bagus panuntun

berubah!



Pengantar
Minggu kedua bulan Ramadhan 2016, ketika sebagian besar mahasiswa UGM sedang bertemu mamak di kampung halamannya, ketika sebagiannya lagi sedang berada di tanah pengabdian dalam rangka KKN (Kuliah Kerja Nyata), Bonbin UGM direlokasi –dalam terminologi Ahok dan Ibu Dwikorita– ke Lembah UGM. Ini terjadi gara-gara UGM punya proyek menjadi kampus dengan platform yang kondusif untuk proses belajar mengajar. Kampus diproyeksikan untuk menjadi ruang dengan taman hijau dimana-mana, bebas polusi suara dari kendaraan bermotor, apalagi dari sebuah tempat seperti Bonbin yang dalam skripsi berjudul “Studi tentang Kehidupan Sosial pada Sebuah Warung di UGM, Bulaksumur, Yogyakarya” yang ditulis oleh Budi Hardjono dinarasikan sebagai berikut:
“Jika dilihat dari jauh, maka orang-orang yang duduk di ruang itu seperti binatang-binatang yang terkurung dalam sangkar yang kotor, bersikap urakan, dan semua terlihat mesum. Bonbin seperti antitesis dari struktur yang dianggap “benar” di fakultas”.
Ah, pembaca Kibul yang terhormat, barangkali kalian belum paham apa itu Bonbin, atau kalian kira Bonbin adalah tempat para tapir, celeng, dan iguana dikurung dalam kandang seluas kamar kos, maka sudah barang tentu itu keliru. Bonbin yang sedang kita bicarakan kali ini adalah nama sebuah kantin yang (dahulu) terletak di area Jalan Sosio-Humaniora, Universitas Gadjah Mada dan kerapkali disebut sebagai kantin legendaris UGM.
Saya kira julukan legendaris memang tidak berlebihan jika kita melihat pelbagai peristiwa yang merentang sejak Bonbin didirikan hingga terakhir kali ia diruntuhkan. Pertama, sejak didirikan pada tahun 1987 oleh Profesor Koesnadi Hardjosoemantri –kala itu menjadi Rektor UGM— kantin ini telah ditujukan sebagai manifestasi visi kerakyatan yang –sebagaimana kita tahu— selalu digaung-gaungkan oleh UGM. Kala itu, Prof. Koes membangun Bonbin dengan cara mengumpulkan puluhan pedagang kaki lima yang tersebar di 8 titik sekitar UGM untuk kemudian meminta mereka menjual dagangannya di area kampus. Di kala kebanyakan pemegang kuasa gemar melakukan peminggiran kepentingan rakyat kecil, Prof. Koes justru hadir sebagai anomali dengan membawa kaum-kaum kromo ke pusat arena. Kedua, dalam rentang hampir 30 tahun, Bonbin telah menjadi saksi lahirnya sosok-sosok cemerlang dalam berbagai bidang, sebut saja Rahung Nasution (koki terkenal yang dulunya hampir setiap hari nongkrong di Bonbin), Faruk HT (Profesor dan Kritikus Sastra), hingga Puthut EA (sastrawan). Puthut EA dalam memoarnya berjudul “Para Bajingan yang Menyenangkan” bahkan menceritakan Bonbin sebagai tempat para aktivis PRD (Partai Rakyat Demokratik) seperti Nezar Patria dan Budiman Sudjatimiko berkumpul menyusun strategi untuk menggulingkan Soeharto. Dan ketiga, setahun lalu ketika isu relokasi Bonbin mulai mencuat, Bonbin mampu membangunkan kembali gerakan mahasiswa yang awalnya adem ayem untuk kemudian berbondong-bondong dengan kaos hitam menuju Rektorat membawa spanduk merah bergambar tangan mengepal bertuliskan “#SAVEBONBIN, TOLAK RELOKASI !”.
Namun dengan segala hal yang membuat Bonbin layak disebut kantin legendaris, nyatanya Bonbin punya nasib yang tak mujur-mujur amat. Setelah tempo lalu dijuluki “kantin gelap yang menyebarkan bakteri salmonela” oleh para petinggi Universitas , ia kemudian –alih-alih direnovasi– direlokasi ke area Lembah yang letaknya jauh dari fakultas-fakultas di UGM. Belum cukup dengan kemalangan tersebut, omset penghasilan pedagang ternyata jauh menurun. Nama Bonbin pun kini tak dikenal lagi oleh mahasiswa-mahasiswa angkatan baru. Bangunan Bonbin pun kerap banjir. Tak cukup sampai disitu, Bonbin bahkan mulai ditinggalkan oleh sebagian besar aktivis kampus yang dulu mengadvokasi nasibnya. Para mahasiswa yang setahun sebelumnya garangnya minta ampun, kini pergi entah kemana untuk sibuk dengan “karir”-nya masing-masing.
Di tengah kondisi yang memaksa kita menasbihkan lema “prihatin” ini, hadirlah puluhan alumni Fakultas Sastra yang tergabung dalam Komunitas Sastra Lawas yang kemudian menginisiasi sebuah pagelaran bertajuk Bonbin Reborn.

Bonbin Reborn, Sekadar Nostalgia?

