bagus panuntun

berubah!

Generalisasi yang lebay, dan segala sesuatu yang lebay akan memperkeruh keadaan.

Setidaknya sebagai umat Islam, kita sudah sama-sama merasakannya. Gereja-gereja yang diserang saat natal tiba, teror terhadap aliran Syiah dan Ahmadiyah sehingga mereka selalu ketakutan barang maju selangkah, atau meledaknya bom yang terpasang di tubuh orang-orang berpeci.

Kita tahu, mereka bukan Islam, tapi mengatasnamakan Islam, atau mengira Islam.

----------------------------------------------------------------------------------------

Tolikara, di hari pertama Idul Fitri, ketika anak-anak kecil ikut orang tuanya pergi ke masjid. Ketika para lansia menegakkan tubuhnya demi berjalan ke rumah Tuhan. Ketika kumandang hari kemenangan terus dilantunkan...

Umat kristen menyerang.

Bukan, mereka bukan Kristen, tapi mengatasnamakan Kristen, atau mengira Kristen.

                       ----------------------------------------------------------------------------------------

Tak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan. Jangan generalisasikan.

Jika kita menjadikan agama sebagai api provokasi, kita bukan orang beragama, tapi mengatasnamakan suatu agama, atau mengira beragama.
Berlebaran
Bertebaran

Wonosobo, 18 Juli 2015
PPSMB Kampung Budaya tahun ini mengambil tema yang sepertinya sederhana. Namun, ternyata tema sederhana ini justru menimbulkan perenungan yang cukup berat bagi saya. Ya, tema untuk Kampung Budaya tahun ini adalah tentang mimpi dan cita-cita.

Cita-cita. Apa itu cita-cita? Sejak kita masih duduk di bangku warna-warni kelas TK, Ibu Guru yang baik hati telah menanyakan pada kita, apa cita-cita kita ketika dewasa? Pertanyaan ini bahkan menjadi jajanan masa kecil yang wajib dan pasti dikonsumsi oleh anak-anak di seluruh Indonesia (atau mungkin dunia?). Pada masa itu, setidaknya ada 3 profesi yang paling sering dipilih. Tentara, guru, dan dokter. Meskipun ada beberapa anak yang kadang memiliki cita-cita yang sangat unik. Teman masa kecil saya, Ahmad Furqon, dulu ingin menjadi kondektur bus. Yang lebih parah? Ada. Sumbernya dari blog http://ayodyaasmara.blogspot.com/ , sang penulis pernah bercerita kalau waktu kecil ia ingin jadi Tuhan.

Ah, sebentar. Sumpah, saya baru menyadari kalau di paragraf sebelumnya saya menulis "Pada masa itu, setidaknya ada 3 profesi yang paling sering dipilih". PROFESI. Ya, ketika saya berbicara tentang cita-cita, maka yang langsung terbersit di otak saya adalah profesi. Dan kemungkinan besar, pemikiran yang sudah terkonstruksi demikian tidak hanya terjadi pada saya. 

Apakah sebenarnya cita-cita sama dengan profesi? Mari kita meninjau dan menilik sebentar tentang arti dari masing-masing kata tersebut.

Cita-cita, menurut KBBI adalah keinginan atau kehendak yang selalu ada di dalam pikiran dan kita sungguh-sungguh ingin mencapainya. Sedangkan profesi artinya adalah bidang pekerjaan yang dilandasi dengan keahlian tertentu.

Dari dua definisi diatas, sebenarnya kita dapat memahami bahwa cita-cita sangatlah berbeda dengan profesi. Jika cita-cita adalah suatu hal yang sangat ingin kita capai dan selalu ada dalam pikiran, artinya hal-hal yang dimaksud tentu tidak terbatas pada perihal bidang pekerjaan saja.

