bagus panuntun

berubah!



Supaya tidak dipanggil anak senja dan filosofi, ada baiknya kami jelaskan terlebih dahulu, bahwa kami pernah sepakat tak begitu peduli apakah kopi itu digiling atau digunting. Bagi kami, selama terasa nikmat dan bikin melek, kopi tetaplah kopi. Terlepas apa ia digiling, digunting, atau digeprek dengan jidat Setya Novanto misalnya.

Lagipula, banyak hal lebih menarik daripada soal itu.

Misalnya, di ujung Selatan Bandung, konon ada petani yang menanam kopi dengan niat ibadah dan konservasi. Ia menanam dengan cara seratus persen organik, pupuknya dari tahi kambing dan kencing kelinci, dan setelah 4 tahun konsisten di jalan tersebut, ternyata kopinya bisa jadi kopi termahal di dunia.

Kami beruntung bisa bertemu dengannya.

“Saya sebetulnya orang yang terjerumus ke kopi”, ujarnya ketika kami mengatakan ia adalah salah satu petani dengan nama paling moncer di Indonesia. Namanya melejit setelah kopi Gunung Puntang yang ia budidaya mendapat predikat kopi termahal di pameran Specialty Coffee Association of America (SCAA) 2016 di Atlanta, Amerika Serikat. Kala itu, kopi Sunda Hejo yang ia bawa terjual 55 USD per kilogram.

Berkat prestasi tersebut, kopi Gunung Puntang kini menjadi kopi yang paling dicari para penyuka kopi. Presiden Joko Widodo bahkan menjulukinya sebagai kopi terenak di dunia. Dan akhir tahun lalu, Kepala Staf Kepresidenan, Pak Moeldoko, datang langsung ke lahan yang ia kelola.

Uniknya, ia sebenarnya tak punya latar belakang pendidikan sebagai petani. Bapak kelahiran Bandung 12 Januari 1965 ini adalah Sarjana Pendidikan Luar Sekolah (PSL) IKIP Bandung. Hingga usianya yang sudah menginjak kepala 5, ia terus bekerja di Jakarta sebagai kontraktor listrik yang mengurus pipa pembuangan air laut Ancol.

Bagaimana ceritanya hingga ia bisa terjun bebas ke dunia perkopian? Adakah pahit-getir proses dalam usahanya membudidayakan kopi yang 100 persen organik? Apa pendapatnya tentang film Filosofi Kopi?

Sambil lesehan di saung bambu kebunnya, dengan suguhan kopi Puntang yang diracik calon dewa roasting @akil_dhafiq, saya dan pacar saya @hydeborah mewawancarai Pak @Ayi_sutedja selama 1 jam.

Berikut petikan wawancara kami:


Sebelum menjadi petani kopi, Bapak adalah pekerja kontraktor. Mengapa Bapak memutuskan berhenti dari pekerjaan tersebut kemudian jadi petani kopi?

Saat itu, bahkan sebenarnya saya mau diangkat jadi kepala pabrik lo.
Waktu itu saya kerja di Ancol selama setahun. Tepatnya di bagian pompa pengendali banjir. Saya di bagian processing, di electrical. Di sana itu wah bau pisan euy. Apalagi sungai Ancol itu sangat terpolusi, baunya luar biasa, airnya item. Terus kalau pompa pengendali ini didiamkan dua jam saja, orang udah pada demo karena Ancol bisa aja banjir. Bayangkan.
Lalu saya mikir, saya udah cukup hidup untuk diri sendiri setelah bekerja sampai umur 51 tahun. Sekarang saya mau membuat sesuatu yang berguna untuk orang lain, yang berguna buat bumi. Saya harus buat sesuatu.
Di saat bersamaan entah kenapa waktu itu ada teman saya yang menawarkan katanya ada tanah, kebun, dan hutan di gunung Puntang. Kebetulan dulu waktu muda, saya sering main ke sini juga buat konservasi sama pecinta alam.
Lalu entah gimana saya menerima tawaran teman saya dan nurut aja tinggal di tanah perhutani ini.

Apa ada kendala tertentu yang Bapak alami ketika pertama kali berubah haluan jadi petani?

Waktu saya pertama tinggal di sini tahun 2011, pemerintah mengharuskan petani menggunakan tanah perhutani ini sesuai aturannya. Saya diberi tanah sekitar satu hektar.
Masalahnya, sebelum saya datang, di sini banyak orang yang tanam sayuran. Padahal itu dilarang karena bikin tanah rusak. Waktu itu tanah humusnya mungkin cuma 20 cm, belum terlalu tebal.
Lalu Juni 2011, datang benih kopi Sunda Hejo yang eksplorasi benihnya ada dari Garut, Cigede, Pengalengan dan lain-lain. Nah saya terima dan sebarkan benih sunda itu.
Kita tanam 10.000 benih per tahun. Saya belajar prosedur penanamannya dari buku saku judulnya Cara Budidaya Kopi. Kami gali lubang 60 x 60 x 60 cm buat tanam satu biji.
Lalu dapat panen pertama baru 2015.

Kenapa butuh waktu sampai 4 tahun untuk panen pertama?

Karena kita nggak pakai dopping atau pupuk kimia. Kita murni organik. Dan waktu itu kita pun nggak memikirkan untuk produksi. Kita lebih fokus ke konservasi aja.
Tapi selama proses itu, saya jadi tahu kalau kopi bukan “cemcul”. Jadi nggak sekadar dicemcem, terus dicul. Kopi itu harus diurus tiap hari sampai beberapa tahun baru bisa dilepas.

Bapak kan pakai pupuk organik, biasanya menanam pakai pupuk organik ini akan mengalami banyak kendala. Apa itu juga terjadi pada Pak Ayi?

Produksi memang jadi berkurang dibanding kalau pakai pupuk kimia. Tapi kopi puntang ini sekarang justru mahal harganya karena organik.

Ada nyinyir-nyinyir dari warga nggak terkait idealisme bapak Bertani organik? Hehe.. Biasanya kan sering begitu kalau di Indonesia.

Sekarang nggak ada. Kopi juara mau dinyinyirin gimana? Haha. Kan mereka ikut saya dari 2015 setelah dapat juara.
Kecuali  di awal-awal. Awalnya mah mana mereka mau?
Awalnya saya bagi-bagi 10.000 bibit, tapi nggak ada yang ambil nih bibit Sunda Hejo. Padahal gratis. Akhirnya saya sama Pak Mamat saja yang urus. Ya udah saya tanam nih kopi buat konservasi.
Saya waktu itu bikin lubang tanam volumenya 60 x 60 x 60 cm untuk dikasih benih satu. Saya percaya apa kata perhutani, kalau per hektar cukup ditanam 500 pohon saja, jangan 2000 pohon.
Ngapain coba, memang yang lain ada yang mau tanam cara begini?
Orang-orang awalnya mah bilang kalau caranya begitu kopi nggak ada nilainya.
Tapi sejak awal saya tahu kalau masyarakat memang nggak bisa diajak pakai ceramah, tapi pakai bukti. Ini rumusnya: buktikan dulu baru ajak.
Dulu saya mau buktikan ke masyarakat kalau kopi bisa menghidupi kita. Jadi, motivasi saya bukan untuk jadi kopi juara, tapi kopi bisa jadi penghasilan masyarakat.

