bagus panuntun

berubah!


Dalam Ngibul kali ini kita akan membahas novel Le Dernier Ami karya Tahar Ben Jelloun, sastrawan asal Maroko yang dikenal sebagai salah satu sastrawan terbesar Afrika Maghreb (Barat Daya) abad 20. Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Sahabat Terakhir oleh Slamet P. Sinambela dan diterbitkan penerbit Basa-basi bulan lalu, Agustus 2018.

Bicara tentang Tahar Ben Jelloun tentu tidak bisa dipisahkan dari salah satu novelnya La Nuit Sacrée (Malam Keramat) yang meraih Prix Goncourt, penghargaan tertinggi untuk karya sastra berbahasa Prancis, tahun 1987 di mana karya tersebut kini telah diterjemahkan dalam 43 bahasa. Ia terkenal dengan karya-karyanya yang secara ekspresif berbicara tentang budaya Maroko, hak asasi manusia, identitas seksual, dan kegamangan identitas masyarakat pascakolonial.

Ben Jelloun sendiri dikenal sebagai salah seorang penulis sastra francophone. Apa itu sastra francophone? Sebelum melanjutkan tulisan ini, izinkan saya terlebih dahulu menjelaskan secara singkat definisi kata tersebut. Sebab, rencananya saya akan lebih sering menulis tentang karya-karya francophone di Ngibul-ngibul selanjutnya.

Jadi begini, sastra francophone adalah sebutan untuk menyebut salah satu khazanah sastra berbahasa Prancis, tetapi ditulis oleh pengarang dari luar Prancis. Biasanya, mereka adalah penulis yang berasal dari negara-negara bekas jajahan Prancis. Oleh sebab itu, tak jarang sastra francophone digolongkan sebagai sastra pasca kolonial. Dalam artian, sastra francophone mempermasalahkan persoalan bahwa meskipun penjajahan telah lama berlalu, namun  trauma-trauma akibat penjajahan  terus berlangsung hingga saat ini.

Meskipun istilah sastra francophone masih asing bagi sebagian besar orang Indonesia, namun sebenarnya khazanah sastra ini sudah masuk ke Indonesia sejak lama. Di antara para pengarang francophone yang karyanya pernah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia antara lain Jean Marie Gustave le Clezio asal Mauritius, Amin Maalouf asal Lebanon, dan tentu saja Tahar Ben Jelloun sendiri. Kibul sendiri pernah menerbitkan salah satu terjemahan cerpen dari penulis francophone asal Kongo, Emmanuel Dongala, dengan cerpennya yang berjudul Kereta Hantu.

Kembali ke novel Le Dernier Ami. Novel ini bersetting di Maroko penghujung 1950-an. Di tengah semangat perayaan pasca kemerdekaan atas Prancis, dua bocah, Ali dan Mamed bertemu di SMA Prancis (lycée français). Mamed adalah bocah yang kasar dan arogan, sementara Ali bocah yang naif lagi cupu. Suatu hari Mamed membela Ali yang dirundung teman-temannya karena berkulit putih dan dianggap mirip Yahudi. Semenjak itu mereka berteman, sering pergi bersama, mendiskusikan politik dan buku secara serampangan, dan terutama terobsesi pada obrolan tentang seks.

Pertemanan mereka terus berlanjut hingga 30 tahun selanjutnya, tak peduli Mamed kuliah di Prancis, Ali kuliah di Kanada. Mamed komunis dan kiri, Ali anak film dan seni. Mamed pergi di Swedia, Ali menetap di Maroko. Kedekatan mereka makin terikat erat ketika mereka sempat dijebloskan bersama ke penjara dan kamp militer paksa oleh rezim otoriter Raja Hassan II yang menuduh mereka sosok berbahaya bagi negara.

Kisah pertemanan Mamed dan Ali tersebut diceritakan melalui tiga sudut pandang: sudut pandang Ali, Mamed, dan seorang yang mengenal mereka bernama Ramon. Masing-masing narator menceritakan kisah yang sama namun dengan subjektivitas masing-masing dan dari situlah kita sebagai pembaca seperti diajak menambal sulam apa yang terselip di antara persahabatan mereka.  Buku ini menunjukkan bahwa di sela pertemanan yang begitu intens dan seolah sempurna, selalu ada kata-kata yang tak tersampaikan di antara keduanya.

Menelanjangi Konsep Persahabatan

Apa kau punya seorang yang kepadanya kau lebih nyaman menceritakan perihal apapun ketimbang dengan pacar  atau bahkan orang tuamu? Yang kepadanya misalnya kau berani terbuka soal berapa nominal hutang-hutangmu—atau bahkan hutang bapakmu. Bersamanya, kau bisa menceritakan apa saja mulai dari hal paling receh sampai yang paling privasi.

Hampir setiap orang saya kira punya setidaknya satu teman seperti itu. Dan dalam novel ini, pertemanan Ali-Mamed yang begitu eratnya tersebut dideskripsikan Ali sebagai berikut:
Kami memuji satu sama lain, kami saling memerlukan. Kami berdua saling mengakui ini dan kami bangga karenanya. Seperti aku, Mamed memilih persahabatan, ikatan yang kami pilih, ketimbang ikatan keluarga yang dipaksakan

– 75
Pertemanan Ali dan Mamed pada awalnya memang dinarasikan begitu mesra. Ketika muda, mereka pergi ke tempat pelacuran bersama. Beranjak dewasa, mereka disekap di kamp militer dan saling menyelamatkan nyawa masing-masing. Suatu kali, Ali tersedak dan hampir mati, Mamed berteriak sekencangnya sambil menangis sampai akhirnya dokter datang. Di waktu lain, giliran Ali yang menyelamatkan Mamed yang sekarat karena kram perut. Semalaman, Ali memijat perut Mamed agar ia tetap sadar diri.

Hingga akhirnya Mamed harus pindah ke Swedia, mereka tetap terbiasa saling bertelfon berjam-jam untuk membicarakan perihal apapun, mulai dari keluarga hingga gosip terbaru di kota asal mereka.
Kedekatan mereka bahkan menimbulkan kesan yang ganjil sampai membuat istri mereka masing-masing cemburu. Akan tetapi, di balik pertemanan yang nampaknya begitu erat, selalu ada hal-hal yang tak tersembunyi. Dan Ben Jelloun melalui Le Dernier Ami, seperti hendak menelanjangi apa-apa yang jarang sekali tersampaikan dalam sebuah pertemanan:
“Aku sering cemburu kepada Ali, karena dia lebih berbudaya daripada aku, karena dia berasal dari keluarga yang sebagian aristokrat……..Mengapa aku harus cemburu? Dia tidak terkenal, dia bukan professor kedokteran, bukan penulis hebat

 – 141
Dalam sebuah pertemanan, seorang kadang merasa sedang memupuk kepercayaan, namun bisa jadi yang sebenarnya sedang ia pupuk adalah kecemburuan. Ben Jelloun melalui novel ini seolah hendak menunjukkan bahwa di balik senyum, doa, dan dukungan yang kerap kita lontarkan saat teman kita bercerita, selalu terbesit pikiran untuk tidak percaya, untuk mencurigainya, untuk membanding-bandingkannya. Kecemburuan pada seorang teman, bahkan seringkali berwujud nyinyiran macam ungkapan Mamed berikut:
Ali tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memamerkan latar belakang sastranya—atau lebih tepatnya untuk menunjukkan kekuranganku akan itu .