Ironisnya, sejak kecil pemikiran kita sudah dikonstruksi sedemikian rupa sehingga sering kita memaknai cita-cita adalah sebuah profesi idaman. Akibatnya, kita diharuskan mengunci diri di kamar, kerukuban selimut, dan memikirkan SATU profesi yang ingin kita capai kelak. Alhasil, sering kita temui, orang-orang yang ketakutan ketika ditanya apa cita-citanya. Terutama adalah mereka yang masih di usia remaja, bahkan bagi anak-anak kuliahan macam saya. Sering kita temui yang semacam ini:

"Apa cita-citamu?"

"Masih galau mas", kata si Badrun.

Bagaimana tidak menggalaukan? Kita sudah membatasi cita-cita sebagai sebuah profesi saja, lebih parahnya lagi, kita kebiasaan memaknai bahwa seseorang harus punya SATU cita-cita yang dikejar. Jika dari sekian banyak pilihan kita hanya harus memilih satu, siapapun orangnya tentu akan galau akut memikirkan hal tersebut.

Percakapan lain yang sering kita temui adalah percakapan semacam ini:

"Apa cita-citamu?"

"Jadi dosen mas", kata si Reni.

Sebenarnya, dengan jawaban yang demikian, saya ingin bertanya kepada Reni, "Selain dosen apa lagi ren?".

Mengapa?

Karena saya termasuk orang yang percaya bahwa seseorang harusnya punya lebih dari satu cita-cita.

Alasan yang pertama adalah, cita-cita tidak terbatas pada profesi saja. Dengan memaknai bahwa cita-cita bukanlah tentang profesi semata, maka seorang anak bisa lebih bebas untuk mengeksplorasi apa yang ada dalam benak dan hasratnya. Alhasil, pertanyaan tentang apa cita-citamu akan menghasilkan jawaban-jawaban yang berwarna, kreatif, dan mengejutkan. Dunia akan lebih asik. 

Alasan yang kedua adalah, saya yakin bahwa manusia memiliki kapasitas untuk melakukan lebih dari satu hal dalam hidupnya. Seorang guru bisa menjadi penulis, anak band, atau tukang pijat yang profesional dalam sekali waktu. Sebelum mewujudkan cita-citanya menjadi Presiden, seseorang bisa menjadi arsitek dahulu, sembari menjadi petani cabai di halaman rumah, plus jualan burjo dibantu oleh istri tercinta. Oh ya, sebelum menjadi Presiden, kita bisa lho bercita-cita menjadi lurah dahulu.

Intinya, jika cita-cita adalah sesuatu yang sungguh kita inginkan, tentu hal itu adalah babagan yang sangat kita sukai. Dan renungkan lagi, tidak semua hal yang kita sukai adalah hal yang sulit untuk dijalani. Jadi, koleksi cita-citamu sebanyak-banyaknya, dan gapai satu persatu.

Saya sendiri sejak kecil punya cita-cita ingin jadi Bupati Wonosobo. Tetapi, disamping cita-cita itu, saya masih punya banyak cita-cita lain. Tetap menulis di blog, menjadi penerjemah, memiliki penerbitan buku sendiri yang fokus dalam menerbitkan karya-karya Prancis dan  francophone lalu membuka lowongan kerja penerjemahan bagi lulusan-lulusan ilmu Sastra dan Bahasa agar bekerja di penerbitan saya. Nah, saat ini penerjemahan belum jadi profesi populer di Indonesia, bahkan anak-anak sastra pun jarang yang punya mimpi jadi penerjemah, disamping minim informasi, juga minim wadahnya. Selain itu, cita-cita saya adalah tetap band-band an di masa tua, punk-punk an. Tetap nggarap event, karena EO adalah bagian dari hidup saya. Lalu kuliah di Eropa dan melamar pacar. Banyak maunya ya?