Selain konsisten menanam dengan cara organik, adakah upaya lain yang bapak lakukan untuk meyakinkan para petani supaya mau menanam kopi seperti Bapak?

Tahun 2012 banyak ketakutan dari petani kalau petani nanti balik lagi ke sayur. Nah tugas saya adalah bagaimana menjaga biar itu nggak terjadi.
Makanya saya bikin program Namanya Pasar Palalangon. Di pasar ini, kita bisa belajar processingdengan bantuan Bu Hajjah Jeni dari Jakarta yang menyumbang alat komplit karena beliau juga ingin ikut serta mengajak masyarakat beralih dari sayur ke kopi.
Yang paling penting adalah bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa dengan organik kita akan sehat dan kita akan sejahtera.
Perlu dijelaskan juga kalau di Puntang ini kan air mengalir dari gunung langsung turun ke kampung, jadinya kita harus sosialiasi terus menerus kalau alam harus dijaga dan hutan itu sumber kehidupan. Hasilnya sekarang pohon besar di sini juga nggak ditebang.
Selain itu, di sini rata-rata kan orang Islam, saya selalu mengingatkan ke petani kalau menanam itu sodakoh. Jadi selain membangun ekonomi, menanam adalah ibadah. Kamu tanam satu kopi, berarti 1 orang terselamatkan. 1 kopi berarti 700 liter air kami simpan. Jadi itu nilai plusnya di sini.

Pupuk di sini kan organik, asalnya dari mana aja?

Ini swasembada dari warga sini. Kita pakai tahi kambing dan kencing kelinci dari peternakan warga. Masyarakat selalu menyisihkan komposnya buat petani karena sejak 2015 mereka sudah tahu kalau pupuk juga punya nilai ekonomi, ya meskipun dibayar sekadar uang rokok.

Itu pemakaian pupuknya kapan saja?

Ketika mau berbunga, ketika memerah, ketika mau panen.
Pemakaian urin kelinci biasanya 3 bulan sekali, kalau kambing 2 bulan sekali.

Selain penanaman organik, apa yang membedakan proses penanaman kopi di sini dengan tempat lain?

Yang utama sebenarnya bukan dari benihnya. Meskipun varietas atau klon juga berpengaruh pada rasa, tapi di Puntang, kelebihannya adalah pada processing-nya.
Di tempat lain, processing justru biasa jadi kelemahan para petani dari Sabang sampai Merauke. Mereka nggak bisa mengolah kopi sampai bisa menjadi kopi specialty. Kopi specialty itu kopi yang mendapat skor di atas 85 dari SCAA. Dulu maksimalnya kopi Indonesia dapat nilai 84.
Kopi gunung puntang kan dapat skor 86 dari SCAA. Sejak saat itu mulai dikenal kopi specialtyIndonesia.
Jadi di kopi itu panjang rantainya. Mulai dari menanam sampai panen.
Untuk membuat kopi specialty kita pakai metode dry hulled. Dalam proses ini, yang dicari adalah ciri khas rasa. kopi
Ada 3 proses di specialty yaitu natural, honey, dan full wash. Nanti kopi dengan proses beda, akan menghasilkan rasa berbeda pula.
Kalau proses natural adalah proses menjemur kopi sama kulitnya.
Jadi kopi dipetik lalu dicuci lalu dimasukkan ke air untuk diambangkan. Ini proses sortir. Kopi yang tenggelam kita proses karena itu yang bagus, kalau yang mengambang itu akan akan jadi kopi grade dua.  Setelah sortir selesai baru kita dijemur.
Kalau proses honey, kopi dimasukkann ke mesin pulper untuk mengupas kulit merahnya atau kulit luar. Setelah itu, kopi yang tersisa dengan kulit dalamnya dikeringkan. Selama proses pengeringan, kandungan gula dalam kulit dalam/kulit keras akan terkonsentrasi ke bijih kopi.
Kopi yang sudah dijemur lalu akan langsung dikupas kulit kerasnya lalu kita simpan dulu selama 3 bulan, baru kita roasting. Honey Gunung Puntang ini seperti ubi cilembu yang harus disimpan dulu berbulan-bulan, baru bisa enak.
Kalau proses full wash, kopi dikupas lalu bijinya direndam. Proses rendam ini namanya fermentasi basah. Setelah satu malam disimpan, besoknya dicuci sampai lender dari kulit dalamnya bersih.
Soal hasilnya, body (kepahitan) dan acid (keasaman) akan seimbang. Kopi di Jawa ini bagusnya seimbang. Makanya starbucks dari dulu ambilnya dari Ijen, dari Banyuwangi.
Kopi Indonesia itu semakin ke Barat atau semakin Gayo maka body-nya makin kuat, makin pahit. Kalau makin ke papua, itu semakin asam.
80 persen mutu kopi itu ada di processing, 10 persen sangrai, 10 persen barista.

Hasil panen per tahun di sini berapa Pak?

Kalau saya mah nggak pernah ngitung. Yang penting jalan terus. Tapi kalau nggak salah tahun kemarin kami panen 1,8 ton.

Ini berarti panennya itu berapa kali setahun?

Setahun sekali. Bulan September kopi ini berbunga, lalu Juni mulai panen.

Kopi di sini jenis Sunda Hejo semua ya pak?

Kopi Sunda Hejo ini kalau diurut dari sejarah aslinya itu disebut kopi tipika. Kopi tipika sudah ada dari jaman Belanda dulu. Java preanger-nya tahun 1.700-an itu ya kopi tipika ini.
Tahun 1.700 ekspor pertama kopi Belanda itu kan ambil dari sini. Waktu pertama dilelang di Belanda, tipika jadi kopi termahal. 300 tahun kemudian, peristiwa serupa terjadi di Atalanta. Setelah 300 tahun, sejarah baru terulang saat kami ikut acara di SCAA.
Kalau kopi di sini orang Kediri nyebutnya kopi tipika. Kalau kami menyebutnya kopi Sunda. Jadi sebut aja tipika Sunda.
Jadi nama kopi itu akan merujuk ke indikasi geografis dimana kopi itu ditanam. Kami sudah mengajukan nama legalitas kopi Sunda ke MPIG (Masyarakat perlindungan Indikasi Geografis) dan mendapat sertifikasi langsung dari Kemenkumham.

Kopi Gunung Puntang kan pernah menang di SCAA. Sebenernya ini event kopi sebesar apa dan seberapa besar gengsinya di kalangan penikmat kopi sedunia?

Saya awalnya juga nggak tahu. Waktu itu awalnya kementerian perdagangan dapat undangan buka stan utama di Atlanta tahun 2016. Nah kebetulan saat itu Indonesia lagi promosi kopi terus.
Saya kan tergabung di SCOOPY, Sustainable Coffee Produk Indonesia. Dari 75 kopi anggota SCOOPY yang diseleksi, terpilih 17 kopi yang dibawa ke Atlanta. Kopi Gunung Puntang salah satunya.
SCAA ini event besar karena semua buyer, barista, dan semua penikmat kopi dari Eropa, Amerika, datang ke sana. SCAA ini jadi standar internasional bagi penikmat kopi sedunia.

Konsumen Kopi Puntang ini siapa aja Pak?

Konsumennya lebih ke penikmat, kami belum bisa memenuhi permintaan kafe-kafe. Produksinya terbatas dan habis terus. Tapi intinya kami nggak pernah khawatir pemasaran karena selalu laku.