-144
Dalam novel ini, Ali memang dinarasikan sebagai sosok yang tekun membaca dan menonton film. Di bagian pertama ketika Ali menjadi narator, ia juga menyebut beberapa nama penulis dan sutradara beken macam Albert Camus, Frantz Fanon, Jean Genet, John Ford, atau Howard Hawks. Membaca dan menonton film sebenarnya merupakan hobi Ali sejak lama dan Mamed tahu betul soal ini.

Namun siapa sangka bahwa diam-diam, setelah puluhan tahun berteman, Mamed masih menganggap hobinya Ali sebagai cara pamer saja?

Le Dernier Ami bagi saya seperti teman gibah yang asyik, yang di tengah obrolan tiba-tiba mengajukan beberapa pertanyaan yang mengganggu pikiran, dan kalian sebagai pembaca boleh turut menjawab pertanyaannya.
  1. Sebutkan 1 saja nama teman terdekatmu.
  2. Kapan terakhir kali ia menceritakan satu pencapaian dalam hidupnya?
  3. Pencapaian seperti apa itu?
  4. Menurutmu, apa tujuannya cerita padamu? Berbagi saja, memotivasi, atau biar kelihatan keren?
  5. Kerenan mana, dia apa kamu?

Isu Gender dan Nasionalisme di Maroko

Maroko adalah negara dengan kultur Islam yang kuat akibat pengaruh bangsa Berber yang hidup berabad-abad di wilayah ini. Dominasi Islam ini sempat tersisihkan menjadi dominasi Barat ketika Maroko menjadi daerah protektorat Prancis sejak 1912 hingga 1957.

Pasca kemerdekaan, kultur Islam kembali menjadi kuat, namun di sisi lain Prancis juga masih menanamkan pengaruh yang cukup besar di antaranya dalam bidang budaya dan bahasa. Bahasa Prancis misalnya menurut OIF (Organisasi Internasional Francophonie) masih digunakan oleh 33 persen warga Maroko dan menjadi bahasa Internasional wajib yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Tahar Ben Jelloun adalah salah satu warga Maroko yang mendapat pengaruh besar dari budaya Prancis. Ia tak hanya sempat mengalami masa penjajahan Prancis dan mengenyam pendidikan bahasa ini, namun juga sempat tinggal di Paris sejak tahun 1971.

Akibat pengalaman tersebut, karya-karya Ben Jelloun turut menghadirkan permasalahan yang jamak dialami bangsa-bangsa francophone, yaitu persoalan identitas yang demikian kompleks. Hal ini akibat kehidupan mereka yang di satu sisi memiliki norma-norma tradisional Islam tetapi di sisi lain juga mengenal wacana à la Prancis yang identik dengan modernitas, terutama kebebasan dan kesetaraan. Dalam novel Le Dernier Ami, Ben Jelloun nampak mencoba mengungkapkan tarik-menarik identitas ini dengan turut mengungkap dua isu yaitu gender dan nasionalisme.

Gender Kelas Dua di Tengah Kultur Islam

Isu gender dalam novel ini bisa kita lihat sejak permulaan novel di mana Ben Jelloun menghadirkan sosok Ali dan Mamed sebagai pemuda yang tumbuh dengan nilai-nilai Islam tapi justru terobsesi dengan hal yang begitu tabu di lingkungannya, yaitu seks.

Pada permulaan novel, diceritakan bahwa sekolah mereka sedang mengadakan piknik. Di tengah piknik itu, para murid SMA bermain tantangan jujur-jujuran, mungkin semacam game truth or dare, untuk menceritakan rahasia orang terdekatnya. Pada giliran Mamed, ia memilih mendeskripsikan Khadija, pacarnya di SMA sebagai berikut:
Dia berusia 18 tahun tapi masih perawan. Dia lebih memilih disodomi ketimbang meregangkan kakinya 

– 16
Ketika membeberkan keperawanan Khadija dan bagaimana mereka melakukan hubungan seks, Mamed menceritakan hal tersebut dengan penuh rasa bangga. Ia menganggap Khadija, sosok perempuan, sebagai objek yang sah-sah saja ia beberkan privasinya. Lebih parahnya, Mamed mengungkapkan hal tersebut di depan Khadija sendiri tanpa rasa bersalah. Namun Alih-alih marah dan melawan, Khadijah justru hanya bisa berlari dan menangis. Fragmen tersebut seperti mencerminkan fenomena sosial di Maroko di mana para lelaki bisa mengobjektivikasi perempuan semaunya sementara perempuan tak punya kemampuan untuk melawan.

Menariknya, adegan-adegan dan ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan tema seks dinarasikan Ben Jelloun dengan deskriptif dan sangat jelas. Fragmen-fragmen tentang masturbasi, penetrasi, hingga hubungan seksual di luar cara lazim diceritakan tanpa sensor. Padahal, novel ini bersetting di Maroko, negeri yang identik dengan citra Islam kuat. Di Maroko, obrolan tentang seks sudah pasti merupakan tema yang tabu. Lebih-lebih jika itu berbicara tentang tindakan sodomi atau anal seks.

Melalui fragmen-fragmen bertema adegan seksual yang dinarasikan dengan begitu detil dan gamblang, saya kira Ben Jelloun pertama-tama ingin menyingkap Maroko yang selalu menampilkan dirinya dengan citra Islam, namun sebenarnya mempunyai permasalahan akut dalam cara memandang perempuan, di mana perempuan masih dianggap sebagai gender kelas dua dan objek seksual . Sementara teknik penceritaan yang realis menjadi semacam pesan dari Ben Jelloun, bahwa permasalahan gender di Maroko sebaiknya tak lagi dibicarakan secara diam-diam. Ben Jelloun seperti mewakili sebagian masyarakat Maroko yang berharap bahwa ketidakadilan terhadap perempuan harus menjadi isu yang bisa dibicarakan secara terbuka.