Masalah sukses atau tidak, sukses itu apa sih? Klik link ini ya Suksesmu, Suksesku

Gunung Kidul est une région située au sud de Yogyakarta. Il y a 4 ans, quand j'ai entendu le mots "Gunung Kidul", j'aurais pensé sur l'endroit mal-aimé de Yogyakarta. L'endroit chaud avec un climat sec, pauvre, et difficile pour trouver de l'eau. Peut-être il l'est toujours, mais dorénavant on pensera Gunung Kidul comme la source de bonheur de Yogyakarta. C'est un endroit pleine de vie, les enfants qui parlent toujours la langue javanaise, les souris de vendeurs à les sites touristiques principales, et aussi la culture locale dans chaque village.

Aujourd'hui on connait Gunung Kidul surtout grâce à des plages. Les plages principales de Gunung Kidul sont Baron, Indrayanti, Kukup, ou Krakal. Mais dans cette note, je n'aurai pas parlé de ces plages. La plage laquelle je vais vous raconter est la plage Greweng. Je suis tombé sous le charme dans ma première visite. Voila pourquoi...

1. Un panorama vert pendant le trekking



Avant d'arriver au bord de la plage, il faut qu'on fasse d'abord le trekking passer le champ plein de maïs, la forêt, et puis la petite rivière. On a besoin plus de 45 minutes pour se balader. Mais c'est pas grave ! Ce serait pas fatigant car c'est du haut on peut voir la belle vue plein de couleur verte.

2. La plage cachée avec la sable blanche




Grâce à la plage Greweng n'est pas encore organisée en tant qu'endroit touristique par le gouvernement, il n'y a pas beaucoup de touristes qui y connaissent. Si vous aimez être seul au bord de la plage, c'est une bonne choix. Greweng est couverte par la sable blanc et propre. Bien sûr, on peut se baigner et aussi nager ici. Mais il faut être prudent parce que la vague à la mer sud est assez grande.

3. L'experience en camping sauvage





On ne trouverait pas l'hébergement, ni le restaurant ni le toilette autour de la plage. Si on y va, je vous conseille pour faire le camping. Ce n'est pas difficile pour trouver un endroit plat au-dessous de la sable. Donc, apporter la tente et passer une bonne nuit sous le milky way, c'est un must ! Le camping sauvage est bien toléré dès lors qu'on respecte l'environnement, pas de papier toilette abandonné, pas de déchets. Quelques logistiques laquelles on doit apporter sont l'eau mineral, le snack, et la nourriture comme Indomie. N'oubliez pas pour préparer bien votre équipement. La tente, le sac de couchage, la gazinière, la lampe de poche, plusieurs sacs poubelle sont indispensables. Ah, j'oublie une chose, le camera !

4. Regarder l'horizon depuis la colline de récif




Reveilllez-vous avant 5 heures du matin. C'est à l'est de la plage, il y a la colline de récif avec le meilleur points de vue. On doit seulement marcher environ 10 minutes et on y arriverait pour admirer le lever du soleil. Quelques heures plus tard, on peut regarder l'horizon de la mer du sud, c'est tout bleu devant vous !

------------------------------------------------------------------------

Comment y aller: Yogyakarta est une des plus connues villes en Indonésie, mais il ne nous donne pas la garantie que cette ville a une bonne transportation publique. La transportation publique de Jogja est si mauvaise et disorganisée. Donc, c'est mieux si vous louez le moto pour y aller. Vous avez besoins de 70.000 Rupiah par jour.

La route pour y aller n'est pas difficile, mais on doit passer 2,5 heures de la centre ville de Yogyakarta. Il faut passer la ville Yogyakarta, la ville Wonosari, et continuer jusqu'au village Jepitu, Kecamatan Girisubo, Gunung Kidul, précisement  à  la plage Wediombo qui est déjà célèbre. Après ca, on peut garer notre moto devant la maison de gens locaux et paie 3.000 rupiah par jour. La plage Greweng est située à côté est de la plage Wediombo.



Heboh selfie Deshorn Brown dengan Lionel Messi kemarin,saya rasa tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Insiden Neymar versus Bacca pasca pertandingan Kolombia versus Brazil pekan lalu. Laga yang berakhir 1-0 untuk timnas Kolombia ini menjadi laga yang begitu dikenang oleh masyarakat dunia bukan karena permainan menarik pada 90 menit pertandingan, tetapi justru gara-gara “permainan menarik” yang terjadi satu menit pasca wasit meniup peluit  akhir babak kedua. Anti mainstream kan?