Bonbin Reborn digelar beberapa hari lalu, tepatnya pada tanggal 18 Februari 2017. Sehari sebelum acara digelar, saya sempat bertemu dengan Widhi Asmara, sosok ketua panitia, untuk berbincang selama kurang lebih 20 menit di Warung Ketoprak Mas Heru.
Sebagai bahan obrolan awal, saya pun menanyakan latar belakang diadakannya acara tersebut. Widhi Asmara setelah menyeruput kuah es campur yang baru saja ia pesan, kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan begitu santai,
“Ya, latar belakang awalnya lebih ke keinginan untuk bernostalgia”.
Bonbin Reborn sedari awalnya memang diciptakan sebagai “ruang untuk mengenang”. Itulah mengapa pada malam ketika acara dirayakan, kita bisa menemui Yu Par, Heru, Lilik, Cithut, hingga Mbak Ning menggelar lapak dagangan mereka di venue acara yang ada di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri. Yu Par malam itu menjual sego rames dengan oseng mie, kikil lombok ijo, tahu santan, pecel, hingga aneka gorengan ayam, telur, tempe. Heru yang sedari dulu menjadi legenda dengan ketopraknya malam itu sibuk mengulek bumbu kacang demi pesanan yang kian menit kian bertambah. Lilik tak mau kalah, sedari sore ia telah menyiapkan buah-buah yang paling segar untuk diblender pada malam harinya. Sementara Cithut dengan dibantu Mas Yat, tak henti-hentinya mengaduk puluhan gelas wedang sachet mulai dari Extrajoss, Good Day, sampai Kapal Api. Saya tidak sempat melihat apa saja yang dijual Mbak Ning sebab hari itu lapaknya kelewat penuh, namun yang jelas pada hari itu Mbak Ning mendapat jatah menjual teh dan wedang jeruk, dua menu minuman biasanya dijual Cithut namun hari itu dikhususkan buat Mbak Ning.
Sementara lapak pedagang sibuk melayani pesanan, para Bonbiners (julukan bagi para pelanggan Bonbin) telah duduk di kursi dan meja yang ada di samping timur lapak. Pada satu meja yang terletak di pojok paling barat, nampak tiga lelaki dan satu perempuan dengan rambutnya yang mulai beruban tengah takzim menekuni hidangan mereka. Yang laki-laki nampak bersemangat menyantap ayam kecap, sementara yang perempuan lebih santai menyendokkan kuah sup ke mulutnya. Saya menaksir mereka berasal dari angkatan 80-an, generasi awal yang “tumbuh” di Bonbin. Pada meja di samping kanannya, asap rokok mengepul. Enam gelas kopi hitam berjajar di meja tersebut. Di sekeliling meja, nampak enam laki-laki yang semuanya berkaos dan bercelana jeans bercakap dengan volume keras dan sesekali terbahak riang gembara. Sementara itu, pada dua meja samping kanannya lagi, nampak beberapa anak muda tengah bercakap dengan seorang lelaki beruban dengan rokok di tangan kanannya. Saya mengenal sosok lelaki beruban itu sebagai Faruk HT, Profesor Sastra yang namanya kerapkali disebut dalam skripsi-skripsi mahasiswa se-Indonesia. Sedangkan di sekeliling meja, orang-orang dengan berbagai usia nampak berlalu lalang mencari sahabatnya yang lama tak ia temui. Di antara orang-orang tersebut, saya sempat melihat sosok-sosok penulis kondang macam Lono Simatupang (Antropologi) hingga Kris Budiman (Sastra). Sosok-sosok senior ini tanpa canggung bercakap dengan orang-orang yang nampak jauh lebih muda darinya. Malam itu Bonbin Reborn benar-benar mampu menghidupkan kembali nuansa yang selalu hadir di tengah meja-meja Bonbin: keakraban dan kesederhanaan dalam wujud yang paling egaliter.
Setelah mengamati hiruk pikuk yang ada di area lapak makanan, saya pun mendekat ke venue bagian selatan. Di situlah panggung musik digelar dengan perlengkapan yang layak mendapat dua acungan jempol. Seperangkat sound system dengan kualitas tata suara yang benar jernih dan dua LED live viewing terpasang di kanan kiri panggung, lighting dengan berbagai macam bentuknya menyemburatkan cahaya penuh warna dan warni, dan yang paling menarik adalah  enam buah benda berbentuk kubus sebesar anak gajah yang entah namanya apa digantung dan menjadi semacam seni instalasi aerial setelah masing-masing kubus mendapat sorot bertuliskan B-O-N-B-I-N. Panggung musik malam itu diisi banyak sekali musisi yang menurut Widhi Asmara 90%-nya adalah alumni Bonbin. Kita bisa berjumpa dengan Sastromoeni generasi lawas yang ternyata memainkan lagu bergenre rock and roll, Sastromoeni generasi kini juga tampil dengan lagu-lagu humor medley-nya yang membuat tawa penonton menyeruak, sementara itu suasana halusinatif hadir tatkala Risky Summerbee and The Honeythief membawakan lagu-lagu folk psikedeliknya dengan struktur lagu yang kompleks namun eksotis – dan kita tak bisa mengalihkan diri dari solo insrumental efek gitar Risky yang unik. Malam itu adalah malamnya Frau saat penyanyi lulusan jurusan Antropologi ini menyanyikan tembang “Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa” suasana menjadi begitu magis namun sekaligus begitu hidup setelah semua penonton ikut melafalkan tembang tersebut dengan lancar. Sebenarnya masih banyak musisi yang tampil pada malam hari itu, namun saya tak sempat menikmati penampilan Gunawan Maryanto, Drs Him, hingga para DJ sebab musti nyambi melapak buku bersama @warungsastra.
Dalam hal melahirkan kembali nostalgia akan nuansa Bonbin, saya kira Bonbin Reborn bukan hanya berhasil, namun sukses berat. Akan tetapi, sejenak kemudian muncul sebuah pertanyaan, apakah “reborn” sekadar dimaknai sebagai kelahiran kembali akan sederet kenangan, yang mana sifatnya lebih sentimentil dibanding esensial?
Oleh karena apa yang terindera dari pagelaran malam itu, bagi saya nampaknya terlalu sederhana jika “reborn” sekadar dimaknai sebagai lahirnya kembali sederet kenangan. Satu hal yang perlu dicatat, keberhasilan Widhi Asmara dkk memadatkan area panggung dengan sorak, riuh, dan gempita sekaligus menghidupkan kembali meja-meja Bonbin dengan asap, kopi, dan dialog,  saya kira membuat acara ini layak dimaknai sebagai kelahiran kembali jiwa-jiwa Bonbin yang “kuat dalam berpesta, semangat dalam berdialektika”.