Maroko adalah negara dengan isu kesenjangan gender yang mengkhawatirkan. Hingga hari ini, data dari World Economic Forum misalnya menunjukkan bahwa kesenjangan gender di Maroko berada di peringkat 136 dari 144 negara. Data tersebut dilihat dari keterlibatan perempuan dalam perpolitikan, kesempatan bekerja, kesehatan, dan tingkat pendidikan. Saat ini, perempuan Maroko masih kesulitan untuk mengakses Pendidikan. 58,6 persen perempuan masih buta huruf. Sementara itu hanya 26,9 persen perempuan yang mampu berkarir di dunia kerja. Perempuan Maroko selama ini terkungkung dalam norma-norma yang mengharuskan mereka untuk tetap tinggal di rumah, melayani laki-laki, dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Tahar Ben Jelloun, melalui novel ini saya kira hendak menyuarakan kritik yang cukup keras terhadap budaya patriarki sebagaimana nampak dalam kutipan di bawah ini:
Biasanya tidak ada hal tabu dalam pembicaraan kami, namun kami pasti memikirkan tentang lagu misoginis Bob Marley “No Woman No Cry”. Di Maroko, seperti semua orang tahu, prialah yang membuat wanita menangis. Mereka menangis dalam diam, wanita tidak berhak untuk protes. 

(53)

Nasionalisme Maroko dan Kegamangan Identitas

Tahar Ben Jelloun dalam karya-karyanya seringkali menghadirkan tokoh-tokoh yang mengalami kebimbangan dan kegamangan dalam menemukan identitas dirinya. Hal ini juga turut ia hadirkan dalam Le Dernier Ami, terutama melalui sosok Mamed.

Singkat cerita, setelah berkeluarga dan menjadi dokter yang sukses di Maroko, Mamed mendapat tawaran kerja di WHO di Stockholm, Swedia. Ia kemudian menerima pekerjaan tersebut dan berpisah dengan Ali.
Tiba di Swedia dari Maroko, hal pertama yang aku sadari adalah keheningan. Keheningan mereka, putihnya kulit mereka, mata mereka yang jernih, dan rasa hormat mereka pada peraturan, aku menemukan peradaban dalam setiap individu. Ini luar biasa!
-137
Kutipan di atas adalah ungkapan pertama yang dinyatakan Mamed ketika baru menjejakkan kaki di Swedia. Kutipan tersebut saya kira menunjukkan dengan cukup jelas bagaimana cara pandang sebagian besar masyarakat Timur terhadap Barat. Dalam kutipan tersebut, tertulis dengan jelas bahwa kekaguman Mamed terhadap Swedia tidak tertuju pada keheningan dan keteraturannya saja, tetapi ia juga terpesona pada ciri fisik orang-orang yang ia lihat, yaitu orang berkulit putih dengan mata yang jernih. Keterkejutan akan warna mata dan kulit tersebut adalah banalitas yang kerap terjadi pada masyarakat Timur yang mana selalu  memandang segala hal yang berbau Barat sebagai sesuatu yang superior. Padahal kita tahu, warna kulit dan mata tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang Mamed sebut sebagai peradaban.

Setelah setahun hidup di Swedia, Mamed menjadi orang yang hidupnya serba berkecukupan. Namun demikian, ia justru mulai merasa merindukan kembali Maroko. Ia tiba-tiba dipenuhi perasaan melankolis dan mengenang Maroko seperti tertulis pada kutipan di bawah ini:
Ini gila rasanya, tapi hal-hal yang paling kurindukan adalah hal-hal yang sebelumnya menggangguku:kebisingan mobil, teriakan pedagang jalanan, para teknisi yang mengotak-atik lift tanpa mau mengakui kalau sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa, wanita yang menjual sayuran dari kebun mereka sendiri… Aku bahkan merindukan polisi di persimpangan yang bisa kami suap sekali-kali.. Aku bahkan merindukan para pengemis dan orang cacat di jalanan.

(139)
Kutipan di atas nampaknya merupakan cara Ben Jelloun mendeskripsikan perasaan orang imigran Maroko yang kerap berada dalam kegamangan akan identitasnya yang kompleks. Mamed yang sudah lama tinggal di negara miskin dan kering kerontang sekaligus serba dibatasi oleh diktatorian berbalut norma agama, kemudian merasakan hidup di Swedia, yang ibarat oase, mampu memberikan kemakmuran, kenyamanan, dan kebebasan. Permasalahannya, dari situlah kegamangan justru muncul. Segala fasilitas dan kenyamanan yang Mamed dapatkan di Swedia justru mengingatkannya pada segala hal yang ada di tanah airnya, yang semuanya justru berbanding terbalik dengan yang ia miliki.

Di titik ini, Memed barangkali mengalami keterasingan total atau situasi yang disebut Hommi Bhabha sebagai situasi “beyond”, “neither a new horizon, neither a leaving behind the past”, “tidak ada harapan bagi masa depan, maupun masa lalu yang dapat menjadi pijakan”. Sebab, ia tidak bisa merasa menjadi orang Swedia, namun di sisi lain ia juga sadar bukan lagi orang Maroko.

Terkait permasalahan identitas ini, Ben Jelloun melalui Le Dernier Ami nampaknya menawarkan solusi tersendiri yaitu dengan  menawarkan identitas ketiga yang disebut identitas “nomade”, yaitu identitas yang tidak terikat pada satu identitas tertentu. Hal ini ditunjukkan dengan sikap Mamed setelah mengalami pendewasaan dan tinggal cukup lama di Swedia, di mana ia akhirnya mengkritik baik kebudayaan Barat maupun kebudayaan Timur dari negerinya sendiri.

Kepada Barat ia menuliskan “sebuah negara yang pernah menjajah negara lain tidak pernah bisa menjadi teladan (174)”, sementara di sisi lain ia juga mengkritik budaya Maroko dengan menulis “Islam fundamentalis itu bukan Islam. Itu omong kosong politik (154)” untuk mengkritik kondisi sosial politik di negaranya yang carut marut namun tersembunyi di balik topeng agama.

Referensi:
Ben Jelloun, Tahar, 2004. Le Dernier Ami, Paris: Editions du Seuil.
Ben Jelloun, Tahar. 2018. Sahabat Terakhir, Yogyakarta: Basabasi.
Brace, Richard M. 1964. Morocco, Algeria, Tunisia, a Spectrum Book. Prentice-Hall., Englewood Cliffs, New Jersey.
Combe, Dominique. 2010, Les Littératures francophones, questions, débats, polémiques, Presses  Universitaires de France, Paris
Said, Edward. 2000. Reflections on Exile, Cambridge: Harvard University Press.




Shahab, Ali. 2012. Nasionalisme dalam Roman Les Yeux Baisses karya Tahar Ben Jelloun. Yogyakarta: UGM Press


Supaya tidak dipanggil anak senja dan filosofi, ada baiknya kami jelaskan terlebih dahulu, bahwa kami pernah sepakat tak begitu peduli apakah kopi itu digiling atau digunting. Bagi kami, selama terasa nikmat dan bikin melek, kopi tetaplah kopi. Terlepas apa ia digiling, digunting, atau digeprek dengan jidat Setya Novanto misalnya.

Lagipula, banyak hal lebih menarik daripada soal itu.