Neymar lah yang memulai drama adu drama ini. Usai peluit panjang, Neymar yang kecewa berat karena timnya baru saja mengalami kekalahan, tiba-tiba menendang bola yang (kebetulan) ada di depannya. Sayangnya, saat itu masih banyak pemain Kolombia yang berada di tengah lapangan, alhasil bola yang mengalir cukup keras ini pun mengenai punggung dari Pablo Armero. Tindakan Neymar lantas menyulut emosi para pemain Kolombia. Pencetak gol satu-satunya di pertandingan ini,Jeison Murillo, mencoba menghampiri Neymar dan memperingatkan tindakannya,tetapi  justru mendapat tandukan manis dari Neymar. Seperti hukum aksi-reaksi, aksi Neymar kemudian dibalas oleh Carlos Bacca beberapa detik kemudian. Carlos Bacca yang datang sambil berlari langsung mendorong Neymar hingga Neymar hampir terjatuh.

Hukuman pun dilayangkan oleh wasit Enrique Oses. Seperti seorang Pak Guru yang mencatat setiap tindakan nakal murid-muridnya, dengan tenang dan tanpa ekspresi berlebihan, Pak Oses langsung mengambil kartu merah plus menuliskan dua nama “Neymar y Bacca” di bagian belakang kartunya tersebut. Voila ! Seperti inilah drama papan atas yang terjadi pekan lalu.
---------------------------------------------------------------------------------
Sayangnya, hukuman bagi Neymar belum selesai dengan kartu merah yang ia terima. Panitia acara sepakbola antar negara se-Amerika Selatan ini ternyata memberi hukuman larangan tampil selama 4 pertandingan untuk Neymar. Lucunya, Brazil sendiri hanya mempunyai 4 laga sisa, itupun jika Berhasil Brazil, eh, Brazil Berhasil sampai ke partai final.

Dengan hukuman ini, banyak yang menganggap bahwa Neymar adalah pemain paling sial sedunia pekan lalu. Akan tetapi, saya justru merasa Neymar adalah pemain beruntung sedunia. Mengapa?

Karena Neymar bermain di kompetisi Copa America. Coba kalau Neymar mainnya di kompetisi desa saya. Bukan hukuman 4 pertandingan yang ia terima, mungkin hukuman seumur hidup dari para supporter.

“Asu ! Ngopo kae Neymar??” dan semua suporterpun mengejar Neymar dengan senjata di tangannya masing-masing.
---------------------------------------------------------------------------------
“He has a very annoying attitude. Neymar is a great striker, but I hate that a player of his level has to fall to the ground every time you touch him,” Capello told Fox Sports Italy.

Hmm... sepertinya Neymar perlu berpuasa di bulan Ramadhan agar tak mudah menjatuhkan diri, agar tak mudah emosi. Pemain bola yang menyebalkan.

Bagus Panuntun

Fans Madrid Pengagum Messi
Ahad pagi, aku baru terbangun pada angka 7 kurang seperempat. Untuk kesekian kalinya, aku tak mendengar alarm yang kusetel sendiri pukul 05.00 agar aku bisa beribadah shalat subuh. Beberapa hari ini aku mulai rutin shalat setelah agak puas menjalani kehidupan yang arahnya makin tak jelas. Lagi-lagi manusia ingat pada Tuhannya ketika rasionalitas otaknya sudah buntu.

Tepat pukul tujuh aku membuka pintu kamar dan segera mencuci muka agar tubuh ini terasa lebih segar. Dengan masih memakai kaos yang kupakai saat tidur, aku meminta Andre untuk mengantarkanku ke kampus dengan sepeda motor.