Kopi Gunung Puntang ini jadi makin terkenal setelah Pak Jokowi mengatakan kalau kopi ini kopi terenak di dunia. Ada pengaruh nggak ke kopi Gunung Puntang?

Ya kopi ini jelas jadi makin terkenal.
Pak Moeldoko pernah ke sini karena diminta Pak Jokowi cari kopi yang benar-benar kopi juara. Pak Jokowi kan pernah nyobain kopi Puntang di salah satu kafe di Bandung, tapi dia nggak yakin itu beneran dari sini apa bukan.
Media promosi Kopi Gunung Puntang ini bukan saya sendiri, tapi orang yang datang ke sini akan jadi marketingnya. Bahkan Pak Jokowi jadi marketing, haha..

Saat ini kopi sangat populer di kalangan anak muda dan bahkan menjadi lifestyle tersendiri, bagaimana menurut Bapak tentang fenomena ini?

Sebenarnya bagus karena semakin banyak anak muda yang tertarik sama kopi, tapi sayangnya kebanyakan lebih tertarik ke roasting dan barista karena kelihatan keren gitu. Coba aja ke processing-nya.
Tapi naiknya tren ini sebenarnya jadi kekhawatiran kita juga. Karena konsumsi naik 2,1 persen, tapi produksi menurun. Ini menandakan beralihnya negara produsen jadi negara konsumen. Kan ekspor jadi menurun juga.
Penikmat kopi semakin banyak tapi produksi semakin menurun.

Apa pendapat Bapak tentang buku atau film Filosofi Kopi?

Bagus sekali, paling tidak karena Filosofi Kopi jadi ada dokumentasi dan penyaluran ilmunya lebih gampang. Tahun 2005 itu saya baca Filosofi Kopi-nya Dee, karena nemu di minimarket di Jakarta. Dan Dewi Lestari itu luar biasa karena dia melakukan riset yang kuat sekali, dia bicara dari hulu sampai hilir, dari petani sampai barista.
Reporter: Ari Bagus Panuntun dan Deborah Gita Sakinah

Saya dan @hydeborah bepergian dua hari di kota Semarang, tidak dengan "Panduan Wisata Lengkap" dari google melainkan dgn modal screenshoot "Panduan Mengencangkan Perut di Kota Kami" yang ditulis Paman Yusi Avianto di whatsapp untuk Sabda Armandio.

Saya kira, saya memang tak butuh panduan wisata kota. Buat apa? Wong dia warga lokal.

Oh ternyata saya keliru. Jalan utama Semarang saja dia tak hafal dan kami harus dipandu aplikasi peta kemanapun mau pergi. Tak apa. Dia sudah mau menjadi sopir saya, dan kami beberapa kali hampir dihantam truk bersama. Manis sekali.

Lalu kami mulai menelusuri satu per satu isi panduan Paman Yusi.

Dimulai dari gulai sumsum kambing Warung 29 depan gereja Blenduk, nasi glewo koyor, lalu berburu wedang blung di Pecinan yang ternyata sudah gulung tikar dan membuat kami memesan jamu jun, jamu aneh yang ditaburi merica. Rasanya hangat, mantap, tapi sedikit pedas seperti chat yg hanya dibalas "Oh", "iya", atau "wkwk" (yg ketiga ini paling saya benci).

Kami tentu juga makan menu di luar panduan Paman Yusi. Dia memilih sarapan Soto Bangkong, sementara saya mengajaknya makan mangut manyung yang ternyata tak sedahsyat mangut beong Borobudur.

Dari sekian tempat makan yang kami datangi, makan gulai sumsum adalah yg paling biadab. Kami makan ganas seperti babi. Selama hampir setengah jam, kami sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak saling ngobrol, kecuali saling mendengar rapalan "Oh my God..." atau "Ya Allah... enake pol Ya Allah...".

Di tengah makan, ia membuat penemuan: tulang yang sumsumnya sudah dihisap dan tengahnya kopong, bisa dijadikan sedotan untuk minum kuah gulai.

Cerdas.

Tapi setelah itu saya selangkah lebih jenius: menemukan bahwa tulang yang masih berisi sumsum pun bisa dijadikan sedotan. Dengan hisapan yang sedikit lebih kuat, sumsum tulang akan terhisap sekalian dengan kuah-kuahnya. Sensasinya: transendental!

Kami juga jalan-jalan ke tempat wisata macam Sam Poo Kong, Lawang Sewu, Kota Lama, Masjid Agung, dan sebagainya. Namun yang paling berkesan adalah Pagoda Avalokitevara.

Di pagoda itu, kami bertemu dengan 3 dewa, lambang wedang congyang yang sebenarnya sama-sama ingin kami tenggak namun sepertinya tak bakal terjadi. Ya, dalam imajinasi kami, kami adalah dua bocah bergajulan yang ingin mabuk-mabukan. Tapi, didikan orang tua yang alim sejak kami kecil membuat kami tak pernah tenang tiap kali bicara soal dosa.

Tapi bukan 3 Dewa yang membuat Semarang begitu berkesan, melainkan satu pohon di Avalokitevara yang benar-benar indah.

Namanya pohon Bodhi dan pohon itu memancarkan aura yang sangat teduh. Pohon dengan daun berbentuk hati ini konon merupakan tempat kesempurnaan Budha Sidharta Gautama. Di sanalah, Budha mendapatkan pencerahan.

Di pohon Bodhi, orang-orang menuliskan doa di atas sehelai pita merah. Mereka menggantungkan harapannya dengan doa-doa yang begitu konkrit: semoga hutang-hutang terlunasi, semoga papa sembuh dari sakit, semoga mama merestui cinta kami, dan sebagainya.

Di bawah pohon yang damai itu, diam-diam saya juga memanjat doa. Dan doa itu juga konkrit sekali.