Misalnya, di ujung Selatan Bandung, konon ada petani yang menanam kopi dengan niat ibadah dan konservasi. Ia menanam dengan cara seratus persen organik, pupuknya dari tahi kambing dan kencing kelinci, dan setelah 4 tahun konsisten di jalan tersebut, ternyata kopinya bisa jadi kopi termahal di dunia.

Kami beruntung bisa bertemu dengannya.

“Saya sebetulnya orang yang terjerumus ke kopi”, ujarnya ketika kami mengatakan ia adalah salah satu petani dengan nama paling moncer di Indonesia. Namanya melejit setelah kopi Gunung Puntang yang ia budidaya mendapat predikat kopi termahal di pameran Specialty Coffee Association of America (SCAA) 2016 di Atlanta, Amerika Serikat. Kala itu, kopi Sunda Hejo yang ia bawa terjual 55 USD per kilogram.

Berkat prestasi tersebut, kopi Gunung Puntang kini menjadi kopi yang paling dicari para penyuka kopi. Presiden Joko Widodo bahkan menjulukinya sebagai kopi terenak di dunia. Dan akhir tahun lalu, Kepala Staf Kepresidenan, Pak Moeldoko, datang langsung ke lahan yang ia kelola.

Uniknya, ia sebenarnya tak punya latar belakang pendidikan sebagai petani. Bapak kelahiran Bandung 12 Januari 1965 ini adalah Sarjana Pendidikan Luar Sekolah (PSL) IKIP Bandung. Hingga usianya yang sudah menginjak kepala 5, ia terus bekerja di Jakarta sebagai kontraktor listrik yang mengurus pipa pembuangan air laut Ancol.

Bagaimana ceritanya hingga ia bisa terjun bebas ke dunia perkopian? Adakah pahit-getir proses dalam usahanya membudidayakan kopi yang 100 persen organik? Apa pendapatnya tentang film Filosofi Kopi?

Sambil lesehan di saung bambu kebunnya, dengan suguhan kopi Puntang yang diracik calon dewa roasting @akil_dhafiq, saya dan pacar saya @hydeborah mewawancarai Pak @Ayi_sutedja selama 1 jam.

Berikut petikan wawancara kami:


Sebelum menjadi petani kopi, Bapak adalah pekerja kontraktor. Mengapa Bapak memutuskan berhenti dari pekerjaan tersebut kemudian jadi petani kopi?

Saat itu, bahkan sebenarnya saya mau diangkat jadi kepala pabrik lo.
Waktu itu saya kerja di Ancol selama setahun. Tepatnya di bagian pompa pengendali banjir. Saya di bagian processing, di electrical. Di sana itu wah bau pisan euy. Apalagi sungai Ancol itu sangat terpolusi, baunya luar biasa, airnya item. Terus kalau pompa pengendali ini didiamkan dua jam saja, orang udah pada demo karena Ancol bisa aja banjir. Bayangkan.
Lalu saya mikir, saya udah cukup hidup untuk diri sendiri setelah bekerja sampai umur 51 tahun. Sekarang saya mau membuat sesuatu yang berguna untuk orang lain, yang berguna buat bumi. Saya harus buat sesuatu.
Di saat bersamaan entah kenapa waktu itu ada teman saya yang menawarkan katanya ada tanah, kebun, dan hutan di gunung Puntang. Kebetulan dulu waktu muda, saya sering main ke sini juga buat konservasi sama pecinta alam.
Lalu entah gimana saya menerima tawaran teman saya dan nurut aja tinggal di tanah perhutani ini.

Apa ada kendala tertentu yang Bapak alami ketika pertama kali berubah haluan jadi petani?

Waktu saya pertama tinggal di sini tahun 2011, pemerintah mengharuskan petani menggunakan tanah perhutani ini sesuai aturannya. Saya diberi tanah sekitar satu hektar.
Masalahnya, sebelum saya datang, di sini banyak orang yang tanam sayuran. Padahal itu dilarang karena bikin tanah rusak. Waktu itu tanah humusnya mungkin cuma 20 cm, belum terlalu tebal.
Lalu Juni 2011, datang benih kopi Sunda Hejo yang eksplorasi benihnya ada dari Garut, Cigede, Pengalengan dan lain-lain. Nah saya terima dan sebarkan benih sunda itu.
Kita tanam 10.000 benih per tahun. Saya belajar prosedur penanamannya dari buku saku judulnya Cara Budidaya Kopi. Kami gali lubang 60 x 60 x 60 cm buat tanam satu biji.
Lalu dapat panen pertama baru 2015.

Kenapa butuh waktu sampai 4 tahun untuk panen pertama?

Karena kita nggak pakai dopping atau pupuk kimia. Kita murni organik. Dan waktu itu kita pun nggak memikirkan untuk produksi. Kita lebih fokus ke konservasi aja.
Tapi selama proses itu, saya jadi tahu kalau kopi bukan “cemcul”. Jadi nggak sekadar dicemcem, terus dicul. Kopi itu harus diurus tiap hari sampai beberapa tahun baru bisa dilepas.

Bapak kan pakai pupuk organik, biasanya menanam pakai pupuk organik ini akan mengalami banyak kendala. Apa itu juga terjadi pada Pak Ayi?

Produksi memang jadi berkurang dibanding kalau pakai pupuk kimia. Tapi kopi puntang ini sekarang justru mahal harganya karena organik.

Ada nyinyir-nyinyir dari warga nggak terkait idealisme bapak Bertani organik? Hehe.. Biasanya kan sering begitu kalau di Indonesia.

Sekarang nggak ada. Kopi juara mau dinyinyirin gimana? Haha. Kan mereka ikut saya dari 2015 setelah dapat juara.
Kecuali  di awal-awal. Awalnya mah mana mereka mau?
Awalnya saya bagi-bagi 10.000 bibit, tapi nggak ada yang ambil nih bibit Sunda Hejo. Padahal gratis. Akhirnya saya sama Pak Mamat saja yang urus. Ya udah saya tanam nih kopi buat konservasi.
Saya waktu itu bikin lubang tanam volumenya 60 x 60 x 60 cm untuk dikasih benih satu. Saya percaya apa kata perhutani, kalau per hektar cukup ditanam 500 pohon saja, jangan 2000 pohon.
Ngapain coba, memang yang lain ada yang mau tanam cara begini?
Orang-orang awalnya mah bilang kalau caranya begitu kopi nggak ada nilainya.
Tapi sejak awal saya tahu kalau masyarakat memang nggak bisa diajak pakai ceramah, tapi pakai bukti. Ini rumusnya: buktikan dulu baru ajak.
Dulu saya mau buktikan ke masyarakat kalau kopi bisa menghidupi kita. Jadi, motivasi saya bukan untuk jadi kopi juara, tapi kopi bisa jadi penghasilan masyarakat.

Selain konsisten menanam dengan cara organik, adakah upaya lain yang bapak lakukan untuk meyakinkan para petani supaya mau menanam kopi seperti Bapak?