Hari minggu ini cuaca terlihat cerah dan bersahabat, angin bertiup dengan tenang dan sederhana sembari membawa hawa agak dingin yang ramah. Pukul 7 lebih 10 menit aku sudah sampai di kampus Ilmu Budaya dan mata pun mulai mencari-cari sudah adakah anak LEM FIB yang tiba di kampus. Aku mulai mencari-cari di area bawah jembatan budaya, disana hanya ada beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya melaksanakan ujian UM UGM, sepertinya melihatku yang hanya memakai kaos lusuh dan celana pendek krem plus sandal jepit swallow membuat mereka cukup penasaran siapa aku ini sebenarnya. Sudahlah. Aku pun masuk ke Gedung B dan melihat koridor sepanjang gedung ini masih sepi dan sunyi, hingga kemudian aku masuk ke sekre baru LEM di B105, ternyata masih kosong tak ada orang satu pun. Dasar tradisi ngaret.

Aku duduk sendirian di B105, melihat sekeliling ruang yang masih dipenuhi mading-mading anak festival sastra, ah kapan mading ini dipindahkan, kemudian kulihat di bawah meja duduk, ternyata anak-anak Sosmas telah menyiapkan peralatan lengkap untuk pekerjaan hari ini. Sudah ada sapu ijuk dan sapu lidi yag jumlahnya sepertinya lebih dari lima, serok sudah siap, lap pel sudah ada namun tergeletak begitu saja di lantai, ada pula sekantong kresek berisi deterjen, sabun, kapur barus. Hari ini sepertinya kami sudah siap untuk kerja bakti di bonbin.

Beberapa menit kemudian Bertus sudah datang di kampus, lalu disusul Tohir. Koordinator menteri eksternal dan menteri sosial masyarakat LEM ini memang anggota LEM yang paling dapat diandalkan. Kami bertiga pun segera menuju bonbin bertemu Mas Heru, Mas Bodong dan kawan-kawan.

"Piye mas, mahasiswa wis siap? Iki lagi masak teh karo kopi sek yo", sapa Mas Heru begitu melihat kami.

"Wah, belum ada anaknya mas. Kumpul jam 8 e, masih setengah jam lagi. Kita mulai kerja jam 8 ya mas", jawabku dengan santai.

"Siap bos !" kata salah satu pedagang bonbin.

----------------------------------------------------------------------------------------------
Malam minggu sebelum hari kerja bakti di kantin bonbin ini, aku mengajak Bintang, Epik, dan Bertus untuk melakukan eksperimen kecil. Kami mencoba menyiram satu meja bonbin dengan soda api. Kata dosen saya, yaitu Pak Ali, kotoran dan daki yang menggumpal diatas meja bonbin ini akan rontok kalau disiram dengan soda api. Beliau menyarankanku untuk mencoba hal tersebut sekalian melihat bagaimana efeknya.

"Siram malamnya, lihat lagi waktu pagi", ujar Pak Ali.

Benar pula, Minggu pagi ini aku pun menengok satu meja bonbin yang sudah kusiram dengan soda api atas izin dari pedagang bonbin. Begitu sampai di meja yang sudah kami bawa ke area parkiran lama ini, kami kaget dan terkejut. Daki di meja bonbin sudah rontok sebagian, tetapi air yang menggenang di bawah meja itu ternyata berwarna hitam pikat, menimbulkan dugaan bagiku bahwa kotoran yang sudah melekat diatas meja bonbin ini sudah terlalu banyak, sudah menumpuk parah.

Ya Tuhan, sebeginikah realitasnya?



----------------------------------------------------------------------------------------------
Aku langsung berdiskusi sejenak dengan Bertus, kami berdua sepakat agar kerja bakti hari ini akan kita maksimalkan untuk membersihkan beberapa area. Kamar mandi bonbin yang sudah pengap dan tak berlampu, area tengah bonbin yang sepertinya perlu dipel, pipa diatas bonbin yang masih dipenuhi abu kelud karena memang belum pernah dibersihkan sejak sabda alam tersebut. Abu ini tidak terlihat, namun bukan tidak mungkin abunya sering tertiup angin dan jatuh di santapan-santapan lezat kita. Dan tentu saja kami sepakat untuk menggosok meja bonbin sampai endapan-endapan kopi, saos, kecap, teh, abu rokok, nasi, dan markisa yang telah menumpuk menjadi daki ini bisa hilang.