Isu Bonbin Terkini

Sebelum menutup tulisan ini, sekiranya izinkan saya mengabarkan sedikit hal terkait perkembangan isu relokasi Bonbin yang sebenarnya belum juga purna hingga detik ini. Singkatnya begini:
Kepindahan Bonbin ke area Lembah sebenarnya hanyalah perpindahan sementara, sebab tepat dua Minggu setelah jajaran Rektorat UGM didemo lebih dari tujuh ribu mahasiswa pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun lalu, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. (Rektor UGM), Dr. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M. (Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni), dan jajaran Rektorat lain bersedia memenuhi tuntutan mahasiswa untuk membangun kembali kantin baru bagi 12 pedagang Bonbin yang tepatnya berada di antara fakultas Filsafat dan Ekonomika dan Bisnis. Kantin baru tersebut direncanakan akan selesai dan berada satu komplek dengan Plaza Sosio-Humaniora yang pembangunannya akan disponsori Bank Indonesia dan direncanakan selesai pada akhir tahun 2017. Meski isunya tak lagi sehangat tahun lalu, namun nyatanya masih ada beberapa mahasiswa yang mencoba tetap konsisten mengawal tiap pertemuan antara pedagang dengan rektorat.
Widhi Asmara, dalam percakapannya tempo hari sempat menyatakan harapannya atas Bonbin Reborn dengan lebih serius. Setelah menyesap Gudang Garam di tangan kirinya, ia menyatakan harapan pribadinya pada Bonbin Reborn sebagai hari lahirnya kembali komunitas Bonbiners sebagai komunitas yang solid, komunitas yang datang tak sekadar untuk berpesta, namun mampu melampaui pemaknaan “bersenang-senang” sebagai praktik membantu sesama.
Berangkat dari antusiasme yang terbangun selama Bonbin Reborn, dan harapan Widhi Asmara akan terwujudnya “praktik membantu sesama”, saya kira sudah sepatutnya para Bonbiners mengawal kembali isu tersebut sampai tuntas. Dan barangkali jika sampai tahun depan “tanah yang dijanjikan” tak jua ada buktinya, para Bonbiners musti kembali melepas rindu dan mengikat semangat di depan Gedung Rektorat.

NB: Artikel ini pertama kali dimuat di www.kibul.in


1
Sore hujan bulan Desember, kala rental kamera tempat Aprentis B bekerja tak jua didatangi pelanggan, akun Instagram @lambe_turah tengah memberitakan hasil Tes DNA Ario Kiswinar sebagai anak kandung Mario Teguh. Aprentis B yang tengah dilanda kebosanan hidup – sebab skripsinya tak jua menemukan jalan terang— masyuk membaca paragraf pertama yang berisi luapan kepuasan admin pada hasil tes tersebut. Aprentis B tentu saja ikut puas bukan kepalang. Ia bahkan ingin terbahak selebar-lebarnya, tepat di depan batang hidung sang motivator, yang di bawah batang hidung itu terdapat satu objek yang tengah jadi bulan-bulanan para netizen di kolom komentar: cocot.
Kolom komentar akun tersebut sesungguhnya adalah kolom yang menyenangkan, karena pertama, 95% komentator di sini adalah para komentator terhormat yang datang sekadar ingin mengumpat. Mereka bahkan tak punya tendensi untuk dipuja-puji dengan memberikan argumen-argumen sok ilmiah yang dangkal. Kedua, pada kolom komentar tersebut, hampir tak akan ditemukan promosi jual sandal jepit atau tupper ware sebagaimana selalu kita temukan di akun @raisa6690.
Namun, ada yang benar-benar  memincut pada sore hari itu. Aprentis B tiba-tiba melihat satu komentar yang tak membahas “cocot” sama sekali. Alih-alih menulis satu  diksi saja secara benar dan lengkap, akun bernama sebut saja @risa_yahud, itu justru menulis komentar yang penuh istilah dari berbagai singkatan. Lihatlah apa yang ditulisnya:
“CS, PCS, VS, BO, dm ! Real acc !”.
Didasari oleh kejemuan hidup yang hakiki, Aprentis B mulai iseng membuka akun tersebut.
Sial !
Akun @risa_yahud terkunci !
Padahal Aprentis B penasaran bukan main mencari tahu seluk-beluk yang berhubungan dengan akun tersebut. Apakah akun tersebut asli? Apakah fotonya bukan comotan dari mesin pencari? Bagaimana modus operandinya?
Untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, akun @aprentis_B musti mengikuti dulu akun @risa_yahud. Ia musti melihat foto-perfoto Risa gadis bergingsul itu –gingsulnya terlihat pada foto profil instagram yang terpampang kecil —sekecil butir kacang— di sisi kiri atas layar gawainya. Rambut Risa berombak panjang sebahu, kulit rupanya sawo matang dengan tulang pipi bulat dan mata lebar, dan kita tak bisa lepas memandang hidungnya yang lurus panjang seperti hidung Kate Middleton. Aduhai sekali.
Namun, satu yang membuat kita barangkali masygul, @risa_yahud sekiranya baru berusia 14 atau 15, sama dengan adik perempuanmu yang baru lulus dari Madrasah.
Aprentis B cukup yakin bahwa akun tersebut adalah akun asli cukup dengan melihat foto profil @risa_yahud yang #nofilter.
Ia kini dihantui rasa penasaran yang makin membesar, benarkah  @risa_yahud menawarkan jasa sebagaimana yang ia tuliskan pada komentarnya?
Kau tau kan maksudnya?
Baiklah, kalau kau tak tahu, akan aku jelaskan makna komentarnya dalam satu kalimat yang akan menambah jumlah kosa katamu yang rudin itu.
CS: Chatting Sex, PCS: Phone Chatting Sex, VS:Video Sex, BO: Booking Order, DM: Direct Message, Real Acc: Real Account.
Sudah paham?
Jadi, mari kita bertanya lagi, apakah akun semacam @risa_yahud yang kerap muncul di kolom komentar akun-akun selebriti adalah akun asli? Atau ternyata sekadar akun palsu yang dibuat mahasiswa-mahasiswa fakir demi mendapat tambahan uang untuk membeli vapor?
Aprentis B penasaran bukan kepalang. Namun, penasarannya terhalang oleh rasa khawatir jika aktivitas terbarunya terlihat pacarnya pada fitur aktivitas teman. Ia juga semestinya khawatir  jika identitasnya ditaarufi @risa_yahud dan dikiranya ia lelaki tak bermartabat –padahal memang demikian adanya– namun entah mengapa ia tak begitu merisaukannya.
Kegamangan Aprentis B berlangsung selama beberapa hari saat kemudian ia mendapat  ilham, ide paling cemerlang yang pernah ia dapat sepanjang hidupnya.
Ia membuat sebuah akun instagram dengan nama: @dangdutuutselly.