Tahun 2012 banyak ketakutan dari petani kalau petani nanti balik lagi ke sayur. Nah tugas saya adalah bagaimana menjaga biar itu nggak terjadi.
Makanya saya bikin program Namanya Pasar Palalangon. Di pasar ini, kita bisa belajar processingdengan bantuan Bu Hajjah Jeni dari Jakarta yang menyumbang alat komplit karena beliau juga ingin ikut serta mengajak masyarakat beralih dari sayur ke kopi.
Yang paling penting adalah bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa dengan organik kita akan sehat dan kita akan sejahtera.
Perlu dijelaskan juga kalau di Puntang ini kan air mengalir dari gunung langsung turun ke kampung, jadinya kita harus sosialiasi terus menerus kalau alam harus dijaga dan hutan itu sumber kehidupan. Hasilnya sekarang pohon besar di sini juga nggak ditebang.
Selain itu, di sini rata-rata kan orang Islam, saya selalu mengingatkan ke petani kalau menanam itu sodakoh. Jadi selain membangun ekonomi, menanam adalah ibadah. Kamu tanam satu kopi, berarti 1 orang terselamatkan. 1 kopi berarti 700 liter air kami simpan. Jadi itu nilai plusnya di sini.

Pupuk di sini kan organik, asalnya dari mana aja?

Ini swasembada dari warga sini. Kita pakai tahi kambing dan kencing kelinci dari peternakan warga. Masyarakat selalu menyisihkan komposnya buat petani karena sejak 2015 mereka sudah tahu kalau pupuk juga punya nilai ekonomi, ya meskipun dibayar sekadar uang rokok.

Itu pemakaian pupuknya kapan saja?

Ketika mau berbunga, ketika memerah, ketika mau panen.
Pemakaian urin kelinci biasanya 3 bulan sekali, kalau kambing 2 bulan sekali.

Selain penanaman organik, apa yang membedakan proses penanaman kopi di sini dengan tempat lain?

Yang utama sebenarnya bukan dari benihnya. Meskipun varietas atau klon juga berpengaruh pada rasa, tapi di Puntang, kelebihannya adalah pada processing-nya.
Di tempat lain, processing justru biasa jadi kelemahan para petani dari Sabang sampai Merauke. Mereka nggak bisa mengolah kopi sampai bisa menjadi kopi specialty. Kopi specialty itu kopi yang mendapat skor di atas 85 dari SCAA. Dulu maksimalnya kopi Indonesia dapat nilai 84.
Kopi gunung puntang kan dapat skor 86 dari SCAA. Sejak saat itu mulai dikenal kopi specialtyIndonesia.
Jadi di kopi itu panjang rantainya. Mulai dari menanam sampai panen.
Untuk membuat kopi specialty kita pakai metode dry hulled. Dalam proses ini, yang dicari adalah ciri khas rasa. kopi
Ada 3 proses di specialty yaitu natural, honey, dan full wash. Nanti kopi dengan proses beda, akan menghasilkan rasa berbeda pula.
Kalau proses natural adalah proses menjemur kopi sama kulitnya.
Jadi kopi dipetik lalu dicuci lalu dimasukkan ke air untuk diambangkan. Ini proses sortir. Kopi yang tenggelam kita proses karena itu yang bagus, kalau yang mengambang itu akan akan jadi kopi grade dua.  Setelah sortir selesai baru kita dijemur.
Kalau proses honey, kopi dimasukkann ke mesin pulper untuk mengupas kulit merahnya atau kulit luar. Setelah itu, kopi yang tersisa dengan kulit dalamnya dikeringkan. Selama proses pengeringan, kandungan gula dalam kulit dalam/kulit keras akan terkonsentrasi ke bijih kopi.
Kopi yang sudah dijemur lalu akan langsung dikupas kulit kerasnya lalu kita simpan dulu selama 3 bulan, baru kita roasting. Honey Gunung Puntang ini seperti ubi cilembu yang harus disimpan dulu berbulan-bulan, baru bisa enak.
Kalau proses full wash, kopi dikupas lalu bijinya direndam. Proses rendam ini namanya fermentasi basah. Setelah satu malam disimpan, besoknya dicuci sampai lender dari kulit dalamnya bersih.
Soal hasilnya, body (kepahitan) dan acid (keasaman) akan seimbang. Kopi di Jawa ini bagusnya seimbang. Makanya starbucks dari dulu ambilnya dari Ijen, dari Banyuwangi.
Kopi Indonesia itu semakin ke Barat atau semakin Gayo maka body-nya makin kuat, makin pahit. Kalau makin ke papua, itu semakin asam.
80 persen mutu kopi itu ada di processing, 10 persen sangrai, 10 persen barista.

Hasil panen per tahun di sini berapa Pak?

Kalau saya mah nggak pernah ngitung. Yang penting jalan terus. Tapi kalau nggak salah tahun kemarin kami panen 1,8 ton.

Ini berarti panennya itu berapa kali setahun?

Setahun sekali. Bulan September kopi ini berbunga, lalu Juni mulai panen.

Kopi di sini jenis Sunda Hejo semua ya pak?

Kopi Sunda Hejo ini kalau diurut dari sejarah aslinya itu disebut kopi tipika. Kopi tipika sudah ada dari jaman Belanda dulu. Java preanger-nya tahun 1.700-an itu ya kopi tipika ini.
Tahun 1.700 ekspor pertama kopi Belanda itu kan ambil dari sini. Waktu pertama dilelang di Belanda, tipika jadi kopi termahal. 300 tahun kemudian, peristiwa serupa terjadi di Atalanta. Setelah 300 tahun, sejarah baru terulang saat kami ikut acara di SCAA.
Kalau kopi di sini orang Kediri nyebutnya kopi tipika. Kalau kami menyebutnya kopi Sunda. Jadi sebut aja tipika Sunda.
Jadi nama kopi itu akan merujuk ke indikasi geografis dimana kopi itu ditanam. Kami sudah mengajukan nama legalitas kopi Sunda ke MPIG (Masyarakat perlindungan Indikasi Geografis) dan mendapat sertifikasi langsung dari Kemenkumham.

Kopi Gunung Puntang kan pernah menang di SCAA. Sebenernya ini event kopi sebesar apa dan seberapa besar gengsinya di kalangan penikmat kopi sedunia?

Saya awalnya juga nggak tahu. Waktu itu awalnya kementerian perdagangan dapat undangan buka stan utama di Atlanta tahun 2016. Nah kebetulan saat itu Indonesia lagi promosi kopi terus.
Saya kan tergabung di SCOOPY, Sustainable Coffee Produk Indonesia. Dari 75 kopi anggota SCOOPY yang diseleksi, terpilih 17 kopi yang dibawa ke Atlanta. Kopi Gunung Puntang salah satunya.
SCAA ini event besar karena semua buyer, barista, dan semua penikmat kopi dari Eropa, Amerika, datang ke sana. SCAA ini jadi standar internasional bagi penikmat kopi sedunia.

Konsumen Kopi Puntang ini siapa aja Pak?

