Rumah Sakit


Prolog
Meski diberkati Tuhan dengan tubuh yang segar dan jarang terkena mala, namun enam tahun sudah hidup saya tak bisa terpisahkan dengan rumah sakit. Adalah orang-orang terdekat saya yang dalam waktu berbulan, bahkan bertahun, mesti berkali-kali mengunjungi tempat yang paling tak ingin dikunjunginya.
Dan saya, sebagai salah satu orang terdekat mereka, mesti sedia berkali-kali menemani, hingga satu fase di mana saya hafal betul hiruk pikuk di setiap lantai rumah sakit. Lantai satu dengan pasien-pasien siap mati yang butuh pertolongan pertama; Lantai dua, bilik panjang yang sunyi sebab terisi pasien-pasien yang mampu bayar obat secara mandiri—mereka mendapat fasilitas AC, TV, dan Kulkas (tak sekalian lapangan golf?); Lantai tiga, berisi ruang-ruang isolasi untuk penyakit-penyakit yang mudah menular; dan Lantai empat, koridor paling panas yang berisi pasien-pasien Jamkesmas.
Rumah sakit tersebut adalah rumah sakit Pemerintah di kota kelahiran saya. Tempat para pesakitan se-kabupaten berkumpul dan sebagian besar dari mereka adalah orang miskin yang lagi-lagi harus mengadu diri dengan nasib. Dan kau tahu, Rumah Sakit manapun di jagad raya selalu menempatkan orang miskin di ruang yang paling sumpek—satu ruang dipakai enam pasien dengan satu kamar mandi yang dipakai bergantian— keadaan akan makin sumpek jika rombongan penjenguk mulai datang naik hijet dari desa ke kota.
Adakah orang yang bersuka cita menghadapi keadaan tersebut? Tapi bagaimana lagi, saya adalah orang terdekat Rahayu, Abidin, dan Budiono, yang pada akhirnya harus berkali-kali menemani mereka berada di sana. Entah di ruang isolasi, atau di ruang-ruang pasien kelas tiga.

Rahayu
Menjelang Ujian Nasional, seorang siswa kelas 3 SMA selayaknya sering-sering pergi ke tempat les. Tapi tidak dengan saya, yang setelah diganyang soal try out dari 7 pagi hingga 3 sore, harus segera menuju rumah sakit menemani Rahayu.
Rahayu bolak-balik mondok sepanjang tahun 2012. Ia sebenarnya memulai mondok pertamanya dengan sebuah kabar gembira: mual-mual yang sering dideritanya ternyata pertanda bahwa ia tengah hamil anak kedua. Namun setelah tak kunjung sembuh sesudah mondoknya yang pertama, Rahayu pun harus kembali ke rumah sakit lagi dengan keluhan yang sama. Sampai pemeriksaan yang kedua selesai, Rahayu memang masih hamil, tapi kali ini ia divonis tengah “hamil anggur”, sebuah keadaan di mana janin gagal tumbuh normal dan justru menjadi sel-sel kanker dalam rahim.
Maka sejak itulah mimpi buruk itu terjadi. Rahayu mesti segera dikuret untuk membersihkan sel-sel kanker di rahimnya. Sayangnya, kuretnya yang pertama ternyata tak berhasil membersihkan sel kankernya secara sempurna. Dan akibatnya, sisa-sisa sel kanker tersebut telah berubah menjadi kanker sungguhan yang mesti diangkat.
Operasi pengangkatan kanker pun dilakukan berbarengan dengan operasi pengangkatan janin. Malang, saat itu kanker telah merambat hingga organ tubuh lainnya: dokter memvonis Rahayu juga memiliki kanker di jantung, paru-paru, dan otaknya. Saya melihat hasil rontgen tersebut dengan ngeri: melihat organ-organ tubuh yang dipenuhi benjolan-benjolan seperti monster.
Di masa itulah selama berbulan-bulan saya menemani perempuan lemah ini menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi tahap pertama, Rahayu mesti menenggak beberapa pil yang dalam beberapa jam setelahnya, maka satu per satu rambutnya akan mulai rontok berjatuhan. Yang lebih buruk dari itu, ia mengalami sari awan akut dari ujung bibir, lidah, sampai tenggorokan, bahkan usus, lambung, hingga duburnya. Pada fase yang konon rasanya seperti tubuh sedang dibakar itulah Rahayu akan mulai meracau hal-hal yang tak jelas maksudnya: Ia minta dibelikan sepatu baru, minta lipstik untuk menutup bibirnya yang penuh luka dan hitam legam, atau tiba-tiba mengucap salam ke arah pintu yang lengang. Rahayu mulai melakukan hal-hal yang aneh, sampai menjelang kemoterapi tahap kedua, dokter memvonis bahwa umurnya tak lagi sampai dua minggu.
Untuk memperpanjang umurnya barang satu atau dua bulan, dokter pun menyarankan Rahayu untuk tetap melaksanakan kemoterapi keduanya. Tetapi melihat harga kemoterapi yang sampai berpuluh juta, keluarga pun harus menyerah untuk kemudian memilih membawa Rahayu pulang dan berminggu melakukan mujahadah. Dan entah bagaimana nalarnya, dalam kurun waktu satu bulan kemudian, semua kanker dalam tubuh Rahayu menghilang, Rahayu kembali sehat dan masih hidup sampai detik ini dengan rambut terurai panjang.