Jika ada satu alasan yang membuat orang mulai mengatakan “Jogja tak lagi aman” alih-alih “Jogja berhati nyaman”, barangkali alasan yang paling jamak adalah makin banyaknya aksi klitih di Jogja.
Klitih sendiri dimaknai sebagai aksi kekerasan remaja untuk menganiaya orang di jalanan dengan target korban yang mana suka. Artinya, tak ada motif pribadi semacam dendam kesumat atau bahkan motif ekonomi seperti  merampok atau mencopet. Motivasi para pelaku konon tertuju demi harga diri mereka di antara teman-teman selingkarannya. Dalam bahasa yang lebih kekinian, motivasi klitih adalah “keren-kerenan” di antara sesama pelaku. Semakin kejam, brutal, dan membuat orang menjadi gempar, maka semakin keren pula mereka.
Ada banyak pendapat yang mengungkapkan tentang sebab menjamurnya klitih di Yogyakarta. Beberapa berpendapat bahwa klitih lahir dari tradisi tawuran antar sekolah, sementara ada juga pendapat yang mengatakan klitih lahir dari kemuakan warga lokal terhadap semakin banyaknya pendatang di Kota Pelajar, yang seringkali tak paham patrap alias unggah-ungguh alias tata krama hidup di Jogja.
Pendapat pertama saya kira cukup masuk akal. Klitih pada awal dekade 2.000-an memang identik dengan tawuran antar pelajar. Para pelajar yang kebanyakan pelajar SMA ini, biasanya menghabiskan akhir pekan dengan berombongan dan berboncengan motor, keliling kota, lalu ketika berpapasan dengan pelajar dari sekolah lain, mereka akan mencoba mencari masalah supaya bisa melibas ‘lawan’-nya. Meski demikian, pada awalnya klitih masih terbatas pada aksi saling hantam saja. Tak ada penggunaan senjata tajam, apalagi aksi membunuh secara random seperti sekarang.
Beralih ke pendapat kedua yang menyatakan klitih hadir dari makin banyaknya pendatang, saya kira pendapat ini sangat perlu kita pertanyakan. Pendapat ini mungkin tak sepenuhnya salah. Kita saat ini memang seringkali melihat para pendatang di Jogja yang kurang srawung dengan masyarakat lokal, bahkan seringkali bersikap eksklusif, dan hanya bergaul dengan teman sesama daerahnya. Namun di sisi lain, saya kira para pendatang juga tak sedikit dalam memberi pemasukan bagi warga lokal yang misalnya berbisnis indekost, kuliner, atau bisnis-bisnis kreatif lain. Sejauh pengamatan pribadi saya, masih ada simbiosis mutualisme antara pendatang dengan warga lokal.
Tak hanya itu. Dalam relasi yang lebih bersifat humanis, kolaborasi warga lokal dengan pendatang juga punya andil besar dalam mengangkat nama Jogja sebagai salah satu kota paling kreatif di Indonesia. Jika kita bergabung dengan komunitas tertentu di Jogja, kita tentu akan melihat bahwa komunitas-komunitas di Jogja diisi  anggota dengan spektrum yang sangat berwarna: ada warga asli Jogja namun ada juga yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Kolaborasi dalam berbagai komunitas ini saya kira justru memperkuat citra Jogja sebagai kota yang pluralis sekaligus multikultural.
Ketidakpercayaan saya terhadap pendapat kedua semakin kuat ketika bulan ramadhan lalu terjadi aksi klitih yang menewaskan kakak angkatan saya di Fakultas Ilmu Budaya: Dwi Ramadhani alias Kubil.

KUBIL DAN JAGAL KLITIH BERUMUR 16 TAHUN

Kubil melewati hari terakhir dalam hidupnya dengan membagikan sahur gratis kepada orang-orang jalanan sebelum kemudian tewas dibacok di perempatan Mirota, Jogja. Kematiannya yang tragis namun jatmika kemudian mengundang bela sungkawa tak habis-habisnya, namun tak pelak juga diikuti amarah pada begal pembunuh yang awalnya tak diketahui siapa.
Setelah beberapa hari dilakukan pelacakan, para polisi dan detektif akhirnya berhasil mengungkap siapa pembunuh tak dikenal tersebut. Namun orang-orang tak pernah menyangka bahwa salah satu sosok yang membunuh Kubil adalah bocah berumur 16 tahun.
Ketika mendengar berita tersebut, saya mulai memikirkan, apakah benar seorang bocah semuda itu sudah mempersoalkan tingkah-adab para pendatang?
Pertanyaan ini akhirnya terjawab setelah suatu hari saya menuliskan kegelisahan tersebut di twitter dan mendapat respon dari @lelakibudiman yang mengirimkan tulisan berjudul “Lumrahing Manungsa”. Tulisan di blog pribadi Ahmad Rahma Wardhana ini menyoroti sosok tersangka pembunuhan Kubil, si bocah 16 tahun, yang merupakan tetangganya sendiri.
Wardhana menceritakan masa lalu bocah tersebut yang ternyata adalah korban perundungan saat masih SD dan SMP. Ia kerap dipaksa dimintai uang, dikeroyok, hingga dikucilkan teman-teman sekelasnya. Namun alih-alih mendapat tanggapan serius dari pihak sekolah, ia justru dua kali dibiarkan harus pindah sekolah hingga akhirnya mendapat teman sepergaulan yang bengis dan barbar.
Kita tentu paham bahwa kita tidak sedang membela bocah tersebut meski kita tahu nasib pernah merenggut masa kecilnya yang indah. Tetapi dari sini setidaknya kita tahu, bahwa permasalahan klitih tak sekadar hadir karena semakin banyaknya jumlah pendatang. Lebih dari itu, ada sebab yang lebih mengakar dan saya kira hal itu berasal dari pendidikan kita.
Sejak SD hingga SMA, kita tak sekali-dua kali melihat mereka yang dianggap badung justru semakin disingkirkan. Bimbingan Konseling di negeri kita lebih sering memberi poin hukuman bagi anak-anak bermasalah, alih-alih mendampingi dengan sabar atau mencari tahu sebab-musabab kenakalan mereka. Saya kira hal tersebut yang membuat istilah ‘di-BK’ terkesan sangar dan terdengar buruk.
Sementara guru-guru di kelas juga tak kalah moralisnya dan biasanya lebih tak peduli mengapa seorang siswa bisa menjadi sangat brandal. Memikirkan hal tersebut, saya jadi teringat satu sosok guru dalam film India berjudul Hichki (2018).