2
Biduan itu memakai rok mini berbahan lateks warna kuning terang dengan motif dua garis hitam horisontal pada bagian perutnya. Ia juga mengenakan topi warna hitam-kuning dengan tulisan “OA OE” pada lidah topinya. Topi menjadi ciri khas pada setiap penampilannya. Topi itu selalu ia pakai dengan lidah topi menghadap ke depan, mungkin dengan harapan mampu menutupi jidat nonong-nya yang cemerlang. Ia keliru. Padahal, nonong adalah sumber pesonanya. Seandainya ia memakai susuk, susuk itu pun pasti ngendhon di antara dua pelipisnya.
Biduan dengan rambut panjang pirang disemir itu kemudian maju ke depan panggung. Sembari menunggu intro melodi Suket Teki kelar dan gendhang dangdut mulai ditabuhkan, biduan itu mulai menyapa penonton. Baru dua penggal lirik dinyanyikan, ia telah menyuguhkan bokong gemasnya yang digoyang naik-turun. Ia terus bergoyang sampai dipenggal lirik ke-5 sang biduan telah menghadapkan tubuhnya ke penonton dan makin cepat memutarkan pinggulnya sampai semua bulu kuduk penonton mengajak bulu-bulu lain ikut berdiri.
Admin B tanpa sadar terpana sendiri oleh video 60 detik yang baru diunggahnya. Video dengan judul asli “Uut Selly Goyang Hot Suket Teki XT Square” itu adalah video perdana yang ia unggah di akun instagramnya. Akun inilah yang nanti akan ia gunakan untuk berkirim pesan dengan @risa_yahud.
Admin B kemudian memberi sedikit caption untuk membuat video unggahan pertamanya menarik pemirsa. Cukup singkat saja:
“Uut Selly, biduan idola bangsa. Suara Aduhai, Goyangan Semlohai”. Ia selanjutnya menaburi dengan hestek yang panjangnya empat kali lebih panjang dibanding caption yang baru ia buat.
#uutselly #dangdutkoplo #dangdutkoplohot #dangduthot #xenaxenia #viavallen #liacapucino #dangdutvideohot #dangdutsawer #dangdutxtsquare #oaoe #dangdutoaoe #dewiperssik #ayutingting #citacitata #duosrigala
Pada hari pertamanya, Admin B mengunggah enam video dangdut yang empat di antaranya adalah video dangdut Uut Selly sedang sisanya adalah video biduan lain yang sekiranya memiliki basis di Indonesia. Tentu saja dari keenam video itu, ia memberi satu tempat kehormatan bagi Via Vallen, satu-satunya biduan yang menurutnya mampu merenggut hati para pecinta dangdut dari dua kutub berbeda: dangdut garis lembut dan dangdut garis mengeras. Lalu khusus pada video Via Vallen, ia memberi juga hestek yang tidak sekedar salin tempel dari hestek yang sudah ada sebelumnya. Via Vallen bagaimanapun adalah keistimewaan sehingga layak diberi karpet merah di manapun ia berada.
#viavallen #vianisti #vialovers #viasayang #dangdutisthemusicofmycountry
Pada hari pertama Admin B mengunggah enam videonya, akun @dangdutuutselly telah meraih lebih dari 50 pengikut pertamanya – yang semuanya laki-laki. Ia yakin para pengikut pertama ini adalah kelompok pesakitan pemburu hestek esek-esek.
Ia kini kian optimis meraih seribu followers yang nanti membuat akun @dangdutuutselly jadi nampak layak meminta pertemanan pada @risa_yahud.
Admin B pun mulai rutin mengunggah video-video lain untuk meraih lebih banyak pengikut. Galerinya kini telah berisi puluhan nama biduan yang paling kondang di jagad dunia maya: Uut Selly, Via Vallen, Mela Barbie, Dessy Olivia, Aura Paramitha, Lina Geboy, Lia Capucino, Xena Xenita. Sesekali, ia juga mengunggah video-video para biduan label mayor mulai dari Dewi Perssik sampai Cita Citata.
Terhitung dalam waktu kurang dari dua minggu, akun @dangdutuutselly telah mendapat pengikut sebanyak 752. Namun tak sabar menunggu angka 1.000, Admin B segera mencari jawab rasa penasarannya dengan mulai mengikuti akun @risa_yahud.
Permintaan pertemanan diterima.
Tepat. Kini ia yakin seratus persen bahwa akun @risa_yahud adalah asli. Pada satu fotonya, kita bisa melihat si bocah dengan lingerie merah berfoto menjulurkan lidahnya. Pada fotonya yang lain, si bocah mengunggah testimoni-testimoni dari pelanggan pemakai jasanya. Sedang pada fotonya yang lain lagi, si bocah sedang memejam mata dengan dagu mendongak sambil  mengemut jari tengahnya sendiri, foto ini berada pada sebuah kolom chatting yang di-screenshoot dengan sebuah teks pesan di bawahnya bertuliskan “terus say…”.