Abidin
Di usianya yang menjelang 80, Abidin mengidap komplikasi penyakit akut: Asam urat, darah tinggi, diabetes, dan lemah jantung. Repotnya, ketika satu penyakitnya mulai sembuh, maka penyakit yang satunya justru akan kambuh. Repotnya lagi, Abidin bukanlah sosok generasi tua pada umumnya yang sebisa mungkin menjauhkan diri dari benda-benda medis yang asing. Abidin tidak anti pada infus, jarum suntik, atau tabung oksgen. Abidin punya semangat hidup yang luar biasa. Ia ingin suatu hari nanti bisa melihat salah satu anak atau cucunya sukses menjadi orang paling disegani di kampungnya.
Maka berbekal semangat tersebut, Abidin selalu meminta anak-anaknya membawanya ke rumah sakit tiap kali merasa penyakitnya mulai kambuh. Entah sekadar kontrol atau rawat inap. Abidin tak pernah malas menempuh perjalanan hingga 30 kilometer menuju sana. Maka dapat dipastikan sepanjang 2013-2015 (beliau akhirnya meninggal di tahun tersebut), setidaknya tiap satu semester sekali, Abidin mesti menjalani rawat inap di rumah sakit. Dan lagi-lagi, sebagai orang terdekatnya, saya pun harus menungguinya.
Dari masa menjaga yang berkali-kali itulah ada satu pengalaman unik yang terus saya ingat.
Suatu hari, saya tengah menderita galau akut akibat hubungan pacaran yang kian merenggang dan sepertinya bakal kandas. Abidin tentu saja melihat gelagat tak normal pada diri saya yang selain nampak begitu murung, juga terang-terangan tak doyan makan. Pada titik itulah Abidin tiba-tiba berseloroh, “Kalau ditinggal mati saya sesedih itu nggak?”