Untuk masalah membersihkan daki diatas meja, pedagang bonbin menyarankan agar kami memakai serabut kawat agar noda diatas meja dapat terangkat dan hilang. Tanpa berpikir lama, pedagang bonbin lah yang langsung nyetater motornya untuk pergi ke toko bangunan membeli benda tersebut. Berikutnya, untuk bagian dalam warung bonbin, Mas Heru meminta ini menjadi tanggung jawab masing-masing pedagang.

Aku cukup senang melihat teman-teman dari luar LEM berdatangan. Ada Mas Wibi dari Kapalasastra, Wening dari Terjal, Linggar yang mewakili KAMASUTRA (atau mungkin KMIB), Gusman sang ketua IMABA yang hadir sendirian, Irene dari Lincak, lalu menyusul Kiki dan Wada dari HMSP. Ternyata masih banyak HMJ BSO yang peduli terhadap kebersihan dan kesehatan di kampus ini dan mau bekerja bersama-sama meskipun tanpa dibayar.

Aku sendiri justru kecewa terhadap internal LEM sendiri. Dari sekitar 80 anggota LEM yang tertulis di data PSDM, sepertinya hanya sekitar 25 an anak yang bersedia meluangkan waktunya untuk hadir di pagi ini. Sebagian sudah ada janji, sebagian sibuk ingin belajar. Padahal pengumuman untuk kerja bakti ini sudah diumumkan sejak 2 minggu sebelumnya, plus satu minggu kebelakang adalah 7 hari Minggu tenang. Belum belajarkah?

Entahlah. Semakin tua rasanya aku semakin terbiasa bertemu orang-orang baru, semakin terbiasa melihat pemikir-pemikir cerdas, semakin terbiasa bersapa dengan aktivis dan segala idealismenya. Hanya dua hal yang rasanya belum biasa aku temui, ketulusan dan rasa tanggung jawab.

Menjadi oportunis mungkin adalah pilihan paling realistis di masa kini. Meski entah adakah kebermanfaatan dari tindakannya kecuali bagi dirinya sendiri.

----------------------------------------------------------------------------------------------

Jam 8 lebih seperempat kami briefing seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Bertus memimpin briefing dan membagi tugas. Sebelum mulai menyapu area depan bonbin, tiba-tiba Mas Bodong mengajak kami untuk selfie.

"Ayo-ayo selfie dulu biar semangat !" ajaknya disambut gelak tawa kami.


3 jam berikutnya, kami bekerja dengan dipenuhi gelak tawa dan canda. Kami sempat saling menunjuk siapa yang mau menguras bak kamar mandi, namun akhirnya kami bekerja bersama. Tohir menertawakan wastafel yang fungsinya justru sudah menjadi bak sampah, tentu sembari membersihkannya. Mas Wibi dan Amin sebagai dua pria dengan tubuh yang relatif ringan bersedia memanjat ke langit-langit bonbin yang mungkin tidak terlalu kokoh untuk berat 70 kilogram keatas, mereka membersihkan pipa air yang tersumbat debu kelud. Selanjutnya Mas Wibi dan Amin dibantu oleh Khusnul untuk membersihkan debu, tanah, dan ranting-ranting pohon yang ada di atap bonbin.

Guyonan paling kerap muncul tatkala kami mencuci meja bonbin. Kali ini semua dibuat speechless dengan tebalnya daki berwarna hitam yang sudah lama menggumpal ini sebelum akhirnya kami justru tertawa bersama. Meskipun kami bermain dengan benda-benda kotor, namun kebersamaan membuat kami tidak merasa jijik sedikitpun. 1 meja bisa dibersihkan oleh 5 orang. Masing-masing menggosok dengan berbagai gaya. Ada yang tangannya menggosok secara maju mundur, ada yang dengan gerakan melingkar, ada yang dengan tenaga penuh hingga otot di lengannya terlihat, namun ada pula yang terlampau santai.