3

“Halo.. Risa…”
“Halo juga kak”,
“Mau tanya nih”,
“Silahkan kak”,
“Mau booking gimana?”,
“CS PS pulsa 50.000, VCS pulsa 100.000”,
“Kalau BO?”
“400.000”
“Perjam?”
“Permalam kak”.
“Caranya?”
“Kirim DP, janjian, ketemuan, game”,
Aprentis B lalu menutup chat itu, menghapus semua video di akun instagram @dangdutuutselly.
2 bulan kemudian ia mengubah akun tersebut menjadi @kibul.in.

NB: Tulisan ini pertama kali dimuat di www.kibul.in


Wahai mahasiswa Indonesia, marilah sejenak kita menjauh dari ke-ndakik-an weltanschauung-nya Marcel Proust yang amat personal sampai materialisme historisnya Karl Marx yang amat sosyel. Kemudian marilah kita mempertanyakan hal-hal yang saban hari terjadi di sekitar kita. Ia nampak normal. Ia nampak lazim. Ia begitu mudah dimafhumi. Ia begitu biasa dimaklumkan. Namun sebenarnya, ia patut segera dipertanyakan.

Yaitu: Mengapa kita dilarang sendalan dan kaosan saat kuliah? 

Ini patut dipertanyakan. Karena jika dilihat secara fungsional, sebenarnya sendalan dan kaosan jauh lebih nyaman untuk belajar dibandingkan sepaton dan kemejan.

Sepatu...

Haduuuh... Apa urgensinya sehingga untuk sekedar mendengar dosen menyampaikan materi di kelas saja, kita musti memakainya?

Kita dapat memahami misalnya: kita sedang praktikum di lab kimia yang penuh kalium klorat, asam sulfat, benzena, merkuri, sianida, kamsahamnida, cici paramida.

Kita dapat mendukungnya pula seumpama: kita sedang observasi di Pegunungan Karst Kendheng, Merapi, Alas Purwo, Aokigahara, Catacombe, Kilimanjaro.

Ini jelas ada guna, fungsi, lagi urgensinya. Lha kalau di dalam kelas?

Belum lagi kalau pas musim penghujan, lalu tanah becek: sepatu kita klebus, jemek, badheg, apa ya juga kudu dipakai?

Ini akan lebih panjang lagi  misalnya kita bahas: betapa mahalnya harga sepasang sepatu bagi sebagian kalangan. Jangankan merk Ad*das, wong sepatu merk Adibas seperti punya Kukuh Luthfi saja harganya bisa sampai 300 ribuan.

Kenapa nggak diijinkan pakai Swallow aja sech???

Lalu kemeja utawa hem...

Haduuuh... Jangankan yang berbahan flanel atau jeans. Wong yang bahannya katun aja rasanya tetap gerah kok. Apalagi kalau konteksnya di kota yang syumuk dan berdebu ini. Sesungguhnya tubuh kita sangat butuh sandhang yang adem, santai, juga ringkes...

Sungguh saya tak dapat memahami mengapa kuliah harus berkerah. Apa fungsi yang syarat makna dari kerah baju yang rasanya mencekik itu???

Lalu mereka menjawab, "Berkemeja dan Bersepatu itu Lebih Sopan dan Santun",

Waduh...

Benarkah ada korelasi antara berkemeja dan  bersepatu dengan sikap sopan santun? Seperti halnya time is money, putih itu cantik, kiri itu atheis, atau kanan itu Dani Alves, saya kira bersepatu dan berkemeja itu sopan dan santun hanyalah satu dari sekian fitnah-fitnah modernisme.

Seriyes !

Kalau tidak percaya, lihat saja sosok Patwa Alhuda, atau Alangga Dwi K. Lihat bagaimana OOTD mereka setiap kali pergi ngampus. Gayanya reged: kaosan, sendalan, murah, nyilih lagi. Tapi ya jangan tanya, betapa dalam hal sopan santun mereka itu sangat-sangat makrifat ! Mereka khatam perihal membedakan ngoko, krama, sampai krama inggil. Mereka bahkan telah mampu memaknai sikap sopan santun tidak berdasarkan pada angka-angka semata: “yang lebih tua, yang lebih dihormati”, “yang lebih sugih, yang lebih di inggih-inggih”. Tidak. Jelas tidak. Mereka telah melampaui itu. Mereka paham cara menghormati yang sesuai patrapnya. Pada Cak Bawor yang kaum kromo, mereka begitu tabik. Karena biarpun kromo, Cak Bawor adalah guru kehidupan. Kejujurannya, kesabarannya, konsistensinya dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan sangat-sangat layak untuk dihormati. Berbeda dengan sikap mereka pada Bude Karita. Kendati Bude Karita adalah sosok "setinggi" rektor, namun karena kebiasaannya yang kecu lagi nggedebus, mereka tidak sudi bertele-tele menjaga sikap. Mereka memilih untuk melawan ! Mendongkel ! Atau setidaknya: Memisuhi ! Sesungguhnya, sopan santun bagi mereka adalah cara menempatkan posisi seseorang sesuai pada hakikatnya.

Coba bandingkan sosok Alhuda dan Alangga dengan.....

Ah...Barangkali argumen ini klasik. Aku tahu. Kamu tahu. Mereka tahu. Kita semua bukan tempe.

Misalnya sosok koruptor atau ilmuwan antek korporasi. Baju mereka selalu rapi. Gaya mereka selalu necis. Berkerah. Berdasi lagi ! Tapi soal sopan santun? Mana dong mereka. Hobinya aja: nyolong hak orang.

Lha... Atas semua hal yang menunjukkan kalau sepatu dan kemeja sungguh ramashook dipertautkan dengan akal budi manusia, mengapa dunia kampus yang ilmiah sainstifique ini tetep ngotot  melarang kita bersendal dan berkaos?

Mbok tenan bersepatu dan berkemeja itu syumuk !

