang cukup terang.

Tapi begitu keluar ke ruang tengah meski cuma sejengkal, saya langsung merinding. Sempat saya paksa duduk 10 menit di sana, kepala saya pening tidak karuan. Ya sudah lah akhirnya saya tinggal tidur saja. Eh la kok, tiap satu atau dua jam saya terbangun. Kenapa? Karena rep-repan dan mimpi kecu.

Mimpi saya kira-kira begini. Saya terbangun dari tidur, lalu keluar menuju ruang tengah. Anehnya, di ruang itu semuanya basah. Dimana-mana air menggenang, agak kehitaman. Lalu dinding penuh lumut dan kerak. Seperti rumah kosong yang baru digampar banjir. Lalu di pojokan sana, dekat pintu menuju kamar mandi dan di sebelah meja makan, seorang yang buruk rupa dengan pakaian serba hitam berjalan ngesot, menatap saya dengan tatapannya yang pedih. Setelahnya, saya tak ingat apa-apa lagi kecuali saya langsung terbangun dengan tubuh berkeringat.

Di sela-sela kepanikan itu, akhirnya saya memaksakan diri membaca buku biografi Karl Marx. wqwqwq. Absurd memang. Tapi cukup menghibur diri yang immateralis ini.

Akhirnya saya merasa cukup berada di situ dua malam saja. Sebab, tinggal di situ membuat saya merasa malam terlalu panjang dan terang tak kunjung datang.

Di hari ketiga saya berada di Subang, saya minta ngungsi ke salah satu rumah staf desa. Ketika mendengar hal tersebut, alih-alih merasa kesal, orang-orang desa justru menertawakan saya bareng-bareng. Beruntunglah hamba yang akhirnya bertemu dengan Pak Odang, ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Desa Tanjungwangi yang sejak itu jadi papa piara saya hingga hari ini, he he he.


Ketika di hari ketiga saya tidur di rumah Pak Odang, di hari itulah saya bisa tidur nyenyak untuk pertama kalinya. Saya bahkan yakin saat itu saya tertidur sambil tersenyum. wqwq. Dan ketika pada akhirnya terbangun dengan sangat segar di pagi hari, saya langsung berpikir: mungkin begini rasanya khusnul khotimah.

Tanjungwangi, 15 Maret 2018
Pagi dingin menyapa dari ujung Obi

Langit jingga nampak cerah dari jendela

Dan ku bergegas berlari ke tepian pantai

Lihat sunrise yang indah menggugah seluruh jiwaku


*bridge
Pada suatu senja mama panggil kita

Cepat pulang ke rumah makan ikan goropa

Lembut luar biasa lezat tiada terkira

Aduh ikan goropa

Semua bisa kau dapat


*reff
Di Pulau Obi yang permai

Pulau Obi yang cantik

Ingin ku pergi lagi ke sana bermain bersama

Orang Obi yang damai

Orang Obi yang baik

Ingin ku pergi lagi berjumpa bernyanyi bersama

Bersamamu


*rap
Dari Ternate bisa naik kapal Obi Permai

Lalu berhenti sampai Pelabuhan Jikotamo

Naik Oto sampai Sampai Sambiki atau Desa Anggai

Atau Airmangga yang letaknya di ujung lao

Disambut warga Obi dengan kuliner bergizi

Gopoa, ake, fofoki, bole, bia, dan nao

Lalu malam kita joget baronggeng sampai pagi

Sampai lupa Jawa dan tak ingin kuliah lagi

*kembali ke bridge



Catatan:

Lagu ini bergenre reggae dan saya ciptakan ketika sedang kangen-kangennya pada KKN di Obi. Beberapa teman seperti Andre, Apoy, Ongri, dan Mas Riza sudah mendengar lagu ini, dan kata mereka lagu ini bagus dan asik.

Awal bulan Mei saya akan ke Bandung dan membeli gitar. Lagu ini nanti akan saya rekam dan unggah di sebuah akun baru di IG yang berisi lagu-lagu yang pernah saya buat dan beberapa lagu cover. Ya biar seperti @kisumindi. Tapi akun ini tidak akan saya bagikan alias hanya untuk diri sendiri.

Dalam sebulan terakhir, sikap ekstrovert saya serasa meredup, haha. Mungkin karena saya ingin berkarya lagi, supaya lebih produktif, lebih banyak waktu untuk belajar. Supaya tekad aktif ngeblog di awal tahun terlaksana.
putus baik-baik itu putus yang gimana mas?

putus baik-baik itu, putus yang tidak balikan teh. xixixi.

seriusan.

mungkin begini, putus tapi bukan karena tidak setia. mereka sama-sama sadar saja, jika terus bersama maka akan menghambat mimpi masing-masing dan akhirnya susah cari kebahagiaan lain.

bukankah ada jalan tengahnya?

adanya jalan kenangan.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018