HICHKI DAN BAGAIMANA NAINA MATHUR MENGAJAR KELAS 9F

Hichki berkisah tentang Naina Mathur (Rani Mukerji), seorang guru penderita touerette syndrome, sebuah gangguan neurologis yang membuat penderita tak bisa berhenti cegukan seumur hidupnya. Ia tak bisa mengontrol cegukannya atau bahkan sekadar menahan diri untuk diam selama 5 menit. Lebih lagi, suaranya saat cegukan sungguh keras dengan bunyi “Cak! Cak!” atau “Wak! Wak!” yang aneh betul saat didengar.
Pada mulanya, penyakit bawaannya membuat Naina harus ditolak 18 kali ketika melamar sebagai guru. Sampai akhirnya, setelah 5 tahun menjaga mimpi, Naina mendapat kesempatan untuk mengajar di St. Notker, salah satu sekolah unggulan yang mau menerima Naina karena dua hal: pertama, Naina adalah alumni St. Notker yang berprestasi, kedua, Naina hanya diberi kesempatan mengajar di kelas 9F, kelas yang dihuni 14 bocah bergajulan dari daerah kumuh Mumbai.
Bocah-bocah kelas 9F adalah siswa yang bisa diterima di St. Notker karena kebijakan pemerintah India, yang menghendaki setiap sekolah harus menerima murid yang tinggal di sekitar lokasi, terlepas dari kualitas yang mungkin berada di bawah standar. Tujuan program tersebut memang untuk memberi kesempatan bagi anak-anak kurang mampu untuk mengenyam pendidikan berkualitas. Sayangnya, kenakalan penghuni kelas ini membuat tak satupun guru mau mengajar mereka. Sampai akhirnya Naina datang.
Ketika Naina mendapat kesempatan mengajar di hari pertama, Naina pun dikerjai habis-habisan. Bocah-bocah ini misalnya memasang kursi dengan kaki patah yang membuat Naina terjungkal dan dipermalukan di depan umum. Mereka bahkan menirukan cegukan Naina untuk mengolok-oloknya. Namun alih-alih menyerah dan menyalahkan moral anak-anak tersebut, Naina justru berusaha mencari tahu latar belakang mereka.
Dalam satu fragmen, Naina yang heran mengapa tak ada satupun orang tua yang datang saat pengambilan rapot, memutuskan untuk datang ke rumah murid-murid 9F. Pada kunjungannya tersebut, Naina akhirnya tahu bahwa murid-muridnya lebih memilih membantu orang tuanya menjual sayur di pasar atau menambal ban di bengkel. Ia juga melihat realitas bahwa mereka tinggal di lingkungan yang mengalami kekeringan dan harus berebut air minum ketika kemarau datang. Dari kunjungannya, Naina akhirnya tahu bahwa penghuni kelas 9F adalah bocah-bocah yang terlahir di lingkungan kumuh dan berada dalam lingkaran setan kemiskinan.
Dari situlah Naina memutuskan untuk berusaha melakukan apapun supaya murid-muridnya tetap bisa diterima di St. Notker dan punya harapan yang lebih benderang untuk masa depan mereka.
Film Hichki saya kira sangat kontekstual untuk melihat bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia sekarang. Hichki adalah film yang menyinggung isu diskriminasi dalam lingkungan pendidikan. Dan kita tahu, diskriminasi adalah permasalahan pelik. Sekolah sebagai ruang yang konon menjunjung tinggi nilai kesetaraan, nyatanya selalu memunculkan liyan dalam berbagai ragam bentuknya, mulai dari kaum difabel, mereka yang berasal dari kelas ekonomi ke bawah, atau mereka yang seringkali dianggap nakal dan bodoh.
Tak hanya sampai di situ, Hichki juga nampaknya mencoba menunjukkan bahwa akar terdalam dari permasalahan pendidikan kita adalah sistem yang terlalu demam pencapaian. Kritik ini ditunjukkan Hichki dengan fragmen-fragmen yang mempertentangkan model belajar kerja keras (hard work) dengan model belajar bersenang-senang (fun).
Dalam film ini, model belajar yang pertama diwakili oleh Mr. Wadia, guru fisika sekaligus wali dari kelas favorit, 9A, yang orientasi belajarnya sangat terpaku pada silabus. Mr. Wadia adalah perwakilan dari sebagian besar guru yang menolak kelas 9F karena menganggap mereka merepotkan dan memperendah nilai rata-rata siswa. Sementara model yang kedua tentu saja diwakili Naina, yang alih-alih kerap memberikan pelajaran di kelas, justru kerap membawa murid-murid kelas 9F belajar di taman atau lapangan. Ia juga menyempatkan diri untuk bertemu dan ngobrol dengan orang tua murid, makan es krim bersama muridnya, dan membangun kedekatan lain yang lebih bersifat kemanusiaan.
Menonton Hichki membuat saya berpikir bahwa saat ini kita perlu lebih banyak guru yang berpikir seperti Naina. Guru yang tak sekadar mengajar, namun juga mendengar. Guru yang tak hanya datang ke sekolah, namun juga sudi mampir rumah. Juga guru yang berpikir—sebagaimana dituliskan Timothy D. Walker dalam buku Teach Like Finland—bahwa sistem mendidik perlu menghargai kebahagiaan di atas pencapaian.
Salah satu kutipan paling terkenal dari film Hichki adalah ucapan Naina bahwa 
“Tak ada murid yang buruk. Yang ada hanyalah guru yang buruk.”
Ucapan Naina mungkin tak sepenuhnya benar. Namun kita tahu, guru yang mau berkata demikian adalah guru yang sangat rendah hati. Ia menyadari bahwa guru lebih bisa mengubah murid dibanding murid bisa mengubah guru.
Jika saja kita semua mau belajar dari Naina, barangkali permasalahan seperti klitih dan kenakalan-kenakalan remaja lainnya bisa teratasi.
Pagi tadi saya berkunjung ke rumah Tuan Karsoma, ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Desa Tanjungwangi.


Tuan Karsoma adalah petani desa pertama yang langsung mempraktikkan jurus-jurus membuat pupuk setelah bulan lalu mengikuti pelatihan membuat pupuk cair dari sampah organik yang diadakan lembaga tempat saya bekerja.

Ia sosok panutan sejati. Tuan Karsoma pertama memilah sampah non-organik untuk ia kilokan sehingga malih jadi pundi-pundi rupiah yang bisa buat beli rokok Dji Sam Soe. Kedua, Tuan Karsoma memilah sampah organik dan masih juga punya waktu untuk memisahkan yang kering dan yang basah.

Sampah organik yang kering ia diamkan dalam bak semen selama beberapa minggu dan setelah kering ia ayak untuk menjadi abu yang konon penuh nutrisi dan disukai ubi-ubi.

Sampah Organik Kering
Pupuk Organik Kering

Sementara itu, sampah organik basah ia tumpuk di atas jaring yang dimasukkan ke dalam tong, supaya tumpukan buah dan sayur membusuk, dikerubuti lalat, dihinggapi belatung, semakin meleleh, lalu jadi berkah setelah menetes-netes ke dasar tong, dan siap dialirkan melalui kran.

Berikut saya tuliskan cara singkat membuat pupuk cair seperti yang dipraktikkan Tuan Karsoma,

Bahan: Tong/Ember, tutup tong/tutup ember, jaring, kran.

1. Pasang jaring di dalam tong, kasih jarak kira-kira 20 cm dari dasar tong.


2. Lubangi bagian bawah tong untuk pasang kran.


3. Lubangi bagian atas tong, kira-kira 3 lubang seukuran lubang hidung orang kaukasian (lubang ini digunakan untuk keluar masuk lalat yg membantu proses pembusukan)

.
4. Taruh sampah organik basah di atas jaring. Sebaiknya berupa sayur atau buah saja - jangan taruh mayat meski mayat banyak mengandung zat cair, kau harus khawatir jika arwahnya makin sulit diterima surga.


5. Tutup rapat tong dan diamkan selama beberapa minggu sampai sampah membusuk dan mencair.
6. Alirkan pupuk cair melalui kran, masukkan ke dalam botol.
7. Sebaiknya jangan diminum.

Sekian.


Sejak menjadi mahasiswa sastra dan penjual buku sastra lalu sering bertemu dengan orang-orang yang mengaku menyukai sastra, ada satu anekdot menggelikan yang kerap saya dengar dari mereka: bercita-cita menjadi petani di wilayah yang jauh dari hingar bingar kota untuk menjalani hidup yang damai.
Pernah dengar mimpi semacam itu? Atau barangkali kamu sendiri yang mendambakannya?
Imajinasi macam itu barangkali hadir dari banyak penggambaran kehidupan pedesaan yang identik dengan suasana tentram, adem ayem, dan gemah ripah loh jinawi. Sejak masih SD, misalnya, kita seringkali membaca puisi-puisi tentang indahnya alam, kisah liburan di rumah nenek di desa, hingga lukisan mooi indie yang terpampang di dinding-dinding kelas, yang menggambarkan hijaunya sawah dengan latar belakang gunung, sungai jernih, pohon-pohon kelapa, dan para petani yang tengah menyemai padi dengan sumringah.

Tetapi, saya terus bertanya-tanya apa yang membuat banyak pecinta sastra—termasuk sebenarnya  banyak pecinta musik indie, aktivis kiri, dan seniman artsy— begitu mendambakan hidup menjadi petani desa. Persoalannya, kita tahu ada banyak sekali karya sastra yang justru menghadirkan desa sebagai ruang yang pelik dan penuh masalah. Karya-karya Ahmad Tohari,  Kuntowijoyo, atau Mahfud Ikhwan, misalnya, seringkali menggambarkan desa dengan penduduknya yang penuh prasangka, norma-norma yang terlalu mengikat, praktik-praktik korupsi pejabatnya, hingga orang-orang kecil macam petani, tukang batu, atau pedagang gorengan, yang kerap menjadi korban dari sistem kehidupan di sana.