Bukan apa-apa yak, saya jadi curiga aja. Jangan-jangan, aturan "suci" ini lah yang membuat mahasiswa era sekarang lebih sering protes minta AC dibanding kritis terhadap, misalnya, keberpihakan kampus terhadap isu reklamasi, agraria, atau pembakaran hutan?

Isu fasilitas kampus kan emang ngetop banget dah jaman sekarang. Lihat noh kasus beberapa bulan lalu, bagaimana tak sedikit mahasiswa salah satu fakultas di Universitas Negeri Gadjah Mada (UNGM), menjadikan alasan kekurangan fasilitas sebagai pembenaran atas pilihan kampusnya menerima dana CSR dari perusahaan pembakar hutan.

Ini kan 'asu'.

Apalagi kalau fasilitas yang diminta kok: AC. Adek minta AC !

Ya makin 'asu' !

Apalagi kalau dia mahasiswa universitas negeri. Bayangkeun. Kurang beruntung apa coba hidupnya? Dari sekitar 113 juta penduduk Indonesia usia 15-24 tahun, terhitung hanya 1,8 juta orang saja yang mendapat kesempatan untuk kuliah Negeri. Atau kalau dipersentasekan, maka hanya ada 1,6% saja pemuda yang berkesempatan mengenal ilmu-ilmu perkuliahan yang maha(l) dahsyat itu. 

Dan kita masih saja ribut soal AC. Betapa snob dan pongahnya kita kaum 1,6 % ini !

Maka dari itu kawan-kawanku, guna mencari bersama jalan keluar atas permasalahan yang selit belit ini. Saya mengajak seluruh sivitas akademika untuk menyerukeun: Tolak Pelarangan Sendal dan Kaos di Lingkungan Kampus !

Kami mahasiswa-mahasiswi Indonesia memilih bersandhang satu: sandhang yang adem, santai, juga ringkes.

Kami mahasiswa-mahasiswi Indonesia memilih berfesyen satu: fesyen yang tidak membeda-bedakan. Tidak membeda-bedakan siapa yang belajar di dunya perkuliahan, dengan siapa yang belajar di pasar-pasar, di trotoar-trotoar, di terminal-terminal, juga di remang-remang angkringan. 

*manifesto di atas silahkeun lanjutkeun sendiri..

Bapak ibu, mas mbak, encang encing, nyak babe yang terhormat. Ha mbok yakin, jika mahasiswa boleh bersendal dan berkaos, mahasiswa akan jadi lebih adaptif terhadap hawa (rakyat) negeri tropis.

Percayalah, jika sifat adaptif tersebut dapat kita wujudkan bersama-sama, maka pendidikan di negeri ini akan jauh-jauh lebih merata. Bagaimana bisa?

Tentu saja bisa.

Karena dengan sifat adaptif tersebut, kelak mahasiswa-mahasiswi kita  tidak akan lagi protes minta AC. Kelak kampus-kampus kita tidak akan lagi identik dengan gedung-gedung mewah berfasilitaskan benda-benda mahal. Dan kelak dana fasilitas pendidikan dapat dialihkan kepada hal yang lebih dibutuhkan: Bangun Universitas Negeri sebanyak-banyaknya !


Ya minimal 1 Kabupaten, 1 Universitas lah...

Harusnya sih bisa.

Jika saat ini bangunan-bangunan SMA bisa jadi tempat belajar dengan model yang sederhana, maka di masa depan bangunan universitas pun bisa dibuat serupa ! Suatu hari mahasiswa-mahasiswi kita akan paham, bahwa pendidikan tinggi bukan dinilai dari bentuk gedung-gedungnya, namun dari esensi ilmu-ilmunya.


Semua itu bisa terwujud dimulai dari satu pemahaman: Sendal dan Kaos adalah Koentji !


Yogyakarta, 14 November 2016



Renungan Subuh




Hari ini adalah hari terakhir bulan ramadhan.

Pukul setengah tujuh, ketika gelap baru saja diretakkan oleh sinar matahari, saya sudah otw mlipir ke konter hendak bermandi rindu via selular dengan Mama di Jawa, juga Ririshwari. Di tengah perjalanan, tepatnya di depan SD Negeri Anggai, tak diduga saya berpapasan dengan Mama Nas, Mama Piaranya Tabah dan Devina.

"Eee... mama... Pagi mama !!!", sapa saya. Setiap bersua dengannya saya bertekad untuk tak boleh kalah lantang darinya.

“Hei Bagus !”, balasnya memekakkan telinga, “Nanti habis lohor (dzuhur) jangan lupa makan e, odo ka !”.

“Ee..gila mama nas !”, jawab saya sporadis. 

“Guyon opo to iki? Kok ra mutu tenan”, ucap saya dalam batin.

Namun Mama Nas justru berteriak “Eee.. tara percaya ! Berani ini anak bilang mama gila? Mama sekedhok (jitak) nanti !”.

“Ampong mamaaa.....”, saya mbladus lari.


 -------------------------------------------------------------------

Malam nanti sudah malam takbiran. Agenda takbir menyambut satu syawal akan diisi dengan acara pawai obor. Karena ingin peserta berjumlah banyak, seluruh panitia Pesta Lebaran berisiatif pergi ke kebun untuk mencari bambu sebanyak-banyaknya. Bambu-bambu ini akan kami buat jadi ratusan obor, supaya bocah-bocah Anggai tidak perlu repot membuatnya sendiri.

Namun apa mau dikata. Sedang saya masih bertelfon ria dan baru menuju titik kumpul pada angka 9, kawan-kawan yang lain sudah berangkat dahulu ke kebun setengah jam sebelumnya.

Aduh Mama ! Tara enak ini saya pe hati !

Beruntunglah ketika saya sedang merasa kotor dan penuh dosa, saya berpapasan dengan anak-anak Getrok (Gelisah Tanpa Rokok) yang juga tak ikut ke kebun sebab bangun kesiangan: Bang Al, Bang Dir, Wawan, Atho, Emon, Awi juga Ollo.