Konsumennya lebih ke penikmat, kami belum bisa memenuhi permintaan kafe-kafe. Produksinya terbatas dan habis terus. Tapi intinya kami nggak pernah khawatir pemasaran karena selalu laku.

Kopi Gunung Puntang ini jadi makin terkenal setelah Pak Jokowi mengatakan kalau kopi ini kopi terenak di dunia. Ada pengaruh nggak ke kopi Gunung Puntang?

Ya kopi ini jelas jadi makin terkenal.
Pak Moeldoko pernah ke sini karena diminta Pak Jokowi cari kopi yang benar-benar kopi juara. Pak Jokowi kan pernah nyobain kopi Puntang di salah satu kafe di Bandung, tapi dia nggak yakin itu beneran dari sini apa bukan.
Media promosi Kopi Gunung Puntang ini bukan saya sendiri, tapi orang yang datang ke sini akan jadi marketingnya. Bahkan Pak Jokowi jadi marketing, haha..

Saat ini kopi sangat populer di kalangan anak muda dan bahkan menjadi lifestyle tersendiri, bagaimana menurut Bapak tentang fenomena ini?

Sebenarnya bagus karena semakin banyak anak muda yang tertarik sama kopi, tapi sayangnya kebanyakan lebih tertarik ke roasting dan barista karena kelihatan keren gitu. Coba aja ke processing-nya.
Tapi naiknya tren ini sebenarnya jadi kekhawatiran kita juga. Karena konsumsi naik 2,1 persen, tapi produksi menurun. Ini menandakan beralihnya negara produsen jadi negara konsumen. Kan ekspor jadi menurun juga.
Penikmat kopi semakin banyak tapi produksi semakin menurun.

Apa pendapat Bapak tentang buku atau film Filosofi Kopi?

Bagus sekali, paling tidak karena Filosofi Kopi jadi ada dokumentasi dan penyaluran ilmunya lebih gampang. Tahun 2005 itu saya baca Filosofi Kopi-nya Dee, karena nemu di minimarket di Jakarta. Dan Dewi Lestari itu luar biasa karena dia melakukan riset yang kuat sekali, dia bicara dari hulu sampai hilir, dari petani sampai barista.
Reporter: Ari Bagus Panuntun dan Deborah Gita Sakinah

Saya dan @hydeborah bepergian dua hari di kota Semarang, tidak dengan "Panduan Wisata Lengkap" dari google melainkan dgn modal screenshoot "Panduan Mengencangkan Perut di Kota Kami" yang ditulis Paman Yusi Avianto di whatsapp untuk Sabda Armandio.

Saya kira, saya memang tak butuh panduan wisata kota. Buat apa? Wong dia warga lokal.

Oh ternyata saya keliru. Jalan utama Semarang saja dia tak hafal dan kami harus dipandu aplikasi peta kemanapun mau pergi. Tak apa. Dia sudah mau menjadi sopir saya, dan kami beberapa kali hampir dihantam truk bersama. Manis sekali.

Lalu kami mulai menelusuri satu per satu isi panduan Paman Yusi.

Dimulai dari gulai sumsum kambing Warung 29 depan gereja Blenduk, nasi glewo koyor, lalu berburu wedang blung di Pecinan yang ternyata sudah gulung tikar dan membuat kami memesan jamu jun, jamu aneh yang ditaburi merica. Rasanya hangat, mantap, tapi sedikit pedas seperti chat yg hanya dibalas "Oh", "iya", atau "wkwk" (yg ketiga ini paling saya benci).

Kami tentu juga makan menu di luar panduan Paman Yusi. Dia memilih sarapan Soto Bangkong, sementara saya mengajaknya makan mangut manyung yang ternyata tak sedahsyat mangut beong Borobudur.

Dari sekian tempat makan yang kami datangi, makan gulai sumsum adalah yg paling biadab. Kami makan ganas seperti babi. Selama hampir setengah jam, kami sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak saling ngobrol, kecuali saling mendengar rapalan "Oh my God..." atau "Ya Allah... enake pol Ya Allah...".

Di tengah makan, ia membuat penemuan: tulang yang sumsumnya sudah dihisap dan tengahnya kopong, bisa dijadikan sedotan untuk minum kuah gulai.

Cerdas.

Tapi setelah itu saya selangkah lebih jenius: menemukan bahwa tulang yang masih berisi sumsum pun bisa dijadikan sedotan. Dengan hisapan yang sedikit lebih kuat, sumsum tulang akan terhisap sekalian dengan kuah-kuahnya. Sensasinya: transendental!

Kami juga jalan-jalan ke tempat wisata macam Sam Poo Kong, Lawang Sewu, Kota Lama, Masjid Agung, dan sebagainya. Namun yang paling berkesan adalah Pagoda Avalokitevara.

Di pagoda itu, kami bertemu dengan 3 dewa, lambang wedang congyang yang sebenarnya sama-sama ingin kami tenggak namun sepertinya tak bakal terjadi. Ya, dalam imajinasi kami, kami adalah dua bocah bergajulan yang ingin mabuk-mabukan. Tapi, didikan orang tua yang alim sejak kami kecil membuat kami tak pernah tenang tiap kali bicara soal dosa.

Tapi bukan 3 Dewa yang membuat Semarang begitu berkesan, melainkan satu pohon di Avalokitevara yang benar-benar indah.

Namanya pohon Bodhi dan pohon itu memancarkan aura yang sangat teduh. Pohon dengan daun berbentuk hati ini konon merupakan tempat kesempurnaan Budha Sidharta Gautama. Di sanalah, Budha mendapatkan pencerahan.

Di pohon Bodhi, orang-orang menuliskan doa di atas sehelai pita merah. Mereka menggantungkan harapannya dengan doa-doa yang begitu konkrit: semoga hutang-hutang terlunasi, semoga papa sembuh dari sakit, semoga mama merestui cinta kami, dan sebagainya.

Di bawah pohon yang damai itu, diam-diam saya juga memanjat doa. Dan doa itu juga konkrit sekali.