Bagi saya yang lahir dan tumbuh besar di desa, dan kini juga bekerja di desa, impian jadi petani nampak lebih garib lagi. Hari ini, saya melihat bahwa kehidupan petani di desa tidak sesyahdu yang sering kita bayangkan. Kebetulan, saat ini saya sedang meneliti permasalahan pertanian di Desa Tanjungwangi, Subang. Dari penelitian ini, saya bertemu dan berbincang dengan puluhan petani. Dari berbagai perbincangan itulah, ada satu masalah yang kini sangat mereka risaukan: mereka tak lagi punya penerus yang bisa mengolah sawah atau ladang mereka. Bahkan dari cerita-cerita mereka, mereka tak punya lagi anak kandung yang bisa memegang cangkul. Alhasil, mereka memperkirakan bahwa dalam 30-40 tahun ke depan, sawah dan ladang yang saat ini mereka garap akan dijual kepada para pebisnis tanah. (Wow, bisa kita bayangkan kan betapa menggiurkannya bisnis menjadi mafia tanah dalam beberapa dasawarsa ke depan?)
Kembali ke pembahasan utama tulisan ini, ngibul kali ini tentu tidak hadir untuk menyinyiri semata mimpi aduhai para pecinta sastra. Saya malah sangat mendukung siapapun yang punya cita-cita tersebut, wong saya juga masih haqqul yaqin bahwa kelak saya akan punya kebun sayur di Wonosobo. Masalahnya, sudahkah kita punya modal atau persiapan untuk menuju ke mimpi yang namaste itu? Saya sih menduganya, belum. Bahkan, saya was-was kalau impian tersebut pada akhirnya hanya angan-angan yang tidak pernah ditindaklanjuti.

Lalu, hal kecil apa yang misalnya bisa kita lakukan?

MEMAHAMI HUBUNGAN MENANAM DENGAN MEMBACA
Begini, pertama kita harus memahami bahwa sedikit banyak, ada kaitan antara menanam dengan membaca. Terbuat dari apa buku yang kita baca? Yak benar, buku terbuat dari kertas, dan bahan baku kertas terbuat dari pohon, bukan dari secangkir kopi dan senja. Bicara soal kertas, sejarah dunia sebenarnya sudah membuktikan bahwa kertas memang sangat penting bagi kehidupan manusia. Kertas, misalnya, menjadi bagian dari dimensi kultural manusia untuk mengekspresikan dirinya. Lewat kertas, manusia mulai membuat puisi, cerita, surat, hingga kemudian makalah, esai, sampai berbagai penelitian. Penyebaran kitab-kitab suci di muka bumi bahkan menjadi efektif sejak ditemukannya kertas sebagai media penulisan. Singkat kata, kertas sangat berpengaruh dalam memajukan peradaban umat manusia.

Yang barangkali tidak kita tahu, ada peran ekologis dari kertas yang berpengaruh negatif dalam kehidupan manusia. Saat ini dalam kurun waktu satu tahun, ada lebih dari 400 juta ton kertas yang diproduksi di seluruh dunia. Angka tersebut membuat industri kertas menjadi industri ketiga di dunia yang menghasilkan polusi tertinggi di udara, air, dan minyak. Selain itu, kertas juga dianggap berpengaruh terhadap masalah deforestasi di muka bumi sebab, 14 persen dari hasil produksi kayu dunia digunakan untuk bahan baku kertas.
Selain itu, untuk memproduksi 1 ton kertas maka dibutuhkan setidaknya 17 pohon. Dari angka tersebut, jika dihitung-hitung, maka 1 pohon sebenarnya bisa digunakan untuk memproduksi 58 kg kertas. Berapa buku yang bisa diproduksi dari 58 kg kertas? Jika kita ambil rata-rata berat buku adalah 400 gram, maka ada 145 buku yang bisa diproduksi dari 1 buah pohon.
Maka, kini kita tahu, bahwa jika kita punya 145 buku di rak perpustakaan pribadi kita, maka setidaknya ada satu batang pohon yang sudah ditebang. Sementara itu, satu pohon setidaknya berfungsi menghasilkan oksigen untuk 3 manusia.
Melihat angka tersebut, sebenarnya kita bisa memberikan kontribusi kecil pada bumi dengan setidaknya menanam 1 pohon jika sudah punya 145 koleksi buku. Tidak berat-berat amat kan? Angka menanam satu pohon itu minimal lo. Minimal banget.
Tapi, sudahkah kita melakukannya? Ehm, jangankan menanam pohon, menanam cabai pun barangkali kita tidak pernah. Lah minat menanam kita saja masih nol?

MENUMBUHKAN MINAT MENANAM BAGI PECINTA SASTRA

Beberapa hari lalu, teman saya, Henry Satria Hutabarat, mengirimkan dua video tentang dampak pembabatan hutan di Indonesia. Video pertama memperlihatkan seekor orang utan yang muncul di tengah lokasi penebangan hutan di Kalimantan. Orang utan itu nampak berusaha menghentikan traktor dan melawan para pekerja yang ada di hadapannya. Sementara video kedua memperlihatkan puluhan orang dari suku pedalaman di Maluku Utara yang terpaksa keluar hutan dan masuk ke pemukiman warga untuk mengiba-iba dan menangis meminta makan. Dua video tersebut mau tak mau membuat saya berpikir keras mengapa seiring kita bertumbuh dewasa, alam rasanya semakin diperlakukan tidak adil oleh manusia. Atas nama pembangunan dan kemajuan, alam liar berangsur-angsur dibabat untuk digantikan beton dan gedung-gedung. Dan hasilnya, hutan kita jadi kopong.
Sementara hutan semakin ditebangi, minat menanam justru makin menyusut. Di sisi lain, publik sastra masih sering menempatkan alam dalam imajinasi yang terlalu romantis. Sekadar bermimpi menjadi petani di pinggir pedesaan tanpa ada kemauan sama sekali untuk belajar menanam, saya kira adalah satu dari tindakan snob yang perlu kita ubah.

Dari permenungan ini, saya kemudian mendapat ide inovatif untuk lapak jualan saya, Warung Sastra. Yak, bagian ini mungkin agak mengandung promosi ya, hehe. Tapi bagaimanapun, sebagai penjual buku sastra, saya menyadari bahwa saya adalah subjek yang juga berperan dalam isu yang sedang kita bahas. Maka, saya membuat satu terobosan baru dari penjualan buku di lapak kami. Insyaallah, mulai bulan Juli, kami akan berupaya menyebarkan semangat kecil untuk menyadarkan bahwa “Minat menanam sama pentingnya dengan minat membaca”. Wujud kongkritnya, kami akan memberikan beberapa benih bunga atau sayuran bagi siapapun yang membeli buku di Warung Sastra. Bonus benih ini akan mulai diberikan setelah launching website kami yang saat ini masih dalam proses penggarapan. Harapannya, berawal dari tumbuhnya minat menanam, maka tumbuh pula kesadaran untuk lebih terlibat dalam upaya pelestarian alam. Berawal dari menanam bunga matahari, bunga telang, atau sawi dan tomat, barangkali kerja melestarikan alam jadi lebih semangat.