Semua tertawa ketika salah satu dari kami berkelakar,

"Anak sastra ! Meja Bonbin aja kami mandiin, gimana kalo jodohnya?".



----------------------------------------------------------------------------------------------

Satu persatu meja bonbin telah selesai kami cuci, lalu meja tersebut kami jemur. Sejenak terlintas ide iseng di otakku, aku harus mengambil foto before after.


before
after
 ----------------------------------------------------------------------------------------------
Selesai sudah kerja bakti hari ini. Tentu aku mewakili LEM FIB mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya terhadap semua teman-teman yang mau meluangkan waktunya demi kebermanfaatan bersama. Rasanya meskipun hari ini tidak terkumpul begitu banyak massa, aku dapat melihat orang-orang yang mau bekerja dengan ketulusan. Orang-orang yang lebih memilih untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari permasalahan, apalagi pencaci.

Apa semua senang dengan program kerja bakti ini? Ternyata tidak juga. Beberapa berpikir bahwa program semacam ini hanya menjadi ajang pencitraan. Ya, semenjak media membombardir negeri ini dengan wacana pencitraan, rasanya bangsa ini semakin sulit untuk menjaga kepercayaan satu sama lain dan mau untuk bekerja bersama.

Namun, tak usahlah peduli dengan segala cacian. Rasanya, ikut bekerja jauh lebih masuk akal untuk menanggapi air hitam pekat yang menggenang di bawah meja ini. Dibanding sekedar memuaskan diri dengan asumsi-asumsi.

----------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa hari sebelum kerja bakti ini dilakukan, sebenarnya aku sudah bertemu dengan mereka yang memiliki power untuk segera mengubah keadaan. Pemimpin-pemimpin yang harusnya segera bertindak melihat ada bagian dari rumahnya yang jauh dari "baik-baik saja". Namun dengan berbagai tapi, tapi, dan tapi, sepertinya urusan administrasi menyuruh kami agar jangan terlalu banyak berharap.

Sebenarnya untuk apa seorang dipilih untuk memimpin? Untuk menyejahterakan dan membahagiakan rakyat dengan powernya, atau untuk menjalankan administrasi-administrasi sesuai undang-undang, traktat, atau kitab berpasal?

Kalau sudah begini, okelah, biar kami yang di bawah ini yang berbuat. Kami juga bisa sih dan malah tidak repot juga.

Tapi, mosok begini terus?
Puasa ya sudah tinggal puasa saja. Kalau bisa, bersyukurlah karena kamu bisa berpuasa. Orang berpuasa harus yakin dong bahwa mereka yang menahan lapar jauh lebih beruntung, jauh lebih mulia, jauh lebih baik dibanding mereka yang siang-siang dapat menyeruput es degan.

Kalau melihat orang sedang nyeruput degan lalu kita marah, merasa tidak dihormati, merasa dirugikan, berarti kita berpikir bahwa puasa kita ini merugikan diri kita dong? 

Hlah? Padahal kalau memang beriman, bukankah semua bentuk ibadah didesain olehnya untuk menempatkan kita pada posisi yang lebih menguntungkan dibanding mereka yang tidak beribadah?

Lho, kamu kan sedang puasa. Sedang menjalani masa-masa yang menempatkanmu pada posisi yang lebih beruntung dibanding mereka yang tidak puasa. Kok kamu protes minta dihormati sama mereka yang nggak seberuntung kamu? Kok kamu maksa mereka nggak boleh ini nggak boleh itu?

Konflik selalu diawali oleh mereka yang tidak memiliki keikhlasan atas perbuatan baiknya.

Daripada beribadah tetapi menempatkan diri sendiri sebagai korban, mending minum es degan.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018