Jika ada satu alasan yang membuat orang mulai mengatakan “Jogja tak lagi aman” alih-alih “Jogja berhati nyaman”, barangkali alasan yang paling jamak adalah makin banyaknya aksi klitih di Jogja.
Klitih sendiri dimaknai sebagai aksi kekerasan remaja untuk menganiaya orang di jalanan dengan target korban yang mana suka. Artinya, tak ada motif pribadi semacam dendam kesumat atau bahkan motif ekonomi seperti  merampok atau mencopet. Motivasi para pelaku konon tertuju demi harga diri mereka di antara teman-teman selingkarannya. Dalam bahasa yang lebih kekinian, motivasi klitih adalah “keren-kerenan” di antara sesama pelaku. Semakin kejam, brutal, dan membuat orang menjadi gempar, maka semakin keren pula mereka.
Ada banyak pendapat yang mengungkapkan tentang sebab menjamurnya klitih di Yogyakarta. Beberapa berpendapat bahwa klitih lahir dari tradisi tawuran antar sekolah, sementara ada juga pendapat yang mengatakan klitih lahir dari kemuakan warga lokal terhadap semakin banyaknya pendatang di Kota Pelajar, yang seringkali tak paham patrap alias unggah-ungguh alias tata krama hidup di Jogja.
Pendapat pertama saya kira cukup masuk akal. Klitih pada awal dekade 2.000-an memang identik dengan tawuran antar pelajar. Para pelajar yang kebanyakan pelajar SMA ini, biasanya menghabiskan akhir pekan dengan berombongan dan berboncengan motor, keliling kota, lalu ketika berpapasan dengan pelajar dari sekolah lain, mereka akan mencoba mencari masalah supaya bisa melibas ‘lawan’-nya. Meski demikian, pada awalnya klitih masih terbatas pada aksi saling hantam saja. Tak ada penggunaan senjata tajam, apalagi aksi membunuh secara random seperti sekarang.
Beralih ke pendapat kedua yang menyatakan klitih hadir dari makin banyaknya pendatang, saya kira pendapat ini sangat perlu kita pertanyakan. Pendapat ini mungkin tak sepenuhnya salah. Kita saat ini memang seringkali melihat para pendatang di Jogja yang kurang srawung dengan masyarakat lokal, bahkan seringkali bersikap eksklusif, dan hanya bergaul dengan teman sesama daerahnya. Namun di sisi lain, saya kira para pendatang juga tak sedikit dalam memberi pemasukan bagi warga lokal yang misalnya berbisnis indekost, kuliner, atau bisnis-bisnis kreatif lain. Sejauh pengamatan pribadi saya, masih ada simbiosis mutualisme antara pendatang dengan warga lokal.
Tak hanya itu. Dalam relasi yang lebih bersifat humanis, kolaborasi warga lokal dengan pendatang juga punya andil besar dalam mengangkat nama Jogja sebagai salah satu kota paling kreatif di Indonesia. Jika kita bergabung dengan komunitas tertentu di Jogja, kita tentu akan melihat bahwa komunitas-komunitas di Jogja diisi  anggota dengan spektrum yang sangat berwarna: ada warga asli Jogja namun ada juga yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Kolaborasi dalam berbagai komunitas ini saya kira justru memperkuat citra Jogja sebagai kota yang pluralis sekaligus multikultural.
Ketidakpercayaan saya terhadap pendapat kedua semakin kuat ketika bulan ramadhan lalu terjadi aksi klitih yang menewaskan kakak angkatan saya di Fakultas Ilmu Budaya: Dwi Ramadhani alias Kubil.

KUBIL DAN JAGAL KLITIH BERUMUR 16 TAHUN

Kubil melewati hari terakhir dalam hidupnya dengan membagikan sahur gratis kepada orang-orang jalanan sebelum kemudian tewas dibacok di perempatan Mirota, Jogja. Kematiannya yang tragis namun jatmika kemudian mengundang bela sungkawa tak habis-habisnya, namun tak pelak juga diikuti amarah pada begal pembunuh yang awalnya tak diketahui siapa.
Setelah beberapa hari dilakukan pelacakan, para polisi dan detektif akhirnya berhasil mengungkap siapa pembunuh tak dikenal tersebut. Namun orang-orang tak pernah menyangka bahwa salah satu sosok yang membunuh Kubil adalah bocah berumur 16 tahun.
Ketika mendengar berita tersebut, saya mulai memikirkan, apakah benar seorang bocah semuda itu sudah mempersoalkan tingkah-adab para pendatang?
Pertanyaan ini akhirnya terjawab setelah suatu hari saya menuliskan kegelisahan tersebut di twitter dan mendapat respon dari @lelakibudiman yang mengirimkan tulisan berjudul “Lumrahing Manungsa”. Tulisan di blog pribadi Ahmad Rahma Wardhana ini menyoroti sosok tersangka pembunuhan Kubil, si bocah 16 tahun, yang merupakan tetangganya sendiri.
Wardhana menceritakan masa lalu bocah tersebut yang ternyata adalah korban perundungan saat masih SD dan SMP. Ia kerap dipaksa dimintai uang, dikeroyok, hingga dikucilkan teman-teman sekelasnya. Namun alih-alih mendapat tanggapan serius dari pihak sekolah, ia justru dua kali dibiarkan harus pindah sekolah hingga akhirnya mendapat teman sepergaulan yang bengis dan barbar.
Kita tentu paham bahwa kita tidak sedang membela bocah tersebut meski kita tahu nasib pernah merenggut masa kecilnya yang indah. Tetapi dari sini setidaknya kita tahu, bahwa permasalahan klitih tak sekadar hadir karena semakin banyaknya jumlah pendatang. Lebih dari itu, ada sebab yang lebih mengakar dan saya kira hal itu berasal dari pendidikan kita.
Sejak SD hingga SMA, kita tak sekali-dua kali melihat mereka yang dianggap badung justru semakin disingkirkan. Bimbingan Konseling di negeri kita lebih sering memberi poin hukuman bagi anak-anak bermasalah, alih-alih mendampingi dengan sabar atau mencari tahu sebab-musabab kenakalan mereka. Saya kira hal tersebut yang membuat istilah ‘di-BK’ terkesan sangar dan terdengar buruk.
Sementara guru-guru di kelas juga tak kalah moralisnya dan biasanya lebih tak peduli mengapa seorang siswa bisa menjadi sangat brandal. Memikirkan hal tersebut, saya jadi teringat satu sosok guru dalam film India berjudul Hichki (2018).