Sementara sebenarnya saya sudah merasa malas menyusul, ternyata perasaan ini juga seia-sekata dengan mereka,

“Ah, malas. Dorang saja su cukup. Kita bakumpul saja di Wawan pe rumah, mari !", ajak Bang Al sambil nyengir.

Detik-detik berikutnya hampir saja jadi kala yang amat membosankan. Sepanjang siang, Atho menyanyikan lagu Ambon hits "se paleng bae" dengan khidmatnya. Namun betapa menawannya sebuah lagu, jika ia diiringi dengan gitar hijau sayur bersenar karat itu, katak pun jadi malas ikut bernyanyi.

Kebosanan yang terkutuk ini akhirnya cair juga setelah (lagi-lagi) Bang Al-Khadrin melempar sebuh pertanyaan,


"Eee.. menurut kalian bagaimana itu anak-anak 'Pembebasan' yang setiap hari bicara nasionalisme deng marxisme terus",

Pertanyaan tersebut tentu saja segera memanaskan lingkaran. Ia dengan lugas mengajak kami tukar pikiran perihal anak-anak organisasi Pembebasan, organisasi eksternal kampus beriodelogi Marxis yang kabarnya menjadi organisasi paling aktif progressif se-antero Ternate, khususnya dalam mengawal isu-isu nasional. Saya sendiri baru mendengar nama 'Pembebasan' setelah saya tiba di Anggai dan mengenal beberapa anggotanya: Arman Sambari, Idhar Halqi, dan Ale. Ya selama ini kita yang di Jogja kan lebih akrab mendengar nama GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) atau FMN (Front Mahasiswa Nasional) sebagai organisasi eksternal kampus berhaluan kiri.

Tempo hari, Arman Sambari pernah bercerita sedikit hal tentang organisasinya, "Torang suka demo itu. Bakar-bakar ban. Hantam gerbang gedung Pemda. Supaya pemerintah dan borjuis sadar", terangnya. Yang kemudian saya kasih perbandingan padanya tentang Demonstrasi UGM 2 Mei, "Abang, kalau pakai bakar-bakar ban nanti susah ajak masa akar rumput. Jadi malas dorang". Namun Arman Sambari tetap kekeuh pada caranya, "Kalau di Timur, kalau tara keras malah tarada yang ikut".

Maka karena bakar-bakar ban sudah jadi hal lumrah, hal yang dipertanyakan oleh Bang Al-Khadrin pun bukan lagi tentang demonya.  Tapi kepada sangking progresifnya anak-anak 'Pembebasan', sehingga mau dimanapun  saja tak pernah mereka luput bicara Marxisme, Leninisme, Stalinisme, dan tentu saja: Bung Karno !

Dan siang ini Bang Al-Khadrin menambahkan "Dorang jauh-jauh bicara nasionalisme, kawal isu nasional - BBM, pendidikan, Jokowi - , atau Marxisme, Leninisme, apa saja lah itu. Tapi urus kampung sendiri malah kurang", keluhnya.

Tentu saja keluhan itu bersambut oleh jawaban satu anak pergerakan lain. Adalah Bang Dir, dedengkot PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia) Kota Ternate. Sosok Don Juan-nya Anggai. Sang pelantun kidung melayu yang  merebut hati gadis-gadis Sambiki, Anggai, sampai Airmangga. Progresif dalam bergerak, progresif dalam bercinta. Begitulah jalan hidupnya.

"Eee.. bagus kong. Kalau bukan torang yang peduli deng isu nasional, lalu siapa yang akan kawal demokrasi? Abdurrahman Wahid saja dari masih kuliah sudah peduli deng isu-isu nasional", tegasnya.

"Tapi kan ada langkahnya. Kalau ngana su kasih manfaat buat ngana pe desa, baru ngana boleh bicara nasionalisme, marxisme,  atau apalah itu. Bagaimana mau ubah negara, sedang urus desa sendiri saja tara bisa kong !", balas Bang Al

"Ee.. Harga sembako makin mahal, ngana pe UKT naik terus, pembangunan tara merata.  Kalau ngana tara hantam itu pusat, mau urus desa terus, kapan ada perubahan kong?"

Adu argumen antara Bang Al dan Bang Dir semakin intens. Sementara yang lain memilih khidmat mendengarkan, tiba-tiba Atho menaruh gitarnya dan bersuara,

"Coba lah itu tanya mahasiswa UGM", ujarnya, singkat.

"Gembel.........", mbatinku.


Kedatangan saya ke Obi ini sebenarnya adalah untuk mencari ketenangan, khususnya dari hingar bingar obrolan politik, apalagi soal pergerakan - Setelah 2 Mei yang melelahkan. 

Kok yo aku ketemu cah ngenean meneh to???

Namun sebagai lelaki cingkimin yang sebenarnya juga ingin bersuara, tentu saja saya tak mau sekedar bungkam.


"Lebih mantap dua-duanya bang ! Peduli desa, peduli bangsa !". *Yomaaaan... diplomatis sekali...

"Intinya peduli urusan desa, tapi jangan abai deng urusan isme-isme. Seperti Gus Mus lah, kyai idola Bang Dir itu", dan kemudian saya sedikit bercerita tentang jejak hidup Gus Mus, juga Mas Al-Fayyadl, sosok-sosok yang tidak berpuas dengan kemampuannya berbicara dan menulis saja, namun juga kongkrit ikut menemani rakyat-rakyat desa berjuang. Misalnya ketika mereka mengawal Isu Rembang.

Dialog semakin gayeng ketika kami mbleber bicara soal keberpihakan, dualisme kaum yang ditindas dan yang menindas, yang dimiskinkan dan memiskinan, hingga perkara pada siapa kita harus berpihak.