Ada pelbagai jalan untuk mencintai dan menjaga alam. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah menumbuhkan minat menanam pada orang-orang terdekat. Masing-masing dari kita bisa memberikan kontribusi kecil sesuai bidang yang kita tekuni. Toh saya kira, keterkaitan antara sastra dengan menanam juga sebenarnya sudah ada sejak jaman dahulu, sebagaimana dikatakan Voltaire dalam penutup novel klasik Candide yang terkenal itu “cela est bien dit, mais il faut cultiver notre jardin” yang mungkin bisa kita maknai lagi sebagai “sastra adalah pepesan-pepesan yang bagus, tapi bagaimanapun, kita juga harus merawat kebun kita”.


hidup segan
mati tak mau

perbanyak tidur saja

“Pantas Thanos ingin menghabisi setengah makhluk hidup ya!”

Saya tengah terjebak macet Kota Bandung ketika keluhan itu keluar dari mulut saya. 30 menit sebelum berada di angkot ini, saya baru saja menonton Avengers: Infinity War dan masih hangover setelah melihat Thanos mengosak-ngasik para superhero hingga mereka keruntang-pungkang dan depresi.
Kali ini giliran saya yang depresi. Siapapun yang sering bepergian di kota ini tentu tak asing lagi dengan kemacetan kota yang sudah pilih tanding dengan kemacetan Jakarta. Perjalanan yang harusnya bisa kita tempuh dalam 10 menit, bisa-bisa belum tuntas setelah satu jam. Parahnya, macet ini membuat kita tak mungkin lagi percaya bahwa dunia akan jadi lebih baik. Jumlah penduduk kota makin bertambah, sementara pertumbuhan ruas jalan tak sebanding. Di sisi lain, ekspansi pasar mobil dan motor telah mencapai titik gila-gilaan yang membuat siapapun bisa punya kendaraan pribadi. Bagaimana menguraikan masalah ini? Dengan walikota gaul yang konon jenius itu pun masalah ini sama sekali tak nampak lebih baik. Tambah parah, iya. Lalu bagaimana mengatasinya?
Seperti kata Thanos: habisi setengah makhluk hidup! Cepat, singkat, adil pula. Tak pandang ras, tak pandang kaya-miskin, bahkan tak pandang kualitas iman. Semua sama di mata Thanos: layak lenyap.
Tapi seketika saya terkesiap ketika lewat di depan Pasar Gandok. Tiba-tiba saya teringat bapak-emak saya yang juga seorang pedagang pasar.  Lalu saya membayangkan seandainya mereka jadi salah dua korban Thanos. Sungguh tidak adil jika mereka harus lenyap dari muka bumi karena dianggap membuat dunia tidak seimbang. Apa dosa orang-orang desa macam bapak-emak saya? Mereka yang tiap hari tandhur, makan secukupnya, tidak pernah menyerap sumber daya alam berlebih, dan rajin sholat pula, bukankah sosok-sosok yang justru membuat dunia jadi lebih baik?
Baiklah, saya mulai meragukanmu meski belum sepenuhnya tak setuju dengan idemu, Thanos! Tapi saya mulai curiga, jangan-jangan selama perjalanan langlang buanamu mengelilingi planet-planet, kau hanya hanya turun di kota-kota besar saja? Jangan-jangan kau hanya tahu tempat-tempat macam Bandung atau New York? Jangan-jangan kau hanya seorang bocah metropolitan Titan yang sama sekali tak tahu ada tempat yang tentram macam Nglipar atau Kalipetung?
Di titik inilah saya mulai mempertanyakan ide besar Thanos. Darimana Thanos mendapat ide segila itu? Keheranan saya datang sebab pertama, Thanos bukan seorang psikopat. Tak seperti Joker dalam Batman atau Hidan dalam Naruto, Thanos tidak membunuh untuk bersenang-senang. Hal ini terlihat misalnya ketika Thanos tak segera meremukkan kepala Thor di fragmen pertama Infinity War. Kedua, Thanos nampaknya tak punya masa lalu yang kelam-kelam amat. Sebagian besar villain, kita tahu, adalah tokoh-tokoh dengan masa lalu sangat kelam yang akhirnya memilih menjalani sisa hidupnya dengan merusak dan membalas dendam. Bukankah kisah “pengkhianatan” Gamora terhadap Thanos juga bukan kisah cinta yang pedih-pedih amat? Kalau Thanos mau merenung sedikit, kepergian Gamora bahkan tak pantas disebut pengkhianatan. Kita tahu, Gamora pergi bukan untuk bergabung dengan pihak lain. Gamora pergi semata karena ia muak dengan orang tua asuh yang hanya mendidik anaknya untuk adu jotos dan bahkan menyiksanya sedari kecil.
Jikalau Thanos benar memiliki masa lalu kelam, satu-satunya hal yang menurut saya paling masuk akal adalah pengalaman Thanos ditertawakan orang-orang seplanet Titan karena idenya.
Masalahnya, apakah Thanos memang tidak layak ditertawakan untuk ide fantastisnya tersebut? Kita mungkin masih bisa memaklumi jika misalnya Thanos mendapat ide itu dari wahyu kitab kuno atau  kitab suci. Tapi kita tahu, Thanos tak berpijak pada hal tersebut, apalagi kajian ilmiah.
Maka saya mulai memikirkan hipotesis selanjutnya: alasan ideologi.
Sepanjang sejarah peradaban manusia, kita tak asing lagi dengan orang-orang yang melakukan banalitas kejahatan macam Thanos atas nama filsafat atau ideologi. Pol Pot misalnya, tokoh yang membantai dua juta rakyat Kamboja atas nama kesetaraan kelas ini adalah penganut komunisme agrarian. Ia percaya bahwa pada dasarnya manusia harus hidup tanpa sekat kelas dan setiap orang harus mengolah tanah dengan cara yang adil. Bagaimana cara mencapai tujuan itu? Paksa orang untuk jadi petani. Kalau tak mau, bunuh saja. Siksa mereka pelan-pelan sampai akhirnya mati. Daftar nama ini tentu masih bisa bertambah jika kita menyebut ideolog lain seperti Adolf Hitler dengan antisemitisnya atau Abu Bakr Al-Bahgdadi dengan kekhilafahan ISIS-nya.
Pertanyaan selanjutnya, apa ideologi Thanos sebenarnya?
Setelah merenung beberapa saat, saya menyimpulkan bahwa Thanos adalah seorang penganut ekosofi, yaitu sebuah aliran filsafat yang berusaha memahami sebab-musabab terjadinya ketidakseimbangan di alam semesta. Aliran ini dipelopori oleh filsuf sekaligus aktivis lingkungan asal Norwegia bernama Arne Naess (1912-2009). Naess sebagaimana para ekolog sebelumnya, meyakini bahwa perkembangan peradaban tidak berbanding lurus dengan bijaknya manusia dalam memahami alam.
Ia selanjutnya menganggap penyebab utama dari fenomena ini adalah pencerahan abad 18 yang menjadikan manusia sebagai pusat dari kehidupan. Filsafat cartesians yang menjadikan rasio sebagai pusat dari subjek juga dianggap sebagai bibit dari gagasan antroposentris, yaitu gagasan yang menyatakan alam hanya berharga dalam konteks kegunaannya terhadap kesejahteraan manusia. Akibat hal tersebut, bumi pun mengalami kerusakan. Rasio manusia modern yang selalu memiliki justifikasi untuk menyedot segala sumber daya alam telah membuat bumi jatuh dalam hiper-industrialisasi dan nampak makin tak punya harapan.