HICHKI DAN BAGAIMANA NAINA MATHUR MENGAJAR KELAS 9F

Hichki berkisah tentang Naina Mathur (Rani Mukerji), seorang guru penderita touerette syndrome, sebuah gangguan neurologis yang membuat penderita tak bisa berhenti cegukan seumur hidupnya. Ia tak bisa mengontrol cegukannya atau bahkan sekadar menahan diri untuk diam selama 5 menit. Lebih lagi, suaranya saat cegukan sungguh keras dengan bunyi “Cak! Cak!” atau “Wak! Wak!” yang aneh betul saat didengar.
Pada mulanya, penyakit bawaannya membuat Naina harus ditolak 18 kali ketika melamar sebagai guru. Sampai akhirnya, setelah 5 tahun menjaga mimpi, Naina mendapat kesempatan untuk mengajar di St. Notker, salah satu sekolah unggulan yang mau menerima Naina karena dua hal: pertama, Naina adalah alumni St. Notker yang berprestasi, kedua, Naina hanya diberi kesempatan mengajar di kelas 9F, kelas yang dihuni 14 bocah bergajulan dari daerah kumuh Mumbai.
Bocah-bocah kelas 9F adalah siswa yang bisa diterima di St. Notker karena kebijakan pemerintah India, yang menghendaki setiap sekolah harus menerima murid yang tinggal di sekitar lokasi, terlepas dari kualitas yang mungkin berada di bawah standar. Tujuan program tersebut memang untuk memberi kesempatan bagi anak-anak kurang mampu untuk mengenyam pendidikan berkualitas. Sayangnya, kenakalan penghuni kelas ini membuat tak satupun guru mau mengajar mereka. Sampai akhirnya Naina datang.
Ketika Naina mendapat kesempatan mengajar di hari pertama, Naina pun dikerjai habis-habisan. Bocah-bocah ini misalnya memasang kursi dengan kaki patah yang membuat Naina terjungkal dan dipermalukan di depan umum. Mereka bahkan menirukan cegukan Naina untuk mengolok-oloknya. Namun alih-alih menyerah dan menyalahkan moral anak-anak tersebut, Naina justru berusaha mencari tahu latar belakang mereka.
Dalam satu fragmen, Naina yang heran mengapa tak ada satupun orang tua yang datang saat pengambilan rapot, memutuskan untuk datang ke rumah murid-murid 9F. Pada kunjungannya tersebut, Naina akhirnya tahu bahwa murid-muridnya lebih memilih membantu orang tuanya menjual sayur di pasar atau menambal ban di bengkel. Ia juga melihat realitas bahwa mereka tinggal di lingkungan yang mengalami kekeringan dan harus berebut air minum ketika kemarau datang. Dari kunjungannya, Naina akhirnya tahu bahwa penghuni kelas 9F adalah bocah-bocah yang terlahir di lingkungan kumuh dan berada dalam lingkaran setan kemiskinan.
Dari situlah Naina memutuskan untuk berusaha melakukan apapun supaya murid-muridnya tetap bisa diterima di St. Notker dan punya harapan yang lebih benderang untuk masa depan mereka.
Film Hichki saya kira sangat kontekstual untuk melihat bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia sekarang. Hichki adalah film yang menyinggung isu diskriminasi dalam lingkungan pendidikan. Dan kita tahu, diskriminasi adalah permasalahan pelik. Sekolah sebagai ruang yang konon menjunjung tinggi nilai kesetaraan, nyatanya selalu memunculkan liyan dalam berbagai ragam bentuknya, mulai dari kaum difabel, mereka yang berasal dari kelas ekonomi ke bawah, atau mereka yang seringkali dianggap nakal dan bodoh.
Tak hanya sampai di situ, Hichki juga nampaknya mencoba menunjukkan bahwa akar terdalam dari permasalahan pendidikan kita adalah sistem yang terlalu demam pencapaian. Kritik ini ditunjukkan Hichki dengan fragmen-fragmen yang mempertentangkan model belajar kerja keras (hard work) dengan model belajar bersenang-senang (fun).
Dalam film ini, model belajar yang pertama diwakili oleh Mr. Wadia, guru fisika sekaligus wali dari kelas favorit, 9A, yang orientasi belajarnya sangat terpaku pada silabus. Mr. Wadia adalah perwakilan dari sebagian besar guru yang menolak kelas 9F karena menganggap mereka merepotkan dan memperendah nilai rata-rata siswa. Sementara model yang kedua tentu saja diwakili Naina, yang alih-alih kerap memberikan pelajaran di kelas, justru kerap membawa murid-murid kelas 9F belajar di taman atau lapangan. Ia juga menyempatkan diri untuk bertemu dan ngobrol dengan orang tua murid, makan es krim bersama muridnya, dan membangun kedekatan lain yang lebih bersifat kemanusiaan.
Menonton Hichki membuat saya berpikir bahwa saat ini kita perlu lebih banyak guru yang berpikir seperti Naina. Guru yang tak sekadar mengajar, namun juga mendengar. Guru yang tak hanya datang ke sekolah, namun juga sudi mampir rumah. Juga guru yang berpikir—sebagaimana dituliskan Timothy D. Walker dalam buku Teach Like Finland—bahwa sistem mendidik perlu menghargai kebahagiaan di atas pencapaian.
Salah satu kutipan paling terkenal dari film Hichki adalah ucapan Naina bahwa 
“Tak ada murid yang buruk. Yang ada hanyalah guru yang buruk.”
Ucapan Naina mungkin tak sepenuhnya benar. Namun kita tahu, guru yang mau berkata demikian adalah guru yang sangat rendah hati. Ia menyadari bahwa guru lebih bisa mengubah murid dibanding murid bisa mengubah guru.
Jika saja kita semua mau belajar dari Naina, barangkali permasalahan seperti klitih dan kenakalan-kenakalan remaja lainnya bisa teratasi.
Pagi tadi saya berkunjung ke rumah Tuan Karsoma, ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Desa Tanjungwangi.


Tuan Karsoma adalah petani desa pertama yang langsung mempraktikkan jurus-jurus membuat pupuk setelah bulan lalu mengikuti pelatihan membuat pupuk cair dari sampah organik yang diadakan lembaga tempat saya bekerja.

Ia sosok panutan sejati. Tuan Karsoma pertama memilah sampah non-organik untuk ia kilokan sehingga malih jadi pundi-pundi rupiah yang bisa buat beli rokok Dji Sam Soe. Kedua, Tuan Karsoma memilah sampah organik dan masih juga punya waktu untuk memisahkan yang kering dan yang basah.

Sampah organik yang kering ia diamkan dalam bak semen selama beberapa minggu dan setelah kering ia ayak untuk menjadi abu yang konon penuh nutrisi dan disukai ubi-ubi.

Sampah Organik Kering
Pupuk Organik Kering

Sementara itu, sampah organik basah ia tumpuk di atas jaring yang dimasukkan ke dalam tong, supaya tumpukan buah dan sayur membusuk, dikerubuti lalat, dihinggapi belatung, semakin meleleh, lalu jadi berkah setelah menetes-netes ke dasar tong, dan siap dialirkan melalui kran.

Berikut saya tuliskan cara singkat membuat pupuk cair seperti yang dipraktikkan Tuan Karsoma,

Bahan: Tong/Ember, tutup tong/tutup ember, jaring, kran.

1. Pasang jaring di dalam tong, kasih jarak kira-kira 20 cm dari dasar tong.


2. Lubangi bagian bawah tong untuk pasang kran.


3. Lubangi bagian atas tong, kira-kira 3 lubang seukuran lubang hidung orang kaukasian (lubang ini digunakan untuk keluar masuk lalat yg membantu proses pembusukan)

.
4. Taruh sampah organik basah di atas jaring. Sebaiknya berupa sayur atau buah saja - jangan taruh mayat meski mayat banyak mengandung zat cair, kau harus khawatir jika arwahnya makin sulit diterima surga.


5. Tutup rapat tong dan diamkan selama beberapa minggu sampai sampah membusuk dan mencair.
6. Alirkan pupuk cair melalui kran, masukkan ke dalam botol.
7. Sebaiknya jangan diminum.

Sekian.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018