"Pertama, tong harus peduli deng tong pe desa. Kedua, paham juga Marxisme, Islamisme. Sebab kalau tak paham keduanya, bisa jadi tong peduli, tapi tong keliru dalam berpihak. Mau Islam, mau Marxisme, keduanya mengajarkan tong berpihak deng yang lemah, bukan sebaliknya. Ini penting sekali, tong bisa peduli, tapi tong belum tentu tepat dalam berpihak", ujar salah seorang udik dari tengah lingkaran. Dan selanjutnya pun, semakin banyak juvenil yang masih terus menanggapi pendapat satu sama lain.


Pinter-pinter amat nih orang, buset dah, padahal tinggalnya di desa terpencil begini. Sungguh hebat kawan-kawan baru aing ini. Kalah jauh aing sama mereka.


Dan kalau mengingat betapa di awal keberangkatan, saya berpikir bahwa tidak akan ada obrolan ideologis semacam ini di Obi, aih, betapa pongahnya saya !

"Allahuakbar....Allahuakbar....."
"Allahuakbar....Allahuakbar....."
"Asyhadu Allailla Hailallah...."

Tiba-tiba terdengar adzan Dzuhur berkumandang. Alhasil, diskusi yang penuh kejutan ini pun harus berhenti sejenak. 

Disinilah satu hal aneh terjadi.....

Bang Dir, sosok dedengkot PMII, pembaca setia karya-karya Gus Dur dan Gus Mus, juga Bang Al, sosok kanda senior HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang tak pernah absen jama'ah di Masjid itu, secara hampir berbarengan mengambil sebungkus rokok dari sakunya. Sejenak kemudian, diambilnya matches dan disulutlah Surya dan Sampoerna-nya sambil melafal "Alhamdulillah...",

Sambil tertegun tak percaya, saya pun membatin "Woh, gendheng aktivis Islam iki".

Ajaibnya, beberapa detik kemudian bukan hanya Bang Dir dan Bang Al saja yang melakukannya. Emon, Atho, Ollo, Awi, Wawan, dan semua yang ada di depan saya kini mulai nglempus menghisap rokoknya masing-masing.

"Bagus, masuhi ka ! (Bagus, Merokok mari !)", tawar Bang Dir sambil meluncurkan sebungkus Surya-nya lewat lantai.

Seumur hidup sejak mbrojol sampai usia saya mulai meninggalkan fase remaja, baru kali ini saya melihat ada buka bersama yang dilakukan pasca adzan Dzuhur. Semacam "puasa latihan" kalau orang Jawa menyebutnya. Namun kali ini serempak dilakukan orang-orang yang sudah dewasa.

"Desa gendheeeeeng", saya tak habis pikir melihat pemuda-pemuda akhil baligh yang mbatal bareng itu.

Dan di teriknya siang pada pamungkas bulan ramadhan ini, saya mendadak merasa amat bloon dan makin kagak ngerti saat Mama-nya Wawan muncul dari balik dapur dan memanggil saya,

"Bagus..... Batal puasa dulu......".

  -----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jauh hari sebelum kami memulai langkah meninggalkan Jogja, teman-teman KKN tahun lalu sudah mengingatkan kalau jangan macam-macam saat puasa di Obi.

Dape, salah satu kawan nasrani saya sempat bercerita kalau  tahun lalu ia hampir diamuk orang karena merokok di pelabuhan saat bulan Ramadhan.

Apalagi tahun ini kami tinggal di Anggai, desa berpenduduk 100 persen muslim yang bukan main disiplinnya dalam menjaga stabilitas umat Islam berpuasa. Itulah mengapa selama ramadhan ini kami tak pernah melihat ada warga yang menghisap Samsoe, memakan goropa, apalagi menenggak Cap Tikus di teras rumah. Barang siapa tertangkap mata sedang makan dan minum di siang ramadhan, maka tak segan warga akan memberinya laplap (amuk !).

Kecuali di hari terakhir...

Masyarakat Anggai punya keyakinan bahwa di hari akhir bulan ramadhan kita sudah boleh berbuka setelah jam 1 siang. 

Jadi, apa yang dikatakan Mama Nas tadi pagi sungguh bukan sebuah kebohongan, apalagi kegilaan - ah, siang ini konsep kegilaan jadi begitu ambigu !

Ketika sejenak kemudian saya masuk ke dapur rumah Mama Nyora - Wawan pe Mama, akhirnya saya sempatkan untuk bertanya soal ini,

"Ee, mama, bagaimana bisa ada batal bersama jam 1 siang?",

"Ya bisa... Kan tadi malam kita sudah zakat fitrah. Lalu tadi malam Bagus lihat sidang hilal tarada?",

"Iyo, 
lihat mama...", jawab saya.

Sebelum melanjutkan jawabnya, Mama Nyora lalu mengambil beberapa potong kue tart berlapis selai nanas. Dihidangkannya pula segelas teh hangat manis berbau melati, dan pamungkasnya: diambilnya sepiring dan sebuah loyang berisi penuh olahan ikan laut kuah santan. Ia taruh itu semua di depan mata kepala saya.

"Jadi begini Bagus", lanjut Mama Nyora. "Kalau Bagus lihat sidang hilal tadi malam, posisi bulan kan masih minus 1 derajat (menuju syawal) kan? Nah ini siang posisi bulan pasti su lebih dari satu derajat kan? 3 derajat mungkin? Berarti sekarang su masuk bulan lebaran... Su boleh Bagus makan...", jelas Mama Nyora seyakin-yakinnya, sambil menambahkan,

"Bagus mau Sampoerna mint apa merah?"

"Yang merah, mama !", jawab saya masih dengan wajah tertegun.

Dan sungguh, ini merupakan buka puasa terindah dalam hidup saya: Dilakukan bersama-sama, kala matahari sedang tinggi-tingginya, diawali Allahuma Lakasumtu juga, dan poin intinya: semua merasa(kan) kesakralannya.

Realisme magis !

5 Juni 2016

Dokumentasi Hari ini:

Tak ada dokumentasi di rumah Wawan,
hanya ada foto saat Malam Takbiran







Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018