Naess kemudian merumuskan solusi atas permasalahan ini. Ia merumuskan ekosofi sebagai filsafat yang tak hanya berpijak pada rasio tetapi juga pada emosi sebagai cara kita memahami alam. Menurut Naess, selama ini dualisme rasio dan emosi merupakan sebab berbagai kesalahpahaman daya imajinasi dan daya pikir kita terhadap alam. Oleh karena itu, manusia harus mulai berubah: ia harus melibatkan emosinya dalam memandang alam. Dengan cara ini, Naess percaya bahwa selanjutnya manusia akan menemukan alam sebagai entitas yang magis dan sakral, yang pada akhirnya membuat kita menyadari bahwa kita adalah entitas yang satu dengan alam.
Thanos saya yakin adalah seorang ekosofis. Ia pertama-tama mewakili kekhawatiran paling mendasar para ekosofis yaitu bahwa “alam belantara merupakan sumber daya yang hanya bisa menyusut, tetapi tidak dapat bertumbuh”. Sebagaimana ide dari Arne Naess, Thanos juga contoh sempurna dari bagaimana seorang makhluk memiliki sentimentalitas yang luar biasa kuat dengan alam. Demi menyelamatkan semesta, ia bahkan ingin menumbalkan Gamora, satu-satunya makhluk di dunia yang konon ia cintai. Thanos dengan kesedihan yang tak dibuat-buat juga sangat mengkhawatirkan dunia sebagai tempat yang akan dilingkupi kemiskinan, kelaparan, perang, penyakit, dan kematian. Tak tanggung-tanggung, Thanos akhirnya punya misi yang terdengar sangat mulia: mengembalikan keseimbangan kosmis.
Sayangnya meski terdengar mulia, sebenarnya ada permasalahan besar pada sosok kita satu ini: ia terlalu berlebih dalam melibatkan sisi emosional sampai hampir menihilkan rasionya. Di titik ini, ia bukanlah ekosofis seperti apa yang diharapkan Arne Naess. Pada akhirnya, Thanos memang seorang ekosofis, tapi ekosofis yang cacat pikir: ekosofis imbesil.
Hei, Thanos! Jika kau mau berpikir sedikit saja, maka kau akan sadar bahwa dunia mungkin tak se-nirharapan yang kau bayangkan. Kau misalnya bisa sedikit berimajinasi bahwa masih ada banyak sekali planet yang kosong. Dengan space stone, kau seharusnya bisa memindahkan makhluk hidup dengan mudah. Kau juga perlu mikir dikit bahwa permasalahan overpopulasi yang kau khawatirkan sebenarnya tak bisa disimplifikasi sebagai penyebab utama ketidakseimbangan kosmis.
Memang benar saat ini penduduk dunia semakin bertambah. Jika kita merujuk pada Planet Bumi, saat ini Bumi sudah ditinggali 7,6 milyar penduduk dan pada 2050 diproyeksikan mencapai 10 milyar. Tetapi data dari FAO (Food and Agriculture Organization) PBB—sebuah organisasi pangan internasional planet kami—menyatakan bahwa wabah kelaparan telah mengalami angka penurunan dari angka 18,6% pada 1991 menjadi 10,8% pada 2015. Angka kelahiran bayi juga mengalami penurunan yang signifikan. Jika dulu kakek-nenek kami bisa beranak-pinak untuk membentuk kesebelasan, orang tua kami rata-rata hanya punya 2 atau 3 anak saja.
Fred Pearce (1951-sekarang), seorang peneliti bidang lingkungan lulusan Cambridge University—salah satu universitas terbaik di planet kami—bahkan menyatakan jika permasalahan utama Bumi bukanlah overpopulasi, tetapi overkonsumsi. Menurut Pearce, permasalahan yang saat ini kami hadapi datang dari tingkat konsumsi masyarakat negara maju yang mengonsumsi makanan melebihi apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Ujung-ujungnya, permasalahan yang saat ini sedang kami hadapi sebenarnya adalah masalah pemerataan pembagian sumber daya alam, bukan kekurangan sumber daya alam. Dari sini kita tahu, bahwa Bumi mungkin sedang tidak baik-baik saja, tetapi menghabisi setengah makhluknya sama sekali bukan solusi yang tepat.
Hei, Thanos! Apa kau sempat berpikir sejauh itu? Saya yakin tidak. Sebab kita tahu, kau hanyalah monster ungu jelek yang kelewat baperan tapi tak pernah pakai otak.
Sudah jelek, baperan, malas mikir pula. Kau ini penguasa semesta apa netizen?
Ah, Thanos! Panas kota Bandung yang kering kemarau membuat saya tersadar bahwa saya masih berada di dalam angkot. Sulit dipercaya bahwa selama 30 menit, saya baru saja memikirkanmu dengan keras. Juga soal keselamatan dunia. Hei, nampaknya saya sudah jadi ekosofis juga. Tapi kalaupun iya, tentu saya harus jadi ekosofis yang berpikir. Tidak sepertimu.
Sial! Saya telah tersadar dan kembali berada di tengah kemacetan yang mengular. Tapi ada yang lebih menjengkelkan. Samar-samar terlihat baliho besar bertuliskan “Jabar Asyik!”. Di dalam baliho itu, nampak seorang politikus berpeci hitam tersenyum lebar sambil menyorongkan jempolnya: Sip. Sementara itu, di bagian bawah baliho terlihat logo-logo partai politik pendukung yang berjajar horizontal. Lalu seketika saya cekikikan. Saya teringat kembali Thanos dengan 6 akiknya yang warna-warni. Tapi kali ini saya tak membayangkan keampuhan akik yang luar biasa itu. Saya justru curiga, jangan-jangan akik ini adalah metafor dari kekuasaan. Jangan-jangan mind stone adalah Golkar, reality stoneadalah PDIP, space stone adalah NasDem, time stone adalah PKB, dan seterusnya.
Duh Gusti, monster ungu dengan janggut mirip gethuk lindri yang bertaut dengan kemacetan kota dan jempol politikus memang bisa bikin gila. Tapi tak apa lah. Setidaknya dari sini saya mendapat pesan tersirat Infinity War: makhluk imbesil yang diberi kekuasaan terlalu besar, hanya akan membuat dunia jadi remuk redam.

Sumber Bacaan:

Chamary, JV. 2018. Is Thanos Right About Killing People In ‘Avengers: Infinity War’?, [online]
Dewi, Saras. 2018. Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam: Marjin Kiri
Pearce, Fred. 2010. The Overpopulation Myth: Overconsumption is the real proble, [online]


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2019 (17)
    • ▼  Desember (5)
      • Je pense que j'ai jamais vraiment idolâtré quelqu'...
      • Voy a utilizar este sitio web para escribir en esp...
      • Seumur-umur cuma bisa bikin susah orang tua, gilir...
      • C'est grave, jai vu le Horla
      • Trop de charges. Je veux que dormir 6 à 8 heures s...
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2015 (42)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (68)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2013 (50)
    • ►  Desember (9)
    • ►  November (13)
    • ►  Oktober (15)
    • ►  September (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)

Copyright © 2016 bagus panuntun. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018