Budiono
Entah mengapa lagi-lagi di akhir masa studi, saya harus kembali menginap di rumah sakit. Kali ini terjadi di akhir tahun 2016. Di lantai empat yang panas dan sesak, saya mesti mengerjakan skripsi yang tak kunjung kelar sambil menemani Budiono yang menderita flek paru-paru kronis.
Ia punya cerita tersendiri sebelum akhirnya mondok di akhir tahun lalu. Paru-paru Budiono sebenarnya sudah divonis berantakan sejak 18 tahun lalu ketika ia menghabiskan setidaknya empat bungkus rokok dalam waktu sehari. Tetapi sesak dan sakit napasnya baru benar-benar terasa di awal 2015, yang membuatnya berobat jalan dengan mendatangi dokter paru-paru tiap dua minggu.
Suatu hari dalam proses rawat jalannya, Budiono kembali datang ke rumah sakit untuk meminta obat pada dokter tersebut. Dengan nafas yang mulai tersengal efek kehabisan obat, ia naik bus sendirian ke Rumah Sakit Wonosobo. Akan tetapi, sang dokter ternyata tengah mengambil liburan panjang sekaligus berangkat ibadah umrah. Sialnya, dokter ini selalu merahasiakan resep obatnya pada semua pasien. Dan kau tahu, semua apoteker di sana bersikeras untuk merahasiakan resep obat tersebut. Tak peduli bahwa pada saat itu rumah sakit benar-benar dipenuhi pasien penyakit paru yang mulai sekarat/
Budiono yang sakitnya semakin parah pun memutuskan untuk mencari dokter dan obat pengganti. Ia pun harus mondok untuk kesekian kalinya. Dalam proses mondok di akhir tahun itulah saya benar-benar melihat seorang yang berjuang untuk hidup sekuat-kuatnya. Ia tak pernah mengeluh meski tubuhnya ditusuk jarum suntik berkali-kali. Ia rela mencoba pelbagai obat baru yang beberapa kali gagal. Dan entah bagaimana, obat yang tak cocok justru mengundang penyakit-penyakit lain untuk hinggap di tubuhnya. Selain flek paru-paru kronis, Budiono kini juga menderita radang lambung, pembengkakan jantung, dan asam urat yang parah. Namun ia selalu memaksakan dirinya memakan obat, sarapan dan makan malam yang tersedia. Tak peduli betapa ia mual hanya sekadar melihatnya, tak peduli bahwa ia akhirnya hanya akan muntah. Ia sosok seperti Abidin yang enggan mati tapi dengan motivasi hidup yang lebih sederhana: melihat anak-anaknya lulus sekolah dan mulai bekerja. Barulah setelah hampir sebulan di Rumah Sakit, ia dipastikan menemukan obat yang cocok dari seorang dokter spesialis penyakit dalam.
Hingga kini Budiono masih rutin berobat jalan. Hanya saja, ia harus datang ke Rumah Sakit sekali sebulan.Tidak lagi dua minggu. Meski jelas tak sebergas masa mudanya (ia bisa ambruk barang terkena hujan), ia masih saja gemar kesana-kemari. Dengan asam uratnya yang makin parah dan kakinya yang bengkak di mana-mana, Budiono seharusnya memilih lebih banyak istirahat di rumah. Akan tetapi apa mau di kata, puasa lalu ia malah nekat jadi penjual mercon. Ia membuka warungnya sejak bocah-bocah belum berangkat sekolah.
Tanggal 3 bulan ini, ia kembali datang ke rumah sakit. Dengan nyeri di kaki yang ditahan, ia pergi menemui sang dokter penyakit dalam langganannya, dokter yang ujarnya sangat ramah dan bersedia memberi tahu resep obatnya. Setelah hari itu hasil kontrol menyatakan bahwa kesehatannya makin stabil, ia tak bersegera pulang ke rumah. Diam-diam ia pergi ke kelurahan dan kecamatan, membantu anaknya mengurus berkas persyaratan kerja yang masih belum lengkap.

Epilog
Rumah sakit sampai kapanpun tak akan pernah menjadi sebuah pemandangan yang menyenangkan. Ia adalah ruang di mana ratus orang nampak menderita. Ruang di mana perbedaan kelas akan nampak makin jelas. Dan ruang di mana pengetahuan seringkali dijual tanpa memandang tujuan kemanusiaan.
Bagi saya sendiri, rumah sakit masih menjadi tempat yang paling tak ingin saya kunjungi. Tapi setiap kali saya mencoba merenungkannya, selalu muncul paradoks yang pada akhirnya membuat saya mau untuk mengunjunginya (biasanya untuk menjenguk): bahwa rumah sakit justru banyak memberikan pelajaran yang tak mungkin saya dapat dari perkumpulan orang-orang sehat. Dari Bu-lik saya, saya jadi percaya bahwa mukjizat, keajaiban, atau apapun namanya itu memang benar-benar ada. Dari seloroh Kakek saya tentang kesedihan, saya menyadari bahwa selama ini kita seringkali bersedih dengan cara yang tidak tepat. Seorang yang baru diputus pacarnya tak selayaknya bersedih seperti orang  yang baru ditinggal mati kakeknya; Seorang yang tak punya rezeki untuk bepergian ke luar negeri tak selayaknya meratapi nasib seperti orang yang sudah tak bisa bangkit dari kasurnya sendiri; dan seorang yang belum mampu membeli barang-barang idamannya (mobil, sepatu, i-Phone) tak sepatutnya bermuram durja seperti orang yang belum mampu melunasi tanggungan obatnya. Sementara dari Bapak saya, saya menyadari bahwa laku malas dan gampang menyerah adalah dosa terbesar umat manusia.

tulisan ini pertama dimuat di www.kibul.in

Share:

0 komentar